Manajemen Proyek dalam RPL
Manajemen Proyek dalam RPL
KEGIATAN BELAJAR 2
KONSEP MANAJEMEN PROYEK DALAM PENGEMBANGAN
SISTEM INFORMASI
A. Pendahuluan
1. Deskripsi Singkat
Proyek sistem informasi merupakan suatu kegiatan mengkoordinasikan
segala sesuatu dengan menggunakan perpaduan sumber daya manusia, teknik,
administratif, keuangan untuk mencapai tujuan pengembangan sistem informasi
dalam periode waktu tertentu. Dalam proyek sistem informasi, terdapat empat
fokus yang dikelola, yaitu personil, produk, proses dan proyek. Oleh karena itu
dibutuhkan pengelolaan yang sistematis, efektif dan terpadu. Aktifitas
pengelolaan proyek sistem informasi tersebut selanjutnya disebut manajemen
proyek.
Manajemen proyek adalah kegiatan merencanakan, mengorganisasikan,
memimpin, dan mengendalikan sumber daya perusahaan untuk mencapai sasaran
telah ditentukan. Selanjutnya, manajemen proyek perangkat lunak diartikan
sebagai aktifitas manajemen rekayasa perangkta lunak, dimulai sebelum aktifitas
teknis diinisialisasi dan berlanjut pada keseluruhan batasa, perkembangan dan
pemeliharaan perangkat lunak komputer.
Kegiatan belajar ini membahas konsep dan implementasi manajemen
proyek dalam pengembangan sistem informasi. Kegiatan belajar ini membahas
pokok bahasan berikut:
a. Konsep dasar manajemen proyek
b. Fungsi dan batasan manajamenen proyek
c. Metode dan analisis manajemen proyek
d. Proposal proyek sistem informasi
2. Relevansi
Manajemen proyek pengembangan sistem informasi dalam Rekayasa
Perangkat Lunak (RPL) perlu dipandang melalui tiga dimensi besar literasi sains
(scientific literacy) yaitu konten sains, proses sains, dan konteks aplikasi sains.
Konten sains merujuk pada konsep-konsep kunci dari sains yang diperlukan untuk
memahami fenomena alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui
aktivitas manusia. Proses sains mengembangkan kemampuan memahami hakikat
sains, prosedur sains, serta kekuatan dan kelemahan sains. Konteks aplikasi sains
lebih pada kehidupan sehari-hari daripada kelas atau laboratorium. Kegiatan
Belajar 1 ini dibagi menjadi empat bahan kajian atau pokok bahasan yang
mengacu pada dimensi literasi sains (sains liyteracy).
Secara umum, tujuan Kegiatan Belajar 2 ini adalah untuk memberikan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap kepada guru atau peserta PPG tentang
manajemen proyek dalam pengembangan sistem informasi. Secara khusus, tujuan
Kegiatan Belajar 3 ini adalah agar peserta mampu: (1) Melaksanakan konsep
dasar manajemen proyek pengembangan sistem informasi, (2) Menganalisis
fungsi dan batasan manajemen proyek sistem informasi si obyek; dan (3)
Menerapkan metode dan analisa manajemen proyek dalam pengembangan sistem
informasi. (4) Membuat proposal proyek sistem informasi dengan menggunakan
perangkat lunak yang ada.
3. Petunjuk Belajar
Modul ini dirancang untuk memfasilitasi Anda dalam melakukan kegiatan
belajar secara mandiri, jangan lupa berdoa sebelum mempelajarinya. Bacalah
modul dengan seksama, terutama bagian instruksi.
a. Pahami dulu tentang capaian pembelajaran mata kegiatan, sub capaian
pembelajaran mata kegiatan, dan pokok-pokok materi pada setiap Kegiatan
Belajar sebelum Anda mempelajari uraian materi
b. Lakukan kajian terhadap uraian materi pada setiap Kegiatan Belajar dan
lengkapi informasi Anda dengan melihat berbagai media dan sumber belajar
yang telah disediakan serta menganalisis contoh penelitian atau kasus nyata
pada setiap topik materi.
c. Anda diharapkan juga dapat menguasai prinsip, teknik, dan aplikasi integrasi
pengetahuan keilmuan sains, pedagogi dan teknologi (technology pedagogy
B. Inti
1. Capaian Pembelajaran
Menganalisis prinsip-prinsip Rekayasa Perangkat Lunak beserta aplikasi
terkait dalam pembelajaran bidang studi Teknik Komputer dan Informatika
2. Pokok-Pokok Materi
Pokok-pokok materi pada kegiatan belajar ini adalah:
a. Konsep dasar manajemen proyek pengembangan sistem informasi
b. Fungsi dan batasan manajemen proyek sistem informasi
c. Metode dan analisa manajemen proyek dalam pengembangan sistem
informasi
d. Proposal proyek sistem informasi dengan menggunakan perangkat lunak
yang ada
3. Uraian materi
a. Pengertian Manajemen, Proyek dan Manajemen Proyek
Menurut Soeharto (1999), manajemen adalah proses merencanakan,
mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan kegiatan anggota serta
sumber daya yang lain untuk mencapai sasaran organisasi (perusahaan) yang telah
ditentukan. Selanjutnya menurut Schwalbe (2006), proyek adalah suatu usaha
yang bersifat sementara untuk menghasilkan suatu produk atau layanan yang unik.
Pada umumnya proyek melibatkan beberapa orang yang saling berhubungan
aktifitasnya dan sponsor utama dari proyek biasanya tertarik dalam penggunaan
sumber daya yang efektif untuk menyelesaikan proyek secara efisien dan tepat
waktu.
Sementara itu menurut Gray &Larson (2000), proyek adalah kegiatan yang
kompleks, tidak rutin, dan usaha satu waktu yang dibatasi oleh waktu, anggaran,
sumber daya, dan spesifikasi kinerja yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan
customer. Schwalbe (2006) menyebutkan atribut dari suatu proyek adalah sebagai
berikut :
1) Sebuah proyek memiliki tujuan yang khusus. Proyek harus menghasilkan
suatu produk khusus, layanan, dan hasil akhir.
2) Proyek bersifat sementara. Proyek memiliki awal dan akhir yang jelas.
3) Proyek membutuhkan sumber daya bias dari beberapa area. Sumber daya
dapat berupa hardware, software, dan sumber daya lainnya.
Secara umum pada proses manajemen ada tiga bagian yang selalu ada
tidak terkecuali manajemen proyek, yaitu perencanaan, penjadwalan, dan
pengendalian proyek :
1) Perencanaan
2) Penjadwalan
3) Pengendalian Proyek
tahapan utama atau yang dikenal dengan istilah Project Management Process
Groups (Process Groups).
1) Initiation
Sebuah proyek dikatakan memasuki tahap ini jika sudah mendapatkan
beberapa dokumen seperti SPK (Surat Perintah Kerja), Agreement, Statement
of Work (SOW), Purchase Order atau bentuk kesepakatan lainnya. Proses dari
tahap ini menghasilkan dua dokumen penting, yaitu
2) Project charter, berisi kebutuhan proyek, seperti:
Project Manager
Latar belakang kebutuhan organisasi terkait pelaksanaan suatu proyek
(background)
Target yang ingin dicapai (goal)
Penjelasan mengenai solusi atau produk yang akan diimplementasikan
(product description)
Kriteria sukses suatu proyek (project success criteria)
Kendala-kendala yang akan dihadapi (risk)
Tanggung jawab dan aktivitas baik dari pelaksana proyek maupun dari
customer (responsibility)
Anggaran dan durasi (project budget and duration).
3) Stakeholder
Penyusunan daftar-daftar pemangku kepentingan yang terlibat dalam suatu
proyek. Data mengenai stakeholder ini sangat penting untuk mendapatkan
masukkan pada tahap perencanaan. Beberapa hal yang perlu dicatat mengenai
stakeholder antara lain: identitas diri, posisi di dalam organisasi, tingkat
kekuasaan (power), tingkat kepentingan (interest), ekspektasi, strategi
penanganan. Klasifikasi stakeholder akan memengaruhi strategi penanganan
mereka.
Walaupun Project Charter dibuat dalam fase ini, terdapat hal-hal lain yang
masuk ke dalam batasan proyek (project boundaries) seperti Business Case
Assessment, persetujuan stakeholder dan pembiayaan proyek. Batasan proyek ini
didefinisikan sebagai suatu titik waktu dimana proyek atau fase proyek dikatakan
sudah selesai dengan lengkap. Tujuan utama dari proses ini adalah untuk
manangani ekspektasi stakeholder dan memberikan gambaran kepada mereka
mengenai scope dan objetif suatu proyek.
4) Planning
Target utama dari tahap ini adalah menghasilkan dokumen perencanaan
proyek atau Project Management Plan. Proses utama terkait kegiatan perencanaan
dan pembuatan Project Management Plan adalah:
Merangkum kebutuhan dan keinginan klien, memastikan batasan
pekerjaan, serta membuat uraian pekerjaan.
Merinci unit-unit pekerjaan, menentukan urutan pekerjaan, estimasi
sumber daya, estimasi durasi, dan finalisasi jadwal proyek.
Estimasi biaya untuk masing-masing kegiatan.
Menentukan proses yang baik (quality assurance) dan standar mutu yang
disepakati (quality control).
Perencanaan sumber daya manusia.
Perencanaan komunikasi antara stakeholder.
Perencanaan manajemen risiko.
5) Execution
Tugas pengelola proyek dalam tahap ini adalah memfasilitasi dan
mengawasi tim agar dapat bekerja sesuai dokumen perencanaan terutama
mengawal tim agar tidak melewati jadwal maupun over budget. Apabila terdapat
perubahan atau perbedaan antara perencanaan dan pelaksanaan, maka disarankan
untuk melakukan analisis dampak terhadap biaya, waktu, mutu dan risiko,
sebelum perubahan diterapkan dalam bentuk baseline (patokan) baru.
Proses utama dalam tahap ini adalah mengarahkan dan mengelola
pelaksanaan proyek ke arah penyelesaian, sesuai dokumen perencanaan. Seorang
Manajer Proyek cukup mengarahkan, menjelaskan dan memotivasi tim agar
proyek dapat berjalan dengan baik dan lancar. Beberapa tugas Manajer Proyek
dalam tahap ini antara lain:
Mengevaluasi jalannya proses pelaksanaan kegiatan
lunak, database, jaringan yang sulit untuk mengukur nilai manfaat dari
produk tersebut.
2) Melibatkan teknologi yang sangat cepat usang, karena perkembangan yang
sangat cepat.
3) Membutuhkan beragam sumber daya manusia dengan keahlian dan
kompetensi yang beragam.
4) Ukuran yang dijadikan standar sulit dibakukan, karena sulit mengukur
kualitas yang dimengerti berbagai pihak secara seragam.
Suatu sistem informasi dapat dikembangkan karena adanya kebijakan dan
perencanaan telebih dahulu. Tanpa adanya perencanaan sistem yang baik,
pengembangan sistem tidak akan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Tanpa adanya kebijakan pengembangan sistem oleh manajemen puncak, maka
pengembangan sistem tidak akan mendapat dukungan dari manajemen puncak
tersebut.
Kebijakan untuk mengembangkan sistem informasi dilakukan oleh
manajemen puncak karena manajemen menginginkan untuk meraih kesempatan-
kesempatan yang ada yang tidak dapat diraih oleh sistem yang lama atau sistem
lama mempunyai kelemahan (masalah) perencanaan sistem menyangkut estimasi
(penafsiran, perkiraan, pendapat atau penilaian) sumberdaya (kebutuhan-
kebutuhan fisik dan tenaga kerja) dan biaya. Perencanaan sistem terdiri dari :
perencanaan jangka pendek (periode 1 sampai 2 tahun) dan jangka panjang
(periode sampai 5 tahun). Perencanaan sistem biasanya ditangani oleh staf
perencanaan sistem, departemen pengembangan sistem atau depertemen
pengolahan data.
masing-masing yang secara prinsip tidak lepas dari keenam langkah metodologi di
atas.
Secara umum, proyek-proyek sistem informasi dalam perusahaan atau
organisasi dapat dikategorikan dalam 3 kelompok besar.
1) Proyek yang bersifat pembangunan jaringan infrastruktur teknologi informasi,
menyangkut hal-hal mulai dari pengadaan dan instalasi komputer sampai
dengan perencanaan dan pengembangan infrastruktur jaringan LAN (Local
Area Network) dan WAN (Wide Area Network).
2) Implementasi dari paket program aplikasi yang dibeli di pasaran dan
diterapkan di perusahaan, mulai dari software kecil seperti produk-
produk retail Microsoft sampai dengan aplikasi terintegrasi berbasis ERP,
seperti SAP dan BAAN.
3) Perencanaan dan pengembangan aplikasi yang dibuat sendiri secara khusus
(customized software), baik oleh internal perusahaan maupun kerja sama
dengan pihak luar seperti konsultan dan software house.
merupakan gabungan dari para personel yang terkait dengan latar belakang
ilmu dan pengetahuan yang beragam (multidisiplin), seperti ahli perangkat
lunak, analisis bisnis dan manajemen, spesialis perangkat keras, programmer,
sistem analis, praktisi hukum, manajer proyek dan beberapa karakteristik
SDM lain yang terkait.
2) Tahap Analisis
Secara prinsip ada 2 aspek yang jadi fokus analisis, yaitu :
a) Aspek bisnis atau manajemen
Analisis aspek bisnis dimulai dengan mempelajari karakteristik
perusahaan yang bersangkutan, mulai dari aspek-aspek historis, struktur
kepemilikan, visi, misi, kunci keberhasilan usaha (critical success
factors), ukuran kinerja (performance measurements), strategi, program-
program dan hal terkait lainnya.
Tujuan dilakukannya langkah ini adalah:
• Mengetahui posisi atau peranan teknologi informasi yang paling
sesuai dan relevan di perusahaan (mengingat setiap perusahaan
memiliki pandangan tersendiri dan unik terhadap sumber daya
teknologi yang dimiliki, yang membedakannya dengan perusahaan
lain).
• Mempelajari fungsi-fungsi manajemen dan aspek-aspek bisnis
terkait yang akan berpengaruh (memiliki damppak tertentu) terhadap
proses desain, konstruksi dan implementasi.
b) Aspek teknologi
Analisis aspek teknologi meliputi kegiatan-kegiatan yang bersifat
menginventarisir aset teknologi informasi yang dimiliki perusahaan pada
saat proyek dimulai dengan berbagai tujuan, antara lain :
• Mempelajari infrastruktur teknologi informasi yang dimiliki
perusahaan dan tingkat efektivitas penggunaannya selama kurun
waktu tersebut.
3) Tahap Desain
Pada tahap desain, tim teknologi informasi bekerja sama dengan tim bisnis
atau manajemen melakukan perancangan komponen-komponen sistem terkait.
Tim teknologi informasi akan melakukan perancangan teknis dari teknologi
informasi yang akan dibangun, seperti sistem basis data, jaringan komputer,
metode interfacing, teknik konversi data, metode migrasi sitem dan sebagainya.
Model-model umum seperti flowchart, ER Diagram, DFD dan lain
sebagainya dipergunakan sebagai notasi umum dalam perancangan sistem secara
teknis. Sementara itu secara paralel dan bersama-sama tim bisnis atau manajemen
akan melakukan perancangan terhadap komponen-komponen organisasi yang
terkait seperti prosedur (SOP = Standard Operational Procedures), struktur
organisasi, kebijakan-kebijakan, teknik pelatihan, pendekatan SDM dan
sebagainya. Tim ini pun biasanya akan mempergunakan model-model umum
seperti Porter’s Value Chain, Bussiness Process Mapping, Strategic Distinction
Model, BCG Matrix, dan lain-lain. Jelas bahwa hasil tahap ini, yang berupa cetak
biru rancangan sistem, secara teknis dan secara manajemen akan dijadikan
pegangan dalam proses konstruksi dan implementasi komponen-komponen pada
sistem informasi yang akan dikembangkan.
4) Tahap Konstruksi
Berdasarkan desain yang telah dibuat, konstruksi atau pengembangan
sistem yang sesungguhnya (secara fisik) dibangun. Tim teknis merupakan tulang
punggung pelaksana tahap ini, mengingat semua hal yang bersifat konseptual
harus diwujudkan dalam suatu konstruksi teknologi informasi dalam skala detail.
Dari semua tahapan yang ada, tahap konstruksi inilah yang biasanya paling
banyak melibatkan sumber daya terbesar, terutama dalam hal SDM, biaya, waktu.
kontrol terhadap manajemen proyek pada tahap konstruksi harus diperketat agar
tidak terjadi ketidakefisienan maupun ketidakefektifan dalam penggunaan
beragam sumber daya yang ada (yang secara tidak langsung akan berdampak
langsung terhadap keberhailan proyek sistem informasi yang diselesaikan secara
tepat waktu). Akhir dari tahap konstruksi biasanya berupa uji coba sistem.
Perbaikan-perbaikan bersifat minor biasanya harus dilakukan setelah adanya
masukan-masukan yang timbul setelah diadakannya evaluasi.
5) Tahap Implementasi
Tahap implementasi merupakan tahap yang paling kritis karena untuk
pertama kalinya sistem informasi akan dipergunakan dalam perusahaan. Biasanya,
pendekatan yang digunakan oleh perusahaan adalah pendekatan cut off dan
paralel.
a) Pendekatan cut off atau big-bang adalah suatu strategi implementasi yang
memilih sebuah hari sebagai patokan dan terhitung mulai hari tersebut, sistem
baru mulai dipergunakan dan sistem lama ditinggalkan sama sekali.
b) Pendekatan paralel dilakukan dengan cara melakukan pengenalan sistem baru
sementara sistem lama belum ditinggalkan, sehingga dua buah sistem berjalan
secara paralel (kedua sistem tersebut biasa disebut testing environment dan
production environment).
6) Tahap Pascaimplementasi
Dari segi teknis, yang dimaksud dengan aktivitas-aktivitas pasca
implementasi adalah bagaimana manajemen pemeliharaan sistem akan dikelola
Keterangan:
- Proses merupakan rangkaian aktivitas logis yang saling berhubungan dan
berkesinambungan dalam mengolah keluaran dari supplier, memberi
- nilai tambah, dan menjadikannya keluaran bagi customer.
- Sub proses adalah bagian dari proses yang memiliki tujuan spesifik dalam
mendukung major process. Sub proses merupakan bagian dari
- proses, bila major process terlalu kompleks.
- Task merupakan gabungan aktivitas yang ditujukan untuk tujuan minor
dalam sebuah organisasi. Task adalah pekerjaan di dalam work
- process yang harus dilakukan.
- Aktivitas merupakan bagian terkecil dari pekerjaan yang harus dilakukan
untuk menyelesaikan suatu task.
Dalam pemetaan proses dapat kita mulai dengan menggambarkan seluruh
aktifitas yang terjadi dalam suatu organisasi menjadi kelompok besar aktivitas
yang kita sebut sebagai peta proses bisnis. Dari peta proses bisnis ini kemudian
dapat didetailkan menjadi sub peta proses bisnis dan kemudian menjadi SOP dan
intruksi kerja seperti yang dijelaskan dalam gambar berikut ini:
Perlu diingat dokumen SOP adalah dokumen yang mengatur tata cara
bagaimana suatu proses diselesaikan dengan tuntas dalam memberikan nilai
tambah terhadap outputnya. Maka suatu dokumen SOP berisikan norma dan
kriteria yang menjelaskan bagaimana, siapa, dan hasil apa yang diwujudkan dalam
rangkaian aktifitas tersebut yang melibatkan lintas fungsi dalam organisasi. Oleh
karena itu sebelum menuliskan SOP, ada baiknya kita menggambarkan peta lintas
fungsi (cross functional map). Cross functional map merupakan peta yang
menggambarkan hubungan antar fungsi dengan urutan aktivitas dalam
menyelesaikan proses tertentu.
Untuk dapat memastikan siapa saja pelaku yang terlibat dalam satu
kelompok proses perlu diidentifikasikan lebih dahulu dalam peta hubungan
(relationship map). Relationship Map merupakan peta yang menggambarkan
hubungan masukan-keluaran (supplier - customer) antar bagian di dalam sebuah
organisasi, baik itu antar fungsi, departemen, atau divisi. Informasi yang didapat
dari Relationship Map antara lain:
- Apa yang dihasilkan oleh organisasi terkait (produk dan layanan).
- Bagaimana alur pekerjaan yang melewati batasan fungsional (pekerjaan
lintas fungsi)
Keterangan:
- Business Process Map - Sub Business Process Map merupakan hubungan
keterkaitan antara proses dengan proses.
- Relationship Map merupakan hubungan keterkaitan antara proses dengan
pelaku.
- Cross Functional Map merupakan hubungan keterkaitan antara pelaku
dengan aktifitas.
Dengan demikian, penyusunan SOP memerlukan pemetaan proses atau
business process mapping dimana hal tersebut merupakan visualisasi dari suatu
organisasi, yang mendemonstrasikan bagaimana pekerjaan di dalam organisasi
tersebut dilakukan, sehingga menjadikan pekerjaan tergambar dengan
jelas/eksplisit (Robert Damelio, 1996). Dengan pemetaan proses sebuah
organisasi memiliki dokumentasi mengenai pekerjaan yang dilakukan, sehingga
memungkinkan untuk menganalisa pekerjaan yang telah dilakukan bagi
peningkatan kepuasan pelanggan melalui identifikasi terhadap pengurangan waktu
proses, mereduksi tahapan proses yang tidak menghasilkan nilai tambah,
meningkatkan produktivitas, dan memudahkan pengukuran kinerja.
Keterangan:
- Proses merupakan rangkaian aktivitas logis yang saling berhubungan dan
berkesinambungan dalam mengolah input, memberikan nilai tambah,
- dan menjadikannya output.
- Sub proses adalah bagian dari proses yang memiliki tujuan spesifik dalam
mendukung major process. Sub proses merupakan bagian dari
- proses, bila major processterlalu kompleks.
- Tugas merupakan gabungan aktivitas yang ditujukan untuk tujuan minor
dalam sebuah organisasi. Tugas adalah pekerjaan di dalam work
- process yang harus dilakukan.
- Aktivitas merupakan langkah-langkah detail dari pekerjaan yang harus
dilakukan untuk menyelesaikan suatu tugas.
pemahaman dan pengembangan proses yang akan dipetakan. Berikut dia tas
merupakan kerangka pengembangan proses, yang akan menjelaskan mengenai
proses dan komponen-komponen yang membangunnya.
Maksud
1.
2.
Tujuan
1.
2.
E. Pemeliharaan
Deskripsikan mekanisme pemeliharaan sistem, termasuk layanan apa saja yang
disediakan terkait pemeliharaan sistem, misalnya ada tim khusus untuk
troubleshooting, dan sebagainya.
F. Rencana Anggaran Biaya
Buat rencana anggaran biaya yang riil dan responsible. Ingat, tahapan ini juga
sangat memengaruhi diterima tidaknya proposal. Jadi, buat rincian perhitungan
yang tepat.
Bisa dituliskan langsung di sini atau dibuat lampiran khusus (misal dalam
format spreadsheet).
Contoh RAB (tidak harus sama persis, sesuaikan dengan proyek yang
ditangani).
1. Tenaga Ahli
Tabel 2.1. RAB tenaga ahli
Harga Total
No Posisi Jumlah Satuan Waktu Satuan
Satuan Biaya
1 Project 1 Orang 6 Bulan
Manager
2 System 2 Orang 6 Bulan
Analyst dan
Designer
3 Database 1 Orang 6 Bulan
Administrator
4 Programmer
5 Dokumentato
r
6
7
Total Biaya
4. Overhead
Tabel 2.4. RAB kebutuhan overhead
Harga Total
No Item Jumlah Satuan
Satuan Harga
1. Transportasi
AnalisisKebutuhan 1 orang
...............................
2. Akomodasi
Analisis Kebutuhan 1 orang
3. Overhead kantor
Alat Tulis Kantor (ATK) 1 Paket
4. Pelatihan
Modul pelatihan 10 Exp
Total Harga
5. Maintenance
Tabel 2.5. RAB maintenance
Harga Total
No Item Jumlah Satuan Waktu Satuan
Satuan Biaya
1 Hardware 1 Paket 12 Bulan
2 Software 1 Paket 12 Bulan
Total Biaya
6. Rekapitulasi
Tabel 2.6. Rekapitulasi anggaran
No Jenis Jumlah
1 Tenaga Ahli
2 Perangkat Keras (hardware)
3 Perangkat Lunak (software)
4 Overhead
5 Maintenance
Sub Total
7 PPN (10 %)
8 PPH (1,5%)
Total
G. Rencana Pekerjaan
Deskripsikan dengan menggunakan WBS (Work Breakdown Structure), baik
dalam bentuk inverted tree maupun list format
H. Jadwal Pelaksanaan
Gambarkan dalam bentuk matriks
Contoh:
Tabel 2.7. Contoh matriks jadwal pelaksanaan proyek
Bulan/Minggu
No Kegiatan Agustus September
2 3 4 1 2 3 4
1 Pengajuan Proposal
2 Analisis dan Design
3 Implementasi
BAB IV
PENUTUP
Berisi harapan agar bisa diterimanya dokumen proposal ini, dan ditegaskan
dengan komitmen untuk mewujudkan keinginan pemilik proyek. Ringkas dan
profesional.
[Link] Diskusi
Terdapat beberapa model bisnis umum yang dapat diterapkan oleh
perusahaaan dalam menyelesaikan sebuah proyek, diantaranya Porter’s Value
Chain, Bussiness Process Mapping, Strategic Distinction Model,dan BCG Matrix.
Menurut Anda model apakah yang paling baik digunakan dalam mengelola
sebuah proyek sistem informasi?
C. Penutup
1. Rangkuman
Manajemen proyek merupakan aplikasi dari ilmu pengetahuan, skills,
tools, dan teknik untuk aktifitas suatu proyek dengan maksud memenuhi atau
melampaui kebutuhan stakeholder dan harapan dari sebuah proyek. Tedapat tiga
elemen penting dalam manajemen proyek, yaitu: manajer proyek, tim proyek dan
sistem manajemen. Karakteristik proyek perangkat lunak adalah invisibility,
complexity conformity dan flexibility
Manajemen proyek memiliki beberapa fungsi, yaitu scooping, planning,
estimating, scheduling, organizing, directing, controlling dan closing. Secara
umum manajemen proyek memiliki tiga ruang lingkup, yaitu: perencanaan,
penjadwalan dan pengendalian proyek.
2. Tes Formatif
Pilihlah jawaban yang paling tepat!
1. Untuk merealisasikan agar komponen tujuan proyek dapat tercapai maka
pelaksanaan proyek membutuhkan tahapan-tahapan yang disebut dengan istilah
A. Proyek Informasi
B. Sistem Informasi
C. Program
D. Manajemen Informasi
E. Proses
2. Manakah pernyataan yang paling tepat untuk menggambarkan analisis aspek
bisnis atau manajemen
A. Mempelajari infrastruktur teknologi informasi yang dimiliki perusahaan
dan tingkat efektivitas penggunaannya selama kurun waktu tersebut.
B. Menganalisis kemungkinan-kemungkinan diperlukannya penambahan
sistem di kemudian hari (system upgrading) sehubungan akan
diimplementasikannya teknologi baru
C. Proyek yang bersifat pembangunan jaringan infrastruktur teknologi
informasi, menyangkut hal-hal mulai dari pengadaan dan instalasi
computer sampai dengan perencanaan dan pengembangan infrastruktur
jaringan LAN (Local Area Network) dan WAN (Wide Area Network).
D. Mengarahkan dan mengelola pelaksanaan proyek ke arah penyelesaian,
sesuai dokumen perencanaan.
E. Mempelajari karakteristik perusahaan yang bersangkutan, mulai dari
aspek-aspek historis, struktur kepemilikan, visi, misi, kunci keberhasilan
usaha (critical success factors), ukuran kinerja (performance
measurements), strategi, dan program-program.
A. Invisibolity
B. Comformity
C. Complexity
D. Flexibility
E. Dependability
5. Yang tidak termasuk bagian dari tahapan perencanaan proyek adalah
A. Mengkaji tujuan, perencanaan strategi dan taktik perusahaan.
B. Mengidentifikasi proyek-proyek sistem.
C. Menetapkan sasaran proyek-proyek sistem
D. Menetapkan kendala proyek-proyek sistem (mis. batasan biaya, waktu,
umur ekonomis, peraturan yang berlaku).
E. Melakukan studi kelayakan.
6. Proses utama dalam tahap ini adalah mengarahkan dan mengelola
pelaksanaan proyek ke arah penyelesaian, sesuai dokumen perencanaan.
A. Monitoring
B. Controlling
C. Execution
D. Initition
E. Closing
10. Salah satu model analisis yang paling baik digunakan untuk melakukan
pemilahan terhadap pengembangan sistem informasi dilihat dari tingkat
kepentingannya (prioritas) bagi perusahaan, sehingga dapatditentukan sistem
mana saja yang harus segera dibangun (jangka pendek), dan sistem manasaja
yang dapat dikembangkan di kemudian hari (jangka menengah dan jangka
panjang).
A. Porter’s Value Chain
B. Bussiness Process Mapping,
C. BCG Matrix.
D. Strategic Distinction Model
E. Earned Value Model
Daftar Pustaka
Graym C.F. dan Larson, E.W., 2000. Project Management. First Edition, Boston:
McGraw Hill.
Heldman, Kim. 2013. PMP: Project Management Professional Exam Study
Guide. New Jersey: Sybex
Marchewka, Jack T, 2014. Information Technology Project Management,
Providing Measurable Organizational Value, 5th Edition. Danvers: John
Wiley & Sons.
Chase, Richard B., et all, 2011. Operational Management for Competitive
Advantage, 9th Edition: NY: McGraw Hill.
Olson, David. 2004. Introduction to Information Systems Project Management,
2nd Ed. ISBN: 0-07-282402-6 3. Larson, Erick. W. 2000. Project
management: the managerial process.
Phillips, Joseph, 2010. IT Project Management: On Track Form Startto Finish,
Third Edition. Nwe York: McGraw Hill Professional.
Pressman, Roger S. 2012. Rekayasa Perangkat Lunak (Pendekatan Praktisi) Edisi
7: Buku 2. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Project Management Institute, 2017. A Guide to The Project Management Body of
Knowledge (PMBOK GUIDE). Newton Square, Pennsylvania, Project
Management Institute Inc.
Santosa, Budi. 2009. Manajemen Proyek: Konsep & Implementasi. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Comprehensive Business Process Mapping provides clarity on how tasks are performed, which enhances process transparency. It allows for performance analysis, customer satisfaction improvement through process time reduction, defect reduction, cost minimization, and productivity enhancement. Proper mapping also facilitates performance measurement and resource organization, offering significant strategic advantage in competitive environments .
SOP documentation is vital for improving cross-functional collaboration as it outlines process execution clearly, ensuring all functions work together efficiently. SOPs establish consistent procedures across different functions, minimizing miscommunication, and aligning activities towards common objectives, facilitating smooth operation and enhanced productivity .
Project monitoring and control are critical for ensuring that the project adheres to time, cost, quality, and scope parameters outlined in the plan. The process involves regular performance measurement and analysis, controlling changes, recommending corrective actions, and implementing only approved changes, thereby keeping the project on track and minimizing risks of deviation .
Implementing system support changes without effective cross-functional process mapping can result in inefficient processes, increased errors, and miscommunication across departments. It leads to a lack of coordination and understanding of process interdependencies, which can cause disruptions in system operation and ultimately diminish overall organizational performance .
Integrating system modifications with business changes ensures that the organization can swiftly adapt to dynamic business needs, maintaining competitiveness. It involves aligning IT systems with evolving business processes, which requires responsive and flexible modifications that are supported by robust documentation and transfer of knowledge, enabling consistent and agile responses to market demands .
Inadequate system maintenance documentation can lead to significant risks, such as the inability to effectively maintain or upgrade systems after the original developers are unavailable. This can force organizations to abandon systems or resort to risky patchwork solutions, compromising data integrity and operational efficiency. Proper documentation ensures knowledge transfer and effective management of maintenance processes, thus safeguarding against such vulnerabilities .
EVM techniques benefit project management by providing an objective measure of project performance and progress. During the monitoring and control phase, EVM allows for the measurement of project work against the plan, helping identify variances earlier and enabling corrective actions. It integrates time and cost performance measurement, offering comprehensive insight into the project's health .
A Project Charter is necessary early in project management as it formally authorizes the project, providing a clear statement of objectives and scope, and defining roles and responsibilities. It ensures stakeholder alignment and provides a foundational document for project planning, therefore mitigating scope creep and aligning resources to project goals .
The planning phase involves creating a Project Management Plan, which includes summarizing client needs and desires, ensuring work boundaries, and creating work descriptions. It also involves detailing work units, sequencing tasks, estimating resources and durations, finalizing schedules, estimating costs, defining quality assurance processes and standards, planning human resources, communication among stakeholders, and risk management .
Stakeholder classification influences management strategies by considering each stakeholder's identity, position, power, interest, expectations, and handling strategies. The classification determines how stakeholders' expectations are managed and impacts the project's progress as it provides a framework for interaction and planning .