0% found this document useful (0 votes)
10 views24 pages

Konsep dan Manfaat Keluarga Berencana

Kespro
Copyright
© All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
10 views24 pages

Konsep dan Manfaat Keluarga Berencana

Kespro
Copyright
© All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka

1. Konsep Dasar Keluarga Berencana (KB)

a. Pengertian Keluarga Berencana (KB)

Kontrasepsi adalah upaya mencegah kehamilan yang bersifat

sementara maupun menetap. Kontrasepsi dapat dilakukan tanpa

menggunakan alat, secara mekanis, menggunakan obat/alat, atau dengan

operasi (Mansjoer, 2009) dalam (Setyani, 2019). KB adalah suatu

program yang dicanangkan pemerintah dalam upaya peningkatan

kepedulian dan peran serta masyarakat melalui Pendewasaan Usia

Perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga,

peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera (Setyani,

2019).

KB menurut World Health Organization (WHO) adalah tindakan

yang membantu individu atau pasangan suami-istri untuk menghindari

kelahiran tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang diinginkan,

mengatur interval diantara kelahiran, mengontrol waktu kelahiran dalam

hubungan dengan umur suami dan istri, serta menentukan jumlah anak

dalam keluarga (Setyani, 2019).

13
14

b. Tujuan Program Keluarga Berencana (KB)

Pasangan yang menggunakan KB tentu memiliki tujuan masing-

masing. KB tidak hanya dilakukan untuk menekan jumlah kelahiran bayi.

Lebih jelasnya, tujuan KB terbagi menjadi dua bagian, diantaranya

(BKKBN, 2017):

1) Tujuan umum

Meningkatkan kesejahteraan ibu, anak dalam rangka

mewujudkan Normal Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS)

yang menjadi dasar terwujudnya masyarakat yang sejahtera dengan

mengendalikan kelahiran sekaligus menjamin terkendalinya

pertumbuhan penduduk (BKKBN, 2017).

2) Tujuan khusus

Meningkatkan jumlah penduduk untuk menggunakan alat

kontrasepsi, menurunnya jumlah angka kelahiran bayi, dan

meningkatnya kesehatan keluarga berencana dengan cara penjarangan

kelahiran (BKKBN, 2017).

c. Manfaat KB

Menurut (WHO, 2018) manfaat KB adalah sebagai berikut.

1) Mencegah Kesehatan Terkait Kehamilan

Kemampuan wanita untuk memilih untuk hamil dan kapan ingin

hamil memiliki dampak langsung pada kesehatan dan

kesejahteraannya. KB mencegah kehamilan yang tidak diinginkan,

termasuk wanita yang lebih tua dalam menghadapi peningkatan risiko


15

terkait kehamilan. KB memungkinkan wanita yang ingin membatasi

jumlah keluarga mereka. Bukti menunjukkan bahwa wanita yang

memiliki lebih dari 4 anak berisiko mengalami kematian ibu. Dengan

mengurangi tingkat kehamilan yang tidak diinginkan, KB juga

mengurangi kebutuhan akan aborsi yang tidak aman.

2) Mengurangi Angka Kematian Bayi (AKB)

KB dapat mencegah kehamilan dan kelahiran yang berjarak

dekat dan tidak tepat waktu. Hal ini berkontribusi pada beberapa

angka kematian bayi tertinggi di dunia. Bayi dengan ibu yang

meninggal akibat melahirkan juga memiliki risiko kematian yang

lebih besar dan kesehatan yang buruk.

3) Membantu Mencegah Human Immunodeficiency Virus (HIV) /

Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS)

KB mengurangi risiko kehamilan yang tidak diinginkan di

antara wanita yang hidup dengan HIV, mengakibatkan lebih sedikit

bayi yang terinfeksi dan anak yatim. Selain itu, kondom pria dan

wanita memberikan perlindungan ganda terhadap kehamilan yang

tidak diinginkan dan terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS)

termasuk HIV.

4) Memberdayakan Masyarakat dan Meningkatkan Pendidikan

KB memungkinkan masyarakat untuk membuat pilihan

berdasarkan informasi tentang kesehatan seksual dan reproduksi serta

memberikan peluang bagi perempuan untuk mengejar pendidikan


16

tambahan dan berpartisipasi dalam kehidupan publik, termasuk

mendapatkan pekerjaan yang dibayar.

