0% found this document useful (0 votes)
39 views15 pages

Untitled

Uploaded by

Busir Rizchi
Copyright
© All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
39 views15 pages

Untitled

Uploaded by

Busir Rizchi
Copyright
© All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF or read online on Scribd
Bupati Bekase PERATURAN I3UPATI BEKASI NOMOR 35 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PEMANFAATAN RUANG PADA RUANG KAWASAN I'ERMUKIMAN PERKOTAAN, KAWASAN PERUNTUKKAN INDUSTRI DAN GARIS SEMPADAN Menimbang Mengingat DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BEKASI, a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 84 Peraturan Daerah Kabupaten Bekasi Nomor 12 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bekasi Tahun 2311-2031, terbatas pada pemanfaatan ruang kawasan permukiman perkotaan dan kawasan peruntukan indastri, serta sempadan, perlu adanya ketentuan yang mengatur tentang penyelenggaraan pemanfatan ruar g; b. bahwa berdasarkan pertimbangan _sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu ditetapkan Peraturan Bupati tentang enyelenggaraan Pemanfaatan Ruang di Kabupaten Bekasi. 1, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan —Daerah-daerah = Kabupaten dalam Lingkungan Pro>insi Djawa Barat (Berita Negara Tahun 1950); 2, Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 3. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dar. Menengah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4866) 4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nemor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indon¢ sia Nomor 5038); 10. 1. 12, 13. 14, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan daa Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negari Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tamibahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor £059}; Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 7, Tambahan Lemba an Negara Republik Indonesia Nomor 5188); Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan _—_—Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor £234); Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun (Lembaren Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor {:252); Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor §:230); Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan (Lemnbaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 45, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5512); Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun ‘1014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Iidonesia Nomor 5530); Undang-undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Norior 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5492); Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemzrintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun :!014 Nomor 292, Tambahan Lembaran ‘Negara Republik I1donesia Nomor 5601); Peraturan Pemeriatah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Iidonesia Nomor 4833); 15. 16, 17, 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24, 25. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksinaan Undang - Undang Nomor 28 Tahun 2002 ten:ang Bangunan Gedung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 83, Tambahan Lemba ‘an Negara Republik Indonesia Nomor 4532); Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun :2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); Peraturan Pemeriitah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata ‘%uang Wilayah (Lembaran Negara Republik Indones a Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3696}; Peraturan Pemeriatah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indones a Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103); Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan iLembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5285); Peraturan Pemeriatah Nomor 142 tahun 2015 tentang kawasan industry (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Noror 365, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5806); Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2014 tentang Pers turan Pelaksana Atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan; Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun. 2008 tentang Penataan Ruang Kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, Cianjur; Peraturan Menteri_ Perdagangan Republik Indonesia Nomor 90/M-DAC:/PER/12/2014 tentang Penataan dan Pembinaan Gudang; Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyerahan Prasarana, Sarana dan Utilitas Perumahan dan Permukiman di Daerah; Peraturan Merteri Pekerjaan Umum Nomor 41/PRT/M/2007 tentang Pedoman Kriteria Teknis Kawasan Budidaya; Menetapkan 26. 27. 28. 29. 30. Peraturan Daerah Kabupaten Bekasi Nomor 6 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Kabupaten Bekasi (Lembaran Daerah Kabupaten Bekasi Tahun 2008 Nomor 6); Peraturan Daerah Kabupaten Bekasi Nomor 8 Tahun 2011 tentang HVerubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Bekasi Nomor 6 Tahun 2009 tentang Pengendalian Perianfaatan Ruang dan Retribusi Izin Pemanfaatan Ruang (Lembaran Daerah Kabupaten Bekasi Tahun 2011 Nomor 8); Peraturan Daerah Kabupaten Bekasi Nomor 12 Tahun 2011 tentang Rer-cana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bekasi Tahun 2011-2031 (Lembaran Daerah Kabupaten Bekasi Tahun 2011 Nomor 12); Peraturan Daerah Kabupaten Bekasi Nomor 14 Tahun 2011 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Daerah Kabupaten Bekasi Tahun 2011 Nomor 14). Peraturan Daerat Kabupaten Bekasi Nomor 8 Tahun 2014 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Bekasi (Lembaran Daerah Kabupaten Bekasi Tahun 2014 Nomor 8). MEMUTUSKAN: PERATURAN BUPATI TENTANG PENYELENGGARAAN PEMANFAATAN RUANG, BABI KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Bupati ini yang dimal:sud dengan: 1. Daerah adalah Kabupaten Bekasi. 2. Pemerintah Daerah adalah Bupat dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Kabupaten Bekasi. 3. Bupati adalah Bupati Bekasi. 4. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bekasi, yang selanjutnya disingkat RTRW adalah hasil perencanaan tata ruang wilayah Kabupaten Bekasi yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah. 10, ae 13, 14, Rencana detail tata ruang yang selanjutnya disingkat RDTR adalah Tencana secara terperinci tentang tata ruang wilayah yang dilengkapi dengan peraturan zonasi. Kawasan budi daya adalah wilayal. yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar Fondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang menduk ing perikehidupan dan penghidupan. Kawasan permukiman perkotaan adalah kawasan permukiman yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permakiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Kawasan Peruntukan Industri adalah bentangan lahan yang diperuntukkan bagi kegiatan Indu stri berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan. Kawasan Industri adalah kawasan tempat pemusatan kegiatan Industri yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang yang dikembangkan dan dikelola oleh Perusahaan Kawasan Industri yang telah memiliki Izin Usaha Kawasan Industri. Industri adalah seluruh bentuk k:giatan ekonomi yang mengolah bahan baku dan/atau memanfaatkan sumber daya industri sehingga menghasilkan barang yang memp anyai nilai tambah atau manfaat lebih tinggi, termasuk jasa industri. Usaha Mikro adalah usaha prodi Ktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yanjy memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Usaha Mikro Kecil Menengah Usaha Kecil adalah usaha ekonorni produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangin atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan a:au bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi krriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur tentang Usaha Mikro Keil Menengah. Pergudangan adalah peruntukkar. ruang untuk kegiatan yang meliputi Penerimaan, penyimpanan dan pendistribusian barang serta kegiatan tersebut dapat menjadi bagian penunjang kegiatan industri maupun perdagangan. 15. 16. 17. 18. 19, 20. 21. 22. 23, 24. 25. Gudang adalah suatu ruangan tifak bergerak yang tertutup dan/atau terbuka dengan tujuan tidak untck dikunjungi oleh umum tetapi untuk dipakai khusus sebagai tempa’ penyimpanan barang yang dapat diperdagangkan dan tidak untuk k:butuhan send Perumahan adalah kumpulan ruraah sebagai bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun [Link] dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagei hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni. Kegiatan campuran adalah kegiaten yang memiliki dua fungsi atau lebih yang bersinergi (hunian, perkantoian, pusat perbelanjaan, pusat rekreasi dan sebagainya) yang memiliki integrasi fungsional dan fisik antar Komponen fungsi sehingga [Link] lahannya lebih intensif. Integrasi tersebut dapat berupa ketergantingan antar fungsi yang satu dengan yang lainnya, KLB yang tinggi, serta koneksi antar fungsi yang dihubungan dengan jaiur pedestrien. Kegiatan perdagangan dan jasa komersil adalah bagian dari kawasan budidaya yang difungsikan untuk. pengembangan kegiatan usaha yang bersifat komersial, tempat bekerja, tempat berusaha, serta tempat hiburan dan rekreasi, serta dapat memiliki fasilitas umum/sosial pendukungnya. Ruang Terbuka Hijau adalah suati: lahan atau kawasan yang ditetapkan sebagai ruang terbuka untuk tempat tumbuhnya tanaman/vegetasi yang berfungsi sebagai pengatur iklim mikro, daerah resapan air, barrier dan estetika kota. Ruang terbuka non hijau adalah ni ang terbuka di wilayah perkotaan yang tidak termasuk dalam kategori RTH, berupa Jahan yang diperkeras maupun yang berupa badan air. Prasarana adalah kelengkapan \lasar fisik lingkungan hunian yang memenuhi standar tertentu untuk kebutuhan bertempat tinggal yang layak, sehat, aman, dan nyaman. Sarana adalah fasilitas dalam lingkungan hunian yang berfungsi untuk mendukung penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi. Utilitas Umum adalah kelengkapan penunjang untuk pelayanan lingkungan hunian, Garis Sempadan Sungai adalah adalah garis maya di kiri dan kanan palung sungai yang ditetapkan seb agai batas perlindungan sungai, Koefisien Dasar Bangunan (KDB) :dalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai dasar bingunan gedung dan luas lahan/tanah Perpetakan/daerah perencanaan yung dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan. 26. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) idalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai bangunan gedung dan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan ying dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lir gkungan. 27. Saluran Udara Tegangan Ekstra ‘Tinggi (SUTET) adalah saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat telanjang (konduktor) di udara bertegangan nominal di atas 230 kV sesuai dengan standar di bidang ketenagalistrikan. 28. Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) adalah saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat telanjang (ko 1duktor) di udara bertegangan nominal di atas 35 kV sampai dengan 230) kV sesuai dengan standar di bidang ketenagalistrikan. 29. Advice Planning adalah peta rencna/petunjuk teknis perencanaan tata Tuang dalam suatu kawasan ruang tertentu BA3II MAKSUD, TUJUAN, [‘AN RUANG LINGKUP Bagian Kesatu Mak sud Pasal 2 Maksud Penyelenggaraan Pemanfaata1 Ruang merupakan penjabaran dari Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupa‘en Bekasi terbatas pada pemanfaatan dan pengendalian ruang kawasan permukiman perkotaan, kawasan peruntukan industri dan garis sempaden. Bagian Kedua Tujaan Pasal 3 Penyelenggaraan Pemanfaatan Ruang bertujuan untuk : @. memberikan arah dan pedoman dalam pelaksanaan pemanfaatan dan Pengendalian ruang kawasan permukiman perkotaan, kawasan peruntukan industri dan garis sempadan; b. mewujudkan tertib penyelenggaraan pemanfaatan dan pengendalian Tuang kawasan permukiman per erizin dapat dilanjutkan dengan tidak menambah luas lahan yang teleh dikuasai; b. Dalam hal izin yang diberikan tidak mempunyai jangka waktu, maka Kegiatan industri dapat dievaluasi kelayakannya untuk berada di Kawasan permukiman perkota:n dengan mempertimbangkan izin-izin yang sudah diberikan; ¢. usaha kecil mikro yang tidak berdampak besar dapat diperkenankan pada kawasan peruntukan permiukiman perkotaan; kegiatan industri sebagaimana dinaksud pada ayat 2 huruf a,b, dan ¢ diberikan jangka waktu paling laria 5 (lima) tahun dan selanjutnya agar menyesuaikan rencana tata ruang wilayah Kabupaten Bekasi. 10 a) (2) (3) (4) Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpij Pasal 10 Gudang secara terbatas sebagain ana dimaksud pada pasal 5 huruf e adalah gudang yang sudah memiliki izin sebelum diterbitkannya peraturan daerah mengenai rencana tata ruang dan kegiatan pergudangan baru dengan jenis dai skala tertentu. Gudang secara terbatas sebagai ana dimaksud pada ayat (1), dengan ketentuan sebagai berikut : a. Gudang yang sudah berizin sepanjang tidak mengganggu lingkungan, dipertahankan sampai berakh nya masa perizinan yang diberikan untuk kemudian disesuaikan dengan rencana detail tata Tuang; b. Dalam hal izin yang diberikan tidak mempunyai jangka waktu, maka gudang dievaluasi kelayakainya untuk berada di kawasan permukiman perkotaan dengen mempertimbangkan izin-izin yang sudah diberikan untuk kemud an disesuaikan dengan rencana detail tata ruang; Permohonan izin gudang baru yang terkait dengan kegiatan industri diarahkan pada lahan peruntukan industri; Permohonan izin gudang baru yang berfungsi sebagai pendukung Permukiman, gudang yang terintegrasi dengan kegiatan perdagangan, gudang yang terintegrasi dengan permukiman dengan Klasifikasi gudang kecil, dengan maksimal luas laha1 1000 m2 dapat diperkenankan pada kawasan permukiman perkotaan dngan persyaratan tambahan : Memiliki lahan parkir yang memadai Berada di lokasi jalan dengan ROW minimal 8 meter Memiliki instalasi pemadam kebikaran Memiliki jarak bagunan gudang ‘lan perumahan (SPPBE) tidak diperkenankan di lingkungan perumahan pada kawasan peruntukan permukiman perkotaan Bagian Kedua Ketentuan Teknis Femanfaatan Ruang pada Kawasan Perriukiman Perkotaan Pase] 12 Intensitas kegiatan pemanfaatan ruang pada kawasan peruntukan permukiman perkotaan diatur oleh [Link] Bupati tersendiri. MW BABIV KAWASAN PERUNTUKAN INDUSTRI Bagian Kesatu Kegiatan Pemanfaatan Ruang pala kawasan Peruntukan Industri Pasil 13 Pemanfaatan ruang pada kawasan peruntukan industri meliputi: mospogp a) (2) (3) a) (2) a) kawasan industri; industri infrastruktur industri gudang perumahan secara terbatas; kegiatan Perdagangan dan jasa kegiatan campuran Pesal 14 Kawasan industri sebagaimana diniaksud dalam pasal 13 huruf a adalah kawasan industri eksisting dan pembangunan kawasan industri baru dengan mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pembangunan kawasan industri baru adalah : a, kawasan industri dengan luas lahan paling sedikit 50 hektar dalam satu hamparan dengan membuet studi kelayakan terlebih dahulu; b. Dalam hal Kawasan Industri ying diperuntukkan bagi Industri Kecil dan Industri Menengah dapat dibangun dengan Iuas lahan paling sedikit 5 (lima) hektar dalam situ hamparan dengan membuat studi kelayakan terlebih dulu; Perusahaan Kawasan Industri dapat menyediakan infrastruktur Penunjang dan sarana penunjang ¢i dalam Kawasan Industri . Pasal 15 Pemanfaatan ruang pada kawascn peruntukan industri sebagaimana pasal 13 huruf b adalah industri eksisting dan industri baru yaitu industri menengah dan kecil yang tidak berpotensi menimbulkan Pencemaran lingkungan hidup yany; berdampak luas. Industri eksiting untuk industri besar serta industri menengah dan kecil pada kawasan peruntukan industri tidak diperkenankan untuk menambah luas lahan dari izin yang sudah diberikan. Pembangunan Industri wajib mem:nuhi jarak minimal 10 meter sebagai zona penyangga (buffer zone) dari katas terluar kepemilikan lahan dengan bangunan, 12 Pase! 16 Infrastruktur Industri sebagaimana dimaksud pada pasal 13 huruf ¢ paling sedikit meliputi: paoop Q) (2) G) ay (2) (3) (4) Fasilitas jaringan energi dan kelistrikan; Fasilitas jaringan telekomunikasi; Fasilitas jaringan sumber daya air «lan jaminan pasokan air baku; Fasilitas sanitasi; dan Fasilitas jaringan transportasi Pasal 17 Gudang sebagaimana dimaksud pada pasal 13 huruf d adalah gudang yang terkait langsung dan tidak ter Memiliki lahan parkir yang memidai - Mempertimbangkan akses keluar masuk kendaraan > Wajib menyusun analisa dampal: lalu lintas, analisa daya dukung dan daya tampung yang dikeluarkan oleh instansi terkait + ketentuan mengenai KDB, KLB menjadi kewenangan instansi terkait Terhadap kegiatan perumahan pada kawasan peruntukan industri wajib memenuhi persyaratan: a, diutamakan perumahan untuk p:nunjang kegiatan industri; b. tidak mengubah struktur ruarg serta tidak berpotensi mengubah peruntukan industri yang ditetar kan, dan ¢. memenuhi persyaratan dan ketentuan bangunan dan lingkungan yang diatur dalam peraturan perundangan. Sarana pemerintahan, sarana pen lidikan, dan sarana kesehatan baru diperkenankan di lahan peruntukan industri 13 Pasel 19 (1) Kegiatan perdagangan jasa sera kegiatan campuran sebagaimana dimaksud pada pasal 13 huruf f dan g meliputi kegiatan eksisiting dan baru (2) Kegiatan perdagangan jasa serti kegiatan campuran baru meliputi perkantoran industri, logistik, jas-jasa penunjang industri seperti jasa promosi dan informasi hasil industri, jasa ketenagakerjaan, kepabeanan dan jasa ekspedisi, jasa keuangai, sarana perniagaan, rumah makan, dengan ketentuan : a. Memiliki lahan parkir yang memadai b, memenuhi jarak tertentu dari bengunan industri dan pergudangan. ¢. ketentuan mengenai KDB dar KLB menjadi kewenangan instansi terkait Pasal 20 (1) Pemanfaatan ruang kawasan peruntukan industri selain industri, kawasan industri, infrastruktur penunjarg industri. serta gudang, tidak diperkenankan mengganggu fungsi Iawasan peruntukan industri. (2) Untuk bangunan yang sudah berdiri Pemerintah daerah dapat memberikan persyaratan tambakan untuk menjamin keselamatan, Kesehatan dan kenyamanan. (3) Pemanfaatan ruang selain industri, kawasan industri, infrastruktur penunjang industri dan gudang dierkenankan paling banyak 25% dari luas lahan yang dikuasai dalam satt hamparan (4) Dalam hal pemanfaatan ruang selain industri, kawasan industri infrastruktur industri dan gudang sudah melampaui 25% dari luas lahan yang dikuasai, maka tidak diperkenznkan pemanfaatan ruang baru. Bagian

You might also like