Manoscript Sorik Merapi
Manoscript Sorik Merapi
PENDAHULUAN
kesehatan jiwa merupakan perasaan yang mental yang terjadi dalam jangka waktu
sehat dan bahagia serta mampu yang panjang dan ketika menyerang
mengatasi dan dapat menerima orang lain seseorang akan membuat pengidapnya
dengan sebagimana mestinya (Andri & mengalami halusinasi, delusi, kekacauan
Febriawati, 2019). Gangguan jiwa dalam berfikir dan mengasingkan diri dari
merupakan penyakit dengan berbagai orang lain.
penyebab. gangguan jiwa
ketidakmampuan serta invaliditas yang Kondisi pasien skizofrenia bisa menjadi
tidak baik secara individu maupun beban bagi keluarga yang merawat baik
kelompok yang dimana akan menghambat dalam kekambuhan pasien maupun
pertumbuhan baik dar individu dan kesembuhan pasien. (Pardede, 2020)
lingkungan, karena mereka tidak produktif Skizofrenia merupakan kondisi psikotik
dan tidak efisien (Syahdi & Pardede, yang dimana kondisi tersebut berpengaruh
2022). Pasien yang mengalami gangguan pada fungsi dari individu tertentu baik dari
jiwa mengalami distorsi kognitif yang segi berpikir, berkomunikasi,menerima,
mengarah pada terjadinya gangguan menafsirkan kenyataan, merasakan dan
perilaku yang dimana salah satu gangguan menunjukkan emosi serta penyakit kronis
jiwa yaitu skrizofrenia.(Titania Anggraini, yang ditandai dengan pikiran kacau,
2020) Skizofrenia merupakan gangguan delusi, halusinasi, dan perilaku aneh.
(Pardede, 2020) Akibat dari halusinasi
yang tidak ditangani juga dapat muncul atau eksternal disekitar dengan
hal-hal yang tidak diinginkan seperti pengurangan, berlebihan, distorsi, atau
halusinasi yang menyuruh pasien untuk kelainan berespon terhadap setiap
melakukan sesuatu, seperti membunuh stimulus. Halusinasi pendengaran
dirinya sendiri, melukai orang lain, atau merupakan paling banyak yang dialami
bergabung dengan seseorang di suatu idividu sekitar 70% pasien kemudian
kehidupan sesudah mati (Wulandari & halusinasi penglihatan 20% dan sisanya
Pardede, 2022). 10% halusinasi lainnya. Jika klien
mengalami interpresentasi yang dilakukan
Gejala skizofrenia bisa membawa terhadap stimulus panca indera tidak
perubahan semakin membaik atau bisa sesuai stimulus yang diterimanya,rentang
semakin memburuk dalam waktu tertentu, respon tersebut sebagai berikut (Pardede,
perubahan tersebut dapat berdampak 2021). Dampak yang ditimbulkan dari
dengan hubungan pasien dengan dirnya halusinasi adalah kehilangan kontrol
sendiri atau dengan orang yang berada dirinya dan biasanya ini terjadi pada tahap
dekat dengan penderita (Sianturi & ketiga dan keempat yaitu tahap controlling
Pardede, 2020). Hasil Riset Kesehatan dan tahap conquering.
Dasar 2018 dan menurut (Kementerian
Kesehatan RI, 2020) menunjukkan bahwa Survey awal yang dilakukan di ruangan
prevalensi anggota dari setiap rumah sorik merapi dengan jumlah 43 pasien
tangga yang mengalami gangguan jiwa dengan kasus skizofrenia dengan masalah
skrizofrenia mengalami peningkatan gangguan persepsi sensori : Halusinasi
dibandingkan dengan hasil Riset sehingga penulis tertarik untuk
Kesehatan Dasar 2013 yaitu dari 1,7% per memberikan asuhan keperawatan pada
mil penduduk menjadi 7% per mil pasien dengan masalah gangguan
penduduk. Diperkirakan serta 90% dengan persepsi sensori : halusinasi.
masalah skrizofrenia mengalami
halusinasi. Menurut World Health METODE
Organization (WHO) pada tahun 2019 Metode Penulisan ini menggunakan
terdapat 264 juta orang dengan gangguan pendekatan studi kasus. Subjek yang akan
jiwa yang mengalami depresi, 45 juta digunakan dalam studi kasus adalah satu
orang dengan gangguan jiwa yang orang pasien dengan gangguan persepsi
mengalami gangguan bipolar. 50 juta sensori : halusinasi pendengaran di Sorik
orang dengan gangguan jiwa yang Merapi. Waktu pelaksanaan dimulai
mengalami demensia dan 20 juta orang tanggal 1 November 2022 – 17 November
dengan gangguan jiwa yang mengalami 2022. Penggumpulan data menggunakan
skrizofrenia. wawancara, observasi .
Halusinasi merupakan salah satu dari HASIL
gangguan jiwa dimana seseorang tidak Hasil pengkajian dan observasi yang
mampu membedakan antara kehidupan dilakukan tanggal 1 November 2022 Tn. B
nyata dengan kehidupan palsu (Santi et (42 th) masuk ke Rumah Sakit Jiwa Prof.
al., 2021). Halusinasi merupakan dimana M. Ildrem pada tanggal 15 Oktober 2022
seseorang yang mengalami perubahan dengan diagnosa medis skrizofrenia
tertentu baik dalam pola dan jumlah paranoid. Pasien diantar oleh keluarga
stimulasi yang diprakarsai secara internal
dengan alasan sudah meresahkan
masyarakat. Data yang diperoleh adalah Data ini didukung dengan pohon masalah
data subjektif dan objektif pada kasus sebagai berikut :
Tn.B: Klien sebelumnya pernah di rawat
namun pengobatan yang dilakukannya Resiko Bunuh Diri
tidak berhasil, Klien pernah menikah 2 kali
dan istri pertama meninggal dunia. Klien
mendengar suara-suara tanpa wujud, Halusinasi Pendengaran
suara tersebut adalah suara yang
menyuruh untuk membakar dan mencuri.
Klien merasa kesal karena suara tersebut Isolasi Sosial
selalu datang.
Diagnosis Keperawatan :
Faktor prediposisi pasien mengatakan 1. Resiko Bunuh Diri
sebelumnya pernah mengalami gangguan 2. Gangguan persepsi sensori :
jiwa namun pengobatan yang dilakukan Halusinasi
tidak berhasil. Pasien juga mengatakan 3. Isolasi Sosial
sering di ejek tetangga sekitar, Pasien
mengatakan dalam keluarganya tidak ada Intervensi tindakan keperawatan yang
yang mengalami gangguan jiwa dan hanya diterapkan pada Tn. B dengan diagnosa
dirinya sendiri saja dan pasien juga tidak resiko bunuh diri mulai dari SP 1-4 selama
mengikuti kegiatan mengikuti kegiatan seminggu dimulai dari tanggal 01-05
kelompok/masyarakat. Pada saat dirumah November 2022 kepada Tn, B terdapat
sakit pasien hanya melakukan kegiatan hasil perkembangan pada klien SP1::
mencuci piring, pasien sedikit susah identifikasi masalah resiko bunuh diri,
menyampaikan kata-kata dan mampu isyarat, ancaman, dan percobaan bunuh
melakukan aktivitas fisik. Pasien tampak diri dan mengidentifikasi benda-benda
tegang dan gelisah, terkadang pasien yang berbahaya dan mengamankannya.
sedih karena ingin pulang untuk bertemu SP2: latihan cara mengendalikan dari
istri dan anaknya. Dalam berpakaian klien dorongan bunuh diri, buat aspek positif
tidak terlalu rapi. yang dimiki diri sendiri dan latihan afirmasi.
SP3: diskusikan harapan dan masa depan,
Pada saat dilakukan pengkajian pasien diskusikan harapan dan masa depan
kurang diajak dalam berbicara dan sering secara bertahap. SP4: latih cara mencapai
memutus kontak mata proses pikir pasien harapan dan masa depan secara
sesuai dengan topik pembicaran yang bertahap.
dibahas dan afek pasien sesuai dengan
stimulus yang ada. Sedangkan data Setelah diberikan intervensi strategi
objektif klien tampak gelisah dan pelaksanaan resiko bunuh diri mulai dari
memutuskan kontak mata pasien tampak SP 1-4 maka terdapat hasil perkembangan
murung. Klien tidak memiliki keluhan fisik, pada klien pada hari senin 01 November
saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda 2022 klien belum mampu mengidentifikasi
vital bahwa TD: 120/80 mmHg, N : 80x/I, resiko bunuh diri dan mengamankan
RR: 22x/I, T: 36C. pasien anak ke 8 dari 8 benda-benda yang membahayakan klien.
bersaudara. Pada hari selasa 02 November 2022 klien
sudah mampu mengidentifikasi resiko bercakap-cakap dengan orang lain dengan
bunuh diri dan mengamankan benda- hasil klien mampu melakukan tindakan
benda yang membahayakan seperti : tali, sambil bercakap-cakap. SP4: melakukan
pisau, benda-benda tajam. Pada hari rabu kegiatan terjadwal.
03 November 2022 klien sudah mampu
mengendalikan diri dari dorongan bunuh Halusinasi merupakan salah satu bentuk
diri dengan melakukan kegiatan yang reaksi maldaptive individual yang berbeda
positif seperti mencuci piring, bernyanyi rentang respon neurobiologi dalam ini
dan mengeluarkan kata-kata yang positif adalah persepsi maladaptive. Halusinasi
seperti “saya pasti bisa sembuh”. Pada pendengaran paling ketika klien
hari kamis 04 November 2022 klien belum mendengar suara-suara yang dimana isi
mampu menceritakan apa saja harapan suara-suara tersebut memerintah klien
dan masa depan yang akan klien lakukan untuk melakukan tindakan yang akan
setelah sembuh. Hari jumat 05 November melukai klien atau orang lain.
2022 klien sudah mampu menyampaikan
harapan dan masa depan yang akan klien Setelah diberikan intervensi strategi
lakukan ketika keluar dari rumah sakit jiwa pelaksanaan Gangguan persepsi sensori :
seperti: ingin berladang dan menanam Halusinasi di mulai dari SP 1-4 selama 6
sayur-sayuran. Hari sabtu 06 November hari dimulai dari tanggal 07-11 November
2022 klien sudah mampu untuk merancang 2022 kepada Tn. B terdapat
apa yang akan klien lakukan untuk perkembangan pada klien, pada hari senin
mencapai harapannya. 07 November 2022 klien dilatih untuk
mengidentifikasi halusinasinya: isi,
Hal ini sejalan dengan penelitian yang frekuensi, waktu terjadi, situasi pencetus,
dilakukan (Hermawati, Suzanna, 2022) dan respon halusinasi 3x/hari dan latihan
dengan masalah resiko bunuh diri bahwa menghardik 3x/hari sambil menutup mata
pemberian terapi Generalis SP 1-4 dengan dan telinga sambil mengatakan
melakukan mengidentifikasi dari dorongan “pergi..pergi kamu suara palsu”, sehingga
bunuh diri: buat daftar positif dan latihan didapatkan hasil klien sudah mampu
afirmasi yang dimiliki klien memiliki mengenalai halusinasi yang dialaminya
pengaruh yang dimana untuk dengan pemberian motivasi oleh perawat
meminimalisir untuk klien berkeinginan serta mampu mengontrol halusinasinya
untuk bunuh diri dan menurunkan resiko dengan cara mengahrdik dengan bantuan
bunuh diri yang sedang dialami oleh perawat.
pasien dengan resiko bunuh diri.
Pada hari selasa 08 November 2022
diterapkan kembali SP1 dan dilanjutkan
Intervensi tindakan keperawatan yang SP2 dengan mealtih minum obat secara
diterapkan pada Tn.B dengan diagnosa teratur 2x/ hari yang dimana menunjukkan
Gangguan Persepsi sensori : Halusinasi hasil klien meminum obat secara teratur
Pendengaran yaitu SP1 : mengidentifikasi dan klien mengetahui bentuk, warna obat,
isi, frekuensi, waktu terjadi, situasi waktu dan jumlah obat yang diminum
pencetus, perasaan dan respon halusinasi setiap harinya. Setelah diajarkan kedua SP
serta menghardik halusinasi. SP2: minum klien menunjukkan hasil bahwa klien
obat secara teratur. SP3: melatih klien mampu mengenali halusinasi yang dialami
nya, klien mengatakan ada suara-suara “pergi..pergi kamu suara palsu!”. Dengan
yang selalu mengganggunya yang dimana meminum obat secara teratur, bercakap-
suara tersebut muncul pada waktu malam cakap dengan orang lain dan melakukan
hari sehingga klien sulit untuk tidur malam kegiatan terjadwal dapat mengurangi
harinya dan pada saat klien melamun halusinasi pendengaran yang dialmi oleh
suara-suara tersebut akan muncul. Dan seseorang.
klien mampu mengontrol halusinasi nya
denagn mengatakan “pergi..pergi kamu
suara palsu” sambil menutup kedua telinga
dengan tangan dan menutup mata. Intervensi tindakan keperawatan yang
diterapkan pada Tn. B dengan diagnosa
Pada hari rabu 09 November 2022 isolasi sosial : mulai dari SP 1-4 selama
mengajarkan klien SP3 dimana mengontrol seminggu yang dimana dimulai dari
halusinasi dengan bercakap-cakap dengan tanggal 14-19 November 2022 dimana
orang lain dimana menunjukkan hasil klien SP1: menjelaskan keuntungan dan
mampu mengenali nama teman yang kerugian memiliki teman SP2 : melatih
diajak berbicara. Hari kamis 10 November klien berkenalan dengan dua orang atau
2022 klien sudah mampu bercakap cakap lebih SP3:.melatih bercakap-cakap sambil
dengan orang lain dan klien sudah tidak melakukan kegiatan harian SP4 : melatih
teralu sering mendengar suara-suara pasien meminta sesuatu, berebelanja dan
bisikan. Hari jumat 10 November 2022 sebagainya
kembali mengajarkan klien sp 1-3 dimana
menunjukkan hasil klien sudah mampu
mengidentifikasi dan mengontrol halusinasi Setelah diberikan intervensi startegi
dengan mengatakan “pergi..pergi kamu pelaksanaan isolasi sosial/ menarik diri
suara palsu” sambil menutup telingan mulai dari 14-19 November 2022 kepada
dengan kedua tangan dan menutup mata. Tn. B maka terdapat hasil perkembangan
Dan klien juga meminum obat secara kepada klien, pada hari senin 14
teratur dan mampu mengenal warna, November 2022 klien sudah mampu
bentuk, waktu pemberian obat, klien juga menjelaskan kembali apa saja keuntungan
sudah mampu mengontrol halusinasi dan kerugian memiliki teman namun klien
dengan bercakap-cakap dengan teman- belum lancar untuk menjelaskannya. Pada
temannta. Pada hari sabtu 12 November hari selasa 15 November 2022 klien sudah
2022 klien sudah mampu mengontrol mampu menjelaskan apa saja keuntungan
halusinasi dengan melakukan kegiatan dan kerugian memiliki teman secara baik.
terjadwal seperti mencuci piring bersama Hari rabu 16 November 2022 klien sudah
dengan temannya. mampu untuk berkenalan dengan 2 orang
atau lebih dengan secara mandiri. Seperti :
Hasil studi kasus ini sejalan dengan menanyakan nama, alamat, hobby dan
penelitian yang sudah dilakukan oleh klien sudah mampu untuk
(Pratiwi & Setiawan, 2018) yaitu dimana mempraktikkannya dengan baik kepada
dengan melakukan pemberian strategi temannya. Hari kamis 17 November 2022
pelaksanaan yang diterapkan yaitu klien sudah mampu bercakap-cakap
menghardik halusinasi dengan menutup dengan orang lain sambil melakukan
telinga dan mata sambil mengatakan
kegiatan namum masih di dampingi oleh kesenjangan yang terjadi pada kasus
perawat. Kemudian pada hari jumat 18 skizofrenia merupakan kondisi dimana
November klien sudah mampu secara mempengaruhi individu dalam
mandiri untuk bercakap-cakap sambil berkomunikasi, berfikir dan emosi. Menurut
melakukan kegiatan harian seperti (Livana PH, 2018) Halusinasi merupakan
mencuci piring merapikan tempat tidur bentuk yang paling sering terjadi pada
secara mandiri tanpa arahan. Hari sabtu gangguan sensori persepsi. Klien memberi
19 November klien mampu berbicara pendapat mengenai lingkungan tanpa
sosial seperti: meminta sesuatu dan objek atau rangsangan nyata. Contohnya
berbelanja seperti meminta tolong untuk klien mengatakan bahwa ia mendengar
membelikan tembakau dan berbagi suara padahal tidak ada orang yang
makanan dengan temannya dengan berbicara. Gangguan jiwa mengalami
motivasi yang diberikan oleh perawat. gejala dimana klien mengalami perubahan
persepsi sensori: merasakan sensori palsu
berupa suara, penglihatan, pengecapan
Hasil studi kasus ini sejalan dengan atau penghiduan.
penelitian yang sudah dilakukan
(Kurniasari & Dwidiyanti, 2019) yang Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
dimana dengan memberikan terapi kekambuhan pasien penderita skizofrenia
Generalis SP1-4 menunjukkan hasil bahwa adalah koping yang tidak efektif baik dari
dengan adanya interaksi yang dilakukan keluarga maupun pasien sendiri dan
oleh pasien dapat mengurangi isolasi ketaatan pasien dala, teratur untuk
sosial yang dialami oleh klien yang meminum obat. Diagnosa keperawatan
mengalami isolasi sosial. yang muncul pada kasus Tn. B yaitu :
Halusinasi, Resiko Bunuh Diri dan Isolasi
Sosial. Intervensi yang dilakukan pada
Setelah strategi pelaksanaan tersebut klien gangguan persepsi sensori:
diterapkan ditemukan hasil pada penelitian halusinasi pendengaran adalah melakukan
ini yaitu klien mampu mengidentifikasi BHSP: membina hubungan saling percaya
kemampuan aspek positif yang dimiliki antara klien dan perawat selama kegiatan
klien dengan mencuci piring, bernyanyi, sejalan dengan penelitian (Endriyani Sri,
manyapu. Pasien mampu mengenali 2022), komunikasi terapeutik dengan
halusinasinya dengan baik dengan cara memanggil nama klien, menyebutkan
menghardik. Dan klien juga mampu nama perawat, jelaskan tujuan interaksi,
merancang bagaimana untuk mencapai ciptakan lingkungan yang tenang, buat
harapan dan masa depan yang akan klien kontrak yang jelas (topik yang dibicarakan,
lakukan setelah keluar dari rumah sakit waktu dan tempat), dan meyakinkan pada
jiwa. pasien bahwa perawat menyimpaan
kerahasiaan klien senantiasa, tanyakan
PEMBAHASAN apa harapan dari pertemuan yang
Setelah penulis melaksanakan asuhan dilakukan, beri kesempatan untuk klien
keperawatan kepada Tn.B dengan agar dapat mengungkapkan perasaannya,
gangguan persepsi sensori: Halusinasi dan dengarkan ungkapan klien dengan
Pendengaran di Rumah Sakit Jiwa Prof. M. empati, melakukan pengkajian data
Ildrem, maka penulis membahas (sesuai format askep pengkajian).
respon halusinasi serta menghardik
Selama pengkajian dilakukan halusinasi. Strategi kedua yang diberikan
pengumpulan data mahasiswa mengalami minum obata secara teratur. Dilanjutkan
kesulitan dalam menyimpulkan data strategi tiga bercakap-cakap dengan orang
karena keluarga pasien jarang berkunjung lain. Kemudian strategi keempat yaitu
untuk menemui Tn. B di rumah sakit jiwa. melakukan kegiatan terjadwal. Menurut
Maka mahasiswa melakukan pendekatan (Fitri Hapsari & Khosim Azhari, 2020)
pada pasien melalui komunikasi terapeutik. Menghardik Halusinasi adalah upaya
Adapaun usaha yang dilakukan yaitu mengendalikan diri terhadap halusinasi
membina hubungan saling percaya dengan cara menolak halusinasi yang
dengan klien (BHSP) agar klien lebih muncul atau tidak memerdulikan
terbuka dan percaya. Perencanaan yang halusinasinya. Setelah diberikan asuhan
dilakukan dalam proses keperawatan lebih keperawatan dalam mengontrol halusinasi
dikenal diamana menyusun intervensi yang pasien sudah mulai megalami perubahan
akan diberikan kepada klien. dimana pasien sudah tidak mendengar
suara-suara yang menggangu.
Klien mampu untuk mengenali
halusinasinya, dan mengikuti program Diagnosa keperawatan resiko bunuh diri
pengobatan secara optimal meliputi identifikasi masalah resiko bunuh diri,
mengidentifikasi jenis, isi dan frekuensi isyarat, ancaman, dan percobaan bunuh
halusinasi klien, waktu terjadi, situasi diri dan menidentifikasi benda-benda yang
pencetus dan respon halusinasi dan berbahaya-berbahaya dan menjauhkan
mengahrdik halusinasi dengan cara atau mengamankannya. Stategi kedua
mengatakan “pergi..pergi kamu suara latihan cara mengidentifikasi dari dorongan
palsu” sambil menutup telingan dan mata, bunuh diri: buat daftar positif dan latihan
bimbing klien memasukkan dalam jadwal afirmasi. Startegi ke tiga mendiskusikan
kegiatan hariannya seperti mencuci piring, harapan dan masa depan dan
menyapu, benyanyi. Klien mampu mendidkusikan cara mencapai harapan
mengontrol halusinasinya dengan dan masa depan. Strategi keempat melatih
mengevaluasi masalah dan latihan cara-cara mencapai harapan dan masa
sebelumnya, latih klien cara mengontrol depan secara bertahap. Menurut Videbeck
halusinasi dengan menghardik, latih cara bunuh diri merupakan tindakan yang
mengontrol halusinasi dengan cara dimana secara sadar dilakukan seseorang
berbincang dengan orang lain, melatih upaya untuk mengakhiri kehidupannnya.
klien cara mengontrol halusinasinya Perilaku bunuh diri adalah tindakan yang
dengan melakukan kegiatan (yang bisa dilakukan secara sengaja untuk
dilakukan klien), menjelaskan cara membunuh diri sendiri.
mengontrol halusinasi dengan teratur
minum obat(prinsip 6 benar minum obat), Diagnosa keperawatan jiwa isolasi sosial
masukkan dalam jadwal kegiatan klien. menjelaskan keuntungan dan kerugian
memiliki teman. Strategi kedua melatih
Dan implementasi yang diberikan sesuai klien berkenalan dengan dua orang atau
dengan strategi pelakasanaan Meliputi lebih, strategi ketiga melatih bercakap-
mengidentifikasi isi, frekuensi, waktu cakap sambil melakukan kegiatan harian,
terjadi, situasi pencetus, perasaan dan strategi keempat melatih pasien meminta
sesuatu, berebelanja dan sebagainya. emosi, cara berfikir, komunikasi dan
Berdasarkan hasil penelitian yang berperilaku aneh. Faktor yang
dilakukan menunjukkan sebelum diberikan mempengaruhi kekambuhan dari penderita
intervensi pasien belum mengetahui cara skizofrenia adalah kopong dari individu
menghardik halusinasi, identifikasi maupun dari keluarga itu sendiri dan
masalah resiko bunuh diri, isyarat, ketaatan penderita meminum obat secara
ancaman, dan percobaan bunuh diri dan teratur. Sehingga intervensi yang diberikan
mengidentifikasi benda-benda yang kepada penderita sangat efektif dalam
berbahaya dan mengamankannya dan mengurangi gangguan persepsi sensori
keuntungan memiliki teman. halusinasi pendengaran. Setelah
menguraikan proses keperawatan yang
Faktor predisposisi yaitu pasien Tn. B diberikan kepada Tn. B dapat disimpulkan
sebelumnya juga pernah mengalami bahwa dengan pemberian terapi generalis
gangguan jiwa namun pengobatan yang dapat mengendalikan halusinasi yang
dilakukan tidak berhasil dan sering di ejek dialami oleh klien sehingga tidak
oleh lingkungan sekitarnya. Hal ini sejalan mendengar suara-suara bisikan yang
dengan penelitian (Erviana & Hargiana, mengganggu.
2018) penderita halusinasi mengalami
hubungan sosial yang tidak baik, isolasi,
tekanan, putus asa, tidak berdaya dan DAFTAR PUSTAKA
tidak [Link] pemberian terapi Andri, J., Febriawati, H., Panzilion, P., Sari,
wajah pasien tampak murung, gelisah, S. N., & Utama, D. A. (2019).
cenderung memutus kontak mata, sedikit Implementasi Keperawatan dengan
susah menyampaikan kata-kata. Namun Pengendalian Diri Klien Halusinasi
setelah diberikan intrevensi strategi pada Pasien Skizofrenia. Jurnal
pelakasanaan pasien mengalami Kesmas Asclepius, 1(2), 146–155.
perubahan dimana wajah pasien terlihat [Link]
lebih santai dan tidak gelisah mampu
berkata-kata dengan baik. Erviana, I., & Hargiana, G. (2018). Aplikasi
Asuhan Keperawatan Generalis Dan
Psikoreligius Pada Klien Gangguan
Berdasarkan hasil pengamatan yang Sensori Persepsi: Halusinasi
dilakukan penulis di lapangan, penulis Penglihatan Dan Pendengaran.
mendapat bahwa pasien dengan Jurnal Riset Kesehatan Nasional,
halusinasi pendengerana memerlukan 2(2), 114–123.
perhatian terutama terhadap suara-suara [Link]
yang di dengarnya dan membantu pasien
untuk mengontrol atau mengahrdik agar
suara-suara tersebut tidak lagi muncul. Endriyani Sri. (2022). Implementasi
Keperawatan Mengontrol Halusinasi
Dengan Menghardik. Jurnal Nursing
SIMPULAN Update, 13.
Skizofrenia merupakan keadaan dimana [Link]
reakasi yang memperngaruhi berbagai
area fungsi pada seseorang baik dalam Fitri Hapsari, D., & Khosim Azhari, N.
(2020). Penerapan Terapi [Link]
Menghardik Terhadap Penurunan 7-102
Skor Halusinasi Dengar Pada Pasien
Skizofrenia Di Rsjd Dr. Amino Pardede, J. A. (2020). Family Burden
Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah. Related to Coping when Treating
Hallucination Patients. Jurnal Ilmu
Jurnal Keperawatan Sisthana, 5(1), Keperawatan Jiwa, 3(4), 453-460.
30–34. [Link]
[Link]
1
p/SISTHANA/article/view/64