5) Mengurangi Kehamilan Remaja

Remaja hamil lebih cenderung memiliki bayi prematur atau bayi

berat lahir rendah (BBLR). Bayi yang dilahirkan oleh remaja memiliki

angka kematian neonatal (AKN) yang lebih tinggi. Banyak gadis

remaja yang hamil harus meninggalkan sekolah. Hal ini memiliki

dampak jangka panjang bagi mereka sebagai individu, keluarga dan

komunitas.

6) Perlambatan Pertumbuhan Penduduk

KB adalah kunci untuk memperlambat pertumbuhan penduduk

yang tidak berkelanjutan dengan dampak negatif yang dihasilkan pada

ekonomi, lingkungan, dan upaya pembangunan nasional dan regional.

d. Sasaran Program Keluarga Berencana

Sasaran langsung program KB adalah PUS, yaitu pasangan yang

wanitanya berusia antara 15-49 tahun. Karena kelompok ini merupakan

pasangan yang aktif melakukan hubungan seksual dan setiap kegiatan

seksual dapat mengakibatkan kehamilan, PUS diharapkan secara

bertahap menjadi peserta KB yang aktif sehingga memberikan efek

langsung penurunan fertilitas (BAPPENAS, 2017).

Sasaran tidak langsung program KB adalah kelompok remaja 15-19

tahun, organisasi dan lembaga kemasyarakatan, instansi-instansi

pemerintah maupun swasta, tokoh-tokoh masyarakat yang diharapkan


17

dapat memberikan dukungannya dalam pelembagaan NKKBS, dan

wilayah dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi (BAPPENAS,

2017).

Sasaran strategis BKKBN tahun 2015 - 2019 yang tertera pada

Rencana strategis BKKBN 2015-2019 adalah menurunnya laju

pertumbuhan penduduk (LPP), menurunnya angka kelahiran total (TFR)

per WUS, meningkatnya pemakaian kontrasepsi (CPR), menurunnya

unmet need, menurunnya angka kelahiran pada remaja usia 15 -19 tahun

(ASFR 15 – 19 tahun), dan menurunnya kehamilan yang tidak diinginkan

dari Wanita Usia Subur (WUS [15-49 tahun]) (BKKBN, 2015).

Dalam menggunakan kontrasepsi, keluarga atau PUS pada

umumnya mempunyai perencanaan atau tujuan yang ingin dicapai.

Tujuan tersebut diklasifikasikan dalam 3 fase, yaitu fase menunda atau

mencegah kehamilan (wanita yang berusia di bawah 20 tahun), fase

menjarangkan kehamilan (wanita yang berusia 20-35 tahun), serta fase

menghentikan atau mengakhiri kehamilan/ kesuburan (wanita berusia di

atas 35 tahun) (BKKBN, 2015).

2. Unmet need

a. Definisi Unmet need

Menurut (WHO, 2018) wanita unmet need adalah mereka yang

subur dan aktif secara seksual tetapi tidak menggunakan metode

kontrasepsi, dan melaporkan tidak menginginkan anak lagi atau ingin

menunda anak berikutnya. Menurut (Listyaningsih, 2016) makna harfiah


18

atau makna asli dari kata unmet need adalah kebutuhan yang tidak

terpenuhi. Sementara menurut BKKBN pada tahun 2017, unmet need KB

adalah wanita usia subur atau yang disebut juga sebagai WUS dengan

rentang usia 15-49 tahun yang tidak memakai alat kontrasepsi dengan

alasan ingin anak nanti atau tidak ingin memiliki anak lagi, atau dalam

kondisi hamil yang kehamilannya tidak diinginkan atau diinginkan nanti

(dalam kurun waktu 2 tahun atau lebih) (BKKBN, 2017). Unmet need

KB untuk tujuan penjarangan kehamilan (spacing) dan unmet need KB

untuk tujuan pembatasan kelahiran (limiting) adalah total unmet need KB

(Hanafi, 2014).

b. Kategori Unmet Need

Manifestasi unmet need dapat dikategorikan dalam beberapa

kategori sebagai berikut:

1) Wanita menikah usia subur dan tidak hamil, menyatakan tidak ingin

punya anak lagi dan tidak menggunakan alat kontrasepsi seperti IUD,

pil, suntikan, implan, obat vagina dan kontrasepsi mantap untuk suami

atau dirinya sendiri.

