0% found this document useful (0 votes)
3 views6 pages

Pelatihan Mindfulness untuk Remaja

This document summarizes a study that provided mindfulness training to adolescents in a junior high school in Central Jakarta. The training aimed to help teenagers become more aware of themselves and their feelings through psychoeducation and simple mindfulness techniques. Thirty adolescents participated. Evaluations found increased awareness in adolescents after the training, as measured by questionnaires, indicating that school-based mindfulness training can improve adolescent awareness.
Copyright
© All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
3 views6 pages

Pelatihan Mindfulness untuk Remaja

This document summarizes a study that provided mindfulness training to adolescents in a junior high school in Central Jakarta. The training aimed to help teenagers become more aware of themselves and their feelings through psychoeducation and simple mindfulness techniques. Thirty adolescents participated. Evaluations found increased awareness in adolescents after the training, as measured by questionnaires, indicating that school-based mindfulness training can improve adolescent awareness.
Copyright
© All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: [Link]

net/publication/352896026

Pemberian Pelatihan Mindfulness di Sekolah untuk Meningkatkan Rasa


Kesadaran pada Remaja

Article  in  Dinamisia Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat · June 2021


DOI: 10.31849/dinamisia.v5i3.3866

CITATIONS READS

0 1,082

2 authors:

Endang Fourianalistyawati Ratih Arruum Listiyandini


University of Wisconsin–Madison UNSW Sydney
76 PUBLICATIONS   144 CITATIONS    95 PUBLICATIONS   312 CITATIONS   

SEE PROFILE SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Depression among Adolescents with Parental Divorce: The Protective Factors View project

Positive Psychology, Resilience, and Health-Related Quality of Life (HRQoL) among Indonesian Disadvantage Youth View project

All content following this page was uploaded by Ratih Arruum Listiyandini on 05 July 2021.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


DINAMISIA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5, No. 3 Juni 2021, Hal. 694-698
DOI: [Link]

Pengembangan Keterampilan Mindfulness pada Remaja Melalui


Pelatihan di Sekolah

Endang Fourianalistyawati1, Ratih Arruum Listiyandini*2


1,2 Fakultas Psikologi, Universitas YARSI, Jakarta, Indonesia

*e-mail: [Link]@[Link].id1, [Link]@[Link].id2

Abstract
Adolescents need to increase the sense of awareness so that they can undergo and accept various
changes in their life. Mindfulness is defined as the ability to give attention without giving judgment and
accepting all the experiences. The community service program was then designed to teach the youth about
mindfulness in the form of training in the group held in the school. The training aims to help teenagers become
more considerate of themselves and their feelings. It is conducted through give psycho-education about
mindfulness and exercises of simple techniques in mindfulness. Participants are 30 teenagers in a junior high
school in the central Jakarta area. The evaluation showed an increased of awareness in adolescents seen from
the measurement through questionnaires filled during stages before training, after training, and follow-up.
These results indicate that the training of mindfulness held in schools was able to improve the quality of
adolescent awareness.
Keywords: mindfulness, awareness, training, adolescents

Abstrak
Remaja perlu meningkatkan mindfulness yang dimiliki sehingga ia dapat menjalani dan menerima
berbagai perubahan dirinya. Mindfulness didefinisikan sebagai kemampuan untuk memberi atensi atau
perhatian terhadap diri secara apa adanya tanpa memberikan penilaian serta menerima segala pengalaman
yang muncul saat ini. Program pengabdian masyarakat dirancang untuk mengajarkan remaja mengenai
mindfulness dalam bentuk pelatihan di dalam kelompok yang diselenggarakan di sekolah. Pelatihan bertujuan
untuk membantu remaja menjadi lebih sadar dan perhatian terhadap diri dan perasaannya saat ini melalui
materi tentang mindfulness dengan menyertakan latihan teknik-teknik sederhana dalam mindfulness.
Partisipan adalah 30 orang remaja yang ada di sebuah SMP yang ada di wilayah Jakarta Pusat. Hasil evaluasi
menunjukkan adanya peningkatan mindfulness pada remaja yang terlihat dari pengukuran melalui kuesioner
yang diisi saat tahapan sebelum pelatihan, sesudah pelatihan, dan tindak lanjut. Hasil ini mengindikasikan
bahwa pelatihan teknik mindfulness yang diselenggarakan di sekolah mampu untuk meningkatkan kualitas
kesadaran remaja.
Kata kunci: pelatihan, mindfulness, kesadaran, remaja

