“Rasm Utsmani dan Kolerasinya Dengan Qira’at Al-Qur’an”
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Ilmu Rasm Utsmani
Dosen Pembimbing:
Ustadzah Maskanah, [Link].
Oleh :
AHMAD GAZALI 22.88204.02144
ARIFIN ILHAM 22.88204.02102
BARKATI 22.88204.02152
MUHAMMAD HASBI 22.88204.02172
MUHAMMAD JA’FAR 22.88204.02120
M. RANDI JULIANNOR 22.88204.02167
RIDHA SAPITRI 22.88204.02135
SAHRUL RAMADHAN 22.88204.02223
SEKOLAH TINGGI ILMU ALQURAN (STIQ) AMUNTAI
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BAHASA ARAB
Tahun 2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah Swt, shalawat dan salam semoga selalu tercurah
keharibaan junjungan Nabi besar Muhammad saw. Beserta seluruh keluarganya,
sahabat dan para pengikutnya sampai akhir zaman.
Alhamdulillah, dengan segala rahmat dan inayah-Nya makalah yang
berjudul “Rasm Utsmani dan Kolerasinya Dengan Qira’at Al-Qur’an” sebagai
salah satu tugas pada mata kuliah Ilmu Rasm Utsmani program studi Pendidikan
Bahasa Arab Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran (STIQ) Amutai dapat diselesaikan.
Penulis sangat menyadari, dalam penulisan makalah ini banyak sekali menerima
bantuan, baik tenaga maupun pikiran. Oleh karena itu, penulis menyampaikan
penghargaan dan ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada semua
pihak yang telah memberikan bantuan tersebut, terutama kepada Ustadzah
Maskanah, [Link]. yang telah banyak memberikan bimbingan dan petunjuk serta
koreksi dalam penulisan makalah ini serta semua pihak yang telah memberi
bantuan, fasilitas, informasi, meminjamkan buku-buku dan literatur-literatur yang
penulis perlukan, sehingga makalah ini bisa diselasaikan.
Atas bantuan dan dukungan yang tak ternilai harganya tersebut penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi-
tingginya teriring do’a yang tulus semoga Allah swt membari ganjaran yang
berlipat ganda. Amin.
Akhirnya penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua dan
mendapat taufik serta inayah dari Allah swt.
Amuntai, 29 Juni 2024
Kelompok 3
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii
BAB I .................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN ............................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 2
C. Tujuan Kepenulisan ..................................................................................... 2
BAB II ................................................................................................................. 3
PEMBAHASAN .................................................................................................. 3
A. Pengertian Rasm Al-Qur’an ......................................................................... 2
B. Perkembangan Rasm Al-Qur’an................................................................... 3
C. Macam-macam Rasm Al-Qur’an................................................................ 11
D. Pendapat Ulama Tentang Rasm Al-Qur’an ................................................12
E. Kaidah Rasm Al-Quran dengan Qiroah Al-Qur’an.....................................14
BAB III.............................................................................................................. 16
PENUTUP ......................................................................................................... 16
A. Kesimpulan ............................................................................................... 16
B. Saran ......................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 17
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-Qur’an sebagai kitab suci terakhir di maksutkan untuk menjadi
petunjuk, bukan saja bagi anggota masyarakat tempat kitab ini diturunkan, tetapi
juga bagi seluruh masyarakat manusia hingga akhir [Link]-Qur’an juga
merupakan salah satu sumber hukum islam yang menduduki peringkat teratas dan
seluruh ayatnya berstatus qat’i al-qurud yang diyakini eksistensinya sebagai
wahyu dari Allah swt.
Dengan demikian, autentitas serta orisinalitas Qur’an benar-benar dapat di
pertanggung jawabkan, karena ia merupakan wahyu Allah baik dari segi lafadz
maupun dari segi [Link] awal hingga akhir turunnya, seluruh ayat Al-
Qur’an telah ditulis dan di dokumentasikan oleh para juru tulis wahyu yang
ditunjuk oleh rasulullah saw.
Disamping itu seluruh ayat-ayat Al-Qur’an dinukilkan atau diriwayatkan
secara mutawatir baik secara hafalan maupun tulisan. Al-Qur’an sebagai yang
dimiliki umat Islam sekarang, ternyata telah mengalami proses sejarah yang cukup
unik dalam upaya penulisan dan pembukuannya. Pada Masa Nabi saw, Al-Qur’an
belum ditulis dan dibukukan dalam satu mushaf. Ia baru ditulis pada kepingan-
kepingan tulang,pelepah-pelepah kurmna, dan batu-batu sesuai dengan kondisi
peradaban masyarakat waktu itu yang belum mengenal adanya alat tulis menulis
seperti kertas.
1
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Rasm Al-Qur’an?
2. Apa Perkembangan Rasm Al-Qur’an?
3. Apa Macam-macam Rasm Al-Qur’an?
4. Apa Kaidah Penulisan Rasm Utsmani?
5. Apa Pendapat Ulama Tentang Rasm Al-Qur’an?
6. Apa Kaidah Rasm Al-Quran dengan Qiroah Al-Qur’an?
C. Tujuan Kepenulisan
1. Untuk mengetahui Pengertian Rasm Al-Qur’an.
2. Untuk mengetahui Perkembangan Rasm Al-Qur’an.
3. Untuk mengetahui Macam-macam Rasm Al-Qur’an.
4. Untuk mengetahui Kaidah Penulisan Rasm Utsmani.
5. Untuk mengetahui Pendapat Ulama Tentang Rasm Al-Qur’an.
6. Untuk mengetahui Kaidah Rasm Al-Quran dengan Qiroah Al-Qur’an.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Rasm Al-Qur’an
Rasm berasal dari kata rasama–yasramu yang artinya menggambar atau
melukis. Istilah rasm dalam ulumul qur’an diartikan sebagai pola penulisan Al-
Qur’an yang digunakan oleh Utsman bin `Affan dan sahabat–sahabatnya ketika
menulis dan membukukan Al-Qur’an. Lalu, pola penulisan itu menjadi gaya
penulisan standar dalam penulisan kembali atau penggandaan mushaf Al-Qur’an.
Pola penulisan ini kemudian lebih populer dengan nama Rasm Utsmani.
Pada waktu itu mereka menulis Al-Qur’an berdasarkan petunjuk Nabi Muhammad
SAW, baik dalam penulisannya maupun urutannya. Penulisan mereka lakukan
dibeberapa tempat seperti; kulit binatang, pelepah pohon kurma, tulang-tulang dan
sebagainya. Kemudian tulisan-tulisan tersebut diserahkan kepada nabi
Muhammad SAW, untuk disimpan dan masing-masing juga menyimpannya untuk
sendiri dirumah serta menghapalnya.
Rasmul Qur’an merupakan salah satu bagian disiplin ilmu Al-Qur’an yang
di dalamnya mempelajari tentang penulisan mushaf Al-Qur’an yang dilakukan
dengan cara khusus, baik dalam penulisan lafal-lafalnya maupun bentuk-bentuk
huruf yang digunakan. Tulisan Al-Qur’an Utsmani adalah tulisan yang
dinisbatkan kepada khalifah Utsman bin Affan ra. (Khalifah ke III). Istilah ini
muncul setelah rampungnya penyalinan Al-Qur’an yang dilakukan oleh team yang
dibentuk oleh Ustman pada tahun 25 H. Oleh para ulama cara penulisan ini
biasanya diistilahkan dengan Rasmul ‘Utsmani. Para ulama berbeda pendapat
tentang penulisan ini, diantara ada yang berpendapat bahwa tulisan tersebut
bersifat taufiqi (ketetapan langsung dari Rasulullah), mereka berlandaskan riwayat
yang menyatakan bahwa Rasulullah menerangkan kepada salah satu kuttab (juru
tulis wahyu) yaitu Mu’awiyah tentang tatacara penulisan wahyu. Diantara ulama
yang berpegang teguh pada pendapat ini adalah Ibnul al-Mubarak dalam kitabnya
al-Ibriz yang menukil perkataan gurunya Abdul ‘Aziz alDibagh, bahwa tulisan
yang terdapat pada Rasm ‘Utsmani semuanya memiliki rahasia dan tidak ada
satupun sahabat yang memiliki andil, seperti halnya diketahui bahwa Al-Qur’an
adalah mu’jizat begitupula tulisannya”. Namun disisi lain, ada beberapa yang
3
mengatakan bahwa, Rasmul Ustmani bukanlah tauqifi, tapi hanyalah tatacara
penulisan Al-Qur’an saja.
Di era Nabi SAW pula, aktivitas pencatatan atau penulisan Al-Qur’an
sudah dimulai. Rasulullah SAW diriwayatkan memiliki beberapa sekretaris
penulis Al-Qur’an dari golongan sahabatnya, antara lain Abu Bakar As-Siddhiq,
Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi
Sofyan, Khalid bin Walid, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Tsabit bin Qais, Amir
bin Fuhairah, Amr bin Ash, Abu Musa Al-Asy’ari dan Abu Darda’. Apabila turun
ayat-ayat Al-Qur’an, Rasulullah SAW menyuruh mereka untuk menulisnya.
Bahkan, Rasulullah SAW sampai memberikan pengarahan perihal letak dan
sistematika surat-suratnya. Lalu para sahabat menulis wahyu tersebut di atas
pelepah pohon, tulang-belulang, lempengan batu, dan di atas kulit binatang. Hal
ini sebagaimana diriwayatkan dari kisah lbnu Abbas,“Dahulu, apabila turun surat
(Al-Qur’an), beliau memanggil beberapa orang untuk menulisnya. Rasulullah saw
bersabda: “Letakkanlah surat ini, di tempat yang disebutkan di dalamnya ini dan
ini...”(Al-Hadis) Zaid bin Tsabit berkata : ”Dahulu kami berada disisi Rasulullah
SAW menyusun Al-Qur’an di atas kulit binatang”. (Al-Hadis) Jadi, pada zaman
Nabi SAW proses penghimpunan Al-Qur’an melalui dua metode, yaitu
penghapalan dan penulisan. Dengan demikian, seiring dengan telah berhentinya
pewahyuan, Rasm berasal dari kata rasama–yasramu yang artinya menggambar
atau melukis. Istilah rasm dalam ulumul qur’an diartikan sebagai pola penulisan
Al-Qur’an yang digunakan oleh Utsman bin `Affan dan sahabat-sahabatnya ketika
menulis dan membukukan Al-Qur’an. Lalu, pola penulisan itu menjadi gaya
penulisan standar dalam penulisan kembali atau penggandaan mushaf Al-Qur’an.
Pola penulisan ini kemudian lebih populer dengan nama Rasm Utsmani. Pada
waktu itu mereka menulis Al-Qur’an berdasarkan petunjuk Nabi Muhammad
SAW, baik dalam penulisannya maupun urutannya. Penulisan mereka lakukan
dibeberapa tempat seperti; kulit binatang, pelepah pohon kurma, tulang-tulang dan
sebagainya. Kemudian tulisan-tulisan tersebut diserahkan kepada nabi
Muhammad SAW, untuk disimpan dan masing-masing juga menyimpannya untuk
sendiri dirumah serta menghapalnya.