2) Wanita menikah usia subur dan tidak hamil, menyatakan ingin

menunda kehamilan berikutnya dan tidak menggunakan alat

kontrasepsi.

3) Wanita yang sedang hamil dan kehamilan tersebut tidak dikehendaki

lagi serta pada waktu sebelum hamil tidak menggunakan alat

kontrasepsi (Haryanti, 1993) dalam (Huda, 2016).


19

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keikutsertaan ber-KB

Menurut (Jidar, 2018) faktor-faktor yang mempengaruhi

keikutsertaan KB yaitu:

1) Umur

Umur merupakan hitungan waktu dalam fase hidup manusia

(Rachman, 2017). Umur terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat ia

akan berulang tahun. Umur menjadi indikator dalam kedewasaan di

setiap pengambilan keputusan untuk melakukan sesuatu yang

mengacu pada setiap pengalamannya. Umur seseorang akan

mempengaruhi perilaku sedemikian besar, karena semakin lanjut

umurnya, maka semakin lebih bertanggung jawab, lebih tertib, lebih

bermoral, lebih berbakti dari usia muda (Notoatmodjo, 2010) dalam

(Huda, 2016). Kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga waktu

melahirkan sangat dipengaruhi oleh kesehatan PUS, jumlah kelahiran

atau banyaknya anak yang dimiliki dan jarak anak tiap kelahiran. Oleh

karena itu umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

seseorang untuk menjadi akseptor KB (Ekarini, 2008) dalam (Kartika,

2015).

Umur ibu yang ideal dalam kehamilan yaitu pada kelompok

umur 20-35 tahun. Sebaliknya pada kelompok umur < 20 tahun

berisiko sebab pada kelompok umur tersebut perkembangan biologis,

yaitu reproduksi belum optimal dengan emosi yang cenderung labil.

Selain itu, kehamilan pada kelompok usia di atas 35 tahun merupakan


20

kehamilan yang berisiko tinggi (Astutik, 2018). Berdasarkan usia

subur atau masa reproduksi wanita, usia wanita dibagi dalam tiga

periode usia <20 tahun (Usia reproduksi muda), usia 20-35 tahun

(Usia reproduksi sehat), dan usia >35 tahun (Usia reproduksi tua)

(Sumaila, 2011). Pembagian kelompok ini berdasarkan data

epidemiologi bahwa risiko kehamilan dan persalinan pada usia <20

tahun akan menyebabkan kematian ibu dan bayi, sedangkan 20-35

tahun merupakan usia produktif sehat (Kemenkes RI, 2014).

Peluang tertinggi kejadian unmet need KB yaitu pada kelompok

umur yang lebih tua (Fitriya, 2010) dalam (Wahyuni, 2019).

Penelitian (Wahyuni, 2019) mengatakan bahwa kejadian unmet need

paling banyak adalah responden yang berusia >35 tahun. Berdasarkan

hasil wawancara mereka beranggapan bahwa pada usia tersebut sudah

bukan masa reproduktif lagi dan menganggap dirinya sudah tua

sehingga kemungkinan untuk terjadi kehamilan sangat kecil. Namun

kenyataannya yang ada adalah wanita berusia >35 tahun adalah wanita

yang masih produktif dan masih memiliki kemungkinan untuk hamil.

Selain itu, kehamilan pada kelompok usia di atas 35 tahun merupakan

kehamilan yang berisiko tinggi (Astutik, 2018).

2) Jumlah Anak Hidup

Jumlah anak adalah banyaknya hitungan anak yang dimiliki.

Jumlah anak menuju pada kecenderungan dalam membentuk besar

keluarga yang diinginkan. Dengan demikian, besar keluarga akan


21

meningkat seiring dengan peningkatan jumlah anak, karena setiap

keluarga berupaya untuk mencapai jumlah anak dengan menggunakan

caranya sendiri (Jidar, 2018).

Menurut penelitian (Usman, 2013) menyatakan bahwa jumlah

anak memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian unmet

need KB (p<0,05). Pengelompokan jumlah anak dibagi menjadi

jumlah anak > 2 dan ≤ 2 (Fadhila, 2016). Menurut (Porouw, 2015)

kemungkinan terjadinya unmet need lebih besar pada ibu dengan

jumlah anak kurang dari 2 daripada ibu dengan anak lebih dari 2.

