0% found this document useful (0 votes)
55 views25 pages

Paper Casing Design Geothermal FIX2

This document discusses the design of casing for geothermal wells using a graphical method based on the effects of high temperatures and biaxial loads. It specifically examines a case study of the production casing design for well H-01 in the INA Geothermal Field. The method used involves two approaches - a graphical method to calculate burst and collapse loads, and an analytical method to calculate tension loads, biaxial loads, and thermal expansion effects on the casing. Key considerations in geothermal well casing design include withstanding high temperatures, corrosive environments with H2S, and biaxial loads.

Uploaded by

Rian Anshari
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
55 views25 pages

Paper Casing Design Geothermal FIX2

This document discusses the design of casing for geothermal wells using a graphical method based on the effects of high temperatures and biaxial loads. It specifically examines a case study of the production casing design for well H-01 in the INA Geothermal Field. The method used involves two approaches - a graphical method to calculate burst and collapse loads, and an analytical method to calculate tension loads, biaxial loads, and thermal expansion effects on the casing. Key considerations in geothermal well casing design include withstanding high temperatures, corrosive environments with H2S, and biaxial loads.

Uploaded by

Rian Anshari
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd

Perencanaan Casing Pada Sumur Geothermal Menggunakan

Metode Grafis Berdasarkan Pengaruh Temperatur Tinggi dan


Beban Biaksial
Muhammad Rian Anshari
Jurusan Teknik Perminyakan, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta, Indonesia

Abstrak
Pada pengeboran sumur geothermal, hal yang perlu dipertimbangkan saat desain casing yaitu pengaruh dari
thermal tinggi. Thermal tinggi pada operasi pengeboran Geothermal akan mengurangi kekuatan casing terutama
pada kekuatan collapse casing dan kekuatan sambungan casing. Apabila kekuatan casing berkurang dan
penyemenan buruk, maka akan mengurangi integritas sumus. Oleh karena itu diperlukan koreksi kekuatan
casing terhadap thermal stress, beban biaksial dan kadar gas impurities di dalam sumur.
Pada penelitian ini dibahas studi kasus tentang desain casing produksi pada sumur H-01 di lapangan
Geothermal INA. Metode yang digunakan pada desain casing produksi pada sumur H-01 di lapangan
Geothermal INA ini menggunakan dua metode, yaitu metode grafis untuk memperhitungkan beban burst dan
collapse, metode analitis untuk memperhitungkan beban tension, beban biaksial dan thermal expansion pada
casing.
(Kata kunci: Casing Produksi; Desain Casing; Burst; Collapse; Tension; Biaksial; Thermal; Metode Grafis.)

1. Pendahuluan
Casing berfungsi untuk melindungi lubang bor selama pengeboran atau proses produksi, dimana casing
dipengaruhi oleh beban yang bekerja pada casing sebagai collapse, burst, tension, dan biaksial sehingga casing
harus mampu menahan beban untuk menghindari kerusakan casing. Pertimbangan lain dalam membuat desain
casing pada sumur Geothermal, yaitu thermal tinggi, lingkungan korosif yaitu kandungan H 2S dalam formasi
yang menyebabkan korosi dan beban biaksial. Dalam sumur minyak dan gas, thermal stress terkadang diabaikan
tetapi tidak pada sumur Geothermal.
Kerusakan casing pada sumur panas bumi dapat disebabkan oleh berbagai factor, yaitu kesalahan pada
desain dan metode atau aplikasinya di lapangan. Disamping itu juga dipengaruhi faktor alam misalnya kondisi
geologis yang bersifat asam dan faktor thermal tinggi. Untuk mendesain casing di industri minyak dan gas,
konsentrasi utamanya adalah beban collapse, burst dan tension. Tetapi untuk industri panas bumi, kehadiran
beban thermal pada casing menyebabkan ketidakstabilan pada casing.
Apabila casing yang digunakan tidak mampu bertahan selama periode produksi berakhir, maka untuk perbai
kan perlu dilakukan workover. Untuk mencegah hal itu terjadi, desain casing pada sumur geothermal harus dilak
ukan secara tepat. Dalam merancang sumur Geothermal terkait dengan thermal tinggi, banyak parameter yang h
arus dipertimbangkan. Perencanaan casing penting dalam merencanakan sumur geothermal dengan baik.
Parameter casing didefinisikan oleh diameter, panjang, dan tebal dinding.

2. Tinjauan Literatur
Desain casing harus mencakup perubahan tekanan dan thermal yang dapat terjadi kapan saja atau selama
operasi pengeboran dan operasi perawatan sumur [7]. Dengan pertimbangan terjadinya stress termal, sulphide
stress cracking (SSC), kualitas semen yang buruk, dan korosi internal atau eksternal pada casing, maka casing
yang diperlukan dengan bahan baja tahan panas tinggi dengan yield strength yang tinggi, dan anti korosi
terhadap SSC [3]. Untuk setiap stress regimes, harus diperhatikan untuk memastikan bahwa ada batasan
kekuatan yang memadai dalam rangkaian casing di semua kedalaman [7]. Kekuatan rangkaian casing untuk

Page | 1
menahan beban diatur oleh grade casing (yang menentukan kekuatannya), jenis sambungan, dan beban yang
dapat diterima [4].
Data yang dibutuhkan untuk desain casing meliputi: densitas lumpur, gradien tekanan rekah formasi, casing
shoe, ukuran casing, rencana directional, program semen, profil temperatur, dan komposisi kimia dari fluida yan
g diproduksi [7]. Berat nominal dan grade casing yang digunakan untuk desain casing tergantung pada
ketahanan beban burst, collapse, stress thermal, dan ketahanan korosi dimana kriteria ini ditentukan oleh desain,
lingkungan geologi dan kondisi operasi [15]. Dimana casing baja yang dipilih dari API SPEC 5 CT atau 5L ini a
dalah untuk meminimalkan kegagalan atau kerusakan pada casing untuk gas dan juga kerusakan sulphide stress
corrosion [7]. Sambungan casing yang dipilih adalah API yang tinggi untuk menahan ketegangan dan kompresi
beban [7].
Oleh karena itu, paper ini membahas desain sumur geothermal, selain mempertimbangkan beban yang akan
diterima, tetapi juga mempertimbangkan efek thermal tinggi dan efek beban biaksial yang akan menurunkan
kekuatan casing sehingga casing dapat bertahan selama masa kontrak lapangan panas bumi yaitu 30 tahun.
Dalam pemilihan casing produksi, kita harus mempertimbangkan pemilihan jenis casing yang tahan terhadap
thermal tinggi dan juga ketahanan terhadap kandungan H2S dalam cairan formasi.

3. Tujuan dan Metodologi Penelitian


Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendesain casing pada sumur Geothermal dengan metode grafis dan
berdasarkan koreksi kekuatan casing terhadap pengaruh temperature tinggi dan beban biaksial. Metodologi pada
penelitian desain casing ini adalah sebagai berikut:

3.1. Pengumpulan Data


Data yang dibutuhkan untuk perencanaan casing adalah data dari sumur H-01 berupa:
a. Data pengeboran,
b. Data uji pemanasan.

3.2. Desain Casing Produksi H-01


Perhitungan beban sebagai beban collapse, burst, tension dan biaksial casing produksi di sumur H-01 dilaku
kan dengan mempertimbangkan kondisi sumur untuk mendapatkan grade thermal statis, berat, dan sambungan c
asing yang dapat menahan thermal sumur Geothermal.