1. PENDAHULUAN
Masa remaja penuh dengan berbagai perubahan, baik secara fisik, kognitif, dan
emosional. Perubahan fisik dimulai saat remaja memasuki pubertas, yang salah satunya ditandai
dengan adanya menarche pada perempuan, dan tumbuhnya kumis untuk pertama kali serta
mimpi basah pada laki-laki. Perubahan fisik ini merupakan efek dari peningkatan hormon-
hormon. Hormon testosteron yang berkaitan dengan perkembangan alat kelamin, pertambahan
tinggi, dan perubahan suara, mengalami peningkatan sebanyak delapan kali lipat pada anak laki-
laki dan dua kali lipat pada anak perempuan. Hormon estradiol yang berkaitan dengan
perkembangan buah dada, rahim, dan kerangka, mengalami peningkatan sebanyak delapan kali
lipat pada anak perempuan dan dua kali lipat pada anak laki-laki (Santrock, 2002). Perubahan
fisik tersebut biasanya berdampak pada perubahan psikologis atau emosional remaja. Remaja
juga mulai mengalami perkembangan dalam kognitif sosial, berpikir lebih abstrak, idealistis, dan
logis (Khun dalam Santrock, 2002).
Masa remaja adalah fase pencarian jati diri, yang secara keseluruhan mempengaruhi
kualitas hidup individu. Berbagai perubahan yang terjadi pada diri remaja dapat menimbulkan
dampak stres secara psikologis dan menimbulkan berbagai masalah fisik pada remaja. Selain itu,

P-ISSN 2614-7424 | E-ISSN 2614-8927 694


DINAMISIA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5, No. 3 Juni 2021, Hal. 694-698
DOI: [Link]