Penggunaan alat kontrasepsi meningkat pada perempuan dengan

paritas tinggi atau memiliki jumlah anak yang lebih banyak. Jumlah

dan jenis kelamin anak yang hidup memiliki pengaruh yang besar

terhadap penggunaan alat kontrasepsi. Semakin banyak jumlah anak

hidup maka akan meningkatkan penggunaan kontrasepsi. Perempuan

yang memiliki satu orang anak hidup penggunaan kontrasepsi lebih

rendah dibandingkan yang memiliki dua anak atau lebih dari tiga anak

(Santy, 2011) dalam (Sariyati, 2015).

Apabila jumlah anak hidup semakin meningkat, maka jumlah

kejadian unmet need juga akan meningkat (Wulifan, 2017). Hal ini

sejalan dengan penelitian (Wulifan, 2017) menyatakan bahwa apabila

jumlah anak hidup semakin meningkat, maka jumlah kejadian unmet

need juga akan meningkat.


22

3) Pekerjaan

Menurut (Haryanto, 2004) dalam (Yarsih, 2014) pekerjaan

adalah kegiatan atau aktivitas seseorang untuk memperoleh

penghasilan, guna memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam memenuhi

hidup. Dalam hal status pekerjaan ibu, proporsi unmet need ditemukan

lebih tinggi pada ibu yang bekerja. Proporsi unmet need pada ibu

bekerja lebih cenderung tinggi karena adanya kesibukan dan

kurangnya kesempatan dalam mengakses alat kontrasepsi. Namun

terdapat beberapa ibu yang bekerja memiliki motivasi yang lebih

untuk memenuhi kebutuhan KB mereka, sehingga angka kejadian

unmet need lebih kecil (Fadhila, 2016). Hal ini tidak sejalan dengan

penelitian (Jidar, 2018) ternyata ibu yang tidak bekerja mempunyai

peluang menjadi unmet need lebih besar dibanding ibu yang bekerja.

4) Pendidikan

Pendidikan yang dijalani seseorang memiliki pengaruh pada

peningkatan kemampuan berpikir dengan kata lain seseorang yang

berpendidikan lebih tinggi akan dapat mengambil keputusan yang

lebih baik jika dibandingkan dengan yang berpendidikan rendah.

(Ningrum, 2015). Pendidikan bisa mempengaruhi kondisi unmet need

karena orang berpendidikan akan memiliki pengetahuan yang lebih

tentang permasalahan kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi.

Dengan demikian, mereka bisa menentukan alat atau cara yang ingin
23

digunakan dalam ber-KB, sehingga dapat lebih menghindari

kemungkinan terjadinya unmet need (Sariyati, 2015).

Seorang wanita dengan tingkat pendidikan yang tinggi

berhubungan dengan penurunan jumlah unmet need (Wulifan, 2017).

Menurut (Nzokirishaka, 2018) wanita yang tidak memiliki pendidikan

lebih berisiko mengalami unmet need daripada wanita yang memiliki

pendidikan lanjut dan pendidikan tinggi. Pengetahuan tentang KB

secara umum diajarkan pada pendidikan formal di sekolah dalam mata

pelajaran kesehatan, pendidikan kesejahteraan keluarga dan

kependudukan. Semakin tinggi tingkat pendidikan pasangan yang

mengikuti program KB, makin besar pula pandangan suami istri

bahwa anak adalah asalan penting untuk mengikuti program KB,

sehingga semakin meningkatnya pendidikan semakin tinggi proporsi

PUS untuk mengetahui dan menggunakan kontrasepsi untuk mengatur

jumlah anaknya (Kartika, 2015). Hal ini tidak sejalan dengan

penelitian (Sariyati, 2015) menyatakan bahwa semakin tinggi

pendidikan seseorang maka semakin besar kejadian unmet need.

