Sebaran Dan Keanekaragaman Cetacea Saat Musim Timur Di Perairan Tejakula, Buleleng, Bali
Sebaran Dan Keanekaragaman Cetacea Saat Musim Timur Di Perairan Tejakula, Buleleng, Bali
Diterima (received) 12 Oktober 2018; disetujui (accepted) 4 Desember 2020; tersedia secara online (available online) 4 Desember 2020
Abstract
Cetaceans are marine mammals whose entire life is in marine and fresh waters. Cetaceans consist of whales, dolphins,
and porpois. The distribution of cetaceans is a matter that shows the points of emergence of cetaceans in a waters.
Diversity index is to determine the diversity of a group by looking at the number of species in a group. The waters of
Tejakula Subdistrict are one of the waters in North Bali. The waters of North Bali is one of the waters which has
become a migration path for several species of cetaceans. As a cetacean migration pathway, there are many
occurrences of cetaceans in the northern waters of Bali. One of the most famous locations for the emergence of
cetaceans in Bali is the waters of the Tejakula District, so research on cetaceans in the waters of the Tejakula
Subdistrict needs to be done. This study aims to determine the distribution and diversity of cetaceans in the waters of
Tejaula District. This research was conducted for 3 months, namely in the months of July, August and September 2017.
Research on the distribution of cetaceans was carried out to determine the cetacean emergence points. The types of
cetaceans found during the three months of the study were Stenella longirostris, Stenella attenuata, Globicephala
macrorhynchus, Steno bredanensis, Lagenodelphis hosei, and Grampus griseus. The diversity of cetaceans in the waters of
the Tejakula sub-district in July was 0.55, August 1.24 and September 0.9. The cetacea diversity index in the study area
was divided into two, namely the area outside the reserve 1.22 and the area in the reserve 0.55.
Abstrak
Cetacea merupakan mamalia laut yang seluruh hidupnya berada diperairan laut dan tawar. Cetacea terdiri dari Paus,
lumba-lumba, dan porpois. Sebaran cetacea merupakan suatu hal yang menunjukkan titik-titik kemunculan cetacea
dalan suatu perairan. Indeks keanekaragaman merupakan adalah untuk mengetahui keanekaragaman suatu
kelompok dengan melihat jumlah jenis dalam suatu kelompok. Perairan Kecamatan Tejakula merupakan salah satu
perairan di Utara Bali. Perairan Utara Bali merupakan salah satu perairan yang menjadi jalur migrasi dari beberapa
spesies cetacea. Sebagai jalur migrasi cetacea, terdapat banyak kemunculan cetacea diperairan Utara bali. Salah satu
lokasi kemunculan cetacea yang paling terkenal di Bali adalah perairan Kecamatan Tejakula, sehingga penelitian
tentang cetacea pada perairan Kecamatan Tejakula perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
sebaran dan keanekaragaman cetacea pada perairan Kecamatan Tejaula. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan yaitu
pada bulan bulan Juli, Agustus dan September 2017. Penelitian mengenai sebaran cetacea dilakukan untuk
mengetahuai titik-titik kemunculan cetacea. Jenis cetacea yang ditemukan selama tiga bulan penelitian adalah Stenella
longirostris, Stenella attenuata, Globicephala macrorhynchus, Steno bredanensis, Lagenodelphis hosei, dan Grampus griseus.
Keanekaragaman cetacea di perairan kecamatan Tejakula pada bulan Juli adalah 0.55, Agustus 1.24 dan September 0,9.
Indeks keanekaragaman cetacea pada wilayah penelitian di bagi menjadi dua yaitu daerah luar pencadangan 1.22 dan
daerah dalam pencadangan 0.55.
Tabel 1
Alat yang digunakan dalam penelitian.
Alat Kegunaan
GPS (Global Positioning untuk menentukan koordinat bujur dan lintang saat Cetacea terlihat di
System) permukaan.
Teropong binokuler untuk melihat kemunculan Cetacea
Kamera DLSR untuk memotret kemunculan Cetacea.
Jam untuk menandai waktu kemunculan Cetacea.
Data sheet untuk mencatat data.
penampakan lumba-lumba pada satu dek Penentuan titik lokasi kemunculan cetacea
(platform)(Gambar 2). melalui survey wawancara dengan menggunakan
metode peta partisipatif. Pemetaan partisipatif
adalah suatu metode pemetaan yang
menempatkan responden sebagai pelaku
pemetaan di wilayahnya, responden akan menjadi
penentu perencanaan dan pengembangan pada
wilayah mereka sendiri (Handayani dan Cahyono,
2014). Dalam penentuan titik kemunculan yang
Gambar 2. Single observer/platform
digunakan adalah peta lokasi penelitian (Gambar
1). Dimana nelayan akan menunjukkan lokasi titik
Identifikasi spesies mamalia laut harus kemunculan yang ditemukan ketika nelayan
memperhatikan ukuran tubuh, sirip dorsal (bentuk, sedang melaut pada daerah penelitian.
warna, posisi dan tinggi), bentuk tubuh (warna
Dalam proses penentuan titik lokasi
dan tanda), bentuk kepala, bentuk semburan
kemunculan menggunakan metode peta
(khusus pada spesies besar), bentuk ekor, tingkah
partisipatif ini juga dibantu dengan diajukannya
laku dan jumlah individu (Mujiyanto dkk., 2018).
beberapa pertanyaan kepada masyarakat nelayan
Bentuk tubuh, sirip dorsal, kepala dan ekor (fluks)
yang berada pada daerah wilayah penelitian.
dari mamalia laut sangat mempengaruhi dalam
Adapun pertanyaan yang diajukan adalah:
penentuan spesies mamalia laut.
a. Dimana titik lokasi kemunculan cetacea yang
2.5 Survey Wawancara ditemukan?
Pertanyaan ini ditujukan untuk mengetahuai
Pengumpulan data dengan menggunakan metode lokasi kemunculan cetacea yang ditemukan
wawancara adalah untuk mendukung dalam dengan menunjukkan peta penelitian (Gambar
pengambilan data sebaran cetacea (Budiasih, 2014). 1) kepada masyarakat yang ditanyakan.
Metode wawancara ini akan membantu b. Bagaimana bentuk,warna dan ukuran pada
mendapatkan data titik-titik kemunculan cetacea cetacea yang ditemukan?
pada daerah yang tidak dilalui ketika melakukan
Pertanyaan ini ditujukan untuk mengetahui
survey lapangan. Metode wawancara dilakukan
spesies cetacea yang ditemukan dengan
setiap minggu dalam waktu 3 bulan (Juli, Agustus
menunjukkan katalog (Gambar 3) jenis-jenis
dan September). Target wawancara adalah nelayan
cetacea yang berada diperairan bali.
yang berada pada daerah penelitian.
2.6.3. Keanekaragaman
H ' = − pi ln pi (3)
ni
pi =
n
dimana H' adalah indeks keanekaragaman; ni Gambar 4. Komposisi Jenis Cetacea
adalah jumlah individu; dan n adalah jumlah total
Individu. 3.2 Kelimpahan
dimana kriteria H’ < 1 adalah tingkat
keanekaragaman jenis yang rendah; 1 < H’ < 3 Kelimpahan cetacea pada suatu wilayah dapat
Tabel 2
Spesies yang ditemukan pada perairan Kecamatan Tejakula (Juli, Agustus, dan September)
Family Spesies Nama Inggris Hasil wawancara Hasil survey Jumlah
Delphinidae Stenella longirostris Spinner dolphin 90 173 263
Delphinidae Stenella attenuata Spotted dolphin 5 45 50
Delphinidae Globicephala Short-finned Pilot 6 0 6
macrorhynchus Whale
Delphinidae Steno bredanensis Rough-toothed dolphin 15 0 15
Delphinidae Lagenodelphis hosei Fraser's Dolphin 20 23 43
Delphinidae Grampus griseus Risso’s dolphin 20 0 20
dipengaruhi oleh kebiasaan dari setiap spesies. 0,0157 ind/km2. Kelimpahan cetacaea tertinggi
Kebiasaan cetacea dapat dipengaruhi oleh kondisi adalah spesies Stenella longirostris dan spesies
suatu perairan yang didatangi atau ditinggali oleh terendah adalah Lagenodelphis hosei (Gambar 7).
suatu spesies. Badai atau gelombang yang tinggi
menjadi salah satu pengaruh dari tingkat
kelimpahan suatu spesies cetacea di suatu perairan
(Peltier et al., 2012).
Dari penelitian ini didapatkan bahwa
kelimpahan cetacea pada bulan Juli (Gambar 5)
adalah Stenella longirostris: 0,1077 ind/km2, Steno
bredanensis: 0,015 ind/km2, dan Globicephala
macrorhynchus: 0,006 ind/km2. Dimana kelimpahan
tertinggi adalah spesies Stenella longirostris dan
terendah adalah spesies Globicephala Gambar 7. Kelimpahan bulan September
macrorhynchus.
3.3 Sebaran
3.4 Keanekaragaman
Gambar 6. Kelimpahan bulan Agustus
Keanekagaraman cetacea pada bulan Juli,Agustus
dan September di wilayah perairan Kecamatan
Kelimpahan cetacea pada bulan September Tejakula. Indek keanekaragaman yang dihitung
adalah Stenella longirostris: 0,092 ind/km2, Stenella dengan menggunakan persamaan Shannon. (1948),
attenuata: 0,047 ind/km2 dan Lagenodelphis hosei: dimana nilai dari keanekaragaman merupakan
jumlah dari setiap spesies dalam kurun waktu tiga macrorhynchus dengan nilai 2% (Gambar 4).
bulan penelitian. Indeks keanekaragaman Cetacea Kondisi ini sesuai dengan nilai kelimpahan cetacea
pada tiga bulan bulan penelitian didapatkan pada 3 bulan penelitian. Dimana nilai kelimpahan
bahwa, bulan Juli: 0,55, bulan Agustus: 1,24, bulan cetacea tertinggi dari seluruh waktu pengamatan
September 0,9. Keanekaragaman Cetacea pada adalah spesies Stenella longirostris dan terendah
lokasi penelitian juga dibagi menjadi dua wilayah, adalah spesies Globicephala macrorhynchus.
wilayah luar pencadangan: 1,22 dan wilayah Menurut Carwardine. (1995), spesies Stenella
dalam pencadangan 0,55 (Tabel 3). longirostris banyak terdapat pada seluruh perairan
hangat di dunia termasuk pada perairan Bali dan
Tabel 3 jumlah individu dalam satu koloni berkisar antara
Indeks keanekaragaman cetacea 2- 1000 individu. Sehingga komposisi jenis spesies
Indeks ini sangat tinggi. Dimana menurut Siahainenia.
Bulan (2010) pada hasil penelitian yang dilakukan pada
Keanekaragaman/bulan
Juli 0,55 Pantai Lovina bahwa spesies Spinner dolphin
Agustus 1,24 (Stenella longirostris) juga banyak ditemukan di
September 0,9 Pantai Lovina.
Wilayah Indeks Keanekaragaman
Jarak perairan antara Tejakula dan Lovina
Luar Pencadangan 1,22
adalah sekitar 37,16 km, dapat diasumsikan bahwa
Dalam Pencadangan 0,55
spesies Stenella longirostris yang ditemukan pada
Perairan Kecamatan Tejakula dan Pantai Lovina
adalah koloni yang sama. Dimana home range
4. Pembahasan spesies ini dapat mencapai ratusan kilometer dan
pergerakan harian spesies ini mencapai 30-50 km
Perairan Kecamatan Tejakula terletak pada daerah (Tyne et al., 2018). Spesies ini dapat muncul setiap
utara bali dimana merupakan perairan yang hari pada perairan utara Bali, namun jumlah dan
menjadi jalur dari migrasi cetacea (Salim, 2011).
jarak kemunculan spesies ini dipengaruhi oleh
Kondisi perairan yang merupakan daerah migrasi
kondisi perairan. Menurut Tyne et al. (2014)
dari beberapa jenis cetacea membuat perairan
spesies Stenella longirostris mendiami perairan
utara bali memiliki potensi kemunculan cetacea
pantai, dan daerah kepulauan.
yang sangat tinggi. Kondisi ini juga menjadikan
Berbeda dengan spesies Stenella longirostris,
perairan utara Bali sebagai wilayah konservasi
perairan dalam hal melindungi wilayah migrasi spesies Globicephala macrorhynchus memiliki jumlah
cetacea. yang sedikit dalam 1 koloni (pod). Jumlah spesies
ini dalam 1 koloni (pod) berkisar 20-60 individu
Jenis cetacea yang terdapat pada perairan utara
(Raghunathan et al., 2013). Dari hasil survey letak
Bali umumnya adalah kelompok odontoceti kecil
kemunculan spesies ini adalah sekitar 9 km dari
(lumba-lumba). Lumba-lumba merupakan jenis
bibir pantai, hal ini dapat diakibatkan oleh ukuran
dari cetacea yang memiliki jalur migrasi yang
tubuh yang besar. Dimana menurut Jeyabaskaran
cukup kecil dan bahkan cenderung menetap
et al. (2018) ukuran spesies ini dapat mencapai 4,80
disuatu perairan serta tersebar pada beberapa
meter dan berat 3.600 kg dan spesies ini jarang
perairan di dunia (Dharmadi dkk., 2017).
ditemukan pada lokasi yang dekat dengan garis
Pada penelitian yang berlangsung selama 3 pantai, sehingga sering ditemukan pada perairan
bulan (Juli,Agustus dan September) didapatkan 6 dalam.
spesies, yaitu : Stenella longirostris, Stenella
Menurut Sajikumar et al. (2014) spesies
attenuata, Globicephala macrorhynchus, Steno
Globicephala macrorhynchus memakan spesies ikan
bredanensis, Lagenodelphis hosei, dan Grampus griseus
dan gurita tertentu, spesies ini mencari makan
(Tabel 2). Spesies yang ditemukan merupakan
pada kedalaman 300 m (980 ft) atau lebih. Sebuah
spesies yang tersebar di seluruh perairan
koloni dapat mencapai 800 m untuk mencari
Indonesia (Carwardine, 1995).
makan. Menurut Yoshida et al. (2010) spesies ini
Nilai komposisi jenis cetacean tertinggi pada 3 ditemukan pada perairan terbuka yang dalam
bulan penelitian adalah Spesies Stenella longirostris (deep open water) dekat dengan continental shelve.
dengan nilai 63% dan terendah adalah Globicephala
Sebaran cetacea pada bulan Juli banyak 2016). Gelombang yang tinggi akan
terdapat pada bagian barat dari wilayah penelitian mempengaruhi sonar dari cetacea, sehingga dapat
(Gambar 8). Kemunculan cetacea yang cenderung mengganggu komunikasi cetacea dan membuat
berada pada bagian barat dari wilayah penelitian. disorientasi (Peltier et al., 2012).
Kondisi ini diduga diakibatkan oleh banyaknya
ikan yang berkumpul pada perairan bagian barat
dari wilayah penelitian, hal ini dilihat dari
banyaknya kapal nelayan yang mencari ikan pada
bagian barat wilayah penelitian.
nilai ini sangat tergantung dari jumlah inividu tiap cetacea menjadi sangat tinggi dan titik sebaran
spesies (Ismaini dkk., 2015). Indeks cetacea menjadi banyak.
keanekaragaman (H’) adalah suatu angka yang Keanekaragaman cetacea pada perairan
tidak memiliki satuan dengan kisaran angka 0-3. Kecamatan Tejakula pada bulan Juli adalah 0,55,
Tingkat keanekaragaman akan tinggi jika nilai H’ pada bulan Agustus adalah 1,24, dan September
mendekati 3 (Laticonsina, 2011), sehingga hal ini adalah 0,9. Keanekaragaman pada bulan Juli
menunjukkan kondisi perairan baik. Sebaliknya adalah rendah, pada bulan Agustus adalah sedang
jika nilai H’ mendekati 0 maka keanekaragaman dan pada bulan September adalah rendah.
rendah dan kondisi perairan kurang baik (Insafitri,
2010). Ucapan terimakasih
Keanekaragaman (H’) cetacea yang berada
pada perairan Kecamatan Tejakula, dibagi pada Terimakasih kepada Reefcheck Indonesia dan
setiap bulan dimana keanekaragaman pada bulan Coral Reef Alliance yang telah memberikan
Juli adalah 0,55, pada bulan Agustus adalah 1,24, beasiswa penelitian dan membantu dalam
dan September adalah 0,9. Keanekaragaman pada melaksanakan penelitian ini. Sehingga, penelitian
bulan Juli adalah rendah, pada bulan Agustus ini dapat selesai.
adalah sedang dan pada bulan September adalah
rendah. Pada tiga bulan ini terdapat spesies Daftar Pustaka
dominan yaitu spesies Stenella longirostris, dimana
Anggawangsa, R. F., Dharmadi, D., & Sulistyowati, N.
spesies ini muncul pada setiap bulan. Nilai ini
(2015). Kemunculan dan Tingkah Laku Pesut
dapat berubah sesuai dengan kondisi perairan dan (Orcaella brevirostris (Owen in Gray 1866) Sebagai
waktu pengambilan data, dimana jika Mamalia Terancam Langka di Perairan Kubu Raya
pengambilan data dilakukan pada kondisi dan Kayong Utara Kalimantan Barat. Widya Riset
perairan yang tenang maka dapat meningkatkan Perikanan Tangkap, 6(2), 63-68
nilai indeks keanekaragaman. Budiasih, I. G. A. N. (2014). Metode Grounded Theory
Nilai Indeks keanekaragaman cetacea pada dalam riset kualitatif. Jurnal Ilmiah Akuntansi dan
pada wilayah penelitian juga dibagi menjadi dua Bisnis, 9(1), 19-27.
bagian, yaitu ada daerah luar pencadangan Brower, K. L. (1982). Deep-level nitrogen centers in
konservasi dan daerah dalam pencadangan laser-annealed ion-implanted silicon. Physical Review
konservasi. Indeks keanekaragaman pada daerah B, 26(11), 6040-6052.
luar pencadangan konservasi adalah 1,22, dimana Carwardine, M. (1995). Smithsonian Handbooks: Whales,
nilai ini menunjukkan bahwa keanekaragaman Dolphin and Porpoises. New York, USA: Dorling
cetacea pada daerah luar pencadangan konservasi Kindersley.
memiliki kriteria sedang dimana 1 < H’ < 3. Dharmadi, D., Faizah, R., & Wiadnyana, N. N. (2017).
Sedangkan indeks keanekaragaman pada daerah Frekuensi Pemunculan, Tingkah Laku, dan Distribusi
dalam pencadangan konservasi adalah 0,55 yaitu Mamalia Laut di Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur.
dengan kriteria rendah H’ < 1, sesuai dengan BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap, 3(3), 209-216.
ketentuan Shannon. (1948). Dida, H. P., Suparman, S., & Widhiyanuriyawan, D.
(2016). Pemetaan potensi energi angin di Perairan
5. Simpulan Indonesia berdasarkan data satelit Quikscat dan
Windsat. Jurnal Rekayasa Mesin, 7(2), 95-101.
Sebaran cetacea pada perairan Kecamatan Tejakula English, S., Wilkinson, C., & Baker, V. (1997). Survey
pada bulan Juli, Agustus dan September hampir Manual for Tropical Marine Resources. (2nd ed).
diseluruh perairan Kecamatan Tejakula. Sebaran Townsville, Australia: Australian Institute of Marine
cetacea pada perairan Kecamatan Tejakula sangat Science.
dipengaruhi oleh kondisi perairan. Kondisi Handayani, H. H., & Cahyono, A. B. (2014). Pemetaan
perairan yang memiliki gelombang berkekuatan Partisipatif Potensi Desa (Studi Kasus: Desa
tinggi pada waktu tertentu mengakibatkan Selopatak, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.
Geoid, 10(1), 99-103.
kemunculan cetacea menjadi sangat sulit
ditemukan dan membuat sebaran cetacea pun Insafitri, I. (2010). Keanekaragaman, Keseragaman, dan
Dominansi Bivalvia di Area Buangan Lumpur
menjadi sedikit. Namun, jika kondisi perairan
Lapindo Muara Sungai Porong. Jurnal Kelautan:
sangat tenang akan membuat tingkat kemunculan
Indonesian Journal of Marine Science and Technology, Raghunathan, C., Kumar, S. S., Kannan, S. D., Mondal,
3(1), 54-59. T., Sreeraj, C. R., Raghuraman, R., & Venkataraman,
Ismaini, L., Lailati, M. A. S. F. I. R. O., & Rustandi, S. D. K. (2013). Mass stranding of pilot whale Globicephala
(2015). Analisis komposisi dan keanekaragaman macrorhynchus Gray, 1846 in North Andaman coast.
tumbuhan di Gunung Dempo, Sumatera Selatan. Pros Current Science, 104(1), 37-41.
Sem Nas Masya Biodiv Indonesia, 1(6), 1394-1402. Sajikumar, K. K., Ragesh, N., & Mohamed, K. S. (2014).
Jeyabaskaran, R., Sakthivel, M., Ramesh Kumar, P., Behaviour of Short-finned Pilot Whales Globicephala
Jayasankar, J., Vysakhan, P., & Kripa, V. (2018). macrorhynchus (Gray, 1846)(Mammalia:
Biosonar dysfunction and mass stranding of short- Cetartiodactyla: Delphinidae) in the southeastern
finned pilot whale Globicephala macrorhyncus at Arabian Sea. Journal of Threatened Taxa, 6(11), 6488-
Manapad, southeast coast of India-An emphatic key 6492.
in demystifying the enigma?. Indian Journal of Geo- Salim, D. (2011). Konservasi Mamalia Laut (Cetacea) Di
Marine Sciences, 47(10), 2077-2086. Perairan Laut Sawu Nusa Tenggara Timur. Jurnal
Latuconsina, H. (2011). Komposisi jenis dan struktur Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and
komunitas ikan padang lamun di perairan Pantai Technology, 4(1), 24-41.
Lateri Teluk Ambon Dalam. Agrikan: Jurnal Agribisnis
Shannon, C. E. (1948). A mathematical theory of
Perikanan, 4(1), 30-36.
communication. Bell system technical journal, 27(3),
Mustika, P. L. K., Williams, R., Kadarisman, H. P., 379-423.
Purba, A. O., & Maharta, I. P. R. F. (2016). Marine
Siahainenia, S. R. (2010). Tingkah Laku Lumba-lumba di
Mammal Survey at The Peninsular Water of Bali. Report.
Perairan Pantai Lovina Buleleng Bali. Jurnal
Denpasar, Indonesia: Conservation International
“Amanisal” PSP FPIK Unpatti-Ambon.1(1), 13-21.
Indonesia.
Mujiyanto, M., Riswanto, R., & Nastiti, A. S. (2018). Tyne, J. A., Pollock, K. H., Johnston, D. W., & Bejder, L.
Effectiveness of sub Zone Cetacean Protection in (2014). Abundance and survival rates of the Hawai’i
Marine Protected Areas Savu Sea National Marine Island associated spinner dolphin (Stenella
Park, East Nusa Tenggara. Coastal and Ocean Journal, longirostris) stock. PloS one, 9(1), 1-10.
1(2), 1-12 Tyne, J. A., Christiansen, F., Heenehan, H. L., Johnston,
Peltier, H., Dabin, W., Daniel, P., Van Canneyt, O., D. W., & Bejder, L. (2018). Chronic exposure of
Dorémus, G., Huon, M., & Ridoux, V. (2012). The Hawaii Island spinner dolphins (Stenella longirostris)
significance of stranding data as indicators of to human activities. Royal Society open science, 5(10), 1-
cetacean populations at sea: modelling the drift of 15.
cetacean carcasses. Ecological Indicators, 18, 278-290. Yoshida, H., Compton, J., Punnett, S., Lovell, T., Draper,
Putra, M. I. H., Indrayanti, E., & Zainuri, M. (2015). K., Franklin, G., Norris, N. R., Phillip, P., Wilkins, R.,
Variabilitas suhu dan kecepatan arus terhadap & Kato, H. (2010). Cetacean Sightings in the Eastern
keberadaan ikan matahari (Mola ramsayi) di perairan Caribbean and Adjacent Waters, Spring 2004. Aquatic
kepulauan Nusa Penida. Journal of Oceanography, 4(3), Mammals, 36(2), 154-161
545-555.
Yusron, E. (2012). Biodiversitas Jenis Cetacean di
Putri, R. O. T., Trihastuti, N., & Warno, N. D. (2016).
Perairan Lamalera, Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Implikasi Putusan Icj Berkaitan dengan Sengketa
Indonesian Journal of Marine Sciences/Ilmu Kelautan,
antara Jepang dan Australia Mengenai Perburuan
17(2), 59-62.
Paus Ilegal di Wilayah Antartika (Studi terhadap
Putusan Icj No. 226 Tahun 2014). Diponegoro Law
Journal, 5(3), 1-15.
© 2021 by the authors; licensee Udayana University, Indonesia. This article is an open access article distributed under
the terms and conditions of the Creative Commons Attribution license ([Link]