TUGAS PKBB
ARTIKEL PENELITIAN BERKAITAN DENGAT PICOT
DI SUSUN OLEH:
HASNA PURNAMA
PO713201191112
2C
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2020
Perbandingan Hasil Positif Uji BCG
dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis
pada Anak dengan Tuberkulosis
Mohammad Wildan
E mail: wilmaabbas@[Link]
Abstract
Until now tuberculosis (TB) is still a world health problem, especially in the third world countries like Indonesia.
World health Organization (WHO) reported in 1995 there were 3 millions people died caused by TB. Prevalence of
lung TB with positive acid fast bacili (AFB) in Indonesia is still high, about 0.3%, it means that there were 3 persons
suffering of TB every 1000 people. It's needed to improve the quality of lung TB disease elimination program. But, the
problem that some of the cases of tuberculosis with positive AFB finding is low. May be it caused that the technique
of AFB examination is dificult, especially in infant and young children. tuberculin test have been used widely for a long
periode, but it reaction less sensitive (to be negative) for a moment time in anergy state. Recently, some centre uses
BCG for diagnosing TB, but further research is still needed (to prove more high proportion of positive result and
superiority of BCG test). This research uses Clinical Disagreement to measure kappa and chi square (Fisher's Exact
test) to mesurep. The sample size were 100 respondents, boys and girls beetwen 4 months to 12 years old, who
visited to General Pediatric Clinic and Pulmonology Clinic Dr Kariadi Hospital. To diagnosing TB, modified 1994
Starke Criteria is used. Tuberculin and BCG test was tested at the same time and evaluated after 72 hours (for
tuberculin and BCG) and at 7th day (for BCG). The proportion of these tests were compared by cross tabulation. The
respondents that suffering of tuberculosis were treated with 2HRZ 4HR regiment and reevaluated clinical, laboratoric
and radiologic findings. The proportion of positive result of BCG test is higher (97%) than positive result of tuberculin
test (24%), but not significant. Proportion of negative result of tuberculin test is higher (78%) than BCG test (3.3%),
but not significant. Distribution of positive result of BCG test has the same proportion in groups of age and nutrition
state. The proportion of positive result of BCG test is higher than tuberculin test, but not significant.
Key Words: BCG, tuberculin, screening
Pendahuluan diperlukan suatu "alat" uji tapis dan diagnostik
Hingga saat ini penyakit tuberkulosis (TB) yang mudah dikerjakan dengan hasil yang
masih menjadi masalah kesehatan utama dunia, cukup efektif, bernilai diagnostik tinggi dan
terutama di negara yang sedang berkembang dengan biaya yang murah.
seperti Indonesia. Menurut WHO (World Health Uji tuberkulin (Mantoux) telah digunakan secara
Organization) pada tahun 1995 terdapat kurang luas untuk mengetahui adanya infeksi TB sejak
lebih 3 juta orang meninggal akibat penyakit TB. lebih dari enam dekade. Namun demikian, uji
Prevalensi penyakit TB paru dengan Basil tuberkulin memiliki kelemahan, yaitu akan menjadi
Tahan Asam (BTA) positif di Indonesia masih negatif untuk sementara pada penderita TB
cukup tinggi, yaitu 0,3%, yang berarti terdapat 3 (anergi) dengan: (1) Malnutrisi Energi Protein;
penderita penyakit TB paru yang menular pada (2) TB berat; (3) Morbili, Varisela; (4) Pertusis,
setiap 1.000 penduduk. Prevalensi kasus anak Difteria, Tifus abdominalis; (5) Pemberian
dengan malnutrisi yang dicurigai menderita TB kortikosteroid yang lama; (6) Vaksin virus dan (7)
dan telah dibuktikan menderita TB di Asia Penyakit keganasan (Wong, Oppenheimer,
kurang lebih 74 - 80 % (Kenyon, 1999). 1994).BCG diberikan secara langsung di Indonesia
Perlu dilakukan peningkatan mutu program tanpa didahului uji tuberkulin. Anak yang mendapat
Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis Paru (P2TB- BCG langsung terdapat reaksi lokal yang besar
Paru). Strategi yang digunakan adalah pemutusan dalam waktu kurang dari 7 hari setelah
rantai penularan. Namun kendala yang dihadapi penyuntikan, ia harus dicurigai adanya tuberkulosis
antara lain adalah masih rendahnya penemuan dan diperiksa lebih lanjut kearah tuberkulosis.
kasus TB dengan BTA (+). Hal ini disebabkan antara Pada anak dengan tuberkulosis, BCG akan
lain oleh sulitnya melakukan pemeriksaan BTA di menimbulkan reaksi lokal yang lebih cepat dan
lapangan, terutama pada anak. Oleh karena itu, besar. Karena itu BCG dapat digunakan
Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis Mohammad Wildan 1
sebagai alat diagnostik. Uji BCG tidak terdapat karena : (1) Belum pernah dilakukan penelitian
anergi, sehingga lebih unggul bila dibandingkan yang serupa di Indonesia, (2) Mungkin terdapat
dengan uji tuberkulin. Dikshit dan Surendra Singh perbedaan hasil dengan hasil penelitian
(1977) melakukan uji Mantoux dan uji BCG secara sebelumnya (di luar negeri) mengingat adanya
bersamaan dengan hasil 93% uji BCG positif pada perbedaan ras/ etnik, dan hampir semua
penderita tuberkulosis paru dan hanya 65% uji responden sudah dilakukan vaksinasi BCG (3)
Mantoux positif; 82% uji BCG positif pada Bagaimana pengaruh malnutrisi pada kedua uji
meningitis tuberkulosis dan hanya 40% uji tersebut, (4) Apakah vaksinasi BCG sebelumnya
Mantoux positif. Disimpulkan bahwa uji BCG mempengaruhi uji BCG dan apakah hasil
merupakan bentuk protein natural sehingga penelitian semacam ini (dari luar negeri) bisa
reaksinya lebih cepat dan sensitif terutama untuk langsung diterapkan di Indonesia, khususnya di
mendiagnosis tuberkulosis pada anak dengan RSUP Dokter Kariadi Semarang, mengingat
malnutrisi dan tuberkulosis yang berat. prevalensi kasus TB anak cukup besar.
Shrivastava dkk. (1977) dalam penelitiannya
menyimpulkan bahwa BCG mempunyai indeks Metode dan Desain Penelitian
hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik dan Jenis penelitian yang digunakan adalah
tidak dipengaruhi oleh faktor umur dan status gizi; clinical disagreement.
jarang sekali menimbulkan efek samping dan Populasi rujukan ialah bayi dan anak yang
reaksi yang berat; merupakan indikator yang kuat dicurigai menderita tuberkulosis yang berobat
pada kontak tuberkulosis; sehingga BCG jalan di Poliklinik 159 dan Poliklinik Paru Anak
mempunyai keunggulan karena sederhana, aman, 151 RSUP dr. Kariadi Semarang. Populasi studi
reabilitasnya tinggi dan murah sebagai alat adalah bayi umur 4 bulan - anak usia 12 tahun.
diagnostik yang direkomendasikan untuk Unit analisis adalah bayi dan anak malnutrisi
penggunaan rutin di lapangan, terutama di negara yang dicurigai menderita tuberkulosis dan
dengan prevalensi tinggi tuberkulosis seperti dilakukan uji Mantoux dan uji BCG.
Indonesia. Selain itu uji BCG juga dapat langsung
berguna sebagai profilaksis.
Perbandingan hasil positif uji BCG dan uji
tuberkulin sebagai uji tapis menarik untuk diteliti
Besar sampel:
n : (Z² 1-Ü/2) PQ
d²
Keterangan :
P : 0,8
Q : 1-P=0,2
Z² 1-Ü/2 : 1,96 (derajat kepercayaan)
d : 0,1
n : 1.96² (0,8) (0,2) : 62
0,1²
Prevalens 80%
N : 100 X 62 : 77,5
80
Bila dihitung drop out 10% maka jumlah sampel menjadi 85.
Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah: • Orang tua penridenta memberi ijin dan
• Pasien rawat jalan yang menderita bersedia dilakukan pemeriksaan yang
tuberkulosis (memenuhi Kriteria Starke ditetapkan
1994) di Poliklinik Anak 159 dan Poliklinik • Tempat tinggal di dalam kota Semarang
Paru 151 RSUP dr. Kariadi
• Berumur antara 4 bulan sampai dengan 12 Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah:
tahun dengan tinggi badan maksimal • Menderita penyakit TB berat, morbili,
145cm untuk anak laki-laki dan 137cm varisela, pertusis, difteri, tifus abdominalis
untuk anak perempuan
2 Biomedika, Volume 1, Nomor 2, Tahun 2009
• Menderita penyakit keganasan positif (dengan hasil uji BCG positif atau negatif)
• Mendapatkan pengobatan kortikosteroid diberikan pengobatan anti TB dan follow up
jangka lama, mendapatkan vaksin sampai dengan 6 bulan pengobatan. Rejimen
• Penderita pindah tanpa diketahui alamat pengobatan yang digunakan adalah 2HRZ 4HR.
yang baru Perbaikan yang dinilai adalah:
• Meninggal selama penelitian karena • Klinik: demam sub febril menghilang, nafsu
penyakit lain makan membaik, berat badan bertambah
• Gizi buruk (10% setelah pengobatan 2 bulan)
• Laboratorim membaik: Hb meningkat, LED
Kecurigaan tuberkulosis berdasarkan menurun, lekositosis berkurang,
Modifikasi Kriteria Starke (1994): pergeseran ke kiri berkurang
1. Anamnesis didapatkan: ada sumber penularan; • Gambaran radiologik membaik dibanding
panas subfebril terutama malam hari yang sebelumnya
berlangsung ± 2 minggu tanpa sebab yang Pengelolaan dan analisis data menggunakan
jelas, sering berkeringat malam; berat badan chi kuadrat (X2) dan Fisher's Exact test.
sulit naik (dalam 4 minggu terakhir); keluhan Perhitungan nilai Kappa dengan
sesuai dengan organ yang terkena yaitu salah menggunakan clinical disagreement.
satu dari: benjolan disekitar leher, punggung,
aksila, inguinal; nyeri pada lutut dan Hasil Penelitian
selangkangan; mata gatal dan merah dengan Berdasarkan penelitian didapatkan
daerah kuning pada kelopak mata dan hasilnya sebagai berikut:
bengkak, berair; pembesaran limfonodi nares. Sebaran Umur dan Jenis Kelamin
2. Pemeriksaan fisik didapatkan salah satu Apabila dikelompokkan berdasarkan umur, dari
dari: tidak didapatkan kelainan; malnutrisi 100 sampel dalam penelitian ini: baik pada laki-
(antropometri); konjungtivitis fliktenularis; Iaki dan perempuan sampel kelompok umur < 5
pembesaran kelenjar limfe (leher, aksila, tahun merupakan yang terbanyak, kemudian
inguinal, nares); gibbus/spondilitis; kelompok umur 6-10 tahun, dan paling sedikit
didapatkan gerak nafas asimetris, palpasi kelompok umur >10 tahun.
dada pekak, ronki, wheezing, atau krepitasi Bila dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin
pada pemeriksaan fisik paru. didapatkan: proporsi sampel berjenis kelamin laki-
3. Pe m e r i k s a a n l a b o r a to r i u m m u n g laki dan perempuan relatif berimbang pada semua
k i n didapatkan anemi atau lekositosis. Selain kelompok umur.
itu dijumpai peningkatan laju endap darah; Sebaran Status Gizi
peningkatan sel mononuklear; juga limfopeni. Bila dikelompokkan berdasarkan status gizi
4. Pemeriksaan X foto toraks didapatkan salah didapatkan: pada sampel laki-laki Kurang Energi
satu dari: hasil X foto toraks sesuai TB; Protein (KEP) ringan lebih banyak dibanding
perubahan parenkim dan atau konsolidasi yang bergizi baik, yaitu 2:1. Sedangkan pada
alveolar; densitas interstitial; pleuritis; kelainan sampel perempuan didapatkan Kurang Energi
fokal; kelainan akibat perubahan mekanik; Protein ringan lebih banyak dibanding gizi baik,
terdapat diskonkruensi. tetapi dengan perbandingan hampir sama/
Uji Mantoux dilakukan di BKIA (Klinik Tumbuh separuh jumlah. Secara keseluruhan sampel
Kembang) RSUP dr. Kariadi, pembacaan setelah dengan Kurang Energi Protein ringan lebih
72 jam, sedangkan uji BCG dilakukan di BKIA banyak dibanding sampel dengan gizi baik,
(Klinik Tumbuh Kembang) RSUP dr. Kariadi dengan perbandingan 3:2 dan Kurang Energi
bersama-sama dengan uji Mantoux, pembacaan Protein ringan lebih banyak didapatkan pada
setelah 72 jam dan setelah 7 hari sampel laki-laki dibanding sampel perempuan
Pemeriksaan radiologi dilakukan di SMF dengan perbandingan yang relatif berimbang.
Radiologi RSUP dr. Kariadi, pembacaan Sebaran Hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan
dilakukan oleh seorang radiolog, untuk 1 uji BCG
pasien dilakukan pembacaan sebanyak 2 kali. Hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif pada umur < 5
Anak yang secara klinis menderita TB dengan tahun sebagian besar negatif dibanding positif,
hasil uji BCG positif (dengan hasil uji Mantoux yaitu 3,5:1, kelompok umur 6-10 tahun hasil uji
positif atau negatif) atau dengan hasil uji Mantoux positif dibanding negatif adalah 1:2, sedangkan
Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis Mohammad Wildan 3
padakelompokumur>10tahun nilai p= 0,649
perbandingannya adalah 1:3 antara hasil Sebaran status gizi pada kedua hasil uji BCG
positif dibanding negatif. Proporsi hasil positif dan tuberkulin tidak bermakna secara statistik.
uji tuberkulin paling besar didapatkan pada Sebaran hasil uji BCG dan tuberkulin
kelompok umur 6-10 tahun, menyusul hubungannya dengan status gizi pada anak umur
kelompok umur >10 tahun dan paling kecil <5 tahun didapatkan nilai df= 3 dan nilai p = 0,58.
pada kelompok umur < 5 tahun. Sebaran Hasil uji BCG dan tuberkulin
Hasil uji BCG positif pada umur < 5 tahun hubungannya dengan status gizi pada anak
sebagian besar (96%) negatif dibanding umur <6-10 tahun mendapatkan nilai df= 0,22
positif, kelompok umur 6-10 tahun dan >10 dan nilai p = 0,64.
tahun perbandingannya 100% positif.
Didapatkan proporsi konjungtivitis Pembahasan
fliktenularis, pada sampel laki-laki dan Dari 100 pasien yang diambil sebagai sampel
perempuan relatif sama. dalam penelitian ini didapatkan bahwa sampel
Sebaran Hasil uji tuberkulin dan BCG, yang berumur <5 tahun persentase sampel
perbaikan radiologik dan laboratorik perempuan (50,7%) lebih banyak dibanding laki-
Sebagian besar sampel mengalami perbaikan laki (49,3%) tetapi perbandingannya relatif
laboratorik baik pada responden dengan hasil uji berimbang, yaitu 1:1. Pada kelompok umur 6-10
tuberkulin positif dan negatif setelah mendapat tahun juga didapatkan hal yang sama. Demikian
pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ 4HR. juga pada sampel kelompok umur >10 tahun,
Sebagian besar sampel mengaiami perbaikan persentase sampel laki-laki dan perempuan
radiologik baik pada sampel dengan hasil uji adalah sama besar. Secara persentase menurut
tuberkulin positif dan negatif setelah jenis kelamin dan kelompok umur sampel yang
mendapat pengobatan antituberkulosis didapat pada penelitian ini tidak mencerminkan
rejimen 2HRZ 4HR. Proporsi perbaikan gambaran populasi. Pada anak yang berumur
radiologik lebih besar pada sampel dengan lebih muda morbiditas terhadap penyakit
hasil uji tuberkulin positif dibanding uji tuberkulosis lebih banyak terjadi pada anak laki-
tuberkulin negatif, dengan pebandingan 6:5. laki dibanding dengan anak perempuan, kemudian
Sebagian besar (95,6%) sampel mengalami persentasenya akan menjadi sama dengan
perbaikan laboratorik baik padda responden bertambahnya umur (Stead, 1993). Sedangkan
dengan hasil uji BCG positif setelah mendapat persentase morbiditas terhadap penderita
pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ4HR. tuberkulosis pada jenis kelamin laki-laki dan
Sebagian besar sampel mengalami perbaikan perempuan untuk kelompok umur 6 tahun keatas
radiologik baik pada sampel dengan hasil uji pada penelitian ini relatif sama, yaitu 48% sampel
BCG positif dan negatif setelah mendapat laki-laki dan 52% perempuan, keadaan ini sesuai
pengobatan antituberkulosis rejimen 2HRZ4HR. dengan persentase gambaran populasi, dimana
Proporsi perbaikan radiologik lebih besar pada pada anak yang lebh besar persentase morbiditas
sampel dengan hasil uji BCG positif dibanding terhadap penyakit tuberkulosis adalah sama besar
uji BCG negatif, dengan perbandingan 4:3. (Stead, 1993).
Analisis Statistik Apabila dikelompokkan menurut menurut umur,
Nilai Kappa 100 sampel terbagi atas kelompok umur <5 tahun
Dengan menggunakan tabulasi silang 2X2 sebanyak 75 sampel atau 75,0%, kelompok umur
perhitungan nilai kappa data hasil uji 6-10 tahun sebanyak 21 sampel atau 21,0% dan
tuberkulin (Mantoux) dan uji BCG didapatkan kelompok umur >10 tahun sebanyak 4 sampel
nilai kappa - 0,008, dengan nilai p=0,701. atau 4%. Berdasarkan persentase menurut
Tabulasi silang data hasil uji tuberkulin kelompok umur sampel yang didapat pada
(Mantoux) dan uji BCG responden umur < 5 penelitian ini sudah mencerminkan gambaran
tahun didapatkan nilai kappa - 0,013 dengan populasi, yaitu bahwa morbiditas terhadap
nilai p= 0,605. penyakit tuberkulosis anak yang berumur < 5
Sebaran hasil uji BCG dan status gizi dengan tahun adalah yang tertinggi dibanding dengan
Fisher's Exact test didapatkan nilai p= 0,331 anak yang berumur lebih tua (Stead, 1993).
Sebaran Hasil uji tuberkulin (Mantoux) dan Selain karakteristik sampel, jumlah sampel juga
Status Gizi Dengan Fisher's Exact test didapatkan berpengaruh terhadap hasil penelitian. Sampel
4 Biomedika, Volume 1, Nomor 2, Tahun 2009
yang digunakan pada penelitian ini sudah kemungkinan adanya under diagnosis. Sedangkan
diperhitungkan dengan beberapa persyaratan untuk hasil uji BCG positif dapat berarti bahwa
yang sesuai dengan rumus yang berlaku memang benar sampel tersebut menderita
sehingga jumlah sampel untuk penelitian ini penyakit tuberkulosis, atau tidak menderita
sudah dianggap cukup. Semakin banyak sampel penyakit tuberkulosis. Hal ini dapat terjadi akibat
akan semakin baik pula hasil penelitian tersebut. kemungkinan adanya overdiagnosis. Keadaan lain
Penelitian ini menggunakan perhitungan yang dipertimbangkan adalah (1) komposisi
statistik uji clinical disagreement dengan reagen BCG jauh lebih besar dibanding reagen
membandingkan dua cara uji tapis tuberkulosis tuberkulin (PPD S 5 TU) sehingga kemampuan
pada anak dengan menggunakan uji tuberkulin menimbulkan reaksi hipersensitivitas lebih besar,
(Mantoux) dan uji BCG, sehingga tidak (2) semua responden pada penelitian ini pernah
menggunakan baku emas. Perhitungan statistik mendapatkan vaksinasi BCG, sehingga mungkin
dilakukan dengan mengukur nilai "kappa" lebih mudah tersensitisasi terhadap uji BCG.
dengan tabulasi silang 2X2 antara hasil uji BCG Pengaruh status gizi responden terhadap hasil
dan uji tuberkulin (Mantoux). uji tuberkulin (Mantoux) dapat dilihat pada tabel 8.
Jumlah sampel dengan hasil uji BCG positif Tampak bahwa hasil uji tuberkulin (Mantoux) yang
dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) positif adalah 23 negatif lebih banyak didapatkan pada sampel
sampel atau 23,0%, jumlah sampel dengan hasil dengan status gizi Kurang Energi Protein ringan,
uji BCG positif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) tetapi dengan menggunakan Fisher's Exact test
negatif adalah 74 sampel atau 74,0%, jumlah tidak didapatkan hasil yang berbeda
sampel dengan hasil uji BCG negatif dan hasil uji bermakna dengan p=0,331.
tuberkulin (Mantoux) positif adalah 1 sampel atau Sedangkan pengaruh status gizi sampel
1,0% dan jumlah sampel dengan hasil uji BCG terhadap hasil uji BCG terlihat bahwa hasil uji BCG
negatif dan hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif negatif lebih sedikit pada sampel dengan kurang
adalah 3 sampel atau 3,0%. Apabila dijumlahkan energi protein ringan, dengan menggunakan
secara keseluruhan, didapatkan sampel dengan Fisher's Exact test juga tidak didapatkan hasil
hasil uji BCG positif adalah sebanyak 97 atau yang berbeda bermakna dengan p=0,331.
97,0%, sedangkan sampel dengan hasil uji Sampel dengan status gizi Kurang Energi
(tuberkulin) Mantoux positif adalah sebanyak 24 Protein ringan dengan hasil uji BCG positif, hasil
atau 24,0%. Dikshit dan Sursndra Singh (1977) uji tuberkulin lebih banyak yang negatif dibanding
melakukan uji tuberkulin dan uji BCG secara yang positif, dengan perbandingan 3:1.
bersamaan dengan hasil 93% uji BCG positif pada Sedangkan pada sampel dengan gizi baik dan
responden tuberkulosis paru dan hanya 65% uji hasil uji BCG positif hasil uji tuberkulin negatif lebih
tuberkulin positif, 82% uji BCG positif pada banyak dibandimg yang positif, dengan
meningitis tuberkulosis dan hanya 40% uji perbandingan 4:1. Tetapi pada kedua keadaan
tuberkulin positif. Disimpulkan bahwa uji BCG tersebut secara statistik tidak bermakna (df= 1,12
merupakan bentuk protein natural sehingga dan p= 0,77). Demikian juga pada sampel yang
reaksinya lebih cepat dan sensitif untuk berumur <5 tahun (df= 1,93 dan p= 0,58) dan 6-10
mendiagnosis tuberkulosis pada anak dengan tahun (df= 0,22 dan p= 0,64) mempunyai
malnutrisi dan tuberkulosis yang berat. gambaran yang hampir sama Hal ini dapat terjadi
Berdasarkan rumus maka didapatkan hasil karena mungkin jumlah sampel yang terlalu sedikit
perhitungan (seluruh sampel) nilai kappa sebesar - sehingga uji chi square yang dilakukan kurang
0,008 dengan nilai p=0,701 (bermakna p=0,05) valid. Jaiswal dan Badhari (1977) mendapatkan
yang berarti bahwa kedua uji (uji BCG dan uji 94% anak dengan berbagai derajat malnutrisi
tuberkulin (Mantoux)) tidak ada kesesuaian dan menunjukkan hasil uji tuberkulin positif relatif
tidak bermakna. Demikian juga pada sampel yang dalam proporsi yang lebih rendah (18%) dibanding
berumur <5 tahun didapatkan nilai kappa yang dengan hasil uji BCG positif pada keadaan yang
kecil (-0,013) dan nilai p= 0,605. Apabila hasil uji sama. Sedangkan Chandra (1979) mendapatkan
tuberkulin (Mantoux) positif berarti bahwa sampel hanya 10% dari 23 anak yang diketahui menderita
benar menderita penyakit tuberkulosis; tetapi tuberkulosis dengan malnutrisi. Shrivastava (1977)
apabila hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif maka menyatakan bahwa BCG mempunyai indeks
belum tentu tidak menderita penyakit tuberkulosis. hipersensitivitas tuberkular yang lebih baik
Hal ini dapat terjadi akibat dibanding tuberkulin,
Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis Mohammad Wildan 5
dan tidak dipengaruhi oleh status gizi. Dana S, 15 tahun (Ormerod LP, 1994). Ormerod (1994)
Krishna K, Suskind RM (1997) mendapatkan mengatakan bahwa konjungtivitis fliktenularis
bahwa anak dengan kecepatan pertumbuhan biasanya terjadi pada anak yang mengalami
subnormal akibat defisiensi diit protein akan infeksi primer tuberkulosis dalam 12 bulan. Hasil
menurunkan respons reaksi hipersensitivitas tipe uji tuberkulin (Mantoux) pada kedua penderita
lambat terhadap tuberkulin. Respons ternyata negatif. Hal ini dapat dijelaskan bahwa
hipersensitivitas tipe lambat terdiri atas tiga indeks hipersensitvitas tuberkular terhadap uji
rangkaian proses yang jelas. Jalur aferen tuberkulin (Mantoux) lebih rendah dibanding
melibatkan sensitisasi limfosit T terhadap antigen terhadap uji BCG, sebagaimana yang didapatkan
yang "diproses" makrofag. Jalur eferen ditandai oleh Shrivastava (1977) yang menyimpulkan
dengan produksi mediator kimia yang terlarut atau bahwa BCG mempunyai indeks hipersensitivitas
limfokin dan berperan pada sensitisasi sel T yang tuberkular yang lebih baik. Sonmez (1994) dalam
mengenal dan berinteraksi dengan antigen yang penelitiannya menyimpulkan bahwa BCG lebih
disuntikan intradermal. Respons peradangan sensitif dan lebih spesifik dibanding PPD untuk
kemungkinan dipacu oleh pelepasan limfokin pada membantu menegakkan diagnosis tuberkulosis.
sisi kulit yang diberi antigen; dan faktor kemotaktik Kemungkinan lain adalah bahwa konjungtivitis
menyebabkan indurasi kulit yang merupakan tanda fliktenularis disebabkan oleh infeksi streptokokus
reaksi positif (Grange JM, 1994). Defisiensi nutrisi kelompok hemolitik atau stafilokokus, tetapi pada
menekan salah satu atau lebih komponen respons kedua penderita tidak dilakukan pemeriksaan
hipersensitivitas tipe lambat (Grange JM, 1994). pengecatan ataupun biakan sekret mata.
Pada Kurang Kalori Protein ringan mungkin belum Ukuran diameter hasil positif uji BCG pada
sampaimenekankomponenrespon sampel yang dinyatakan sembuh didapatkan 62
s hipersensitivitas tipe lambat tersebut, sehingga sampel (77,5 %) berdiameter 5-10 mm dan 18
tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara sampel (22,5 %). Sedangkan ukuran diameter
status gizi dan hasil negatif uji tuberkulin. Hal lain rata-rata hasil positif uji BCG pada sampel yang
yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa status dinyatakan sembuh adalah 9,7 mm.
imunologi pada sampel belum sampai menurun Uji BCG positif didapatkan pada 73 sampel
sehingga belum sampai mengurangi sensitivitas (97,33%) dari seluruh sampel yang berumur < 5
reaksi hipersensitivitas, yang pada penelitian ini tahun, 20 sampel (95,23% dari seluruh sampel
status imunologi tidak diteliti. yang berumur 6-10 tahun dan 4 sampel (100%)
dari seluruh sampel yang berumur >10 tahun.
Didapatkan 2 sampel dengan konjungtivitis Dengan demikian, sebaran hasil positif uji BCG
fliktenularis; yang pertama seorang anak relatif sama pada semua kelompok umur, hal ini
perempuan berumur 8 tahun, anamnesis, sesuai dengan hasil yang didapatkan oleh
pemeriksaan fisik dan penunjang mendukung Shrivastava dkk (1977). Dapat dijelaskan bahwa
kearah tuberkulosis, sudah dikonsulkan ke BCG mempunyai indeks hipersensitivitas
Bagian Mata dengan kesimpulan konjungtivitis tuberkular yang lebih baik dan tidak dipengaruhi
fliktenularis akibat tuberkulosis, tetapi hasil uji oleh faktor umur dan status gizi; jarang sekali
tuberkulin (Mantoux) negatif (diameter indurasi 5 menimbulkan efek samping dan reaksi yang
mm) dan hasil uji BCG positif (diameter indurasi 12 berat; merupakan indikator yang kuat (96,7%)
mm), perkembangan penyakit setelah dilakukan pada kontak tuberkulosis; sehingga BCG
pengobatan antituberkulosis selama 6 bulan mempunyai k e u n g g u l a n k a re n a s e d e r
dengan rejimen 2HRZ 4HR dinyatakan sembuh h a n a , a m a n , reabilitasnya tinggi dan murah
(klinik, laboratorik, radiologik perbaikan); kasus sebagai alat diagnostik yang direkomendasikan
yang kedua seorang anak laki-laki berumur 6 untuk penggunaan rutin di lapangan, terutama di
tahun dengan keadaan yang sama dengan kasus negara dengan prevalensi tinggi tuberkulosis.
pertama, hasil uji tuberkulin (Mantoux) negatif Choudhary dkk (1977) melaporkan bahwa
(diameter indurasi 7 mm) dan hasil uji BCG positif respons terhadap vaksinasi BCG tidak
(diameter indurasi 12-16 mm). Konjungtivitis berhubungan dengan umur.
fliktenularis merupakan reaksi hipersensitivitas Komplikasi akibat uji BCG pada sampel tidak
terhadap tuberkulin, terjadi akibat respons infeksi didapatkan pada penelitian ini. Efek samping uji
primer tuberkulosis. Insidensnya banyak terjadi BCG (Choudhary, 1977) didapatkan adenitis
pada negara dunia ketiga pada kelompok umur 5- regional 3,3% dan ulserasi 8%. Insiden
6 Biomedika, Volume 1, Nomor 2, Tahun 2009
limfadenopati regional yang diteliti oleh Udani dan
Jaiswal (dikutip oleh Shrivastava) sebesar 7,1 Saran
% Sehingga disimpulkan bahwa BCG dapat 1. Perlu hati-hati dalam menegakkan
diberikan pada semua anak tanpa khawatir diagnosis tuberkulosis tanpa hasil biak an
terhadap komplikasinya. dan pengecatan kuman BTA
Sebagai bukti tambahan (yang perlu 2. Perlu dilakukan penelitian serupa lebih lanjut
dipertimbangkan) adalah bahwa baik pada sampel dengan menggunakan baku emas dan kontrol
dengan hasil uji tuberkulin positif dan negatif,
sebagian besar (perbaikan laboratorik 95,8% dan Daftar Pustaka
96,1%; perbaikan radiologik 95,8% dan 77,6%) Chandra RK, Newberne PM. 1979. Nutrition,
mengalami perbaikan laboratorik dan radiologik Immunity and Infection Mechanism of Interaction.
dengan sebaran yang sama. Sedangkan pada New York: Plenum Press
responden dengan hasil uji BCG positif dan
negatif, sebagian besar (perbaikan laboratorik Choudhary AK. 1977. BGC test for diagnosis of
childhood tuberculosis. Indian Pediatrics. 13: 689-95.
95,9% dan 100%; perbaikan radiologik 82,5% dan
Christy C. 1996. Screening for tuberculosis
66,7%) mengalami perbaikan laboratorik dan
infection in urban children. Archieves of Pediatrics
radiologik juga dengan sebaran yang hampir
& Adolescent Medicine 150: 722-26
sama. Akan lebih baik lagi apabila penelitian ini
juga menggunakan sampel kontrol. Committee on Infection Diseases. Screening
Adapun keterbatasan-keterbatasan tuberculosis in infant and children. Pediatrics 93: 131-4
penelitian ini adalah:
1. Tidak menggunakan baku emas dan kontrol Dana S, Krishna K, Suskind RM. 1977. The Malnourished
2. Tidak dilakukan uji standar mutu reagen Child in Overview Dalam: Suskind RM, Leslie LS. 1997.
BCG maupun PPDS 5TU secara The Malnourished Child. New York: Raven Press
biokimiawi sebelum disuntikkan
Dikshit KP, Surendra Singh. 1977. BCG test for
3. Penyuntikan reagen dilakukan oleh perawat diagnosis of chilhood tuberculosis. Indian
yang telah berpengalaman, tetapi Pediatrics Vol XIII No 9: 687-95.
kesalahan akibat teknik penyuntikan
reagen tidak dipertimbangkan secara teliti [Link]
4. Tidak diteliti variabel lain yang berpengaruh g y a n d Immunopathology of Tuberculosis.
pada perbaikan status gizi Dalam: Davis PDO eds. 1994. Clinical
[Link] diteliti status imunologi yang dapat Tuberculosis. London: Chapman & Hall Medical
berpengaruh pada reaksi hipersensitvitas uji
BCG maupun tuberkulin Jaiswal S, Badhari NR. 1977. Evaluation of
diagnostic valve of BCG test in childhood
[Link] responden pada penelitian ini telah
tuberculosis. Indian Pediatrics 14: 993-8.
mendapatkan vaksinasi BCG sebelumnya
Kenyon TA, Driver C, Haas E. 1999. Immigration and
Simpulan dan Saran tuberculosis among children on the united states-mexico
Simpulan border, county of san diego, California. Pediatrics 104: 1-6
1. Proporsi hasil positif uji BCG lebih besar
dibanding dengan proporsi hasil positif uji Ormerod LP. 1994. Respiratory Tuberculosis. Dalam:
tuberkulin (Mantoux) pada anak dengan Davis PDO eds. Clinical
tuberkulosis, tetapi secara statistik tidak
Shrivastava DK, Shingwekar AG, Choudhary AK.
bermakna
1977. Evaluation of BCG test in childhood
2. Pada anak dengan tuberkulosis dan Kurang
tuberculosis. Indian Pediatrics Vol XIV No 12: 993-8.
Energi Protein ringan proporsi hasil negatif uji
tuberkulin (Mantoux) lebih besar dibanding Soekendar AW. 1993. PAP-TB sebagai Penunjang
dengan proporsi hasil negatif uji BCG, tetapi Diagnosis dan Terapi Tuberkulosis. Jakarta:
secara statistik tidak bermakna. Forum Diagnosticum
3. Sebaran hasil positif uji BCG relatif sama
pada semua kelompok umur Somnez. 1998. Diagnosis of tuberculosis: PPD or BCG
test.
4. Uji BCG dapat digunakan sebagai sarana uji
Journal of Tropical Pediatric. 44: 40-2
tapis atau diagnosis tuberkulosis pada anak
Perbandingan Hasil Positif Uji BCG dan Uji Tuberkulin sebagai Uji Tapis pada Anak dengan Tuberkulosis Mohammad Wildan 7
Stead WW, Dut AK. 1993. Epidemiology and Host Factors.
Dalam: Schlossberg D. 1993. Tuberculosis. New York:
Springer-Verlaag
Tuberculosis. London: Chapman & Hall Medical
Wong GWK, Oppenheimer SJ. 1994. Childhood
Tuberculosis. Dalam: Davis PDO eds. 1994. Clinical
Tuberculosis. London: Chapman & Hall Medical
8 Biomedika, Volume 1, Nomor 2, Tahun 2009