JLB
Volume 3, Nomor 1, April 2019
JURNAL LIFE BIRTH
p-ISSN: 2580-0574 ; e-ISSN:
Description Of Factors Affecting KB Acceptors In Selecting Condom
Contraceptions
Marwidah1, Andi Tenri Fajriani2, Surianto Iskandar3
1
Department of Midwifery, Stikes Panrita Husada Bulukumba, Indonesia
2
Department of Midwifery, Stikes Panrita Husada Bulukumba, Indonesia
3
Nursing Student, Stikes Panrita Husada Bulukumba, Indonesia
Corresponding author: Marwidah
Email: marwidahpanrita@[Link]
ABSTRACT
The choice of condom contraception makes husbands not satisfied with sexual intercourse. This shows
that the husband's attitude is still negative towards the use of condom contraception that only thinks of
himself, as well as the role of the wife in the use of condom contraception selection in intercourse which
is still negative in the work area of the Karassing Health [Link] population in this study was the
husband of EFA active family planning acceptors who visited in the last 7 months (September 2017 -
March 2018), the population in this study was 44 respondents, the sample of this study was 30
respondents. The sampling technique uses a probability sampling technique with a simple random
sampling approach. This type of research is a descriptive study. Analysis to measure the wife's
knowledge, attitudes, and support is univariate analysis. Good knowledge results as many as 11
respondents (36.7%), while sufficient knowledge of 10 respondents (33.3%), and lack of knowledge as
many as 9 respondents (30.3%). The results of positive attitudes were 29 respondents (96.7%), while
negative attitudes were 1 respondent (3.3%). The results of the wife's support received the support of 16
respondents (53.3%), while those who did not receive support were 14 respondents (46.7%).The
conclusion of this study is, "the majority of respondents' knowledge is in a good category, most of the
husband's attitudes are in a positive category, most of the husbands have the support of their wives in the
selection of condom contraception in the work area of the Karassing Health Center in 2018.
Keywords: Knowledge, Attitude, Wife Support, Family Planning
[Link] Page 35
JLB
Volume 3, Nomor 1, April 2019
JURNAL LIFE BIRTH
p-ISSN: 2580-0574 ; e-ISSN:
I. PENDAHULUAN
Keluarga berencana adalah suatu upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal
melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuai dengan
hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga berkualitas (Bakar, 2014). Kontrasepsi adalah
mencegah atau menghindari terjadinya pertemuan antara sel sperma dengan sel telur sehingga
tidak terjadi kehamilan yang tidak diinginkan (Bakar, 2014). Prinsip kerja dari kontrasepsi itu
sendiri mampu menekan ovulasi, menahan masuknya sperma sampai mencapai ovum, dan
menghalangi nidasi. Berbagai jenis kontrasepsi diantaranya yaitu kondom, coitus interuptus,
KB alami, diafragma, spermicidal, suntik KB, implant, AKDR, MOW (tubektomi) dan MOP
(vasektomi) (Padila, 2014).
Kondom merupakan sarung yang di pasang di penis saat berhubungan seksual dalam
mencegah masuknya sperma kedalam sel telur adapun kelebihan dari alat kontrasepsi
kondom yaitu mampu mencegah infeksi menular seksual, tidak mengganggu produksi air
susu ibu (ASI), tidak memiliki efek sistemik, murah dan mudah di dapatkan di tempat umum
kemudian adapun kekuranganya adalah kadang secara psikologis mengganggu hubungan
seksual (Chris, Frans, Sonia, & Eka Adip, 2014). Indonesia merupakan Negara berkembang
yang memiliki jumlah penduduk pada tahun 2017 yang menempati urutan ke empat
terbanyak dunia dengan jumlah penduduk diperkirakan 261 juta jiwa (Badan Pusat Statistik,
2017).
Menurut World Health Organization (2017) penggunaan kontrasepsi telah meningkat di
bagian dunia, terutama di Asia dan Amerika Latin dan terendah di Sub-Sahara Afrika. Secara
global, penggunaan kontrasepsi modern telah meningkat tidak singinifikan dari 54% pada
tahun 1990 menjadi 57,4% pada tahun 2014. Secara regional, proporsi pasangan usia subur
15-49 tahun melaporkan penggunaan metode kontrasepsi modern telah meningkat minimal 6
tahun terakhir. Di Afrika dari 23,6% menjadi 27,6%, di Asia telah meningkat dari 60,9%
menjadi 61,6%, sedangkan Amerika Latin dan Karibia naik sedikit dari 66,7% menjadi
67,0%. Penggunaan kontrasepsi oleh laki-laki merupakan subset yang relatif kecil dari
tingkat prevalensi di atas. Metode kontrasepsi modern untuk pria terbatas pada kondom pria
dan sterilisasi (vasektomi) (WHO, 2018).
Berdasarkan pengumpulan data profil kesehatan Indonesia tahun 2016, jumlah pasangan
usia subur di indonesia sebanyak 48.536.690, dengan jumlah peserta KB aktif 36.306.662 dan
yang menggunakan alat kontrasepsi kondom sebanyak 1.171.509 (KemenKes RI, 2017). Dari
data profil kesehatan Indonesia berdasarkan cakupan peserta KB baru dan KB aktif menurut
[Link] Page 36
JLB
Volume 3, Nomor 1, April 2019
JURNAL LIFE BIRTH
p-ISSN: 2580-0574 ; e-ISSN:
provinsi, pasangan usia subur di Sulawesi Selatan berjumlah 1.416.867 dengan peserta KB
aktif yaitu 1.024.418 dan yang menggunakan kondom sebanyak 42.318 pasangan (KemenKes
RI, 2017).
Data dinas kesehatan kabupaten bulukumba (2016) jumlah pasangan usia subur sebanyak
75.846 dengan peserta KB aktif 49.020 dan pengguna alat kontrasepsi kondom sebanyak
1.072. Sedangkan menurut kecamatan dan puskesmas, jumlah pengguna alat kontrasepsi
kondom tertinggi di kecamatan kindang yaitu di puskesmas balibo dengan jumlah pengguna
218 pasangan dan tertinggi kedua di kecamatan kajang yaitu di puskesmas tanah toa dengan
jumlah pengguna 153 pasangan dan wilayah kerja Puskesmas yang memiliki pengguna alat
kontrasepsi kondom terendah di Puskesmas Lembanna dimana jumlah pengguna hanya 14
pasangan. Sementara wilayah kerja puskesmas karassing tidak ditemukan pengguna alat
kontrasepsi kondom dengan jumlah 0 pasangan dari akseptor KB aktif maupun baru (Dinas
Kesehatan, 2017).
Berdasarkan studi pendahuluan yang di lakukan oleh peneliti di wilayah kerja puskesmas
karassing di dapatkan data bahwa penggunaan alat kontrasepsi pada tahun 2016, dari 1.563
pasangan usia subur dengan peserta KB aktif 1.062 pasangan, yang menggunakan alat
kontrasepsi kondom yaitu 0 pasangan dan jumlah peserta KB aktif pada 7 bulan terakhir
(Desember 2017 - Maret 2018) sebanyak 44 pasangan. Fitri Handayani melaporkan dalam
penelitiannya tentang Hubungan Pengetahuan dengan Sikap Suami dengan Penggunaan
Kondom di Desa Bukit Melintang di Wilayah Kerja Puskesmas Kuok tahun 2014”. Dari 114
orang suami, hampir seluruh suami tidak menggunakan kondom yaitu sebanyak 109 suami
dan 5 pengguna kondom. Hampir seluruh suami berpengetahuan rendah yaitu sebanyak 106
suami dan sebagian besar suami memiliki sikap negatif sebanyak 71 suami, asumsi peneliti
umumnya yang memiliki pengetahuan baik dan sikap yang positif lebih cenderung
menggunakan alat kontrasepsi kondom dibandingkan dengan yang berpengetahuan rendah
dan yang memiliki sikap yang negatif.
Kemudian Penelitian yang dilakukan Siti Novianti dan Rian Arie Gustaman (2014) yang
berjudul “Faktor Persepsi dan Dukungan Istri yang Berhubungan dengan Partisipasi KB
Pria”. Dari 64 sampel, Dimana dalam pengguna alat kontrasepsi kondom, lebih banyak
ditemukan pada dukungan istri yang baik sebesar (87,9%). Yang artinya dukungan yang baik
dari istri, akan sangat berpengaruh dalam keikutsertaan suami dalam ber KB. Penelitian ini
sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sumiati dan Yusro Hadi M (2012), tentang
faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap penggunaan alat kontrasepsi kondom di Kota
[Link] Page 37
JLB
Volume 3, Nomor 1, April 2019
JURNAL LIFE BIRTH
p-ISSN: 2580-0574 ; e-ISSN:
Metro. Mengatakan bahwa dukungan istri kemungkinan 8 kali lebih besar pengaruhnya
terhadap penggunaan alat kontrasepsi kondom dibanding dengan istri yang tidak mendukung
suaminya.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti diwilayah kerja puskesmas
karassing terhadap 10 orang suami, 6 dari 10 suami belum mengetahui dengan jelas
pengertian serta manfaat darikondom. Kemudian mereka mengatakan bahwa hanya istri yang
boleh menggunakan kontrasepsi dan mereka mengatakan tidak merasa puas melakukan
hubungan seksual jika memakai kondom. Hal ini menunjukkan bahwa sikap suami masih
negatif terhadap penggunaan kontrasepsi kondom yang hanya memikirkan dirinya sendiri, di
tambah lagi para suami mengatakan istri saya tidak pernah menawarkan saya untuk
menggunakan KB jadi saya merasa baik-baik saja. Jika hal ini di biarkan terus terjadi maka
akan berdampak negatif pada ibu-ibu peserta KB salah satunya adalah ganguan hormon
seperti kegemukan, dengan terjadinya kengemukan membuat tubuh ibu-ibu tidak ideal lagi.
Kita ketahui bahwa kontrasepsi kondom selain bermanfaat sebagai kontrasepsi yang efeknya
minim terhadap pengguna, juga bermanfat sebagai non kontrasepsi yang dapat mengcegah
berbagai penyakit infeksi menular seksual seperti HIV, sfilis dll. Dari hasil survei awal yang
dilakukan oleh peneliti rata-rata peserta KB mengalami kegemukan. Dengan tidak adanya
suami akseptor KB yang menjadi peserta KB maka perlu dicari faktor penyebab untuk
membuat para suami berperan aktif dalam berKB yang salah satunya menggunakan KB
kondom untuk meminimalisir berbagai hal-hal negatif yang akan menyerang ibu-ibu akseptor
KB nantinya akibat efek samping dari alat kontrasepsi yang digunakan. Sehubungan dengan
hal tersebut maka peneliti tertarik mengetahui “Gambaran Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Akseptor KB dalam Pemilihan Kontrasepsi Kondom di Wilayah Kerja
Puskesmas Karassing”.
II. METODE PENELITIAN
Desain penelitian
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Dimana dalam penelitian ini, peneliti
mendeskripsikan gambaran pengetahuan, sikap, dan dukungan istri yang mempengaruhi
akseptor KB dalam pemilihan kontrasepsi kondom di wilayah kerja puskesmas karassing
tahun 2018.
Populasi dan sampel
Dalam penelitian ini populasinya adalah PUS akseptor KB aktif yang berkunjung dalam
7 bulan terakhir (September 2017 - Maret 2018) di wilayah kerja puskesmas karassing yang
[Link] Page 38
JLB
Volume 3, Nomor 1, April 2019
JURNAL LIFE BIRTH
p-ISSN: 2580-0574 ; e-ISSN:
berjumlah 44 pasangan. Sampel dalam penelitian ini yakni sebanyak 30 pasangan akseptor
KB aktif.
Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik probability sampling
adalah teknik penganbilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur
(anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel (Sugiyono, 2014). Dengan
pendekatan simple random sampling adalah pengambilan anggota sampel dari populasi
dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang dalam populasi itu (Sugiyono, 2014).
Instrumen pengumpulan data
Instrumen penelitian ini adalah berupa lembar kuesioner dalam pertanyaan yang
terstruktur untuk mendeskripsikan gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi absektor KB
tidak menggunakan alat kontrasepsi kondom pada peserta KB aktif di wilayah kerja
puskesmas karassing
Analisa data
Analis univariat adalah data yang diperoleh dari hasil pengumpulan disajikan dalam
bentuk tabel distribusi frekuensi, ukuran tendensi sentral atau grafik (Suryono & Anggraeni,
2013). Dimana data yang akan dianalisis adalah gambaran pengetahuan, persepsi, sikap, dan
dukungan istri pada akseptor KB tidak menggunakan kondom. Kemudian disajikan dalam
bentuk tabel distribusi frekuensi.
