BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Laboratorium klinik merupakan laboratorium kesehatan yang
melaksanakan pelayanan pemeriksaan spesimen klinik untuk mendapatkan
informasi tentang kesehatan perorangan terutama untuk menunjang upaya
diagnosis penyakit, penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan
(Kemenkes RI, 2013). Data hasil pemeriksaan laboratorium merupakan
informasi penting yang digunakan untuk menegakkan diagnosis oleh klinisi.
Oleh karena itu tanggung jawab laboratorium klinik sebagai penunjang
pelayanan medis terhadap klinisi maupun pasien cukup besar. Pengguna, baik
itu klinisi maupun pasien mengharapkan hasil pemeriksaan yang terjamin mutu
dan hasilnya (Sukorini, dkk., 2010). Guna mendapatkan hasil pemeriksaan
laboratorium yang bermutu dan dapat dipercaya, setiap tahap pemeriksaan
harus dilaksanakan sesuai Standar Operasional Pemeriksaan (SOP).
Laboratorium klinik dalam pelaksanaannya memiliki kegiatan
pemantapan mutu yang menjamin ketelitian dan ketepatan hasil pemeriksaan.
Salah satu kegiatan pemantapan mutu laboratorium klinik adalah Pemantapan
Mutu Internal (PMI). Pemantapan Mutu Internal (PMI) merupakan kegiatan
pencegahan dan pengawasan yang dilaksanakan oleh masing-masing
laboratorium secara terus menerus agar tidak terjadi atau mengurangi kejadian
1
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
2
error atau penyimpangan sehingga diperoleh hasil pemeriksaan yang tepat
(Kemenkes RI, 2013).
Cakupan kegiatan Pemantapan Mutu Internal (PMI) terdiri dari tiga
tahap pemeriksaan laboratorium yang meliputi tahap praanalitik, analitik dan
pascaanalitik (Kemenkes RI, 2013). Ketiga tahap tersebut memiliki risiko
kesalahan yang dapat mempengaruhi hasil laboratorium. Persentase kesalahan
terbesar terjadi pada tahap praanalitik yakni mencapai 75% (Kiswari, 2014).
Persentase tersebut menggambarkan bahwa tahap praanalitik sangat
berpengaruh terhadap proses pemeriksaan laboratorium. Mengontrol variabel
praanalitik sangat penting karena hal tersebut memiliki pengaruh langsung
terhadap kualitas hasil dan keandalan klinisnya (Magnette, dkk. 2016).
Tahap praanalitik mengacu pada semua langkah yang harus dilakukan
sebelum sampel dapat dianalisis (Kiswari, 2014). Tujuan pengendalian pada
tahap ini adalah untuk menjamin bahwa spesimen yang diterima benar dan dari
pasien yang benar pula serta memenuhi syarat yang telah ditentukan sehingga
spesimen benar-benar representatif atau sesuai dengan keadaan pasien.
Kegiatan tahap praanalitik meliputi ketatausahaan (clerical), persiapan pasien
(patient preparation), pengumpulan spesimen (specimen collection),
penanganan sampel (sampling handling) (Sukorini, dkk., 2010).
Laboratorium klinik memiliki beberapa layanan pemeriksaan yang
berkaitan dengan kesehatan perorangan, salah satu diantaranya adalah bidang
hematologi yang berperan dalam mengevaluasi gangguan hemostasis, baik
yang berupa perdarahan berlebihan maupun yang menyebabkan terjadinya
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
3
trombosis (Riswanto, 2013). Hemostasis adalah mekanisme tubuh untuk
menghentikan perdarahan secara spontan. (Setiabudy, 2007). Tujuan
pemeriksaan hemostasis adalah untuk menetapkan diagnosis, terutama untuk
menguji fungsi hemostasis dan sebagai pemantauan pengobatan atau penyakit
terhadap pasien dengan kelainan fungsi hemostasis serta penderita dengan
penyakit umum yang mempunyai komplikasi perdarahan (Riswanto, 2013).
Selain itu umumnya pemeriksaan hemostasis dilakukan sebelum operasi
(Setiabudy, 2007). Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah darah
mudah atau sulit membeku. Jika darah mudah membeku maka risiko
perdarahan kecil, namun jika darah sulit membeku maka kemungkinan pasien
akan kehilangan banyak darah.
Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) atau masa
tromboplastin parsial teraktivasi merupakan salah satu pemeriksaan penyaring
(screening) hemostasis. Pemeriksaan ini digunakan untuk menguji pembekuan
darah melalui jalur intrinsik dan jalur bersama dalam proses koagulasi yaitu
faktor pembekuan XII, prekallikrein, kininogen, faktor XI, IX, VIII, X,V,
prothrombin dan fibrinogen (Setiabudy, 2007). Sampel yang digunakan pada
pemeriksaan ini sama halnya dengan pemeriksaan penyaring koagulasi lainnya
yaitu berupa plasma sitrat (Bain, 2012).