Semakin mengetahui tentang kontrasepsi maka semakin tinggi

seseorang untuk tidak menggunakan kontrasepsi, hal ini dikarenakan

seseorang sudah mengetahui pengetahuan bagaimana cara mencegah

kehamilan secara alami sehingga mereka tidak bersedia menggunakan

kontrasepsi secara modern atau kontrasepsi yang menggunakan alat

(Sariyati, 2015).
24

Tingkat pendidikan tidak saja mempengaruhi kerelaan

menggunakan KB tetapi juga pemilihan suatu metode. Beberapa studi

telah memperlihatkan bahwa metode kalender lebih banyak digunakan

oleh pasangan yang lebih berpendidikan. Dihipotesiskan bahwa

wanita yang berpendidikan menginginkan keluarga berencana yang

efektif, tetapi tidak rela untuk mengambil resiko yang terkait dengan

metode kontrasepsi (Estiwidani, 2017).

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17

tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan,

pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur yang

terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan

tinggi. UU Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 pasal 17

ayat 2 tentang Pendidikan Dasar menjelaskan bahwa pendidikan dasar

berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau

bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP)

dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajat.

Pada pasal 17 ayat 3 dijelaskan bahwa pendidikan menengah

berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA),

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan

(MAK), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan tinggi merupakan

jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup

program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor


25

yang diselenggarakan dalam perguruan tinggi (UU Sistem Pendidikan

Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 19).

Kesetaraan dan keadilan gender dalam keluarga berencana telah

menjadi salah satu strategi utama dalam pelaksanaan program KB. Di

Amerika Serikat, data yang ada menunjukkan bahwa kaum pria lebih

memiliki antusias untuk berperan serta dalam keluarga berencana,

dimana peserta yang menggunakan kondom sebesar 13% dan lebih

dari 15% memilih melakukan metode operasi pria (MOP) (WHO,

2011) dalam (Mariyam, 2020). Amerika serikat merupakan salah satu

negara maju yang menempati urutan ke-14 terbaik dalam masalah

pendidikan (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Sulawesi

Tengah, 2018). Pendidikan merupakan salah satu faktor yang

mempengaruhi keikutsertaan suami menjadi akseptor KB (Saifuddin,

2010) dalam (Mariyam, 2020). Pendidikan seseorang dapat

mendukung atau mempengaruhi tingkat pengetahuan, dan taraf

pendidikan yang rendah selalu bergandengan dengan informasi dan

pengetahuan yang terbatas (Brahm, 2007, dalam Syukaisih, 2015).

Beberapa studi telah memperlihatkan bahwa metode kalender

(kontrasepsi sederhana) lebih banyak digunakan oleh pasangan yang

lebih berpendidikan. Dihipotesiskan bahwa wanita yang

berpendidikan menginginkan keluarga berencana yang efektif, tetapi

tidak rela untuk mengambil resiko yang terkait dengan metode

kontrasepsi (Estiwidani, 2017). Dalam hal ini, dapat diketahui bahwa


26

semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin tahu juga

bagaimana mencegah terjadinya kehamilan tanpa menggunakan alat

atau metode kontrasepsi.

5) Pengetahuan

Seseorang yang berpengetahuan tinggi akan lebih mudah

memahami dan dapat dengan mudah menyerap tentang konsep-konsep

yang berkaitan dengan kesehatan sehingga orang-orang tersebut dapat

mengetahui dan memiliki tingkat kesadaran untuk merubah perilaku-

perilaku mereka agar menjadi lebih baik dibandingkan dengan orang

berpengetahuan rendah. Pengetahuan yang tinggi dapat diperoleh dari

pendidikan yang tinggi serta dapat diperoleh dari informasi yang ia

dapatkan. Rendahnya pengetahuan seseorang akan membuat mereka

sulit dan tidak mudah memahami dengan apa yang disampaikan orang

lain sehingga terdapat hambatan dalam menyaring informasi yang

mereka dapat tersebut sehingga dapat berpengaruh terhadap perilaku

yang mereka miliki (Notoatmodjo, 2012) dalam (Azzahra, 2018).

Orang yang memiliki pengetahuan yang baik dapat memahami

masalah kesehatan khususnya kesehatan reproduksi, dimana mereka

dapat memilih alat kontrasepsi yang sesuai dengan mereka sehingga

dapat mengurangi kemungkinan terjadinya unmet need KB (Gusti,

2003) dalam (Azzahra, 2018). Hal ini sejalan dengan penelitian

(Yanti, 2018) mengatakan bahwa kejadian unmet need KB lebih besar

pada PUS dengan pengetahuan kurang dibandingkan dengan


27

pengetahuan baik. Pengetahuan responden yang kurang tentang KB,

salah satunya menjadi penyebab tingginya kejadian unmet need.