remaja juga ditemukan memiliki cara pengambilan keputusan yang lebih berisiko dibandingkan
pada orang dewasa (Steinberg, dalam Sanger & Dorjee, 2015).
Mengingat ada banyak perubahan dan tantangan yang harus dihadapi dalam proses
beranjak dewasa, remaja memerlukan keterampilan untuk bisa lebih menyadari pengalaman
dan kondisi yang sedang dialami serta membantu mereka mengurangi kecemasan dalam
menghadapi perkembangan diri. Pelatihan mindfulness merupakan salah satu pelatihan yang
potensial untuk membantu meningkatkan kesadaran dan kemampuan konsentrasi pada remaja.
Mindfulness adalah kesadaran yang terbuka dan merupakan kondisi perhatian terhadap
apa yang terjadi pada saat sekarang (Brown & Ryan, 2004). Mindfulness didefinisikan sebagai
“awareness of present experience, with acceptance” (Germer, 2009). Kondisi mindfulness adalah
kondisi individu yang secara sadar membawa pengalamannya ke kondisi saat ini dengan penuh
rasa keterbukaan dan rasa penerimaan. Mindfulness membawa kesadaran individu untuk fokus
pada tujuan, dengan tidak menghakimi dan tidak menghindari kondisi yang tidak dapat dikuasai
(Kabat-Zinn, 2004; Harris, 2009). Menjadi mindful artinya individu sadar akan apapun
kondisinya saat ini, terlepas dari kejadian masa lalu dan masa depan (Mace, 2008). Mindfulness
fokus pada pengalaman pribadi individu, seperti nafas, sensasi tubuh, perasaan dan pikiran
(Germer, 2009). Pada populasi remaja, mindfulness ditemukan berhubungan dengan
kesejahteraan psikologis yang lebih baik (Savitri & Listiyandini, 2017) dan depresi yang lebih
rendah (Fourianalistyawati & Listiyandini, 2018).
Mindfulness merupakan hal yang diprediksi sebagai salah satu psikoterapi yang efektif
dalam proses penyembuhan kondisi emosi. Pada saat psikoterapi menggunakan mindfulness
berjalan dengan lancar, klien biasanya akan mengembangkan suatu sikap penerimaan terhadap
berbagai emosi yang dihadapi, baik positif maupun negatif, seperti takut, marah, sedih, gembira,
lega, jenuh, dan sebagainya. Pelatihan meditasi mindfulness ditemukan dapat membantu
meningkatkan kesadaran individu. Salah satu hasil penelitian terkait mindfulness
menunjukkan terjadinya penurunan kecemasan seseorang karena dalam latihan meditasi
mindfulness seseorang diminta untuk selalu menyadari pernafasannya (Toneatto dkk, 2007).
Selain itu Afandi (2012) juga mendapatkan hasil bahwa remaja yang diberikan pelatihan
mindfulness akan memiliki kontrol diri yang lebih baik. Selain itu, ditemukan pula adanya potensi
dari pelatihan mindfulness untuk meningkatan kemampuan daya ingat pada remaja (Quach,
Manno, and Alexander, 2016), serta atensi dan kemampuan pengambilan keputusan (Mak,
Whittingham, Cunnington, and Boyd, 2018).
Teknik mindfulness berfungsi menghadirkan permasalahan ke peristiwa saat ini (present
moment). Pada tahap ini individu diharapkan dapat menghadirkan kembali dan menyadari
pengalaman-pengalaman yang membuatnya tidak nyaman sebelumnya, sehingga hal ini akan
memberikan informasi penting bagi individu tentang rencana langkah selanjutnya, apakah mau
berubah atau tetap dalam kondisi perilaku sebelumnya. Melalui langkah pertama ini, dapat
membantu individu untuk mulai menangkap pikiran-pikiran yang tidak realistis atau pikiran yang
tidak sesuai terhadap dirinya. Dalam melakukan tahapan ini, individu diberikan latihan relaksasi
mindfulness, mulai dari nafas, tubuh, indera, sensasi, suara, objek, hingga pada menghadirkan
perasaan, mengidentifikasi perasaan yang hadir, dimana lokasi perasaan tersebut di dalam tubuh.
Dengan demikian, kondisi mindfulness akan memunculkan ruang penerimaan bagi remaja untuk
perasaan-perasaan dan sensasi yang tidak nyaman, sehinga remaja akan lebih sadar dan mulai
berdamai dengan hal-hal tersebut.
Terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan adanya manfaat pelatihan mindfulness
yang diselenggarakan di sekolah bagi remaja (Bluth, [Link], 2016). Melalui pelatihan mindfulness
yang diadakan di sekolah diharapkan dapat membantu remaja meningkatkan mindfulness dalam
kehidupan sehari-hari. Peningkatan kesadaran ini juga diharapkan membantu meminimalisir
gejolak emosi yang tidak stabil pada masa remaja, yang biasanya disebabkan oleh perubahan-
perubahan emosinya.

P-ISSN 2614-7424 | E-ISSN 2614-8927 695


DINAMISIA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5, No. 3 Juni 2021, Hal. 694-698
DOI: [Link]

