See discussions, stats, and author profiles for this publication at: [Link]
net/publication/338570436
Analysis of Transportation Development for Small Islands in Sumenep
District, East Java Province
Conference Paper · October 2018
CITATIONS READ
0 1
1 author:
Mohammad Hidayaturrahman
Universitas Wiraraja Sumenep
11 PUBLICATIONS 2 CITATIONS
SEE PROFILE
Some of the authors of this publication are also working on these related projects:
Teori Sosial dan Pertentangannya View project
All content following this page was uploaded by Mohammad Hidayaturrahman on 14 January 2020.
The user has requested enhancement of the downloaded file.
Analysis of Transportation Development for Small Islands
in Sumenep District, East Java Province
Mohammad Hidayaturrahman 1
Universitas Wiraraja - Indonesia
Abstract
This study aims to describe the economic potential of islands in Sumenep District.
This study uses a qualitative descriptive approach, carried out by collecting data
through observation, in-depth interviews, and data tracking. Sumenep District
has the largest number of islands in East Java, 287 islands, spread across nine sub-
districts. These islands have considerable economic potential, from oil and gas to
fisheries, epinephelinae, cromileptes altivelis, and lobster. This area has a great need
for the existence of a transportation network as a means of economic mobility of the
community, which also affects the price of basic necessities far higher than the area
of Sumenep Regency on the mainland, Madura Island and Java Island.
Key Words: transportation, small islands, infrastucture
1
Mohammad Hidayaturrahman, Universitas Wiraraja, Sumenep Indonesia. Email: hidayatsahabatkita2016@gmail.
com
209
Analisis Pembangunan Transportasi untuk Pulau-Pulau Kecil
di Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur
Mohammad Hidayaturrahman
I. Pendahuluan
Pembangunan nasional, terutama pada era otonomi daerah menghadapi
kendala tak sekadar soal pembagian wilayah kekuasaan politik (power), kewenangan
(authority), tapi juga terkait dengan pengelolaan (supervision), suatu wilayah yang
jaraknya cukup jauh dari wilayah kota kabupaten, termasuk di dalamnya wilayah
kepulauan dan daerah terpencil, serta terdepan, terluar, terbelakang. Secara sumber
daya, baik dana maupun sumber daya manusia (human resources), daerah memiliki
keterbatasan. Pada sisi yang lain, pemerintah pusat meski memiliki banyak sumber
daya manusia dan sumber dana, juga tidak begitu mudah mengakses dan menjangkau
wilayah-wilayah tersebut (Faqih, 2014: 4).
Terbatasnya infrastruktur, sarana dan prasarana, termasuk sarana
transportasi dan komunikasi yang terjadi di wilayah kepulauan menjadi satu
persoalan tersendiri yang dihadapi oleh wilayah yang memiliki kekayaan alam
(natural resources) sekalipun. Seperti yang terjadi di wilayah Kepulauan Riau.
Menurut Sutaryo, dkk, di wilayah Kepulauan Riau minimnya sarana dan prasarana
transportasi serta lainnya menyebabkan aksesibilitas di wilayah ini menjadi minim,
dan rendah bahkan cenderung terisolasi dari daerah lain yang berada di sekitarnya
(Sutaryo, et al., 2015: 111).
Salah satu daerah di Kepulauan Riau yang merasakan betul dampak dari
minimnya sarana transportasi adalah Kepulauan Anambas. Transportasi laut dengan
kapal, hanya dioperasikan pada saat cuaca sedang bersahabat dan laut tenang. Hal
tersebut berdampak kepada aksesibilitas terhadap potensi wisata bahari di Anambas
menjadi rendah dan minim. Sehingga sektor pariwisata tidak dapat mendorong
peningkatan kesejahteraan warga dan mengurangi kemiskinan (Suryana, 2018: 86).
Hal tersebut juga dihadapi oleh Kabupaten Sumenep yang memiliki wilayah
kepulauan yang cukup luas, bahkan paling luas di antara kabupaten lain di Propinsi
Jawa Timur. Meski sudah terbilang lebih maju dari pada daerah lain di Indonesia
yang juga memiliki wilayah laut dan kepulauan, wilayah kepulauan Kabupaten
Sumenep memerlukan kajian mendalam dalam kebijakan pengelolaan sumber daya
maritim yang ada.
Bappenas Working Papers
Vol I No. 2 - Okt 2018 210
Mohammad Hidayaturrahman
Sekadar menyebut contoh, dipisahkannya kelautan dengan perikanan
pada dinas terkait, berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintah Daerah dan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 36
Tahun 2016 tentang Organisasi Kementrian dan Kelautan Republik Indonesia
menjadi satu hal. Hal lain adalah sengketa pengelolaan dan pendapatan sumber
daya alam minyak dan gas (migas), antara Kabupaten Sumenep dengan Provinsi
Jawa Timur dalam pendapatan dana bagi hasil (DBH) migas (Bisri, 28 Maret 2013).
Sementara itu, pada sisi pengelolaan transportasi laut di wilayah
Kabupaten Sumenep sudah cukup memadai. Kapal yang dioperasikan oleh PT
Pelni, BUMD dan pihak swasta serta per seorangan bisa berjalan tanpa ada
persoalan berarti di lapangan. Ketersediaan armada kapal sudah cukup. Yang
menjadi keinginan warga kepulauan adalah masing-masing kapal beroperasi
melayani pulau-pulau yang bisa tersambung dengan kota-kota besar yang terdekat
dengan kota kecamatan di kepulauan. Dengan begitu, banyaknya kapal yang ada
wilayah kepulauan Sumenep, Jawa Timur bisa menguatkan potensi ekonomi
masyarakat pulau, termasuk menjadikan distribusi kebutuhan pokok menjadi
lebih lancar, dengan jarak pendek akan lebih murah, dan mempercepat perjalanan
komoditas perikanan dari wilayah kepulauan ke kota-kota besar terdekat.
Sehingga, cita-cita pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko
Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk membangun sektor kemaritiman akan
berjalan sesuai dengan harapan dan cita-cita bersama. Indonesia yang merupakan
salah satu negara maritim yang besar dan kuat, juga mampu meningkatkan
kesejahteraan warga, dan mengurangi kemiskinan.
II. Kajian Teori
Teori mengenai aksesibilitas untuk wilayah kepulauan menjadi satu pi-
lihan yang dianggap cukup mewakili untuk memotret realitas sosial pembangu-
nan. Menurut Sosilawati, dkk untuk wilayah kepulauan, terlebih lagi bagi wilayah
Indonesia yang berada di garis terluar, yang sebagian besar di antaranya memiliki
sumber daya alam (natural resources), untuk menunjang kegiatan perekonomian,
diperlukan aksesibilitas yang menghubungkan pulau dengan kota induk, atau kota
lain yang berdekatan dengan pulau-pulau tersebut (Sosilawati, et al., 2017: 127).
Menurut Simmonds (2001), aksesibilitas dapat disebut sebagai hubungan
kedekatan suatu tempat dengan tempat lain, atau suatu daerah dengan daerah lain,
Bappenas Working Papers
211 Vol I No. 2 - Okt 2018
Mohammad Hidayaturrahman
atau suatu wilayah dengan wilayah lain yang ditandai dengan adanya kemudahan
untuk mencapai tujuan dari lokasi asal (Junita, 2016: 2).
Sementara itu, Hurst (1974) mengatakan bahwa aksesibilitas merupakan
ukuran dari kemudahan yang terkait dengan sejumlah hal yaitu, waktu, biaya dalam
melakukan perpindahan (mobilitas) yang dilakukan oleh orang dari satu tempat ke
tempat lain, termasuk juga kawasan dan wilayah dalam sebuah sistem (Magribi &
Suhardjo, 2004: 151).
Bagi Pike (2004), aksesibilitas lebih sering digunakan untuk menggam-
barkan bagaimana biaya transportasi di suatu daerah, wilayah, kawasan dan lokasi
yang sering atau jarang dikunjungi. Semakin sering suatu daerah dikunjungi, maka
semakin murah biayanya, namun sebaliknya, semakin jarang suatu daerah dikun-
jungi, biasanya biaya yang dibutuhkan akan lebih mahal (Wahdiniwaty, 2011: 201).
Litman (2016) menyebut aksesibilitas sebagai alat untuk mengukur potensi
saat orang melakukan suatu perjalanan. Selain itu, aksesibilitas juga digunakan
untuk menghitung jumlah perjalanan itu sendiri. Ukuran tersebut dapat digunakan
untuk menggabungkan sebaran geografis tata guna lahan dengan kualitas sistem
jaringan transportasi yang menghubungkannya. Dengan demikian, menurut
Litman, aksesibilitas dapat digunakan untuk melihat kemudahan untuk mencapai
suatu tempat (Kuswati & Herawati, 2017: 55).
Pada tataran konsep, aksesibilitas mencakup sejumlah unsur yang
terangkum dalam sejumlah kata yaitu mobilitas/perpindahan, wilayah, kemudahan,
transportasi, waktu dan hubungan. Sehingga jika dapat disebut bahwa aksesibilitas
terwujud jika mobilitas orang pada satu wilayah dengan sangat mudah dilakukan
dengan transportasi yang ada, dengan waktu yang lebih efektif dan efesien, sehingga
satu wilayah dengan wilayah lain saling terkait, tersambung dan memiliki hubungan
yang dapat memudahkan masing-masing orang di wilayah tersebut untuk memenuhi
kebutuhan hidup.
II. Metode
Metode penelian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, yang
secara khusus mengkaji potensi ekonomi yang ada di wilayah kepulauan Kabupaten
Sumenep, Jawa Timur. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan langsung
(observasi) ke berbagai wilayah kepulauan. Selain observasi, pengumpulan data juga
dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam (indepth interview) dengan
Bappenas Working Papers
Vol I No. 2 - Okt 2018 212
Mohammad Hidayaturrahman
beberapa informan yang terkait langsung dengan persoalan yang sedang diteliti.
Nara sumber yang diwawancarai cukup beragam, mulai dari pihak pemerintah,
tokoh masyarakat, pelaku usaha, dan kelompok lain yang mengetahui persoalan
yang ditanyakan. Data yang diperoleh kemudian ditambah dengan data yang ada di
dinas terkait, maupun berbagai literatur daring maupun luring. Secara keseluruhan
penelitian ini cukup komprehensif untuk memotret fenonema di wilayah kepulauan
Sumenep, Jawa Timur.
IV. Hasil dan Pembahasan
Secara geografis, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur merupakan wilayah
yang terdiri dari daratan dan kepulauan. Di antara empat kabupaten yang ada di
Pulau Madura, Kabupaten Sumenep memiliki wilayah yang paling luas. Luasnya
wilayah Kabupaten Sumenep disebabkan oleh wilayah lautan yang terbentang,
hingga berbatasan dengan beberapa propinsi lain di Indonesia. Di ujung timur
wilayah Kabupaten Sumenep ada Pulau Sakala, Kecamatan Sapeken yang berbatasan
dengan wilayah Sulawesi Selatan. Di ujung utara ada Pulau Karamian, Kecamatan
Masalembu. Posisi Pulau Karamian berbatasan dengan wilayah Kalimantan Selatan.
Jarak Pulau Karamian ke Kalimantan Selatan lebih dekat daripada jarak ke Kota
Sumenep. Satu lagi wilayah Kabupaten Sumenep yang berbatasan dengan propinsi
lain, yaitu Pulau Sepanjang, Kecamatan Sapeken. Pulau Sepanjang lebih dekat ke
Propinsi Bali daripada ke Kota Sumenep. Luas wilayah Kabupaten Sumenep jauh
melampaui wilayah tiga kabupaten lain di Madura seperti Kabupaten Pamekasan,
Sampang dan Bangkalan. Bahkan jika ketiga kabupaten tersebut digabungkan, luas
wilayahnya tidak akan mengalahkan wilayah Kabupaten Sumenep, terutama karena
adanya wilayah kepulauan yang terbentang dari Karamian, Sakala, hingga Sepanjang.
Jumlah pulau yang ada di Kabupaten Sumenep sebanyak 126 pulau,
baik pulau kecil maupun besar, yang berpenduduk maupun yang tidak berpen-
duduk. Pulau-pulau tersebut tersebar secara luas di sembilan kecamatan yang
masuk wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Pulau terdekat adalah Pu-
lau Poteran, yang masuk wilayah Kecamatan Talango, dan yang terjauh ada-
lah Pulau Karamian yang masuk wilayah Kecamatan Masalembu. Sembilan
kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Sumenep, yaitu Talango, Gili-
genting, Nonggunong, Gayam, Raas, Masalembu, Arjasa, Kangayan, Sapeken.
Bappenas Working Papers
213 Vol I No. 2 - Okt 2018
Mohammad Hidayaturrahman
4.1. Sumber Daya Alam Migas
Wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep, Jawa Timur memiliki potensi
kekayaan alam yang cukup besar. Salah satu potensi kekayaan alam yang saat ini
telah dimanfaatkan adalah minyak dan gas (migas). Seluruh perusahaan migas yang
saat ini berproduksi, merupakan perusahaan yang berlokasi di wilayah kepulauan
Sumenep, baik yang berada di lepas pantai (offshore) maupun yang berada di daratan
(onshore). Gas tersebut dialirkan ke perusahaan dan pusat industri di Sidoarjo,
Surabaya dan Gresik, Jawa Timur (Kahir, 2018).
Dari tiga perusahaan migas yang telah berproduksi atau akan berproduksi
dalam waktu dekat ini yang berada di wilayah kepulauan, masing-masing adalah
Kangean Energy Indonesia (KEI) yang berada di Pulau Pagerungan, Kecamatan Sa-
peken, Kabupaten Sumenep, telah berproduksi sejak tahun 1993 lalu. Sejak 2012 lalu
KEI juga telah berproduksi di sumur baru yang berada di wilayah perairan Pulau
Komirian, Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep yang dikenal dengan sumur Terang
Sirasun Batur (TSB). Selain itu, ada pula PT Santos yang berproduksi di Blok Maleo,
yang merupakan wilayah perairan Pulau Gili Raja, Kecamatan Gili Genting, Kabu-
paten Sumenep, berproduksi sejak 2007. Terakhir, Husky CNOOC Madura Limited
(HCML) mengelola Blok MDA-MBH yang berada sekitar 10 KM di sebelah sela-
tan perairan Sepudi dan Raas, Kabupaten Sumenep, akan berproduksi pada 2019.
4.2. Potensi Perikanan Melimpah
Wilayah kepulauan Sumenep, Jawa Timur memiliki potensi kekayaan per-
ikanan laut yang cukup besar. Hal ini memungkinkan karena Kabupaten Sumenep
memiliki wilayah laut dan perairan yang paling luas di Jawa Timur. Wilayah laut dan
perairan Kabupaten Sumenep di sebelah utara berbatasan dengan Kalimantan Sela-
tan, sementara sebelah timur berbatasan dengan Sulawesi Selatan dan sebelah selatan
berbatasan dengan Bali. Wilayah laut dan perairan Kabupaten Sumenep memiliki
potensi perikanan yang luar biasa banyak. Tak heran jika banyak nelayan dari luar Su-
menep, di Madura, seperti Pamekasan, dan dari Jawa Timur seperti Lamongan serta
Pati, Jawa Tengah yang datang ke wilayah kepulauan Sumenep untuk menangkap ikan.
Potensi perikanan yang berada di wilayah laut di kepulauan Kabupaten
Sumenep, Jawa Timur seperti ikan tongkol, tengiri dan layang, yang bisa didapatkan
oleh nelayan sepanjang tahun. Selain ikan tersebut, terdapat sejumlah jenis ikan yang
bernilai ekonomi tinggi, seperti kerapu dan lobster yang diekspor ke luar negeri
Bappenas Working Papers
Vol I No. 2 - Okt 2018 214
Mohammad Hidayaturrahman
melalui Bali (Wawang, 2018).
Selain ikan, Kabupaten Sumenep juga memiliki potensi rumput laut
yang luar biasa besar. Bahkan, Kabupaten Sumenep memiliki wilayah yang
masuk Minapolitan dengan komoditas keunggulan, yaitu rumput laut. Potensi
rumput laut di wilayah Kabupaten Sumenep tersebar di sejumlah kecamatan,
yaitu Kecamatan Sapeken, Kangayan, Arjasa, Saronggi, Bluto, Giligenting, Raas,
Talango dan Batu Putih. Luas lahan yang selama ini dijadikan budidaya rumput
laut 243 ribu hektar, dengan hasil produksi 549 ribu ton rumput laut basah
dan 91 ribu ton rumput laut kering per tahun (Kominfo Jatim, 8 Maret 2013).
4.3. Sapi Sepudi Berlayar Hingga Kalimantan
Wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep, khususnya Pulau Sepudi yang terdiri
dari dua kecamatan, yaitu Kecamatan Gayam dan Nonggunong memiliki potensi
peternakan sapi dengan ras asli Madura di Jawa Timur. Meski tidak ada data pasti yang
menunjukkan berapa jumlah populasi sapi di Pulau Sepudi, namun dapat ditemukan
secara langsung, setiap rumah atau keluarga di Pulau Sepudi pasti memiliki peternakan
sapi. Sedikitnya, setiap keluarga memiliki dua ekor sapi yang dipelihara di dalam
kandang khusus yang berada di bagian belakang rumah, terpisah dari rumah pemiliknya.
Sapi yang dimiliki oleh peternak sapi di Pulau Sepudi setiap harinya dikirim
ke sejumlah wilayah di Indonesia dengan menggunakan perahu tradisional. Wilayah
yang menjadi sasaran distribusi sapi-sapi dari Pulau Sepudi adalah wilayah Kaliman-
tan, dikirim melalui Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pengiriman sapi dari Pulau
Sepudi ke Banjarmasin sudah berlangsung sejak lama dan turun-temurun, bahkan
jauh sebelum perahu menggunakan mesin motor, saat hanya menggunakan layar.
