Evaluasi Kualitas Instrumen Zonasi Kendal
Evaluasi Kualitas Instrumen Zonasi Kendal
ABSTRACT
General Provisions for Zoning Regulations are a tool for controlling space utilization. This tool
contains general requirements for spatial use and for managng in all regency. This tool contains at least the
rules of activity and the intensity of utilization of space, minimum standards of facilities and utilities,
provisions on the use of space that were through by network system and special provisions. These minimum
prerequisites sometimes cannot fulfill, consequently this making it difficult to implement control of spatial
use. The purpose of this study is to evaluate the quality of the land use control instruments of Kendal
regency. This research uses quantitative rationalistic deductive method, with descriptive empirical technical
analysis. The results of this study indicate that the completeness of zoning regulations for spatial plan in the
Kendal Regency didnt not in accordance with the minimum standards (the provisions of the activities, the
provisions of building intensity and the minimum standard provisions for utilities and facilities were
incomplete and these dint not according to standard). Some of the influencing factors include lack of
understanding in compiling regional regulations and plurality of interests in spatial planning.
Keywords: Control, Utilization, Land, Zoning
ABSTRAK
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi merupakan satu alat pengendalian pemanfaatan Ruang. Alat ini
berisi persyaratan pemanfaatan ruang secara umum dan ketentuan pengendaliannya di seluruh wilayah
kabupaten. Alat ini minimal berisi aturan kegiatan dan intensitas pemanfaatan ruang, standart minimum
sarana-prasarana, ketentuan pemanfaatan ruang yang dilewati sistem jaringan dan ketentuan khusus.
Prasyarat minimal ini kadang tidak bisa dipenuhi, akibatnya menyulitkan dalam implementasi pengendalian
pemanfaatan ruang. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi kualitas instrumen pengendalian (Ketentuan
Umum Peraturan Zonasi) kabupaten Kendal. Penelitian ini menggunakan metode deduktif kuantitatif
rasionalistik, dengan teknis analisis desktriptif empiris. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelengkapan
peraturan zonasi dalam rencana tata ruang wilayah Kabupaten Kendal belum sesuai dengan standart
minimum (ketentuan kegiatan, ketentuan intensitas bangunan dan ketentuan standart minimal prasarana dan
sarana tidak lengkap dan tidak sesuai standart). Beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah
kekurang pahaman penyususun peraturan daerah dan kemajemukan kepentingan dalam penyusunan tata
ruang.
Kata kunci: Pengendalian, Pemanfaatan, Lahan, Zonasi
1
Jurnal Planologi Vol. 16, No. 1, April 2019
Available : [Link]
1. PENDAHULUAN
Pengendalian pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan umum poin 15 Undang-
Undang Penataan Ruang No. 26 Tahun 2007 merupakan upaya untuk mewujudkan tertib
tata ruang. Upaya pengendalian ini dilakukan dengan cara penetapan peraturan zonasi,
perizinan, pemberian insentif dan disinsentif, serta pengenaan sanksi (Pasal 35). Peraturan
zonasi ini dalam undang-undang tersebut dibagi sesuai tingkatan wilayah yang
dikendalikan. Peraturan zonasi di tingkat kabupaten sesuai dengan Pasal 26 berupa
ketentuan umum aturan zonasi. KUPZ ini merupakan ketentuan umum yang mengatur
pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang untuk setiap klasifikasi
peruntukan ruang dan ruang sekitar yang dilewati jaringan prasarana sesuai dengan RTRW
Kabupaten (Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang No. 1 Tahun 2018 tentang
Pedoman Penyusunan RTRW Provinsi, Kabupaten, dan Kota).
Peraturan zoning digunakan pertama kali di New York. Peraturan ini awalnya
hanya berisi aturan ketinggian bangunan dan jarak antara bangunan dengan jalan di
sebelahnya (Enni Lindia Mayona, dkk, 2009). Saat ini, peraturan zonasi di Amerika
merupakan piranti atau alat dalam perencanaan dan pengendalian pemanfaatan lahan yang
sangat ketat (Merriam, 2005). Peraturan zonasi tersebut juga dapat membatasi jenis dan
lokasi dari struktur. Peraturan ini terberlaku sama di setiap kabupaten, tetapi dapat
bervariasi dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya. Peraturan-peraturan ini sering
mengontrol: lokasi bangunan, tinggi, lebar, kepejalan, jenis pondasi bangunan, jumlah dan
ukuran bangunan dan struktur lainnya, persentase ruang yang ditempati (koefisien dasar
bangunan), ukuran halaman depan dan ruang terbuka lainnya, kepadatan dan distribusi
populasi, konservasi lahan dan air, konservasi lahan pantai, pencahayaan/akses sinar
matahari serta kontrol banjir (Leageu of Minnesota Citie, 2017).