2. METODE
Partisipan dari kegiatan ini adalah adalah remaja usia pertengahan, dengan usia 13-14
tahun. Peserta pelatihan adalah para siswa tingkat akhir di sebuah SMP swasta yang ada di
wilayah Jakarta. Peserta kegiatan yang mengikuti proses pelatihan berjumlah 30 orang.
Program ini dilakukan dalam bentuk pelatihan kelompok yang mengajarkan beberapa
teknik mindfulness, seperti bernapas secara sadar, makan secara sadar, dan menyadari berbagai
sensasi tubuh. Evaluasi terhadap keberhasilan tujuan program dilakukan dengan menggunakan
lembar self monitoring dan juga kuesioner yang diberikan pada tahapan sebelum, sesudah, dan
tindak lanjut (seminggu setelah pelatihan diberikan).
Untuk mengetahui sejauh mana tujuan telah tercapai, maka dilakukan pre test dan post
test yang akan mengukur tingkat kesadaran dari para remaja, menggunakan skala Mindfulness
Attention Awareness Scale (MAAS). Skala MAAS yang digunakan sudah diadaptasi ke dalam
Bahasa Indonesia dan menunjukkan reliabilitas dan validitas yang baik pada populasi remaja
(Listiyandini & Kusristanti, 2019). Tujuan akan dianggap tercapai apabila terjadi peningkatan
skor MAAS dibandingkan sebelumnya. Pada saat follow up juga akan diberikan kembali
lembar MAAS untuk mengetahui sejauh mana remaja melaksanakan dan mempraktekkan
latihan tersebut.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan data, didapatkan hasil bahwa pelatihan mindfulness yang diberikan
membantu terjadinya peningkatan kesadaran pada partisipan. Hal ini terlihat dari adanya
peningkatan skor dari kondisi pre-test, post-test, dan follow-up. Hal ini mengindikasikan bahwa
sesuai dengan penelitian sebelumnya bahwa pelatihan meditasi mindfulness akan bisa bermanfaat
bagi adanya peningkatan kesadaran individu akan situasi di sini dan saat ini serta menurunkan
kecemasan (Afandi, 2007; Toneatto, ddk, 2007).

3,95 3,93
3,9

3,85 3,82
3,8

3,75
3,69
3,7

3,65

3,6

3,55

Pre-test Post-test Follow-up

Gambar 1. Perubahan skor partisipan pada tahap sebelum, sesudah, dan tindak lanjut

Pelatihan mindfulness diharapkan dapat membantu menstabilkan gejolak emosi yang


tidak stabil pada masa remaja, yang biasanya disebabkan oleh perubahan-perubahan emosinya.
Hal ini dikarenakan masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju masa dewasa
(Papilia, Old & Feldman, 2008). Pada masa remaja terjadi banyak perubahan, diantaranya yaitu
perubahan psikologis yaitu perubahan yang meliputi meliputi intelektual, kehidupan sosial, dan

P-ISSN 2614-7424 | E-ISSN 2614-8927 696


DINAMISIA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5, No. 3 Juni 2021, Hal. 694-698
DOI: [Link]

kehidupan emosi (Hurlock, 2006). Pada masa ini merupakan masa penuh emosi dan adakalanya
emosinya meledak-ledak sehingga dapat menyulitkan dirinya sendiri dan lingkungan sekitar
remaja terutama orangtua dan guru dalam memahami diri remaja (Sarwono, 2013). Dengan
demikian, remaja memerlukan suatu kemampuan dari dalam diri untuk dapat mengelola
emosinya tersebut yaitu dengan mindfulness (Luders, Toga, Lepore & Gaser, 2009). Dalam konteks
di sekolah, para siswa yang berusia remaja dapat memiliki berbagai masalah, terutama terkait
dengan social-emosional dan konsentrasi belajar (Jarkawi, 2019), dan dengan adanya mindfulness
yang lebih baik, permasalahan ini diharapkan dapat teratasi.
Berdasarkan evaluasi terhadap berlangsungnya kegiatan, maka terdapat beberapa saran
untuk kegiatan serupa. Pertama, pelaksanaan berikutnya dapat bekerjasama dengan beberapa
sekolah lainnya, sehingga manfaat yang diberikan bisa lebih tersebar. Terkait dengan efektivitas
jangka panjang, maka program pelatihan mindfulness sebaiknya dilakukan secara lebih intensif
dan dalam jangka waktu yang berkesinambungan. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa
dibutuhkan waktu 8 sesi untuk mampu benar-benar mencapai hasil yang optimal. Dilakukan
proses screening terlebih dahulu untuk merekrut peserta yang benar-benar membutuhkan,
sehingga efektivitas dari program menjadi makin terlihat.

