Mass Balance in Palm Carbon Cycle
Mass Balance in Palm Carbon Cycle
Abdul Kahar
Department of Chemical Engineering, Faculty of Engineering, Mulawarman University
Gunung Kelua Jl. Sambaliung No. 9, Samarinda 75119, Indonesia
Telp./Faks: (0541) 736834/(0541) 749315
*
E-mail: [Link]@[Link]
Abstrak- Perkembangan industri kelapa sawit Indonesia, tidak hanya berkontribusi positif pada sektor
ekonomi. Tantangan terbesarnya terletak pada isu-isu negative pengembangan sawit, yaitu isu lingkungan.
Perubahan penggunaan lahan (land use change), pembukaan hutan, deforestasi, lahan gambut untuk
ekspansi perkebunan sawit menjadi isu lingkungan karena dianggap mengganggu keseimbangan
greenhouse gasses. Penggunaan pupuk dan pengolahan POME yang tidak sesuai standar juga dapat
meningkatkan emisi CO2, yang pada akhirnya akan membuat penyimpanan karbon pada vegetasi dan tanah
menjadi berkurang. Tanah merupakan penambat karbon organik yang paling potensial dibanding
tumbuhan. Tanah merupakan organic carbon pool (reservoir) yang mengakumulasi karbon organic masuk
dan karbon organic keluar. Karbon yang terakumulasi dipengaruhi oleh biomassa diatas permukaan tanah,
biomassa dibawah permukaan tanah, biomassa mati, pohon mati, serasah dan bahan organik tanah.
Sehingga perkembangan sawit dituding sebagai salah satu faktor yang berperan pada soil organic carbon
(SOC), soil carbon loss (SCL), net carbon balance (NCB), atau emisi greenhouse gasses (GHG). Dimana
hal ini, merupakan komponen yang sangat penting dalam siklus karbon sawit yang berdampak pada iklim
global. Pendekatan neraca massa pada siklus karbon kelapa sawit mematuhi hukum kekekalan massa.
Massa karbon sawit sebelum dan sesudah proses adalah tetap. Artinya total massa karbon kelapa sawit
selama proses tidak berubah, hanya terjadi perubahan fase, yaitu padat, cair, dan gas.
Pada siklus karbon sawit terjadi aliran massa perkebunan sawit. Siklus karbon ini, minimal
karbon dari suatu proses ke proses yang lain. melibatkan beberapa sub-sistem; yaitu lahan kebun
Transfer dan perubahan ini akan membentuk suatu sawit; Pabrik Kelapa Sawit (PKS), dan Instalasi
kesetimbangan karbon masuk dan keluar dalam Pengolahan Limbah Cair Kelapa Sawit (IPAL).
rangkaian siklus. Sebagaimana disajikan pada Pertanyaan yang perlu dijawab dalam hal
gambar 1.1, terlihat siklus karbon pada lahan ini, adalah bagaimana gambaran model aliran
(perpindahan) organic carbon pada keseluruhan tanaman, proses produksi, pembakaran, pengolahan
proses produksi yang terjadi pada lahan perkebunan POME, biodegradasi dan transportasi.
kelapa sawit. Bagaimana pendekatan neraca massa Dari siklus karbon sawit tersebut akan
menelusuri jejak karbon sawit. membentuk kesetimbangan perpindahan massa
(mass transfer) karbon organik, antara karbon yang
Diagram Alir Karbon Sawit masuk, keluar dan terakumulasi. Pada gambar 2,
Siklus karbon sawit, pada gambar 1, dapat terlihat sub-sistem yang terlibat dalam siklus
disederhanakan menjadi diagram alir karbon sawit karbon sawit; yaitu lahan kebun kelapa sawit;
total, seperti pada Gambar 2. Terlihat, bahwa pabrik kelapa sawit (PKS), instalasi pengolahan air
karbon terus-menerus mengalir di antara atmosfer, limbah (IPAL) POME; dan transportasi.
tanaman sawit, tanah melalui fotosintesis, respirasi
Gambar 2. Diagram alir karbon organic total pada siklus karbon sawit
Pengolahan TBS di PKS selain (Sarmah et al., 2004; Mubekti, 2014; Hasanudin &
menghasilkan produk utama CPO dan PKO, juga Haryanto, 2018; Sarmah et al., 2004).
menghasilkan limbah padat berupa tandan kosong,
serat, cangkang dan limbah cair yang disebut Neraca Massa Karbon Sawit
POME. Serat dan cangkang selanjutnya Neraca massa merupakan perhitungan
dimanfaatkan sebagai bahan bakar di boiler, tandan kesetimbangan kuantitatif dari semua bahan masuk,
kosong dimanfaatkan di lahan kebun sawit sebagai bahan terakumulasi, bahan terbuang dan bahan
pupuk. Sedangkan POME diolah terlebih dahulu di keluar pada suatu sistem proses dalam waktu
IPAL, untuk menurunkan konsentrasi bahan-bahan tertentu. Perhitungan neraca ini digunakan untuk
organik terlarut yang tinggi. IPAL POME mencari variable proses yang belum diketahui
umumnya merupakan sistem kolam terbuka yang berdasarkan data variabel-variabel proses yang
terdiri dari kolam anerobik, fakultatif dan aerobic. telah diketahui. Persentase kehilangan massa
Biodegradasi aerobic dan anaerobic bahan-bahan diperoleh dengan cara membagi selisish jumlah
organic pada pelepah daun, semak belukar, TKKS massa bahan masuk (umpan) dan bahan keluar
dan POME menghasilkan CO2 dan CH4. POME (produk) terhadap jumlah massa bahan masuk ke
yang telah diolah di IPAL sebagai POME effluent sistem proses (Hadiyarti et al., 2018).
selanjutnya akan dimanfaatkan sebagai pupuk di Untuk memudahkan penyelesaian
lahan kebun sawit (land application). perhitungan kesetimbangan karbon pada siklus
Kebun sawit juga melepaskan CO2 dan CH4 karbon lahan kebun sawit, dilakukan dengan
ke udara lewat respirasi dan biodegradasi tandan membuat neraca massa berdasarkan bahan input,
kosong, pelepah daun dan biodegradasi POME di produk dan waste. Siklus Karbon pada lahan PKS,
IPAL secara aerobik dan anaerobik. Pada lahan sebagaimana Gambar 2, dapat disederhanakan
kebun sawit, CO2 yang dilepas merupakan proses seperti pada Gambar 3.
biodegradasi bahan organic, yang berasal dari hasil Pada perhitungan nerana massa karbon
proses respirasi akar, respirasi mikrobia di rizosfer, sawit, hanya bahan input dan bahan output dalam
respirasi dari dekompososisi serasah dan organisme sistem proses (unit proses dan unit operasi) yang
akan dimasukan. Artinya karbon yang dihitung masuk dalam perhitungan neraca massa karena
pada neraca massa adalah karbon yang masuk ke bahan bakar yang digunakan berasal dari bahan
dalam sistem proses. Misalkan pada pembakaran bakar fosil (solar). Kecuali jika menggunakan
serat dan cangkang pada boiler untuk menghasilkan biosolar (biodiesel) dari CPO, maka hasil
steam, karena serat dan cangkang tidak masuk pembakaran CO2 transportasi menjadi bagian dari
dalam aliran proses. Hanya sebagai bahan bakar serapan karbon sawit pada fotosintesis. Sedangkan
boiler. Sehingga memberi dampak pada akumulasi akumulasi karbon sawit terdapat pada pohon kelapa
emisi karbon di lahan perkebunan sawit. Tetapi sawit, tanah pada perkebunan, POME dalam
hasil pembakaran CO2 yang dihasilkan merupakan instalasi pengolahan limbah dan pada produk
bagian dari serapan karbon pada fotosintesis. minyak sawit (CPO dan PKO).
Sedangkan transportasi pengangkutan di PKS tidak
Sebagaimana terlihat pada gambar 3, tandan kosong, dan Serapan C Fotosintesis (CO2).
perhitungan karbon total sawit, bila tidak ada Karbon terakumulasi berada di pohon kelapa sawit
karbon terakumulasi, maka menggunakan dan tanah lahan sawit, sedangkan karbon keluar
persamaan 1 dan 2. Jika terdapat akumulasi karbon, adalah Tandan Buah Segas (TBS). Pada sub-sistem
maka menggunakan persamaan neraca 3 dan 4. PKS, karbon masuk berasal dari TBS, karbon keluar
Cinput = Coutput (1) adalah CPO, PKO, Tandan kosong, Serat,
(2) Cangkang dan POME. Dan pada sub-sistem IPAL,
C1 + C2 + C3 + C4 = C5 + C9 + C10 + C15 + C16 + C17
karbon masuk adalah POME influent, karbon
Cinput − Coutput = CAccumulation (3a) terakumulasi adalah karbon POME yang diolah
Cinput = Coutput + CAccumulation (3b) dalam IPAL. Karbon keluar adalah karbon hasil
olahan IPAL secara Anaerobik dan Aerobik berupa
C1 + C2 + C3 + C4 = C5 + C9 + C10 + C15 + C16 + C17 + C6 AKS + C7 AT + C14 AI (4) CO2, CH4, dan karbon dalam POME effluent yang
dimanfaatkan sebagai pupuk pada Land
Sumber-sumber Karbon Sawit application.
Dari persamaan neraca massa karbon kelapa
sawit total, terlihat bahwa karbon sawit terdiri atas Pupuk, Pestisida dan Herbisida
3 (tiga) sumber, yaitu karbon masuk, karbon keluar Pada perkebunan kelapa sawit, sumber emisi
dan karbon terakumulasi. Pada sub-sistem lahan Gas Rumah Kaca (GRK) berasal dari penggunaan
kebun sawit, karbon masuk berasal dari Pupuk, pupuk NPK, pestisida, dan fungisida. Total emisi
POME (effluent), Pelepah daun, semak belukar, Gas Rumah Kaca (GRK) adalah 0,50685 kg CO2
eq/biji. Emisi dari penggunaan pupuk NPK adalah kelapa sawit memiliki potensi menyimpan
0,1703 kg CO2 eq/biji atau 33,6% dari total emisi cadangan karbon yang besar (carbon sink). Pada
Gas Rumah Kaca (GRK) pada pembibitan kelapa fotosintesis kelapa sawit menyerap sekitar 161 ton
sawit. Emisi GRK penggunaan pestisida adalah CO2/Ha/tahun. Bila dikurangi CO2 yang diserap
11,025 kg CO2 eq/unit. Sedangkan emisi GRK dari pada respirasi, maka kebun kelapa sawit menyerap
penggunaan fungisida adalah 5,177 kg CO2 eq/unit CO2 sebesar 64,5 Ton CO2/Ha/tahun. CO2 yang
(Hakim et al., 2014). diserap selanjutnya diubah menjadi karbohidrat,
selanjutnya disebarkan ke seluruh tubuh tanaman
Tandan Kosong dan Serat dan akhirnya disimpan dalam tubuh tanaman.
Untuk setiap ton tandan buah segar (TBS) Proses penyimpanan karbon dalam tubuh tanaman
yang diproses di Pabrik Kelapa Sawit, hidup dinamakan sekuestrasi (C-sequestration)
menghasilkan 120-200 kg minyak sawit mentah (Mubekti, 2014; PASPI-Monitor, 2021).
(CPO), 230-250 kg tandan buah kosong, serat 130- Jumlah karbon tersimpan dalam tubuh
150 kg, dan 0,7 m3 limbah cair. Pada setiap ton tanaman hidup (biomassa) pada lahan perkebunan
pengolahaan TBS, PKS akan menghasilkan 20-23% sawit dapat menggambarkan banyaknya CO2 di
CPO, 5-7% PKO dan sisanya berupa limbah padat, atmosfer yang diserap. Sedangkan pengukuran
yaitu 20-23% tandan kosong, 10-12% serat dan 7- cadangan karbon yang tersimpan dalam tanaman
9% cangkang (Nasution and Limbong, 2019). mati (nekromassa) secara tidak langsung
Pengolahan 1 ton TBS akan menghasilkan menggambarkan CO2 yang tidak dilepaskan ke
limbah berupa tandan kosong kelapa sawit udara (Mubekti, 2014; PASPI-Monitor, 2021).