Sementara peraturan zonasi untuk kawasan lindung/konservasi berisi kriteria
perlindungan sumber daya berbasis tujuan (fisik dan biologis) dan di kawasan
pengembangan berisi arahan pengembangan yang tepat, yang akhirnya mengarah pada
pembuatan rencana untuk setiap zona (Farzam Hasti1at all, 2016). Zonasi tersebut
merupakan bagian utama dari prinsip-prinsip perencanaan, yang sekarang dianggap
sebagai alat paling penting untuk pengelolaan di kawasan lindung (Walther, 1986; Sabtini
et al, 2007). Peraturan zonasi sebagai dasar pengendalian pemanfaatan ruang harus
berlandaskan penetapan zonasi yang tepat. Penetapan zonasi adalah kegiatan pembagian
lingkungan kota ke dalam zona-zona atau kawasan fungsional dan menetapkan aturan
pengendalian pemanfaatan ruang atau ketentuan hukum yang berbeda-beda di tiap zona
(Barnett, 1982).
Tujuan utama penetapan aturan zonasi adalah untuk menjamin pembangunan yang
akan dilakukan dapat mencapai standart kualitas minimum lokal (kesehatan, keamanan,
dan kesejahteraan), pembangunan baru tidak mengganggu pemanfaat atau pengguna ruang
yang telah ada, pemeliharaan nilai properti, pemeliharaan lingkungan dan penetapan nilai
kualitasnya, serta untuk penyediaan aturan yang seragam di setiap zonasi (Zulkaidi dan
Natalivan, 2008)
Fungsi ketentuan umum aturan zonasi ini dalam pengendalian pemanfaatan sesuai
dengan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang No. 1 Tahun 2018 adalah sebagai dasar
pertimbangan untuk pengawasan penataan ruang, penyeragaman ketentuan di peruntukan
zona yang sama; penyusunan peraturan zonasi rencana rinci dan pengendalian pemanfaatan
ruang di setiap zona kabupaten dan sebagai dasar pemberian izin pemanfaatan ruang.
Peraturan zonasi sebagai dasar pengendalian pemanfaatan lahan melalui
pengawasan dan perizinan harus memiliki dasar penetapan yang jelas. Kondisi ini
menuntut KUPZ memiliki kejelasan dasar dalam pengaturan/ketentuan hukum di tiap zona.
Prasyarat pengendalian pemanfaatan ruang bisa dengan baik (efektif dan efisien) menurut
Zulkaidi dan Natalivan (2008) adalah produk rencana harus baik dan berkualitas dan
didukungan adanya informasi yang akurat terhadap praktek-praktek pengendalian
pemanfaatan ruang.
Standart kualitas yang baik untuk menyusun KUPZ yang berlaku Indonesia secara
umum adalah mengikuti tandart minimal bidang pentaan ruang khususnya Pedoman Teknis
Penyusunan KUPZ di Tingkat Kabupaten (Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang No.
1 Tahun 2018 tentang Pedoman Penyusunan RTRW Provinsi, Kabupaten dan Kota atau
yang sebelumnya Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 16 Tahun 2009). Jika standart
ini tidak terpenuhi, akibatnya produk aturan tidak bisa diimplementasikan dengan baik dan
sebagai akibatnya pengendalian pemanfaatan ruang juga tidak bisa dilaksanakan.
Indikasi dari kegagalan implementasi produk pengendalian ini adalah adanya
pelanggaran pemanfaatan ruang yang ditunjukkan dengan adanya simpangan pemanfaatan
ruang. Di Kabupaten Kendal luasan simpangan penggunaan lahan ini cukup besar. Di
Daerah Aliran Sungai (DAS) Blorong Kabupaten Kendal di kawasan lindungnya, sebagian
berubah menjadi kawasan budidaya seluas 555,87 Ha, di DAS Bodri seluas 638,99 Ha dan
di DAS Lampir seluas 70, 40 Ha (Hasil Kajian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui
Studi Pengendalian Pemanfaatan Ruang tahun 2017). Data simpangan untuk RTRW
Kendal secara umum juga menunjukkan simpangan lahan cukup besar. Simpangan lahan
permukiman 1646, 39 Ha, simpangan lahan untuk industri 255,56 Ha, simpangan lahan
perkebunan 286,1 Ha dan lahan sawah 97,15 Ha atau total seluas 2284,2 Ha (Laporan
Peninjauan Kembali RTRW Kabupaten Kendal, 2016).
Gambar 1. Peta Simpangan Pemanfaatan Lahan Terhadap Rencana Pola Ruang Kab. Kendal.
Sumber: Laporan Peninjauan Kembali RTRW Kabupaten Kendal, 2016
2. METODOLOGI
Tujuan penelitian ini dari latar permasalahan diatas adalah untuk menemukan
kualitas kelengkapan instrumen pengendalian pemanfaatan ruang (KUPZ) dalam
RTRW Kabupaten Kendal. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan dedukatif
kualitatif rasionalistik kengan teknis analisis komparasi antara kondisi empiris KUPZ
dalam Peraturan Daerah RTRW Kabupaten Kendal dengan Pedoman Penyusunan KUPZ
dalam Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang No. 1 Tahun 2018. Tahapan yang
dilakukan peneliti, dalam kajian ini pertama adalah mengidentifikasikan standart minimum
ketentuan KUPZ dalam peraturan. Kedua memilih pasal-pasal yang memuat aturan zonasi
dalam Peraturan Daerah Kabupaten Kendal. Ketiga menganalisis kelengkapan aturan
kegiatan, aturan intensitas bangunan dan kelengkapan standart pelayanan minimum.
Keempat memberikan kesimpulan dan saran. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi
masukan bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Kendal yang saat ini sedang melakukan
revisi RTRW agar KUPZ RTRW menjadi lebih berkualitas dan dapat dijadikan acuan
untuk pengendalian pemanfaatan ruang di Kabupaten Kendal.
2) Pada setiap kawasan peruntukan di ruang darat, laut, udara, dan dalam bumi;
3) Intensitas pemanfaatan ruang pada setiap zona/peruntukan minimal meliputi:
a) koefisien dasar hijau;
b) koefisien dasar bangunan;
c) koefisien lantai bangunan;
d) garis sempadan bangunan.
4) Sarana dan prasarana minimum sebagai dasar fisik lingkungan untuk mendukung
pengembangan kawasan;
5) Ketentuan lain yang dibutuhkan misalnya, pemanfaatan ruang pada zona-zona yang
dilewati oleh sistem jaringan sarana dan prasarana wilayah kabupaten mengikuti
ketentuan perundang-undangan yang berlaku;
Guna melihat kelengkapan KUPZ dalam RTRW Kabupaten Kendal, Peneliti
menggunakan parameter 1), 2) 3) dan 4). Hasil yang didapat dengan mengkomparasikan
kondisi fakta empiris KUPZ dengan standart minimal di atas secara lengkap dapat dilihat
pada tabel 1, 2 dan 3.
A. Kelengkapan ketentuan kegiatan (pada tabel 1), menunjukkan bahwa:
1) Dari total 9 pasal yang mengatur kegiatan pemanfaatan ruang di sekitar sistem
jaringan terlihat bahwa:
a. semua pasal mencantumkan aturan diperbolehkan (100%);
b. semua pasal tidak mengatur ketentuan bersyarat (0%), dan
c. 7 pasal yang mengatur ketentuan tidak diperbolehkan (70%).
2) Dari total 10 poin pada 5 Pasal dan ayat yang mengatur kawasan lindung,
menunjukkan:
a. keseluruhan pasal mencantumkan aturan dizinkan;
b. 1 pasal mencantumkan aturan bersyarat;
c. keseluruhan pasal mencantumkan kegiatan yang tidak diizinkan.
3) Dari total 10 aturan (dalam 10 Pasal), yang mengatur peruntukan kawasan budidaya
menunjukkan:
a. 9 pasal sudah mencantumkan ketentuan kegiatan yang diperbolehkan;
b. 2 pasal mencantumkan ketentuan besyarat dan
c. 7 pasal mencantumkan ketentuan kegiatan tidak diizinkan
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Boleh/diizinkan Boleh Bersyarat Tidak Boleh Boleh/diizinkan Boleh Bersyarat Tidak Boleh
Ketentuan kegiatan Ketentuan kegiatan
61 62 63 64 64 65 66 67 68 70 71 72 72 72 72 73 73 73 74 75
Aturan Kegiatan di Ruang yang Dilewati Sistem Aturan Kegiatan di Kawasan Lindung
Jaringan
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Boleh/diizinkan Boleh Bersyarat Tidak Boleh
Ketentuan kegiatan
77 78 79 80 81 82 83 84 85 86
KL Sempa-
No Pasal Tentang KDB KDH Keterangan
B dan
0 0 3 3
B2 Kawasan Budidaya
1 77 Hutan Produksi 0 0 0 0 Keterangan ketentuan
2 78 Hutan Rakyat 0 0 0 0 intensitas ruang dikawasan
3 79 Pertahian 0 0 0 0 budidaya penekanan sudah
4 80 Perkebunan 0 0 0 0 sesuai di permukiman dan
industri, hanya di
5 81 Perikanan 0 0 0 0 budidaya lain perlu juga
6 82 Pertambangan 0 0 0 0 dipertimbangkan
7 83 Kawasan Peruntukan Industri 1 0 1 0 khususnya di
8 84 Pariwisata 0 0 0 0 pertambangan, pariwisata.
9 85 Permukiman 1 0 1 0
10 86 Pesisir dan laut 0 0 0 0
2 0 2 0
Sumber: Hasil Analisis, 2019
Keterangan Tabel: 1 ada, 0 tidak ada
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
00
00
000
00
0
00
00
00
00
00
00
00
00
0
00
000
00
KDB KLB KDH Sempadan KDB KLB KDH Sempadan
61 62 63 64 64 65 66 67 68
70 71 72 72 72 72 73 73 73 74 75
Aturan Intensitas di Ruang Dilewati Sisem Jaringan Aturan Intensitas Ruang di Kawasan Lindung
1
1
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
KDB KLB KDH SEMPADAN
77 78 79 80 81 82 83 84 85 86
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
PRASARANA SARANA PRASARANA SARANA
61 62 63 64 64 65 66 67 68 70 71 72 72 72 72 73 73 73 74 75
Aturan Standart Minimal Prasarana dan Sarana di Aturan Standart Minimal Prasarana dan Sarana
Ruang Dilewati Sisem Jaringan Ruang di Kawasan Lindung
1
1
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
77 78 79 80 81 82 83 84 85 86
Aturan Aturan Standart Minimal Prasarana dan Sarana Ruang di Kawasan Budidaya
Gambar 4. Grafik Kelengkapan Standart Minimal Prasarana dan Sarana
Sumber: Tabel 3, 2016
ketentuan intensitas bangunan dan ketentuan standart minimal penyediaan sarana dan
prasarana. Pada ketentuan kegiatan bersyarat, aturan yang memuat ketentuan bersyarat
hanya 12,5%. Aturan bersyarat yang sudah ada inipun belum tentu menjelaskan syaratnya
apa yang harus dipenuhi dalam izin pemanfaatan ruang. Pada ketentuan intensitas, jumlah
aturan yang megatur koefisien bangunan 0,083%, mengatur koefisien lantai bangunan 0%,
dan mengatur koefisien dasar hijau 25% Sebagai akibatnya ketika mengajukan izin
pemanfaatan ruang yang kemudian mengarah ke izin mendirikan bangunan, rambu-rambu
pengaturan intensitas bangunan tidak ada sementara Rencana Detail Tata Ruang juga
belum siap digunakan sebagai acuan perizinan. Pada aturan standart minimal sarana-
prasarana, 75% aturan sudah mencatumkan spasyarat prasarana dan 25% sudah mengatur
sarana. Pada kasus perizinan pembangunan perumahan ataupun industri serta
pembangunan kegiatan budidaya lainnya, fasilitas yang seharsnya ditangung atau
disediakan oleh pengembang akan luput.
Beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya kualitas produk dari alat
pengendalian (KUPZ) di RTRW Kabupaten Kendal ini diantaranya adalahlah:
a. Stake holder kurang paham terhadap perkembangan peraturan perundangan dan
pedoman penyusunan;
b. Penyusuan tidak pahaman terhadap tata cara peyusunan KUPZ RTRW;
c. Stake holder (Pemohon Izin Dan Pemberi Izin) tidak tahu/pura-pura tidak tahu
terhadap fungsi KUPZ RTRW;
d. Adanya Kepentingan Lain Yang Lebih Berorientasi Pada Keuntungan Ekonomi
Jangka Pendek Atau Politik (5 Tahunan).
Beberapa poin penting yang ditemukan peneliti dari hasil kajian di atas adalah:
1) Kelengkapan materi aturan kegiatan pemanfaatan ruang mengatur kegiatan yang
diperbolehkan, diperbolehkan bersyarat dan tidak boleh pada ruang yang dilewati
sistem jaringan, dan pada rencana pola ruang secara keseluruhan tidak lengkap,
terutama untuk aturan bersyarat (aturan tidak ada dan syarat juga tidak ada);
2) Kelengkapan materi intensitas bangunan sangat minim di ruang yang dilewati
sistem jaringan dan di pola ruang hanya ada di kawasan permukiman dan industri,
sementara ketentuan minimal untuk KDH dan sempadan lebih banyak diatur di
linsung setempat (sempadan) dan jaringan jalan;
3) Kelengkapan standart pelayanan minimal di beberapa pasal sudah ada hanya tidak
sesuai dengan standart pelayanan yang dimaksud dalam KUPZ.
5. DAFTAR PUSTAKA
Barnett, J. (1982). An Introduction to Urban Design. Harper & Row. New York
Denny Zulkaidi danPetrus Natalivan (2008). Pengendalian Pemanfaatan Ruang. Pelatihan
Penyusunan Peraturan Zonasi Ahli Teknik Zonasi I. Badan Pembinaan Konstruksi
Dan Sumber Daya Manusia Departemen Pekerjaan Umum. Semarang.
Hasti, F., Rouhi, H,. Khodakarami, I., & Mahiny, A. S., (2016). Zoning the protected area
of Shahoo/Kosalan using RS and GIS. Journal of Environmental Science, Toxicology
and Food Technolog. 10 (8), 74-81.
Leageu of Minnesota Citie (2017). Information Memo Zoning Guide For Cities League Of
Minasota City. University Ave West Saint Paul, MN 55103-2044 [Link]
7/6/2017 (diakses pada 13/02/2019: 10.18)
Mayona, E. L., Urufi, Z., & Ridwandoni (2009). Pengaturan Zonasi Penggunaan Lahan Di
Kawasan Tepian Das Kahayan (Studi Kasus: Kelurahan Pahandut Kota Palangka
Raya) Seminarnasional Implikasi UU Penataan Ruang No. 26 Tahun 2007 Terhadap
Konsep Pengembangan Kota Dan Wilayah Berwawasan Lingkungan Universitas
Brawijaya Malang, 29 April 2009, Hal: 92-104. [Link]
content/uploads /2012/04/01.-Pengaturan-Zonasi-Penggunaan-Lahan-di-Kawasan-
[Link] (diakses 28/03/2019: 07.43)
Merriam, Dwight H. (2005). The Complete Guide To Zoning. McGraw-Hill New York.
Sabatini, M. D. C., Verdiell, A., Iglesias, R. M. R., & Vidal, M. (2007). A quantitative
method for zoning of protected areas and itsspatial ecological implications. Journal of
Environmental Management, 83, 198–206.
Walther, P. (1986). The meaning of zoning in the management of natural resource lands.
Journal of Environmental Management, 22 (1), 331–344.
Dinas PSDA dan Taru (2017). Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Khusus
(kasan Daerah Aliran Sungai) di Provinsi Jawa Tengah.
DPU TARU (2017). Laporan Akhir Kegiatan Monitoring, evaluasi dan pelaporan
Peninjauan Kembali RTRW Kabupaten Kendal.
Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1
Tahun 2018 Tentang Pedoman Penyususan RTRW Provinsi, Kabupaten dan Kota
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang