0% found this document useful (0 votes)
14 views6 pages

Javanese Family Forgiveness in COVID-19

This study examines the level of forgiveness of Javanese ethnic families towards prisoners who received assimilation programs during the COVID-19 pandemic. It found a high level of forgiveness in these families. While education level affected forgiveness, gender and age did not. Assimilation programs should consider family readiness, especially their capacity for forgiveness of prisoner mistakes.
Copyright
© All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
14 views6 pages

Javanese Family Forgiveness in COVID-19

This study examines the level of forgiveness of Javanese ethnic families towards prisoners who received assimilation programs during the COVID-19 pandemic. It found a high level of forgiveness in these families. While education level affected forgiveness, gender and age did not. Assimilation programs should consider family readiness, especially their capacity for forgiveness of prisoner mistakes.
Copyright
© All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

GAMBARAN PEMAAFAN KELUARGA ETNIS JAWA Journal of Correctional Issues

TERHADAP NARAPIDANA YANG MENDAPATKAN 2022, Vol.5 (1) 2022


Politeknik Ilmu
PROGRAM ASIMILASI PADA MASA PANDEMI Pemasyarakatan
COVID-19: PENDEKATAN PSIKOLOGI ULAYAT
Review
04-03-2022
Fachri Ezra Pradana Accepted
Balai Pemasyarakatan Kelas I Jakarta Timur-Utara 30-06-2022

Give Duwi Cahaya


Balai Pemasyarakatan Kelas I Jakarta Timur-Utara

Abstract
This study was conducted to see the level of forgiveness of Javanese ethnic families towards prisoners
who received the assimilation program during the Covid-19 pandemic related to demographic factors
such as gender, age, and education level. This research focuses on the indigenous psychology approach,
which is a scientific study of human behavior and mentality that is indigenous, not brought from other
regions, and designed for the people themselves. The respondents in this study were 50 Javanese ethnic
families from prisoners who received the assimilation program in DKI Jakarta, male and female, early
adulthood, middle adulthood, and late adulthood who were collected using purposive sampling
technique. The measurement uses the forgiveness scale compiled by Nashori. Analysis of data used
frequency distribution and difference test. This study found two main results: the existence of a high level
of forgiveness in Javanese ethnic families towards prisoners who received the assimilation program; and
there is a difference in the level of forgiveness in terms of education level, but there is no difference in
the level of forgiveness in terms of gender and age. Based on the results of this study, the assimilation
program can consider the readiness of the family, especially the aspect of forgiveness for the mistakes
made by prisoners.
Keywords: forgiveness, asimilation, indigenous, Javanese ethnicity.

Abstrak
Penelitian ini dilakukan untuk melihat tingkat pemaafan keluarga etnis Jawa terhadap narapidana yang
mendapatkan program asimilasi pada masa pandemi Covid-19 terkait dengan faktor demografis seperti
jenis kelamin, usia, dan tingkat pendidikan. Penelitian ini berfokus pada pendekatan psikologi ulayat,
yaitu suatu kajian ilmiah mengenai perilaku dan mental manusia yang bersifat pribumi, tidak dibawa dari
daerah lain, dan didesain untuk masyarakatnya sendiri. Responden penelitian ini berjumlah 50 orang
keluarga etnis Jawa dari narapidana yang mendapatkan program asimilasi di DKI Jakarta, berjenis
kelamin laki-laki dan perempuan, berusia dewasa awal, dewasa menengah, dan dewasa akhir yang
dikumpulkan menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran menggunakan skala pemaafan yang
disusun oleh Nashori. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi dan uji beda. Penelitian ini
menemukan dua hasil utama: adanya tingkat pemaafan yang tinggi pada keluarga etnis Jawa terhadap
narapidana yang mendapatkan program asimilasi; dan adanya perbedaan tingkat pemaafan ditinjau dari
tingkat pendidikan, namun tingkat pemaafan tidak ada perbedaan jika ditinjau dari jenis kelamin dan
usia. Berdasarkan hasil penelitian ini, program asimilasi dapat mempertimbangkan kesiapan keluarga
khususnya aspek pemaafan terhadap kesalahan yang dilakukan narapidana.
Kata kunci: pemaafan, asimilasi, ulayat, etnis Jawa.
13
Fachri Ezra, Give Duwi Gambaran Pemaafan Keluarga

Pendahuluan Kelas IIA


Covid-19 (coronavirus disease 2019) Jakarta
adalah penyakit yang dapat menyebabkan
Lapas
gangguan sistem pernapasan ringan hingga
Perempuan 208 330 59%
infeksi paru-paru berat yang disebabkan oleh
Kelas IIA
virus SARS-CoV-2. Sejak teridentifikasi pertama
Jakarta
kali pada akhir tahun 2019 di Wuhan, RRC,
Covid-19 telah menyebar secara global Rutan Kelas I 1136 5245 362%
termasuk di Indonesia. Berdasarkan data dari Cipinang
Satgas Penanganan Covid-19, kasus Covid-19 di Rutan Kelas I
Indonesia pertanggal 12 Januari 2022 tercatat Pondok 411 557 36%
ada 4.267.451 dan 144.144 jiwa diantaranya Bambu
meninggal dunia. Jakarta adalah provinsi
tertinggi kasus Covid-19 di Indonesia dengan Salah satu solusi agar penyebaran Covid-
866.909 kasus atau 20,3% dari provinsi di 19 tidak meluas di dalam lapas atau rutan,
Indonesia. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian
Dampak lain Covid-19 tidak hanya Hukum dan HAM mengeluarkan kebijakan
berdampak pada masyarakat di kehidupan program asimilasi yang tertuang dalam
sosial namun juga berdampak pada narapidana Permenkumham Nomor 10 Tahun 2020 yang
yang berada di dalam lapas atau rutan. Jumlah kemudian beberapa kali mengalami
narapidana di lapas atau rutan tidak berbanding pembaharuan menjadi Permenkumham Nomor
dengan jumlah kapasitas hunian yang tersedia 32 Tahun 2020; Permenkumham Nomor 24
sehingga mengalami overcapacity. Sehingga Tahun 2021; dan terakhir yaitu Permenkumham
para narapidana tidak dapat menerapkan Nomor 43 Tahun 2021 tentang syarat dan tata
protokol kesehatan, seperti menjaga jarak dan cara pemberian asimilasi, pembebasan
menjauhi kerumunan. Sebagai contoh, lapas bersyarat, cuti menjelang bebas, dan cuti
atau rutan di DKI Jakarta sebagai kota dengan bersyarat bagi narapidana dan anak dalam
jumlah penderita Covid-19 tertinggi di Indonesia rangka pencegahan dan penanggulangan
yaitu mengalami overcapacity. Berdasarkan penyebaran di tengah wabah Covid-19.
data Sistem Database Pemasyarakatan Publik Berdasarkan Permenkumham Nomor 10
(SDP Publik) per tanggal 31 Desember Tahun 2020, asimilasi adalah proses pembinaan
2021, overcapacity di lapas atau rutan di DKI narapidana dan anak yang dilaksanakan dengan
Jakarta menyebabkan narapidana tidak dapat membaurkan narapidana dan anak dalam
menjalankan protokol kesehatan seperti kehidupan masyarakat. Narapidana yang dapat
menjaga jarak (physical distancing) dan diberikan asimilasi harus memenuhi syarat
menjauhi kerumunan dalam rangka pencegahan berkelakuan baik dibuktikan dengan tidak
penyebaran Covid-19. sedang menjalani hukuman disiplin dalam kurun
Berikut adalah tabel data overcapacity waktu enam bulan terakhir, aktif mengikuti
yang terjadi di lapas atau rutan di wilayah DKI program pembinaan dengan baik, dan telah
Jakarta. menjalani ½ (satu per dua) masa pidana.
Sejak dikeluarkannya kebijakan tersebut,
Tabel 1. berdasarkan data SDP Publik hingga 11 Januari
Overcapacity di Lapas atau Rutan di DKI Jakarta 2022 tercatat sudah ada 127.028 narapidana
Jumlah dan anak yang telah menjalankan asimilasi dari
Lapas/ Kapasi Over
Tahanan dan lapas, rutan, dan LPKA seluruh Indonesia akibat
Rutan tas capacity
Narapidana pandemi Covid-19. Jumlah tersebut sangat
Lapas Kelas 572 2095 266% mempengaruhi dalam upaya meminimalisasi
IIA Salemba penyebaran Covid-19 di lingkungan lapas, rutan,
dan LPKA mengingat jumlah populasi penghuni
Lapas 1084 2988 176% lapas, rutan, dan LPKA hingga kini masih
Narkotika
mengalami overcapacity.
Journal of Correctional Issues Volume 5, No.1 | 2022
14
Fachri Ezra, Give Duwi Gambaran Pemaafan Keluarga

Pelaksanaan kebijakan program asimilasi 1. Dimensi emosi, dengan beberapa


yang diterapkan oleh Kementerian Hukum dan indikatornya yaitu meninggalkan perasaan
HAM belum sepenuhnya menyelesaikan marah, sakit hati, benci, mampu
persoalan di masa pandemi Covid-19. mengontrol emosi saat diperlakukan tidak
Narapidana yang mendapatkan program menyenangkan, perasaan iba dan kasih
asimilasi berpotensi menjadi beban tambahan sayang terhadap pelaku, dan perasaan
bagi keluarga di tengah sulitnya kondisi nyaman ketika berinteraksi dengan pelaku.
ekonomi akibat pandemi Covid-19. Narapidana 2. Dimensi kognisi, dimana seseorang dapat
tersebut juga memiliki kemungkinan untuk meninggalkan penilaian negatif terhadap
mengulangi tindak pidana kembali akibat pelaku, memiliki penjelasan nalar atas
kondisi ekonomi yang tidak stabil. perlakuan yang menyakitkan, dan memiliki
Namun pada kenyataannya masih banyak pandangan yang berimbang terhadap
anggota keluarga yang rela bersedia menjadi pelaku.
penjamin (pihak yang bertanggung jawab untuk 3. Dimensi interpersonal, dimana seseorang
sanggup membimbing dan mengawasi mampu meninggalkan perilaku atau
narapidana selama menjalani program asimilasi perkataan yang menyakitkan terhadap
agar tidak melarikan diri dan tidak melakukan pelaku, meninggalkan keinginan balas
perbuatan melanggar hukum) agar narapidana dendam, meninggalkan perilaku acuh tak
dapat mengikuti program asimilasi untuk acuh, meninggalkan perilaku menghindar,
menjalani kehidupan kembali di tengah meningkatkan konsiliasi atau rekonsiliasi
masyarakat. Kesediaan para anggota keluarga, hubungan, motivasi kebaikan atau
kerabat, masyarakat, dan pemerintah setempat kemurahan hati, dan musyawarah dengan
di lingkungan tempat tinggal narapidana tidak pihak yang pernah jadi pelaku.
dapat dipisahkan dari adanya sikap pemaafan
Berdasarkan uraian di atas, peneliti
(forgiveness) terhadap narapidana yang telah
memfokuskan penelitian melalui perspektif
berperilaku mengecewakan.
psikologi ulayat yaitu melihat beragam suku
Menurut Philpot (dalam Anderson, 2006),
atau etnis yang ada di Indonesia. Penelitian ini
pemaafan dapat diartikan sebagai hasil dari
difokuskan pada keluarga, kerabat, atau
proses keterlibatan perubahan emosi dan sikap
tetangga dari narapidana yang mendapatkan
kepada pelaku. Synder dan Thompson (Lopez &
program asimilasi yang bersuku Jawa. Hal
Snyder, 2003), mendefinisikan pemaafan adalah
tersebut berdasarkan fenomena yang ada di
membingkai pelanggaran yang dirasakan
masyarakat bahwa suku Jawa memiliki populasi
sedemikian rupa sehingga ikatan seseorang
terbesar di Indonesia dengan keberadaan yang
terhadap pelanggar pelanggaran dan gejala sisa
menyebar dan diyakini memiliki pengaruh kuat
dari pelanggaran hukum berubah dari negatif ke
dalam beragam domain kehidupan. Nashori
netral atau positif.
(2011) menyatakan bahwa orang Jawa dianggap
Baumeister, dkk (1998) membagi
sopan jika dapat menghindari keterusterangan
pemaafan menjadi dua dimensi, yaitu dimensi
yang serampangan, dan mampu mengelola
intrapsikis dan dimensi interpersonal. Dimensi
emosi negatif yang disimpan dalam hati dengan
intrapsikis meliputi aspek emosi dan kognisi
membebaskannya atau memaafkannya. Hal
yang melibatkan keadaan dan proses yang
tersebut dimiliki oleh orang yang bijak dan taat
terjadi di dalam diri orang yang disakiti secara
kepada agama dan budayanya.
emosional maupun pikiran dan perilaku yang
Selain itu suku Jawa juga memiliki
menyertainya. Sedangkan dimensi interpersonal
perangkat sistem nilai budaya dan norma-
meliputi aspek sosial pemaafan terhadap orang
norma yang berorientasi pada prinsip rukun dan
lain yang termasuk tindakan sosial antara
hormat yang menunjang pada perilaku
sesama manusia.
pemaafan (Susetyo, 2017). Orang bersuku Jawa
Mengacu pada konsep pemaafan
dinilai lebih baik nrimo karena akan membantu
Baumeister, dkk. Nashori (2011),
individu memaafkan perlakuan yang tidak
mengembangkan konsep pemaafan manjadi
menyenangkan atau tidak adil dari orang lain
tiga dimensi, yaitu:
(Nashori, 2011). Menurut Suseno (Nashori,

