0% found this document useful (0 votes)
13 views10 pages

Sebaran Dan Keanekaragaman Cetacea Saat Musim Timur Di Perairan Tejakula, Buleleng, Bali

This document discusses a study on the distribution and diversity of cetaceans in the waters of Tejakula District, Bali from July to September 2017. Six species of cetaceans were found: Stenella longirostris, Stenella attenuata, Globicephala macrorhynchus, Steno bredanensis, Lagenodelphis hosei, and Grampus griseus. The diversity index of cetaceans in the study area was divided into two, with an index of 1.22 for outside the reserve and 0.55 for inside the reserve.
Copyright
© All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
13 views10 pages

Sebaran Dan Keanekaragaman Cetacea Saat Musim Timur Di Perairan Tejakula, Buleleng, Bali

This document discusses a study on the distribution and diversity of cetaceans in the waters of Tejakula District, Bali from July to September 2017. Six species of cetaceans were found: Stenella longirostris, Stenella attenuata, Globicephala macrorhynchus, Steno bredanensis, Lagenodelphis hosei, and Grampus griseus. The diversity index of cetaceans in the study area was divided into two, with an index of 1.22 for outside the reserve and 0.55 for inside the reserve.
Copyright
© All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

Journal of Marine and Aquatic Sciences 6(2), 216-225 (2020)

Sebaran dan Keanekaragaman Cetacea saat Musim Timur di


Perairan Tejakula, Buleleng, Bali
Andri Octapianus Purba a*, IGB Sila Dharma a, Elok Faiqoh a
a Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana, Kabupaten Badung, Bali-Indonesia

* Penulis koresponden. Tel.: +6281-558-342-988


Alamat e-mail: andripurbaa8@[Link]

Diterima (received) 12 Oktober 2018; disetujui (accepted) 4 Desember 2020; tersedia secara online (available online) 4 Desember 2020

Abstract

Cetaceans are marine mammals whose entire life is in marine and fresh waters. Cetaceans consist of whales, dolphins,
and porpois. The distribution of cetaceans is a matter that shows the points of emergence of cetaceans in a waters.
Diversity index is to determine the diversity of a group by looking at the number of species in a group. The waters of
Tejakula Subdistrict are one of the waters in North Bali. The waters of North Bali is one of the waters which has
become a migration path for several species of cetaceans. As a cetacean migration pathway, there are many
occurrences of cetaceans in the northern waters of Bali. One of the most famous locations for the emergence of
cetaceans in Bali is the waters of the Tejakula District, so research on cetaceans in the waters of the Tejakula
Subdistrict needs to be done. This study aims to determine the distribution and diversity of cetaceans in the waters of
Tejaula District. This research was conducted for 3 months, namely in the months of July, August and September 2017.
Research on the distribution of cetaceans was carried out to determine the cetacean emergence points. The types of
cetaceans found during the three months of the study were Stenella longirostris, Stenella attenuata, Globicephala
macrorhynchus, Steno bredanensis, Lagenodelphis hosei, and Grampus griseus. The diversity of cetaceans in the waters of
the Tejakula sub-district in July was 0.55, August 1.24 and September 0.9. The cetacea diversity index in the study area
was divided into two, namely the area outside the reserve 1.22 and the area in the reserve 0.55.

Keywords: Cetaceans; distribution; diversity; Tejakula District

Abstrak

Cetacea merupakan mamalia laut yang seluruh hidupnya berada diperairan laut dan tawar. Cetacea terdiri dari Paus,
lumba-lumba, dan porpois. Sebaran cetacea merupakan suatu hal yang menunjukkan titik-titik kemunculan cetacea
dalan suatu perairan. Indeks keanekaragaman merupakan adalah untuk mengetahui keanekaragaman suatu
kelompok dengan melihat jumlah jenis dalam suatu kelompok. Perairan Kecamatan Tejakula merupakan salah satu
perairan di Utara Bali. Perairan Utara Bali merupakan salah satu perairan yang menjadi jalur migrasi dari beberapa
spesies cetacea. Sebagai jalur migrasi cetacea, terdapat banyak kemunculan cetacea diperairan Utara bali. Salah satu
lokasi kemunculan cetacea yang paling terkenal di Bali adalah perairan Kecamatan Tejakula, sehingga penelitian
tentang cetacea pada perairan Kecamatan Tejakula perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
sebaran dan keanekaragaman cetacea pada perairan Kecamatan Tejaula. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan yaitu
pada bulan bulan Juli, Agustus dan September 2017. Penelitian mengenai sebaran cetacea dilakukan untuk
mengetahuai titik-titik kemunculan cetacea. Jenis cetacea yang ditemukan selama tiga bulan penelitian adalah Stenella
longirostris, Stenella attenuata, Globicephala macrorhynchus, Steno bredanensis, Lagenodelphis hosei, dan Grampus griseus.
Keanekaragaman cetacea di perairan kecamatan Tejakula pada bulan Juli adalah 0.55, Agustus 1.24 dan September 0,9.
Indeks keanekaragaman cetacea pada wilayah penelitian di bagi menjadi dua yaitu daerah luar pencadangan 1.22 dan
daerah dalam pencadangan 0.55.