III. HASIL
Berdasarkan tabel 1 distribusi jumlah responden bedasarkan kriteria umur yaitu umur
22-35 tahun sebanyak 18 responden (60%), umur 36-47 sebanyak 12 responden (40%). Dari
distribusi frekuensi berdasarkan pendidikan dari jumlah 30 responden yaitu SD sebanyak 8
responden (26,7%), SMP sebanyak 7 responden (23.3%), SMA sebanyak 11 responden
(36.7%), Diploma II sebanyak 1 responden (3.3%) dan Sarjana sebanyak 3 responden (10.0).
Sedangkan dari distribusi frekuensi berdasarkan pekerjaan yaitu sebagai kriteria pekerjaan
sebagai petani sebanyak 18 responden (60%), kriterian pekerjaan sebagai swasta sebanyak
12 responden (40%). Dan distribusi frekuensi berdasakan kontrasepsi yang digunakan istri
responden yaitu KB suntik sebanyak 18 responden (60%), pil KB sebanyak 8 responden
(26.7%), implant sebanyak 2 responden (6.7%) dan spiral sebanyak 2 responden (6.7%).
[Link] Page 39
JLB
Volume 3, Nomor 1, April 2019
JURNAL LIFE BIRTH
p-ISSN: 2580-0574 ; e-ISSN:
Tabel 1. Distribusi karakteristik Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Karassing
Karakteristik Frekuensi Persentase (%)
Umur
22-35 18 60.0
36-47 12 40.0
Pendidikan
SD 8 26.7
SMP 7 23.3
SMA 11 36.7
Diploma II 1 3.3
Sarjana 3 10.0
Pekerjaan
Petani 18 60.0
Swasta 12 40.0
Kontrasepsi yang digunakan
istri 18 60.0
Suntik 8 26.7
Pil 2 6.7
Implant 2 6.7
Spiral
Total 30 100.0
Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa dari 30 jumlah responden setelah dilakukan
analisi univariat. Didapatkanpengetahuan baik sebanyak 11 responden (36.7%), sedangkan
pengetahuan cukup sebanyak 10 responden (33.3%), dan pengetahuan kurang sebanyak 9
responden (30.3%).
Tabel 2 Gambaran pengetahuan suami tentang alat kontrasepsi kondom di wilayah
kerja Puskesmas Karassing
Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)
Baik 11 36.7
Cukup 10 33.3
Kurang 9 30.3
Total 30 100.0
Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa dari 30 jumlah responden setelah dilakukan analisis
univariat. Didapatkan responden dengan sikap positif sebanyak 29 responden (96.7%),
sedangkan sikap negatif 1 responden (3.3%).
Tabel 3. Gambaran sikap suami tentang alat kontrasepsi kondom di wilayah kerja
Puskesmas Karassing
Sikap Frekuensi Persentase (%)
Positif 29 96.7
Negatif 1 3.3
Total 30 100.0
[Link] Page 40
JLB
Volume 3, Nomor 1, April 2019
JURNAL LIFE BIRTH
p-ISSN: 2580-0574 ; e-ISSN:
Berdasarkan tabel 4 menunjukkan dari 30 jumlah responden setelah dilakukan analisis
univariat. Didapatkan responden yang mendapat dukungan dari istri sebanyak 16 responden
(53.3%), sedangkan responden yang tidak mendapat dukukungansebanyak 14 responden
(46.7%).
Tabel 4. Gambaran dukungan istri dalam pemilihan alat kontrasepsi kondom di
wilayah kerja Puskesmas Karassing
Dukungan istri Frekuensi Persentase (%)
Mendukung 16 53.3
Tidak mendukung 14 46.7
Total 30 100.0
IV. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh pengetahuan suami tentang alat kontrasepsi
kondom di wilayah kerja Puskesmas Karassing tahun 2018, pengetahuan baik sebanyak 11
responden (36.7%), sedangkan pengetahuan cukup sebanyak 10 responden (33.3%), dan
pengetahuan kurang sebanyak 9 responden (30.3%). Hal ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Pratiwi Nengsih tahun 2016, tentang gambaran pengetahuan dan sikap suami
tentang alat kontrasepsi di dusun Soreang Desa Jipang Kecamatan Bontonompo Selatan
Kabupaten Gowa tahun 2016. Hasil pengetahuan baik 12 responden (13.3%), cukup 52
responden (57.8%), dan kurang 26 responden (28.9%) (Pratiwi, 2016).