Journal of Correctional Issues Volume 5, No.1 | 2022


15
Fachri Ezra, Give Duwi Gambaran Pemaafan Keluarga

2011) nrimo adalah menerima segala sesuatu dalam bentuk kuesioner online. Analisis data
tanpa adanya protes dan pemberontakan. yang dilakukan adalah analisis deskriptif.
Nashori, dkk (2013) menjelaskan bahwa Peneliti juga akan melihat perbedaan pemaafan
masyarakat etnis Jawa memiliki prinsip memayu ditinjau jenis kelamin, usia, dan tingkat
hayuning bawana (menjaga ketentraman dunia pendidikan. Data penelitian yang telah
dan isinya), mikul dhuwur mendhem jero diperoleh dianalisis menggunakan program
(mengingat kebaikan melupakan keburukan), komputer Statistical Product and Service
ati ati lan waspada (hati-hati dan waspada, Solutions (SPSS) 26.00 for Windows melalui
waspada berarti menjauhkan diri dari distribusi frekuensi dan uji beda.
perbuatan yang mencelakakan diri).
Pada penelitian sebelumnya yang Hasil dan Pembahasan
dilakukan oleh Karina (2014), menemukan Setelah dilakukan pengambilan data
bahwa ada hubungan positif yang sangat melalui kuesioner skala pemaafan yang
signifikan antara nilai budaya Jawa (rukun- berjumlah 14 (empat belas) item terhadap 50
hormat) dan pemaafan pada hubungan remaja (lima puluh) responden, berikut adalah sebaran
dengan orang tua. Penelitian lainnya yang data responden:
dilakukan oleh Nashori, dkk (2013) menunjukan Tabel 2.
bahwa adanya perbedaan pemaafan pada etnis Gambaran Demografis Responden
Jawa jika ditinjau dari tingkat pendidikan, Karakteristik Responden Jumlah %
sedangkan jika ditinjau berdasarkan jenis
kelamin dan usia tidak menunjukan adanya Jenis Laki-laki 26 52%
perbedaan. Penelitian Cheng & Yim (2008) Kelamin
Perempuan 24 48%
menunjukan bahwa orang yang berusia dewasa
akhir memberi pemaafan yang lebih tinggi Usia Dewasa Awal 9 18%
dibandingkan dengan dewasa awal. (18-30th)
Berdasarkan uraian di atas, peneliti Dewasa 37 74%
tertarik untuk melihat pemaafan keluarga etnis Menengah (31-
Jawa terhadap narapidana yang mendapatkan 65th)
program asimilasi. Peneliti juga akan melihat 4 8%
Dewasa Akhir
apakah ada perbedaan pemaafan jika ditinjau (>65th)
dari jenis kelamin, usia, dan tingkat pendidikan.
Tingkat Tidak Tamat SD 7 14%
Metode pendidi
Metode penelitian ini menggunakan kan SD/ Sederajat 3 6%
pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 50
SMP/ Sederajat 3 6%
(lima puluh) responden yang merupakan
anggota keluarga dari narapidana yang SMA/ Sederajat 23 46%
mendapatkan program asimilasi di wilayah DKI
D4/S1 14 28%
Jakarta. Responden penelitian berjenis kelamin
laki-laki dan perempuan berusia 18 (delapan Pada pengolahan data berdasarkan
belas) hingga 71 (tujuh puluh satu) tahun yang distribusi frekuensi untuk melihat tingkat
bersuku Jawa dengan metode pengambilan pemaafan pada responden, dapat dilihat
sample menggunakan teknik purposive sebagai berikut:
sampling. Pemaafan diukur menggunakan skala Tabel 3.
pemaafan yang dikembangkan oleh Nashori Norma Hasil Kategorisasi Pemaafan Menurut
(Fatmawati, 2017) terdiri dari 14 (empat belas) Skor Persentil
item berdasarkan tiga dimensi, yaitu dimensi
emosi, kognitif, dan interpersonal. Alat ukur Persentil Kategorisasi Frekuensi %
tersebut memiliki koefisien item total bergerak
antara 0.304-0.742 dengan koefisien alpha 14 ≤ X < Rendah 0 0%
sebesar 0.935 yang disebar kepada responden 32

