0% found this document useful (0 votes)
14 views7 pages

Pengawasan Camat APB Desa Kauditan

This document summarizes a research study on the supervision of village heads (Camats) in the implementation of village budgets (APB-Desa) in Kecamatan Kauditan, North Minahasa Regency. The study found that Camat supervision of APB-Desa implementation has not been optimized. Direct supervision through monitoring village implementation and taking corrective action when issues arise is still lacking. Indirect supervision through periodic reporting is conducted better. The study aims to further examine Camat supervision of APB-Desa to improve effectiveness and efficiency and prevent irregularities in village budget implementation.

Uploaded by

Fresha
Copyright
© All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
14 views7 pages

Pengawasan Camat APB Desa Kauditan

This document summarizes a research study on the supervision of village heads (Camats) in the implementation of village budgets (APB-Desa) in Kecamatan Kauditan, North Minahasa Regency. The study found that Camat supervision of APB-Desa implementation has not been optimized. Direct supervision through monitoring village implementation and taking corrective action when issues arise is still lacking. Indirect supervision through periodic reporting is conducted better. The study aims to further examine Camat supervision of APB-Desa to improve effectiveness and efficiency and prevent irregularities in village budget implementation.

Uploaded by

Fresha
Copyright
© All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

PENGAWASAN CAMAT DALAM PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN

DANA BELANJA DESA


(SUATU STUDI DI KECAMATAN KAUDITAN KABUPATEN MINAHASA UTARA)

SUWINLI JUHANDI LIJU


SALMIN DENGO
VERY LONDA

Abstract: this research is moving on from a phenomenon still the existence of weaknesses in the implementation of the
supervision of the head toward the implementation of APB-village, so that the objective of the research was to find out
how the supervision of the head in the implementation of APB-village Subdistricts Of North Minahasa Regency Kauditan.
This research uses a quantitative approach method. The informant is head of research/Secretary of the district, the village
chief, caretaker and administrator BPD LPM, in total as many as nine informants. Data collection using the guidelines
of the interview, while the analysis techniques used are interactive model analysis from Miles and Huberman.
The results showed a direct Supervision in the implementation of APB-head of the village has not been implemented
optimall by performing the construction directly against the Government in the preparation of APB village-Village;
perform evaluation of the draft local regulations about APB villages before submitted to the Governors; monitoring directly
into villages against the implementation of APB-Village; and down directly to the village if there is information or
reports about the discrepancies or irregularities. Indirect supervision towards the implementation of APB-well done by the
Village Head by requesting written reports periodically every quarter on the development and realisatio implementation of
APB-Village; ask for oral explanations and reports to the head of the village on the implementation of APB-coordination
meeting at the level of Village sub district; and do report evaluation of the realization of the APB villages each
semester that will be presented to the Governors.

Keywords: Supervision, Camat, Budget.

PENDAHULUAN penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban,


Implementasi kebijakan otonomi koordinasi penegakkan peraturan perundang-
daerah telah mendorong terjadinya perubahan, undangan, pembinaan penyelenggaraan
baik secara struktural, fungsional maupun pemerintahan desa dan/atau kelurahan, serta
kultural dalam tatanan penyelenggaraan pelaksanaan tugas pemerintahan lainnya yang
pemerintahan daerah. Salah satu perubahan belum dilaksanakan oleh pemerintah
yang sangat esensial yaitu menyangkut desa/kelurahan dan/atau instansi pemerintah
kedudukan, tugas pokok dan fungsi kecamatan lainnya di wilayah [Link] karena itu
yang sebelumnya merupakan “perangkat kedudukan Camat berbeda dengan kepala
wilayah” dalam rangka asas dekonsentrasi, instansi pemerintahan lainnya di kecamatan
berubah statusnya menjadi “perangkat daerah” karena penyelenggaraan tugas instansi
dalam kerangka asas desentralisasi. pemerintahan lainnya di kecamatan berada
Sebagai perangkat daerah, Camat dalam koordinasi Camat.
dalam menjalankan tugasnya mendapat Camat sebagai perangkat daerah juga
pelimpahan kewenangan pemerintahan dari mempunyai kekhususan dibandingkan dengan
bupati/walikota yang meliputi aspek perizinan, perangkat daerah lainnya dalam pelaksanaan
rekomendasi, koordinasi, pembinaan, tugas pokok dan fungsinya melaksanakan asas
pengawasan, fasilitasi, penetapan, desentralisasi, yaitu adanya suatu kewajiban
penyelenggaraan, dan kewenangan lain yang mengintegrasikan nilai-nilai sosio-kultural,
dilimpahkan. Selain itu Camat mengemban menciptakan stabilitas dalam dinamika politik,
tugas penyelenggaraan tugas umum ekonomi dan budaya, mengupayakan
pemerintahan di kecamatan khususnya tugas- terwujudnya ketenteraman dan ketertiban
tugas atribut dalam bidang koordinasi wilayah sebagai perwujudan kesejahteraan
pemerintahan terhadap seluruh instansi rakyat serta masyarakat dalam kerangka
pemerintah di wilayah kecamatan, koordinasi
membangun integritas kesatuan wilayah kepada Bupati/Walikota melalui Camat pada
([Link].32/2004; [Link]. 19/2008). setiap akhir tahun anggaran.
Dari amanat [Link]. 32 Tahun 2004 Pengawasan Camat terhadap
dan [Link].19 Tahun 2008 tersebut jelas bahwa pelaksanaan APB-Desa diperlukan untuk
Camat sebagai perangkat daerah mewujudkan efektivitas dan efisiensi, serta
kabupaten/kota mempunyai tugas dan mencegah penyimpangan dan penyelewengan
kewenangan pengawasan terhadap dalam [Link] tetapi dari hasil
pemerintahan desa. Tugas Camat dalam prasurvei yang dilakukan, khususnya di wilayah
pengawasan pemerintahan desa menurut Kecamatan Kauditan Kabupaten Minahasa
PP.19/2008 meliputi antara lain : melakukan Utara, masih ada kelamahan dalam pengawasan
pembinaan dan pengawasan tertib administrasi Camat terhadap pelaksanaan [Link]
pemerintahan desa; memberikan bimbingan, amanat [Link].6/2014, pengawasan Camat
supervisi, fasilitasi dan konsultasi pelaksanaan dilakukan sejak sebelum rancangan APB-Desa
administrasi desa; melakukan pembinaan dan ditetapkan yaitu melalui pembinaan,
pengawasan terhadap kepala desa dan pengarahan, dan evaluasi/penilaian terhadap
perangkat desa. UU. No.6 Tahun 2014 tentang rancangan APB-Desa; namun hal itu belum
Desa (pasal 115), dan [Link].43 Tahun 2014 dilakukan secara optimal, Camat lebih banyak
tentang Peraturan Pelaksanaan [Link].6 Tahun menerima atau menyetujui saja rancangan
2014 (pasal 154) mempertegas kembali bahwa APB-Desa yang disampaikan oleh pemerintah
Camat melakukan pembinaan dan pengawasan [Link] juga masih jarang turun langsung
desa yang dilakukan melalui antara lain : ke desa-desa untuk memantau dan memeriksa
fasilitasi penyusunan peraturan desa dan pelaksanaan APB-Desa atau untuk
peraturan Kepala Desa; fasilitasi administrasi mencocokkan realisasi APB-Desayang
tata pemerintahan desa; fasilitasi pengelolaan dilaporkan dengan kondisi/keadaan nyata di
keuangan desa dan pendayagunaan aset desa; [Link] juga masih jarang melakukan
fasilitasi penerapan dan penegakkan peraturan tindakan korektif terhadap pelaksanaan APB-
perundang-undangan; dan fasilitasi Desa yang kurang efektif.
pelaksanaan tugas Kepala Desa dan Perangkat Indikasi masalah tersebut menarik
Desa. untuk dikaji lebih mendalam melalui suatu
Pengawasan terhadap pengelolaan penelitian, sehingga dipilih judul penelitian
keuangan desa merupakan salah satu tugas dan “Pengawasan Camat Dalam Pelaksanaan
kewenangan [Link] diketahui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa : Studi
bahwa pengelolaan keuangan desa ditata dalam di Kecamatan Kauditan Kabupaten Minahasa
Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APB- Utara”
Desa) yang ditetapkan setiap tahun dengan
TINJAUAN PUSTAKA
Peraturan [Link] [Link].6 Tahun 2014
Konsep Pengawasan
dan [Link].43 Tahun 2014 bahwa rancangan
Dalam ilmu manajemen, pengawasan
Peraturan Desa tentang APB-Desa setelah
(controlling) adalah merupakan salah satu
disepakati bersama oleh Kepala Desa dan BPD,
fungsi pokok daripada [Link]
disampaikan kepada Bupati/Walikota melalui
(dalam Siagian 2000) misalnya menyebut
Camat untuk dievaluasi. Laporan realisasi
fungsi-fungsi manajemen terdiri dari
pelaksanaan APB-Desa disampaikan oleh
perencanaan (planning) pengorganisasian
Kepala Desa kepada Bupati/Walikota melalui
(organizing), pemberian komando
Camat setiap semester tahun berjalan,
(commanding), pengkoordinasian
sedangkan laporan pertanggung jawaban
(coordination), dan pengawasan (controlling).
realisasi pelaksanaan APB-Desa disampaikan
Luther Gullick (dalam Hasibuan, 2006)
menyebutkan fungsi-fungsi manajemen menjamin kesinambungan, dan meningkatkan
meliputi : perencanaan (planning), kualitas hidup masyarakat; (2) Anggaran
pengorganisasian (organizing), diperlukan karena Adanya kebutuhan dan
pengadaan/penyusunan sfat (staffing), keinginan nasyarakat yang tidak terbatas dan
pemberian bimbingan (directing), terus berkembang, sedangkan sumber daya
pengkoordinasian (coordinating), pelaporan yang ada terbatas. Anggaran diperlukan karena
(reporting), dan pengawasan (controlling). adanya masalah keterbatasan sumber daya
Harold Koonts dan O’Donnel (dalam Siagian, (scarcity of resources), pilihan (choice), dan
2000) mengatakan fungsi-fungsi manajemen trade offs; (3) Anggaran diperlukan untuk
adalah planning, organizing, staffing, directing, meyakinkan bahwa pemerintah telah
dan [Link] (terjemahan 2000) bertanggung jawab terhadap rakyat
menyebut fungsi-fungsi manajemen terdiri dari
Konsep Anggaran Pendapatan dan Belanja
planning, organizing, actuating, dan
Desa
[Link] dan Wankel (2000)
Hal-hal yang berkenaan dengan
menyebut ada empat fungsi utama manajemen
keuangan desa (Anggaran Pendapatan dan
yaitu planning, organizing, leading,
Belanja Desa) sekarang ini diatur dalam
[Link] Jerry (dalam Manullang,
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang
2014) menulis ada lima fungsi manajemen yaitu
Desa (pasal 71-75), dan Peraturan Pemerintah
planning, organizing, staffing, leading, dan
Nomor 43 Tahun 2014 Tentang Peraturan
controlling.
Pelaksanaan [Link].6 Tahun 2014 (pasal 90-
KonsepAnggaran Sektor Publik 106).
Anggaran (budget) menurut Pada pasal 71 [Link].6/2014
Governmental Accounting Standard Board disebutkan, keuangan desa adalah semua hak
(GASB), seperti dikutib oleh Sujarweni (2015) dan kewajiban desa yang dapat dinilai dengan
adalah rencana operasional keuangan, yang uang serta segala sesuatu berupa uang dan
mencakup estimasi pengeluaran yang barang yang berhubungan dengan pelaksanaan
diusulkan, dan sumber pendapatan yang hak dan kewajiban [Link] dan kewajiban
diharapkan untuk membiayainya dalam periode tersebut menimbulkan pendapatan, belanja,
waktu tertentu. Sujarweni (2005) menjelaskan pembiayaan, dan pengelolaan keuangan
bahwa isi dari anggaran adalah rencana [Link] pada pasal 73 disebutkan
kegiatan dalam suatu periode yang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APB-
direpresentasikan dalam bentuk rencana Desa) terdiri atas bagian pendapatan, belanja,
pendapatan dan belanja dalam satuan moneter. dan pengeluaran.
Anggaran sektor publik merupakan Rancangan Anggaran Pendapatan dan
pertanggung jawaban dari pemegang Belanja Desa (APB-Desa) diajukan oleh Kepala
manajemen organisasi publik untuk Desa dan dimusyawarahkan bersama Badan
memberikan informasi tentang segala aktivitas Pemusyawaratan Desa (BPD).Sesuai dengan
dari kegiatan organisasi kepada pihak pemilik hasil musyawarah tersebut Kepala Desa
organisasi atas pengelolaan dana publik dan menetapkan ABP-Desa setiap tahun dengan
pelaksanaannya berupa rencana-rencana Peraturan [Link] Peraturan Desa
program yang dibiayai dengan uang publik. tentang APB-Desa disampaikan kepada
Mardiasmo (2002) mengemukakan Bupati/Walikota melalui Camat untuk
bahwa anggaran sektor publik penting dievaluasi.
karenatiga alasan : (1) Anggaran merupakan
Konsep Pengawasan Camat Dalam
alat penting bagi pemerintah untuk
Pelaksanaan APB-Desa
mengarahkan pembangunan sosial-ekonomi,
Kewenangan Camat menangani METODE PENELITIAN
sebagian urusan otonomi daerah yang Jenis Penelitian
dilimpahkan oleh Bupati/walikota meliputi Dalam penelitian ini penulis
aspek : perizinan, rekomendasi, koordinasi, menggunakan pendekatan kualitatif dengan
pembinaan, pengawasan, fasilitasi, penetapan, jenis penelitian deskriptif.
penyelenggaraan, dan kewenangan lain yang
Fokus Prenelitian
dilimpahkan. Pelaksanaan kewenangan Camat
fokus penelitian ini adalah pengawasan
tersebut mencakup penyelenggaraan urusan
Camat terhadap pelaksanaan APB-Desa. Fokus
pemerintahan pada lingkup kecamatan sesuai
penelitian tersebut didefinisikan sebagai upaya
peraturan [Link]
atau tindakan-tindakan yang dilakukan oleh
sebagian wewenang bupati/walikota kepada
Camat untuk memastikan bahwa pelaksanaan
Camat dilakukan berdasarkan kriteria
APB-Desa sesuai dengan rencana APB-Desa
eksternalisasi dan [Link] dimaksud
yang sudah ditetapkan dengan Peraturan Desa,
dengan “eksternalitas” adalah kriteria
dan terhindar dari segala bentuk penyimpangan
pelimpahan urusan pemerintahan dengan
dan penyelewengan. Upaya dan tindakan
memeperhatikan dampak yang timbul sebagai
tersebut meliputi : a. Pengawasan langsung
akibat dari penyelenggaraan suatu urusan
ialah pengawasan yang dilakukan sendiri oleh
pemerintahan; apabila dampak yang
Camat terhadap kegiatan yang sedang
ditimbulkan bersifat internal kecamatan, maka
dijalankan sehubungan dengan pelaksanaan
urusan pemerintahan tersebut menjadi
APB-Desa. Pengawasan langsung ini dapat
kewenangan [Link] yang dimaksud
berbentuk : inpeksi langsung, on-the-spot
dengan “efisiensi” adalah criteria pelimpahan
observation, dan on-the-spot report; dan
urusan pemerintahan dengan memperhatikan
[Link] tidak langsung yaitu pengawasan
dayaguna tertinggi yang dapat diperoleh dari
yang dilakukan melalui laporan yang
penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan di
disampaikan oleh pemerintah desa, yang dapat
lingkup kecamatan; apabila urusan
berbentuk tertulis maupun lisan tentang
pemerintahan lebih berdayaguna ditangani oleh
pelaksanaan APB-Desa.
kecamatan, maka urusan tersebut menjadi
kewenangan Camat. Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini pengawasan Penelitian dilaksanakan di desa-desa
Camat dalam pelaksanaan APB-Desa dilihat dalam wilayah Kecamatan Kauditan. Dari 12
berdasarkan konsep pengawasan dari Terry Desa yang ada, diambil secara acak sebanyak 4
(2000), yang mengemukakan bahwa desa sebagai lokasi sampel penelitian, yaitu :
pengawasan terdiri dari suatu proses yang Desa Kauditan Dua, Desa Kawiley, Desa
dibentuk oleh tiga macam langkah yang bersifat Kaasar, dan Desa Watudambo Dua.
universal yaitu : (1) mengukur hasil pekerjaan, Informan
dengan cara observasi/pengamatan secara Informan dalam penelitian ini diambil
pribadi, laporan-laporan tertulis, dan laporan- dari unsur Pemerintah Kecamatan, unsur
laporan lisan; (2) membandingkan hasil Pemerintah Desa, unsur BPD, dan unsur
pekerjaan dengan standard dan memastikan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa
perbedaan apabila ada perbedaan, dan (3) (LPMD) di 4 (empat) desa lokasi sampel
mengoreksi penyimpangan yang tidak penelitian(Desa Kawiley, DesaWatudambo II,
dikehendaki melalui tindakan perbaikan. Desa Kauditan II, Desa Kaasar). Informan yang
berhasil diwawancarai dalam penelitian ini
adalah sebanyak 9 orang. .
Pengawasan langsung camat dengan
mencocokkan laporan yang disampaikan oleh
Teknik Pengumpulan Data
kepala desa dengan kondisi nyata di lapangan
Berdasarkan pendapat tersebut maka
juga belum secara optimal dilakukan. Camat
teknik pengumpulan data yang digunakan
jarang turun ke desa memeriksa hasil
dalam penelitian ini ialah sebagai berikut :
pelaksanaan program dan kegiatan yang didanai
1. Wawancara (Interview). Teknik
APB-Desa, dan biasanya hanya menugaskan
wawancara ini digunakan untuk
bawahannya untuk melakukan hal tersebut.
memperoleh data primer dari
2. Pengawasan Tidak Langsung
responden/informan. Wawancara
Pengawasan tidak langsung oleh camat
dilakukan dengan dua cara yaitu
terhadap pelaksanaan APB-Desa dilakukan
wawancara terpimpin (interview quide)
terutama dengan permintaan laporan tertulis
dengan menggunakan pedoman, dan
secara berkala (setiap triwulan) kepada kepala
wawancara bebas.
desa tentang pelaksanaan atau perkembangan
2. Dokumentasi. Teknik dokumentasi ini
realisasi APB-Desa dan permasalahannya.
digunakan untuk memperoleh data
Pengawasan secara tidak langsung
sekunder yaitu data yang telah terolah
terhadap pelaksanaan dan realisasi APB-Desa
atau tersedia dikantorCamat atau kantor
juga dilakukan camat dengan meminta laporan
Kepala Desa.
dan penjelasan secara lisan kepada kepala desa
3. Observasi. Teknik observasi ini
pada rapat koordinasi atau pertemuan resmi
digunakan untuk mengamati secara
lainnya tingkat kecamatan.
langsung peristiwa/fenomena yang
diteliti, guna melengkapi data primer PEMBAHASAN
hasil wawancara. Pengawasan langsung camat terhadap
pelaksanaan APB-Desa dilakukan sejak
Teknik Analisis Data
penyusunan rancangan APB-Desa yaitu dengan
Dalam hal ini metode atau teknik
memberikan pembinaan kepadapemerintah
analisis data yang digunakan ialah model
desa (kepala desa) dalam hal penyusunan APB-
analisis interaktif dari Miles dan Hubermann
Desa. Pembinaan dilakukan oleh Camat baik
dalam Sugiono(2009).Proses analisis data
melalui rapat koordinasi tingkat kecamatan
model interaktif diawali dengan kegiatan
maupun dalam pertemuan resmi lainnya dengan
mempelajari dan menelaah data (data
kepala-kepala desa. Dengan adanya pembinaan
collection), kemudian dilanjutkan dengan
camat kepada para kepala desa dalam hal
reduksi data (data reduction), selanjutnya
penyusunan APB-Desa diharapkan APB-Desa
penyajian data (data display), dan berakhir pada
yang disusun pada setiap desa akan lebih tepat
pembuatan kesimpulan atau verifikasi (conclust
sesuai dengan kondisi dan kebutuhan desa
drawing and verivication)
setempat.
HASIL PENLITIAN DAN PEMBAHASAN
Pengawasan langsung Camat juga
Hasil Penelitian
dilakukan dengan melakukan evaluasi langsung
1. Pengawasan Langsung
terhadap rancangan peraturan desa tentang
Pengawasan langsung camat terhadap
APB-Desa sebelum disampaikan kepada
pelaksanaan APB-Desa dilakukan sejak
bupati. Sesuai dengan ketentuan [Link].6
penyusunan rancangan APB-Desa yaitu dengan
Tahun 2014 dan [Link].43 Tahun 2014 bahwa
memberikan pembinaan dan pengawasan secara
rancangan peraturan desa yang sudah disepakati
langsung terhadap penyusunan rancangan APB-
oleh kepala desa dan BPD disampaikan kepada
Desa melalui rapat koordinasi tingkat
bupati melalui camat untuk dievaluasi.
kecamatan.
Berdasarkan pengakuan para informan
penelitian ini bahwa rancangan peraturan desa laporan masyarakat tentang
tentang APD-Desa yang disampaikan kepala ketidaksesuaian ataupun penyimpangan.
desa kepada Bupati sebelumnya dilakukan Namun semua metode pengawasan
evaluasi oleh Camat, dan jika masih terdapat langsung tersebut belum secara optimal
kekurangan maka diberi petunjuk dan arahan dilaksanakan oleh Camat dalam
untuk perbaikan/penyempurnaannya. Namun pelaksanaan APB-Desa.
biasanya Camat langsung menyetujui 2. Pengawasan tidak langsung terhadap
rancangan peraturan desa yang disampaikan pelaksanaan APB-Desa diakukan dengan
oleh Kepala Desa. oleh Camat dengan meminta laporan
Hasil penelitian juga mengungkapkan tertulis secara periodik setiap triwulan
bahwa pengawasan langsung Camat dalam tentang perkembangan dan realisasi
pelaksanaan APB-Desa juga dilakukan dengan pelaksanaan APB-Desa; meminta laporan
turun langsung ke desa-desa untuk memantau lisan dan penjelasan kepada kepala desa
pelaksanaan program/kegiatan yang didanai tentang pelaksanaan APB-Desa pada rapat
oleh [Link] supervisi langsung ini koordinasi tingkat kecamatan; dan
camat mencocokkan laporan yang disampaikan melakukan evaluasi terhadap laporan
oleh kepala desa dengan kondisi nyata, dan jika realisasi APB-Desa setiap semester yang
menemukan ketidaksesuaian atau akan disampaikan kepada bupati.
penyimpangan camat langsung memberikan Pengawasan tidak langsung tersebut lebih
teguran kepada kepala desa dan kemudian baik dan optimal dilakukan oleh camat
memberikan petunjuk/arahan perbaikannya. dibanding dengan pengawasan langsung.
Namun kegiatan pengawasan seperti itu belum
Saran
secara optimal dilakukan langsung oleh Camat,
Berdasarkan hasil penelitian dapat
tetapi lebih banyak menugaskan kepada
direkomendasikan beberapa hal yang perlu
bawahannya. Hasil penelitian tersebut secara
diperbaiki atau ditingkatkan sehubugan
keseluruhan menunjukkan bahwa
dengan pengawasan Camat dalam
pengawasansecara langsung terhadap
pelaksanaan APB-Desa di Kecamatan
pelaksanaan APB-Desa sudah dilakukan oleh
Kauditan, yaitu :
Camat, namun belum secara optimal.
1. Pengawasan langsungCamat dalam
KESIMPULAN DAN SARAN pelakanaan APB-Desa hendaklah
Kesimpulan dilakukan dengan lebih baik lagi. Camat
Berdasarkan hasil penelitian hendaklah lebih banyak atau lebih sering
sebagaimana telah dideskripsikan dan dibahas turun langsung ke desa-desa untuk melihat
pada bab sebelum ini dapat ditarik kesimpulan langsung pelaksanaan program dan
akhir sebagai berikut : kegiatan yang dibiayai dengan APB-Desa
1. Pengawasan langsung Camat dalam serta hasil-hasil yang [Link] juga
pelaksanaan APB-Desa dilaksanakan hendaklah mencari informasi langsung dari
dengan melakukan pembinaan langsung masyarakat setempat tentang pelaksanaan
terhadap pemerintah desa dalam APB-Desa.
penyusunan APB-Desa; melakukan 2. Dalam hal pengawasan tidak langsung,
evaluasi terhadap rancangan peraturan Camat hendaklahlebih teliti dalam
daerah tentang APB-Desa sebelum mempelajari laporan tertulis realiasi
disampaikan kepada bupati; melakukan pelaksanaan APB-Desa yang disampaikan
pemantauan langsung ke desa-desa oleh kepala desa dan mencocokkannya
terhadap pelaksanaan APB-Desa; dan turun dengan kondisi nyata yang ada atau dengan
langung ke desa apabila ada informasi atau informasi yang diperoleh dari masyarakat;
artinya camat tidak boleh langsung percaya Stoner.L.J. dan C. Wankel. 2000. Manajemen
dan menerima laporan tertulis yang (terjemahan). Jakarta: Intermedia.
disampaikan oleh kepala desa sebelum Sugiono. 2009. Metode Penelitian
meneliti kebenarannya. [Link]: Alfabetha.
Sujarweni.W.V. [Link] Sektor Publik:
DAFTAR PUSTAKA
Teori. [Link]:
Hasibuan.M. [Link]-Dasar
Pustaka Baru Pelajar.
[Link]: Gunung Agung.
Terry,R G. [Link]-Asas Manajemen
Manullang, L.A. [Link] dan Aplikasi
(terjemahan). Bandung: Alumni.
Manajemen: Komprehensif
[Link]: Mitra Wacana
Media. Sumber lain (Dokumen) :
Mardiasmo. 2002. Otonomi dan Manajemen Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang
Keuangan [Link]: ANDI Desa.
Offset. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014
Siagian.S.P. [Link] Administrasi, tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-
Jakarta: Gunung Agung. Undang Nomor 6 Tahun 2014.

You might also like