4. KESIMPULAN
Merujuk pada indikator kinerja serta evaluasi program, tampak bahwa program pelatihan
mindfulness yang diberikan, dapat dikatakan efektif untuk meningkatkan mindfulness pada
remaja. Diharapkan dengan adanya hasil dari pelatihan ini, para remaja yang merasakan
manfaatnya, akan mampu memiliki kesehatan mental, atensi, dan fokus yang baik dalam
menghadapi tantangan di masa remaja.

UCAPAN TERIMA KASIH


Penulis mengucapkan terima kasih kepada Universitas YARSI yang telah memberi
dukungan finansial terhadap program pengabdian ini dan tim fasilitator mahasiswa serta teman-
teman dosen lainnya yang sudah membantu teknis terselenggaranya program.

DAFTAR PUSTAKA
Afandi, N. A. (2012). Pengaruh pelatihan mindfulness terhadap peningkatan kontrol diri siswa
SMA. Pamator Journal, 5(1), 19-27
Bluth, K., Campo, R. A., Pruteanu-Malinici, S., Reams, A., Mullarkey, M., & Broderick, P. C. (2016). A
school-based mindfulness pilot study for ethnically diverse at-risk adolescents. Mindfulness,
7(1), 90-104.
Fourianalistyawati, E., & Listiyandini, R. A. (2017). Hubungan antara mindfulness dengan depresi
pada remaja. Jurnal Psikogenesis, 5(2), 115-122.
Germer, C. K. (2009). The Mindful Path to Self-Compassion. New York: The Guilford Press.
Hurlock, E. B. (2006). Psikologi perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Jarkawi, J. (2019). Pelatihan Strategi Menganalisis Masalah Siswa dengan dengan Psiko-edukasi
pada SMK di Kabupaten Banjar. Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(2), 313-
318.
Listiyandini, R. A., & Kusristanti, C. (2019, August). Depression and Mindfulness among
Adolescents with Parental Divorce. In 1st Annual Internatioal Conference on Social Sciences and
Humanities (AICOSH 2019). Atlantis Press.
Luders, E., Toga, A. W., Lepore, N., & Gaser, C. (2009). The underlying anatomical correlates of
long-term meditation: Larger hippocampal and frontal volumes of gray matter. NeuroImage,
45(3), 672-678.

P-ISSN 2614-7424 | E-ISSN 2614-8927 697


DINAMISIA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5, No. 3 Juni 2021, Hal. 694-698
DOI: [Link]

Mace, C. (2008). Mindfulness and Mental Health: Therapy, Theory and Science (1st ed.). London and
New York: Routledge.
Mak, C., Whittingham, K., Cunnington, R., & Boyd, R. N. (2018). Efficacy of mindfulness-based
interventions for attention and executive function in children and adolescents—A systematic
review. Mindfulness, 9(1), 59-78.
Savitri, W. C., & Listiyandini, R. A. (2017). Mindfulness dan Kesejahteraan Psikologis pada Remaja.
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, 2(1), 43-59.
Santrock, J. W. (2002). Life Span Development. Terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Sarwono, S. (2013). Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo.
Sanger, K, & Dorjee, D. (2015). Mindfulness training for Adolescents: A Neurodevelopmental
Perspective on Investigating Modification in Attention and Emotion Regulation using Event-
Related Brain Potentials. Cogn Affect Behav Neuroscience. DOI 10.3758/s13415-015-0354-7.
Quach, D., Mano, K. E. J., & Alexander, K. (2016). A randomized controlled trial examining the effect
of mindfulness meditation on working memory capacity in adolescents. Journal of Adolescent
Health, 58(5), 489-496.
Toneatto, T., Vettese, L., & Nguyen, L. (2007). The role of mindfulness in the cognitive-behavioural
treatment of problem gambling. Journal of Gambling Issues, (19), 91-100.

P-ISSN 2614-7424 | E-ISSN 2614-8927 698

View publication stats

You might also like