Journal of Correctional Issues Volume 5, No.1 | 2022


16
Fachri Ezra, Give Duwi Gambaran Pemaafan Keluarga

Berdasarkan hasil uji beda pada tabel di


32 ≤ X < Sedang 11 22%
atas ditemukan bahwa adanya perbedaan
51
tingkat pemaafan ditinjau dari tingkat
51 ≤ X < Tinggi 39 78% pendidikan, namun tingkat pemaafan tidak ada
70 perbedaan jika ditinjau dari jenis kelamin dan
Tabel 3 menunjukkan bahwa 78% atau 39 usia. Hal ini sejalan dengan penelitian yang
(tiga puluh sembilan) responden memiliki dilakukan oleh Nashori, dkk (2013) bahwa ada
tingkat pemaafan yang tinggi, sedangkan 22% perbedaan pemaafan pada etnis Jawa jika
atau 11 responden lainnya memiliki pemaafan ditinjau dari tingkat pendidikan, sedangkan jika
tingkat sedang. Hal ini menunjukan bahwa ditinjau berdasarkan jenis kelamin dan usia
keluarga etnis Jawa dari narapidana yang tidak menunjukan adanya perbedaan.
mendapatkan program asimilasi memiliki Penelitian ini menunjukan adanya
kesediaan untuk meninggalkan hal-hal yang pengaruh tingkat pendidikan terhadap
tidak menyenangkan yang bersumber dari pemaafan karena mereka yang lebih tinggi
hubungan interpersonal dengan orang lain dan pendidikannya memiliki kesempatan untuk
menumbuhkembangkan pikiran, perasaan, dan belajar hidup bersama lebih besar dibandingkan
hubungan interpersonal yang positif dengan mereka yang pendidikannya lebih rendah.
orang lain yang telah mengecewakannya. Pendidikan melatih individu untuk hidup
Tingkat pemaafan yang tinggi pada responden bersama termasuk bagaimana cara mengatasi
dapat disebabkan oleh adanya sikap nrimo yang konflik di antara mereka yang didasari oleh rasa
dapat membantu responden memaafkan memaafkan.
perlakuan yang tidak menyenangkan atau tidak Tidak adanya pengaruh jenis kelamin
adil dari orang lain, serta adanya perangkat terhadap pemaafan disebabkan karena adanya
sistem budaya dan norma-norma berupa prinsip budaya Jawa dimana laki-laki maupun
rukun dan hormat yang dapat menunjang sikap perempuan mendapatkan tugas yang sepadan
pemaafan. dalam mengembangkan hubungan
Pada hasil pengolahan uji beda yang interpersonal seperti prinsip memayu hayuning
ditinjau dari jenis kelamin, usia, dan tingkat bawana (menjaga ketentraman dunia dan
pendidikan menunjukan hasil data sebagai isinya), mikul dhuwur mendhem jero (mengingat
berikut: kebaikan melupakan keburukan), ati ati lan
waspada (hati-hati dan waspada, waspada
Tabel 4. berarti menjauhkan diri dari perbuatan yang
Uji Beda Pemaafan Berdasarkan Jenis Kelamin mencelakakan diri).
Variabel Z Sig Keterangan Tidak adanya pengaruh usia terhadap
Tidak ada pemaafan bertentangan dengan hasil penelitian
Pemaafan -0.904 0.366 sebelumnya (Cheng & Yim, 2008) yang
perbedaan
menunjukan bahwa orang yang berusia dewasa
Tabel 5. akhir memberi pemaafan yang lebih tinggi
Uji Beda Pemaafan Berdasarkan Usia dibandingkan dengan dewasa awal. Nashori,
Variabel F Sig Keterangan dkk (2013) menjelaskan bahwa usia memang
sering dianggap berkaitan dengan kedewasaan
Tidak ada
Pemaafan 2.289 0.113 yang berkonotasi dengan kematangan dalam
perbedaan
bersikap dan berperilaku. Namun, hal lain yang
Tabel 6. perlu diperhatikan adalah tidak dengan
Uji Beda Pemaafan Berdasarkan Tingkat sendirinya pertambahan usia menjadikan
Pendidikan seseorang mengambil peran sesuai usianya
kadang ditemukan fakta adanya orang yang
Kruskal-
Variabel Sig Keterangan berusia dewasa tetapi menunjukan perilaku
Wallis H
yang kekanak-kanakan, begitupun sebaliknya.
Ada
Pemaafan 13.700 0.008
perbedaan