4. Dasar Teori
Temperatur adalah parameter terpenting yang harus dipertimbangkan dalam merancang program casing
untuk sumur panas bumi. Tiga pertimbangan penting terkait dengan thermal desain casing, yaitu:
a. Thermal maksimum di sepanjang sumur mempengaruhi parameter lain seperti jenis baja, kekuatan,
laju korosi, penskalaan, tekanan, pelumas, bahan segel, desain semen dan mekanisme penyemenan.
b. Profil thermal statis yang digambarkan sebagai thermal bumi di sepanjang lubang sumur. Profil
thermal dengan kedalaman sangat penting ketika merancang casing dan sering juga digunakan
sebagai data awal untuk perhitungan desain lainnya.
c. Perubahan thermal maksimum di mana rangkaian casing ditempatkan. Perbedaan thermal ini adalah
perbedaan antara thermal tertinggi ketika sumur dibuka dalam jangka panjang pada keadaan aliran
dan thermal terendah saat sumur ditutup dalam waktu yang lama. Batas thermal ini pada dasarnya
mempengaruhi kekuatan besi yang dibutuhkan dan desain stress ketika menyatu dengan casing
semen.
Untuk reservoir air panas, tekanan maksimum terjadi ketika WHP maksimum selama debit. Untuk vapor
dominated reservoir, tekanan maksimum terjadi ketika zona tekanan uap saat sumur ditutup.
Casing adalah pipa berdiameter tertentu yang disusun dan dimasukkan ke dalam lubang bor dan umumnya
disemen dan berfungsi untuk memindahkan produksi fluida bawah permukaan (reservoir) ke permukaan. Saat
pengeboran sumur panas bumi yang menembus formasi lemah, patah, dan thermal tinggi sehingga sumur harus
dicasing secara bertahap. Ada beberapa jenis casing yang digunakan yaitu conductor casing, surface casing,
intermediete casing, casing produksi dan liner.
Untuk desain casing di industri minyak dan gas, konsentrasi utamanya adalah burst, collapse, atau tension.

Page | 2
Tetapi untuk industri Geothermal, kehadiran beban termal pada casing menyebabkan ketidakstabilan pada
casing. Ketidakstabilan casing ini dapat ditingkatkan dengan beberapa cara untuk melakukan penyemenan
hingga rangkaian terakhir untuk memberikan penyangga (penyangga) secara lateral atau dengan meningkatkan
beban tension pada bagian-bagian yang tidak disemen. Menyemen string secara menyeluruh dari atas ke bawah
adalah pilihan terbaik.

4.1. Pengaruh Thermal Terhadap Properti Casing


Pada desain casing geothermal, casing yang dipilih merupakan fabrikasi casing yang mengacu pada standar s
pesifikasi API 5CT atau 5L yang diuji pada keadaan standar. Namun, tantangan utama dari desain casing di sum
ur geothermal adalah thermal tinggi dan produksi fluida adalah korosi yang akan berpengauh terhadap material c
asing sehingga dapat mengurangi kekuatan casing. Ketika thermal casing berubah, akan mengalami ekspansi ata
u perubahan panjang. Besarnya perubahan panjang dipengaruhi oleh koefisien ekspansi termal (β) dari casing da
n perbedaan thermal (ΔT) yang dapat dihitung dengan Persamaan 1:

∆ l=l s × β × ∆ T
(1)

Besarnya ΔT adalah perbedaan antara thermal permukaan thermal fluida produksi dalam derajat fahrenheit.
Untuk casing produksi, karena casing yang disemen dalam keadaan bahwa ikatan semen dengan casing akan me
nahan casing untuk mengembang, mengakibatkan kecenderungan ekspansi casing berubah menjadi tegangan tek
an disebut stress termal (σthermal). Besarnya tegangan termal dipengaruhi oleh modulus elastisitas casing (E), k
oefisien ekspansi termal (β), dan perubahan thermal (ΔT) yang dapat dihitung dengan Persamaan 2:

σ tℎermal=β × E × ∆ T (2)

Besarnya tekanan termal ΔT adalah perbedaan antara temperature statis lubang sumur dengan thermal cairan
produksi dalam derajat fahrenheit. Perubahan thermal stress pada thermal tertentu akan mencapai keadaan defor
masi plastis, yaitu keadaan dimana deformasi / deformasi tidak dapat kembali ke keadaan awal yang terjadi kare
na tegangan yang dialami oleh casing lebih besar atau sama dengan kekuatan luluh. Dalam keadaan tertentu, pad
a saat sumur sedang dalam workover dan sedang dalam perbaikan sumur maka harus dilakukan pendinginan pa
da sumur. Casing yang telah mencapai kondisi deformasi plastik, ketika thermal turun maka akan mengalami ket
egangan. Stres berubah karena kenaikan dan penurunan thermal seperti diilustrasikan dalam Gambar 1.

Gambar 1. Diagram Perubahan Casing Terhadap Temperatur (SS Rahman, et al., 1995)

Page | 3
Dalam praktiknya, tekanan termal akan menurunkan kekuatan luluh (hot yield strength atau YPT) dari casin
g yang besarnya tergantung pada grade dari masing-masing casing. Beberapa kekuatan luluh panas casing denga
n beberapa variasi thermal dapat dilihat pada Tabel 1. Kegagalan casing terjadi jika tekanan termal melebihi kek
uatan luluh casing panas.

Tabel 1. Yield Stress of Different Grades of Steel at Elevated Temperatures


(After Goetzen, 1986; courtesy of ITE-TU Clausthal)

API-Grade Hot yield strength σyt, in psi Steel


Steel 68 °F 212 °F 392 °F 572 °F 752 °F Composition
H-40 (ST) 40,000 34,000 48,000 52,500 41,000 ST grade
JK-55 (ST) 55,000 51,150 65,000 61,500 51,150 ST grade
C-75 (ST) 75,000 64,680 58,505 56,300 51,890 P 38 Mn6
C-75 (TR) 75,000 68,355 63,060 60,858 59,240 P 26 Cr mo4
L-80 (ST) 80,000 68,945 62,475 59,975 55,125 P 28 Mn6
L-80 (TR) 80,000 72,910 67,325 64,827 63,210 P 26 Cr mo4
N-80 (ST) 80,000 76,000 73,600 69,600 58,400 P 38 Mn6
C-95 (ST) 95,000 86,730 81,880 78,940 71,295 P 41 Mn V5
C-95 (TR) 95,000 88,641 85,700 83,790 78,940 P 34 Cr mo4
P-105 (ST) 105,000 102,000 100,000 102,000 90,000 Mn P41 V4
P-110 (ST) 111,425 92,460 89,230 84,672 75,850 P 41Mn V5
P-110 (TR) 111,425 100,400 93,640 91,435 80,055 P 34 Cr mo4
SR: Standard, TR: Thermal Resistance
Untuk menghitung jumlah penurunan kekuatan tarik ultimit karena pengaruh kenaikan thermal dapat dihitun
g dengan menggunakan persamaan berikut :

Ypt
Yup= ×Yup
Yp
(3)

Menghitung resistensi minimum collapse (MCR) dengan menggunakan persamaan berikut:

A=2.8762+ 0.10679× 10−5 Ypt +0.21302× 10−10 Ypt 2 − 0.53132×10 −16 Ypt 3 (4)

−6
B=0.026233+ 0.50609× 10 Ypt (5)

( )
3
3B
6 A
46,95× 10
B
2+
A
F=

( )( )
2
3B 3B
A B A
Yp − 1−
B A B
2+ 2+
A A
(6)

FB
G= (7)
A

Page | 4
( )
F
MCR=Y pt −G
do (8)
t

Menghitung tekanan internal (IYP) dalam kondisi thermal statis menggunakan persamaan berikut:

2 Y pt t
IYP=0,875 (9)
do

Menghitung pipe body yield (Py) pada kondisi thermal statis dengan menggunakan persamaan berikut:

P y =0,7854 ( d 2o − d2i ) Y pt (10)

4.2. Tipe Sambungan Casing Pada Sumur Geothermal


Untuk menyambung casing satu dengan casing yang lain, dipergunakan ulir (thread). Ada dua macam
tipe sambungan casing yang umum digunakan dapat dilihat pada Gambar 2, antara lain Round Thread and
Coupling (RTC) dan Buttress Thread and Coupling (BTC).
 Round thread and coupling (RT & C)
Bentuk ulir seperti huruf “V” dengan jumlah ulir 8 - 10 per inchi. Sambungan ini ada dua macam, yaitu
long thread & coupling (LT&C) dan short thread & coupling (ST&C), dimana Tension strength LT&C 30%
lebih kuat dari pada ST&C.
 Buttress thread and coupling (BT & C)
Bentuk ulir seperti trapezium dengan jumlah ulir 5 buah per inch. Rangkaian casing dengan tension
load besar, rangkaian casing yang panjang atau berdiameter besar sebaiknya memakai sambungan jenis ini.

Gambar 2. Tipe Sambungan Casing Round Thread and Coupling (RTC) dan
Buttress Thread and Coupling (BTC) (Rabia Hussain, 1985)

Pada sumur geothermal, tipe sambungan casing yang digunakan yaitu tipe BTC, dikarenakan jenis ulir
pada tipe sambungan RTC yang berbentuk lancip (bentuk “V”) akan mudah rusak pada ujung ulirnya diakibatka
n oleh stress thermal yang tinggi pada sumur geothermal. Pada jenis BTC, bentuk ulirnya yaitu trapezium sehing
ga dapat menahan stress thermal yang tinggi pada sumur geothermal. Menghitung kekuatan sambungan BTC pa
da kondisi thermal statis dengan menggunakan persamaan berikut:

A sp=0,7854 [ d 2o − d 2i ] (11)

Page | 5
[ (
J y =0,95 A sp Y up 1,008 −0,0396 1,083+
Yp
d
)
Y up o ] (12)

Menghitung persentase pengurangan kekuatan casing menggunakan persamaan berikut:

MCR − MCR @Tstatic


MCR %reduction= ×100 %
MCR
(13)

IYP − IYP @Tstatic


IYP %reduction= ×100 % (14)
IYP

Py − Py @Tstatic
Py %reduction= ×100 % (15)
Py

Jy − Jy @Tstatic
Jy %reduction= ×100 % (16)
Jy

4.3. Parameter, Prinsip Dasar dan Metode Desain Casing pada Sumur Geothermal
Perencanaan sumur adalah salah satu aspek yang sangat penting dalam suatu operasi pengeboran. Ini
membutuhkan integrasi dari prinsip-prinsip teknik, filosofi dan faktor pengalaman. Pengeboran sumur memiliki
tujuan: membuat lubang dengan aman, biaya minimum, dan sesuai dengan teknik rekayasa reservoir dalam
memproduksi cairan formasi. Dalam merancang casing ada beberapa parameter yang harus dipertimbangkan
adalah: tekanan pori atau tekanan cairan formasi, gradien tekanan rekah, zona korosif, stabilitas lubang bor,
temperatur lubang bor, kebijakan pertimbangan lingkungan perusahaan dan peraturan pemerintah.

4.3.1. Tekanan Formasi


Tekanan formasi atau tekanan pori (Pf) adalah tekanan fluida yang mengisi tekanan pori di batu. Tekanan
pori dapat dibagi menjadi tekanan pori normal, tekanan pori abnormal dan tekanan pori sub-normal. Tekanan
pori yang umumnya hampir sama dengan tekanan hidrostatik air yang memiliki gradien sekitar 1,01 bar/m.
Tekanan yang lebih besar dari tekanan normal sering disebut tekanan geopressured, superpressure atau lebih
umum disebut tekanan abnormal. Tekanan abnormal dapat terjadi karena tekanan penyegelan yang dapat terjadi
karena kondisi geologi, seperti pembentukan kubah garam.
Pembentukan tekanan pori atau stres merupakan faktor utama dan sangat penting dalam operasi pengeboran.
Untuk memperkirakan tekanan pori ada beberapa metode yang digunakan adalah analisis data seismik dari
daerah prospek, korelasi sumur di dekatnya, seperti analisis log, evaluasi data pengeboran dan uji data atau
produksi, evaluasi secara langsung baik secara kualitatif dan kuantitatif adalah dengan mengamati parameter
pengeboran dan data logging selama pengeboran berlangsung.

4.3.2. Beban Burst, Collapse, Tension


Pada casing, terdapat 3 beban tekanan utama yang bekerja pada casing, yaitu :
• Burst Pressure
Pada saat casing berada di lubang bor, casing akan menerima tekanan dari dalam (tekanan internal) dan
casing luar (tekanan eksternal) sebagai akibat dari kolom fluida yang tidak terkait seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 4. Burden burst diterima oleh tekanan casing karena tekanan casing internal lebih besar dari casing
tekanan eksternal. Jadi beban burst maksimum dan minimum dapat dihitung dengan Persamaan 17 dan
Persamaan 18:

Pbmax=Pf @ DTVD + Gs× ( DTVD− D@ MAX ) (17)

Page | 6
Pbmin=Pf @ DTVD +Gs × ( DTVD − D@ MIN ) (18)

Desain faktor minimum tidak boleh kurang dari 1,5 [4]. Desain burst load factor dapat dihitung dengan
Persamaan 19:
internal yield pressure
Design factor=
burst pressure
(19)

Gambar 4. Beban Burst (Rabia Hussain, 1985)

 Collapse Pressure
Collapse pressure (Pc) diterima oleh casing karena tekanan eksternal lebih besar dari tekanan internal casing
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5. Jadi collapse pressure maksimum dan minimum dapat dihitung denga
n

Persamaan 20 dan Persamaan 21:

Pc min=0.052× ρmud × D surface (20)

Pc max=0.052 × ρmud × DTVD (21)

Desain faktor minimum untuk beban collapse adalah 1,2 [10], jika desain casing memiliki faktor desain yang
lebih kecil dari 1,2, dapat menyebabkan casing collapse atau bengkok. Faktor desain collapsenya dapat dihitung
dengan persamaan 22:

Minimum Collapse Resistance


Collapse Design Factor= (22)
Collapse Pressure

Page | 7
Gambar 5. Beban Collapse (Rabia Hussain, 1985)

 Pengaruh Gas Impurities Terhadap Casing


Selain mempertimbangkan beban yang akan ditanggung oleh casing terhadap beban Burst, Collapse¸dan Ten
sion, perlu juga diperhatikan mengenai kondisi sumur yang akan dipasangi casing. Sumur dengan kondisi khusu
s, diantaranya adalah sumur HP/HT (High pressure/High temperature), atau sumur yang memiliki kandungan C
O2, H2S, dan Cl. Sumur-sumur tersebut dapat menyebabkan korosi pada casing, sehingga lama kelamaan akan m
enyebabkan berkurangnya kekuatan terhadap beban yang ditanggung. Untuk kondisi sumur yang khusus diguna
kan jenis casing yang tahan terhadap kondisi sumur tersebut.
Tekanan parsial yang dihitung adalah tekanan parsial CO2 menggunakan persamaan berikut :

(23)

Selanjutnya menghitung tekanan parsial H2S menggunakan persamaan :

(24)

Klasifikasi pemilihan casing berdasarkan CO2, H2S dan temperature dilihat dari nilainya dari range 150o – 225o
F. Skema pamilihan dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Kawasaki Tabel H2S dan CO2


 Tension Load
Beban tension adalah beban berat dari casing rangkaian yang digantung di dalam sumur bor. Dengan adanya
lumpur di dalam sumur akan memberikan daya apung dari casing sehingga casing menjadi bobot yang lebih ring
an dari pada berat udaranya. Hasil lain dari daya apung dari casing bagian bawah seri akan berada pada kondisi t
etap dalam kondisi kompresi dan tegangan. Titik yang tidak dalam kondisi kompresi atau tegangan disebut titik
netral. Dalam perhitungan berat ditentukan dalam casing sumur. Untuk menghitung berat casing dalam sirkuit lu
mpur (W @ mud) pertama-tama menghitung faktor daya apung dengan menggunakan Persamaan 25, kemudian
menggunakan Persamaan 26 hitung berat casing dalam lumpur:

(
BF= 1 −
ρmud
ρbesi ) (25)

Page | 8
W @ mud =Wn ×ls × BF (26)

Apabila sumurnya directional, maka akan ada beban terhadap pembelokan lubang sumur (bending force). B
ending force (Fb) dihitung menggunakan Persamaan 27:

Fb=63 × Wn ×θ ×d o (27)

Selanjutnya hitung shock load (Fs) menggunakan Persamaan 28:

2 Wn VpVs
Fs=
g
(28)

Selanjutnya hitung total beban aksial tegangan (Fa) menggunakan Persamaan 29:

Fa=W @mud + Fb+ Fs (29)

Selanjutnya hitung faktor desain beban ketegangan pada casing dengan menggunakan Persamaan 30 di mana
faktor desain tegangan minimum 1,5 hingga 1,8 [10]:

Tension Load Design Factor=Py / Fa (30)

Menghitung desain faktor tension load pada sambungan BTC dengan menggunakan Persamaan 31:

Jy
Tension Load Design Factor on Joint BTC=
Fa
(31)

4.3.3. Beban Biaxial


Adanya beragam beban pada casing, memungkinkan casing menerima dua gaya yang bekerja secara simulta
n (biaksial). Beban burst atau collapse terjadi secara bersamaan dengan beban tegang atau kompresi. Kombinasi
dan efek dari kekuatan-kekuatan ini pada casing ditunjukkan pada kurva elips seperti yang ditunjukkan pada Ga
mbar 7.

Page | 9
Gambar 7. Elliptical Curve biaxial Expense (SS Rahman, et al., 1995)

Pada Gambar 7 menjelaskan bahwa beban tension akan menyebabkan peningkatan burst rate dan penurunan
peringkat collapse, sedangkan beban kompresi akan menyebabkan penurunan beban burst dan kenaikan collapse.
Secara umum, hanya efek tension pada penurunan collapse resistance yang diperhitungkan dalam perencanaan.

4.3.3. Desain Casing Menggunakan Metode Grafis


Pemilihan suatu casing didasari dari beban yang diterima oleh casing itu sendiri. Mulai dari tekanan dari luar
casing maupun tekanan dari dalam casing. Tekanan tersebut akan menghasilkan Burst load line dan collapse
load line yang selanjutnya di plot pada grafik kartesian sehingga mendapatkan grafik seperti pada Gambar 8.
pada grafik kartesian tersebut, garis burst load line akan berpotongan dengan garis collapse load line dan akan
menghasilkan titik yang dinamakan critical point. Casing yang dipilih harus mempunyai collapse resistance
yang sedikit lebih besar dari external pressure, supaya casing tidak collapse.
Casing diatas critical point sampai ke permukaan tekanan yang dominan diterima casing adalah internal
pressure. Sehingga casing-casing yang dipilih harus mempunyai internal pressure resistance yang sedikit lebih
besar dari internal pressure yang diterima casing, supaya casing tidak bursting.
Pemilihan casing dilakukan terlebih dahulu untuk yang dibawah titik C sampai kedalaman casing yang
direncanakan, kemudian baru dilanjutkan untuk kedalaman diatas titik C ke permukaan.
 Pemilihan Casing Dibawah Neutral Point
Dalam pemilihan casing dibawah titik neutral point, pilih casing yang mempunyai collapse resistance
yang lebih besar dari external pressure, collapse resistance sesuai dengan ukuran casing yang direncanakan.
Kemudian plotkan harga collapse resistance pada collapse load line dalam grafik yang telah dibuat, seperti
Gambar 3.
 Pemilihan Casing Diatas Neutral Point
Langkah selanjutnya adalah memilih casing yang akan dipasang dari critical point ke permukaan.
Casing yang dipilih harus mempunyai internal pressure resistance yang lebih besar dari internal pressure,
supaya casing tidak bursting. Kemudian plotkan harga internal pressure resistance pada burst load line dalam
grafik yang telah dibuat, seperti pada Gambar 8.

Page | 10
Gambar 8. Pemilihan Casing Berdasarkan Burst dan Collapse (Rabia Hussain, 1985)

Berikut langkah prosedur dalam mendesain casing pada sumur geothermal secara singkat
1. Menghitung beban burst dan collapse actual dan design factor,
2. Memplot beban burst dan collapse terhadap kedalaman vertical (TVD) pada grafik kartesian,
3. Memilih grade casing yang sesuai dalam menahan beban-beban pada casing dan gas impurities pada
sumur berdasarkan spesifikasi API 5CT lalu plot ke dalam grafik,
4. Melakukan perhitungan koreksi kekuatan casing yang dipilih terhadap beban thermal,
5. Apabila kekuatan casing yang terkoreksi beban thermal masih dapat menahan garis beban desain,
lanjut ke langkah berikutnya. Apabila tidak dapat menahan garis beban desain, kembali ke langkah 3
dan mengganti casing dengan grade yang lebih tinggi dari sebelumnya,
6. Kemudian menghitung beban tension dan memeriksa safety factor casing terhadap faktor desain beban
tension casing,
7. Apabila safety factor casing dapat menahan factor desain beban tension casing, lanjut ke langkah
berikutnya. Apabila tidak, kembali ke langkah 3 dan mengganti casing dengan grade yang lebih tinggi
dari sebelumnya,
8. Melakukan perhitungan koreksi kekuatan casing terhadap beban biaksial dan memplot kembali
kedalam grafik,
9. Apabila kekuatan casing yang terkoreksi beban biaksial masih dapat menahan garis beban desain, maka
casing yang dipilih dapat digunakan secara aman. Apabila tidak dapat menahan garis beban desain,
kembali ke langkah 3 dan mengganti casing dengan grade yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Metode grafis berbeda dengan metode maximum load yang hanya mempertimbangkan beban maksimum
yang terjadi pada casing, karena pada metode grafis mempertimbangkan beban maksimal dan juga beban aktual
dari setiap section kedalaman, sehingga memungkinkan untuk menggunakan kombinasi casing dengan nominal
weight maupun grade yang berbeda. Metode grafis bertujuan agar desain casing tidak overspec pada section
yang tidak mengalami beban maksimum sehingga desain casing akan menjadi lebih ekonomis.

5. Studi Kasus: Pengaruh dari Temperatur Tinggi, Beban Biaksial Pada Casing Prod
uksi Sumur H-01

5.1. Tekanan Collapse, Burst dan Kekuatan Casing Produksi Pada Temperatur Standar

Page | 11
Data yang diperoleh dari drilling report dapat dilihat pada Tabel 5 yang akan digunakan untuk menghitung
burst load, collapse load dan temperatur statis casing di bawah ini:
Tabel 5. Parameter yang Digunakan Untuk Menghitung Collapse Pressure, Burst Pressure dan Casing Pr
operties pada Temperatur Statis

Parameter Value
Depth, ft TVD 4239
Depth, ft MD 4265.09
Density mud, ppg 8.9
Formation pressure, psi 1861.80
Steam pressure gradient, psi / ft 0.047
Temperature static at NHTD, °F 491

5.1.1. Perhitungan Tekanan Collapse dan Tekanan Burst


Beban tekanan collapse terbesar yang diterima terjadi ketika casing kosong dan bagian luar casing
terisi oleh lumpur. Collapse load dihitung menggunakan Persamaan 20 dan 21. Sedangkan beban tekanan
burst maksimum pada casing produksi terjadi pada saat produksi. Tekanan burst maksimum dan minimum
dihitung menggunakan Persamaan 17 dan 18. Berikut hasil dari perhitungan tekanan burst dan collapse pada
casing production 13-3/8” sumur H-01 ditunjukkan pada Tabel 6.

Tabel 6. Beban Tekanan Collapse dan Burst pada Casing 13-3/8” Sumur H-01

Depth Burst Load Burst Load Collapse Collapse Load


(ft TVD) (psi) Design (psi) Load (psi) Design (psi)

0 2061 2267 0 0

4239 1862 2048 1962 2158

5.2. Analisa Gas Imputities


Pemilihan casing harus mempertimbangkan hazard yang ada pada lapangan INA untuk menentukan jenis
casing apa yang dapat digunakan sehingga harus memperhitungkan tekanan parsial H 2S dan CO2. Data
kandungan gas impurities pada lapangan INA ditunjukkan pada Tabel 7.

Tabel . Kandungan Gas Impurities pada Lapangan INA

Parameter Value
Kandungan CO2 4%
Kandungan H2S, ppmv 5850

 Tekanan parsial H2S dan CO2 dihitung sebagai berikut :

Pfx ( %C O 2)
PC O2=
100

1861.8 x (4 %)
=
100

= 0.745 psi

Page | 12
Pfx ( H 2 S , ppm)
P H 2 S=
1000000

1861.8 x (5850 ppm)


=
1000000

= 10.892 psi

Dari tekanan parsial diatas dapat ditentukan grade casing yang dapat digunakan pada lapangan INA
pada Gambar 9.

Gambar 9. Pemilihan Casing Berdasarkan Tekanan Parsial dan Temperatur Gas Impurities

Berdasarkan Gambar 9, sesuai dengan data gas impurities pada lapangan INA, maka casing yang
dapat digunakan yaitu casing dengan grade J-55, K-55, L-80, C-90, C-95, T-95, P-110 dan Q-125.
Langkah berikutnya yaitu memplot beban burst dan collapse kedalam grafik dan memilih casing yang
sesuai agar dapat menahan garis beban pada grafik. Pada desain casing produksi sumur H-01, akan dibagi 3
section casing. Pada pemilihan pertama, casing yang dipilih pada setiap section yaitu K-55 68 PPF, K-55 61
PPF dan L-80 72 PPF yang diplot kedalam grafik pada gambar berikut.

Page | 13
0

500
Burst Load
1000 Collapse Load
Burst Load Design
1500 Collapse Load Design
IYP P-110 72 ppf BTC
2000 IYP C-95 68 ppf BTC
IYP L-80 72 ppf BTC
Depth, ft TVD

MCR L-80 72 ppf BTC


2500

3000

3500

4000

4500
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000
Pressure, psi

Gambar 10. Metode Grafis Desain Casing Sumur H-01 Dalam Temperatur Standar

Pada Gambar 10, ditunjukkan hasil plot dari beban burst, collapse dan kekuatan casing produksi yang
dipilih pada sumur H-01 pada setiap kedalaman. Terlihat pada gambar bahwa garis kekuatan casing mampu
menahan garis desain beban burst dan collapse. Namun kekuatan casing yang diplot belum dikoreksi dengan
beban thermal, sehingga langkah berikutnya yaitu menghitung koreksi kekuatan casing terhadap beban thermal.
Berikut spesifikasi casing pada trayek produksi sumur H-01 berdasarkan standar API 5CT yang diukur
dalam keadaan standar (68°F, 14,7 psia).

Tabel 7. P-110 72 PPF Casing Properties

Parameter Value
Outside diameter (OD), inch 13 3/8
Inside diameter (ID), inch 12.347
Wall (t), inch 0.514
Nominal weight (NW), lbs / ft 72
Minimum collapse resistance, psi 2890
Internal Yield Pressure, psi 7400
Joint strength BTC (Ma), lbs 2221000
Body yield (Py), lbs 2284000
Minimum yield strength (Yp), psi 110000
Minimum ultimate tensile strength, psi 125000

Page | 14
Tabel 8. C-95 68 PPF Casing Properties

Parameter Value
Outside diameter (OD), inch 13 3/8
Inside diameter (ID), inch 12.415
Wall (t), inch 0.48
Nominal weight (NW), lbs / ft 68
Minimum collapse resistance, psi 2330
Internal Yield Pressure, psi 5970
Joint strength BTC (Ma), lbs 1772000
Body yield (Py), lbs 1847000
Minimum yield strength (Yp), psi 95000
Minimum ultimate tensile strength, psi 110000

Tabel 9. L-80 72 PPF Casing Properties

Parameter Value
Outside diameter (OD), inch 13 3/8
Inside diameter (ID), inch 12.347
Wall (t), inch 0.514
Nominal weight (NW), lbs / ft 72
Minimum collapse resistance, psi 2670
Internal Yield Pressure, psi 5380
Joint strength BTC (Ma), lbs 1650000
Body yield (Py), lbs 1661000
Minimum yield strength (Yp), psi 80000
Minimum ultimate tensile strength, psi 95000

5.2.1. Perhitungan Koreksi Kekuatan Casing Produksi Terhadap Temperatur Statis


Menentukan minimum yield strength (Yp) dan minimum ultimate tensile strength (Yup) pada thermal statis
@ NHTD. Yp dalam kondisi temperatur statik menjadi hot yield strength (Ypt) dan Yup dalam kondisi statik
menjadi hot strength ultimate tensile strength (Yupt) ditentukan menggunakan Tabel 1.
Berikut perhitungan properties casing terhadap beban thermal pada section 1. Pada section 1, casing yang
digunakan yaitu P-110 72 ppf, C-95 68 ppf dan L-80 72 ppf. Setelah diplot yield strength casing dengan
temperatur di dalam sumur untuk casing P-110 72 ppf, maka diperoleh persamaan linier y = -6673x + 115908
yang ditunjukkan pada Gambar 11.

120000

f(x) = − 6673 x + 115907.5


100000
f(x) = − 3657.1 x + 97425.5
80000
Yield Strength, psi

f(x) = − 5110.4 x + 84041.5

60000
P-110 (TR)
Linear (P-110
40000 (TR))
C-95 (TR)
Linear (C-95
20000 (TR))
L-80 (TR)
Linear (L-80
(TR))
0
68 212 392 572
Temperature, F

Page | 15
Gambar 11. P-110 Yield Strength vs. Temperature Casing

Dari Gambar 11, maka didapatkan trendline dari penurunan yield strength casing P-110, C-95 dan L-80
terhadap peningkatan temperature. Dengan menggunakan persamaan trendline tersebut, langkah selanjutnya
yaitu menghitung koreksi pada temperature statis terhadap property dari setiap casing yang digunakan pada
casing 13-3/8” sumur H-01. Adapun parameter property casing yang dikoreksi meliputi pengurangan kekuatan
Ypt, Yupt, , Internal Yield Pressure (IYP), Maximum Collapse Resistance (MCR), Body Yield Strength (Py) dan
Joint Strength (Jy).

 Berikut ini perhitungan koreksi terhadap property casing yang digunakan pada setiap section sumur H-01
ditunjukkan pada Tabel 6.

Tabel 6. Pengaruh Thermal Tinggi Terhadap Properties Casing Pada Sumur H-01

P-110 72 PPF C-95 68 PPF L-80 72 PPF


Ypt 91592.462 84442.774 67423.34816
Yupt 104082.343 97775.844 80065.226
A 3.112 3.086 3.029
B 0.073 0.069 0.060
C 2301.733 2088.087 1578.909
F 2.021 2.006 1.983
G 0.047 0.045 0.040
MCR reduction, % 3.27 1.57 7.36
IYP reduction, % 16.76 11.17 15.72
Body Yield Strength
16.72 12.48 18.62
Reduction (Py), %
Joint Strength reduction
53.86 48.25 50.3
(Jy), %

 Berikut kekuatan casing yang terkoreksi terhadap beban thermal diplot ke dalam grafik.

0
500 KOP
1000 Burst Load
1500 Collapse Load
Burst Load Design
Depth, ft

2000 Collapse Load Design


2500 EOB IYP Thermal Corr P-
110
3000 IYP Thermal Corr C-
95
3500 IYP Thermal Corr L-
80
4000 MCR Thermal Corr L-
80
4500
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000
Pressure Load, psi

Gambar 12. Metode Grafis Desain Casing Sumur H-01 Terkoreksi Terhadap Beban Thermal

Page | 16
5.3. Koreksi Kedalaman Vertikal (TVD) dengan Kedalaman Terukur (MD)
Pada vertical section, kedalaman vertikal (TVD) dan kedalaman terukur (MD) tidak perlu dikoreksi
dikarenakan tidak ada sudut inklinasi sehingga nilai kedalaman vertikal dan kedalaman terukur sama. Pada
build up section, kedalaman vertikal (TVD) dan kedalaman terukur (MD) perlu dikoreksi terhadap sudut
inklinasi per 3 joint (100 ft) dengan laju pembentukan sudut (build up rate) yang digunakan yaitu sebesar 2,032
°/100 ft. Sehingga pada build up section ini, terjadi perubahan sudut pada setiap 3 joint (100 ft) casing. Berikut
perhitungan koreksi kedalaman pada build up section. Pada pengeboran berarah, pada KOP nilai TVD dan MD
sama. Diketahui KOP pada kedalaman 200 mMD dan EOB pada kedalaman 800 mMD.
 Berikut perhitungan koreksi kedalaman 3 joint pertama pada build up section ini.
ΔTVD =ΔMD cos Δ I
= ((200  3.281) + 100) cos (2,032)
= 756,19 ft
 Untuk perhitungan koreksi kedalaman pada build up section ini ditabulasikan pada tabel berikut.

Tabel 7. Koreksi Kedalaman pada Build Up Section

MD (m) MD (ft) I (°) TVD (ft)


200.00 656.20 0.000 656.20
230.48 756.20 2.032 756.19
260.96 856.20 4.064 856.15
291.44 956.20 6.096 956.06
321.91 1056.20 8.128 1055.93
352.39 1156.20 10.160 1155.74
382.87 1256.20 12.192 1255.48
413.35 1356.20 14.224 1355.14
443.83 1456.20 16.256 1454.72
474.31 1556.20 18.288 1554.19
504.79 1656.20 20.320 1653.56
535.26 1756.20 22.352 1752.82
565.74 1856.20 24.384 1851.94
596.22 1956.20 26.416 1950.94
626.70 2056.20 28.448 2049.78
657.18 2156.20 30.480 2148.48
687.66 2256.20 32.512 2247.01
718.13 2356.20 34.544 2345.36
748.61 2456.20 36.576 2443.53
779.09 2556.20 38.608 2541.51
800.00 2624.80 40.002 2608.61

Pada Tangent Section, sudut inklinasi yang digunakan untuk semua joint pada section ini yaitu sudut
maksimum yang terbentuk pada build up section (sudut di kedalaman terukur EOB) sebesar 40,002°. Berikut
tabulasi koreksi kedalaman pada tangent section.

Tabel 8. Koreksi Kedalaman pada Build Up Section

MD (m) MD (ft) I (°) TVD (ft)


800 2624.80 40.002 2608.61
900 2952.90 40.002 2934.69
1000 3281.00 40.002 3260.77
1100 3609.10 40.002 3586.84
1200 3937.20 40.002 3912.92
1300 4265.30 40.002 4239.00

Page | 17
5.4. Perhitungan Beban Tension
Parameter yang digunakan untuk menghitung tension load pada casing produksi dapat dilihat pada Tabel 12
di bawah ini:
Tabel 9. Parameter yang Digunakan untuk Menghitung Tension Load

Parameter Value
1 Joint, ft 40
Casing Speed, fps 1.25
Stress Speed, fps 17028
Gravity Force, ft/s2 32.174
Iron Density, ppg 65.4
Build Up Rate, °/100 ft 2.032
KOP, mMD 200
EOB, mMD 800

Tension Load pada Tangent Section (L-80; 72 PPF)

 Berat casing di dalam lumpur (W@mud) dihitung dengan persamaan 22 and 23.

BF= 1 −
( )(
ρmud
ρbesi
= 1−
8.9
65.4 )
=0.86

W @ mud =Wn ×ls × BF=72 ×(4239 −2624.64 )× 0.86=100440.30 lbf

 Menghitung bending force (Fb) menggunakan persamaan 24.


Fb=63 × Wn ×θ ×d o=63 ×72 ×0 ×13.375=0 lbf

 Menghitung (Fs) menggunakan persamaan 25.


2 Wn VpVs 2 ×72 ×1.25 ×17028
Fs= = =95264.5lbf
g 32.174

 Menghitung total tension axial load (Fa) using Equation 26.


Fa=W @mud + Fb+ Fs=100440.30+0+95264.5=195704.80 lbf

 Menghitung tension load desain pada temperatur ruangan dan temperatur statis dengan menggunakan
persamaan 27.
Py 2284000
Tension load design factor @room temp .= = =8.48>1.8
Fa 195704.80

Py 1902467.79
Tension load design factor @static temp .= = =7.15>1.8
Fa 195704.80

 Menghitung tension load desain pada BTC joint pada temperature ruangan dan temperature statis dengan
menggunakan persamaan 28.
Jy 2221000
Tension load design factor on BTC joint @room temp .= = =8.43>1.8
Fa 195704.80

Jy 1042285.28
Tension load design factor on BTC joint @ statictemp .= = =4.43>1.8
Fa 195704.80

Page | 18
Harga tension load factor desain pada casing dan tipe sambungan casing BTC desain factor lebih besar
daripada safety factor tension minimum (1.8) sehingga casing L-80 72 ppf untuk section 1 dapat digunakan
untuk perhitungan selanjutnya.

Tension Load pada Build Up Section (L-80; 68 PPF)

 Berat casing di dalam lumpur (W@mud) dihitung dengan persamaan 22 and 23.

(
BF= 1 −
ρmud
)(
ρbesi
= 1−
8.9
65.4 )
=0.86

W @ mud =Wn ×ls × BF=68×(2624.64 − 656.16)× 0.86=115668.49 lbf

 Menghitung bending force (Fb) menggunakan persamaan 24.


Fb=63 × Wn ×θ ×d o=63 ×68 ×2.032 ×13.375=116430.55lbf

 Menghitung (Fs) menggunakan persamaan 25.


2 Wn VpVs 2 ×72 ×1.25 ×17028
Fs= = =95264.5lbf
g 32.174

 Menghitung total tension axial load (Fa) using Equation 26.


Fa=W @mud + Fb+ Fs+ Fa @Tangent Section=115668.49+116430.55+95264.5+195704.80

¿ 517775.87 lbf

 Menghitung tension load desain pada temperatur ruangan dan temperatur statis dengan menggunakan
persamaan 27.
Py 1556000
Tension load design factor @room temp .= = =3.01> 1.8
Fa 517775.87

Py 1311920.94
Tension load design factor @static temp .= = =2.53>1.8
Fa 517775.87

 Menghitung tension load desain pada BTC joint pada temperature ruangan dan temperature statis dengan
menggunakan persamaan 28.
Jy 1545000
Tension load design factor on BTC joint @room temp .= = =2.98>1.8
Fa 517775.87

Jy 813467.25
Tension load design factor on BTC joint @ static temp .= = =1.57>1.8
Fa 517775.87

Harga tension load factor desain pada casing dan tipe sambungan casing BTC desain factor lebih besar
daripada safety factor tension minimum (1.8) sehingga casing L-80 68 PPF untuk section 2 dapat digunakan
untuk perhitungan selanjutnya.

Tension Load pada Vertical Section (P-110; 72 PPF)

 Berat casing di dalam lumpur (W@mud) dihitung dengan persamaan 22 and 23.

(
BF= 1 −
ρmud
)(
ρbesi
= 1−
8.9
65.4 )
=0.86

Page | 19
W @ mud =Wn ×ls × BF=72 ×(656.16 −0) ×0.86=40824.17 lbf

 Menghitung bending force (Fb) menggunakan persamaan 24.


Fb=63 × Wn ×θ ×d o=63 ×72 ×0 ×13.375=0 lbf

 Menghitung (Fs) menggunakan persamaan 25.


2 Wn VpVs 2 ×72 ×1.25 ×17028
Fs= = =95264.50lbf
g 32.174

 Menghitung total tension axial load (Fa) using Equation 26.


Fa=W @mud + Fb+ Fs+ Fa @ Build Up Section=40824.17+0+ 95264.50+517775.8

¿ 653864.54 lbf

 Menghitung tension load desain pada temperatur ruangan dan temperatur statis dengan menggunakan
persamaan 27.
Py 1661000
Tension load design factor @room temp .= = =3.49>1.8
Fa 653864.54

Py 1401144.54
Tension load design factor @static temp .= = =2.90>1.8
Fa 653864.54

 Menghitung tension load desain pada BTC joint pada temperature ruangan dan temperature statis dengan
menggunakan persamaan 28.
Jy 1650000
Tension load design factor on BTC joint @room temp .= = =3.39>1.8
Fa 653864.54

Jy 868791.07
Tension load design factor on BTC joint @ static temp .= = =1.59>1.8
Fa 653864.54

Harga tension load factor desain pada casing dan tipe sambungan casing BTC desain factor lebih besar
daripada safety factor tension minimum (1.8) sehingga casing P-110 72 PPF untuk section 1 dapat digunakan
untuk perhitungan selanjutnya.

5.5. -Pengaruh Beban Biaksial terhadap Casing Produksi


Untuk menghitung nilai dari pengurangan collapse rating dan peningkatan burst rating pada beban tension
tertentu dapat dihitung dengan langkah berikut:

 Menentukan factor biaxial load.

Vertical Section (P-110 72 PPF)

tension load 517775.87


x= = =0.395
body yield strengtℎ 1902467.79

Build Up Section (L-80 68 PPF)

tension load 538355.04


x= = =0.343
body yield strengtℎ 1311920.94

Page | 20
Tangent Section (L-80 72 PPF)

tension load 197331.15


x= = =0.139
body yield strengtℎ 1401144.54

 Memplot nilai “x” kedalam grafik kurva ellips biaxial load ditunjukkan oleh gambar di bawah. Kemudian
menentukan factor collapse strength sebagai nilai “y”.

150%
,1.127 125%
100%
BURST

75%
50%
25%
0%
-150% -125% -100% -75% -50% -25% 0% 25% 50% 75% 100% 125% 150%
-25%
COLLAPSE

-50%
-75%
,-0.783 -100%
-125%
-150%

COMPRESSION TENSION
Collapse Correction Factor Burst Correction Factor

Gambar 16. Biaxial Load Ellips Curve P-110

150%
,1.137 125%
100%
BURST

75%
50%
25%
0%
-150% -125% -100% -75% -50% -25% 0% 25% 50% 75% 100% 125% 150%
-25%
COLLAPSE

-50%
-75%
,-0.742 -100%
-125%
-150%

COMPRESSION TENSION
Collapse Correction Factor Burst Correction Factor

Gambar 17. Biaxial Load Ellips Curve C-95

Page | 21
150%
,1.062
125%
100%
BURST

75%
50%
25%
0%
-150% -125% -100% -75% -50% -25% 0% 25% 50% 75% 100% 125% 150%
-25%
COLLAPSE

-50%
-75%
-100%
,-0.923
-125%
-150%

COMPRESSION TENSION
Collapse Correction Factor Burst Correction Factor

Gambar 18. Biaxial Load Ellips Curve L-80

 Kemudian menghitung koreksi collapse dan burst rating terhadap beban biaksial.

Vertical Section (P-110 72 PPF)

MCR biaxial=MCR × y =2795.61× 0.87=2435.10 psi

IYP biaxial=IYP × y =6160.78 ×1.12=6900.07 psi

Build Up Section (C-95 68 PPF)

MCR biaxial=MCR × y =2134.16 ×0.82=1748.30 psi

IYP biaxial=IYP × y =4237.21 ×1.05=4449.07 psi

Tangent Section (L-80 72 PPF)

MCR biaxial=MCR × y =2474.21× 0.95=2360.71 psi

IYP biaxial=IYP × y =4537.34 × 1.02=4628.08 psi

 Menghitung design factor dari beban collapse dan burst yang telah dikoreksi oleh beban biaksial.

Vertical Section (P-110 72 PPF)

MCR biaxial 2435.10


Design factor collapse= = =2.06> 1.2
collapse pressure 1181.48

IYP biaxial 6900.07


Design factor burst = = =3.10>1.5
burst pressure 2221.41

Build Up Section (L-80 68 PPF)

Page | 22
MCR biaxial 1748.30
Design factor collapse= = =1.41>1.2
collapse pressure 1232.87

IYP biaxial 4449.07


Design factor burst = = =3.60>1.5
burst pressure 1232.87

Tangent Section (L-80 72 PPF)

MCR biaxial 2360.71


Design factor collapse= = =1.203>1.2
collapse pressure 1961.80

IYP biaxial 4628.09


Design factor burst = = =7.71>1.5
burst pressure 599.84

 Berikut kekuatan casing yang terkoreksi terhadap beban thermal dan beban biaksial.

500

1000

1500
Burst Load

2000 Collapse Load


Depth, ft

Burst Load Design


Collapse Load
Design
2500
IYP Corr P-110
IYP Corr C-95
3000 IYP Corr L-80
MCR Corr L-80

3500

4000

4500
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000

Pressure Load, psi

Page | 23
Gambar 19. Metode Grafis Redesain Casing Sumur H-01 Terkoreksi Beban Thermal dan Beban
Biaksial

Terlihat pada Gambar 17, kekuatan collapse casing akan semakin berkurang setelah dikoreksi terhadap
beban biaksial, namun kekuatan internal casing akan semakin bertambah. Hal ini disebabkan oleh efek dari
beban tension pada casing. Semakin tinggi beban tension pada casing maka kekuatan collapse casing akan
semakin berkurang namun kekuatan internal casing akan semakin bertambah.