Selain ke Kalimantan, sapi dari Sepudi juga dikirim ke berbagai wilayah di
Jawa. Pintu masuk distribusi sapi Sepudi ke Pulau Jawa adalah Pelabuhan Kalbut,
Situbondo. Dari titik tersebut, sapi-sapi asal Sepudi kemudian didistribusikan ke
berbagai wilayah di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jakarta. Sapi yang
berasal dari Pulau Sepudi diangkut menggunakan perahu motor tradisional. Para
pedagang sapi yang mengirim sapi ke Situbondo memiliki kebiasaan unik, yaitu
menceburkan sapi ke laut, untuk kemudian digiring ke daratan dengan selamat,
tanpa tenggelam. Sapi dari Pulau Sepudi setiap dua kali dalam satu pekan dikirim
ke Pulau Madura, melalui Pelabuhan Dungkek, Sumenep. Dua hari tersebut ber-
samaan dengan pasaran sapi yang berlangsung setiap hari Senin dan Kamis. Dulu
Bappenas Working Papers
215 Vol I No. 2 - Okt 2018
Mohammad Hidayaturrahman
pasaran sapi di Sumenep dipusatkan di Pasar Bangkal, kemudian dipindah Bluto.
Besar harapan warga Pulau Sepudi, terutama para peternak sapi yang ada
di Pulau Sepudi, bahwa tol laut yang selama ini mengangkut sapi dari wilayah Nusa
Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) ke Jakarta, bisa singgah
ke Pulau Sepudi untuk juga mengangkut sapi-sapi yang ada di Pulau Sepudi dan
dibawa ke Jakarta. Dengan begitu, nilai ekonomi sapi yang ada di Pulau Sepudi
akan menjadi tinggi, sebab jarak distribusi dan penjualan terbilang pendek, dari
peternak langsung kemudian dibawa ke Jakarta. Hal ini juga akan berdampak
pada murahnya harga daging sapi di Jakarta dan kota-kota besar, sebab sapi
yang dijual jaraknya lebih dekat daripada dari NTB dan NTT (Rasyidi, 2018).
4.4. Wisata Bahari, Surga Tersembunyi di Ujung Madura
Wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep memiliki potensi wisata yang luar
biasa menggiurkan. Potensi wisata tersebut terdiri dari pulau, pesisir pantai dan
keindahan bawah laut yang memiliki terumbu karang dan spesies ikan hias yang
menarik. Bahkan terdapat beberapa jenis ikan langka seperti napoleon ada di wilayah
kepulauan Sapeken dan Kangayan. Malah ada wisata kesehatan, yang berada di Pulau
Giliiyang, yang selama ini dikenal memiliki kandungan oksigen yang cukup tinggi.
Adapun wisata pantai yang paling terkenal di wilayah kepulauan Kabupaten
Sumenep adalah di Pulau Gililabak, Kecamatan Talango dan Pantai 9 yang berada
di Pulau Giligenting. Keberadaan wisata bahari di Pulau Giliiyang, Gililabak dan
Giligenting menjadi semakin ramai dikunjungi warga dari berbagai wilayah di
Indonesia, setelah adanya penerbangan komersil dari Bandara Juanda Surabaya ke
Bandara Trunojoyo Sumenep setiap hari, dengan menggunakan pesawat Wings Air
yang berkapasitas 70 penumpang (Sustono, 2018).
Wisatawan yang datang berkunjung ke lokasi wisata, di Kabupaten Sumenep
yang terus bertambah. Menurut Sufiyanto, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan,
Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sumenep jumlah wisatawan yang datang ke
Kabupaten Sumenep setiap tahun meningkat. Pada tahun 2016 misalnya, jumlah
wisatawan yang datang sekira 854 ribu orang. Jumlah tersebut meningkat pada
tahun 2017 menjadi satu juta lebih. Dan pada tahun 2018, hingga April saja sudah
mencapai 371 ribu orang (Sufiyanto, 2018).
Bappenas Working Papers
Vol I No. 2 - Okt 2018 216
Mohammad Hidayaturrahman
4.5. Tantangan Jejaring Transportasi
Bagi wilayah kepulauan, transportasi udara dan laut menjadi satu keniscayaan
sebagai sarana untuk menyambungkan pulau-pulau yang ada di satu wilayah, juga
untuk menyambungkan pulau-pulau yang ada dengan wilayah lain yang merupakan
bagi jaringan perekonomian dan mobilitas penduduk. Ketersediaan sarana transpor-
tasi udara dan laut menjadi kunci utama tersambungnya (conectivity) penduduk pu-
lau yang satu dengan yang lain, juga dengan daerah kota di luar pulau-pulau tersebut.
Sarana transportasi di wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep, Jawa Timur
yang saat eksis adalah transportasi laut. Transportasi laut yang tersedia cukup
beragam, mulai dari milik per orangan, perusahaan swasta maupun milik Badan
Usaha Milik Daerah (BUMD) maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu
Pelni. Namun di antara sarana transportasi laut yang beroperasi, lebih banyak dimiliki
oleh pihak per orangan (swasta), terutama trasnportasi yang menyambungkan
pulau-pulau yang ada di satu wilayah kecamatan, maupun antar kecamatan
yang ada di wilayah kepulauan. Transportasi yang disediakan oleh perorangan
tersebut biasa digunakan untuk mengangkut orang dan barang-barang kebutuhan
pokok, dari wilayah kota kecamatan ke pulau-pulau di sekitar kota kecamatan.
Seperti yang terjadi di wilayah kepulauan Sapeken, Kecamatan Sapeken,
Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Di daerah tersebut, setiap hari puluhan perahu
dan kapal motor (KM) yang terbuat dari kayu pergi dan pulang dari pulau-pulau
yang ada di 11 desa di Kecamatan Sapeken. Warga yang diangkut oleh perahu dan
kapal motor dari berbagai pulau tersebut datang ke Pulau Sapeken untuk belanja
berbagai keperluan hidup maupun menjual hasil laut yang diperoleh. Setiap pagi,
puluhan perahu dan kapal motor yang mengangkut warga dari berbagai pulau
bersandar di dermaga Pulau Sapeken. Pada siang hari perahu dan kapal motor
tersebut kembali ke pulau masing-masing. Dari saking padatnya perahu dan
kapal motor yang bersandar, di Pulau Sapeken disediakan dua dermaga besar,
supaya bisa menampung seluruh perahu dan kapal motor yang sandar setiap hari.
Hal yang sama juga terjadi di wilayah kepulauan Kecamatan Giligenting,
Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Setiap hari ada sekitar ada 20 perahu yang
beroperasi untuk mengangkut warga dari dan menuju ke Pulau Giligenting dari
dan menuju Kota Sumenep, dengan jarak tempuh sekira satu jam perjalanan laut.
Sama seperti di Kecamatan Sapeken, perahu dan kapal motor yang digunakan
untuk mengangkut orang maupun barang merupakan milik per orangan (swasta).
Bappenas Working Papers
217 Vol I No. 2 - Okt 2018
Mohammad Hidayaturrahman
Hanya saja, kapal motor yang digunakan untuk mengangkut orang dan barang di
Kecamatan Giligenting, berukuran lebih besar dari yang ada di wilayah kepulauan
Sapeken. Begitu pula dengan operasional kapal motor di wilayah Giligenting berbeda
dengan yang di wilayah Sapeken. Operasional kapal berlangsung sepanjang hari, dari
pagi hingga sore hari.
Kondisi transportasi di kecamatan lain yang berada di wilayah kepu-
lauan Kabupaten Sumenep, hampir sama dengan apa yang terjadi di Kecamatan
Sapeken dan Kecamatan Giligenting, yang berbeda hanya di Kecamatan Raas dan
Kecamatan Malasembu. Dua kecamatan di wilayah kepulauan tersebut dilayani oleh
kapal mesin penyeberangan (KMP) milik perusahaan swasta dan tol laut.
Wilayah Kecamatan Raas, dilayani oleh dua unit kapal milik perusahaan
Dharma Lautan Utama (DLU) yang menyambungkan wilayah kepulauan Raas
dengan Kabupaten Sumenep, Madura dan Situbondo, Jawa Timur. Dua unit kapal
milik DLU secara rutin mengangkut penumpang dan barang dari Raas, Sumenep
dan Situbondo, sepekan dua kali pergi dan pulang. Tidak hanya sampai di
Situbondo, dua kapal ini sangat membantu mobilitas warga Raas yang bekerja dan
membuka usaha di Pulau Bali. Melalui kapal tersebut warga dari kepulauan Raas
pergi dan pulang dari Pulau Bali melalui Pelabuhan Jangkar, Situbondo, Jawa Timur.
Sedangkan warga yang berada di kepulauan Masalembu dilayani oleh
dua unit kapal perintis Sabuk Nusantara yang sekaligus berfungsi sebagai tol laut.
Dengan kapal perintis Sabuk Nusantara warga yang berada di kepulauan Masalembu
tersambung dengan Kota Surabaya dan Kota Sumenep. Rute pelayaran Sabuk
Nusantara yang singgah di Masalembu bisa dari Surabaya, Masalembu dan Sumenep,
bisa juga sebaliknya dari Sumenep, Masalembu dan ke Surabaya.
Lebih lengkap transportasinya lautnya adalah kepulauan Kangean dan
kepulauan Sapeken. Pulau Kangean sebagai pulau terbesar yang berada di wilayah
Kabupaten Sumenep memiliki dua kecamatan Arjasa dan Kangayan yang terdiri
dari 28 desa. Transportasi menuju dan dari Pulau Kangean terbilang banyak. Hampir
setiap hari kapal ada yang berlayar ke Pulau Kangean dari Pelabuhan Kalianget,
Sumenep, Madura. Kapal yang melayani angkutan barang dan penumpang menuju
Pulau Kangean terdiri dari Sumekar Line, perusahaan milik Pemerintah Kabupaten
Sumenep yang berlayar sepekan tiga kali, setiap Selasa, Jumat dan Minggu. Selain
kapal Sumekar Line, kapal lain yang melayani angkutan ke Pulau Kangean adalah
kapal cepat Bahari Ekspres, milik perusahaan swasta yang berkantor pusat di
Bappenas Working Papers
Vol I No. 2 - Okt 2018 218
Mohammad Hidayaturrahman
Palembang, Sumatera Selatan. Kapal cepat ini secara khusus mengangkut penumpang
dari Pelabuhan Kalianget ke Pulau Kangean tiga kali dalam satu pekan, yaitu setiap
hari Senin, Kamis dan Sabtu.
Selain dua kapal tadi, kepulauan Kangean juga dilayani oleh Kapal Perintis
Sabuk Nusantara, termasuk Kapal Perintis Caterine, yang biasa mengangkut
penumpang dan barang dari dan menuju kepulauan Kangean. Selain kapal-kapal
tersebut, untuk kepulauan Kangean terdapat beberapa kapal motor kayu berukuran
besar yang biasanya mengangkut barang-barang kebutuhan bahan bangunan seperti
semen, besi dan lain-lain yang diangkut dari Kalianget ke Pulau Kangean. Hal ini
untuk mengurangi beban angkutan barang, terutama bahan bangunan dari kapal
yang juga mengangkut penumpang.
Kepulauan lain yang juga tersambung dengan kota-kota di Madura, Bali
dan Jawa adalah kepulauan Sapeken. Kapal yang melayani angkutan Sapeken
adalah Kapal Perintis Sabuk Nusantara, Caterine, dan Kapal Sumekar. Kapal-kapal
tersebut melayani angkutan penumpang dan barang dari dan menuju Sapeken ke
Sumenep, Madura. Selain itu juga ke Banyuwangi, Jawa Timur dan Bali. Selain
kapal tersebut, untuk angkutan barang dari Sapeken, terutama hasil perikanan
biasanya dibawa ke Pulau Bali melalui Pelabuhan Singaraja Bali menggunakan
kapal motor kayu milik para pengusaha ikan yang berada di Pulau Sapeken.
Sejauh ini, wilayah kepulauan yang tidak dilayani oleh kapal milik BUMD
maupun BUMN adalah Pulau Sepudi. Angkutan penumpang dan barang dari dan
menuju Pulau Sepudi yang terdiri dari dua kecamatan, yaitu Kecamatan Gayam dan
Nonggunong hanya dilayani oleh satu kapal milik Dharma Lautan Utama (DLU),
sisanya adalah kapal motor kayu berukuran besar milik per orangan, yang biasanya
sandar di Pelabuhan Kalianget dan Pelabuhan Dungkek serta Pelabuhan Kalbut di
Situbondo.
Padahal potensi peternakan sapi di Pulau Sepudi cukup besar. Sebab Sepudi
merupakan wilayah penghasil sapi asli terbesar di Jawa Timur. Selama ini sapi-sapi
yang ada Pulau Sepudi, dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia, yaitu Sumenep,
Madura melalui pelabuhan Dungkek, ke Jawa melalui Pelabuhan Kalbut, Situbondo,
dan ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sapi-sapi tersebut setiap hari diangkut ke
wilayah-wilayah tersebut menggunakan perahu motor kayu oleh para pengepul sapi
dari Pulau Sepudi.
Bappenas Working Papers
219 Vol I No. 2 - Okt 2018
Mohammad Hidayaturrahman
Potensi peternakan sapi di Pulau Sepudi akan lebih besar dampaknya
terhadap perekonomian peternak setempat jika tol laut yang secara khusus
mengangkut ternak dari wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara
Timur (NTT) ke Jakarta, juga secara rutin singgah di Pulau Sepudi. Dari
sisi pelabuhan, Pelabuhan Sepudi sangat siap untuk disinggahi kapal-kapal
berukuran besar, sebab beberapa tahun lalu di Sepudi baru saja selesai dibangun
sebuah dermaga berukuran besar yang menggunakan APBD Jawa Timur.
Salah satu persoalan yang perlu diperbaiki adalah rute pelayaran Kapal
Perintis Sabuk Nusantara yang juga menjadi tol laut. Sejauh ini kapal-kapal perintis
yang beroperasi jalur dan rutenya cukup jauh. Sehingga untuk melayani satu daerah
kepulauan juga jaraknya cukup lama. Rata-rata untuk setiap kepulauan, seperti
Kepulauan Sapeken dilayani oleh kapal perintis setiap 10 hari sekali. Hal tersebut
kurang membantu kebutuhan mobilitas barang dan orang dari dan menuju kota-
kota besar di Jawa dan Madura. Jalur yang selama ini menghubungkan pulau-pulau
di dalam wilayah Kabupaten Sumenep tidak meningkatkan mobilitas perekonomian
warga, sebab tidak ada komoditas yang diangkut oleh kapal tersebut dari satu pulau ke
pulau lain. Seperti misalnya dari Masalembu ke Kangean dan Sapeken (Sahril, 2018).
Sebagai catatan, dari sejumlah kapal yang beroperasi di wilayah kepulauan
Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, meskinya rute pelayaran tidak perlu jauh dan pan-
jang. Rute yang jauh dan panjang juga menyebabkan operasional kapal seperti bahan
bakar minyak (BBM) cukup tinggi, jika rutenya diperpendek akan mengurangi be-
ban operasional, dan mesin kapal lebih awet sebab ada banyak waktu istirahat saat
bersandar di dermaga.
Untuk meningkatkan daya ungkit (leverage) terhadap perekonomian warga
kepulauan yang perlu dilakukan adalah penataan ulang (rearrangement) rute kapal
yang selama ini telah berjalan. Jika dihitung, ada empat kapal perintis yang selama
ini melayani angkutan penumpang dan barang di wilayah kepulauan Kabupaten Su-
menep. Kapal-kapal tersebut adalah Kapal Perintis Sabuk Nusantara 27, Kapal Per-
intis Maumere, Kapal Perintis Caterine, dan Kapal Perintis Sabuk Nusantara 56. Dua
kapal yang ada yaitu Sabuk Nusantara 27 dan 56 rutin beroperasi di jalur Surabaya,
Masalembu, Kalianget, Kangean, Sapeken dan Banyuwangi. Sedangkan dua lainnya,
yaitu Caterine dan Maumere melayani hingga Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dua kapal Sabuk Nusantara yang secara khusus beroperasi di wilayah Ka-
bupaten Sumenep difokuskan untuk melayani angkutan penduduk dan barang.
Bappenas Working Papers
Vol I No. 2 - Okt 2018 220
Mohammad Hidayaturrahman
Misalnya, Sabuk Nusantara 27 dikhususnya untuk melayani angkutan penumpang
dan barang dari Masalembu ke Surabaya. Maka dalam satu pekan, warga di kepu-
lauan Masalembu akan dilayani oleh tiga kali kapal yang akan mengangkut barang
dan penumpang dari Masalembu ke Surabaya dan sebaliknya. Hal ini akan mem-
beri kepastian jadwal kapal yang berangkat dari dan ke Pulau Masalembu-Suraba-
ya. Maka orang di Pulau Masalembu atau orang yang di Surabaya akan terbiasa,
atau terpola merancang kepergian dengan kapal yang ada (Darul Hasyim, 2018).
Jauh lebih penting dari itu, kepastian adanya kapal tiga kali dalam satu
pekan akan membuat warga berusaha menyesuaikan untuk mengumpulkan
barang-barang hasil laut yang akan dijual ke Surabaya. Dengan begitu geliat
ekonomi warga kepulauan Masalembu akan lebih terasa. Sebab tidak hanya
akan membawa barang untuk dijual ke Surabaya, sebaliknya mereka akan lebih
mudah untuk berbelanja barang kebutuhan untuk dijual kembali di Masalembu.