sebanyak 23% atau 230 kg, limbah cangkang (shell) Pada perkebunan kelapa sawit bahwa
sebanyak 6,5% atau 65 kg, wet decanter solid biomass production, CO2 fixation, photosynthesis,
(lumpur sawit) 4 % atau 40 kg, serabut (fiber) 13% absorbed radiation, respiration dan produksi O 2
atau 130 kg serta limbah cair sebanyak 50%. production berturut-turut adalah 36,5 t DM ha–1 yr–
Tandan kosong mengandung selulosa 41,3-46,5% 1
; 25,7 t CO2 ha–1 yr–1; 21-24 μmol m–2 s–1; 82,9 MJ
(C6H10O5)n, hemiselulosa 25,3-32,5% dan lignin m–2 yr–1; 96,5 t CO2 ha–1 yr–1; dan 18,7 t O2 ha–1 yr–
1
27,6-32,5% (Susanto et al., 2017). (Lamade and Bouillet, 2005). Selama 10-15 tahun,
kelapa sawit mampu menyimpan lebih dari 80 ton
Tabel 1. Pemanfaatan limbah PKS C ha-1. Jumlah karbon rata-rata yang ditambat oleh
Persentase tanaman kelapa sawit sekitar 60,4 t ha-1 atau rata-
Limbah per ton Manfaat
TBS, %
rata sekitar 2,44 t C ha-1 tahun-1 dan ekivalen dengan
Tandan kosong 20-22 Pupuk, land application 8,95 t CO2 ha-1 tahun-1 (Mubekti, 2014).
Wet decanter solid 3-4 Pupuk, land application
Cangkang 5-6 Bahan bakar boiler Soil Organic Carbon (SOC)
Serat (fiber) 12-14 Bahan bakar boiler
Limbah cair pabrik 60-65 Pupuk, land application
Tanah merupakan organic carbon pool
kelapa sawit (POME) (reservoir) yang mengakumulasi karbon organic
masuk dan karbon organic keluar dalam tanah
Selama proses pengolahan TBS menjadi (Siringoringo, 2014). Karbon yang terakumulasi
CPO dan PKO, pabrik kelapa sawit juga dipengaruhi oleh biomassa diatas permukaan tanah,
mengemisikan CO2 melalui limbah cair dan biomassa dibawah permukaan tanah, biomassa
padatnya; yaitu POME dan pembakaran serat dan mati, pohon mati, serasah dan bahan organik tanah.
cangkang di boiler (Arjuna and Santosa, 2018). SOC adalah salah satu bagian dari dinamika
Semua jenis limbah yang dihasilkan oleh PKS siklus karbon global yang melibatkan siklus karbon
dimanfaatkan kembali sebagai pupuk ataupun melalui tanah, tumbuh-tumbuhan, lautan dan
bahan bakar diboiler, sebagaimana terlihat pada atmosfer. Tanah mempunyai kapasitas
table 1. penyimpanan karbon yang sangat potensial
Berdasarkan basis bobot kering TKKS dibanding tumbuhan diatasnya (Clara et al., 2017).
mengandung bahan organik N, P, K dan Mg Perhatian terhadap stok SOC menjadi hal
berturut-turut 0,8%; 0,1-0,7%; 2,4-2,8%; dan 0,2- yang serius karena emisi karbon yang semakin
0,8%. Karenanya, TKKS dapat digunakan sebagai meningkat dari tanah akibat aktivitas pengolahan
pupuk organik yang dapat langsung disebar ke lahan untuk pertanian (Rahman et al., 2018).
lahan perkebunan sawit atau diinsenerasi terlebih Pengolahan lahan merupakan salah satu penyebab
dahulu (Bantacut and Pasaribu, 2015). menurunnya SOC karena pembalikan tanah
menyebabkan SOC mudah tercuci (leaching) dan
Serapan Karbon Kelapa Sawit meningkatnya kehilangan karbon akibat respirasi
Serapan karbon sawit terjadi pada (Berhongaray et al., 2017).
fotosintesis, kelapa sawit akan menyerap CO2 dari Kandungan soil organic carbon (SOC) lahan
udara dan akan melapas O2 ke udara. Karenanya, perkebunan sawit yang telah berumur 29 tahun
didapatkan 36% lebih rendah dibandingkan jumlah merupakan campuran air, serpihan kulit sawit dan
SOC pada hutan tropis (Rahman et al., 2018). residu lemak yang dihasilkan pada proses awal
Karbon organik merupakan salah satu parameter crude palm oil (CPO) (Poh & Chong, 2009;
kesuburan tanah disamping menjadi mitigasi Gunawan & Kahar, 2019).
keseimbangan GHG. Tanah merupakan penambat POME bersifat asam dengan pH 3.8-4.5,
karbon organik yang paling potensial dibanding konsentrasi senyawa organik yang tinggi sehingga
tumbuhan (Clara et al., 2017). COD dan BOD juga tinggi. POME mengandung
Cadangan karbon merupakan jumlah karbon karbohidrat, protein, dan lemak berturut-turut
yang tersimpan di dalam berbagai tempat dalam jumlah besar dengan komposisi 29.55%,
penyimpan (pool). Pool yang terpenting adalah 12.75%, dan 10.21% (Trisakti et al., 2017).
tanah, biomassa tanaman, dan jaringan tanaman Setiap ton POME akan mengemisikan
yang mati (nekromassa). C organik tanah tersimpan sekitar 19,4 kg CO2 ke udara (Arjuna and Santosa,
dalam bentuk senyawa organik dan sebagian kecil 2018). Pengolahan anaerobik konvensional
dalam bentuk karbonat. Tanah dan tanaman memiliki waktu tinggal 20-200 hari, memerlukan
mempunyai cadangan karbon yang bervariasi. C lahan yang luas dan methane capture yang sulit
organik di dalam tanah gambut berkisar antara 300- dilakukan (Shintawati et al., 2017).
800 t C/ha untuk setiap meter ketebalan gambut. PKS dengan kapasitas produksi CPO sebesar
Pada gambut dengan ketebalan 0,5-8 m, cadangan 35 juta ton/tahun menghasilkan POME ± 135 juta
C organik berkisar antara 200-6.400 t C/ha. Pada m3/tahun, CH4 sekitar 1.215 juta kg/tahun, yang
tanah mineral, C organik umumnya terkonsentrasi setara dengan emisi GRK sebesar 18.970 juta kg
pada lapisan 0-100 cm. Cadangan karbon tanah CO2 eq/tahun. Jadi untuk CPO mempunyai faktor
mineral berkisar antara 15-200 t C/ha, namun emisi GRK sebesar 542 kg CO2eq/ton CPO, dan
adakalanya dari 1 t sampai 900 t C/ha (Agus, 2013). untuk limbah POME mempunyai faktor emisi GRK
sebesar 140 kg CO2eq/m3 POME (Wijono, 2017).
Palm Oil Mill Effluent (POME)
POME merupakan limbah cair pabrik kelapa Tumbuhan Bawah Dan Nekromassa
sawit (LCPKS) yang sangat berpotensi Biodegradasi bahan organic anorganik, pada
menyebabkan masalah serius bagi lingkungan lahan perkebunan kelapa sawit, dapat berlangsung
karena kandungan pencemarnya yang sangat tinggi pada kondisi aerobic dan anaerobic. Bahan organic
(Hasanudin and Haryanto, 2018). POME terdiri dari dan anorganik yang terbiodegradasi dalam tanah
campuran air, serpihan kulit sawit dan residu lemak akan melepaskan unsur hara makro dan mikro
yang dihasilkan pada proses awal crude palm oil sehingga dapat diserap oleh tanaman. Proses ini
(CPO) dari buah sawit. POME bersuhu panas, pH melibatkan mikroorganisme yang mendegradasi
asam, kental, berwarna kecoklatan dengan bahan-bahan organic anorganik menjadi humus.
kandungan padatan, minyak dan lemak, suspensi Sehingga biodegradasi bahan organic dan
koloid mengandung bahan organic dan padatan anorganik ini akan menambah stok SOC dan
yang sangat tinggi. Bahan-bahan organik yang memperbaiki sifat kimia, fisik, dan biologis tanah.
terdapat dalam POME umumnya diekspresikan Biodegradasi anaerobik bahan organic dan
sebagai Biological Oxygen Demand (BOD); anorganik merupakan reaksi biokimia kompleks
Volatile Fatty Acid (VFA) atau Chemical Oxygen dan spesifik melalui empat tahap reaksi, yaitu;
Demand (COD), suatu bagian bahan organik yang hidrolisis, asidogenesis, asetogenesis dan
sulit didegradasi (Kahar et al., 2018; Zaiat et al., metanogenesis yang terjadi secara seri maupun
2000). paralel (Appels et al., 2008; Abdelgadir et al.,
POME berasal dari air kondensat pada 2014). Reaksi biodegradasi aerobic dan anaerobic
proses sterilisasi, air dari proses klarifikasi, air bahan-bahan organik, sebagaimana persamaan 5
hydrocyclone (claybath) dan air pencucian (Rambe, dan 6.
2015; Hasanudin & Haryanto, 2018). POME
Sedangkan emisi CO2 perkebunan kelapa Hasil akhir biodegradasi bahan organic dan
sawit pada lahan gambut berkisar 66,87±47,53 ton anorganik, merupakan senyawa sederhana sebagai
CO2 ha-1 th-1) dan pada tumbuhan bawah (semak berikut: 1. Karbon: CO2, CO3-2, HCO3-, CH4; 2.
belukar) berkisar 43,73±27,16 ton CO2 ha-1 th-1 Nitrogen: NH4+, NO2-, NO3-; 3. Belerang: S, H2S,
(Sarmah et al., 2004). SO3-2, SO4-2, CS2; 4. Fosfor: H2PO4-, HPO4-2; dan 5.
Lainnya: K+, Ca2+, Mg2+, H2O, H+, OH-, dan lain- karbon keluar adalah TBS. Pada PKS, karbon
lain (Anonim, 2012; KLH, 2012). masuk berasal dari TBS, karbon keluar adalah CPO,
PKO, TKKS, serat, cangkang dan POME. Dan pada
Serat dan Cangkang IPAL, karbon masuk adalah POME influent, karbon
Serat kelapa sawit mengandung selulosa, terakumulasi adalah karbon POME yang diolah
lignin, protein kasar, lemak, abu dan impurities dalam IPAL. Karbon keluar adalah CO2, CH4, dan
berturut-turut adalah 59,6%, 28,5%, 3,6%, 1,9%, POME effluent.
5,6% dan 8% (Koba and Ishizaki, 1990).
Kandungan selulosa serat kelapa sawit berkisar DAFTAR PUSTAKA
43%-65% dan lignin berkisar 13%-25%. Abdelgadir, A., Xiaoguang Chen, Jianshe Liu,
Sedangkan cangkang kelapa sawit mengandung Xuehui Xie, Jian Zhang, Kai Zhang, Heng
selulosa, hemiselulosa, lignin, dan abu berturut- Wang, and Na Liu. (2014) ‘Characteristics,
turut adalah 26,27 %, 12,61 % 42,96 % dan 18,1 %. process parameters, and inner components
Kandungan C, H, O, N, dan S cangkang berturut- of anaerobic bioreactors’, BioMed Research
turut adalah 49,79; 5,58; 34,06; 0,72; dan < 0,08% International, 2014. doi:
(Nasution and Limbong, 2019). 10.1155/2014/841573.
Reaksi pembakaran cangkang dan serat di Agus, F. (2013) ‘Konservasi Tanah Dan Karbon
boiler akan menghasilkan gas baru, udara lebih dari Untuk Mitigasi Perubahan Iklim
sejumlah energi. Senyawa-senyawa yang Mendukung Keberlanjutan Pembangunan
merupakan hasil dari reaksi pembakaran disebut gas Pertanian. Soil and Carbon Conservation for
asap. Reaksi untuk pembakaran sempurna adalah: Climate Change Mitigation and Enhancing
Cx H y + ( x + 14 y ) O2 ⎯⎯
→ xCO2 + ( 12 y ) H 2O Sustainability of Agricultural
(7)
Nilai dari x dan y di atas bergantung pada Development.’, Pengembangan Inovasi
jenis bahan bakar yang digunakan. Nilai x adalah Pertanian, 6(Maret 2013), pp. 23–33.
fraksi massa Karbon, dan y fraksi massa Hidrogen Anonim (2012) ‘Draft Petunjuk Teknis Perhitungan
dalam bahan bakar. Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Di Sektor
Serat dan cangkang kelapa sawit, biasanya Industri’, Kepala Badan Pengkajian
digunakan sebagai bahan bakar pada boiler. Kebijakan Iklim dan Mutu Industri,
Konsumsi bahan bakar untuk boiler PKS dengan (Jakarta), p. Mei 2012.
kapasitas olah 30 ton TBS/jam adalah 3,8 ton/jam Arjuna, R. T. and Santosa, E. (2018) ‘Asesmen
serat dan 1,5 ton cangkang. Dari proses produksi Carbon Footprint pada Produksi Minyak
PKS diperoleh rata-rata 3,0-3,6 ton serat dan 2,4 Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di
ton/jam cangkang kelapa sawit. Semua serat kelapa Kebun Sei Lukut, Kabupaten Siak, Riau’,
sawit dipakai untuk bahan bakar boiler, sedangkan Buletin Agrohorti, 6(2), pp. 287–295. doi:
cangkang masih tersisa sekitar 0,9 ton/jam 10.29244/agrob.6.2.287-295.
(Nasution and Limbong, 2019). Bantacut, T. and Pasaribu, H. (2015) ‘Aliran
Emisi GRK Boiler untuk 1 ton CPO, dengan Tertutup Massa Dan Potensi Mandiri Energi
biogas capture adalah 41.28 kg CO2eq sedangkan Pada Produksi CPO. Closed Mass Flows and
tanpa biogas capture adalah 67.68 kg CO2eq Energy Self Sufficiency in CPO
(Vijaya, Ma and Choo, 2010) Production.’, Jurnal Teknologi Industri
Pertanian, 25(3), pp. 215–226.
KESIMPULAN Berhongaray, G., Melanie S. Verlinden, Laura S .
Adapun kesimpulan yang dapat diambil Broeckx, Ivan A. Janssens And Reinhart
bahwa pendekatan neraca massa karbon sawit pada Ceulemans. (2017) ‘Soil carbon and
siklus karbon kelapa sawit mematuhi hukum belowground carbon balance of a short-
kekekalan massa. Massa karbon sawit sebelum dan rotation coppice: assessments from three
sesudah proses adalah tetap. Artinya total massa different approaches’, GCB Bioenergy, 9(2),
karbon kelapa sawit selama proses tidak berubah, pp. 299–313. doi: 10.1111/gcbb.12369.
hanya terjadi perubahan fase, yaitu padat, cair, dan Clara, L., Rekik Fatma, Alcantara Viridiana, Wiese
gas. Berdasarkan pendekatan neraca massa, Liesl. (2017) Soil Organic Carbon: the
terdapat tiga sumber karbon sawit pada siklus hidden potential. FAO 2017, Nature
karbon kelapa sawit, yaitu karbon masuk, karbon Reviews Genetics. FAO 2017. Rome, Italy:
Food and Agriculture Organization of the
keluar dan karbon terakumulasi. Pada kebun kelapa
sawit, karbon masuk berasal dari pupuk atau United Nations. doi: 10.1038/nrg2350.
pestissida atau herbisida, POME (effluent), pelepah Gunamantha, I. M. and Suryaputra, I. G. N. A.
daun, semak belukar, TKKS, dan serapan CO2 pada (2016) ‘Estimasi Stok Karbon Organik
fotosintesis. Karbon terakumulasi berada di pohon Tanah Di Bawah Berbagai Penggunaan
kelapa sawit dan tanah lahan sawit, sedangkan Lahan Pertanian Di Kabupaten Buleleng
Provinsi Bali. Estimating Soil Organic Mubekti (2014) ‘Estimasi Jejak Karbon Industri
Carbon Stock Under Different Agricultural Minyak Kelapa Sawit. Carbon Estimation in
Landuses in Bulleleng District of Bali Palm Oil Industry.’, Jurnal Teknologi
province.’, Prosiding Seminar Nasional Lingkungan ISSN 1411-318X, 15(1), pp. 35–
Penguatan Pengajaran dan Penelitian 42. doi: 10.29122/jtl.v15i1.1455.
Perubahan Iklim, (Jakarta, September Nasution, Z. A. and Limbong, H. P. (2019)
2016), pp. 79–93. ‘Karakterisasi Arang Cangkang Kelapa
Gunawan, R. and Kahar, A. (2019) ‘Pengaruh Laju Sawit Sebagai Bahan Pembantu Untuk
Alir Resirkulasi Pada Seeding Dan Meningkatkan Kesuburan Tanah
Aklimatisasi Limbah Cair Pabrik Kelapa Berdasarkan Kromatografi GC–MS.
Sawit (LCPKS) Dalam Bioreaktor Characterization of Palm Oil Charcoal as an
Anaerobik’, PROSIDING SEMINAR Assistant Material to Improve The Fertility
NASIONAL TEKNOLOGI V, (V), pp. 122– of Plants Based on GC-MS Chromatogr’,
129. Available at: [Link] Jurnal Industri Hasil Perkebunan, 14(1), pp.
[Link]/[Link]/SEMNAST 62–68. doi: 10.33104/jihp.v14i1.4406.
EK/article/view/2817. PASPI-Monitor (2021) ‘MULTI FUNGSI
Hadiyarti, Y., Akbar, A. R. and Udiantoro (2018) EKOLOGIS DARI PERKEBUNAN
‘Kajian Neraca Massa pada Industri Kelapa SAWIT INDONESIA’, Palm Oil Journal,
Sawit Studi Kasus Di PT. Alam Tri Abadi II(43), pp. 547–556.
Kec. Murung Pudak, Kab. Tabalong, Poh, P. E. and Chong, M. F. (2009) ‘Development
Kalimantan Selatan’, JTAM Inovasi of anaerobic digestion methods for palm oil
Agroindustri, 1(2), pp. 1–11. Available at: mill effluent (POME) treatment’,
[Link] Bioresource Technology, 100(1), pp. 1–9.
cle/view/212. doi: 10.1016/[Link].2008.06.022.
Hakim, H. M. Al, Supartono, W. and Suryandono, Rahman, N., Andreas de Neergaard, Jakob Magid,
A. (2014) ‘LIFE CYCLE ASSESSMENT Gerrie WJ van de Ven, Ken E Giller and
PADA PEMBIBITAN KELAPA SAWIT Thilde Bech Bruun. (2018) ‘Changes in soil
UNTUK MENGHITUNG EMISI GAS organic carbon stocks after conversion from
RUMAH KACA. Life Cycle Assessment Of forest to oil palm plantations in Malaysian
Palm Oil Seedlings For Calculating The Borneo’, Environmental Research Letters,
Greenhouse Gas Emissions.’, ZIRAA’AH, E- 13(10), pp. 1–10. doi: 10.1088/1748-
ISSN 2355-3545, 39, pp. 72–80. 9326/aade0f.
Hasanudin, U. and Haryanto, A. (2018) ‘Palm Oil Sarmah, Nurhayati, Hery Widyanto, Ai Dariah.
Mill Effluent Recycling System for (2004) ‘Emisi CO2 Dari Lahan Gambut
Sustainable Palm Oil Industries’, Asian Budidaya Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis)
Journal of Environmental Biotechnology, Dan Lahan Semak Belukar Di Pelalawan,
2(1), pp. 52–62. Available at: Riau’, Indonesian peatland map : method,
[Link] certainty and uses, 16(4), pp. 295–305.
[Link]/[Link]/jeb/article/view/18. Shintawati, Hasanudin, U. and Haryanto, A. (2017)
Kahar, A., Warmadewanthi, I. and Hermana, J. ‘Karakteristik Pengolahan Limbah Cair
(2018) ‘EFFECT OF pH ON LIQUID- Pabrik Minyak Kelapa Sawit Dalam
PHASE MASS TRANSFER AND Bioreaktor Cigar Semi Kontinu
DIFFUSIVITY COEFFICIENT AT Characteristic of Palm Oil Mill Waste Water
LEACHATE TREATMENT OF Treatment Using Semicontinue Anaerobic
MUNICIPAL WASTE LANDFILL IN Cigar Bioreactor’, Teknik Pertanian
ANAEROBIC BIOREACTOR’, Eksergi, Lampung, 6(2), pp. 81–88.
15(2), p. 24. doi: 10.31315/e.v15i2.2327. Siringoringo, H. H. (2014) ‘Peranan Penting
Koba, Y. and Ishizaki, A. (1990) ‘Chemical Pengelolaan Penyerapan Karbon Dalam
composition of palm fiber and its feasibility Tanah. The Important Roles of Managing
as cellulosic raw material· for sugar Carbon Sequestration in Soils.’, Jurnal
production’, Agricultural and Biological Analisis Kebijakan Kehutanan, 11(2), pp.
Chemistry, 54(5), pp. 1183–1187. doi: 175–192. doi:
10.1080/00021369.1990.10870116. 10.20886/jakk.2014.11.2.175-192.
Lamade, E. and Bouillet, J. P. (2005) ‘Carbon Sugirahayu, L. and Rusdiana, O. (2011)
storage and global change: The role of oil ‘Perbandingan Simpanan Karbon Pada
palm’, OCL - Oleagineux Corps Gras Beberapa Penutupan Lahan Di Kabupaten
Lipides, 12(2), pp. 154–160. doi: Paser, Kalimantan Timur Berdasarkan Sifat
10.1051/ocl.2005.0154. Fisik Dan Sifat Kimia Tanahnya’, Jurnal