Pada umumnya tahap praanalitik merupakan tahap yang sangat
berpengaruh terhadap pemeriksaan hemostasis termasuk di dalamnya
pemeriksaan Activated Partial Thromboplastin Time (APTT). Menurut
penelitian yang dilakukan oleh Magnette, dkk. (2016), terdapat beberapa
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
4
permasalahan praanalitik pemeriksaan hemostasis, dimulai dari preparasi
sampling darah, urutan pengambilan darah, penanganan, proses sampling yang
terdiri dari pengisian tabung sitrat, pencampuran sampel dan antikoagulan serta
pengamatan kondisi sampel, perbandingan sampel dengan antikoagulan,
proses sentrifugasi, kondisi penyimpanan dan transportasi sampel.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan hemostasis
adalah sampel harus diperiksa segera setelah pengambilan darah tanpa
penundaan. Penundaan pemeriksaan dapat menyebabkan degradasi koagulasi
secara in vitro terutama pada faktor labil yaitu faktor V dan faktor VIII. Sampel
untuk pengujian Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) dalam bentuk
plasma segar harus disimpan pada suhu kamar dan stabil hingga 4 jam. Oleh
karenanya, stabilitas sampel terbatas, sebagian besar bergantung pada waktu
dan hilangnya faktor labil (Magnette, dkk. 2016).
Berdasarkan survei kondisi di lapangan kepada beberapa teknisi
laboratorium pada bulan Desember 2020, pemeriksaan penyaring koagulasi
yang sering dilakukan salah satunya adalah pemeriksaan Activated Partial
Thromboplastin Time (APTT). Pemeriksaan tersebut memiliki kemungkinan
untuk tertunda. Terdapat beberapa hal yang menyebabkan pemeriksaan
tertunda, di antara lain dikarenakan tingginya permintaan pemeriksaan yang
menyebabkan antrean, keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM)
laboratorium, perawatan alat pemeriksaan hemostasis, efisiensi reagen dalam
proses running serta sampel yang harus dirujuk ke laboratorium lain. Sebagian
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
5
besar sampel tertunda dalam bentuk plasma sitrat dalam kurun waktu ± 1 jam
pada suhu ruang dan maksimal hingga 2 jam.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Naim dan Baharudin (2014),
pemeriksaan hemostasis khususnya Activated Partial Thromboplastin Time
(APTT) hendaknya dilakukan dengan segera. Penelitian ini dilakukan
berdasarkan keadaan di lapangan, dimana acap kali terjadi penangguhan
pemeriksaan pada sampel dalam pemeriksaan faal hemostasis yang salah
satunya adalah Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) Penangguhan
terhadap pasien pra operasi dikarenakan pengumpulan sampel dilakukan
sekaligus pengambilan sampel pada semua pasien rawat inap sehingga
membutuh waktu yang lebih lama. Penangguhan waktu pemeriksaan 1, 2, dan
3 jam dapat mempengaruhi hasil berupa pemanjangan nilai Activated Partial
Thromboplastin Time (APTT) walaupun masih dalam batas normal.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sajad Geelani, dkk. (2018),
pemeriksaan koagulasi harus dilakukan sesegera mungkin. Parameter
Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) diperiksa sebelum 4 jam
pengambilan sampel terlepas dari apakah sampel telah diawetkan di suhu ruang
atau di kulkas. Dalam kurun waktu 4 jam tersebut hasil pemeriksaan masih
stabil walaupun terjadi perubahan berupa pemanjangan nilai Activated Partial
Thromboplastin Time (APTT). Berdasarkan uraian di atas penulis ingin
melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Lama Penyimpanan Plasma
Sitrat pada Suhu 25±1oC terhadap Nilai Activated Partial Thromboplastin Time
(APTT)”.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
6
B. Rumusan Masalah
Apakah ada pengaruh lama penyimpanan plasma sitrat pada suhu 25±1oC
terhadap nilai Activated Partial Thromboplastin Time (APTT)?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh lama penyimpanan plasma sitrat pada suhu 25±1oC
terhadap nilai Activated Partial Thromboplastin Time (APTT).
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui persentase rerata perbedaan nilai Activated Partial
Thromboplastin Time (APTT) pada pemeriksaan 0 jam (segera) dengan
setelah penyimpanan plasma sitrat selama 2, 4 dan 6 jam pada suhu
25±1oC
b. Mengetahui waktu lama penyimpanan plasma sitrat yang memberikan
pengaruh signifikan terhadap hasil pemeriksaan Activated Partial
Thromboplastin Time (APPT)
D. Ruang Lingkup
Penelitian ini mencakup ruang lingkup Teknologi Laboratorium Medis di
bidang hematologi khususnya tentang pemeriksaan hemostasis.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
7
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
Memberikan bukti ilmiah terkait pengaruh lama penyimpanan plasma sitrat
pada suhu 25±1oC terhadap nilai Activated Partial Thromboplastin Time
(APTT).
2. Manfaat Praktik
Menjadi bahan evaluasi Pemantapan Mutu Internal (PMI) bagi tenaga
laboratorium khususnya pada tahap praanalitik pemeriksaan hemostasis.
F. Keaslian Penelitian
1. Geelani, dkk. (2018) dengan judul “Effect of Storage Time on Prothrombin
Time and Activated Partial Thromboplastin Time: Study at A Tertiary Care
Center in Kashmir Valley”
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapat pengaruh lama
penyimpanan plasma sitrat terhadap pemeriksaan hemostasis. Pada
pemeriksaan Activated Partial Thromboplastin Time (APTT), hasil yang
dapat diandalkan diperoleh hingga 4 jam disimpan pada suhu ruang atau
pada suhu 2-8ºC dikarenakan tidak ada pengaruh yang signifikan selama
periode waktu pemeriksaan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah uji
koagulasi harus dilakukan sesegera mungkin dengan pemeriksaan
Prothrombin Time (PT) dilakukan sebelum 24 jam dan pemeriksaan
Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) sebelum 4 jam
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
8
pengambilan sampel, terlepas apakah sampel telah diawetkan pada suhu
ruang atau di lemari es.
Persamaan dengan penelitian tersebut adalah meneliti pengaruh
waktu penyimpanan plasma sitrat terhadap pemeriksaan hemostasis.
Perbedaan penelitian terletak pada variabel terikat dan variabel bebas.
Penelitian Geelani, dkk., (2018) menggunakan dua parameter pemeriksaan
yaitu Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) dan Prothrombin
Time (PT) serta dilakukan di suhu yang berbeda yaitu suhu ruang dan suhu
kulkas (2-8°C). Sedangkan penelitian yang akan dilakukan hanya pada satu
parameter pemeriksaan yaitu Activated Partial Thromboplastin Time
(APTT) dalam suhu ruang 25±1ºC. Letak perbedaan variabel bebas adalah
pada variasi lama penyimpanan yang menyebabkan terjadinya penundaan
pemeriksaan. Jika pada penelitian Geelani, dkk. (2018) menggunakan 6
variasi waktu yaitu 0, 2, 4, 8, 16 dan 24 jam, penelitian ini hanya
menggunakan 4 variasi waktu yaitu 0, 2, 4 dan 6 jam.
2. Feng, dkk. (2013) dengan judul “Effects of Storage Time and Temperature
on Coagulation Tests and Factors in Fresh Plasma”
Penelitian ini menunjukkan bahwa bahwa terdapat pengaruh lama
penyimpanan plasma sitrat terhadap pemeriksaan hemostasis. Pada
pemeriksaan Activated Partial Thromboplastin Time (APTT), sampel
plasma dapat disimpan dengan aman selama 12 jam pada suhu 4ºC dan 8
jam pada suhu 25ºC.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
9
Persamaan dengan penelitian tersebut adalah meneliti pengaruh
lama penyimpanan yang menyebabkan terjadinya penundaan plasma sitrat
terhadap pemeriksaan hemostasis khususnya pemeriksaan Activated Partial
Thromboplastin Time (APTT). Perbedaan penelitian terletak pada variasi
variabel terikat dan variabel bebas. Pada penelitian Feng, dkk. (2013)
dilakukan penelitian terhadap pemeriksaan Activated Partial
Thromboplastin Time (APTT), Prothrombin Time/International
Normalized Ratio (PT/INR), Thrombin Time (TT) , fibrinogen, faktor VIII
dan faktor IX dengan variasi waktu 0, 2, 4, 6, 8, 12 dan 24 jam pada suhu
ruang 25ºC dan suhu 4ºC. Sedangkan penelitian yang akan dilakukan hanya
terhadap parameter Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) dengan
variasi waktu 0, 2, 4 dan 6 jam pada suhu 25±1ºC.
3. Zhao, Y. (2013) dengan judul “Influence of Temperature and Storage
Duration on Measurement of Activated Partial Thromboplastin Time, D-
dimers, Fibrinogen, Prothrombin Time and Thrombin Time, in Citrate-
Anticoagulated whole Blood Specimens”
Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh lama penyimpanan
darah utuh pada pemeriksaan hemostasis. Sampel darah utuh untuk
pemeriksaan Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) dapat
diterima hingga penyimpanan 8 jam pada suhu kamar maupun pada suhu 4°
C.
Persamaan dengan penelitian tersebut adalah meneliti adanya
pengaruh lama penyimpanan terhadap pemeriksaan hemostasis khususnya
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
10
pemeriksaan Activated Partial Thromboplastin Time (APTT). Perbedaan
penelitian terletak pada variasi variabel terikat dan variabel bebas. Pada
penelitian Zhao, Y. (2013), parameter yang diteliti adalah pemeriksaan D-
dimers, Fibrinogen, Prothrombin Time (PT), Thrombin Time (TT) dan
Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) sebagai variabel terikat.
Penelitian ini dilakukan pada dua suhu berbeda yaitu suhu kamar dan suhu
4°C. Variasi waktu sebagai variabel bebas yang digunakan dalam penelitian
ini adalah 0, 4, 8 dan 24 jam. Sedangkan penelitian yang akan dilakukan
hanya menggunakan parameter Activated Partial Thromboplastin Time
(APTT) dengan variasi waktu 0, 2, 4 dan 6 jam pada suhu penyimpanan
25±1°C.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta