0% found this document useful (0 votes)
11 views10 pages

Sustainable Development Strategies for The Lodge Maribaya

The document discusses strategies for sustainable development and carrying capacity of the Maribaya Lodge ecotourism area. It analyzes the physical, actual, and effective carrying capacities of the area based on surveys of 20 respondents. The results showed that the physical and actual carrying capacities were 1,304 and 389 visitors respectively, exceeding the effective carrying capacity of 311 visitors.

Uploaded by

Aisah Lestari
Copyright
© All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
11 views10 pages

Sustainable Development Strategies for The Lodge Maribaya

The document discusses strategies for sustainable development and carrying capacity of the Maribaya Lodge ecotourism area. It analyzes the physical, actual, and effective carrying capacities of the area based on surveys of 20 respondents. The results showed that the physical and actual carrying capacities were 1,304 and 389 visitors respectively, exceeding the effective carrying capacity of 311 visitors.

Uploaded by

Aisah Lestari
Copyright
© All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

eISSN : 2654-4687

pISSN : 2654-3894
jithor@[Link]
[Link]
Volume 6, No. 1, April 2023

Strategi Pengembangan dan Daya Dukung Berkelanjutan


Kawasan Ekowisata The Lodge Maribaya
Sri Marhanah, Erry Sukriah, Agripa Juniardi, Budi Harto
srimarhanah@[Link], erry_sukriah@[Link], agripajuniardi32@[Link], budiharto1@[Link]
Universitas Pendidikan Indonesia

Article Info Abstract


Submitted 29 December 2022 The management of The Lodge Maribaya, which is a tourist
Revised 27 March 2023 destination and a protected forest area, must be able to strike a
Accepted 1 March 2023 balance between its two main responsibilities to ensure the comfort
of tourists and the sustainability of the environment. This
Keywords: maintenance effort should give attention to the activities of visitors.
Daya Dukung, As well as tourism sustainability refers to the quality of tourism
Kawasan konservasi, activities, environmental quality, tourist satisfaction and the
impact on environmental damage. The purpose of this study was to
The Lodge Maribaya
determine the capacity of correction factor and the maximum load
capacity of The Lodge Maribaya. This study uses scientific methods
Kata Kunci: related to Physical Carrying Capacity (PCC), Actual Carrying
Carrying Capacity, Capacity (ACC) and Effective Carrying Capacity (ECC), with a
Conservation Area, sample of 20 respondents. The results show that a PCC of 1304 can
The Lodge Maribaya physically adjust, a ACC of 389 with an adjustment factor and an
ECC of 311 exceeding the maximum visiting capacity, and the
number of daily visits in 2021 will be 55. The Lodge Maribaya area
physically, ecological aspects and management skills are still
suitable with the average number of visitors.

Abstrak
Pengelolaan The Lodge Maribaya, yang merupakan tujuan wisata
dan kawasan hutan lindung, harus dapat mencapai keseimbangan
antara dua tanggung jawab utamanya untuk memastikan
kenyamanan wisatawan dan keberlanjutan lingkungan. Upaya
pemeliharaan ini harus memperhatikan dan aktivitas pengunjung.
Serta keberlanjutan pariwisata mengacu pada kualitas tempat
kegiatan pariwisata, kualitas lingkungan dan kenyamanan,
kepuasan wisatawan serta dampaknya terhadap kerusakan
lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
faktor koreksi kapasitas beban dan kapasitas beban maksimum The
Lodge Maribaya. Penelitian ini menggunakan metode ilmiah yang
berkaitan dengan Physical Carrying Capacity (PCC), Actual
Carrying Capacity (RCC) dan Effective Carrying Capacity (ECC),
dengan sampel 20 responden. Diperoleh hasil bahwa PCC sebesar
1.304 dapat menyesuaikan secara fisik, RCC sebesar 389 dengan
faktor penyesuaian dan ECC sebesar 311 melebihi kapasitas
kunjungan maksimal, serta jumlah kunjungan harian pada tahun
D.O.I : 2021 menjadi 55. Kawasan The Lodge Maribaya secara fisik, aspek
[Link] ekologi dan keterampilan pengelolaan masih sesuai dengan rata-
1.53784 rata jumlah pengunjung.

JITHOR Vol.6, No.1, April 2023 – eISSN : 2654-4687 pISSN : 2654-3894 – 75


Sri Marhanah, Erry Sukriah, Agripa Juniardi, Budi Harto: Strategi Pengembangan dan Daya
Dukung Berkelanjutan Kawasan Ekowisata The Lodge Maribaya

PENDAHULUAN menggarisbawahi pentingnya kawasan


Kawasan pariwisata adalah lokasi yang tertentu untuk dapat mendukung populasi,
ditujukan untuk tujuan wisata, baik sebagai terutama dalam menjaga keseimbangan
tujuan utama maupun sebagai tujuan ekosistem yang sangat kompleks. Pada saat
bersampingan. Kawasan Pariwisata memiliki yang sama, (Seidl & Tisdell, 1999; Tisdell,
potensi yang besar untuk pengembangan dan 2008) mengungkapkan konsep mengenai
peningkatan kualitas pengalaman wisatawan. daya dukung wisata yang digunakan ketika
Namun, pengembangan kawasan pariwisata perilaku spesies dan hubungan ekologi secara
juga memerlukan banyak sumber daya dan bersamaan. Kegiatan wisata yang
investasi. Sebuah strategi pengembangan menitikberatkan pada lingkungan alam
yang baik dan daya dukung yang memadai menyebabkan kerusakan sumber daya yang
adalah penting untuk kesuksesan kawasan sangat bergantung pada kegiatan wisata alam.
pariwisata (Wijayanto, Nuriasih, & Huda, Kegiatan wisata alam berhubungan
2013; Putra, Anggoro, & Kismartini, 2015). langsung dengan risiko yang berdampak pada
Untuk meningkatkan minat dan kepuasan ekosistem dan jasa yang disediakannya
pengunjung dilihat dari jumlah wisatawan (akses air bersih, regenerasi dan pengayaan
yang berkunjung ke kawasan wisata, lahan) (Kuenzi & McNeely, 2008).
pengembangan pariwisata saat ini lebih Meningkatnya pengunjung didasari oleh
cenderung berfokus pada kualitas tempat fenomena wisata balas dendam, dimana
wisata dan layanannya. Daya dukung masyarakat sudah bosan selalu berada di
lingkungan hidup salah satu contoh rumah, sehingga masyarakat berwisata di
bagaimana pengembangan pariwisata alam terbuka dan sehat. Oleh karena itu
terkadang lalai mempertimbangkan upaya banyak wisatawan yang memilih wisata alam
menjaga dan mengamankan lokasi wisata dengan fenomena tersebut. The Lodge
dari berbagai masalah seperti alam atau Maribaya menjadi salah satu destinasi cocok
lingkungan yang sering diabaikan (Sasmita, bagi wisatawan dengan kawasan terbuka dan
Darsiharjo, & Rahmafitria, 2014; Suparjo, hutan pinus yang sangat luas. Dikunjungi
2008; Lucyanti, Boedi, & Izzati, 2013). masyarakat luas karena kesesuaiannya, maka
Wisata alam hendaknya bertanggung kawasan sangat membutuhkan analisis
jawab membantu melindungi lingkungan dan kelayakan wisata karena khawatir terjadi
meningkatkan kualitas hidup penduduk penumpukan pengunjung bahkan
sekitarnya. Pariwisata berfokus pada sumber overcapacity akibat fenomena balas dendam.
daya alam, mengamati burung, fotografi, Alam The Lodge Maribaya dijadikan
berkemah, hiking, memancing, dan salah satu pilihan pariwisata yang merupakan
mengunjungi taman. Berbagai sumber daya faktor fisik juga mempengaruhi kekuatan
alam dan budaya menarik para petualang atau kerapuhan lingkungan ekosistem, serta
yang menginginkan keaslian dan lingkungan, menentukan daya dukung destinasi wisata,
budaya, atau mendapatkan pengalaman untuk mempertimbangkan kebutuhan
sejarah. Ada banyak kekhawatiran dengan kawasan untuk rekreasi berbasis pariwisata.
lingkungan alam yang berfungsi sebagai Daya dukung dibagi menjadi tiga kategori
fondasi lautan, terutama yang berkaitan dalam penelitian ini antara lain fisik, nyata,
dengan penerbitan sertifikat ketinggian daya dan aktual.
(Nawari, Isjoni, & Zulkarnaini, 2021). Karena kawasan wisata ini cukup tinggi
Sumber daya lingkungan Indonesia tidak dan berada di wilayah Bandung Utara yang
selalu tersedia, dan jika disalahgunakan atau juga memiliki hutan lindung, maka pihak
sering digunakan, dapat musnah atau bahkan pengelola harus menjaga pengembangan
hilang di kemudian hari. Dengan argumentasi kawasan dengan membatasi jumlah
ini menjadi jelas bahwa daya dukung wisatawan yang berkunjung ke tempat wisata
lingkungan tidak selalu terwujud. Hal ini The Lodge Maribaya. Namun sayangnya arus

76 – JITHOR Vol.6, No.1, April 2023 – eISSN : 2654-4687 pISSN : 2654-3894


Sri Marhanah, Erry Sukriah, Agripa Juniardi, Budi Harto: Strategi Pengembangan dan Daya
Dukung Berkelanjutan Kawasan Ekowisata The Lodge Maribaya

wisatawan tidak dapat dibatasi lagi karena segmen pariwisata massal dan pariwisata
kebutuhan akan pariwisata semakin khusus yang: (1) memanfaatkan sumber daya
meningkat dan kawasan tersebut menjadi lingkungan dengan sebaik-baiknya sebagai
tumbuh dan berkembang, memiliki pendorong mendasar pengembangan
keunggulan dan nilai ekologis bagi pariwisata, menjaga proses ekologis yang
masyarakat sekitar. Pengelola harus penting, dan mendukung pelestarian
menyadari dan memahami batas kapasitas keanekaragaman hayati dan alam, (2)
dan menentukan manajemen pengunjung Memastikan saling menghormati dan
atau strategi pengaturan yang sesuai dengan toleransi antar budaya melalui pelestarian
kapasitas atau jumlah maksimal kawasan sosial budaya masyarakat dominan, warisan
wisata. Berdasarkan pembahasan tersebut, budaya, dan nilai-nilai tradisional. (3)
peneliti menganalisis daya dukung wisata Memastikan kelangsungan hidup jangka
berbasis teknologi di The Lodge Maribaya. panjang dari operasi ekonomi, menawarkan
manfaat sosial ekonomi yang cukup tersebar,
TINJAUAN PUSTAKA seperti kesempatan kerja, pendapatan tetap,
Strategi Pengembangan Ekowisata dan layanan sosial untuk mendukung
masyarakat, dan membantu mengurangi
Strategi ini melibatkan berbagai pihak, kemiskinan (UNEP & UNWTO, 2005).
seperti pemerintah, masyarakat lokal, dan Konsep pembangunan berkelanjutan
pihak swasta, dan bertujuan untuk diterapkan pada berbagai bentuk pariwisata
menciptakan produk wisata berkualitas tinggi dengan memperhatikan keselarasan antara
dan mempromosikan konservasi lingkungan. faktor ekonomi, lingkungan alam, dan sosial
Strategi pengembangan ekowisata meliputi budaya (Arief, R. 2005).
berbagai hal seperti konservasi alam, Daya Dukung Ekowisata
pengembangan produk wisata, kerja sama Daya dukung pariwisata dapat dilihat
dengan masyarakat lokal, dan lain-lain (Hadi, dari jumlah maksimum pengunjung yang
Jumail, Kurniansah, & Suteja, 2021; Mahifa, diperbolehkan mengunjungi suatu destinasi
Maulany, & Barkey, 2018; Pratiwi & dalam waktu yang bersamaan tanpa merusak
Andayani, 2023). Tujuannya untuk lingkungan fisik, ekonomi, dan sosial budaya
memastikan bahwa pengembangan wisata serta tanpa mengurangi kepuasan wisatawan
berbasis lingkungan dilakukan secara tanpa mengurangi kualitasnya (Siswantoro,
berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi 2012; Sasmita et al, 2014). Dalam industri
semua pihak terkait (Nurmajid, Cahyono, & pariwisata, daya dukung sangat penting
Deviyanti, 2022; Hindayani, Pratama, & karena mempengaruhi kualitas destinasi
Anna, 2021; Insani, A’rachman, Sanjiwani, wisata. Pariwisata dapat mempengaruhi
& Imanuddin, 2019). Ada beberapa hal kualitas lingkungan yang berujung pada
penting yang perlu diperhatikan dalam kerusakan lingkungan serta kenyamanan dan
pengembangan ekowisata, antara lain kepuasan wisatawan (Jamin & Rahmafitria,
masyarakat lokal, konservasi lingkungan, 2022).
pembangunan produk wisata, sumber daya, Daya dukung wisata memperlihatkan
kerjasama dan sinergi. Dengan jumlah wisatawan yang terserap di semua
memperhatikan hal-hal tersebut, kegiatan yang didukung oleh daya tarik
pengembangan ekowisata dapat berjalan wisata (Muta'ali, 2019). IUCN membuat dan
secara berkelanjutan dan memberikan mengusulkan tiga faktor perhitungan,
manfaat bagi semua pihak terkait Physical Carrying Capacity (PCC), Actual
Ekowisata Berkelanjutan Carrying Capacity (RCC), dan Effective
Manajemen pembangunan pariwisata Carrying Capacity (ECC), untuk mengukur
berkelanjutan telah diadopsi secara luas di daya dukung fisik destinasi pariwisata.
semua lini destinasi pariwisata, termasuk

JITHOR Vol.6, No.1, April 2023 – eISSN : 2654-4687 pISSN : 2654-3894 – 77


Sri Marhanah, Erry Sukriah, Agripa Juniardi, Budi Harto: Strategi Pengembangan dan Daya
Dukung Berkelanjutan Kawasan Ekowisata The Lodge Maribaya

Kapasitas dukungan fisik b. Faktor rotasi (Rf) yang dihitung dari:


memperlihatkan kapasitas maksimal
wisatawan yang dapat diakomodir secara 𝑙𝑎𝑚𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎 (𝑗𝑎𝑚)
𝑅𝑓 =
fisik untuk jangka waktu tertentu. Daya 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑙𝑎𝑚𝑎 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 (𝑗𝑎𝑚)
dukung aktual merupakan faktor koreksi 2. Perhitungan Daya Dukung Riil (Real
yang ditentukan berdasarkan karakteristik Carrying Capacity), dimana faktor
kawasan dengan memperhatikan jumlah koreksi (Cf) diperoleh dari
maksimal wisatawan yang diperbolehkan. mempertimbangkan faktor biofisik,
Sedangkan daya dukung aktual lingkungan ekologi, sosial dan variabel
memperlihatkan jumlah maksimum manajemen, dengan rumus:
wisatawan dengan memperhitungkan daya RCC = PCC – Cf1 – Cf2 – Cf3 – Cf... –
tampung administratif dan perlindungan Cfn
lingkungan alam kawasan. Keterangan:
PCC = Hasil perhitungan daya dukung
METODE PENELITIAN fisik
Sugiyono (2012), pengumpulan data 𝐶𝑓1 dan seterusnya = Variabel faktor
menggunakan metode random sampling koreksi
untuk memilih sampel, dengan menggunakan
sampel acak yang dianggap tepat. Sampel Faktor yang digunakan antara lain:
yang digunakan dalam penelitian ini a. Curah Hujan (Cf1)
mempertimbangkan tujuan dan persyaratan b. Erodibilitas Tanah (Cf2)
yang terkait dengan topik penelitian. (1) Ada c. Kemiringan Lereng (Cf3)
sekitar 20 pengunjung ke Lodge Maribaya.
(2) Menanam flora di sekitar jalan darat dan Nilai faktor koreksi akan berbentuk
pedesaan menuju objek wisata Kebun Raya presentase, dengan pendekatan sebagai
Cibodas yang terganggu oleh wisatawan. (3) berikut :
Sampel yang dipilih sesuai dengan manajer RCC = PCC x (100-Cf1)/100 x (100-
The Lodge Maribaya. Cf2)/100 x (100-Cf3)/100
Peneliti melakukan analisis secara detail 3. Perhitungan Effective Carrying Capacity
melalui tahapan sebagai berikut: (ECC). Untuk menghitungnya dengan
1. Perhitungan Daya Dukung Fisik rumus sebagai berikut:
(Physical Caryying Capacity) dengan ECC = RCC x MC
rumus: Keterangan:
PCC = A x V/a x Rf RCC = Nilai perhitungan daya
Keterangan: dukung riil
A = Luas pemanfaatan area wisata MC = Kapasitas manajemen
yang efektif (m²)
V/a = Area yang diperlukan mendukung 𝑃𝐶𝐶>𝑅𝐶𝐶 serta 𝑅𝐶𝐶≥𝐸𝐶𝐶
aktivitas (m²)
Rf = Faktor rotasi kuantitas kunjungan Perhitungan dari perhitungan ketiga
per/ hari. kajian tersebut akan seragam, menjamin
nilai daya dukung wisata The Lodge
Dasar pertimbangan yang digunakan Maribaya. Daya dukung pariwisata suatu
untuk perhitungan PCC: daerah dianggap baik jika hasilnya
a. Area berenang bagi wisatawan adalah PCC > RCC ECC. Namun, jika
dengan luas 302 ft2, area perahu 544 ECC > RCC PCC, daya dukung di lokasi
ft2, piknik 2725-2726 ft2, berkemah itu tidak memadai, menunjukkan bahwa
3640-3907 ft2 (Fandeli C. M., 2000; lebih banyak orang yang berkunjung
Fandeli C. , 2001)

78 – JITHOR Vol.6, No.1, April 2023 – eISSN : 2654-4687 pISSN : 2654-3894


Sri Marhanah, Erry Sukriah, Agripa Juniardi, Budi Harto: Strategi Pengembangan dan Daya
Dukung Berkelanjutan Kawasan Ekowisata The Lodge Maribaya

daripada daya dukungnya dapat dipergunakan: curah hujan (Cf1), erosi tanah
menampung. (Cf2), dan lereng lereng (Cf3).
Tabel 2 Nilai Hari Buka dan Hari Hujan
HASIL DAN PEMBAHASAN Tahun Hari Buka Hari Hujan %Cf1

2019 365 102 30%


Daya Dukung Fisik (PCC)
2020 366 160 44%
Daya Dukung Fisik (PCC) 2021 365 153 42%
memperlihatkan jumlah maksimum Presentase Rata-Rata Hujan Per 39%
kunjungan secara fisik yang dapat ditampung Tahun
di area Kawasan, dimana berdasarkan Sumber: Hasil Olahan Peneliti, 2022
informasi dari pengelola The Lodge
Maribaya, luas wilayah sekitar 4,2 ha (42.000 Curah hujan (Cf) menggambarkan faktor
m2), namun membutuhkan area seluas 2,2 ha koreksi yang sebagian besar kegiatan wisata
(22.000 m2) untuk beroperasi. Hasil pengunjung dilakukan di luar ruangan,
wawancara dengan 20 responden, piknik sehingga hujan yang deras mengganggu
salah satu aktivitas wisata para pengunjung kenyamanan pengunjung. Berdasarkan tabel
dengan area tenang yang dibutuhkan bagi rata-rata curah hujan maka faktor koreksi
wisatawan adalah 726 ft2 atau 67,5 m2. curah hujan The Lodge Maribaya (Cf1)
Selain luas wilayah yang dibutuhkan adalah 39%.
wisatawan, diperlukan faktor koreksi untuk
mendapatkan nilai PCC yang tetap dihitung Tabel 3 Jenis Tanah dan Faktor Erodibilatas
dari jam operasional The Lodge Maribaya Tanah
dengan menggunakan waktu rata-rata No Jenis Tanah Nilai K
kunjungan. Jam kerja Lodge Maribaya rataan
1 Mediteran (Tropohumults) 0.10
dimulai 09.00-17.00 WIB, 8 jam operasional 2 Mediteran (Tropaqualfs) 0.23
sehari. Berdasarkan hasil wawancara rata- 3 Mediteran (Tropudalfs) 0.22
rata durasi kunjungan wisatawan kurang 4 Andosol 0.28
lebih 2 jam. Perhitungan faktor rotasi The 5 Laterik/ Litosol Coklat 0.09
Lodge Maribaya sebesar 4. Perhitungan nilai Sumber: Arsyad (2000)
daya dukung fisik (PCC) dihasilkan dari:
1 Erodibilitas tanah (Cf) menggambarkan
𝑃𝐶𝐶 = 22.000 𝑚2 𝑥 𝑥 4 𝑗𝑎𝑚 salah satu faktor korektif The Lodge
67,5 𝑚2
/ℎ𝑎𝑟𝑖 Maribaya yang ditentukan dari jenis tanah.
PCC = 1.304 pengunjung/ hari Berdasarkan perhitungan, nilai erosi jenis
tanah Andozoli 0,28 atau dengan persentase
Berdasarkan perhitungan Physical 28%. Dengan demikian terdapat 28% erosi
Carrying Capacity (PCC) The Lodge berdasarkan jenis tanah Andosol, maka nilai
Maribaya di atas, hasil tersebut menunjukkan erosi tanah (Cf2) merupakan faktor koreksi
secara fisik mampu menampung total 1.304 28% yang perlu diperhatikan dan
pengunjung per hari. dipertimbangkan.

Daya Dukung Riil (RCC) Tabel 4 Luas dan Persentase Kemiringan


Menampilkan nilai maksimum orang Lereng
Keterangan Kemiringan Luas (m2) Persentase
yang dapat ditampung di suatu lokasi sambil
Lereng Lereng (%)
mempertimbangkan batasan apa pun yang Datar <8% 7.608 18 %
mungkin berlaku karena kondisi setempat. Landai 8% - 15% 11.511 27 %
RCC juga mendeskripsikan nilai hasil PCC Agak Curam 15% - 25% 9.241 22 %
dikurangi rentang variabel koreksi yang Curam 25% - 40% 13.640 32 %
Total 42.000 100 %
Sumber: Data olahan peneliti (2022)

JITHOR Vol.6, No.1, April 2023 – eISSN : 2654-4687 pISSN : 2654-3894 – 79


Sri Marhanah, Erry Sukriah, Agripa Juniardi, Budi Harto: Strategi Pengembangan dan Daya
Dukung Berkelanjutan Kawasan Ekowisata The Lodge Maribaya

Kemiringan lereng (Cf3) menjadi faktor Pendekatan penghitungan berikut dapat


koreksi dalam kegiatan wisata The Lodge digunakan untuk menentukan nilai
Maribaya karena memiliki kawasan wisata keterampilan manajemen (MC) berdasarkan
yang terjal, sehingga pengunjung pernyataan ini:
membutuhkan tenaga lebih untuk menikmati
suasana The Lodge Maribaya. Berdasarkan 𝑀𝐶 = 80% 𝑎𝑡𝑎𝑢 0.8
perhitungan kemiringan klasifikasi umum
diperoleh 32%, yang berarti faktor koreksi Ketika kapasitas manajemen yang
kemiringan 32%. Batas beban kerja dihitung sama dengan 0, 8, nilai berikut
sebenarnya (RCC) dihasilkan dari mewakili daya dukung efektif:
perhitungan ketiga faktor koreksi yang
ditunjukkan hasil perhitungannya sebagai ECC = 389 x 0.8 = 311
berikut:
Tabel 5 Faktor Koreksi Berdasarkan perhitungan kapasitas
No Faktor Koreksi Nilai Faktor aktual, nilai ECC The Lodge Maribaya
Koreksi adalah 311, artinya daya tampung jumlah
1. Curah Hujan (Cf1) 39 %
pengunjung secara maksimal tanpa
2. Erodibilitas tanah (Cf2) 28 % mengganggu faktor ekologi kawasan dan
3. Kemiringan Lereng 32 % dapat beroperasi sebanyak 311 pengunjung
(Cf3) per harinya.
Sumber: Data Olahan Peneliti, 2022
Daya Dukung Ekowisata
100 − 𝐶𝑓1 100 − 𝐶𝑓1 100 − 𝐶𝑓1 Pariwisata The Lodge Maribaya dapat
𝑅𝐶𝐶 = 𝑃𝐶𝐶 𝑥 𝑥 𝑥
100 100 100 diketahui dari persamaan PCC > RCC ≥ ECC
dengan hasil perhitungan 1.304 > 389 ≥ 311.
𝑅𝐶𝐶 = 389 Dari hasil perhitungan tersebut, nilai
maksimal wisatawan yang dapat tertampung
Berdasarkan perhitungan daya tampung secara fisik adalah 1.304 pengunjung per
aktual dari ketiga faktor koreksi, diketahui harinya.
The Lodge Maribaya mampu menampung The Lodge Maribaya memiliki faktor
sebesar 389 pengunjung per hari, dengan koreksi yang mempengaruhi ruang kegiatan
memperhitungkan faktor koreksi. pengunjung dapat ditampung sebesar 389
pengunjung per harinya. Jumlah pengunjung
Daya Dukung Efektif (ECC) terbanyak yang dapat ditampung tanpa
Jumlah maksimum tamu yang dapat membahayakan komponen ekologis
ditangani oleh area The Lodge Maribaya ditunjukkan oleh hasil RCC. Kapasitas
dijelaskan oleh ECC dengan pengelolaan area adalah 311 pengunjung per
memperhitungkan variabel korektif dan hari, tetapi dapat menerima jumlah
kapasitas manajemen wilayah saat ini melalui maksimum pengunjung dengan faktor
ketersediaan karyawan atau manajer senior. koreksi.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti Daya dukung pariwisata sebesar 389
dengan pengelola wisata The Lodge adalah real carrying capacity (RCC),
Maribaya yaitu Ibu Rieswanti, menjelaskan menurut temuan perhitungan tersebut. Hal ini
ada 120 petugas lapangan yang senantiasa disebabkan batas yang tidak bisa dilampaui,
memantau aktivitas wisata pengunjung. sedangkan bila mengacu pada ECC nilai daya
Manajemen wisata The Lodge mengatakan dukungnya masih bisa ditingkatkan dengan
bahwa pengelolaan pariwisata dapat berjalan penambahan kapasitas sumber daya manusia
dengan baik melalui penambahan jumlah dari pihak manajemennya.
tenaga lapangan sebanyak 30 orang yang
bertugas di area food and photo printing.

80 – JITHOR Vol.6, No.1, April 2023 – eISSN : 2654-4687 pISSN : 2654-3894


Sri Marhanah, Erry Sukriah, Agripa Juniardi, Budi Harto: Strategi Pengembangan dan Daya
Dukung Berkelanjutan Kawasan Ekowisata The Lodge Maribaya

Pengembangan Berkelanjutan dari The area longsor karena kawasan masuk ke


Lodge Maribaya bagian hutan pinus yang akarnya terikat
Wisata The Lodge Maribaya termasuk ke tanah dan terhubung dengan
cagar alam yang digunakan sebagai resapan bangunan pada lereng yang curam.
air dan penampungan air karena berada di
hulu serta perlu dilakukan pengembangan Aspek ekologis juga merupakan aspek
berdasarkan analisis daya dukung. Hasil daya penting, strategi tanggung jawab lingkungan
dukung wisata diperoleh peneliti mengadopsi juga memiliki dampak yang besar karena
beberapa konsep progresif yang dapat termasuk dalam kawasan lindung agar
diterapkan di The Lodge Maribaya dengan lingkungan tidak terancam kerusakan. Selain
mempertimbangkan faktor sebagai berikut: itu pula aspek pengembangan dan
1. Zonasi pengelolaan, seperti:
Lahan harus dipetakan menurut potensi 1. Membuang sampah sembarangan
atau kegunaannya untuk menjaga dilarang karena masih banyak wisatawan
keseimbangan ekosistem. Zona utama, yang berkunjung ke hari ini yang sesekali
zona penyangga, dan zona layanan meninggalkan sampah. Jika terus
adalah tiga komponen yang membentuk berlanjut mengakibatkan lingkungan
teori ide tripartit, yang mengintegrasikan menjadi tercemar dari waktu ke waktu.
cara membuat dan merencanakan 2. Masyarakat harus turut berpartisipasi
wilayah tujuan wisata. dalam kegiatan konservasi alam.
2. Reorganisasi tempat dan infrastruktur Dimulai dari mengenal lingkungan alam,
Salah satu upaya untuk mengatasi untuk meningkatkan potensi dalam
penyalahgunaan lahan bermasalah pengembangan wisata yang menunjang
melalui penataan sarana dan prasarana mata pencaharian masyarakat sekitar.
yang ada di The Lodge Maribaya. Serta mendorong masyarakat untuk
Penataan ulang sarana dan prasarana di menjaga, melestarikan, dan
kawasan yang aman dan daya dukung memanfaatkan alam sebijak mungkin.
yang tinggi, untuk meminimalisir area 3. Menanam pohon secara teratur dapat
rawan dan menjaga keamanan membantu menjaga lingkungan, meski
pengunjung. langkah sederhana namun membawa
dampak baik bagi alam. Ini juga
Suasana dan area wisata sangat digemari memastikan keberadaan umat manusia
pengunjung karena pemandangannya yang yang berkelanjutan dalam jangka
indah. Penting bagi manajemen The Lodge panjang.
Maribaya untuk meminimalisir perusakan
lokasi dan fasilitasnya demi kenyamanan KESIMPULAN
pengunjung. Informasi daya dukung wisata Hasil perhitungan kajian yang dilakukan
berdasarkan konsep pengembangan dan pembahasan, peneliti melihat nilai daya
keberlanjutan yang dapat dilakukan melaui: dukung fisik (PCC) The Lodge Maribaya
1. Peningkatan kemampuan pengelolaan yang mampu diakomodasi sampai dengan
Meningkatkan pengawasan terhadap 1.304 pengunjung setiap hari. Nilai Real
distribusi makanan dan lain-lain, agar Bearing Capacity (RCC) The Lodge
menjaga kenyamanan wisatawan dalam Maribaya adalah 389. Angka ini
menikmati area wisata, serta menunjukkan bahwa setelah
pengendalian terhadap vegetasi mempertimbangkan variabel korektif
tumbuhan demi kelangsungan wisata. kemiringan, curah hujan, dan erosi tanah
2. Penetapan batas pengunjung wisata yang dipilih dari fitur The Lodge Maribaya.
Upaya meminimalisir membludaknya Kapasitas Beban Efektif Terukur (ECC) The
pengunjung wisata yang dapat berakibat Lodge Maribaya dapat menampung jumlah

JITHOR Vol.6, No.1, April 2023 – eISSN : 2654-4687 pISSN : 2654-3894 – 81


Sri Marhanah, Erry Sukriah, Agripa Juniardi, Budi Harto: Strategi Pengembangan dan Daya
Dukung Berkelanjutan Kawasan Ekowisata The Lodge Maribaya

pengunjung maksimal mengingat aspek fisik, perbaikan saluran air, perbaikan jalan, dan
lingkungan dan administrasi kawasan, yaitu lainnya.
311 pengunjung per hari. Pengembangan The
Lodge Maribaya lebih lanjut diperoleh nilai DAFTAR PUSTAKA
daya dukungnya, agar destinasi wisata ini
terus berkembang dan menarik lebih banyak Arief, R. (2005). Pengantar Ilmu Perhotelan
pengunjung. dan Restoran Edisi 1. Yogyakarta:
Meningkatkan pembangunan dan Graha Ilmu.
perbaikan kawasan yang berpengaruh Arsyad, Sitanala. 2000. Konservasi Tanah
terhadap kualitas udara dan pariwisata itu dan Air. Bandung: Penerbit IPB (IPB
sendiri, karena sebagai catchment area harus Press)
lestari yang selanjutnya berfungsi Fandeli, C. (2001). Pengertian dan Kerangka
sebagaimana mestinya sesuai frekuensi Dasar Pariwisata dalam Fandeli, C.
pengunjung melalui penetapan pengunjung. (ed). 2001. Dasar-Dasar Manajemen
Dengan demikian tujuan wisata, peningkatan Kepariwisataan Alam. Yogyakarta:
kapasitas manajemen, zonasi sesuai Liberty.
peraturan, dan penataan sarana prasarana Fandeli, C. M. (2000). Pengusahaan
untuk mendukung ekosistem. Ekowisata. Yogyakarta: Fakultas
Berdasarkan temuan penelitian, penulis Kehutanan Universitas Gadjah Mada.
mampu membuat sejumlah rekomendasi bagi Hadi, I. M., Jumail, M., Kurniansah, R., &
pengelola The Lodge Maribaya yang sedang Suteja, I. W. (2021). Strategi
dalam masa pemulihan pasca Covid-19 yang Pengembangan Ekowisata Di Desa
dimana The Lodge sedang membangun Kuripan Selatan. Journal of
kembali tempat wisata, serta fenomena Responsible Tourism, 1(1), 1-6.
revenge tourism yang dimana masyarakat Hindayani, P., Pratama, A. R., & Anna, Z.
secara serempak pergi keluar berwisata (2021). Strategi Prospektif
akibat jenuh selama masa pandemi. Hal ini Pengembangan Dalam Ekowisata
harus disiagakan pihak The Lodge Maribaya Waduk Cirata Yang Berkelanjutan.
dengan membatasi jumlah pengunjung sesuai Jurnal Ilmu Lingkungan 19(3), 620-
kapasitas muatan yang ada untuk 629.
mengeliminasi kelebihan daya tampung, agar Insani, N., A’rachman, F. R., Sanjiwani, P.
tidak menimbulkan dampak negatif terhadap K., & Imanuddin, F. (2019). Studi
lingkungan serta keamanan dan kenyamanan Kesesuaian dan Strategi Pengelolaan
pengunjung. Ekowisata Pantai Ungapan,
Corporate Social Responsibility sebagai Kabupaten Malang untuk
tanggung jawab sosial memberikan manfaat Pengembangan Pariwisata
bagi para pengunjung, masyarakat dan Berkelanjutan. Jurnal Teori dan
lingkungan sehingga dapat meningkatkan Praksis Pembelajaran IPS, 4(1), 46-
citra perusahaan atau image di mata 58.
masyarakat sekitar, dan juga memberikan Jamin, A., & Rahmafitria, F. (2022). Visitor
dampak positif. Reputasi perusahaan dapat management concept through
ditingkatkan dalam beberapa keadaan carrying capacity analysis in forest
menggunakan teknik ini. recreation. Journal of Indonesian
Memperkuat brand pariwisata di mata Tourism, Hospitality and Recreation,
masyarakat. Upaya ini juga bisa menjadi cara 5(1), 1-12.
yang cukup baik untuk berkontribusi Kuenzi, C., & McNeely, J. (2008). Nature-
meningkatkan kelestarian lingkungan, baik Based Tourism. In O. Renn, & K.
fisik maupun non fisik. Secara fisik, program Walker, Global Risk Governance :
ini dilaksanakan dengan penanaman pohon, Concept and Practice Using the

82 – JITHOR Vol.6, No.1, April 2023 – eISSN : 2654-4687 pISSN : 2654-3894


Sri Marhanah, Erry Sukriah, Agripa Juniardi, Budi Harto: Strategi Pengembangan dan Daya
Dukung Berkelanjutan Kawasan Ekowisata The Lodge Maribaya

IRGC Framework (pp. 155-178). Ecosystem Studies at Pramuka Island,


Netherlands: Springer. Kepulauan Seribu). SAINTEK
Lucyanti, S., B. H., & Izzati, M. (2013). PERIKANAN Indonesian Journal of
Penilaian Daya Dukung Wisata di Fisheries Science and Technology,
Obyek Wisata Bumi Perkemahan 10(5), 91-97.
Palutungan Taman Nasional Gunung Sasmita, E., Darsiharjo, & Rahmafitria, F.
Ciremai Propinsi Jawa Barat. (2014). Analisis Daya Dukung Wisata
Prosiding Seminar Nasional sebagai Upaya Mendukung Fungsi
Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Konservasi dan Wisata di Kebun
Lingkungan 2013 (pp. 232-240). Raya Cibodas Kabupaten Cianjur.
Malang: Universitas DIponegoro. Jurnal Manajemen Resort & Leisure,
Mahifa, T. S., Maulany, R., & Barkey, R. A. 11(2).
(2018). Strategi Pengembangan Seidl, I., & Tisdell, C. A. (1999). Carrying
Ekowisata Mangrove Tongke- capacity reconsidered: from Malthus’
Tongke Di Kabupaten Sinjai. Jurnal population theory to cultural carrying
Hutan dan Masyarakat, 10(2), 268- capacity. Ecological Economics,
282. 31(3), 395-408.
Muta'ali, L. (2019). Daya Dukung dan Daya Siswantoro, H. (2012). Kajian Daya Dukung
Tampung Lingkungan Hidup Lingkungan Wisata Alam Taman
Berbasis Jasa Ekosistem untuk Wisata Alam Grojogan Sewu
Perencanaan Lingkungan Hidup. Kabupaten Karanganyar. Semarang:
Yogyakarta: Badan Penerbit Fakultas Universitas Diponegoro.
Geografi UGM. Sugiyono. (2012). Metode Penelitian
Nawari, Isjoni, & Zulkarnaini. (2021). Kuantitatif Kualitatif dan R&B.
Kesesuaian dan daya dukung Bandung: Alfabeta.
lingkungan untuk pengembangan Suparjo, M. N. (2008). Daya Dukung
ekowisata di kawasan hutan Gunung Lingkungan Perairan Tambak Desa
Mareje Utara Kabupaten Lombok Mororejo Kabupaten Kendal .
Tengah. Dinamika Lingkungan SAINTEK PERIKANAN Indonesia
Indonesia 8(1), 17-28. Journal of Fisheries Science and
Nurmajid, M., Cahyono, W. E., & Deviyanti, Technology, 4(1), 50-55.
I. G. (2022). Kebijakan Nilai Manfaat Tisdell, C. (2008). Overview of
Ekonomi dan Pengelolaan Ekowisata environmental and sustainability
Berkelanjutan di Kawasan Labuan issues in aquaculture. Aquaculture
Cermin Kabupaten Berau, Economics & Management, 3(1), 1-5.
Kalimantan Timur. Jurnal UNEP & UNWTO. (2005). Making Tourism
SENOPATI, 3(2), 84-94. More Sustainable - A Guide for Policy
Pratiwi, N. M., & Andayani, S. (2023). Makers. Retrieved from UNWTO:
Strategi Pengembangan Ekowisata [Link]
Berbasis Komoditas Lokal Desa Kare Wijayanto, D., Nuriasih, D. M., & Huda, M.
Kecamatan Kare Kabupaten Madiun. N. (2013). Strategi Pengembangan
Jurnal Ilmiah Administrasi Bisnis dan Pariwisata Mangrove Di Kawasan
Inovasi 6(2), 148-164. Konservasi Perairan Nusa Penida
Putra, A. C., Anggoro, S., & Kismartini, K. (Strategies of Mangrove Tourism
(2015). Strategi Pengembangan Development in Nusa Penida Marine
Ekowisata Melalui Kajian Ekosistem Protected Area. SAINTEK
Mangrove Di Pulau Pramuka, PERIKANAN Indonesian Journal of
Kepulauan Seribu (Ecotourism Fisheries Science and Technology,
Development Strategy with Mangrove 8(2), 25-32.

JITHOR Vol.6, No.1, April 2023 – eISSN : 2654-4687 pISSN : 2654-3894 – 83


Sri Marhanah, Erry Sukriah, Agripa Juniardi, Budi Harto: Strategi Pengembangan dan Daya
Dukung Berkelanjutan Kawasan Ekowisata The Lodge Maribaya

84 – JITHOR Vol.6, No.1, April 2023 – eISSN : 2654-4687 pISSN : 2654-3894

Common questions

Powered by AI

The sustainable development strategies proposed for The Lodge Maribaya include the implementation of zonation to protect different ecological areas, the reorganization of infrastructure to enhance ecological compatibility, and community involvement to support conservation efforts. Additionally, management has emphasized the importance of setting visitor capacity limits to prevent ecological degradation . These strategies collectively aim to balance tourism development with environmental protection by integrating ecological understanding with tourism planning .

Community involvement is crucial for conservation at The Lodge Maribaya as it fosters local support for ecological preservation and sustainable tourism initiatives. The community is encouraged to participate in environmental conservation activities such as regular tree planting and waste management. These efforts enhance resource sustainability and create economic opportunities by aligning community activities with conservation goals . This collaboration enhances the long-term viability of conservation strategies by embedding them within the local socio-economic context .

The Real Carrying Capacity (RCC) incorporates environmental factors such as rainfall (39% correction factor), soil erosion (28% correction factor), and slope gradient (32% correction factor). These correction factors adjust the PCC to reflect actual environmental conditions affecting visitor capacity. The significance of RCC lies in its ability to provide a realistic measure of visitor capacity that avoids ecological stress and degradation, resulting in a sustainable tourism model with 389 visitors per day . This method ensures the natural environment's health while accommodating tourism activities .

Zonation involves dividing The Lodge Maribaya into areas based on potential usage and ecological sensitivity, including core, buffer, and service zones. This approach ensures balanced ecological protection while allowing different tourism activities. Specifically, core areas focus on conservation, buffer zones support limited tourism activities to reduce pressure on core zones, and service zones accommodate the majority of visitor activities . Zonation facilitates management efforts in minimizing human impact on sensitive areas, thereby contributing to the sustainable development of the ecotourism site .

To calculate the Effective Carrying Capacity (ECC) at The Lodge Maribaya, the Real Carrying Capacity (RCC) is first determined by adjusting the Physical Carrying Capacity (PCC) using correction factors like rainfall, soil erosion, and slope gradient. The ECC is then calculated by multiplying the RCC by the management capacity, which in this case is 80% (0.8). This results in an ECC of 311 visitors per day, reflecting the maximum number of visitors the area can handle without ecological harm under current management conditions .

Rainfall significantly impacts sustainable tourism management at The Lodge Maribaya, with a correction factor of 39% affecting the Real Carrying Capacity (RCC). This factor accounts for adverse weather on visitor activities, given the outdoor nature of the site. High rainfall can disrupt visitor experience and increase infrastructure maintenance needs, reducing the site's daily visitor capacity to 389 within sustainable limits . Effective management must incorporate weather conditions into planning to maintain tourist satisfaction and minimize environmental degradation .

An Effective Carrying Capacity (ECC) of 311, which is lower than the Physical Carrying Capacity (PCC) of 1,304, implies that the site has considerable limitations due to environmental and management factors. Despite its physical capacity to handle more visitors, practical challenges such as environmental conditions and resource availability necessitate a lower visitor number to prevent ecological damage and ensure visitor satisfaction . This discrepancy highlights the importance of managing human activities in alignment with ecological and operational constraints, underpinning the pursuit of sustainable tourism development .

Management capacity, determined at 80% in The Lodge Maribaya’s computation, directly influences Effective Carrying Capacity (ECC) by defining the extent to which human resources and operational efficiency can sustainably accommodate visitors. Enhancing management capacity could involve increasing staff numbers and improving infrastructure and service efficiency, potentially raising the ECC from 311 visitors per day . By optimizing staff distribution and enhancing management skills, the site could sustainably manage more tourists without adverse ecological impacts .

The main factors considered in determining the Physical Carrying Capacity (PCC) at The Lodge Maribaya include the total operating area for tourism, the average area required for visitor activities, and the rotation factor of visits per day. Specifically, the calculation is influenced by the park's need for 22,000 square meters, the average visitor activity space requirement of 67.5 square meters, and the four-time rotation factor due to an average 2-hour visit within an 8-hour operational day . These factors cumulatively allow for a maximum of 1,304 visitors per day, indicating the physical load the park can sustain without deterioration .

To enhance the Effective Carrying Capacity (ECC) at The Lodge Maribaya, management strategies include increasing human resources and optimizing existing facilities. The current supervision by 120 field officers can be bolstered by adding 30 staff members in operational areas like food services, thereby improving visitor management and operational efficiency . This strategy is necessary to raise the ECC from 311 to potentially accommodate more visitors without ecological damage. The approach reflects a sustainable balance between enhancing visitor capacity and minimizing environmental impact .

You might also like