Istri yang memiliki pengetahuan baik tetapi unmet need KB

dikarenakan adanya efek samping saat menggunakan alat atau metode

kontrasepsi, sehingga timbul keengganan seseorang untuk

menggunakan alat atau cara kontrasepsi apapun. Hal ini juga

dikarenakan tidak adanya dukungan dari suami, sedangkan pada PUS

yang bukan unmet need KB dengan pengetahuan baik dikarenakan

PUS yang mengerti, mau, dan sadar untuk menggunakan alat atau cara

kontrasepsi (Ahmadi, 2005) dalam (Wahab, 2014).

Jepang merupakan salah satu negara maju dimana mayoritas

akseptor KB adalah suami (pria) dengan angka mencapai 80%,

kemudian diikuti dengan Amerika (35%) (BKKBN, 2003) dalam

(Setiawan, 2010). Kondom merupakan salah satu alat kontrasepsi

sederhana berupa kantong yang terbuat dari karet tipis, berwarna atau

tidak untuk dipasang pada penis pria saat ereksi sebelum dimasukkan

ke dalam vagina sehingga bila terjadi ejakulasi air mani tertampung di

dalamnya dan tidak masuk ke dalam vagina, dengan demikian

konsepsi dapat dihindari (BKKBN, 2007) dalam (Maksum, 2012).

PUS yang menggunakan kondom sebagai alat atau cara kontrasepsi

merupakan kelompok unmet need. Menurut (Segal, 1993) dalam

(Maksum, 2012) menjelaskan bahwa alat kontrasepsi kondom pria

relatif jarang digunakan di negara-negara sedang berkembang seperti


28

Indonesia, walaupun kepopuleran metode KB ini mungkin meningkat

seiring dengan meluasnya kekhawatiran tentang AIDS dan penyakit

menular yang ditularkan melalui hubungan seksual. Pengetahuan

masyarakat khususnya PUS tentang KB pria merupakan salah satu

faktor yang mempengaruhi keikutsertaan seorang pria untuk

menggunakan alat kontrasepsi (BKKBN, 2008) dalam (Maksum,

2012). Menurut (Jansen, 2020) menunjukkan bahwa semakin

mengetahui tentang kontrasepsi maka akan semakin besar untuk

seseorang untuk tidak menggunakan alat kontrasepsi atau semakin

besar kejadian unmet need. Hal ini dikarenakan seseorang sudah

mengetahui bagaimana cara mencegah kehamilan secara alami

sehingga mereka tidak bersedia menggunakan kontrasepsi secara

modern atau kontrasepsi yang menggunakan alat.

d. Dampak Unmet Need

Dampak bagi keluarga karena kehamilan yang terjadi akibat unmet

need ada banyak. Pertama, dari segi kehamilan tidak tepat dalam

kesiapan mental maupun kehamilan yang tidak tepat waktu (mistimed

pregnancy) yang dapat diartikan sebagai wanita usia subur yang belum

siap dalam segi waktu untuk hamil karena masih ingin menunda.

Terjadinya kehamilan yang tidak siap mental serta tidak tepat waktu

tersebut mengakibatkan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan

(Saptraini dan Suparmi, 2016) dalam (Nadia, 2020).


29

Oleh sebab itu, dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu, sasaran

utama program KB adalah pada kelompok unmet need dan ibu pasca

bersalin merupakan sasaran yang sangat penting. KTD pada ibu pasca

bersalin, akan dihadapkan pada dua hal yang sama-sama beresiko.

Pertama, jika kehamilan tersebut diteruskan, maka akan memberi

dampak stress psikologi bagi keluarga dan kehamilan tersebut akan

berjarak sangat dekat dengan kehamilan sebelumnya, yang merupakan

salah satu komponen “4 Terlalu” (terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak

dan terlalu dekat). Pada usia ibu hamil tidak boleh terlalu muda (<20

tahun) atau terlalu tua (>35 tahun). Hal tersebut, dikarenakan jika terlalu

muda secara fisik/anatomi belum siap karena rahim dan panggul belum

tumbuh mencapai ukuran dewasa. Ibu yang hamil pertama pada usia > 35

tahun mudah terjadi penyakit pada ibu, organ kandungan menua, dan

jalan lahir menjadi kaku. Adapun bahaya yang dapat terjadi adalah

hipertensi, preeklampsia, ketuban pecah dini, persalinan tidak lancar/

macet, perdarahan setelah bayi lahir, dan bayi lahir dengan berat < 2500

gram. Pada ibu hamil yang memiliki anak 4 akan lebih berisiko untuk

mengalami komplikasi persalinan (Komariah, 2020) dalam (Hazairin,

2020).

Kedua, jika kehamilan diakhiri (aborsi, terutama jika dilakukan

dengan tidak aman), maka berpeluang untuk terjadinya komplikasi aborsi

yang juga dapat berkontribusi terhadap kematian ibu (Sitorus, 2018).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa dampak bagi keluarga akibat


30

kehamilan yang terjadi karena unmet need meliputi kehamilan yang tidak

diinginkan, stress psikologi atau kecemasan keluarga, aborsi, serta angka

kematian ibu dan bayi yang terus meningkat.

3. Pengetahuan

a. Definisi Pengetahuan

Pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui berdasarkan

pengalaman manusia itu sendiri dan pengetahuan akan bertambah sesuai

dengan proses pengalaman yang dialaminya (Mubarak, 2012).

Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang

melakukan pengindraan terhadap suatu objek (Notoatmodjo, 2012).

Pengetahuan yang rendah membatasi seseorang dalam memahami

informasi baru seperti metode kontrasepsi sehingga dapat menyebabkan

terjadinya kejadian unmet need (Ningrum, 2015).

b. Jenis Pengetahuan

Pengetahuan berdasarkan wujudnya dibagi menjadi dua elemen

dasar yaitu pengetahuan implisit dan pengetahuan eksplisit. Pengetahuan

implisit adalah pengetahuan yang terdapat dan tertanam pada diri pribadi

manusia dalam bentuk pengalaman seseorang dengan faktor-faktor yang

tidak nyata. Pengetahuan implisit dapat diperoleh dari belajar sehingga

terampil dan pengetahuan tersebut umumnya tidak tertulis karena berasal

dari kebiasaan dan budaya yang ada tanpa kita sadari. Kedua,

pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah berwujud nyata,


31

mengalami pendataan dan didokumentasikan atau disimpan dalam media

atau sejenisnya sehingga dapat disebarluaskan (Wibowo, 2018).

c. Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor,

diantaranya (Bagaskoro, 2019):

1) Pendidikan

Pendidikan merupakan sebuah proses pengubahan sikap dan tata

laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia

melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Makin tinggi pendidikan dan

makin banyak pelatihan-pelatihan yang diikuti tentu akan

mempengaruhi banyaknya atau luasnya pengetahuan seseorang.

2) Media

Media-media yang mempengaruhi pengetahuan seseorang

adalah media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat

yang sangat luas. Jadi contoh dari media massa ini adalah televisi,

radio, koran dan majalah. Media-media ini akan sangat banyak

mempengaruhi pengetahuan dan wawasan seseorang.

3) Informasi

Banyak atau luasnya pengetahuan seseorang akan sangat

dipengaruhi oleh seberapa banyak informasi yang dijumpainya dalam

kehidupan sehari-hari dan juga yang diperoleh dari data dan

pengamatan terhadap kehidupan di sekitarnya.


32

d. Tingkat Pengetahuan

Menurut (Notoatmodjo, 2012) dalam (Nurmala, 2018) tingkat

pengetahuan secara kognitif terdiri dari 6 tingkat pengetahuan, yaitu:

1) Tahu (Know)

Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah

mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan

yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

2) Memahami (Comprehension)

Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara

benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan

suatu materi tersebut secara benar.

3) Aplikasi (Application)

Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang

telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Seperti

dapat menggunakan statistika dalam perhitungan hasil penelitian,

dapat menggunakan prinsip siklus pemecahan masalah (problem

solving cycle) di dalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang

diberikan.

4) Analisis (Analysis)

Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjabarkan materi

atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di


33

dalam suatu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama

lain.

5) Sintesis (Synthesis)

Diartikan sebagai kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan

yang baru. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk

menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada.

