KETAATAN HUKUM KEPALA DESA TERHADAP REGULASI DESA
(Studi di Kecamatan Telaga Biru Kabupaten Gorontalo)
Salahudin Pakaya
Dosen Universitas Muhammadiyah Gorontalo
Email : yadhikhlas@[Link]
Suslianto
Dosen Universitas Muhammadiyah Gorontalo
Email : suslianto51@[Link]
Abstract
In general the village head has to obey the existing village regulation, only sometimes
they experienced pain points in the operational technical things, so to anticipate,
village head consulting directly by confidently to local government especially on the
dinas/technical agency dealing with the village government administration in this
namely Dinas Community Empowerment Unit Gorontalo Regency. Consultation is
effective steps to avoid the understanding of the regulation, so that protected also
from kekelirua and error making policy decisions or in managing the village
government [Link] obedience of the village head to the rule because it was
influenced by fears will be given the penalty for both the sanction administrative
nature such as the reduction and/or temporary suspension of financial rights until the
dismissal sanction with not distinguished from the office, especially if get the criminal
sanction. In the sub-district Blue Pools there are already 2 (two) officials village
heads who were dismissed because doing immoral, this has become the commitment
of Gorontalo Regency Government that breach immoral is disgraceful act which is
also a breach of the customs that are not necessarily done by the village head as the
main figure indigenous peoples in the village as a citizen.
Keyword : The obedience, Village Head, Village Rule
A. PENDAHULUAN
Tahun 2014 merupakan momentum startegis bagi pemberdayaan desa dengan
lahirnya UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa. Kelahiran undang-undang ini disambut
baik oleh masyarakat dan aparat pemerintahan desa yang selama ini mendesak
78
pemerintah pusat untuk segera menetapkan UU Desa. Hal ini dibuktikan dengan
gerakan unjuk rasa kepala desa yang tergabung dalam Persatuan Rakyat Desa
Nusantara atau Parade Nusantara di depan gedung DPR RI pada tanggal 5 Desember
2011 yang selanjutnya aksi unjuk rasa ini dilakukan kembali di depan Istana Negara
pada tanggal 12 Desember 2011(Debora Sanur L. : 2011). Aksi unjuk rasa menuntut
agar lembaga legislatif (DPR) dan eksekutif (Presiden) untuk mempercepat
pembahasan dan pengesahan UU tentang Desa.
Usia UU Desa saat sudah lebih dari dua tahun sejak ditetapkannya, tentu
dengan waktu ini sudah sangat cukup bagi masyarakat khususnya aparat desa untuk
memahami apa isi daripada UU tersebut. Apalagi sejak diundangkannya, pemerintah
pusat maupun daerah sangat gencar melakukan penyebaran informasi UU Desa baik
dalam bentuk sosialisasi tatap muka (seminar, diskusi dan workshop) maupun bentuk
penyebaran informasi melalui perangkat media sosial.
Sebagai sebuah undang-undang, UU Desa ini masih bersifat umum sehingga
memerlukan pengaturan operasional yang disusun dalam bentuk peraturan dibawah
undang-undang, yakni peraturan pemerintah, peraturan presiden, peraturan menteri,
peraturan daerah bahkan sampai dengan peraturan desa. Seperangkat peraturan ini
yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Regulasi Desa.
Pemahaman regulasi desa diharapkan dapat melahirkan sikap kepala desa yang
sadar dan taat terhadap norma dan/atau aturan hukum. Hal ini sangat penting karena
kepala desa merupakan tokoh sentral di desa, yang seharusnya lebih awal dan utama
mengetahui dan memahami kebijakan pemerintah pusat dan/atau daerah yang
dituangkan dalam bentuk peraturan-peraturan (baca: regulasi). Pemerintah pusat
dan/atau daerah dalam membuat regulasi desa tentunya bertujuan untuk jalannya
pemerintahan dan program pembangunan desa sesuai arah dan tujuan pembangunan
nasional. Dengan demikian, sudah merupakan keharusan bagi kepala desa untuk
memahami regulasi desa, karena dia adalah agen pembangunan nasional sebagaimana
dalam jabatannya melekat tugas, kewenangan, hak dan kewajiban.
79
Dalam rangka penyikapi lahirnya UU Desa, pemerintah daerah (Provinsi dan
Kabupaten) di Gorontalo telah melakukan tahapan sosialisasi dan pelatihan bagi para
kepala desa terkait dengan peningkatan pemahaman regulasi desa. Upaya pemerintah
daerah ini tentunya diharapkan dapat memberikan dampak yang konkrit bagi
pembentukan sikap dan perilaku taat hukum bagi kepala desa sehingga
menghindarkan mereka dari perbuatan melawan hukum.
Upaya peningkatan pemahaman kepala desa terhadap materi regulasi desa
menjadi suatu keharusan bagi pemerintah pusat dan/atau daerah, karena ditangan
kepala desa telah diserahkan amanah (tugas dan kewenangan) desa, yang pada
gilirannya harus dapat pertanggungjawabkan, apalagi dengan adanya UU Desa yang
telah mengamanatkan pengalokasian anggaran pembangunan desa bersumber dari
Anggaran Pedapatan dan Belanja Negara (APBN). Selama ini dalam konteks otonomi
daerah dana APBN hanya terkonsentrasi pada kabupaten/kota saja, sedangkan untuk
desa mendapatkan pembagian dana dari kabupaten/kota sangat minim. Hasil Survey
Potensi Desa yang dilakukana oleh Badan Pusat Statistik (BPS, 2011) rata-rata desa
hanya mengelola anggaran 254 juta.1 Sekarang dana untuk desa diperkirakan dapat
mencapai 1 Miliyar per desa bahkan bisa lebih dari jumlah tersebut.
Kepala desa sebagai aktor utama pemerintahan desa perlu dikawal dan diawasi
dengan norma-norma peraturan agar mereka tidak terjerat pada pelanggaran hukum
akibat dari tidak paham dan tidak taatnya pada peraturan desa, utamanya aturan
mengenai penggunaan dana desa. Dana desa tidak hanya bersumber dari APBN saja,
selain itu ada juga dana yang memang selama ini diperoleh desa dari Anggaran
Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi dan Kabupaten. Hal ini
menggambarkan betapa pemerintah desa mendapatkan kepercayaan pemerintah
pusat dan daerah dalam mengelola dana yang jumlahnya besar, tetapi sekaligus
kepercayaan ini menjadi beban yang tidak ringan bagi kepala desa dan aparatnya
dalam mempertanggungjawabkan keuangan negara.
1
Ni’matul Huda, Hukum Pemerintahan Desa Dalam Konstitusi Indonesia Sejak Kemerdekaan
Hingga Era Reformasi, Setara Press, Malang : 2015, Hlm 13
80
Begitupula dalam pengelolaan aset desa, yang merupakan perbendahraan atau
kekayaan desa yang diperoleh sejak desa itu terbentuk. Aset desa baik dalam bentuk
tanah dan bangunan, kendaraan, perlengkapan kantor seperti kursi, meja dan
peralatan komputer yang dibeli dari keuangan desa harus terkelola dan terpelihara
dengan baik dan benar. Pada umumnya aset desa ini tidak terpelihara bahkan tidak
tercatat, sehingga bisa saja gampang hilang, rusak dan setiap tahunnya desa akan
selalu mengganggarkan pengadaan barang tersebut. Hal ini mungkin saja belum
disadari bahwa aset desa itu sebagai barang milik negara yang seharusnya
terdokumentasi.
B. PEMBAHASAN
1. Ketaatan Kepala Desa terhadap Regulasi Desa
Pada umumnya kepala desa sudah mentaati regulasi desa yang ada, hanya
terkadang mereka mengalami kendala dalam hal teknis operasionalnya,
sehingga untuk mengantisipasi ini, kepala desa melakukan konsultasi langsung
secara intens ke pemerintah daerah khususnya pada dinas/badan teknis yang
menangani pemerintahan desa dalam hal ini yaitu Dinas PMD Kabupaten
Gorontalo.
Aturan teknis yang seringkali dikonsultasikan oleh kepala desa lebih
banyak mengenai pengelolaan keuangan desa, baik perencanaan, penggunaan
dan pelaporan keuangan desa. Hal ini tentu merupakan dampak dari kebijakan
pemerintah pusat yang memberikan anggaran melalui dana desa yang
berjumlah cukup besar rata-rata mencapai 700 juta rupiah. Sikap kepala desa
yang begitu serius menanggapi regulasi keuangan desa ini adalah prinsip
kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan negara dan tidak ingin terjerat
dalam masalah hukum akibat kesalahan dalam penggunaan keuangan desa.
Rusdi Ahmad, Kepala Desa Tinelo dalam keterangannya bahwa bagi
kepala desa sudah menjadi suatu keharusan untuk memahami regulasi yang
terkait dengan pengelolaan program pemerintah desa. Pemahaman regulasi
sangat membantu mengarahkan kepala desa untuk tetap konsisten pada
81
orientasi program, sebab hampir semua yang dibutuhkan masyarakat sudah
terakomodir dalam regulasi. Jika ada kebutuhan masyarakat yang mendesak
tetapi belum secara konkrit diatur dalam regulasi, maka kepala desa harus dapat
mencari solusi atas kebutuhan ini dengan melakukan kebijakan yang tetap
mengacu pada substansi regulasi yang ada.
Kebijakan kepala desa yang sifatnya mengisi kekosongan aturan,
menafsirkan teks aturan bahkan bisa jadi penyimpangan dari aturan yang ada,
tetap merujuk pada petunjuk dan arahan dari pemerintah daerah. Sebab
pemerintah desa belum sepenuhnya memiliki otonomi yang dapat menentukan
sendiri arah dan kebijakan pembangunannya tanpa mengacu pada arah
kebijakan pemerintah kabupaten. Dengan demikian kepala desa ketika
mengambil kebijakan yang tidak ada aturan yang melandasinya, maka tetap
meminta petunjuk resmi dari pemerintah daerah.
Mutamir Ali, Kepala Desa Pentadio Timur mengatakan bahwa
memahami regulasi desa adalah suatu kewajiban bagi kepala desa, karena
kepala desa merupakan tokoh sentral yang menjadi tempat staf pemerintah desa
untuk bertanya dan meminta petunjuk dan arahan dalam menajalankan program
pembangunan desa. Apalagi regulasi yang terkait dengan pengelolaan keuangan
desa, kepala desa sangat hati-hati dan cermat dalam memahami pasal-pasal
yang ada sehingga benar-benar keputusan pemerintah desa tidak menyimpang
dari aturan yang ada. Jika ada sejumlah pasal dan/atau ayat dalam regulasi,
maka kepala desa harus melakukan konsultasi dan koordinasi dengan
pemerintah kecamatan dan pemerintah kabupaten khususnya kepada instansi
Dinas PMD Kabupaten Gorontalo.
Konsultasi dan koordinasi kepada pemerintah kecamatan dan kabupaten
merupakan suatu cara yang paling efektif untuk menghindari pemahaman dan
penafsiran yang keliru atas regulasi yang ada, apalagi jika terdapat regulasi
yang tumpang tindih. Tumpang tindihnya antara regulasi bisa saja terjadi
karena pemerintah desa selain menggunakan peraturan yang dikeluarkan oleh
82
Kementerian Dalam Negeri RI juga menggunakan peraturan yang dikeluarkan
oleh Kementrian Desa dan PDT RI.
Sumarno Antule, Kepala Desa Tonala mengatakan bahwa tidak ada
alasan bagi kepala desa untuk tidak menjalankan regulasi desa, sebab dengan
adanya regulasi ini, pemerintah desa sangat terbantu untuk mengelola
administarsi pemerintahan, demikian juga program pebangunan desa bisa
terarah dengan baik. Terkait dengan pengelolaan keuangan desa, kepala desa
sudah pasti mengikuti petunjuk regulasi yang ada, sebab kami (kepala desa)
sangat menyadari bahwa penyimpangan sedikit saja dalam hal keuangan desa,
beresiko bagi kepala desa sebagai pejabat Kuasa Pengguna Anggaran (KPA).
Resiko itu tidak hanya resiko hukum tetapi juga resiko social karena
masyarakat di desa sudah sangat kritis dalam menyikapi anggaran desa, mereka
sudah tahu tentang dana desa yang jumlahnya besar, sehingga secara partisipatif
dan aktif mengawasi pengelolaan pemerintahan desa, apalagi dalam regulasi
diperintahkan supaya pemerintah desa mengumumkan prioritas penggunaan
dana desa dalam bentuk tertulis di papan pengumuman sehingga dapat dibaca
oleh masyarakat.
Efendi Nento (Keplada Desa Ulapato A) menyampaikan bahwa dalam
menjalankan amanah sebagai kepala desa selalu mengendepankan aspek yuridis
(aturan hukum), ketika ada suatu usulan berupa kebutuhan dan keinginan
masyarakat, maka lebih dulu dilakukan adalah melihat apakah ada landasan
yurudisnya (dasar hukumnya). Efendi mencontohkan misalnya dalam
menyikapi 4 program nasional yaitu, pembentukan BUMDes, Program
Unggulan Desa, Sarana Olah Raga Desa, dan Embung Desa, Desa Ulapato A
hanya merespon 2 hal saja dulu yang menjadi prioritas, yaitu BUMDes dan
Program Unggulan Desa. Kebijakan ini menjadi sorontan pemerintah daerah,
karena dianggap Desa Ulapato A tidak mau menjalankan kebijakan pemerintah
sepenuhnya.
83
Sikap Desa Ulapato A dalam hal ini, tidak bertentangan dengan regulasi
yang ada, karena hanya dua hal itu yang disetujui dalam penyusunan
perencanaan pembangunan desa yang dikuatkan oleh Peraturan Desa (Perdes).
Jadi meskipun pemerintah di atas menghendaki bahwa keempat program
nasional ini harus dilaksanakan, kepala desa Ulapato A tetap bisa bertahan pada
Perdes yang sudah ditetapkan Bersama BPD, sebab bagi dia itulah landasan
yuridis yang bisa dijadikan patokan dalam menjalankan program desa.
Dolfi, [Link] (Staf Bidang Penataan Desa Dinas PMD Kabupaten
Gorontalo) membenarkan sikap kepala desa yang selama ini berusaha mentaati
regulasi desa. Bahkan dalam keadaan terjadinya “benturan” regulasi desa antara
Permendagri dengan Permendes PDT, kepala desa mencari substansi regulasi
yang dapat mempertemukan dua regulasi tersebut. Salah satu contoh benturan
regulasi adalah dalam hal penggunaan anggaran desa, satu sisi Peremendagri
telah mengatur tata cara pengelolaan keuangan desa, sedangkan disisi lain
dalam Permendes PDT mengatur tentang prioritas penggunaan dana desa.
Pasal 13 ayat (1)Permendagri No. 113 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan
Keuangan Desa, mengatur belanja desa yang diklasifikasi dalam kelompok
belanja desa, yakni, a) penyelenggaraan pemerintahan desa, b) pelaksanaan
pembangunan desa, c) pembinaan kemasyarakatan desa, d) pemberdayaan
masyarakat desa, dan e) belanja tak terduga. Sementara itu dalam pasal 4 ayat
(1) Permendes PDT No. 22 Tahun 2016 Tentang Prioritas Pengunaan Dana
Desa, mengatur bahwa dana desa hanya diprioritaskan pada pembangunan desa
dan pemberdayaan masyarakat desa. Jadi ada 3 (tiga) kelompok belanja desa
tidak bisa dibiayai dengan dana desa yang bersumber dari APBN. Padahal dana
APBN untuk desa ini merupakan dana APBDesa yang seharusnya bisa
mencakup seluruh belanja desa.
H. Lazanuddin (Koordinator Kabupaten Program Pembangunan dan
Pemberdayaan Masyarakat Desa – P3MD) menyampaikan bahwa ketika terjadi
benturan regulasi antara Permendagri dan Permendes PDT, maka kepala desa
84
lebih memilih menggunakan Permendagri karena BPKP (Badan Pengawas
Keuangan dan Pembangunan) dalam setiap auditnya selalu menggunakan
Permendagri yang mengatur tentang pengelolaan keuangan desa.
Ketaatan kepala desa terhadap regulasi desa di Kecamatan Telaga Biru
dapat dikatakan telah berjalan sebagaimana yang dikatakan oleh 4 (empat)
orang kepala desa di atas, tetapi ketaatan ini jika dilihat dari hasil kusioner
menunjukkan belum semua ketentuan dalam regulasi sepenuhnya sudah
dilaksanakan oleh kepala desa. Dalam hal penataan administrasi di desa,
semua kepala desa se Kecamtan Telaga Biru menjawab sudah melakukan.
Peneliti melakukan pengecekan dokumen tentang penataan administrasi di desa
untuk memastikan apakah benar yang dijawab oleh kepala desa pada kuisioner.
ADMINISTRASI PEMERINTAHAN
DESA
Administrasi Pembangunan 97,78
Administrasi Keuangan 100,00
Administrasi Penduduk
97,78
Administrasi Umum
97,78
Grafik : 1.
85
ADMINISTRASI UMUM DESA
Buku Lembaran Desa dan Buku… 62,22
Buku Ekspedisi 68,89
Buku Agenda 93,33
Buku Tanah di Desa 80,00
Buku Tanah Kas Desa 91,11
Buku Aparat Pemerintah Desa 97,78
Buku Inventaris dan Kekayaan… 100,00
Buku Keputusan Kepala Desa 100,00
Buku Peraturan Di Desa 100,00
Grafik : 2.
ADMNISTRASI DESA LAINNYA
120,00
100,00 100,00
100,00 95,56
80,00
60,00 51,11
40,00
20,00
0,00
86
Grafik : 3.
Pengecekan dokumen adalah suatu cara yang efektif untuk mengukur
terlaksananya perintah regulasi, karena dalam sejumlah regulasi desa terdapat
hal-hal yang mengatur teknis operasional yang luarannya dalah dokumen.
Untuk penataan administrasi di desa telah terlaksana dengan baik, tetapi
lain halnya dengan perintah regulasi terkait dengan dua hal yaitu
pensertipikatan tanah desa dan pendirian atau pembentukan BUMDes (Badan
Usaha Milik Desa). Kedua hal ini hampir semua kepala desa belum melakukan,
sehingga memerlukan penelusuran lebih jauh apa kendala yang dialami kepala
desa mengapa dua hal ini belum dilaksanakan.
Apakah aset desa berupa tanah sudah
bersertifikat atas nama milik desa
93,3
6,7
Tidak Belum
Grafik : 4.
Apakah B/I/S sudah mendirikan BUM Desa
73,3
26,7
Belum Sudah
87
Grafik : 5
Herman N. Buku, Sekretaris Desa Ulapato A menerangkan bahwa
kendala yang dihadapi dalam pembentukan BUM Desa adalah belum cairnya
anggaran untuk hal itu, disamping itu pemerintah desa masih melakukan kajian
yang mendalam tentang usaha apa saja yang dapat dikelola oleh BUMDesa
yang menambah pendapatan asli desa. Sementara itu Arifin Kadir Sekretaris
Desa Dumati mengatakan bahwa BUMDesa akan terlaksana dengan baik jika
didukung oleh sumber daya manusia dan alam yang baik. Masing-masing desa
memiliki potensi sumber daya yang berbeda-beda, bahkan ada desa yang sama
sekali tidak memiliki sumber daya manusia yang mampu untuk mengelola
secara professional usaha desa.
Tetapi kendala ini tidak akan menghalangi kepala desa untuk mencari
formula yang tepat dalam mengelola potensi yang ada di desa melalui
BUMDesa, apalagi pembentukan BUMDesa ini telah diamanahkan dalam UU
Desa, sehingga kepala desa merasa terbebani dan bertanggung jawab atas
perintah regulasi desa tersebut. Pemikiran untuk membangun suatu usaha desa
masih memerlukan arahan dan petunjuk pemerintah kabupaten, dan bila perlu
melakukan studi banding ke beberapa desa yang BUMDesa sudah jalan dan
dapat memberikan kontribusi pendapatan desa.
2. Faktor Dominan mempengaruhi Ketaatan Kepala Desa terhadap Regulasi
Desa
Sebagaimana dalam teori ketaatan hukum, bahwa seseorang itu mentaati
hukum disebabkan oleh tiga hal : 1) Compliance; seseorang menaati suatu
aturan,hanya karena ia takut terkena sanksi. Kelemahan ketaatan jenis ini,
karena ia membutuhkan pengawasan yang terus menerus. 2) Identification;
seseorang menaati suatu aturan, hanya karena takut hubungan baiknya dengan
pihak lain menjadi rusak, dan 3) Internalization; seseorang menaati suatu
88
aturan, benar-benar karena ia merasa bahwa aturan itu sesuai dengan nilai-nilai
intrinsik yang dianutnya.2
Sebenarnya agak sulit menannyakan langsung kepada kepala desa
mengenai motivasi dan alasan mereka mentaati regulasi desa, karena hal ini
berkaitan langsung dengan sikap dan tindakan dirinya yang bisa jadi
dikhawatirkan bisa diketahui oleh orang lain. Apalagi ketaatan itu hanya
didasari oleh keterpaksaan karena takut adanya sanksi sehingga dapat
menimbulkan suatu asumsi bahwa ketaatan ini tidak dasarkan pada kesadaran
serta penerimaan norma aturan yang sesuai dengan pikiran dan jiwa mereka.
Jamal Mile menjelaskan bahwa pada umumnya kepala desa mentaati
aturan karena dipengaruhi oleh kekhawatiran akan diberikan sanksi, baik
sanksi yang sifatnya administratif seperti pengurangan dan/atau penghentian
sementara hak-hak keuangan hingga sampai pada sanksi pemberhentian
dengan tidak terhormat dari jabatannya, apalagi jika mendapat sanksi pidana. Di
Kecamatan Telaga Biru sudah terdapat 2 (dua) orang pejabat kepala desa yang
diberhentikan karena melakukan perbuatan asusila, hal ini sudah menjadi
komitmen Pemerintah Daerah Kabupaten Gorontalo bahwa pelanggaran asusila
adalah perbuatan tercela yang juga merupakan pelanggaran adat istiadat yang
tidak semestinya dilakukan oleh kepala desa selaku tokoh utama adat di desa
sebagai panutan warga.
Chandra Tangahu dalam penjelasannya bahwa kepala desa mentaati
perintah dan/atau larangan yang termuat dalam regulasi desa karena mereka
(kepala desa) merasa khawatir jangan sampai sikapnya yang tidak patuh dan
taat pada regulasi desa berakibat pada pemberhentian dirinya dari jabatan
kepala desa. Tetapi ada juga kepala desa yang memiliki kemauan untuk belajar
sendiri agar dapat memahami dan menguasai regulasi dan petunjuk teknis
2
Achmad Ali, 2009, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicial
Prudence), Termasuk Interprestasi Undang-Undang(Legisprudence), Kencana Prenada Media Group,
Jakarta : 2009, Hlm 348
89
pengelolaan suatu program yang berhubungan dengan kebijakan pemerintah
desa.
Dalam kuisioner yang peneliti edarkan terdapat 8 (delapan) pertanyaan
yang terkait dengan factor yang mendorong sehingga kepala desa menaati
regulasi desa. 8 (delapan) pertanyaan yang diformalasikan untuk mewakili 3
(tiga) factor yang mempengaruhi ketaatan seseorang terhadap hukum, yaitu 1)
ketaatan karena takut dengan sanski, 2) ketaatan karena khawatir hubungan
dengan orang lain akan bermasalah, dan 3) ketaatan karena dalam aturan hukum
itu terdapat nilai yang sesuai dengan pikiran dan perasaannya. Dari tiga factor
ini, peneliti memfokuskan pertanyaan pada dua factor saja yakni factor kesatu
dan ketiga, karena menurut peneliti hanya factor ini yang mudah untuk diukur.
Untuk menggali factor ketaatan karena sanksi, peneliti memformulasi
pertanyaan tidak langsung menanyakan apakah mereka takut sanksi, tetapi
pertanyaannya diformulasi dalam bentuk tanggapan terhadap adanya sanksi atas
pelanggaran regulasi desa, sehingga jawabannya akan lebih obyektif. Dibawah
ini table yang menunjukkan bagaimana tanggapan kepala desa tentang adanya
sanksi jika terjadi pelanggaran.
Apakah B/I/S setuju adanya sanksi jika
terjadi pelanggaran ketentuan dalam
aturan-aturan ttg desa
93,3
6,7
Tidak Setuju Setuju
Grafik : 6
90
Menurut B/I/S apakah sanksi atas
pelaggaran terhadap aturan-aturan
tentang desa sudah sewajarnya
73,3
20,0
6,7
Tidak Belum Ya
Grafik : 7.
Tanda setuju ini memberikan indikasi bahwa pengaruh sanksi masih cukup
dominan dalam mendorong ketaatan kepala desa dalam menjalankan regulasi
desa.
Hal ini sesuai keterangan dari Efendi Nento (Kepala Desa Ulapato A)
bahwa terkadang kami (para kepala desa) harus terpaksa menjalankan regulasi
desa, meskipun hal itu belum begitu penting dan mendesak untuk dilaksanakan,
misalnya pembentukan BUMDes dan pengadaan fasilitas sarana olah raga desa
yang berbentuk lahan/lapangan tempat berolah raga. Karena biasanya pada
forum-forum pertemuan kepala desa ditingkat kecamatan dan/atau kabupaten,
diumumkan dan disebut satu persatu desa-desa yang belum membentuk
BUMDes dan belum membuat sarana olah raga desa. Padahal kata Efendi,
kepala desa Bersama-sama warga telah membiacarakan hal ini, belum menjadi
kebutuhan yang mendesak dalam menyikapi permasalahan kehidupan yang
dihadapi masyarakat, tetapi karena terus menerus didesak oleh atasan, maka
terpaksa dilaksanakan.
Disamping ketaatan karena takut adanya sanksi, peneliti mencoba
mengukur bagaimana pengaruh internalisasi nilai atau norma pertauran dalam
pikiran dan keinginan kepala desa. Indikasi menunjukkan bahwa kepala desa
dalam menaati regulasi desa karena merasa bahwa regulasi ini telah memuat
gagasan, harapan dan pendapat mereka sehingga regulasi sudah terinternalisasi
91
dalam pikiran dan tindakannya. Pada gilirannya ketaatan itu tidak karena
terpaksa dan dipaksa.
Apakah ada materi aturan yang
bertentangan atau tidak sesuai…
86,7
13,3
Tidak Ada Ada
Grafik : 8.
Apakah B/I/S pernah merasa dipaksa atau
terpaksa menjalankan aturan-aturan
tentang desa
86,7
13,3
Tidak Ya
Grafik : 9.
Selain sanksi sebagai punishment yang selalu dijadikan sebagai insturmen
atau alat yang efektif untuk memaksa ketaatan seseorang terhadap aturan,
peneliti mencoba mengajukan pertanyaan tentang reward atau penghargaan
bagi kepala desa yang memiliki kesadaran dan ketaatan terhadap regulasi desa.
Hasil kuisioner menunjukkan betapa keinginan kepala desa untuk
mengharapkan penghargaan tersebut. Semua kepala desa (100 %) menjawab
bahwa perlu pemberian hadiah atau penghargaan bagi kepala desa yang taat
menjalankan regulasi sehingga menopang kesuksesan program pembangunan di
desa. Tetapi harapan ini dalam faktanya baru 60 % yang sudah terealisasi.
92
Apakah B/I/S pernah mendapat
penghargaan dari pemerintah dalam
prestasi melaksanakan program…
60,0
40,0
Tidak Pernah Pernah
Grafik : 10.
Idealnya antara reward and punishment harus diberikan secara
berimbang kepada aparat pemerintah, karena bagaimanapun prestasi seseorang
sealayaknya memperoleh penghargaan. Jika ada kepala desa yang mendapat
sanksi (hukum dan administrative), maka ada pula kepala desa yang mestinya
mendapat penghargaan (dalam bentuk sertfikat dan/atau tambahan anggaran
dari APBN dan APBD). Penghargaan ini dapat memicu kompetisi antar kepala
desa dalam memperbaiki manajemen pemerintah yang berpijak pada regulasi
desa, sebab regulasi desa telah memuat sejumlah petunjuk teknis operasional
dalam mengelola pemerintahan desa secara baik dan benar.
Dari hasil wawancara peneliti dengan sejumlah sekretaris desa bahwa
untuk mendorong kepala desa supaya taat menjalankan regulasi desa perlu
dilakukan beberapa hal :
1. Menanamkan rasa untuk menjauhi masalah yang dapat ditimbulkan akibat
tidak mengikuti petunjuk dalam regulasi.
2. Kepala desa akan lebih semangat jika Badan Permusyawaratan Desa
(BPD) aktif dalam membantu dan mengawasi pelaksanaan program
pembangunan desa.
3. Perlu pengawasan yang terus menerus terhadap kebijakan dan keputusan
yang akan dikeluarkan oleh kepala desa.
93
C. KESIMPULAN
Bahwa kepala desa di kecamatan Telaga Biru Kabupaten Gorontalo cukup
taat dalam menjalankan regulasi desa. Hal ini tergambar dalam grafik hasil
pengecekan dokumen administrasi pemerintahan desa (lihat grafik 1, 2 dan 3). Jika
administrasi pemerintahan sudah tertata dengan baik, maka pengelolaan
pemerintahan menjadi baik dan dapat diukur capaian kinerjanya. Meskipun dalam
ketaatan penataan administarsi sudah baik, tetapi masih ada ketentuan regulasi yang
belum dilaksanakan oleh kepala desa yaitu, pensertipikatan tanah milik desa, dan
pembentukan BUMDes. Faktor yang menndorong kepala desa di Kecamatan Telaga
Biru dalam mentaati regulasi desa, masih didominasi oleh kekhwatiran dan/atau takut
mendapatkan sanksi hukum. tetapi dalam konteks ketakutan pada sanksi ini, para
kepala desa mengharapkan pula penghargaan atas ketaatan mereka dalam
menjalankan regulasi desa. Penghargaan itu dapat memberikan motivasi bagi kepala
desa bersama aparatnya dan juga masyarakat desa dalam menjalankan regulasi desa,
apalagi penghargaan itu bersifat tambahan anggaran dari pemerintah pusat dan/atau
daerah. Selain faktor sanksi, ada pula kepala desa yang mengatakan bahwa dengan
adanya regulasi ini, mereka sangat terbantu dalam mengelola pemerintahan desa.
Aturan-aturan tersebut setidaknya dapat memberikan arahan dan petunjuk bagi kepala
desa dalam membuat keputusan terkait kebijakakan pembangunan dan pemberdayaan
masyarakat desa. Meskipun bunyi pasal dalam regulasi terkadang memerlukan kajian
dan penjelasan dari pemerintah di atas, tetapi kepala desa merasa bahwa regulasi telah
menguatkan tugas dan kewenangan mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Ali. 2009. Menguak Teori Hukum (legal theory) dan Teori Peradilan
(judicial prudence) Termasuk Interpretasi Undang-Undang (legisprudence).
Prenada Media Group. Jakarta.
Debora Sanur L. Tuntutan Pengesahan RUU Desa, Jurnal INFO Singkat Politik
Dalam Negeri; ISSN: 2088-2351; [Link], No24/II/P3DI/Desember/201.
M. Iqbal Hasan. 2002 Pokok-Pokok Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Cet. I,
Ghalia Indonesia, Jakarta.
94
Ni’matul Huda, 2015. Hukum Pemerintahan Desa; Dalam Konstitusi Indonesia Sejak
Kemerdekaan Hingga Era Reformasi, Setara Press, Malang,
Philipe Nonet & Philip Selznick. 2008. Hukum Responsif. Cetakan II. Nusa Media.
Bandung.
Sabian Utsman. 2009. Dasar-Dasar Sosiologi Hukum; Makna Dialog antara Hukum
dan Masyarakat. Cetakan 1. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Satjipto Rahardjo. 2010. Penegakan Hukum Progresif. Kompas Media Nusantara.
Jakarta.
95