0% found this document useful (0 votes)
11 views12 pages

Peran Kredit BPR dalam Ekonomi Jawa Barat

This document discusses the role of working capital loans from rural banks (BPR) in the economy of West Java Province, Indonesia. It finds that while the number of BPRs in West Java is large and their performance was good in 2016, their contribution of working capital loans to the economy is still very small. Using quarterly data from 2009-2016 and an ordinary least squares model with variables like gross domestic regional product, total working capital loans, and consumer price index, it finds a significant but small positive relationship between working capital loans and GDP in West Java. This suggests that working capital loans from BPRs have not been used optimally to boost the economy through productive businesses.

Uploaded by

merrytobili
Copyright
© All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
11 views12 pages

Peran Kredit BPR dalam Ekonomi Jawa Barat

This document discusses the role of working capital loans from rural banks (BPR) in the economy of West Java Province, Indonesia. It finds that while the number of BPRs in West Java is large and their performance was good in 2016, their contribution of working capital loans to the economy is still very small. Using quarterly data from 2009-2016 and an ordinary least squares model with variables like gross domestic regional product, total working capital loans, and consumer price index, it finds a significant but small positive relationship between working capital loans and GDP in West Java. This suggests that working capital loans from BPRs have not been used optimally to boost the economy through productive businesses.

Uploaded by

merrytobili
Copyright
© All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

Eka Budiyanti Peran Kredit Modal Kerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dalam Perekonomian di Provinsi Jawa Barat

143
PERAN KREDIT MODAL KERJA BANK PERKREDITAN RAKYAT (BPR)
DALAM PEREKONOMIAN DI PROVINSI JAWA BARAT

(THE ROLE OF WORKING CAPITAL LOAN FOR RURAL BANK ON ECONOMY IN WEST JAVA)

Eka Budiyanti
(Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI, Nusantara I, Lantai 2, DPR RI,
Jl. Jenderal Gatot Subroto, Senayan, Jakarta 10270, Indonesia;
e-mail: [Link]@[Link])

Naskah Diterima: 20 Maret 2018, direvisi: 15 Juni 2018,


disetujui: 30 Juni 2018

Abstract
As one of the banks that distribute loans, the rural bank has a strategic role in the economy. Loans were distributed to the real
business sectors and used as venture capital, which will ultimately drive the economy. The contribution of working capital loan for the
rural bank in West Java was very small. In fact, the number of rural banks in West Java quite a lot and the performance of the rural
bank in West Java in 2016 is also very good. Therefore, it is interesting to know how the role of rural bank working capital loans on the
economy in West Java and how big the role is. The method used in this study is Ordinary Least Square (OLS). Variables that used are
gross domestic regional product (GDRP), total working capital loan, and consumer price index (CPI). The data used is quarterly data
for the period 2009-2016, sourced from Bank Indonesia and Financial Services Authority. The empirical results indicate a significant
positive relationship between working capital loan and GDRP in West Java, but the effect is still very small. This shows that the working
capital loan channeled by the rural bank have not been used optimally for productive businesses that are able to boost the economy.
Keywords: rural bank, PDRB, working capital loan, ordinary least square, West Java.

Abstrak
BPR sebagai salah satu jenis bank yang menyalurkan kredit, memiliki peran strategis dalam perekonomian. Kredit yang disalurkan
BPR kepada sektor usaha riil yang produktif digunakan sebagai modal usaha, yang pada akhirnya akan menggerakkan perekonomian.
Kontribusi penyaluran kredit modal kerja BPR di Provinsi Jawa Barat masih sangat kecil. Padahal, jumlah BPR di Provinsi Jawa Barat
cukup banyak dan kinerja BPR Provinsi Jawa Barat di tahun 2016 juga sangat baik. Karenanya, menarik untuk diketahui bagaimana
peran kredit modal kerja BPR terhadap perekonomian di Provinsi Jawa Barat dan seberapa besar peran tersebut. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Ordinary Least Square (OLS). Variabel yang digunakan antara lain produk domestik regional
bruto (PDRB), total kredit modal kerja, dan indeks harga konsumen (IHK). Adapun data yang digunakan adalah data kuartalan periode
tahun 2009-2016 yang bersumber dari Bank Indonesia dan OJK. Hasil empiris menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan
antara kredit modal kerja yang disalurkan dengan PDRB, namun pengaruhnya masih sangat kecil. Hal ini menunjukkan kredit modal
kerja yang disalurkan BPR belum digunakan secara maksimal untuk usaha produktif yang mampu mendorong perekonomian.
Kata kunci: BPR, PDRB, kredit modal kerja, ordinary least square, Jawa Barat.

PENDAHULUAN Peranan perbankan sangat besar. Dalam


Bank sebagai lembaga keuangan merupakan kaitannya dengan pemanfaatan dana dari
institusi yang berperan penting dalam menopang masyarakat, bank merupakan lembaga keuangan
kegiatan perekonomian masyarakat terutama yang berperan dalam sirkulasi dana bank. Dalam
sektor riil. Sektor riil merupakan sektor produksi tataran perekonomian makro, kegiatan perbankan
yang menghasilkan produk (barang maupun jasa) menempati posisi yang penting. Bank memiliki fungsi
yang secara langsung akan menggerakkan roda sebagai lembaga intermediasi dan media transmisi
perekonomian masyarakat di suatu wilayah. Seluruh kebijakan moneter bank sentral. Hal ini menyebabkan
komponen masyarakat yang terlibat dalam kegiatan dalam analisis efektivitas kebijakan moneter, bank
perekonomian, khususnya pelaku kegiatan produksi, menjadi obyek yang penting.1
memerlukan peran aktif industri jasa keuangan, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sebagai salah
yaitu jasa perbankan, karena industri perbankan satu jenis bank yang merupakan agen pembangunan
akan memberikan kontribusi positif berupa jasa (development agent) memiliki fungsi menyalurkan
pembiayaan (kredit) terhadap kegiatan-kegiatan 1
Ika Syahfitri, Analisis Kredit Perbankan dan Pertumbuhan
produktif masyarakat.
Ekonomi di Indonesia, Skripsi, Fakultas Ekonomi dan
Manajemen IPB, Bogor, 2013, hal. 2.
144 Kajian Vol. 23 No. 2 Juni 2018 hal. 143 - 154

kredit dan menghimpun dana masyarakat. Sesuai BPR merupakan lembaga yang paling dekat dan
Undang-undang Republik Indonesia No. 7 tahun mengetahui kondisi nasabah dibandingkan dengan
1992 tentang Perbankan, sebagaimana telah diubah lembaga keuangan lainnya.3
dengan Undang-undang No. 10 tahun 1998, BPR Sepanjang tahun 2012-2016, perkembangan
adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha BPR dari segi jumlah memang tidak banyak
secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah perubahan. Perubahan yang paling signifikan adalah
yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa total penyaluran kredit dan total aset. Pada tahun
dalam lalu lintas pembayaran. Usaha BPR meliputi 2016, total penyaluran kredit BPR di Indonesia
menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk mencapai Rp81,63 triliun, meningkat 63,97
simpanan berupa deposito berjangka, tabungan, persen jika dibandingkan dengan tahun 2012 yang
dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan mencapai Rp49,82 triliun. Begitu juga dengan total
itu; memberikan kredit; menyediakan pembinaan aset yang telah meningkat 68,41 persen sejak tahun
dan penempatan dana berdasarkan prinsip syariah 2012 sampai dengan tahun 2016 (Tabel 1). Hal ini
sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank menunjukkan setiap tahunnya BPR semakin kuat dan
Indonesia; menempatkan dananya dalam bentuk aktif dalam menyalurkan kredit kepada masyarakat.
Tabel 1. Perkembangan BPR di Indonesia Tahun 2012 - 2016
Indikator / Tahun 2012 2013 2014 2015 2016
Jumlah BPR 1.653 1.635 1.643 1.637 1.633
Total Penyaluran Kredit (Rp Triliun) 49,82 59,18 68,39 74,81 81,68
Non Performing Loan (NPL) (%) 4,75 4,41 4,75 5,37 5,83
Total Aset (Rp Triliun) 67,40 77,38 89,88 101,71 113,50
Sumber: OJK, 2016.

Sertifikat Bank Indonesia, deposito berjangka, Dari Gambar 1., dapat dilihat adanya indikasi
sertifikat deposito, dan tabungan pada bank lain. pergerakan pertumbuhan kredit BPR seiring dengan
BPR sangat berperan dalam memajukan ekonomi pertumbuhan ekonomi. Artinya, ada kemungkinan
masyarakat di daerah. Usaha yang dilakukan BPR pertumbuhan kredit BPR memengaruhi pertumbuhan
untuk membantu masyarakat di daerah memajukan ekonomi atau sebaliknya pertumbuhan ekonomi
ekonomi antara lain, mendorong masyarakat yang memengaruhi pertumbuhan kredit BPR.
agar memiliki kebiasaan untuk gemar menabung; Tentunya hal ini memerlukan analisis empiris lebih
memberikan fasilitas kredit sekaligus wadah lanjut.
penyaluran untuk penjualan produk Usaha Mikro
Kecil Menengah (UMKM); serta melakukan pelatihan
dan penyuluhan bagi UMKM untuk memberikan
pengetahuan dan teknologi guna meningkatkan
kualitas produk dan laba.2 Oleh karena itu, BPR juga
dituntut untuk dapat bertahan dalam menghadapi
krisis ekonomi.
BPR juga harus diarahkan dan didorong untuk ikut
serta berperan dalam meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat agar mampu mengatasi
ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial.
Sektor informal seperti petani, pedagang, penjual Sumber: Bank Indonesia, 2016.
rokok, dan pedagang warung kelontong, harus Gambar 1. Pertumbuhan Kredit BPR dan Pertumbuhan
diberdayakan, dikembangkan serta ditempatkan Ekonomi Indonesia
di barisan terdepan dalam penetapan kebijakan. (dalam persen)
Peran dan kontribusi BPR sebagai ujung tombak BPR memiliki peran yang strategis dalam
lembaga keuangan daerah dalam pembiayaan sektor meningkatkan pertumbuhan ekonomi khususnya
informal tentunya menjadi sangat penting, karena di daerah. Hal ini dapat dilihat dari sisi penyaluran

2
Corry, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Dalam Ekonomi 3
Bramantyo Djohanputro & Ronny Kountur, “Non Performing
Nasional, (online), ([Link]
Loan (NPL) Bank Perkreditan Rakyat (BPR)”, Laporan
com/2015/01/13/bank-perkreditan-rakyat-bpr-dalam-
Penelitian kerjasama antara GTZ dan Bank Indonesia, 2007.
ekonomi-nasional/, diakses 24 Oktober 2018).
Eka Budiyanti Peran Kredit Modal Kerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dalam Perekonomian di Provinsi Jawa Barat 145
kredit di mana kredit yang disalurkan digunakan untuk kredit Provinsi Jawa Barat Rp374,832 triliun, hanya
modal usaha dan investasi yang akan mendukung 1,33 persen kredit modal kerja yang disalurkan oleh
kegiatan perekonomian. Bagi dunia usaha menengah BPR. Padahal jika dilihat dari jumlah BPR, jumlah
ke bawah, penyediaan modal yang dilakukan BPR BPR di Provinsi Jawa Barat merupakan terbanyak ke
dapat menciptakan akumulasi modal yang relatif kuat. tiga setelah Provinsi Jawa Timur (1.530) dan Provinsi
Modal tersebut yang pada akhirnya akan menciptakan Jawa tengah (1.503) yaitu 1.045 BPR.
struktur perekonomian nasional yang bertumpu Hal ini menunjukkan kontribusi kredit modal kerja
pada ekonomi kerakyatan.4 Sebagai salah satu jenis BPR terhadap total kredit Provinsi Jawa Barat masih
kredit yang disalurkan BPR, kredit modal kerja (KMK) sangat kecil meskipun jumlah BPR cukup banyak.
merupakan kredit yang digunakan untuk meningkatkan Dengan potensi BPR yang cukup besar tersebut,
produksi operasional. Misalnya, membeli bahan baku, seharusnya dapat memberikan kontribusi yang lebih
membayar gaji pegawai atau biaya-biaya lainnya yang bagi perekonomian di Provinsi Jawa Barat. Artinya,
berkaitan dengan proses produksi perusahaan. semakin banyak jumlah BPR maka kesempatan untuk
Secara nasional, penyaluran KMK BPR sepanjang menyalurkan kreditnya pun akan semakin besar.
tahun 2012-2016 meningkat. Peningkatan KMK Karenanya menjadi menarik untuk mengetahui apakah
BPR pada tahun 2016 mencapai 56,13 persen kredit modal kerja yang disalurkan oleh BPR selama
jika dibandingkan dengan tahun 2012. Hal ini ini sudah mendorong perekonomian di Provinsi Jawa
menunjukkan BPR selalu mengembangkan inovasi Barat atau tidak dan jika mendorong maka seberapa
dan penyaluran kreditnya setiap tahun. besar pengaruhnya. Hasil empiris ini dapat menjadi
Tabel 2. Perkembangan Kredit BPR Menurut acuan bagi pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan
Penggunaannya (OJK) selaku pembuat kebijakan serta DPR selaku
(dalam Rp Triliun) pengawas program atau kebijakan pemerintah.
Tahun KMK Investasi Konsumsi Tabel 3. Indikator Perkembangan BPR Provinsi Jawa
2012 23,03 2,96 23,82
Barat Tahun 2009-2016
(dalam Rp Miliar)
2013 26,86 3,49 28,83
Jumlah PBR
Indikator/ Total Total
2014 31,20 4,19 33,00 DPK NPL dan Kantor
Tahun Kredit Aset
BPR (unit)
2015 33,51 4,90 36,39
2009 4.803 5.072 417 5.868 772
2016 35,96 5,64 40,08
Sumber: Bank Indonesia, 2016. 2010 5.862 6.061 427 7.061 696

Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu 2011 7.043 6.859 455 8.511 724
provinsi yang memiliki total aset BPR terbesar di 2012 7.872 7.746 501 11.293 775
Indonesia, yaitu sebesar Rp18,59 triliun di tahun 2013 9.549 8.804 529 12.663 797
2016. Kinerja BPR Provinsi Jawa Barat sepanjang
tahun 2009-2016 juga meningkat setiap tahunnya. 2014 11.712 10.754 700 15.099 824
Selain total aset yang meningkat setiap tahunnya, 2015 11.018 11.424 814 16.380 831
penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK), Non 2016 10.794 11.501 858 18.596 1.045
Performing Loan (NPL), dan jumlah BPR juga ikut
Sumber: Otoritas Jasa Keuangan, 2016.
meningkat setiap tahunnya. Walaupun sempat
mengalami penurunan di tahun 2016, total kredit Pemberian kredit perbankan mempunyai
yang disalurkan juga meningkat sepanjang tahun peranan penting dalam rangka pembiayaan kegiatan
2009-2015. Perkembangan indikator BPR Provinsi perekonomian untuk mendorong pertumbuhan
Jawa Barat dapat dilihat pada Tabel 3. ekonomi. Peran tersebut antara lain adalah
Sepanjang tahun 2016, dari total kredit yang penciptaan lapangan kerja, baik melalui perluasan
disalurkan oleh BPR Provinsi Jawa Barat (Rp10,79 produksi dan kegiatan usaha lainnya maupun
triliun), kredit modal kerja yang disalurkan mencapai melalui dampaknya dalam mendorong munculnya
Rp4,99 triliun, atau dapat dikatakan sekitar 46,24 unit-unit usaha baru. Selain itu, peran lainnya adalah
persen dari total kredit BPR Provinsi Jawa Barat melakukan pemerataan kesempatan berusaha
disalurkan untuk modal kerja. Sedangkan dari total melalui alokasi pemberian kredit yang diberikan
berdasarkan prioritas pembangunan dan sektor-

4
Bagus Qomaruzzaman Ratu Edi & Syamsul Hadi, “Efektivitas sektor ekonomi yang memiliki produktivitas tinggi.5
Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dalam Rangka Membangun
Ekonomi Kerakyatan di Daerah Pedesaan”, Jurnal Ekonomi
Relasi, Vol. 16, 2012, hal. 1-2. 5
Ika Syahfitri, Op. Cit., hal. 18.
146 Kajian Vol. 23 No. 2 Juni 2018 hal. 143 - 154

Berdasarkan teori, terdapat hubungan kausalitas yang kemudian pada akhirnya akan berpengaruh
yang positif antara kredit perbankan dengan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sedangkan
pertumbuhan ekonomi. Hubungan timbal balik pengaruh tidak langsung dapat melalui kredit yang
terjadi saat kredit yang disalurkan perbankan semakin diberikan kepada pelaku ekonomi seperti kredit
tinggi, yang kemudian memacu pertumbuhan konsumsi, kredit modal kerja, kredit investasi, dan
ekonomi pada sektor yang disalurkan kredit. kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang
Pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada sektor kemudian akan berpengaruh terhadap peningkatan
yang disalurkan kredit tersebut, pada akhirnya akan kegiatan perekonomian dan kesempatan kerja
meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara umum. yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap
Misalnya saja kredit modal kerja yang digunakan peningkatan pendapatan, peningkatan daya beli,
untuk membeli bahan baku dan hal-hal lainnya yang dan peningkatan usaha. Ketersediaan dana dari
berkaitan dengan proses produksi. Kredit modal perbankan bagi BUMD, sektor-sektor unggulan serta
kerja yang digunakan tersebut dapat memacu UMKM di suatu daerah akan dapat mendorong
produktivitas di tiap sektor, sehingga pertumbuhan pertumbuhan sektor usaha yang ada pada daerah
ekonomi pada sektor-sektor tersebut meningkat, tersebut. Semakin besar dana perbankan yang
yang pada akhirnya pertumbuhan ekonomi pun terserap maka akan meningkatkan produksi barang
ikut meningkat. Dalam hal ini, kredit digunakan dan jasa di daerah tersebut. Peningkatan produksi
sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi, di mana barang dan jasa ini yang pada akhirnya akan
kredit dinyatakan sebagai fungsi dari pertumbuhan meningkatkan pendapatan unit usaha perekonomian
ekonomi. Sebaliknya, jika pertumbuhan ekonomi dan memberikan dampak terhadap peningkatan
semakin tinggi maka akan menyebabkan semakin PAD.8
tingginya permintaan kredit. Misalnya, peningkatan Berbagai studi tentang penelitian yang terkait
pertumbuhan ekonomi menunjukkan semakin dengan peran perbankan atau khususnya BPR
berkembangnya suatu usaha atau kegiatan produksi terhadap perekonomian telah cukup banyak
perusahaan. Dengan semakin berkembangnya usaha dilakukan. Salah satu studi empiris yang mengaitkan
tersebut, maka diperlukan pembiayaan dari kredit hubungan kredit perbankan dan pertumbuhan
perbankan yang digunakan untuk meningkatkan ekonomi adalah Jotwani & Singh. Jotwani & Singh
produktivitas dan pengembangan perusahaan melakukan uji kointegrasi, kausalitas, dan error
tersebut. Akan tetapi, ada saat kondisi di mana correction untuk mengetahui hubungan kausalitas
kondisi perekonomian kurang bergairah atau tidak antara kredit perbankan dan pertumbuhan ekonomi
stabil maka permintaan kredit juga akan berkurang. di India sepanjang tahun 1972-2012. Hasinya
Dalam hal ini, pertumbuhan ekonomi dianggap membuktikan bahwa terdapat hubungan satu arah
sebagai fungsi dari kredit.6 antara kredit perbankan dan pertumbuhan ekonomi
Adanya hubungan timbal balik dan kointegrasi di India sepanjang tahun 1972-2012.9
antara kredit perbankan dan pertumbuhan Untuk kasus Indonesia, dari hasil penelitian
ekonomi, memberikan implikasi berupa kebijakan yang dilakukan Inggrid10 juga membuktikan
dalam menentukan perkiraan besarnya kredit adanya hubungan kointegrasi dan kausalitas dua
yang harus disalurkan perbankan dan target arah antara kredit perbankan dan pertumbuhan
pertumbuhan ekonomi yang akan dicapai. Jika ekonomi di Indonesia. Inggrid menganalisis
disesuaikan dengan asumsi adanya hubungan pengaruh perkembangan sektor keuangan dan
kausalitas dan kointegrasi antara kredit perbankan pertumbuhan ekonomi di Indonesia selama periode
dan pertumbuhan ekonomi tersebut, maka dalam tahun 1992:02-2004:04. Dengan menggunakan uji
menentukan perkiraan besarnya kredit perbankan kausalitas Granger, hasilnya menunjukkan adanya
harus memperhitungkan variabel pertumbuhan kausalitas dua arah antara pertumbuhan ekonomi
ekonomi. Begitu pun sebaliknya, dalam menentukan dan volume kredit. Artinya, sistem keuangan dapat
target angka pertumbuhan ekonomi, maka harus menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi
memperhitungkan variabel kredit perbankan.7

8
Sri Endang Kornita dan Anthony Mayes, ”Analisis Peran
Menurut Kornita dan Mayes, peran perbankan Perbankan dalam Perekonomian”, Jurnal Ekonomi, 18(1),
dalam mendorong perekonomian daerah dapat Maret 2010, hal. 50-51.
dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. 9
Dhiren Jotwani & Shivangi Singh, “Bank Credit and GDP
Pengaruh secara langsung dapat melalui kredit yang Growth in India: A Study of Causality”, Journal of IMS
diberikan kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Group, 10(2), July-Dec, 2013, hal. 82.
10
Inggrid, “Sektor Keuangan dan Pertumbuhan Ekonomi
di Indonesia: Pendekatan Kausalitas dalam Multivariate

6
Ibid., hal. 3.
Vector Error Correction Model (VECM)”, Jurnal Manajemen

7
Ika Syahfitri, Loc. Cit.
dan Kewirausahaan, Vol. 8, No.1, 2006, hal. 40.
Eka Budiyanti Peran Kredit Modal Kerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dalam Perekonomian di Provinsi Jawa Barat 147
di Indonesia. Peran sektor keuangan sebagai mesin terhadap nilai produksi UMKM signifikan. Peran BPR
penggerak pertumbuhan ekonomi juga dibuktikan dalam menyalurkan kredit/pembiayaan modal kerja
dari hasil analisis Vector Error Correction Model relatif lebih besar dibandingkan kredit/pembiayaan
(VECM). investasi dengan tingkat kontribusi rata-rata sebesar
Pada tahun 2011, Rachman dan Sriyanto11 2,35 persen dari total kredit/pembiayaan modal
meneliti untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kerja yang disalurkan perbankan.
aktivitas kredit modal kerja, kredit investasi, dan Alatan dan Basana juga melakukan penelitian
kredit konsumsi terhadap tingkat pertumbuhan yang bertujuan untuk melihat bagaimana pengaruh
ekonomi di Provinsi Jawa Timur, baik secara parsial dari kredit perbankan yang dibagi menjadi 9 sektor
maupun secara simultan. Hasilnya diperoleh secara ekonomi dengan variabel kontrol BI Rate terhadap
parsial, kredit modal kerja, kredit investasi, dan pertumbuhan ekonomi regional Provinsi Jawa Timur
kredit konsumsi signifikan berpengaruh positif sepanjang tahun 2002-2013. Dalam penelitian
terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur Alatan dan Basana, tingkat pertumbuhan ekonomi
secara parsial. Dan dari ketiga variabel dimaksud diproksi dengan Produk Domestik Regional Bruto
yang paling memengaruhi secara simultan terhadap (PDRB) riil Provinsi Jawa Timur. Adapun metode
pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur adalah yang digunakan adalah Ordinary Least Square (OLS).
kredit investasi dan kredit konsumsi. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa
Penelitian empiris yang dilakukan Sumanto12 tidak seluruh sektor ekonomi di Provinsi Jawa Timur
pada tahun 2016, menganalisis bagaimana pengaruh signifikan dan memberikan pengaruh positif terhadap
kredit investasi dan kredit modal kerja terhadap PDRB. Namun secara bersama-sama penelitian ini
kesejahteraan masyarakat di kabupaten/kota Jawa berhasil menunjukkan bahwa kredit sektor ekonomi
Timur. Dengan menggunakan metode path analysis, dan BI Rate berpengaruh terhadap pertumbuhan
hasilnya diperoleh kredit investasi berpengaruh ekonomi di Provinsi Jawa Timur.14
negatif terhadap kesejahteraan masyarakat Apriana15 melakukan penelitian yang bertujuan
kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur. Hal ini untuk mengetahui hubungan yang terdapat antara
menunjukkan bahwa bidang-bidang investasi di penyaluran kredit Bank Pembangunan Daerah (BPD)
Provinsi Jawa Timur telah bergeser dari bidang yang NTB yang terdiri dari kredit konsumsi, kredit modal
padat karya ke bidang yang padat modal. Pergeseran kerja, dan kredit investasi dengan pertumbuhan
ini menyebabkan efek penyerapan tenaga kerja ekonomi dan melihat pengaruh jangka pendek dan
menjadi semakin sedikit sehingga efek kemakmuran jangka panjang. Dengan menggunakan metode uji
pun semakin sedikit. Selain itu, dalam penelitian kausalitas granger dan Error Correction Model (ECM)
Sumanto juga diperoleh hasil bahwa kredit modal selama periode tahun 2008:Q1- 2015:Q3 diperoleh
kerja berpengaruh positif terhadap kesejahteraan hasil bahwa antara kredit konsumsi dan pertumbuhan
masyarakat. Semakin tinggi kredit modal kerja, maka ekonomi memiliki hubungan dua arah dalam jangka
semakin tinggi tingkat kesejahteraan masyarakat. pendek dan jangka panjang. Dan hubungan satu arah
Yurina13 melakukan studi untuk mengetahui antara kredit investasi dan kredit modal kerja.
bagaimana peran kredit BPR terhadap UMKM Devi menggunakan metode two stage least
di Kota Banda Aceh sepanjang tahun 2000- square (2-SLS) untuk mengetahui apakah terdapat
2008. Dengan menggunakan data sekunder yang hubungan empirik yang kuat antara kredit BPR dan
berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank pertumbuhan ekonomi. Dengan menggunakan data
Indonesia (BI), diperoleh hasil uji empiris bahwa panel pada 27 provinsi di Indonesia sepanjang tahun
pengaruh pembiayaan investasi pada BPR terhadap 2000-2014, diperoleh hasil bahwa peningkatan kredit
nilai produksi UMKM tidak signifikan sedangkan BPR akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi
pengaruh pembiayaan modal kerja pada BPR dan pada akhirnya akan menurunkan tingkat
kemiskinan.16
11
H. Zaini Fathor Rachman dan Agus Sriyanto, ”Analisis
Kontribusi Investasi, Kredit Modal Kerja dan Kredit Konsumsi 14
Tan Serlinda Deltania Alatan dan Sautma Ronni Basana,
terhadap Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur”, Jurnal ”Pengaruh Pemberian Kredit terhadap Ekonomi Regional
Ekonomika dan Manajemen, Vol.1, No. 2, Oktober, 2012. Jawa Timur”, FINESTA, Vol.3, No.1, 2015, hal. 63.
12
Agus Sumanto, ”Pengaruh Kredit Investasi dan Kredit Modal 15
Riska Apriana, ”Analisis Kausalitas antara Penyaluran
Kerja Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Kabupaten/Kota Kredit dengan Pertumbuhan Ekonomi (Studi Kasus
di Jawa Timur”, Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan, pada BPD Provinsi Nusa Tenggara Barat)”, Jurnal Ilmiah
Vol. 8, No. 1, Maret, 2016, hal. 40. Jurusan Ilmu Ekonomi, Vol. 4, No. 2, Fakultas Ekonomi dan
13
Yurina, ”Kredit Bank Perkreditan Rakyat dan Pengaruhnya BisnisUniversitas Brawijaya, Malang, 2016.
pada Perkembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah 16
Laksmi Devi, “The Impact of Rural Bank Loans on Regional
di Kota Banda Aceh”, Jurnal Ekonomika Indonesia, Vol.1, Economic Growth and Regional Poverty in Indonesia”,
No.1, Juni, 2012. NZAE Conference Papers, 30 Juni 2016, hal. 1.
148 Kajian Vol. 23 No. 2 Juni 2018 hal. 143 - 154

Selain Indonesia, penelitian mengenai kontribusi Penelitian tersebut dilakukan selama periode tahun
bank pedesaan (BPR) terhadap perekonomian juga 2005-2014 dengan menggunakan metode estimasi
dilakukan di Phillipina oleh Crouzille et. al pada tahun data panel. Hasil penelitian tersebut menunjukkan
2005. Crouzille et. al melakukan penelitian untuk mencari bahwa kredit memiliki pengaruh yang signifikan
hubungan antara bank pedesaan dan ekonomi regional. terhadap pertumbuhan ekonomi Romania.18
Hasilnya menunjukkan adanya pengaruh positif antara Korkmaz melakukan penelitian pada 10 negara
bank pedesaan terhadap pembangunan ekonomi di terpilih di Eropa pada tahun 2015. Negara tersebut
daerah yang cukup dan kurang berkembang.17 antara lain adalah Spanyol, Finlandia, Perancis,
Penelitian lainnya yang juga membahas mengenai Jerman, Yunani, Hungaria, Italia, Polandia, Turki, dan
peran kredit perbankan terhadap pertumbuhan Inggris. Dengan menggunakan data tahunan periode
ekonomi adalah Duican dan Popa yang meneliti tahun 2006-2012, diperoleh hasil bahwa sektor
bagaimana hubungan empiris antara kredit dan perbankan signifikan memengaruhi pertumbuhan
pertumbuhan ekonomi Romania di tingkat regional. ekonomi di 10 negara Eropa tersebut.19

Tabel 4. Ringkasan Kajian Empiris Sebelumnya


Negara/
No. Penulis/Judul Periode Metode Hasil
Daerah
1. H. Zaini Fathor Rachman Provinsi Jawa 2005-2009 metode 3 variabel tersebut secara
dan Agus Sriyanto / Analisis Timur statistik/ parsial berpengaruh terhadap
Kontribusi Investasi, deskriptif pertumbuhan ekonomi, variabel
Kredit Modal Kerja dan kuantitatif yang paling memengaruhi secara
Kredit Konsumsi terhadap simultan terhadap pertumbuhan
Pertumbuhan Ekonomi Jawa ekonomi Provinsi Jawa Timur adalah
Timur kredit investasi dan kredit konsumsi
2. Inggrid / Sektor Keuangan Indonesia 1992:02- Uji Kausalitas adanya hubungan kointegrasi dan
dan Pertumbuhan Ekonomi di 2004:04 Granger dan kausalitas dua arah antara kredit
Indonesia: Pendekatan Kausalitas VECM perbankan dan pertumbuhan
dalam Multivariate Vector Error ekonomi
Correction Model (VECM)
3. Laksmi Devi / The Impact of 27 provinsi 2000-2014 two stage least Peningkatan kredit BPR akan
Rural Bank Loans on Regional di Indonesia square (2-SLS) meningkatkan pertumbuhan
Economic Growth and Regional ekonomi dan pada akhirnya akan
Poverty in Indonesia menurunkan tingkat kemiskinan.
4. Riska Apriana / Analisis Provinsi 2008:Q1- uji kausalitas kredit konsumsi dan pertumbuhan
Kausalitas antara Penyaluran Nusa 2015:Q3 granger dan ekonomi memiliki hubungan dua
Kredit dengan Pertumbuhan Tenggara Error Correction arah dalam jangka pendek dan
Ekonomi (Studi Kasus pada BPD Barat Model (ECM) jangka panjang
Provinsi Nusa Tenggara Barat)
5. Tan Serlinda Deltania Alatan Provinsi Jawa 2002-2013 Ordinary Least tidak seluruh sektor ekonomi di
dan Sautma Ronni Basana / Timur Square (OLS) Provinsi Jawa Timur signifikan
Pengaruh Pemberian Kredit dan memberikan pengaruh positif
terhadap Ekonomi Regional terhadap PDRB. Namun secara
Jawa Timur bersama-sama kredit sektor
ekonomi dan BI Rate berpengaruh
terhadap pertumbuhan ekonomi
6. Yurina / Kredit Bank Perkreditan Kota Banda 2000-2008 OLS regresi pengaruh pembiayaan investasi
Rakyat dan Pengaruhnya pada Aceh linier pada BPR terhadap nilai produksi
Perkembangan Usaha Mikro UMKM tidak signifikan sedangkan
Kecil dan Menengah di Kota pengaruh pembiayaan modal kerja
Banda Aceh pada BPR terhadap nilai produksi
UMKM signifikan


18
Elena Raluca Duican & Alina Popa, “The Implications of
Céline Meslier Crouzille, Emmanuelle NYS, & Alain
17
Credit Activity on Economic Growth in Romania”, Procedia
Sauviat, Contribution of Rural Banks to Regional Economic Economics and Finance, 30, 2015, hal. 195.
Development: Evidence from the Philippines, Regional
19
Suna Korkmaz, “Impact of Bank Credits on Economic Growth
Studies, 46(6), 2012. and Inflation”, Journal of Applied Finance & Banking, 5(1),
2015, hal. 57.
Eka Budiyanti Peran Kredit Modal Kerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dalam Perekonomian di Provinsi Jawa Barat 149
Negara/
No. Penulis/Judul Periode Metode Hasil
Daerah
7. Agus Sumanto / Pengaruh Kredit Provinsi Jawa 2005-2009 Path analysis kredit investasi berpengaruh negatif
Investasi dan Kredit Modal Timur terhadap kesejahteraan masyarakat
Kerja Terhadap Kesejahteraan dan kredit modal kerja berpengaruh
Masyarakat Kabupaten/Kota di positif terhadap kesejahteraan
Jawa Timur masyarakat
8. Dhiren Jotwani & Shivangi Singh, India 1972-2012 Uji kointegrasi, terdapat hubungan satu arah antara
Bank Credit and GDP Growth in uji kausalitas, dan kredit perbankan dan pertumbuhan
India: A Study of Causality error correction ekonomi di India
9. Elena Raluca Duican & Alina Romania 2005-2014 Estimasi data kredit memiliki pengaruh yang
Popa / The Implications of panel signifikan terhadap pertumbuhan
Credit Activity on Economic ekonomi
Growth in Romania
10. Crouzille et. al / Contribution 16 daerah di 1993-2005 Analisis Adanya pengaruh positif dengan
of Rural Banks to Regional Phillipina kointegrasi data adanya bank pedesaan dengan
Economic Development: panel pembangunan ekonomi di daerah
Evidence from the Philippines yang cukup dan kurang berkembang.
11. Suna Korkmaz / Impact of Bank 10 Negara di 2006-2012 Analisis data Sektor perbankan signifikan
Credits on Economic Growth Eropa panel memengaruhi pertumbuhan
and Inflation ekonomi