6) Evaluasi (Evaluation)

Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian

terhadap suatu materi atau objek.

e. Pengukuran Tingkat Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dilakukan dengan wawancara atau

kuesioner yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari

subjek penelitian. Pengetahuan seseorang dapat diketahui dan

diinterpretasikan dengan skala yang bersifat kualitatif (Tonasih, 2019),

yaitu:

1) Pengetahuan baik bila responden dapat menjawab 76-100% dengan

benar dari total jawaban pertanyaan.

2) Pengetahuan cukup bila responden dapat menjawab 56-75% dengan

benar dari total jawaban pertanyaan.

3) Pengetahuan kurang bila responden dapat menjawab <56% dari total

jawaban pertanyaan.
34

B. Landasan Teori

Keluarga berencana (KB) merupakan usaha untuk mengukur jumlah anak

dan jarak kelahiran anak yang diinginkan. Maka dari itu, pemerintah

mencanangkan program atau cara untuk mencegah dan menunda kehamilan

(Sulistyawati, 2013). Menurut WHO (2018) wanita unmet need adalah mereka

yang subur dan aktif secara seksual tetapi tidak menggunakan metode

kontrasepsi, dan melaporkan tidak menginginkan anak lagi atau ingin menunda

anak berikutnya.

Menurut (Jidar, 2018) faktor-faktor yang mempengaruhi keikutsertaan

KB adalah umur, jumlah anak, pekerjaan, pendidikan terakhir, dan

pengetahuan. Umur terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat ia akan

berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan

seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja (Zulmiyetri, 2019).

Kejadian unmet need paling banyak adalah responden yang berusia >35 tahun

(Wahyuni, 2019).

Jumlah anak adalah banyaknya hitungan anak yang dimiliki (Jidar,

2018). Menurut penelitian oleh Usman (2013) menyatakan bahwa jumlah anak

memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian unmet need.

Pengelompokan jumlah anak dibagi menjadi jumlah anak > 2 dan ≤ 2 (Fadhila,

2016). Faktor lain yang mempengaruhi keikutsertaan KB adalah pekerjaan.

Menurut (Hartanto, 2004) dalam (Yarsih, 2014) pekerjaan adalah kegiatan atau

aktivitas seseorang untuk memperoleh penghasilan, guna memenuhi kebutuhan


35

sehari-hari dalam memenuhi hidup. Dalam hal status pekerjaan ibu, proporsi

unmet need ditemukan lebih tinggi pada ibu yang bekerja.

Pendidikan yang dijalani seseorang memiliki pengaruh pada peningkatan

kemampuan berpikir dengan kata lain seseorang yang berpendidikan lebih

tinggi akan dapat mengambil keputusan yang lebih baik jika dibandingkan

dengan yang berpendidikan rendah (Ningrum, 2015). Seorang wanita dengan

tingkat pendidikan yang tinggi berhubungan dengan penurunan jumlah unmet

need (Wulifan, 2017). Pengetahuan merupakan salah satu faktor dari

keikutsertaan PUS dalam ber-KB. Orang yang memiliki pengetahuan yang baik

dapat memahami masalah kesehatan khususnya kesehatan reproduksi, dimana

mereka dapat memilih alat kontrasepsi yang sesuai dengan mereka sehingga

dapat mengurangi kemungkinan terjadinya unmet need KB (Gusti, 2003) dalam

(Azzahra, 2018).
36

C. Kerangka Konsep

Kejadian Unmet Pengetahuan tentang KB


Need KB 1. Kurang
1. Unmet Need 2. Cukup
2. Met need 3. Baik

Umur Pekerjaan Jumlah Anak Pendidikan


1. < 20 tahun 1. Tidak bekerja 1. ≤2 anak Terakhir
2. 20-35 tahun 2. Bekerja 2. >2 anak 1. Tidak sekolah
3. >35 tahun 2. Pendidikan
Dasar
3. Pendidikan
Menengah
4. Pendidikan
Tinggi

Gambar 1. Kerangka Konsep

D. Pertanyaan Penelitian

Bagaimana Gambaran Tingkat Pengetahuan Pasangan Usia Subur (PUS)

dan Kejadian Unmet need di RW 19 Kelurahan Brontokusuman Kecamatan

Mergangsan Kota Yogyakarta?

You might also like