Hal ini menunjukkan bahwa sebagian responden mengetahui dengan baik tentang KB
kondom, pengetahuan yang baik ini dapat di peroleh dari berbagai faktor diantaranya
pengalaman, sumber informasi dari orang terdekat seperti keluarga ataupun teman sebaya.
Walaupun pekerjaan responden sebagian besar adalah petani. Namun tidak menutup peluang
responden dalam meningkatkan pengetahuan tentang alat kontrasepsi kondom. Sebagian
besar pendidikan responden adalah SMA.
Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang melalui indra
yang di milikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu
pengindraan sehingga menghasilkan pengetahuan tersebut sangat di pengaruhi oleh intensitas
perhatian dan persepsi terhadap objek. Menurut Muliono (2007) dalam lestari (2015) tentang
faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan salah satunya adalah pendidikan, semakin
tinggi pendidikan maka akan mudah menerima hal baru dan akan mudah menyesuaikan
dengan hal yang baru. Begitu pula dengan pengalam seseorang, pengalaman disini berkaitan
[Link] Page 41
JLB
Volume 3, Nomor 1, April 2019
JURNAL LIFE BIRTH
p-ISSN: 2580-0574 ; e-ISSN:
dengan umur dan pendidikan individu. Pendidikan yang tinggi akan lebih luas, sedangkan
semakin tua umur seseorang maka pengalaman akan semakin banyak. Dapat dilihat bahwa
rata- rata umur responden adalah 30-40 tahun keatas.
Asumsi peneliti bahwa walaupun pengetahuan suami sebagian besar baik, namun tidak
adanya pengguna kondom dikarenakan kesibukan dari responden, dapat dilihat sebagian
besar responden memiliki pekerjaan sebagai petani, sebagai seorang petani yang biasanya
pulang saat menjelang malam yang sudah merasa capek akibat bekerjan keras dikebun. Hal
ini tidak ingin membuat para suami repot-repot lagi saat menggunakan kondom saat mau
melakukan hubungan seksual pasangan.
Berdasarkan hasil penelitian Didapatkan sikap suami tentang alat kontrasepsi kondom di
wilayah kerja puskesmas karassing tahun 2018, sikap positif sebanyak 29 responden (96.7%),
sedangkan sikap negatif 1 responden (3.3%).Penelitian ini menunjukkan sebagian besar
responden memiliki sikap yang baik terhadap alat kontrasepsi kondom. Penelitian ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan pratiwi tri tahun 2017 tentang gambaran sikap suami
tentang pemakaian kontrasepsi kondom di dusun Ngampo Desa Pacarejo Semanu Gunung
Kidul daerah istimewah Yogyakarta, hasil sikap positif 34 responden (52.3%), negatif 31
responden (47.7%). Penelitian yang dilakukan Heri, Chairul, & Andri (2014) yang
berjudul “gambaran karakteristik, pengetahuan dan sikap pria tentang kontrasepsi kondom di
desa sejahtera kecamatan sukadana kabupaten kayong utara”. Tujuan penelitian ini untuk
mendeskripsikan tingkat pengetahuan dan sikap pria tentang kontrasepsi kondom. Sebagian
besar responden yaitu sebanyak 57 orang (57,6%) mengatakan tidak setuju atau tidak
mendukung jika kontrasepsi kondom dikatakan lebih murah dan lebih aman. Hal ini
karena para suami di Desa Sejahtera menyerahkan masalah kontrasepsi sepenuhnya
kepada para istri, di sisi lain para istri sudah terbiasa menggunakan alat kontrasepsi
hormonal ( pil dan Suntikan) yang bisa digunakan untuk 1 bulan.