Journal of Correctional Issues Volume 5, No.1 | 2022


17
Fachri Ezra, Give Duwi Gambaran Pemaafan Keluarga

Simpulan anak dalam rangka pencegahan dan


Penelitian ini menemukan dua hasil penanggulangan penyebaran Covid-19.
utama, yaitu adanya tingkat pemaafan yang [Link]
tinggi pada keluarga etnis Jawa terhadap .[Link]/common/dokumen/bn/2021/bn10
narapidana yang mendapatkan program [Link]
asimilasi; dan adanya perbedaan tingkat
Karina, V.D. (2014). Pengaruh nilai budaya jawa
pemaafan ditinjau dari tingkat pendidikan,
(rukun - hormat) terhadap pemaafan
namun tingkat pemaafan tidak ada perbedaan
dalam konteks hubungan remaja dengan
jika ditinjau dari jenis kelamin dan usia.
orang tua. (Thesis).
[Link]
Saran
Pada penelitian ini, peneliti tidak Lopez, S.J., & Snyder, C.R. (2003). Positive
melibatkan seluruh keluarga narapidana yang psychological assessment: A handbook of
berdomisili di seluruh wilayah DKI Jakarta models and measures. American
(Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Psychological Association.
Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Kepulauan
Nashori, H.F. (2011). Meningkatkan kualitas
Seribu) secara proporsional. Sehingga bagi
hidup dengan pemaafan. Unisia, 33(75),
peneliti selanjutnya diharapkan untuk
214-226. [Link]
melibatkan responden secara proporsional di
20885/unisia.vol33.iss75.art1
seluruh wilayah DKI Jakarta.
Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik Nashori, H.F., Iskandar, T.Z., Setiono, K., &
melakukan penelitian sejenis, dapat melibatkan Siswadi, A.G.P. (2013). Pemaafan pada
keluarga etnis lain dari narapidana yang etnis Jawa ditinjau dari faktor demografi.
mendapatkan program asimilasi dengan tujuan Psikologika. 18(2), 119-128.
untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan [Link]
tingkat pemaafan yang ditinjau dari perbedaan gika.vol18.iss2.art2
etnis. Satuan Tugas Penanganan Covid-19. (2021).
Data sebaran. [Link]
Daftar Pustaka
Anderson, N. (2006). Forgiveness: A sampling of Sistem Database Pemasyarakatan Publik.
research results. American Psychological (2021). Jumlah Penghuni Data Harian
Association. Kanwil Spesifik. [Link]
[Link]/analisis/public/grl/harian/kanwi
Baumeister, R. P., Exiine, J. J., & Sommer, K. L.
l/db5c8f20-6bd1-1bd1-ae4c-313134
(1998). The victim role, grudge theory,
333039/date/2021-12-31?q= grl/curren
and two dimensions of forgiveness. The
t/daily/kanwil/db5c8f20-6bd1-1bd1-ae
Templeton Foundation Press.
4c-313134333039/ date/2021-12-31
Cheng, S.T., & Yim, Y.K. (2008). Age differences
Susetyo, M.S.D.P.B. (2017). Karakteristik
in forgiveness: The role of future time
pemaafan berbasis budaya jawa.
perspective. Psychology and Aging, 23(3),
Psikodimensia 16(1), [Link]://doi.
676–680. [Link]
org/10.24167/psiko.v16i1.953
7974.23.3.676
Fatmawati, R. (2017). Hubungan agreeableness
(kebaikan hati) dan forgiveness
(pemaafan) pada mahasiswa. (Thesis).
[Link]
[Link]/handle/123456789/ 5488
Indonesia. Kementerian Hukum dan HAM.
(2020). Permenkumham Nomor 10 Tahun
2020 tentang syarat pemberian asimilasi
dan hak integrasi bagi narapidana dan
Journal of Correctional Issues Volume 5, No.1 | 2022

You might also like