6. Pembahasan
Pada sumur geothermal terutama pada casing produksi, beban thermal yang diterima oleh casing terbesar
yaitu beban yang diakibatkan temperatur pada saat memproduksikan fluida panas bumi. Disamping itu beban
lain yang berpengaruh pada casing produksi adalah kandungan H2S dan CO2 fluida panas bumi dan beban
biaksial yang akibatkan dari gaya tension yang bekerja bersamaan dengan gaya burst dan collapse. Pada studi
kasus desain casing produksi sumur H-01, digunakan metode grafis dan analitis. Metode grafis berbeda dengan
metode maximum load yang hanya mempertimbangkan beban maksimum yang terjadi pada casing, karena pada
metode grafis mempertimbangkan beban maksimal dan juga beban aktual dari setiap kedalaman, sehingga
memungkinkan untuk menggunakan kombinasi casing dengan nominal weight maupun grade yang berbeda.
Metode grafis bertujuan agar desain casing tidak overspec pada section yang tidak mengalami beban
maksimum.
Dari hasil perhitungan casing produksi sumur H-01 dibagi menjadi 3 section yang terdiri dari grade casing
P-110 72 ppf, L-80 68 ppf dan L-80 72 ppf dengan jenis joint BTC. Casing yang digunakan harus dapat
menahan beban yang diterima oleh casing pada saat sumur diproduksikan seperti collapse, burst, tension dan
beban biaxial, dengan limit yaitu nilai safety factor harus lebih besar dari pada faktor desain casing dan juga
casing harus dapat bertahan pada temperatur tinggi karena safety factor yang diperoleh dari koreksi faktor
thermal stress.
Efek thermal stress akan menurunkan collapse rating, burst rating, joint strength, body yield strength,
minimum yield strength dan minimum ultimate tensile strength. Dari hasil perhitungan pengaruh temperatur
yang tinggi pada casing P-110 72 ppf diperoleh penurunan MCR sebesar 3.27%, penurunan IYP sebesar
16.75%, penurunan Joint strength sebesar 53.07%, penurunan Body yield sebesar 16.7%, penurunan minimum
yield strength sebesar 16.72% dan penurunan minimum ultimate tensile stength sebesar 15.99%. Pada casing L-
80 68 ppf diperoleh penurunan MCR sebesar 5.57%, penurunan IYP sebesar 15.59%, penurunan Joint strength
sebesar 47.35%, penurunan Body yield sebesar 15.69%, penurunan minimum yield strength sebesar 15.67% dan
penurunan minimum ultimate tensile stength sebesar 13%. Pada casing L-80 72 ppf diperoleh penurunan MCR
sebesar 7.33%, penurunan IYP sebesar 15.66%, penurunan Joint strength sebesar 47.35%, penurunan Body
yield sebesar 15.64%, penurunan minimum yield strength sebesar 15.67% dan penurunan minimum ultimate
tensile stength sebesar 13%. Nilai faktor desain untuk burst sebesar 1.5 – 1.8, collapse sebesar 1.2 dan tension
sebesar 1.5 – 1.8.
Pada section 1 (0 - 656.16 ft) menggunakan grade casing P-110 72 ppf didapatkan safety factor burst (Ni)
sebesar 3.106, safety factor collapse (Nc) sebesar 8.019 dan safety factor joint (Nj) sebesar 1.594. Pada section
2 (656.16 – 2624.64 ft) menggunakan grade casing L-80 68 ppf didapatkan safety factor burst (Ni) sebesar
2.258, safety factor collapse (Nc) sebesar 1.439 dan safety factor joint (Nj) sebesar 1.571. Pada section 3
(2624.64 - 4239 ft) menggunakan grade casing L-80 72 ppf didapatkan safety factor burst (Ni) sebesar 3.802,
safety factor collapse (Nc) sebesar 1.203 dan safety factor joint (Nj) sebesar 4.439. Dari safety factor dapat
disimpulkan bahwa desain casing yang direncanakan aman untuk digunakan pada sumur H-01.

7. Kesimpulan

 Temperatur tinggi pada sumur geothermal akan menurunkan kekuatan casing seperti body yield strength,
joint strength, minimum collapse resistance dan internal yield pressure,
 Kelebihan dari metode grafis yaitu dapat mengkombinasikan casing disesuaikan dengan beban burst dan
collapse yang terjadi pada section tertentu sehingga casing yang dipilih tidak overspec dan lebih ekonomis,
 Kelemahan dari metode grafis yaitu tidak dapat menunjukkan beban tension pada casing sehingga pada
perhitungan beban tension harus menggunakan metode analitis,
 Tipe sambungan casing yang dipakai pada sumur geothermal yaitu BTC karena jenis ulirnya yang
berbentuk trapezium dapat menahan temperature tinggi,

Page | 24
 Efek beban biaksial ditunjukkan bahwa semakin bertambahnya beban tension, maka akan menyebabkan
pengurangan terhadap minimum collapse resistance casing dan pertambahan terhadap internal yield
pressure resistance,
 Hasil faktor perhitungan desain untuk semua faktor kondisi desain (collapse, burst dan tension) pada sumur
H-01 lebih besar dari safety factor yang telah ditentukan, yang berarti bahwa casing aman untuk
digunakan.

8. Referensi
[1] Bourgoyne, AT, et al., "Applied Drilling Engineering", Society of Petroleum Engineering, Richardson, Texas, 1986.
Chapter 7. Page 306, 328-329.
[2] Cultrera, Matteo, “Design of Deep Geothermal Wells”, University of Padua, Italy, Department of Geosciences, 2016.
[3] Dench, N. D., “Casing String Design for Geothermal Wells”, Pisa, U.N Symposium on the Development and Utilization
of Geothermal Resources, 1970.
[4] Ekasari, Novianti and Bonar Old Halomoan Marbun "Integrated Analysis of Casing Optimizing Materials Selection of
Geothermal Well by Using a Model for Calculating Corrosion Rates ", Presented at Proceedings World Geothermal
Congress, Melbourne-Australia, 19-25 April 2015.
[5] Ellis, Peter F., et al., "Reference for Geothermal Downhole Corrosion Material Selection", the Department of Energy-
Geothermal Energy, Texas, 1983. Chapter 3, Page 63.
[6] Hole, Hagen. "Geothermal Well Design - Casing and Well Head", Petroleum Engineering Summer School, Dubrovnik,
Croatia, in 2008.
[7] J. Adam, Neal, "A Complete Well Drilling Engineering Planning Approach Chapter 5-11" Well Pen Publishing
Company, Tulsa, Oklahoma, 1985. Chapter 6, Page 150.
[8] Khaemba, Abraham Wamala. "Well Design, Cementing Techniques and Well Work Over to Land Deep Production
Casings in The Menengai Field", United Nations University-GTP, Iceland, in 2014.
[9] Kureta, Yosiaki., et al., "Casing Pipe Materials For Deep Geothermal Wells ", Tohoku National Industrial Research
Institute, AIST, MITI Sendai, Japan, 1995.
[10] Marbun, Bonar Tua., Et al., "An Integrated Management of Drilling and Operational Design of Geothermal Wells",
Presented at Proceedings World Geothermal Congress 2015, Melbourne, Australia, 19-25 April 2015.
[11] Moumin, Abdirasak. "Geothermal Well Design for the Future Wells in the Lava Lake Area in Caldera Fiale in
Djibouti", Presented at Proceedings World Geothermal Congress 2015, Melbourne, Australia, 19-25 April 2015
[12] Ngigi, Anthony. "Geothermal Well Design Using The New 2015 New Zealand Standard and 1991 Standard: a Case of
MW 20A in Menengai, Naruku County, Kenya", United Nations University-GTP, Iceland, in 2015.

[13] Pei-feng, Zhang, “Thermal Stresses Analysis of Casing String Used in Enhanced Geothermal System Wells”,
Bijing, Journal of Groundwater Science and Engineering, 2016.
[14] Pourazad Hossein, Hossein, "High Temperature Geothermal Well Design", The United Nasions University-GTP,
Iceland, in 2005.
[15] Rabia, H., "Oil Well Drilling Engineering Principles and Practice Chapter 5", Graham and Trotman, Oxford, UK, 1985.
Chapter 5, Page 99, 108.
[16] Rubiandini, Rudi, "Basic Drilling Engineering", Dictates Course 2007.
[17] S. Rahman, S. and GV Chilingarian, "Casing Design Theory and Practice", Elsevier, Amsterdam-Lausanne-New York-
Oxford-Shannon-Tokyo, 1995. Chapter 1, Page 10-24. Chapter 2, Page 27-91. Chapter 4, Page 177-189.
[18] Southon, James N. A., “Geothermal Well Design, Construction and Failures”, Auckland, Proceeding World Geothermal
Congress, 24-29 April 2005.
[19] Teodoriu, Catalin, “Why and When Does Casing Fail in Geothermal Wells: a Surprising Question”, Melbourne,
Procedings Word Geothermal Congress, 19-25 April 2015.
[20] Thorbjornsson, I.O, “Thermal Expansion of Casings in Geothermal Wells and Possible Mitigation of Resultant Axial
Strain”, France, European Geothermal Congress, September 2016.
[21] Torres, Angelito. "Challenges of Casing Design in Geothermal Wells", Presented at the IADC / SPE Asia Pacific
Drilling Technology Conference held in Bangkok, Thailand, August 25-27, 2014.
[22] ... .., "Casing String Design Model (Casing2)", Maurer Engineering Inc., Houston, Texas, 1996. Chapter 1, Page 4, 13-
14.
[23] ....., "Petroleum and Natural Gas Industries- Materials for Use in H2S Containing Environments in Oil and Gas
Production, NACE International, New York, 2001. Part 2 Page 34.
[24] ... .., "Casing Tabel API"Pipe & Supplay, Trapon, 2017.

Page | 25

You might also like