Begitu pula dengan warga di kepulauan Sapeken yang selama ini dilayani
kapal dalam hitungan sepekan sekali, jika Sabuk Nusantara 56 dikhususkan
untuk melayani angkutan penumpang dan barang dari Sapeken ke Banyuwangi,
maka dalam satu pekan warga bisa dilayani hingga tiga kali. Arus barang hasil
laut yang akan dijual ke Jawa melalui Banyuwangi dari Sapeken akan semakin
banyak, pedagang ikan akan mengalihkan angkutan barangnya dari perahu motor
kayu ke kapal perintis, sebab biaya angkutnya lebih murah (Musfirah, 2018).
Dampaknya, arus barang yang dijual dari luar pulau-pulau tersebut ke kota-
kota besar akan semakin sering. Begitu pula sebaliknya, barang-barang kebutuhan
makanan, bangunan dan keperluan hidup lain yang berasal dari kota-kota di Jawa
dan Madura akan semakin banyak dan sering dikirim ke pulau-pulau tersebut.
Secara ekonomi ini berdampak positif.
Jika hal tersebut terwujud, akan ada tiga asas yang terpenuhi di dalam
pelayanan pelayaran bagi warga kepulauan, yaitu asas kepastian jadwal keberangkatan
(certainty), setiap hari apa saja kapal akan berangkat dan datang. Berikutnya
adalah asas penghematan operasional kapal (efesiensi). Dan terakhir adalah asas
pemeliharan dan perawatan mesin kapal lebih terjamin.
4.6. Kebutuhan Transportasi Udara
Besarnya jumlah penduduk di kepulauan Kangean dan sekitarnya yang terdiri
dari tiga kecamatan, yaitu Arjasa, Kangayan dan Sapeken kurang lebih sekira 120 ribu
Bappenas Working Papers
221 Vol I No. 2 - Okt 2018
Mohammad Hidayaturrahman
jiwa menjadi satu potensi tersendiri yang dapat meningkatkan perekonomian daerah.
Di tiga kecamatan tersebut, pusat usaha dan bisnis terkonsentrasi di Arjasa dan Sa-
peken. Pulau Kangean merupakan pulau yang paling besar dan paling luas di antara
gugusan kepulauan yang berada di wilayah Kabupaten Sumenep (Nurwahyudi, 2018).
Selain memiliki potensi demografi yang memadai, warga kepulauan Kan-
gean juga memiliki mobilitas yang cukup tinggi. Sehingga kebutuhan transportasi
yang selama ini hanya dilayani dengan jalur laut dinilai kurang memadai. Hal terse-
but disampaikan oleh Saifuddin, tokoh masyarakat kepulauan Kangean. Menurut
Saifuddin, warga di kepulauan Kangean hampir 20 persen bekerja di luar pulau,
sebagian ada yang di kota-kota besar di Indonesia, seperti Banjarmasin, Kaliman-
tan Selatan, dan Jakarta. Sedangkan sebagian lagi menjadi tenaga kerja Indonesia
di luar negeri, seperti Malaysia, Singapura dan Arab Saudi (Safrudin, 2018). Jum-
lah tersebut akan lebih besar jika dihitung dengan para mahasiswa dan pelajar yang
menuntut ilmu di kota-kota di Jawa seperti Surabaya, Malang dan Yogyakarta.
Transportasi laut yang selama ini dilayani oleh dua kapal yaitu Dharma
Bakti Sumekar dan Bahari Ekspres selalu dipadati penumpang dari dan menuju
kepulauan Kangean-Sumenep, meski masing-masing kapal beroperasi setiap
dua hari sekali. Artinya setiap hari ada kapal yang beroperasi melayani angkutan
penumpang dan barang dari Pelabuhan Kalianget Sumenep ke kepulauan
Kangean, kecuali hari Rabu. Belum lagi kapal perintis yang dioperasikan
oleh Pelni yang sekaligus sebagai tol laut. Jika ada satu kapal yang tidak
beroperasi karena ada kerusakan atau perbaikan (docking) bisa dipastikan,
kapal yang berangkat sehari setelahnya akan semakin penuh (Rahman, 2018).
Daya beli masyarakat kepulauan Kangean relatif tinggi. Hal ini bisa
dilihat dari rumah-rumah warga Pulau Kangean yang cukup bagus. Bentuk,
ukuran dan bahan bangunan yang digunakan juga sama dengan rumah-rumah di
Pulau Jawa. Begitu pula dengan tarif kapal laut yang selama ini digunakan, tetap
terjangkau. Bahkan, kapal cepat dengan harga tiket Rp 250 ribu tetap dibeli oleh
warga Pulau Kangean. Hal ini menunjukkan bahwa warga kepulauan Kangean
sangat siap dan berpotensi untuk dilayani transportasi udara (Hasyim, 2018).
V. Penutup
Ketersambungan (connectivity) dan aksesibilitas menjadi kata kunci,
sekaligus syarat bagi kemajuan dan perkembangan daerah kepulauan yang memiliki
Bappenas Working Papers
Vol I No. 2 - Okt 2018 222
Mohammad Hidayaturrahman
potensi kemaritiman yang luar biasa besar. Ketersambungan (connectivity) dan
akses yang dimaksud adalah, ketersambungan antara wilayah kepulauan tersebut
dengan kota-kota besar yang lokasinya berdekatan. Bagi wilayah kepulauan yang
berada di dalam pemerintahan Kabupaten Sumenep, Jawa Timur ketersambungan
yang diharapkan adalah ketersambungan dengan kota-kota besar seperti Bali,
Jawa dan Madura. Ketersambungan bisa melalui jalur laut yang memiliki jarak
tempuh semakin pendek dan lebih sering, maupun ketersambungan melalui jalur
udara. Dengan begitu, arus mobilitas barang dan warga akan semakin tinggi, dan
selanjutnya akan memicu percepatan pertumbuhan perekonomian warga kepulauan
yang memiliki potensi perikanan dan kelautan yang luar biasa besar (big fish, is big
economic potensial).
Sembari menunggu ketersambungan lewat udara, langkah pemerintah
pusat melalui Kementerian Perhubungan, Direktorat Jenderal Hubungan Lalu
Lintas Laut, Pemerintah Propinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Kabupaten Sumenep
dengan menambah armada kapal angkutan penumpang dan barang di wilayah
Kabupaten Sumenep dengan Kapal Sabuk Nusantara 115 yang sudah beroperasi
sejak Idul Fitri tahun 2018, dan kapal Sumekar yang sedang dalam proses
pembuatan oleh PT Adi Luhung di Surabaya, perlu diapresiasi. Sebab akan semakin
membuat mobilitas barang dan manusia di wilayah kepulauan semakin tinggi.
Keberadaan pihak swasta yang bergerak di bidang transportasi perlu
semakin dibuka, dengan begitu akan semakin memperkuat ketersambungan
(connectivity) wilayah kepulauan. Misalnya Kapal Bahari Ekspres yang selama ini
hanya melayani rute Sumenep-Kangean, diharapkan akan membuka rute baru
dalam melayani angkutan penumpang, misalnya rute pendek, Sumenep-Sepudi
yang selama ini masih dilayani oleh kapal motor kayu khusus angkutan penumpang.
Selain itu, perusahaan minyak dan gas (migas) yang telah beroperasi di
wilayah kepulauan Sumenep perlu dimaksimalkan keberadaannya. Salah satunya
dengan menambahkan fasilitas angkutan untuk penumpang, bagi kapal-kapal
yang selama ini hanya mengangkut logistik perusahaan. Kapal-kapal tersebut juga
mengangkut penumpang ke wilayah kepulauan yang terdekat dengan tempat kegiatan
eksplorasi maupun produksi perusahaan, tentu saja dengan memodifikasi fasilitas di
atas kapal, sehingga layak untuk mengangkut penumpang. Sebagai contoh, upaya PT
Kangean Energy Indonesia (KEI) yang meminjamkan lapangan terbangnya untuk
keperluan penerbangan umum sangat positif.
Bappenas Working Papers
223 Vol I No. 2 - Okt 2018
Mohammad Hidayaturrahman
Referensi
Bisri, M (2013, 28 Maret). Sumenep Dapat Dana Bagi Hasil Migas Blok Maleo.
Dikutip dari [Link].
Ern. (2013, 8 Maret). Sumenep Miliki Potensi Kelautan Berkualitas. Dikutip dari
[Link].
Faqih, A. (2014). Prospek Pengembangan Potensi Sumberdaya Kelautan Madura
Kepulauan. Malang: Universitas Brawijaya Press (UB Press).
Hidayaturrahman, M. (2017). Sumber Daya Alam Migas dan Ancaman Kutukan
Bagi Warga Madura. Artikel Seminar Internasional Islamic Research Forum
(IIRF) IAIN Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 27-28 Nopember 2017.
Junita, N, et al. (2017). Analisis Aksesibilitas Infrastruktur Pedesaan di Kota
Singkawang Provinsi Kalimantan Barat. Dikutip dari [Link]
Kuswati, A & Herawati. (2017). Connectivity of Antarmoda Transportation In
Tulungagung District. Jurnal Transportasi Multimoda, 15 (01), (55).
Magribi, L & Suhardjo, A. (2004). Aksesibilitas dan Pengaruhnya Terhadap
Pembangunan di Perdesaan: Konsep Model Sustainable Accessibility Pada
Kawasan Perdesaan di Propinsi Sulawesi Tenggara. Jurnal Transportasi, 4 (2),
(151).
Sosilawati, et al. (2017). Sinkronikasi Program dan Pembiayaan Pembangunan
Jangka Pendek 2018-2020, Keterpaduan Pengembangan Kawasan Dengan
Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat: Pulau Bali dan
Kepulauan Nusa Tenggara. Jakarta: Pusat Pemograman dan Evaluasi
Keterpaduan Infrastruktur PUPR, Badan Pengembangan Infrastruktur
Wilayah, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
Sutaryo, et al. (2015). Membangun Kedaulatan Bangsa Berdasarkan Nilai-Nilai
Pancasila: Pemberdayaan Masyarakat Dalam Kawasan Terluar, Terdepan, dan
Tertinggal (3T). Yogyakarta: Pusat Studi Pancasila, Universitas Gadjah Mada.
Suryana, A, ed. (2018). Pembangunan Daerah Kepulauan: Studi Kasus Provinsi
Kepulauan Riau dan Provinsi Maluku Utara. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor
Indonesia. -------------- BPS Sumenep. (2017). Kabupaten Sumenep Dalam
Angka. Sumenep: BPS.
Wahdiniwaty, R. (2011). Aksesibilitas Wisata Pada Kota Metropolitan di Negara
Berkembang (Suatu Survey di Wilayah Bandung Raya). Majalah Ilmiah
UNIKOM, 11 (2), (201).
Wawancara
Hasyim. (2018, 7 Juni). Mahasiswa asal kepulauan Kangean.
Hasyim, Darul. (2018, 5 Juni). Anggota DPRD Sumenep asal Masalembu.
Kahir, Abd. (2018, 6 Juni). Kabag ESDM Sekda Kabupaten Sumenep.
Musfirah. 2018, 10 Juni). Pengusaha ikan beku dan kering Sapeken.
Nurwahyudi, Yayak. (2018, 6 Juni). Kepala Bappeda Kabupaten Sumenep.
Rahman. (2018, 10 Juni). Warga Pulau Kangean di rumahnya.
Rasyidi, Hambali. (2018, 1 Juni). Tokoh masyarakat Pulau Sepudi.
Bappenas Working Papers
Vol I No. 2 - Okt 2018 224
Mohammad Hidayaturrahman
Safrudin. (2018, 4 Juni). Ketua Komunitas Warga Kepulauan (KWK).
Sahril. (2018, 5 Juni) Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Wiraraja.
Sufiyanto. (2018, 7 Juni). Kadis Parbudpora Kabupaten Sumenep.
Sustono. (2018, 7 Juni). Kadis Perhubungan Kabupaten Sumenep.
Wawang. (2018, 3 Juni). Pengusaha ikan kerapu kepulauan Sapeken
Bappenas Working Papers
225 Vol I No. 2 - Okt 2018
View publication stats