METODE PENELITIAN minimum (Best Linear Unbiased Estimator (BLUE)).20


Mengacu pada penelitian-penelitian Dalam penelitian ini, estimasi OLS dilakukan dengan
sebelumnya, model yang digunakan dalam penelitian menggunakan software eViews 9.0.
ini merujuk pada penelitian yang telah dilakukan Agar hasil estimasi tidak BLUE, ada 3 uji
oleh Rachman dan Sriyanto. Variabel dependen yang asumsi klasik yang perlu dilakukan antara lain
digunakan dalam penelitian ini adalah PDRB (Y). uji multikolinearitas, uji autokorelasi, dan uji
Sedangkan variabel independen adalah kredit modal heteroskedastisitas. Uji multikolinearitas diperlukan
kerja (KMK) dan variabel kontrol adalah indeks harga untuk mengetahui ada tidaknya variabel independen
konsumen (IHK). Berikut spesifikasi model yang yang memiliki kemiripan dengan variabel independen
digunakan pada penelitian ini: lain dalam satu model atau tidak adanya hubungan
antarvariabel independen.
Yt = α + β1KMKt + β2IHKt + εtYt .......................... (1) Deteksi multikolinearitas pada suatu model
di mana dapat dilihat salah satunya melalui nilai Variance
α: intersep Inflation Factor (VIF). Jika nilai VIF tidak lebih dari
β: koefisien 10 dari nilai Tolerance maka dapat dikatakan model
ε: error term tersebut terbebas dari multikolinearitas. Berikutnya
t: periode waktu adalah uji autokorelasi yang bertujuan untuk
mengetahui ada tidaknya korelasi antara variabel
error pada waktu t dengan variabel error periode
Secara implisit persamaan (1) dapat dinyatakan
sebelumnya. Sedangkan uji heteroskedastisitas
sebagai berikut:
menguji terjadinya perbedaan varians error suatu
Y = f (KMK, IHK)................................................ (2) periode pengamatan ke periode pengamatan yang
Dalam penelitian ini digunakan data ekonomi lain.
seperti PDRB provinsi, kredit modal kerja, dan IHK
yang bersumber dari Bank Indonesia dan OJK. Adapun HASIL DAN PEMBAHASAN
data yang digunakan adalah data kuartalan dari Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya
tahun 2009-2016. Dan semua data yang digunakan yang telah dilakukan mengenai peran kredit, baik
dalam bentuk logaritma. itu kredit BPR ataupun kredit bank umum terhadap
Metode yang digunakan dalam penelitian ini perekonomian, maka dengan menggunakan metode
adalah OLS. OLS akan menghasilkan estimator yang OLS diperoleh hasil estimasi persamaan (1) seperti
bersifat tidak bias, linier, dan memiliki varian yang pada Tabel 5.

20
Agus Widarjono, Ekonometrika Pengantar dan Aplikasinya,
Yogyakarta: UPP STIM YKPN, 2013.
150 Kajian Vol. 23 No. 2 Juni 2018 hal. 143 - 154

Tabel 5. Hasil Estimasi OLS


Dependent Variable: LOG(Y)
Method: Least Squares
Sample: 2009Q1 2016Q4
Included observations: 32
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 21.92754 0.761019 28.81339 0.0000
LOG(KMK) 0.468033 0.028402 16.47888 0.0000
LOG(IHK) -0.024396 0.113975 -0.214050 0.8320
R-squared 0.905652 Mean dependent var 32.16504
Adjusted R-squared 0.899146 S.D. dependent var 0.135739
S.E. of regression 0.043107 Akaike info criterion -3.361182
Sum squared resid 0.053889 Schwarz criterion -3.223769
Log likelihood 56.77892 Hannan-Quinn criter. -3.315634
F-statistic 139.1870 Durbin-Watson stat 0.199383
Prob(F-statistic) 0.000000
Sumber: diolah menggunakan software eViews 9.0.

Model regresi OLS dikatakan baik jika model yaitu uji Durbin Watson dan Uji Breusch-Godfrey
tersebut terbebas dari asumsi-asumsi klasik, baik itu atau uji Lagrange Multiplier (LM). Dalam penelitian
multikolinearitas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas. ini digunakan uji Durbin Watson untuk mengetahui
Oleh Karena itu, dilakukan uji asumsi klasik agar hasil ada tidaknya autokorelasi. Adapun uji statistik Durbin
estimasi di Tabel 5 tidak bias atau bersifat BLUE. Uji Watson seperti pada Tabel 7.
yang pertama dilakukan adalah uji multikolinearitas Tabel 7. Uji Statistik Durbin Watson
terhadap variabel-variabel bebas untuk mengetahui Nilai Statistik Durbin Watson (d) Hasil
apakah ada suatu hubungan linier yang sempurna
o < d < dL Ada autokorelasi positif
(mendekati sempurna) antara beberapa atau semua
variabel independen. Uji multikolinearitas dapat dL < d < dU Tidak ada keputusan
dilakukan dengan metode Variance Inflation Factors Tidak ada autokorelasi
(VIF). Jika nilai VIF lebih dari 10 maka terdapat dU < d < 4 - dU
positif/negatif
multikolinearitas antar variabel independen. Dari hasil
4 - dU < d < 4 - dL Tidak ada keputusan
uji multikoliniearitas pada Tabel 6, terlihat bahwa nilai
VIF tidak melebihi angka 10. Artinya, tidak ada tidak ada 4 - dU < d < 4 - dL Ada autokorelasi negatif
multikolinearitas antar variabel independen. Sumber: Agus Widarjono, hal. 141.
Tabel 6. Hasil Uji Multikoliniearitas
Dari hasil estimasi pada Tabel 5, diketahui nilai
Variance Inflation Factors statistik Durbin Watson sebesar 0,19, sedangkan
Sample: 2009Q1 2016Q4 nilai kritis Durbin Watson pada α = 5% dengan n =
32 dan k = 2 untuk batas bawah adalah dL = 1,309
Included observations: 32
dan batas atas dU = 1,574. Dapat dilihat nilai statistik
Variable
Coefficient Uncentered Centered Durbin Watson 0,19 berada antara 0 dan dL, maka hal
Variance VIF VIF ini menunjukkan adanya autokorelasi positif.
C  0.579150  9973.250  NA Dalam mengatasi autokorelasi, dapat digunakan
metode Cochrane-Orcutt dengan menambahkan
LOG(KMK)  0.000807  6800.616  1.029468
variabel autoregressive (AR(1)) pada model. Hasil
LOG(IHK)  0.012990  5182.078  1.029468 estimasi dengan menambahkan variabel AR(1)
Sumber: diolah menggunakan software eViews 9.0. terdapat pada Tabel 8.
Uji berikutnya adalah uji autokorelasi. Ada dua Dari hasil estimasi di Tabel 8, dapat dilihat
cara untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi nilai statistik Durbin Watson sebesar 1,51. Artinya,
nilai statistik Durbin Watson berada di antara dL
Eka Budiyanti Peran Kredit Modal Kerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dalam Perekonomian di Provinsi Jawa Barat 151
Tabel 8. Hasil Estimasi OLS dengan Menambahkan Variabel AR(1)
Dependent Variable: LOG(Y)
Method: ARMA Maximum Likelihood (OPG - BHHH)
Sample: 2009Q1 2016Q4
Included observations: 32
Convergence achieved after 12 iterations
Coefficient covariance computed using outer product of gradients
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 22.83321 2.807649 8.132502 0.0000
LOG(KMK) 0.406029 0.130840 3.103244 0.0045
LOG(IHK) 0.078253 0.208988 0.374440 0.7110
AR(1) 0.961637 0.075700 12.70334 0.0000
SIGMASQ 0.000303 8.36E-05 3.627439 0.0012
R-squared 0.983014  Mean dependent var 32.16504
Adjusted R-squared 0.980498  S.D. dependent var 0.135739
S.E. of regression 0.018956  Akaike info criterion -4.869954
Sum squared resid 0.009702  Schwarz criterion -4.640932
Log likelihood 82.91926  Hannan-Quinn criter. -4.794040
F-statistic 390.6421  Durbin-Watson stat 1.512641
Prob(F-statistic) 0.000000
Inverted AR Roots .96
Sumber: diolah menggunakan software eViews 9.0.

dan dU, maka tidak dapat disimpulkan apakah ada Dari Tabel 9, dapat dilihat nilai statistik Durbin
autokorelasi atau tidak. Setelah itu dilakukan kembali Watson sebesar 1,82 berada di antara nilai dU dan 4
estimasi OLS dengan menambahkan variabel AR(2). - dU, sehingga dapat disimpulkan tidak ada masalah
Hasilnya seperti pada Tabel 9. autokorelasi.
Tabel 9. Hasil Estimasi OLS dengan Menambahkan Variabel AR(2)
Dependent Variable: LOG(Y)
Method: ARMA Maximum Likelihood (OPG - BHHH)
Sample: 2009Q1 2016Q4
Included observations: 32
Convergence achieved after 12 iterations
Coefficient covariance computed using outer product of gradients
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 21.78213 2.302793 9.459006 0.0000
LOG(KMK) 0.458564 0.110417 4.153034 0.0003
LOG(IHK) 0.052023 0.240485 0.216325 0.8304
AR(1) 1.226394 0.195937 6.259122 0.0000
AR(2) -0.328051 0.241811 -1.356646 0.1866
SIGMASQ 0.000285 8.81E-05 3.235984 0.0033
R-squared 0.984026 Mean dependent var 32.16504
Adjusted R-squared 0.980954 S.D. dependent var 0.135739
S.E. of regression 0.018733 Akaike info criterion -4.882716
Sum squared resid 0.009124 Schwarz criterion -4.607891
Log likelihood 84.12346 Hannan-Quinn criter. -4.791619
F-statistic 320.3269 Durbin-Watson stat 1.821054
Prob(F-statistic) 0.000000
Inverted AR Roots .83 .39
Sumber: diolah menggunakan software eViews 9.0.
152 Kajian Vol. 23 No. 2 Juni 2018 hal. 143 - 154

Uji asumsi klasik berikutnya adalah uji Mengacu pada hasil estimasi Tabel 9, nilai
heteroskedastisitas. Heteroskedastisitas merupakan koefisien determinasi R-squared (R2) sebesar 0,9840
salah satu uji untuk melihat apakah dalam model menunjukkan bahwa variasi variabel independen
regresi terjadi ketidaksamaan variansi dari mampu menjelaskan variabel dependen sebesar
residual satu pengamatan ke pengamatan yang 98,40 persen. Hasil uji statistik F menunjukkan
lain. Jika variansi dari residual satu pengamatan probabilitas F-Statistik lebih kecil dari tingkat
ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut signifikansi α = 5%. Artinya, variabel independen
homoskedastisitas, dan jika berbeda maka disebut secara bersama-sama berpengaruh terhadap
heteroskedastisitas. Salah satu metode yang variabel dependen.
dilakukan untuk menguji heteroskedastisitas adalah Selain itu, hasil estimasi juga menunjukkan
uji Breusch-Pagan-Godfrey. Hasil dari uji Breusch- bahwa kredit modal kerja signifikan secara positif
Pagan-Godfrey ditunjukkan pada Tabel 10. Hasilnya memengaruhi PDRB Provinsi Jawa Barat. Saat kredit
menunjukkan probability Obs*R-squared tidak modal kerja meningkat 1 persen maka PDRB akan
signifikan pada tingkat signifikansi α = 5%. Artinya, meningkat sebesar 0,46 persen. Artinya, kredit
tidak terdapat masalah heteroskedastisitas. modal kerja yang disalurkan BPR Provinsi Jawa Barat

Tabel 10. Hasil Uji Heteroskedastisitas


Heteroskedasticity Test: Breusch-Pagan-Godfrey
F-statistic 0.553249 Prob. F(2,29) 0.5810
Obs*R-squared 1.176089 Prob. Chi-Square(2) 0.5554
Scaled explained SS 0.791218 Prob. Chi-Square(2) 0.6733
Test Equation:
Dependent Variable: RESID^2
Method: Least Squares
Sample: 2009Q1 2016Q4
Included observations: 32
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 0.006365 0.007409 0.859092 0.3973
LOG(KMK) -3.04E-05 0.000277 -0.110083 0.9131
LOG(IHK) -0.001123 0.001110 -1.012420 0.3197
R-squared 0.036753  Mean dependent var 0.000285
Adjusted R-squared -0.029678  S.D. dependent var 0.000414
S.E. of regression 0.000420  Akaike info criterion -12.62517
Sum squared resid 5.11E-06  Schwarz criterion -12.48776
Log likelihood 205.0027  Hannan-Quinn criter. -12.57962
F-statistic 0.553249  Durbin-Watson stat 2.002595
Prob(F-statistic) 0.581029
Sumber: diolah menggunakan software eViews 9.0.

Karena hasil estimasi pada Tabel 9 sudah selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal
terbebas dari 3 masalah uji asumsi klasik, maka sebagai sumber dana kegiatan usaha riil yang dapat
berikutnya dapat diintepretasikan hasil estimasi pada mendorong perekonomian di Provinsi Jawa Barat.
Tabel 9. Secara umum, hasil estimasi pada Tabel 9 Pada kenyataannya, kredit modal kerja ditujukan
dapat ditulis dalam persamaan matematis berikut: untuk membeli persediaan barang dagangan atau
persediaan bahan baku, termasuk di dalamnya upah
Yt = 21,78 + 0,46KMKt* + 0,05IHKt + εt............. (3)
tenaga kerja. Penggunaan modal usaha ini akan
di mana meningkatkan laba perusahaan yang kemudian akan
εt = 1,23εt-1 – 0,33εt-2 + μ ................................... (4) meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja yaitu
*) Signifikan α = 5% dalam bentuk peningkatan daya beli, pendidikan, dan
kesehatan. Pada akhirnya, peningkatan kesejahteraan
Eka Budiyanti Peran Kredit Modal Kerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dalam Perekonomian di Provinsi Jawa Barat 153
tersebut akan meningkatkan perekonomian. 21
ekonomi dan pertumbuhan kredit modal kerja.
Hasil empiris ini sesuai dengan penelitian Secara rata-rata, pertumbuhan ekonomi Provinsi
sebelumnya yang dilakukan oleh Rachman dan Jawa Barat selama tahun 2009-2016 tumbuh sebesar
Sriyanto yang menunjukkan pengaruh positif dari 5,69 persen per tahun. Pertumbuhan kredit modal
kredit modal kerja terhadap perekonomian. Dari kerja yang disalurkan BPR di Provinsi Jawa Barat juga
penelitian yang dilakukan oleh Rachman dan Sriyanto, cukup tinggi, dengan rata-rata per tahun 9,90 persen
pengaruh kredit modal kerja terhadap perekonomian antara tahun 2009 sampai dengan tahun 2016.

Sumber: Bank Indonesia, 2016.


Gambar 2. Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi dan Kredit Modal Kerja Provinsi Jawa Barat
Tahun 2009-2016

Provinsi Jawa Timur sebesar 1,36 persen. Jika KESIMPULAN


dibandingkan dengan hasil yang diperoleh, pengaruh Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu
BPR Provinsi Jawa Barat memang tidak sebesar provinsi yang memiliki kinerja BPR yang baik.
pengaruh bank secara umum di Provinsi Jawa Timur, Sebagai agen pembangunan yang memiliki peran
namun dengan angka yang tidak terlalu terpaut jauh, strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi
angka tersebut masih dapat ditingkatkan. terutama perekonomian di daerah, BPR memiliki
Selain Rachman dan Sriyanto, hasil empiris potensi yang cukup besar di Provinsi Jawa Barat.
ini juga sesuai dengan penelitian lainnya seperti Hal ini dapat dilihat dari jumlah BPR yang cukup
Sumanto. Dalam penelitian Sumanto, pengaruh banyak di Provinsi Jawa Barat. Selama ini BPR terus
kredit modal kerja BPR terhadap pertumbuhan mendorong peran industri jasa keuangan dalam
ekonomi Provinsi Jawa Timur sebesar 0,80 persen. meningkatkan perekonomian di Provinsi Jawa Barat
Jika dibandingkan dengan hasil empiris Provinsi melalui penyaluran kreditnya. Dengan jumlah BPR
Jawa Barat, angkanya masih di bawah Provinsi Jawa yang banyak tersebut tentunya BPR memiliki potensi
Timur. Hal ini menunjukkan bahwa kredit modal menyalurkan kreditnya lebih besar. Salah satu kredit
kerja di Provinsi Jawa Timur lebih besar memberikan yang disalurkan oleh BPR Provinsi Jawa Barat, yaitu
pengaruh pada perekonomian. kredit modal kerja, secara empiris terbukti signifikan
Gambar 2 menunjukkan bahwa sejak tahun 2009- berpengaruh positif terhadap perekonomian
2016, pergerakan pertumbuhan ekonomi Provinsi Provinsi Jawa Barat. Artinya, kredit modal kerja yang
Jawa Barat seiring dengan pertumbuhan kredit disalurkan selama ini digunakan untuk mendorong
modal kerja. Hal ini mendukung hasil empiris bahwa perekonomian Provinsi Jawa Barat. Meskipun angka
terdapat hubungan positif antara pertumbuhan pengaruhnya masih sangat kecil namun hal ini dapat
menjadi acuan bagi BPR maupun pemerintah untuk
Sumanto, Op. Cit., hal. 48.
21
154 Kajian Vol. 23 No. 2 Juni 2018 hal. 143 - 154

terus meningkatkan peran atau kontribusi BPR Jaya, I. P. P.& Tisnawati, N. M. (2016). Seberapa
terhadap perekonomian dengan cara meningkatkan Besar Kontribusi BPR di Provinsi Bali terhadap
penyaluran kreditnya. Pertumbuhan Ekonomi di Bali. Jurnal Ekonomi
Dalam meningkatkan peran BPR dalam Pembangunan Universitas Udayana, 5(10), Oktober.
peningkatan perekonomian, diperlukan peran
Jotwani, D. & Singh, S. (2013). Bank Credit and GDP
serta pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas
Growth in India: A Study of Causality. Journal of
perekonomian. Peran DPR RI sebagai lembaga
IMS Group, 10(2), July-Dec.
tinggi negara yang melakukan fungsi pengawasan
juga sangat dibutuhkan agar dapat mendukung dan Korkmaz, S. (2015). Impact of Bank Credits on
mengawasi kebijakan yang dilakukan pemerintah Economic Growth and Inflation. Journal of
dalam rangka meningkatkan peran BPR. Dengan Applied Finance & Banking, 5(1).
adanya sinergi antara BPR dan pemerintah daerah Kornita, S. E.& Mayes, A. (2010). Analisis Peran Perbankan
diharapkan dapat meningkatkan pelayanan keuangan dalam Perekonomian. Jurnal Ekonomi, 18(1), Maret.
di daerah dan pada akhirnya akan meningkatkan
pertumbuhan ekonomi daerah. Rachman, H. Z. F. dan Sriyanto, A. (2012). Analisis
Kontribusi Investasi, Kredit Modal Kerja dan
Kredit Konsumsi terhadap Pertumbuhan
Ekonomi Jawa Timur. Jurnal Ekonomika dan
DAFTAR PUSTAKA Manajemen, 1(2), Oktober.
Sumanto, A. (2016). Pengaruh Kredit Investasi dan
Kredit Modal Kerja Terhadap Kesejahteraan
Masyarakat Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Jurnal
Buku Ekonomi dan Studi Pembangunan, 8(1), Maret.
Widarjono, A. (2013). Ekonometrika Pengantar dan Yurina. (2012). Kredit Bank Perkreditan Rakyat dan
Aplikasinya. Yogyakarta: UPP STIM YKPN. Pengaruhnya pada Perkembangan Usaha Mikro
Kecil dan Menengah di Kota Banda Aceh. Jurnal
Jurnal Ekonomika Indonesia, 1(1), Juni.
Alatan, T. S. D. & Basana, S. R. (2015). Pengaruh
Pemberian Kredit terhadap Ekonomi Regional Laporan/Dokumen Resmi
Jawa Timur. FINESTA, 3(1). Djohanputro, B. & Kountur, R. (2007). Non
Apriana, R. (2016). Analisis Kausalitas antara Performing Loan (NPL) Bank Perkreditan Rakyat
Penyaluran Kredit dengan Pertumbuhan (BPR). Laporan Penelitian kerjasama antara GTZ
Ekonomi (Studi Kasus pada BPD Provinsi Nusa dan Bank Indonesia.
Tenggara Barat). Jurnal Ilmiah Jurusan Ilmu Devi, L. (2016). The Impact of Rural Bank Loans on
Ekonomi, Vo. 4, No. 2, Fakultas Ekonomi dan Regional Economic Growth and Regional Poverty
Bisnis Universitas Brawijaya, Malang. in Indonesia. NZAE Conference Papers, 30 Juni.
Crouzille, C. M., NYS, E., & Sauviat, A. (2012).
Contribution of Rural Banks to Regional Skripsi
Economic Development: Evidence from the Silitonga, G. P. (2011). Pengaruh Penyaluran Kredit
Philippines. Regional Studies, 46(6). dan Konsumsi terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Duican E. R. & Popa, A. (2015). The Implications of di Kota Pematangsiantar. Skripsi. Fakultas
Credit Activity on Economic Growth in Romania. Ekonomi Universitas Sumatera Utara, Medan.
Procedia Economics and Finance, 30. Syahfitri, I. (2013). Analisis Kredit Perbankan dan
Edi, B. Q. R. & Hadi, S. (2012). Efektivitas Bank Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia. Skripsi.
Perkreditan Rakyat (BPR) dalam Rangka Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, Bogor.
Membangun Ekonomi Kerakyatan di Daerah
Pedesaan. Jurnal Ekonomi Relasi, Vol. 16. Internet
Sahlan, Peran BPR bagi Usaha Mikro Sangat Diperlukan -
Inggrid. (2006). Sektor Keuangan dan Pertumbuhan
Dengan Proses Mudah dan Cepat, (online), (http://
Ekonomi di Indonesia: Pendekatan Kausalitas
[Link]/article/20132/peran-bpr-bagi-
dalam Multivariate Vector Error Correction
usaha-mikro-sangat-diperlukan-dengan-proses-
Model (VECM). Jurnal Manajemen dan
mudah-dan-cepat, diakses pada 27 April 2017).
Kewirausahaan, 8(1).

You might also like