Kata Kunci: Cetacea; sebaran; keanekaragaman; Kecamatan Tejakula

[Link] J. Mar. Aquat. Sci. 6: 216-225 (2020)


217 Journal of Marine and Aquatic Sciences

1. Pendahuluan Keanekaragaman Cetacea di perairan Tejakula


belum pernah dilakukan, dimana tujuan
Perairan Indonesia merupakan perairan yang mengetahui sebaran dan keanekaragaman Cetacea
memiliki keanekaragaman Cetacea (paus dan di perairan Tejakula agar kawasan tersebut dapat
lumba-lumba) yang tinggi yaitu sekitar 30 spesies menjadi wilayah konservasi laut khususnya pada
Cetacea yang hidup di perairan Indonesia (Yusron, jenis-jenis Cetacea, sesuai dengan Keputusan
2012). Lebih dari sepertiga jenis paus dan lumba- Bupati Buleleng NOMOR : 523/ 630/ HK / 2011
lumba ada ada didunia terdapat di perairan tentang Pencadangan Kawasan Konservasi
Indonesia termasuk juga beberapa jenis yang Perairan Di Kabupaten Buleleng.
dikategorikan langka dan terancam punah Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
(Mujiyanto dkk., 2018). keberadaan dari populasi Cetacea, dimana
Di Indonesia, keindahan atraksi lumba-lumba diperlukannya suatu informasi awal yang akan
di habitat alaminya dimanfaatkan sebagai obyek berguna sebagai referensi untuk manajemen
pariwisata domestik maupun mancanegara. sumber daya laut dan meningkatkan pemahaman
Namun, dengan berjalannya waktu, populasi tentang ekologi Cetacea di habitat sebenarnya.
mamalia laut di Indonesia adalah dalam kondisi Menurunnya populasi cetacea terjadi akibat
terancam dan belum banyak yang diketahui, aktivitas manusia yang membuat tingkat
sehingga populasi ini perlu untuk dijaga dan kebisingan dilaut (ocean noise) menjadi lebih tinggi
dilestarikan (Salim, 2011). serta adanya pencemaran laut dan perubahan
Salah satu perairan di Indonesia yang banyak kondisi lautan (Salim, 2011). Perburuan terhadap
ditemukan jenis Cetacea adalah perairan Bali Cetacea yang masih ada di beberapa tempat
(Anggawangsa et al., 2015). Berdasarkan hasil menjadi salah satu akibat turunnya populasi
survey yang dilakukan oleh Mustika et al. (2016) cetacea (Salim, 2011; Putri et al., 2016). Hal tersebut
dan dari data Whale Stranding Indonesia, menunjukkan bahwa Cetacea merupakan hewan
ditemukan 14 spesies diperairan Bali yaitu : yang harus dilindungi keberadaannya dan
Lumba-lumba paruh panjang, Lumba-lumba totol, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jumlah,
Lumba-lumba Fraser’s, Lumba-lumba Risso’s, sebaran dan keanekaragaman Cetacea terutama di
Lumba-lumba hidung botol, Paus Sei, Paus habitatnya, sehingga hasil dari penelitian dapat
Bryde’s, Paus sperma, Paus kepala melon, Paus dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi pihak-
Pemandu sirip pendek, Paus paruh Cuvier, Paus pihak pengambil kebijakan untuk mengadakan
sperma cebol, Paus pembunuh kerdil, dan Lumba- suatu kawasan perlindungan laut bagi Cetacea
lumba gigi kasar. (paus dan lumba-lumba).
Salah satu jalur yang di lewati oleh cetaceai
adalah perairan Utara Bali. Sampai saat ini, riset 2. Metode Penelitian
tentang kemunculan Cetacea di Bali utara hanya
dilakukan di Lovina, sedangkan kemunculan 2.1 Waktu dan Tempat
Cetacea pada perairan Utara Bali bukan hanya ada
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli, Agustus
pada perairan Lovina (Anggawangsa et al., 2015),
dan September 2017 di daerah perairan Tejakula,
sedangkan kemunculan Cetacea pada perairan
Buleleng. Luas daerah penelitian 239 km2, luas
Utara Bali juga ditemukan pada perairan Tejakula.
daerah didapatkan dengan menghitung luas area
Adanya kemunculan Cetacea di perairan Tejakula
dari poligon daerah penelitian (Gambar 1) dengan
akan menambah titik lokasi kemunculan dari
menggunakan Qgis 2.10.1.
Cetacea diperairan Utara Bali, sehingga
pemerintah Buleleng perlu memperluas wilayah
2.2 Deskripsi Wilayah
pencadangan konservasi terhadap Cetacea di
Kabupaten Buleleng. Perairan Tejakula yang berada pada bagian utara
Penelitian tentang keberadaan Cetacea di pulau Bali merupakan perairan yang cenderung
perairan Utara Bali yang sudah pernah dilakukan tenang. Perairan Tejakula merupakan perairan
diantaranya adalah “Tingkah Laku Lumba-lumba di yang terdapat banyak makanan bagi Cetacea. Hal
Perairan Pantai Lovina Buleleng Bali” (Siahainenia, ini dapat dilihat dari Data Statistik Tangkapan
2010). Penelitian tentang sebaran dan Nelayan Kabupaten Buleleng Tahun 2017 yaitu

J. Mar. Aquat. Sci. 6: 216-225 (2020)


AO Purba dkk. 218

Gambar 1. Peta lokasi penelitian

cumi-cumi, ikan tongkol, ikan tuna, ikan cakalang,


ikan terbang, ikan lemadang, ikan layang dan ikan 2.4 Survey Lapangan
cendro yang merupakan makanan dari Cetacea.
Metode dalam pengambilan data yang digunakan
Perairan Tejakula juga merupakan perairan pada penelitian ini adalah metode penjelajahan
yang terkena dampak dari angin muson timur, atau visual sensus untuk mencari kemunculan
dimana angin yang kencang bergerak dari arah Cetacea dengan menggunakan kapal motor
Australia menuju Indonesia pada bulan April dengan menggunakan line transek zig-zag
hingga Oktober (Putra dkk., 2015). Pada waktu (Dharmadi dkk., 2017). Kapal bergerak sepanjang
penelitian berlangsung, sedang terjadi angin garis transek dengan kecepatan rata-rata 6-7 knot.
muson timur yang mengakibatkan kuatnya angin Ketika kapal bergerak, pengamat melakukan
dan gelombang pada perairan Tejakula. pengamatan untuk mencari tanda-tanda
kemunculan Cetacea. Pengamatan dilakukan
2.3 Alat dan bahan ketika ada sinar matahari sebab pengamatan
terhadap Cetacea memerlukan cahaya matahari
Alat yang digunakan pada penelitian ini dapat sehingga Cetacea dapat mudah terlihat.
dilihat pada Tabel 1.
Metode pengamatan yang dilakukan pada
Bahan yang digunakan adalah peta perairan survei ini adalah menggunakan satu kelompok
Tejakula, Buleleng, dan buku identifikasi Cetacea pengamat (single observer/platform) (Mujiyanto dkk.,
yaitu “Smithsonian Handbook. Whales, Dolphins and 2018). Metode pengamatan yang digunakan terdiri
Porpoises” (Carwardine, 1995). dari 3 orang pengamat yang mengamati

Tabel 1
Alat yang digunakan dalam penelitian.
Alat Kegunaan
GPS (Global Positioning untuk menentukan koordinat bujur dan lintang saat Cetacea terlihat di
System) permukaan.
Teropong binokuler untuk melihat kemunculan Cetacea
Kamera DLSR untuk memotret kemunculan Cetacea.
Jam untuk menandai waktu kemunculan Cetacea.
Data sheet untuk mencatat data.

J. Mar. Aquat. Sci. 6: 216-225 (2020)


219 Journal of Marine and Aquatic Sciences

penampakan lumba-lumba pada satu dek Penentuan titik lokasi kemunculan cetacea
(platform)(Gambar 2). melalui survey wawancara dengan menggunakan
metode peta partisipatif. Pemetaan partisipatif
adalah suatu metode pemetaan yang
menempatkan responden sebagai pelaku
pemetaan di wilayahnya, responden akan menjadi
penentu perencanaan dan pengembangan pada
wilayah mereka sendiri (Handayani dan Cahyono,
2014). Dalam penentuan titik kemunculan yang
Gambar 2. Single observer/platform
digunakan adalah peta lokasi penelitian (Gambar
1). Dimana nelayan akan menunjukkan lokasi titik
Identifikasi spesies mamalia laut harus kemunculan yang ditemukan ketika nelayan
memperhatikan ukuran tubuh, sirip dorsal (bentuk, sedang melaut pada daerah penelitian.
warna, posisi dan tinggi), bentuk tubuh (warna
Dalam proses penentuan titik lokasi
dan tanda), bentuk kepala, bentuk semburan
kemunculan menggunakan metode peta
(khusus pada spesies besar), bentuk ekor, tingkah
partisipatif ini juga dibantu dengan diajukannya
laku dan jumlah individu (Mujiyanto dkk., 2018).
beberapa pertanyaan kepada masyarakat nelayan
Bentuk tubuh, sirip dorsal, kepala dan ekor (fluks)
yang berada pada daerah wilayah penelitian.
dari mamalia laut sangat mempengaruhi dalam
Adapun pertanyaan yang diajukan adalah:
penentuan spesies mamalia laut.
a. Dimana titik lokasi kemunculan cetacea yang
2.5 Survey Wawancara ditemukan?
Pertanyaan ini ditujukan untuk mengetahuai
Pengumpulan data dengan menggunakan metode lokasi kemunculan cetacea yang ditemukan
wawancara adalah untuk mendukung dalam dengan menunjukkan peta penelitian (Gambar
pengambilan data sebaran cetacea (Budiasih, 2014). 1) kepada masyarakat yang ditanyakan.
Metode wawancara ini akan membantu b. Bagaimana bentuk,warna dan ukuran pada
mendapatkan data titik-titik kemunculan cetacea cetacea yang ditemukan?
pada daerah yang tidak dilalui ketika melakukan
Pertanyaan ini ditujukan untuk mengetahui
survey lapangan. Metode wawancara dilakukan
spesies cetacea yang ditemukan dengan
setiap minggu dalam waktu 3 bulan (Juli, Agustus
menunjukkan katalog (Gambar 3) jenis-jenis
dan September). Target wawancara adalah nelayan
cetacea yang berada diperairan bali.
yang berada pada daerah penelitian.

Gambar 3. Katalog spesies mamalia laut di Bali.

J. Mar. Aquat. Sci. 6: 216-225 (2020)


AO Purba dkk. 220

2.6 Analisis Data adalah tingkat keanekaragaman jenis yang sedang;


dan H’ > 3 adalah tingkat keanekaragaman jenis
2.6.1. Kelimpahan yang tinggi.
Lalu dilakukan perbandingan antara jumlah
Untuk menghitung kelimpahan jenis
Cetacea dengan waktu dan wilayah. Selanjutnya
menggunakan rumus Brower, (1982):
melakukan pembahasan perbandingan-
ni perbandingan tersebut secara deskriptif.
K= (1)
A
3. Hasil
dimana K adalah kelimpahan suatu jenis; ni adalah
jumlah individu suatu jenis; dan A adalah luas 3.1 Komposisi Jenis
area.
Penelitian yang dilakukan pada perairan
2.6.2. Komposisi Jenis Kecamatan Tejakula selama tiga bulan (Juli,
Agustus dan September) dengan menggunakan
Komposisi jenis adalah perbandingan antara
survey lapangan dan wawancara didapatkan
jumlah individu suatu jenis dengan jumlah
enam spesies cetacea (Tabel 2).
individu secara keseluruhan. Komposisi jenis
Komposisi jenis (Gambar 4) cetacea tertinggi di
cetacea dihitung dengan menggunakan rumus
English et al. ( 1997) sebagai berikut: perairan Kecamatan Tejakula pada bulan
Juli,Agustus dan September adalah spesies Stenella
ni longirostris (Spinner dolphin) dengan nilai 62% dan
Ki =  100% (2)
N terendah adalah spesies Globicephala macrorhynchus
(Pilot whale) dengan nilai 2%.
dimana Ki adalah komposisi jenis ke-i (%); ni
adalah jumlah individu jenis ke-i (ind); dan N
adalah jumlah total individu (ind).

2.6.3. Keanekaragaman

Untuk mendapatkan nilai indeks keanekaragaman


menggunakan rumus Shannon. (1948):

H ' = − pi ln pi (3)

ni
pi =
n
dimana H' adalah indeks keanekaragaman; ni Gambar 4. Komposisi Jenis Cetacea
adalah jumlah individu; dan n adalah jumlah total
Individu. 3.2 Kelimpahan
dimana kriteria H’ < 1 adalah tingkat
keanekaragaman jenis yang rendah; 1 < H’ < 3 Kelimpahan cetacea pada suatu wilayah dapat

Tabel 2
Spesies yang ditemukan pada perairan Kecamatan Tejakula (Juli, Agustus, dan September)
Family Spesies Nama Inggris Hasil wawancara Hasil survey Jumlah
Delphinidae Stenella longirostris Spinner dolphin 90 173 263
Delphinidae Stenella attenuata Spotted dolphin 5 45 50
Delphinidae Globicephala Short-finned Pilot 6 0 6
macrorhynchus Whale
Delphinidae Steno bredanensis Rough-toothed dolphin 15 0 15
Delphinidae Lagenodelphis hosei Fraser's Dolphin 20 23 43
Delphinidae Grampus griseus Risso’s dolphin 20 0 20

J. Mar. Aquat. Sci. 6: 216-225 (2020)


221 Journal of Marine and Aquatic Sciences

dipengaruhi oleh kebiasaan dari setiap spesies. 0,0157 ind/km2. Kelimpahan cetacaea tertinggi
Kebiasaan cetacea dapat dipengaruhi oleh kondisi adalah spesies Stenella longirostris dan spesies
suatu perairan yang didatangi atau ditinggali oleh terendah adalah Lagenodelphis hosei (Gambar 7).
suatu spesies. Badai atau gelombang yang tinggi
menjadi salah satu pengaruh dari tingkat
kelimpahan suatu spesies cetacea di suatu perairan
(Peltier et al., 2012).
Dari penelitian ini didapatkan bahwa
kelimpahan cetacea pada bulan Juli (Gambar 5)
adalah Stenella longirostris: 0,1077 ind/km2, Steno
bredanensis: 0,015 ind/km2, dan Globicephala
macrorhynchus: 0,006 ind/km2. Dimana kelimpahan
tertinggi adalah spesies Stenella longirostris dan
terendah adalah spesies Globicephala Gambar 7. Kelimpahan bulan September
macrorhynchus.
3.3 Sebaran

Sebaran cetacea dapat dipengaruhi oleh kondisi


perairan dan ruaya dari setiap spesies. Sebaran
cetacea selama bulan Juli,Agustus dan September
pada perairan Kecamatan Tejakula adalah sebagai
berikut:
Dari hasil survey lapangan dan wawancara
ditemukan bahwa titik-titik kemunculan cetacea
pada bulan Juli cenderung berada pada bagian
Gambar 5. Kelimpahan bulan Juli barat dari lokasi penelitian. Sebaran cetacea pada
bulan ini cenderung berada pada jarak 5-10 km
Pada bulan Agustus terdapat 4 spesies dimana kearah laut. Titik kemunculan cetacea pada bulan
kelimpahan dari setiap spesies adalah Stenella ini lebih banyak terdapat diluar dari wilayah
longirostris: 0,0313 ind/km2, Lagenodelphis hosei: pencadangan konservasi.
0,029 ind/km2, Grampus griseus: 0,0209 ind/km2 dan Titik kemunculan cetacea pada bulan Agustus
Stenella attenuata: 0,005 ind/km2. Kelimpahan dari hasil survey lapangan dan wawancara
tertinggi adalah pada spesies Stenella longirostris didapatkan bahwa titik kemunculan cetacea pada
dan kelimpahan terendah adalah Stenella attenuata bulan ini cenderung lebih sedikit dibandingkan
(Gambar 6). dengan kemunculan cetacea pada bulan Juli.
Dimana letak kemunculan cetacea pada bulan ini
sama dengan kemunculan cetaea pada bulan Juli,
yaitu berada pada bagian barat dari lokasi
penelitian.
Sebaran cetacea pada bulan September
cenderung merata pada lokasi penelitian. Titik-
titik kemunculan cetacea pada bulan ini dapat
ditemukan diseluruh perairan yang menjadi titik
lokasi penelitian.

3.4 Keanekaragaman
Gambar 6. Kelimpahan bulan Agustus
Keanekagaraman cetacea pada bulan Juli,Agustus
dan September di wilayah perairan Kecamatan
Kelimpahan cetacea pada bulan September Tejakula. Indek keanekaragaman yang dihitung
adalah Stenella longirostris: 0,092 ind/km2, Stenella dengan menggunakan persamaan Shannon. (1948),
attenuata: 0,047 ind/km2 dan Lagenodelphis hosei: dimana nilai dari keanekaragaman merupakan

J. Mar. Aquat. Sci. 6: 216-225 (2020)


AO Purba dkk. 222

jumlah dari setiap spesies dalam kurun waktu tiga macrorhynchus dengan nilai 2% (Gambar 4).
bulan penelitian. Indeks keanekaragaman Cetacea Kondisi ini sesuai dengan nilai kelimpahan cetacea
pada tiga bulan bulan penelitian didapatkan pada 3 bulan penelitian. Dimana nilai kelimpahan
bahwa, bulan Juli: 0,55, bulan Agustus: 1,24, bulan cetacea tertinggi dari seluruh waktu pengamatan
September 0,9. Keanekaragaman Cetacea pada adalah spesies Stenella longirostris dan terendah
lokasi penelitian juga dibagi menjadi dua wilayah, adalah spesies Globicephala macrorhynchus.
wilayah luar pencadangan: 1,22 dan wilayah Menurut Carwardine. (1995), spesies Stenella
dalam pencadangan 0,55 (Tabel 3). longirostris banyak terdapat pada seluruh perairan
hangat di dunia termasuk pada perairan Bali dan
Tabel 3 jumlah individu dalam satu koloni berkisar antara
Indeks keanekaragaman cetacea 2- 1000 individu. Sehingga komposisi jenis spesies
Indeks ini sangat tinggi. Dimana menurut Siahainenia.
Bulan (2010) pada hasil penelitian yang dilakukan pada
Keanekaragaman/bulan
Juli 0,55 Pantai Lovina bahwa spesies Spinner dolphin
Agustus 1,24 (Stenella longirostris) juga banyak ditemukan di
September 0,9 Pantai Lovina.
Wilayah Indeks Keanekaragaman
Jarak perairan antara Tejakula dan Lovina
Luar Pencadangan 1,22
adalah sekitar 37,16 km, dapat diasumsikan bahwa
Dalam Pencadangan 0,55
spesies Stenella longirostris yang ditemukan pada
Perairan Kecamatan Tejakula dan Pantai Lovina
adalah koloni yang sama. Dimana home range
4. Pembahasan spesies ini dapat mencapai ratusan kilometer dan
pergerakan harian spesies ini mencapai 30-50 km
Perairan Kecamatan Tejakula terletak pada daerah (Tyne et al., 2018). Spesies ini dapat muncul setiap
utara bali dimana merupakan perairan yang hari pada perairan utara Bali, namun jumlah dan
menjadi jalur dari migrasi cetacea (Salim, 2011).
jarak kemunculan spesies ini dipengaruhi oleh
Kondisi perairan yang merupakan daerah migrasi
kondisi perairan. Menurut Tyne et al. (2014)
dari beberapa jenis cetacea membuat perairan
spesies Stenella longirostris mendiami perairan
utara bali memiliki potensi kemunculan cetacea
pantai, dan daerah kepulauan.
yang sangat tinggi. Kondisi ini juga menjadikan
Berbeda dengan spesies Stenella longirostris,
perairan utara Bali sebagai wilayah konservasi
perairan dalam hal melindungi wilayah migrasi spesies Globicephala macrorhynchus memiliki jumlah
cetacea. yang sedikit dalam 1 koloni (pod). Jumlah spesies
ini dalam 1 koloni (pod) berkisar 20-60 individu
Jenis cetacea yang terdapat pada perairan utara
(Raghunathan et al., 2013). Dari hasil survey letak
Bali umumnya adalah kelompok odontoceti kecil
kemunculan spesies ini adalah sekitar 9 km dari
(lumba-lumba). Lumba-lumba merupakan jenis
bibir pantai, hal ini dapat diakibatkan oleh ukuran
dari cetacea yang memiliki jalur migrasi yang
tubuh yang besar. Dimana menurut Jeyabaskaran
cukup kecil dan bahkan cenderung menetap
et al. (2018) ukuran spesies ini dapat mencapai 4,80
disuatu perairan serta tersebar pada beberapa
meter dan berat 3.600 kg dan spesies ini jarang
perairan di dunia (Dharmadi dkk., 2017).
ditemukan pada lokasi yang dekat dengan garis
Pada penelitian yang berlangsung selama 3 pantai, sehingga sering ditemukan pada perairan
bulan (Juli,Agustus dan September) didapatkan 6 dalam.
spesies, yaitu : Stenella longirostris, Stenella
Menurut Sajikumar et al. (2014) spesies
attenuata, Globicephala macrorhynchus, Steno
Globicephala macrorhynchus memakan spesies ikan
bredanensis, Lagenodelphis hosei, dan Grampus griseus
dan gurita tertentu, spesies ini mencari makan
(Tabel 2). Spesies yang ditemukan merupakan
pada kedalaman 300 m (980 ft) atau lebih. Sebuah
spesies yang tersebar di seluruh perairan
koloni dapat mencapai 800 m untuk mencari
Indonesia (Carwardine, 1995).
makan. Menurut Yoshida et al. (2010) spesies ini
Nilai komposisi jenis cetacean tertinggi pada 3 ditemukan pada perairan terbuka yang dalam
bulan penelitian adalah Spesies Stenella longirostris (deep open water) dekat dengan continental shelve.
dengan nilai 63% dan terendah adalah Globicephala

J. Mar. Aquat. Sci. 6: 216-225 (2020)


223 Journal of Marine and Aquatic Sciences

Sebaran cetacea pada bulan Juli banyak 2016). Gelombang yang tinggi akan
terdapat pada bagian barat dari wilayah penelitian mempengaruhi sonar dari cetacea, sehingga dapat
(Gambar 8). Kemunculan cetacea yang cenderung mengganggu komunikasi cetacea dan membuat
berada pada bagian barat dari wilayah penelitian. disorientasi (Peltier et al., 2012).
Kondisi ini diduga diakibatkan oleh banyaknya
ikan yang berkumpul pada perairan bagian barat
dari wilayah penelitian, hal ini dilihat dari
banyaknya kapal nelayan yang mencari ikan pada
bagian barat wilayah penelitian.

Gambar 9. Peta sebaran cetacea bulan Agustus

Kemunculan cetacea pada bulan September


Gambar 8. Peta sebaran cetacea bulan Juli tersebar di seluruh perairan Tejakula (Gambar 10).
Pada bulan ini kondisi laut sangat baik, sehingga
kemunculan cetacea dapat di temukan dengan
Cetacea menggunakan sonar untuk mencari
mudah. Hasil wawancara terhadap nelayan
makan, sehingga cetacea akan cenderung
didapatkan bahwa jumlah Cetacea yang dilihat
berkumpul pada lokasi dimana makanannya dan ditemukan cukup banyak dibandingkan
berada. Kondisi angin yang kencang dari arah dengan bulan sebelumnya. Kemunculan cetacea
timur dan gelombang yang besar membuat cetacea yang tinggi pada bulan September menunjukkan
saat sulit ditemukan pada bagian timur dari bahwa kondisi perairan yang tenang
wilayah penelitian (Peltier et al., 2012). Sedangkan mempengaruhi tingkat kemunculan cetacea pada
pada bagian barat yang memiliki angin dan suatu perairan (Peltier et al., 2012).
gelombang yang tenang sangat memudahkan
dalam pengamatan cetacea. Kondisi ini diduga
karna adanya angin muson timur yang terjadi
pada bulan Juli, dimana angin kencang terbawa
dari arah australia menuju indonesia (Putra dkk.,
2015).
Kemunculan cetacea pada Bulan Agustus dari
data yang didapatkan sangat sedikit (Gambar 9),
dari hasil wawancara terhadap nelayan
kemunculan cetacea juga sangat sulit ditemukan
dan banyak nelayan yang tidak pergi melaut. Pada
bulan ini kondisi angin dan gelombang menjadi
sangat besar, dengan kondisi angin dan
Gambar 10. Peta sebaran cetacea bulan September
gelombang yang besar kemunculan cetacea
menjadi sangat sedikit. Pada bulan Agustus terjadi
Keanekaragaman biota dalam suatu perairan
angin muson timur, dimana angin bergerak dari
sangat bergantung pada banyaknya jumlah spesies
arah benua australia menuju benua asia (Dida
dalam komunitasnya. Semakin banyak spesies
dkk., 2016). Dimana angin muson timur terjadi
yang ditemukan maka keanekaragaman
pada bulan April hingga Oktober (Dida dkk.,
komunitas akan semakin besar pula, meskipun

J. Mar. Aquat. Sci. 6: 216-225 (2020)


AO Purba dkk. 224

nilai ini sangat tergantung dari jumlah inividu tiap cetacea menjadi sangat tinggi dan titik sebaran
spesies (Ismaini dkk., 2015). Indeks cetacea menjadi banyak.
keanekaragaman (H’) adalah suatu angka yang Keanekaragaman cetacea pada perairan
tidak memiliki satuan dengan kisaran angka 0-3. Kecamatan Tejakula pada bulan Juli adalah 0,55,
Tingkat keanekaragaman akan tinggi jika nilai H’ pada bulan Agustus adalah 1,24, dan September
mendekati 3 (Laticonsina, 2011), sehingga hal ini adalah 0,9. Keanekaragaman pada bulan Juli
menunjukkan kondisi perairan baik. Sebaliknya adalah rendah, pada bulan Agustus adalah sedang
jika nilai H’ mendekati 0 maka keanekaragaman dan pada bulan September adalah rendah.
rendah dan kondisi perairan kurang baik (Insafitri,
2010). Ucapan terimakasih
Keanekaragaman (H’) cetacea yang berada
pada perairan Kecamatan Tejakula, dibagi pada Terimakasih kepada Reefcheck Indonesia dan
setiap bulan dimana keanekaragaman pada bulan Coral Reef Alliance yang telah memberikan
Juli adalah 0,55, pada bulan Agustus adalah 1,24, beasiswa penelitian dan membantu dalam
dan September adalah 0,9. Keanekaragaman pada melaksanakan penelitian ini. Sehingga, penelitian
bulan Juli adalah rendah, pada bulan Agustus ini dapat selesai.
adalah sedang dan pada bulan September adalah
rendah. Pada tiga bulan ini terdapat spesies Daftar Pustaka
dominan yaitu spesies Stenella longirostris, dimana
Anggawangsa, R. F., Dharmadi, D., & Sulistyowati, N.
spesies ini muncul pada setiap bulan. Nilai ini
(2015). Kemunculan dan Tingkah Laku Pesut
dapat berubah sesuai dengan kondisi perairan dan (Orcaella brevirostris (Owen in Gray 1866) Sebagai
waktu pengambilan data, dimana jika Mamalia Terancam Langka di Perairan Kubu Raya
pengambilan data dilakukan pada kondisi dan Kayong Utara Kalimantan Barat. Widya Riset
perairan yang tenang maka dapat meningkatkan Perikanan Tangkap, 6(2), 63-68
nilai indeks keanekaragaman. Budiasih, I. G. A. N. (2014). Metode Grounded Theory
Nilai Indeks keanekaragaman cetacea pada dalam riset kualitatif. Jurnal Ilmiah Akuntansi dan
pada wilayah penelitian juga dibagi menjadi dua Bisnis, 9(1), 19-27.
bagian, yaitu ada daerah luar pencadangan Brower, K. L. (1982). Deep-level nitrogen centers in
konservasi dan daerah dalam pencadangan laser-annealed ion-implanted silicon. Physical Review
konservasi. Indeks keanekaragaman pada daerah B, 26(11), 6040-6052.
luar pencadangan konservasi adalah 1,22, dimana Carwardine, M. (1995). Smithsonian Handbooks: Whales,
nilai ini menunjukkan bahwa keanekaragaman Dolphin and Porpoises. New York, USA: Dorling
cetacea pada daerah luar pencadangan konservasi Kindersley.
memiliki kriteria sedang dimana 1 < H’ < 3. Dharmadi, D., Faizah, R., & Wiadnyana, N. N. (2017).
Sedangkan indeks keanekaragaman pada daerah Frekuensi Pemunculan, Tingkah Laku, dan Distribusi
dalam pencadangan konservasi adalah 0,55 yaitu Mamalia Laut di Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur.
dengan kriteria rendah H’ < 1, sesuai dengan BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap, 3(3), 209-216.
ketentuan Shannon. (1948). Dida, H. P., Suparman, S., & Widhiyanuriyawan, D.
(2016). Pemetaan potensi energi angin di Perairan
5. Simpulan Indonesia berdasarkan data satelit Quikscat dan
Windsat. Jurnal Rekayasa Mesin, 7(2), 95-101.
Sebaran cetacea pada perairan Kecamatan Tejakula English, S., Wilkinson, C., & Baker, V. (1997). Survey
pada bulan Juli, Agustus dan September hampir Manual for Tropical Marine Resources. (2nd ed).
diseluruh perairan Kecamatan Tejakula. Sebaran Townsville, Australia: Australian Institute of Marine
cetacea pada perairan Kecamatan Tejakula sangat Science.
dipengaruhi oleh kondisi perairan. Kondisi Handayani, H. H., & Cahyono, A. B. (2014). Pemetaan
perairan yang memiliki gelombang berkekuatan Partisipatif Potensi Desa (Studi Kasus: Desa
tinggi pada waktu tertentu mengakibatkan Selopatak, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.
Geoid, 10(1), 99-103.
kemunculan cetacea menjadi sangat sulit
ditemukan dan membuat sebaran cetacea pun Insafitri, I. (2010). Keanekaragaman, Keseragaman, dan
Dominansi Bivalvia di Area Buangan Lumpur
menjadi sedikit. Namun, jika kondisi perairan
Lapindo Muara Sungai Porong. Jurnal Kelautan:
sangat tenang akan membuat tingkat kemunculan

J. Mar. Aquat. Sci. 6: 216-225 (2020)


225 Journal of Marine and Aquatic Sciences

Indonesian Journal of Marine Science and Technology, Raghunathan, C., Kumar, S. S., Kannan, S. D., Mondal,
3(1), 54-59. T., Sreeraj, C. R., Raghuraman, R., & Venkataraman,
Ismaini, L., Lailati, M. A. S. F. I. R. O., & Rustandi, S. D. K. (2013). Mass stranding of pilot whale Globicephala
(2015). Analisis komposisi dan keanekaragaman macrorhynchus Gray, 1846 in North Andaman coast.
tumbuhan di Gunung Dempo, Sumatera Selatan. Pros Current Science, 104(1), 37-41.
Sem Nas Masya Biodiv Indonesia, 1(6), 1394-1402. Sajikumar, K. K., Ragesh, N., & Mohamed, K. S. (2014).
Jeyabaskaran, R., Sakthivel, M., Ramesh Kumar, P., Behaviour of Short-finned Pilot Whales Globicephala
Jayasankar, J., Vysakhan, P., & Kripa, V. (2018). macrorhynchus (Gray, 1846)(Mammalia:
Biosonar dysfunction and mass stranding of short- Cetartiodactyla: Delphinidae) in the southeastern
finned pilot whale Globicephala macrorhyncus at Arabian Sea. Journal of Threatened Taxa, 6(11), 6488-
Manapad, southeast coast of India-An emphatic key 6492.
in demystifying the enigma?. Indian Journal of Geo- Salim, D. (2011). Konservasi Mamalia Laut (Cetacea) Di
Marine Sciences, 47(10), 2077-2086. Perairan Laut Sawu Nusa Tenggara Timur. Jurnal
Latuconsina, H. (2011). Komposisi jenis dan struktur Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and
komunitas ikan padang lamun di perairan Pantai Technology, 4(1), 24-41.
Lateri Teluk Ambon Dalam. Agrikan: Jurnal Agribisnis
Shannon, C. E. (1948). A mathematical theory of
Perikanan, 4(1), 30-36.
communication. Bell system technical journal, 27(3),
Mustika, P. L. K., Williams, R., Kadarisman, H. P., 379-423.
Purba, A. O., & Maharta, I. P. R. F. (2016). Marine
Siahainenia, S. R. (2010). Tingkah Laku Lumba-lumba di
Mammal Survey at The Peninsular Water of Bali. Report.
Perairan Pantai Lovina Buleleng Bali. Jurnal
Denpasar, Indonesia: Conservation International
“Amanisal” PSP FPIK Unpatti-Ambon.1(1), 13-21.
Indonesia.
Mujiyanto, M., Riswanto, R., & Nastiti, A. S. (2018). Tyne, J. A., Pollock, K. H., Johnston, D. W., & Bejder, L.
Effectiveness of sub Zone Cetacean Protection in (2014). Abundance and survival rates of the Hawai’i
Marine Protected Areas Savu Sea National Marine Island associated spinner dolphin (Stenella
Park, East Nusa Tenggara. Coastal and Ocean Journal, longirostris) stock. PloS one, 9(1), 1-10.
1(2), 1-12 Tyne, J. A., Christiansen, F., Heenehan, H. L., Johnston,
Peltier, H., Dabin, W., Daniel, P., Van Canneyt, O., D. W., & Bejder, L. (2018). Chronic exposure of
Dorémus, G., Huon, M., & Ridoux, V. (2012). The Hawaii Island spinner dolphins (Stenella longirostris)
significance of stranding data as indicators of to human activities. Royal Society open science, 5(10), 1-
cetacean populations at sea: modelling the drift of 15.
cetacean carcasses. Ecological Indicators, 18, 278-290. Yoshida, H., Compton, J., Punnett, S., Lovell, T., Draper,
Putra, M. I. H., Indrayanti, E., & Zainuri, M. (2015). K., Franklin, G., Norris, N. R., Phillip, P., Wilkins, R.,
Variabilitas suhu dan kecepatan arus terhadap & Kato, H. (2010). Cetacean Sightings in the Eastern
keberadaan ikan matahari (Mola ramsayi) di perairan Caribbean and Adjacent Waters, Spring 2004. Aquatic
kepulauan Nusa Penida. Journal of Oceanography, 4(3), Mammals, 36(2), 154-161
545-555.
Yusron, E. (2012). Biodiversitas Jenis Cetacean di
Putri, R. O. T., Trihastuti, N., & Warno, N. D. (2016).
Perairan Lamalera, Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Implikasi Putusan Icj Berkaitan dengan Sengketa
Indonesian Journal of Marine Sciences/Ilmu Kelautan,
antara Jepang dan Australia Mengenai Perburuan
17(2), 59-62.
Paus Ilegal di Wilayah Antartika (Studi terhadap
Putusan Icj No. 226 Tahun 2014). Diponegoro Law
Journal, 5(3), 1-15.

© 2021 by the authors; licensee Udayana University, Indonesia. This article is an open access article distributed under
the terms and conditions of the Creative Commons Attribution license ([Link]

J. Mar. Aquat. Sci. 6: 216-225 (2020)

You might also like