4
Rasmul Qur’an merupakan salah satu bagian disiplin ilmu Al-Qur’an yang
di dalamnya mempelajari tentang penulisan mushaf Al-Qur’an yang dilakukan
dengan cara khusus, baik dalam penulisan lafal-lafalnya maupun bentuk-bentuk
huruf yang digunakan. Tulisan Al-Qur’an Utsmani adalah tulisan yang
dinisbatkan kepada khalifah Utsman bin Affan ra. (Khalifah ke III). Istilah ini
muncul setelah rampungnya penyalinan Al-Qur’an yang dilakukan oleh team yang
dibentuk oleh Ustman pada tahun 25 H. Oleh para ulama cara penulisan ini
biasanya diistilahkan dengan Rasmul ‘[Link] ulama berbeda pendapat
tentang penulisan ini, diantara ada yang berpendapat bahwa tulisan tersebut
bersifat taufiqi (ketetapan langsung dari Rasulullah), mereka berlandaskan riwayat
yang menyatakan bahwa Rasulullah menerangkan kepada salah satu kuttab (juru
tulis wahyu) yaitu Mu’awiyah tentang tatacara penulisan wahyu. Diantara ulama
yang berpegang teguh pada pendapat ini adalah Ibnul al-Mubarak dalam kitabnya
al-Ibriz yang menukil perkataan gurunya Abdul ‘Aziz alDibagh, bahwa tulisan
yang terdapat pada Rasm ‘Utsmani semuanya memiliki rahasia dan tidak ada
satupun sahabat yang memiliki andil, seperti halnya diketahui bahwa Al-Qur’an
adalah mu’jizat begitupula tulisannya”. Namun disisi lain, ada beberapa yang
mengatakan bahwa, Rasmul Ustmani bukanlah tauqifi, tapi hanyalah tatacara
penulisan al-Qur’an saja.
Di era Nabi SAW pula, aktivitas pencatatan atau penulisan Al-Qur’an
sudah dimulai. Rasulullah SAW diriwayatkan memiliki beberapa sekretaris
penulis Al-Qur’an dari golongan sahabatnya, antara lain Abu Bakar As-Siddhiq,
Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi
Sofyan, Khalid bin Walid, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Tsabit bin Qais, Amir
binFuhairah, Amr bin Ash, Abu Musa Al-Asy’ari dan Abu Darda’. Apabila turun
ayat-ayat Al-Qur’an, Rasulullah SAW menyuruh mereka untuk menulisnya.
Bahkan, Rasulullah saw sampai memberikan pengarahan perihal letak dan
sistematika surat suratnya. Lalu para sahabat menulis wahyu tersebut di atas
pelepah pohon, tulang-belulang, lempengan batu, dan di atas kulit [Link] ini
sebagaimana diriwayatkan dari kisah lbnu Abbas, “Dahulu, apabila turun surat
(Al-Qur’an), beliau memanggil beberapa orang untuk menulisnya. Rasulullah saw
bersabda: “Letakkanlah surat ini, di tempat yang disebutkan di dalamnya ini dan
5
ini...” (Al-Hadis) Zaid bin Tsabit berkata : ”Dahulu kami berada disisi Rasulullah
SAW menyusun al-Qur’an di atas kulit binatang”. (Al-Hadis) Jadi, pada zaman
Nabi SAW proses penghimpunan Al-Qur’an melalui dua metode, yaitu
penghapalan dan penulisan. Dengan demikian, seiring dengan telah berhentinya
pewahyuan, dan status Nabi SAW sebagai nabi terakhir, maka penulisan al-
Qur’an telah selesai. Hanya saja, masih menyisakan hal-hal yang sifatnya metodis
dan teknis terkait dengan terminology penghimpunan kitab suci secara modern
yang menghendaki maksud dan definisi kodifikasi. Misalnya, ayat-ayat dan surat
al-Qur’an himpunan era Nabi saw masih saling terpisah. Di antara para sahabat
ada yang mengumpulkan, menulis dan menghafalnya.
Pada waktu itu pula al-Qur’an belum terhimpun atau terkodifikasi menjadi
sebuah mushaf yang utuh. Pada masa Rasulullah saw belum terwujud tahapan
kodifikasi al-Qur’an disebabkan hal-hal berikut: Pertama, karena proses
penghapalan dan penulisan al-Qur’an sudah dilakukan oleh Nabi saw sendiri dan
para sahabat. Tentunya, kualitas dan otoritas mereka sudah melebihi standar
[Link], belum ada kebutuhan yang mendesak untuk melakukan
kodifikasi al-Qur’an. Nabi saw sebagai penerima wahyu otentik masih hidup. Para
sahabat terbaik pun juga masih ada. Dengan demikian, tidak ada yang perlu
diragukan dalam proses dan konteks era nabi saw. Kedua, di era Nabi saw, al-
Qur’an turun secara berangsurangsur selama kisaran dua puluh tiga tahun. Jikalau
proses kodifikasi al-Qur’an dilaksanakan di tengah-tengah proses turunnya
wahyu, maka dikhawatirkan terjadinya multitask (tugas yang bertumpuk) di
pundak para sahabat.
Di satu sisi, para sahabat berkewajiban dan berkonsentrasi menghapal al-
Qur’an. Namun, pada saat yang bersamaan, mereka juga berkewajiban
mencatatnya. Alangkah semakin bertambah berat tugas para sahabat tersebut, jika
masih harus diberi beban kewajiban menghimpun dan mengodifikasikan al-
Qur’an ke dalam satu mushaf. Oleh karenanya, pada hadis yang terkenal tentang
nasihat Umar bin Khatthab ra agar khalifah Abu Bakar as-Siddiq berkenan
mengumpulkan dan mengkodifikasi alQur’an, karena Umar meyakini, jika Nabi
SAW masih hidup, pasti Nabi saw akan memerintahkan untuk meneruskan proses
6
penghapalan, pencatatan, kepada tahap pembukuan atau pengkodi ikasian
alQur’an.
Ketiga, sistematika dan susunan ayat serta surah al Qur’an tidak
berbanding lurus dengan urutan turunnya ayat dan surah tersebut. Bisa saja surah
pertama yang turun dan diterima nabi saw adalah surah al-’Alaq, namun belum
tentu surah al-’Alaq menempati urutan pertama dalam susunan surah dalam al-
Qur’an. Justru surah pertama dalam al-Qur’an adalah surah al-Fatihah. Maka,
otoritas sistematika dan urutan surah atau ayat ada pada diri nabi. Jika otoritas dan
rahasia sistematika atau susunan surah dan ayat al-Qur’an yang hanya diketahui
oleh Nabi saw ini diperintahkan untuk disusun di saat wahyu masih turun, maka
ibarat membuat kue namun bahan baku pembuatnya masih dalam proses delivery
order (dalam proses pewahyuan).
Para sahabat akan sangat membutuhkan konsentrasi ekstra keras untuk
mencari, memilah, memisah, memilih, dan lalu mengurutkan tulisan al-Qur’an
yang masih berada dalam tumpukantumpukan tulang-belulang hewan, lembaran-
lembaran kuIit binatang, dan pelepah-pelepah pohon. lni tentu bukan sebuah
proses yang sederhana. Sedangkan penghimpun dan penyempurnaan tulisan
alQur’an dari lembaran-lembaran kulit dan tulang ke dalam satu naskah dilakukan
oleh Khulafaur Rasyidin. Secara kronologis, orang pertama yang menghimpun al-
Qur’an adalah Abu bakar Ash-Shidiq, atas saran Umar bin Khattab karena
banyaknya hafizh yang mati syahid di pertempuran Yamamah. Sepeninggal Abu
Bakar naskah al-Qur’an tersebut dititipkan kepada Hafshah. Pada perkembangan
berikutnya disempurnakan oleh Utsman bin Affan dengan membentuk panitia
empat. Ide itu muncul karena banyaknya perbedaan bacaan dikalangan kaum
muslimin, baik yang berbangsa Arab (‘Ajam), tanpa sedikit pun melakukan
perubahan dari naskah aslinya, baik dalam hal susunan maupun tulisannya.
Kemudian pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib tulisan al-Qur’an lebih
disempurnakan lagi.
7
B. Perkembangan Rasm Al-Qur’an
Pada mulanya, mushaf para sahabat berbeda sama sekali antara satu dan
lainnya. Mereka mencatat wahyu al-Qur’an tanpa pola penulisan standar karena
umumnya dimaksudkan hanya untuk kebutuhan pribadi, tidak ada rencana untuk
diwariskan kepada generasi sesudahnya. Di antara mereka, ada yang menyelipkan
catatan tambahan dari penjelasan Nabi SAW. ada juga yang menambahkan simbol
tertentu dari tulisannya yang hanya diketahui penulisnya. Mushaf yang ditulis
pada masa khalifah Utsman bin Affan tidak memiliki harakat dan tanda titik,
sehingga orang non arab yang baru masuk Islam merasa kesulitan dan sering
terjadi kesalahan dalam membaca.. Oleh karena itu dibutuhkan tanda agar
memudahkan dalam membaca al-Qur’[Link] masa permulaan Islam, mushaf al-
Qur’an belum mempunyai tanda-tanda baca dan baris, belum ada tanda-tanda
berupa titik sehingga sulit membedakan antara huruf ya dan ba dan kha, dan
seterusnya.
Para sahabat belum menemukan kesulitan membacanya karena rata-rata
masih mengandalkan hapalan. Mushaf Utsmani tidak seperti yang dikenal
sekarang yang dilengkapi oleh tanda-tanda baca. Kesulitan mulai muncul ketika
dunia Islam semakin meluas ke wilayah-wilayah non-Arab, seperti Persia
disebelah Timur, Afrika disebelah Selatan, dan beberapa wilayah non-Arab
lainnya disebelah Barat. Masalah ini mulai disadari oleh pimpinan dunia Islam.
Ketika Ziyad ibn Samiyyah menjabat menjadi Gubernur Bashrah, Irak, pada masa
kekuasaan Mu’awwiyah ibn Abi Sufyan (661-680), Riwayat lain menyebutkan
pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, ia memerintahkan untuk segera
membuat tanda baca, terutama untuk menghindari kesalahan dalam membaca
alQur’an bagi generasi yang tidak hapal al-Qur’an. Beliau berinisiatif
membubuhkan tanda baca (harakat) pada ayat-ayat al-Qur’an untuk memudahkan
pembacaan.
Khalifah Ali memercayakan urusan itu kepada seorang ahli tata bahasa
bernama Abu al-Aswad al-Du’ali. Ad-Duwali memenuhi permintaan itu setelah
mendengarkan kasus salah baca yang sangat fatal. Sehingga atas perintah
gubernur itu, Ad-Duwali memberi tanda baca baris atas (Fathah) berupa sebuah
titik di atas huruf, sebuah titik dibawah huruf sebagai tanda baris bawah (Kasrah),
8
tanda Dhammah berupa wau kecil diantara dua huruf, dan tanpa tanda apa-apa
bagi huruf konsonan mati. Sedangkan orang yang pertama kali membuat tanda
titik untuk membedakan huruf-huruf dengan bentuk sama (nuqathu harf, semisal
pada huruf “ba’, ta’ dan tsa’ “) murid beliau yakni salah seorang gubernur di era
dinasti Umayyah (40-95 H). Sedangkan tanda syakal diperkenalkan oleh Al-
Khalil ibn Ahmad al-Farahidi (w. 170 H). Ada juga informasi bahwa yang
pertama kali mendapatkan ide tanda baca terhadap al-Qur’an adalah Ziyad bin
Abihi salah seorang gubernur yang diangkat oleh Muawiyah bin Abi Sufyan
untuk wilayah Basrah (45-53 H).
Rasm Qur’an mengalami perkembangan yang sangat pesat pada beberapa
periode [Link] lain menyebukan Khalifah Abdul Malik ibn Marwan
(685-705 M.) memerintahkan al-Hajjaj ibn Yusuf al-Saqafi untuk menciptakan
tanda-tanda huruf al-Qur’an (nugth al-qur’an). Ia mendelegasi tugas itu kepada
Nashid ibn Ashim dan Yahya ibn Ma’mur, dua orang murid Al-Dawali. Kedua
orang inilah yang membubuhi titik di sejumlah huruf tertentu yang mempunyai
kemiripan antara satu dengan yang lainnya. Misalnya,penambahan titik di atas
huruf dal yang kemudian menjadi huruf dzal. Penambahan titik yang bervariasi
pada sejumlah huruf dasar ba yang kemudian menjadi huruf ba, nun, ta dan ha
yang kemudian berubah menjadi kha, ha, dan jim. Huruf ra dibedakan dengan
huruf za, huruf sin dibedakan dengan Syin, huruf shad dibedakan menjadi dengan
dhad, huruf tha dibedakan dengan zha, huruf ‘ain dibedakan dengan ghim, huruf
fa dibedakan dengan qaf. Dari pola penulisan tersebut berkembanglah berbagai
pola penulisan dalam berbagai bentuk seperti pola Kufi, Maghribi, dan Naqsh.
C. Macam-macam Rasm
Melihat dari spesifikasi cara penulisan kalimat-kalimat arab rasm a-lqur’an
dibagi menjadi tiga macam:
1) Rasm Qiyasi () القياسى الرسم
2) Rasm A’rudi ( ) العروضي الرسم
3) Rasm Usman () العثمان الرسم
9
Berikut penjelasan dari masing-masing ungkapan diatas:
1) Rasm Qiasi / Imla'i
Rasmul Imla’i adalah penulisan menurut kelaziman pengucapan/
pertuturan. Ada pendapat yang mengatakan bahwa Al-Qur’an dengan rasm imla’I
dapat dibenarkan, tetapi khusus bagi orang awam. Bagi para ulama atau yang
memahami rasm Utsmani tetap wajib mempertahankan keaslian rasm Utsmani.
Pendapat diatas diperkuat oleh Al-Zarqani dengan mengatakan bahwa
rasm Imla’I diperlukan untuk menghindarkan ummat dari kesalahan membaca Al-
Qur’an, sedangkan rasm Utsmani di perlukan untuk memelihara keaslian mushaf
Al-Qur’an. Tampaknya, pendapat ini lebih moderat dan lebih sesuai dengan
kondisi ummat, disatu pihak mereka ingin melestarikan rasm Utsmani, sementara
dipihak lain mereka menghendaki dilakukannya penulisan Al-Qur’an denganrasm
Imla’I untuk memberikan kemudahan bagi kaum muslimin yang kemungkinan
mendapat kesulitan membaca Al-Qur’an dengan rasm Utsmani.
Namun demikian, kesepakatan para penulis Al-Qur’an dengan rasm
Utsmani harus diindahkan dalam pengertian menjadikannya sebagai rujukan yang
keberadaannya tidak boleh hilang dari masyarakat Islam. Sementara jumlah
ummat Islam dewasa ini cukup besar yang tidak menguasai rasm Utsmani.
Bahkan, tidak sedikit jumlah ummat Islam untuk mampu membaca aksara arab.
Mereka membutuhkan tulisan lain untuk membantu mereka agar dapat membaca
ayat-ayat Al-Qur’an, seperti tulisan latin. Namun demikian Rasm Utsmani harus
dipelihara sebagai standar rujukan ketika dibutuhkan.
Demikian juga tulisan ayat-ayat Al-Qur’an dalam karya ilmiah, rasm
Utsmani mutlak diharuskan karena statusnya sudah masuk dalam kategori rujukan
dan penulisannya tidak mempunyai alasan untuk mengabaikannya. Dari sini kita
dapat memahami bahwa menjaga keotentikan Al-Qur’an tetap merujuk kepada
penulisan mushaf Utsmani. Akan tetapi segi pemahaman membaca Al-Qur’an
bisa mengunakan penulisan yang lain berdasarkan tulisan yang dalam proses
penulisan Al-Qur’an mulai dari Zaman Rasulullah, zaman khalifah Abu Bakar
sampai khalifah Utsman Bin Affan yang penulisnya tidak pernah lepas dari Zaid
Bin Tsabit yang merupakan sekretaris Rasulullah SAW. Secara historis ini
10
membuktikan bahwa Allah SWT tetap menjaga dan memelihara keotentikan Al-
Qur’an.
2) Rasm ‘Arudi
Rasm ‘Arudi ialah cara menuliskan kalimat-kalimat Arab yang
disesuaikan dengan wazan sya’ir-sya’ir Arab. Hal itu dilakukan untuk
mengetahui “bahr” (nama macam sya’ir). Sebagai contoh, dari sya’ir berikut:
وليل كموج البحر أرخى سدوله
Jika ditulis sesuai dengan rasm 'arudi, akan berbentuk:
وليلن كموج البح ر أر خى سدوله
Timbangan sya’ir tersebut adalah sebagai berikut:
فعولن مفاعيلن فعولن مفاعيلن
yang merupakan bagian dari "bahar tawil."
3) Rasm Utsmani
Rasmul Utsmani adalah pola penulisan Al-Qur’an pada masa Utsman dan
disetujui oleh Utsman. Rasm utsmani menjadi salah satu cabang ilmu
pengetahuan yang bernama Ilmu Rasm Utsmani. Ilmu ini didefinisikan sebagai
ilmu untuk mengetahui segi-segi perbedaan antara Rasm utsmani dan untuk
mengetahui segi perbedaan antara rasm utsmani dan kaidah-kaidah rasm istilahi
(rasm yang biasa selalu memperhatikan kecocokan antara tulisan dan ucapan)
sebagai berikut contoh antara rasm utsmani dengan rasm istilahi.
ü Dalam rasm utsmani lafaz ( ) اليستوونditulis () اليستون
Lafaz ( ) الصالةditulis () الصلوة
Lafaz ( ) الزكاةditulis () الزكوة
Lafaz ( ) الحياةditulis () الحيوة
11
D. Kaidah Penulisan Rasm Utsmani
Namun demikian, kesepakatan para penulis Al-Qur’an dengan rasm
Utsmani harus diindahkan dalam pengertian menjadikannya sebagai rujukan yang
keberadaannya tidak boleh hilang dari masyarakat Islam. Sementara jumlah
ummat Islam dewasa ini cukup besar yang tidak menguasai rasm Utsmani.
Bahkan, tidak sedikit jumlah ummat Islam untuk mampu membaca aksara arab.
Mereka membutuhkan tulisan lain untuk membantu mereka agar dapat membaca
ayat-ayat Al-Qur’an, seperti tulisan latin. Namun demikian Rasm Utsmani harus
dipelihara sebagai standar rujukan ketika dibutuhkan.
Demikian juga tulisan ayat-ayat Al-Qur’an dalam karya ilmiah, rasm
Utsmani mutlak diharuskan karena statusnya sudah masuk dalam kategori rujukan
dan penulisannya tidak mempunyai alasan untuk mengabaikannya. Dari sini kita
dapat memahami bahwa menjaga keotentikan Al-Qur’an tetap merujuk kepada
penulisan mushaf Utsmani. Akan tetapi segi pemahaman membaca Al-Qur’an
bisa mengunakan penulisan yang lain berdasarkan tulisan yang dalam proses
penulisan Al-Qur’an mulai dari Zaman Rasulullah, zaman khalifah Abu Bakar
sampai khalifah Utsman Bin Affan yang penulisnya tidak pernah lepas dari Zaid
Bin Tsabit yang merupakan sekretaris Rasulullah SAW. Secara historis ini
membuktikan bahwa Allah SWT tetap menjaga dan memelihara keotentikan Al-
Qur’an.
E. Pendapat Ulama Tentang Rasm Al-Qur’an
Para ulama berbeda pendapat tentang persoalan apakah rasm al-Qurān itu
tauqīfī atau bukan, Rasm al-Qurān itu tauqīfi dan metode penulisannya dinyatakan
sendiri oleh Nabi saw. Pendapat ini dipegang dan dipertahankan oleh Ibnul
Mubārak yang sependapat dengan gurunya Abdul Aziz ad-dabbāgh yang
menyatakan: “tidak seujung rambut pun huruf al-Qurān yang ditulis atas kehendak
seorang sahabat Nabi atau lainnya.
Rasm al-Qurān adalah tauqīfi dari Nabi, yakni atas dasar petunjuk dan
tuntunan langsung dari Rasulullah. Beliaulah yang menyuruh mereka (para
sahabat) menulis rasm al-Qurān itu dalam bentuk yang kita kenal, termasuk
tambahan huruf alif dan pengurangannya untuk kepentingan rahasia yang tak
dapat dijangkau oleh akalpikiran, yaitu rahasia yang dikhususkan Allah bagi kitab
12
sucinya al-Qurān. Suatu kekhususan yang tidak diberikan kepada kitab-kitab suci
lainnya. Sama halnya dengan susunan al-Qurān itu mujiz maka rasm al-Qurān itu
mujiz juga.”
Mereka mencari dalam rasm itu rahasia-rahasia yang menyebabkan rasm
Usmāni merupakan petunjuk untuk beberapa makna yang tersembunyi dan halus,
seperti penambahan “ya” dalam penulisan kata “aydin” ( ( اد ٌأyang terdapat dalam
QS. Az-Zāriyāt: 47; dimana kata itu ditulis ٌ أ اد. penulisan ini merupakan isyarat
bagi kehebatan kekuatan Allah yang dengannya Dia membangun langit dan
kekuatan-Nya itu tidak dapat disamai, ditandai oleh kekuatan manapun. Ini
berdasarkan kaidah yang masyhur: “Penambahan huruf dalam bentuk kalimat
menunjukkan penambahan makna”. Pendapat Ibnul Mubarak ini didasarkan pada
suatu riwayat bahwa Nabi pernah berkata kepada Muawwiyah, “Ambillah tinta,
tulislah huruf-huruf dengan qalam (pena), rentangkan huruf “ba”, bedakan dengan
huruf “sin”, jangan merapatkan lubang huruf “mim”, tulis lafaz “Allah” yang
baik, panjangkan lafaz “ar-rahman” dan tulislah lafaz “ar-rahim” yang indah.
Kemudian letakkanlah qalammu pada telinga kiri, ia akan selalu mengingatkan
engkau”.
Rasm al-Qurān itu bukan tauqīfi dari Nabi saw. tetapi hanya merupakan
satu cara penulisan yang disetujui Usmān dan diterima umat dengan baik,
sehingga menjadi suatu keharusan yang wajib dijadikan pegangan dan tidak boleh
dilanggar. Imam Malik pernah ditanya, “Bagaimana pendapat anda mengenai
orang yang berusaha menulis mushaf? Apakah anda berpendapat orang boleh
menulisnya dengan huruf-huruf hija‟ (alphabet) yang diciptakan orang dewasa
ini?” Imam Malik menjawab,[ “Saya tidak berpendapat demikian, seharusnya
mushaf ditulis menurut apa yang telah dilakukan oleh para penulis yang pertama”.
Dan Imam Ahmad berpendapat: “haram hukumnya menyalahi tulisan mushaf
Usmān dalam hal wawu, ya, alif atau lainnya”. Di dalam mazhab Syafi‟i dan
mazhab Hanafi pun terdapat riwayat-riwayat yang semakna. Tak seorang pun dari
para Imam yang mengatakan bahwa rasm al-Qurān adalah tauqīfi. Mereka
berpendapat bahwa berpegang pada rasm Usmāni merupakan salah satu cara
untuk memelihara persatuan dan kesatuan umat Islam atas dasar satu syi‟ar dan
satu istilah.
13
Rasm al-Qurān itu bukan merupakan tauqīfi. Pendapat ini dipelopori oleh
Qadhi Abū Bakar al-Baqillānī. Dalam kitabnya al-Intishār ia menyatakan bahwa
mengenai tulisan al-Qurān, Allah sama sekali tidak mewajibkan kepada umat
Islam dan tidak melarang para penulis al-Qurān menggunakan rasm selain itu
(rasm Usmāni). Apa yang dikatakan kewajiban itu hanya diketahui dari berita-
berita yang didengar. “kewajiban” itu tidak terdapat dalam nash al-Qurān dan
pencatatannya hanya boleh dilakukan dalam bentuk khusus atau dengan cara
tertentu yang tidak boleh ditinggalkan, demikian pula dengan ijma‟ ulama.
Bahkan sunnah Rasullullah menunjukkan dibolehkannya penulisan al-Qurān
dengan rasm yang paling mudah karena Rasulullah memerintahkan penulisannya
tanpa menjelaskan bentuk tulisan tertentu, dan beliau tidak melarang siapapun
menulis al-Qurān. Karena itulah bentuk tulisan mushaf berbeda-beda. Maka boleh
saja al-Qurān ditulis dengan huruf Kūfi dan huruf zaman kuno. Setiap orang boleh
menulis mushaf dengan cara yang sudah lazim menjadi kebiasaannya atau dengan
cara yang dipandangnya paling mudah dan paling baik. Ringkasnya, siapa saja
yang mengatakan wajib kepada orang lain untuk menulis al-Qurān dengan rasm
tertentu, maka ia harus mendatangkan hujjah untuk melegitimasi pendapatnya
tersebut.
Pendapat pertama mengandung penghormatan kepada rasm Usmāni secara
berlebih-lebihan, karena mengada-adakan pengertian dengan cara dipaksa-
paksakan dan hanya berlandaskan pada emosi. Atas dorongan perasaan sufisme
mereka menyerahkan persoalan pada selera batin, padahal selera sifatnya nisbi
(relatif), tak ada kaitannya dengan ketentuan agama dan tidak dapat dijadikan
dasar untuk menarik kesimpulan tentang kebenaran syari‟at agama. Yang benar
adalah bahwa panitia empat sepakat menggunakan istilah rasm al-Qurān. Dan
istilah itu disetujui oleh Khalifah Usmān, bahkan beliau menetapkan pedoman
yang harus diindahkan oleh para penulis mushaf bila terjadi perbedaan pendapat.
Ṣubḥi al-Ṣāliḥ tidak sepakat dengan pendapat yang dilontarkan oleh al-Baqillāni
tentang kebolehan menulis al-Qurān dengan rasm kuno. Ṣubḥi al-Ṣāliḥ sepakat
dengan pendapat al-„Īzz bin Abdussālam yang menyatakan bahwa dewasa ini
penulisan mushaf tidak boleh berdasarkan rasm kuno yang telah disepakati oleh
para imam masa dahulu, agar tidak mengakibatkan hilangnya ilmu-ilmu agama
14
Islam. Ini berarti al-Qurān seharusnya ditulis dengan cara yang lazim yang dikenal
pada zamannya. Bukan berarti rasm Usmāni yang lama harus ditiadakan. Jika
ditiadakan, hal itu akan meruasak lambang keagamaan besar yang telah disepakati
bulat oleh seluruh umat Islam. Berpegang pada rasm Usmāni merupakan salah
satu cara untuk memelihara persatuan dan kesatuan umat Islam atas dasar satu
syiar dan satu istilah.
F. Kaidah Rasm Al Quran dengan Qiroah Al-Qur’an
Berbicara dan mendalami tentang ilmu rasm mushaf bukanlah hal yang
mudah. Ilmu rasm mushaf membahas tentang cara khusus dalam penulisan kata-
kata Alquran serta kaidah-kaidahnya yang berbeda dengan rasm imla’i atau
ishtilahi yang digunakan dalam penulisan di luar Alquran. Contoh, cara penulisan
kata shalat yang menggunakan huruf (waw – shad, lam, waw, ta’ marbuthah)
bukan (alif – shad, lam, alif, ta’ marbuthah).
Ulama berbeda pendapat tentang jumlah mushaf yang ditulis di masa
sahabat Usman. Perlu diketahui bahwa mushaf ditulis tanpa titik atau harakat
(Naqth al-I’rab dan Naqth al-I’jam) yang dapat ditemui dalam pembahasan ilmu
Dhabth, meskipun kitab-kitab rasm juga membahas tema ini.
Hubungan qiraat dengan rasm dapat dilihat dari dua hal: macam-macam
qiraat ditinjau dari sisi rasam dan tata cara bacaan terhadap lafaz-lafaz.
Di antara macam-macam qiraat dilihat dari sisi rasm-nya adalah sebagai
berikut: Pertama, qiraat yang memeliki sanad yang sahih, sesuai dengan rasm,
sesuai dengan kaidah bahasa Arab, dimana hal ini sudah dibahas dalam tema
syarat-syarat qiraat yang diterima atau Kedua, qiraat yang sesuai rasm, sesuai
dengan bahasa Arab, tapi tidak diriwayatkan atau dibacakan oleh seorang qari’.
Contoh, Qs. al-Isra: 106 dalam lafaz (mim, kaf, tsa’) yang dalam bahasa arab
dapat dibaca dengan fathah atau dhammah (makts, mukts) tetapi hanya satu
bacaan yang diriwayatkan yaitu mukts. Ketiga, qiraat yang sesuai rasm, tetapi
tidak salah dari aspek bahasa, serta tidak dibacakan oleh seorang qari’. Bahasa di
sini tidak hanya dilihat dari aspek nahwu dan sharaf, tapi konteks (siyaq),
kesuaian dll. Contoh Qs. al-Baqarah:2, (dzalika al-kitab la raiba fih) yang
dibacakan (la zaita fih/tidak ada minyak di dalamnya), lafal zait dan raib dari sisi
rasm adalah sama jika dikosongkan dari titik.
15
Kesesuaian dengan salah satu rasm mushaf bisa berbentuk tahqiqi atau
ihtimali. Contoh, terdapat dua qiraat: Qs. Ali Imran: 133 (sari’i ila maghfirah)
yang sesuai dengan rasm mushaf Madani dan Syami. Dan qiraat (wa sari’i ila
maghfirah) yang sesuai dengan rasm mushaf Makki, Kufi dan Bashri. Contoh soal
perbedaan cara bacaan lafal yang berhubungan denga rasm adalah lafaz (ya abat),
di dalam Alquran ditulis dengan huruf ta, jika disambung maka dibaca dengan ta,
tetapi jika berhenti pada lafaz tersebut maka sebagian qari’ membacanya sesuai
rasm dengan huruf ta (ya abat) dan sebagian membacanya dengan ha (ya abah)
seperti imam Ibn Katsir.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Rasmul qur’an atau rasmul ustmani adalah tata cara menuliskan Al-qur’an
yang ditetapkan pada masa khalifah ustman bin affan dengan kaidah-kaidah
[Link] para ulama berpendapat bahwa rasmul qur’an bersifat tauqifi,
tapi sebagian besar para ulama berpendapat bahwa rasmul qur’an bukan tauqifi,
tetapi merupakan kesepakatan cara penulisan yang disetujui ustman dan diterima
umatnya,sehingga wajib wajib diikuti dan di taati siapa pun ketika menulis al-
qur’an tidak boleh ada yang menyalahinya.
Hubungan antara rasmul qur’an dan qira’ah sangat erat sekali Karena
semakin lengkap petunjuk yang dapat ditangkap semakin sedikit pula kesulitan
untukMengungkap pengertian-pengertian yang terkandung didalam Al-
qur’[Link] yang telah dijelaskan bahwa keberadaan mushaf ‘ustmani
yang tidak Berharakat dan bertitik ternyata masih membuka peluang untuk
membacanya dengan berbagai qira’at. Hal itu di buktikan dengan masih
terdapatnya keragaman cara Membaca Al-Qur’an.
B. Saran
16
Meskipun kami menginginkan kesempurnaan dalam penyusunan makalah
ini, akan tetapi pada kenyataannya masih banyak kekurangan yang perlu kami
perbaiki. Hal ini dikarenakan masih minimnya pengetahuan kami. Oleh karena itu
kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat diharapkan sebagai
bahan evaluasi untuk kedepannya. Sehingga bisa terus menghasilkan penelitian
dan karya tulis yang bermanfaat bagi banyak orang.
DAFTAR PUSTAKA
Mohammad Gufron. & Rahmawati , Ulumul Qur’an , Teras , Yogyakarta , 2013 ,
hlm.35-39
Lihat Edi Saflan, Pemeliharaan Al-Quran Pada Masa Ali Bin Abi Thalib dalam
M.
Hadi Marifat, Sejarah Al-Quran, Jakarta, Al Huda, 2007, hlm. 132 9 Ahmad
Izzan, , Ulumul Quran , Tafakur , Bandung , 2005 , hlm., 106-112
[Link]
[Link]
17