Temuan ini menunjukkan bahwa masih banyak responden yang enggan menggunakan
kontrasepsi kondom, dan tidak mau menghadiri kegiatan penyuluhan atau sosialisasi
kondom, sikap tersebut menunjukkan bahwa masih banyak responden yang belum
sepenuhnya mendukung penggunaan alat kontrasepsi kondom pada pria, hal ini
berhubungan signifikan dengan masih kelirunya persepsi dan pemahaman mereka
terhadap penggunaan kondom yang dianggap hanya untuk mencegah dari Penyakit
Menular Seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS, dan masyarakat masih beranggapan bahwa
kondom hanya biasa dipakai untuk berhubungan seks dengan wanita yang bukan
[Link] Page 42
JLB
Volume 3, Nomor 1, April 2019
JURNAL LIFE BIRTH
p-ISSN: 2580-0574 ; e-ISSN:
pasangan resmi mereka. Faktor lain yang berkembang di masyarakat adalah Walaupun
mereka mengetahui tujuan dan manfaat kondom, tetapi mereka masih merasa malu jika
harus membeli kondom ke tempat-tempat tertentu seperti toko obat/mini market, hal ini
terkait budaya dan kebiasaan yang berkembang di masyarakat sehingga pria merasa tabu
dan enggan untuk menggunakan kontrasepsi kondom.
Menurut Goldond Allport (1980) salah satu tokoh terkenal dibidang psikologi
kepribadian mengatakan bahwa sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap
suatu objek dengan cara-cara tertentu (Lestari, 2015). Sikap mencerminkan kesenangan atau
ketidaksenangan seseorang terhadap sesuatu (Pratiwi, 2017). Menurut lestari (2015) faktor
yang ikut berperan dalam pembentukan sikap yaitu pengalaman pribadi, Apa yang telah dan
yang sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap
stimulus social. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar pembentukan sikap. Untuk dapat
mempunyai tanggapan dan penghayatan, seseorang harus mempunyai pengalaman yang
berkaitan dengan objek psikologis. Kemudian penghayatan itu akan membentuk sikap positif
atau negatif. Tidak semua sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi
seseorang. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh
emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau bentuk pengalihan
mekanisme pertahanan ego.
Asumsi peneliti bahwa walaupun sikap suami sebagian besar positif terhadap kontrasepsi
kondom diwilayah kerja Puskesmas Karassing. Tidak adanya yang memilih menggunakan
kondom diakibatkan karena minat dan keegoisan dari suami yang hanya memikirkan
kepuasan pribadi pada saat berhubungan seksual. Hal ini dibuktikan dari jawaban responden
yang dari pernyataan yang berikan oleh responden yang mengatakan bahwa menggunakan
kondom itu tidak nikmat.
Berdasarkan hasil penelitian responden yang mendapat dukungan dari istri sebanyak 16
responden (53.3%), sedangkan responden yang tidak mendapat dukukungan sebanyak 14
responden (46.7%). Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar suami mendapat
dukungan dari istri yang baik. Penelitian Novianti & Gustaman (2014) dari 64 sampel,
memperlihatkan bahwa sebesar 82,3% responden menggunakan alat kontrasepsi pria berupa
kondom. Dimana dalam penelitian ini pengguna alat kontrasepsi kondom, lebih banyak
ditemukan pada dukungan istri yang baik sebesar (87,9%). Yang artinya dukungan yang baik
dari istri, akan sangat berpengaruh dalam keikutsertaan suami dalam KB. Penelitian ini
sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sumiyati & M, (2012) tentang “faktor-faktor
[Link] Page 43
JLB
Volume 3, Nomor 1, April 2019
JURNAL LIFE BIRTH
p-ISSN: 2580-0574 ; e-ISSN:
yang mempengaruhi terhadap penggunaan alat kontrasepsi kondom di Kota Metro”.
Mengatakan bahwa dukungan istri kemungkinan 8 kali lebih besar pengaruhnya terhadap
penggunaan alat kontrasepsi kondom dibanding dengan istri yang tidak mendukung
suaminya.
Menurut Puspita dan Nurunniayah dukungan keluarga adalah dorongan atau motivasi
yang diberikan kepada anggota keluarga untuk mencapai tujuan tertentu. Individu yang
memperoleh dorongan dari orang lain terutama keluarga terdekat, maka individu tersebut
termotivasi dan cenderung mengembangkan sikap positif terhadap dirinya sendiri karena
merasa dicintai dan diperhatikan. Keluarga berfungsi sebagai sebuah kolektor dan
desiminator (penyebar) informasi tentang dunia. Menjelaskan tentang pemberian saran,
sugesti, informasi yang dapat digunakan mengungkapkan suatu masalah. Aspek-aspek dalam
dukungan ini adalah nasehat, usulan, saran, petunjuk dan pemberian informasi. Kemajuan
program KB tidak bisa lepas dari adanya dukungan dari keluarga karena hal tersebut
berkaitan erat dengan dorongan atau motivasi yang diberikan keluarga terhadap PUS untuk
ber-KB. Dukungan keluarga dalam program KB merupakan suatu bentuk dari kepedulian
keluarga yang memberikan kontribusi secara nyata untuk mewujudkan keluarga kecil yang
berkualitas.
Dukungan keluarga mengacu pada suatu dukungan yang dipandang oleh angggota
keluarga lain sebagai suatu hal yang dapat bermanfaat baik dalam hal pemecahan masalah,
pemberian keamanan dan peningkatan harga [Link] keluarga merupakan salah satu
faktor penguat (reinforcing factor) yang sangat berpengaruh terhadap seseorang untuk
berperilaku positif yang akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan program KB di
Indonesia (Noviawati, 2011). Kemajuan program KB tidak bisa lepas dari adanya dukungan
dari keluarga karena hal tersebut berkaitan erat dengan dorongan atau motivasi yang
diberikan keluarga terhadap PUS untuk ber-KB. Dukungan keluarga dalam program KB
merupakan suatu bentuk dari kepedulian keluarga yangmemberikan kontribusi secara nyata
untuk mewujudkan keluarga kecil yang berkualitas (BKKBN, 2012).
Asumsi peneliti walaupun sebagian suami mendapat dukungan yang baik dari istri, akan
tetapi para suami masih tetap tidak ada yang memilih menggunakan kontrasepsi kondom, hal
ini diakibatkan karena kesadaran dan pengertian suami terhadap istri masih kurang, dan
menganggap bahwa berKB adalah urusan istri.
[Link] Page 44
JLB
Volume 3, Nomor 1, April 2019
JURNAL LIFE BIRTH
p-ISSN: 2580-0574 ; e-ISSN:
V. KESIMPULAN DAN SARAN
Gambaran hasil penelitian pengetahuan suami tentang alat kontrasepsi kondom
diwilayah kerja Puskesmas Karassing 2018, sebagian besar pengetahuan responden dalam
kategori baik, sebagaian besar sikap suami dalam kategori positif, dukungan isri tentang alat
kontrasepsi kondom diwilayah kerja Puskesmas Karassing 2018, sebagian besar suami
mendapat dukungan yang baik dari istri. Bagi Puskesmas karassing agar sekiranya
memberikan motivasi kepada suami PUS untuk ikut berKB menggunakan KB kondom.
DAFTAR PUSTAKA
Erika, K. A., & Nurachmah, E. (2014). Pengaruh Pendekatan Child Healthcare Model dan
Transtheoretical Model terhadap Asupan Makan Anak Overweight dan Obesitas.
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional.
Pemerintah Kabupaten Bulukumba. (2018). Bulukumba: di Akses pada Tanggal 24,4,2018.
Amalia, G. H. (2012). Perilaku Pemakaian Kondom dengan Kejadian Infeksi Menular
Seksual. Jurnal Keperawatan Ilmiah STIKES Hang Tuah Surabaya Volume 3.
Badan Pusat Statistik. (2017, September 10). Jumlah Penduduk Indonesia. Dipetik Maret 23,
2018, dari Tumoutounews: [Link]
Bakar, S. A. (2014). Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana. Jakarta: Rajawali Pers.
BKKBN. (2012). Arah Kebijakan dan Strategi BKKBN Tahun 2013. Jakarta: BKKBN.
Chris, T., Frans, L., Sonia, H., & Eka Adip, P. (2014). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta:
Media Aesculapius.
DEPKES. (1990).
Dharma, K. K. (2011). Metodologi Penelitian Keperawatan. Jakarta Timur: CV. Trans Media
Info.
Dinas Kesehatan. (2017). Data Dinas Kesehatan. Bulukumba: DinKes bulukumba.
Handayani, F. (2017). hubungan Pengetahuan dan Sikap Suami dengan Penggunaan Kondom
di Desa Bukit Melintang Wilayah Kerja Puskesmas Kuok 2014. Jurnal Ners
Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai.
Heri, S., Chairul, F., & Andri, H. D. (2014). Gambaran Karakteristik, Pengetahuan dan Sikap
Pria tentang kontrasepsi Kondom di Desa Sejahtera Kecamatan Sukadana Kabupaten
Kayong Utara. Jurnal Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pontianak.
[Link] Page 45
JLB
Volume 3, Nomor 1, April 2019
JURNAL LIFE BIRTH
p-ISSN: 2580-0574 ; e-ISSN:
Jenny, M., Freike, L., Iyam, M., & Naomy, T. M. (2014). Kesehatan Reproduksi dan
Pelayanan Keluarga Berencana. Bogor: In Media.
KNEPK. ([Link].).
Notoadmojo, S. (2012). Metodologi peneletian kesehatan. jakarta: rineka cipta.
Novianti, S., & Gustaman, R. A. (2014). Faktor Persepsi dan Dukungan Isteri yang
berhubungan dengan Partisipasi KB Pria. Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia Vol.
10.
Noviawati. (2011). Panduan Lengkap Pelayanan KB Terkini. Yogyakarta: Nuha Medika.
Padila. (2014). Keperawatan maternitas. Yogyakarta: Nuha Medika.
Prabowo, A., & Sari, D. K. (2011). Hubungan Pengetahuan dan Sikap Pria tentang Keluarga
Berencana dengan Perilaku Pria dalam Berpartisipasi Menggunakan Metode
Kontrasepsi Keluarga Berencana di Desa Larangan Kecamatan Larangan Kabupaten
Brebes . GASTER, Vol. 8.
Pratiwi, M. R. (2017). Gambaran Sikap Suami Tentang Pemakaian Kontrasepsi Kondom Di
dusun Ngampo Desa Pacarejo Semanu Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta.
Karya Tulis Ilmiah.
Pratiwi, N. Y. (2016). Gambaran Pengetahuan dan Sikap Suami Tentang Alat Kontrasepsi di
Dusun Soreang Desa Jipang Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Goa. Karya
Tulis Ilmiah.
Prihatanti, n. r. (2010). hubungan antara kecemasan. kecemasan.
Psychologymania. (2012, Agustus). Pengertian Dukungan Keluarga. Dipetik April 05, 2018,
dari Psycologymania: [Link]
Puspitasari, D., & Nurunniyah, s. (2014). Dukungan Keluarga Dalam Keikutsertaan KB pada
Pasangan Usia Subur di Desa Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta. Jurnal Ners
dan Kebidanan Indonesia.
Puspitasari, Y. p., Abidin, Z., & Sawitri, D. R. (2010). hubungan antara dukungan sosial
teman sebaya dengan kecemasan menjelang ujian nasional pada siswa XII reguler
SMAN 1 surakarta. jurnal psikologi, 2.
Riskesdes. (2013).
Setiadi. (2013). Konsep dan Praktik Penulisan Riset Keperawatan Edisi 2. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Setiadi. (2013). Konsep Dan Pratik Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sugiyono. (2014). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
[Link] Page 46
JLB
Volume 3, Nomor 1, April 2019
JURNAL LIFE BIRTH
p-ISSN: 2580-0574 ; e-ISSN:
Sukmawardani, P. U. (2017). Gambaran Dukungan Istri Pada Suami Dalam Penggunaan
Kontrasepsi Metode Operatif Pria (MOP) Di Wilayah Kerja Puskesmas Jetis 1 Bantul.
Karya Tulis Ilmiah.
Sumiyati, & M, Y. H. (2012). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Alat
Kontrasepsi Kondom. Jurnal Studi Kebidanan Metro Poltekkes Kemenkes
Tajungkarang.
Suryono, & Anggraeni, M. D. (2013). Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif dalam
Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Syamsuddin, Muriyati, Asnidar, & Sumarmi. (2015). Pedoman Praktis Metodologi Penelitian
Internal. Ponorogo Indonesia: CV. Wade Group.
Syamsyuddin, Muriyati, Asnidar, & Sumarni. (2015). pedoman praktis metodelogi penelitian
internal. ponorogo: wade group.
Syukaisih. (2015). Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Pemilihan Kontrasepsi di
Puskesmas Ramba Samo Kabupaten Rakon Hulu. Jurnal Kesehatan Komunitas,
Volume 3.
undang, u. (2003). tingkat kecemasan siswa dalam menghadapi ujian nasional berbasis
komputer di SMK Al- munawariyah bululawang. Jurnal konseling indonesia, 45.
WHO. (2016).
WHO. (2018, February). Family Planning/Contraception. Dipetik Maret 20,
2018, dari World Health Organization: [Link]
1/en/
[Link] Page 47