0% found this document useful (0 votes)
11 views6 pages

Konseling Kontrasepsi untuk Wanita Subur

This document summarizes a study on contraceptive counseling for women of childbearing age in Mangkang Public Health Center, Semarang, Indonesia. The study found that: 1) Most participants were aged 21-30, had incomes above the minimum wage, education up to high school, and recently had a child. 2) The majority (86.7%) used non-permanent contraceptives like injections. 3) Participants felt counseling by health staff was generally good. However, the study found no significant relationship between contraceptive selection and counseling for women of childbearing age. Improving counseling quality could help acceptors choose methods better.

Uploaded by

Norma Yanti
Copyright
© All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
11 views6 pages

Konseling Kontrasepsi untuk Wanita Subur

This document summarizes a study on contraceptive counseling for women of childbearing age in Mangkang Public Health Center, Semarang, Indonesia. The study found that: 1) Most participants were aged 21-30, had incomes above the minimum wage, education up to high school, and recently had a child. 2) The majority (86.7%) used non-permanent contraceptives like injections. 3) Participants felt counseling by health staff was generally good. However, the study found no significant relationship between contraceptive selection and counseling for women of childbearing age. Improving counseling quality could help acceptors choose methods better.

Uploaded by

Norma Yanti
Copyright
© All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

Konseling Pemilihan Alat Kontrasepsi ...

- Febriyani U, Sri Andarini I

KONSELING PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI


PADA WANITA PASANGAN USIA SUBUR
DI PUSKESMAS MANGKANG SEMARANG

Febriyani Utami*), Sri Andarini Indreswari**)


*)
Alumni Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Dian Nuswantoro Semarang
**)
Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Dian Nuswantoro Semarang
Jl. Nakula I No. 5-11 Seamarang
email: andarini@[Link]

ABSTRACT
Counseling is a form of interview to help others gain a better understanding of him in his
quest to understand and address the issues at hand. Many women have difficulty in deciding
or choosing contraception this not only because of the limited number of available methods,
but also because these methods may not be acceptable. In the initial survey in October
2010, the percentage of KB in the health center paserta Mangkang the period from August to
October of 2010 from 162 participants KB is nonkontap: Syringe (68%), pills (29%), condoms
(3%), while those using Kontap: zero (0%). This shows that the majority of planning participants
prefer to use nonkontap Contraception. At the health center Mangkang has never done
research on counseling KB
This type of study was explanatory research, which aimed to explore the relationship between
the selection of contraceptive counseling in women of childbearing age couples. The approach
used is a cross sectional survey method. Sampling was done by purposive sampling, the
criteria are a new participant (<3 months), to obtain a sample of 30 participants KB. Data
analysis using Chi Square.
The results showed that 70% aged 21-30 years, have revenues> UMR, 50% high school
educated and have a new child, and 36.7% worked as a laborer. Most of the use of
contraceptives nonkontap by 86.7%, where there used syringes (53.3%). They argue that
the counseling is done by good counseling staff (73,3%). Based on statistical test, there was
no relationship between the selection of contraceptive counseling in women of fertile couples
([Link] 0.935 > α 0.05).
Efforts to improve the quality of family planning and counseling officer socialization deciding
factor in choosing a contraceptive, is expected to enhance the ability of potential family
planning acceptors in determining the correct choice.
Keywords: counseling, contraceptive devices.

ABSTRAK
Konseling adalah suatu bentuk wawancara untuk membantu orang lain mendapatkan
pemahaman yang lebih baik dari dia dalam usahanya untuk memahami dan mengatasi
permasalahan yang dihadapi. Banyak wanita mengalami kesulitan dalam menentukan atau
memilih alat kontrasepsi bukan hanya karena terbatasnya jumlah metode yang tersedia,
tetapi juga karena metode ini mungkin tidak dapat diterima. Dalam survei awal pada bulan
Oktober 2010, persentase KB di Puskesmas Mangkang paserta periode dari Agustus sampai
Oktober 2010 dari 162 peserta KB adalah nonkontap : Syringe (68 %), pil (29 %), kondom (3

37
JURNAL VISIKES - Vol. 12 / No. 1 / April 2013

%), sedangkan yang menggunakan Kontap : nol (0 %). Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas
peserta perencanaan lebih suka menggunakan nonkontap Kontrasepsi. Di Puskesmas
Mangkang belum pernah dilakukan penelitian tentang konseling KB
Jenis penelitian ini adalah penelitian Explanatory, yang bertujuan untuk mengeksplorasi
hubungan antara pemilihan konseling kontrasepsi pada wanita dari pasangan usia subur.
Pendekatan yang digunakan adalah metode cross sectional survey. Pengambilan sampel
dilakukan secara purposive sampling, dengan kriteria peserta baru (d” 3 bulan), untuk
mendapatkan sampel dari 30 peserta KB. Analisis data menggunakan Chi Square.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 70 % berusia 21-30 tahun, telah pendapatan >
UMR, SMA 50 % berpendidikan dan memiliki anak baru, dan 36,7 % bekerja sebagai buruh
tani. Sebagian besar penggunaan alat kontrasepsi nonkontap oleh 86,7 %, di mana dulu ada
jarum suntik (53,3 %). Mereka berpendapat bahwa konseling dilakukan oleh staf konseling
yang baik (73,3 %). Berdasarkan uji statistik, tidak ada hubungan antara pemilihan konseling
kontrasepsi pada wanita pasangan usia subur ([Link] 0,935 > á 0,05).
Upaya untuk meningkatkan kualitas keluarga berencana dan sosialisasi petugas konseling
faktor penentu dalam memilih alat kontrasepsi, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan
potensi akseptor KB dalam menentukan pilihan yang tepat.
Kata kunci : konseling, alat kontrasepsi.

PENDAHULUAN kehamilan yang tidak diinginkan, besarnya


Indonesia merupakan salah satu Negara keluarga yang diinginkan, kerjasama
berkembang dengan berbagai jenis masalah pasangan dan norma budaya mengenai
kesehatan. Masalah utama yang dihadapi di kemampuan mempunyai anak.3
Indonesia adalah di bidang kependudukan Setiap metode mempunyai kelebihan dan
yang ditandai dengan masih tingginya kekurangan. Namun demikian, meskipun
pertumbuhan penduduk.1 telah mempertimbangkan untung rugi semua
Keadaan penduduk yang sedemikian kontrasepsi yang tersedia, tetap saja terdapat
akan mempersulit usaha peningkatan dan kesulitan untuk mengontrol fertilitas secara
pemerataan kesejahteraan rakyat. Semakin aman, efektif, dengan metode yang dapat
tinggi pertumbuhan penduduk semakin besar diterima, baik secara perseorangan maupun
usaha yang dilakukan untuk budaya pada berbagai tingkat reproduksi.
mempertahankan kesejahteraan rakyat. Oleh Tidak mengejutkan apabila banyak wanita
karena itu pemerintah terus berupaya untuk merasa bahwa penggunaan kontrasepsi
menekan laju pertumbuhan dengan program terkadang problematis dan mungkin terpaksa
Keluarga Berencana. 2 memilih metode yang tidak cocok dengan
Banyak wanita mengalami kesulitan konsekuensi yang merugikan atau tidak
dalam menentukan ataupun memilih Alat menggunakan metode KB sama sekali. 3
kontrasepsi. Tidak hanya karena terbatasnya Konseling adalah suatu bentuk
jumlah metode yang tersedia, tetapi juga wawancara untuk menolong orang lain
karena metode-metode tersebut mungkin memperoleh pengertian yang lebih baik
tidak dapat diterima. Dalam memilih suatu mengenai dirinya dalam usahanya untuk
metode, wanita harus menimbang berbagai memahami dan mengatasi permasalahan
faktor, termasuk status kesehatan mereka, yang sedang dihadapinya. Banyak wanita
efek samping, konsekuensi terhadap mengalami kesulitan dalam menentukan

38
Konseling Pemilihan Alat Kontrasepsi ... - Febriyani U, Sri Andarini I

ataupun memilih alat kontrasepsi tidak hanya yang dibutuhkan. Peserta yang masih
karena terbatasnya jumlah metode yang tergolong muda dan masih bisa ataupun ingin
tersedia, tetapi juga karena metode-metode memiliki anak lagi, akan lebih memilih
tersebut mungkin tidak dapat diterima. menggunakan alat kontrasepsi nonkontap.4
Pada survei awal bulan Oktober 2010, 2. Pekerjaan
Persentase paserta KB di Puskesmas Pekerjaan responden sebagian besar
Mangkang periode Agustus – Oktober tahun adalah sebagai buruh (36,7%). Pekerjaan
2010 dari 162 peserta KB adalah nonkontap: responden merupakan salah satu tolok ukur
Suntik (68%), Pil (29%), Kondom (3%), dalam pemilihan alat kontrasepsi. Hal ini
sedangkan yang menggunakan Kontap: tidak dapat berhubungan dengan tingkat
ada (0%). Hal ini menunjukkan bahwa penghasilan dari masing-masing pekerjaan
mayoritas peserta KB lebih memilih yang berbeda-beda sehingga berpengaruh
menggunakan Alat Kontrasepsi nonkontap. Di terhadap keputusan seseorang dalam
Puskesmas Mangkang belum pernah memilih alat kontrasepsi, mengingat aktifitas
dilakukan penelitian tentang konseling KB. yang berbeda-beda juga akan menimbulkan
efek samping yang berbeda-beda pula.5
METODE 3. Pendidikan
Jenis penelitian yang digunakan adalah Pendidikan responden terbanyak adalah
Explanatory research, dimana bertujuan tamatan SMA sebesar 15 responden (50%).
untuk mencari hubungan antara konseling Pendidikan responden merupakan tolok ukur
dengan pemilihan alat kontrasepsi pada dari pengetahuan dasar yang dimiliki
wanita pasangan usia subur. Pendekatan responden. Sehingga responden yang
yang digunakan adalah Cross sectional memilki pendidikan lebih tinggi akan lebih
dengan metode survei. Pengambilan sampel mudah menyerap informasi pada saat
dilakukan dengan purposive sampling, konseling dilakukan. 5 Berkaitan dengan
dengan kriteria adalah peserta baru (d” 3 masalah kesehatan, pendidikan merupakan
bulan), sehingga diperoleh 30 peserta KB salah satu faktor yang mempengaruhi
sebagai sampel. Analisis data menggunakan persepsi sehat dan sakit seseorang, sehingga
Chi Square. dapat pula mempengaruhi memakai atau
tidaknya suatu pelayanan kesehatan yang
HASIL telah disediakan.6
Karakteristik Responden 4. Pendapatan
1. Umur Pendapatan rata-rata pada responden
Berdasarkan penelitian, usia responden adalah diatas UMR kota Semarang, yaitu
terbanyak berkisar antara 21-30 tahun sebesar 18 orang (60,0%). Seperti halnya
(53,3%). Bila dikaitkan dengan pemilihan alat pekerjaan, pendapatan cukup berpengaruh
kontrasepsi, peserta KB pada non kontap pada pemilihan alat kontrasepsi yang
paling banyak diantara responden yang lain digunakan, mengingat harga yang berbeda
yaitu sebesar 70%. Umur berhubungan pada tiap jenis kontrasepsi maupun
dengan struktur organ, fungsi faaliah, berdasarkan kualitasnya. Sehingga seorang
komposisi biokimiawi termasuk sistem hor- peserta KB yang memiliki pendapatan rendah
monal seorang wanita. Perbedaan fungsi akan cenderung memilih alat kontrasepsi
faaliah, komposisi biokimiawi, dan sistem dengan harga terjangkau, seperti kondom
hormonal pada suatu periode umur dan Pil.6 Dari hasil penelitian sebagian besar
menyebabkan perbedaan pada kontrasepsi peserta KB lebih memilih menggunakan alat

39
JURNAL VISIKES - Vol. 12 / No. 1 / April 2013

kontrasesp nonkontap (86,7%) daripada konselor kadang-kandang tidak


kontap (13,3%). mempersilahkan peserta KB untuk
5. Jumlah anak berkunjung kembali (30%). Sedangkan pada
Sebagian besar responden memiliki 1 sikap yang ditunjukkan oleh konselor,
anak (50%). Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar konselor (76.7%) mau
sebagian besar responden langsung memahami dan menanggapi permasalahan
menggunakan alat kontrasepsi ketika yang dikemukakan para ibu, namun ada juga
kehadiran anak yang pertama untuk memberi konselor (30%) yang jarang mendengarkan
jarak pada anak kedua. Anak adalah harapan keluhan para ibu ketika mengemukakan
atau cita-cita dari sebuah perkawinan. Berapa permasalahan KB.
jumlah yang diinginkan, tergantung dari Dalam hal ini Tenaga kesehatan (Bidan)
keluarga itu sendiri. Apakah satu, dua, tiga dan di Puskesmas Mangkang memegang
seterusnya. Dengan demikian keputusan peranan penting dalam memberikan
untuk memiliki sejumlah anak adalah sebuah informasi tentang metode KB calon akseptor
pilihan, yang mana pilihan tersebut sangat yang dalam hal ini khusus ibu hamil, bersalin
dipengaruhi oleh nilai yang dianggap sebagai dan nifas. Pemberian informasi ini dilakukan
satu harapan atas setiap keinginan yang melalui konseling dengan menggunakan alat
dipilih oleh orang tua.7 bantu pengambilan keputusan (ABPK)
melakukan KB. ABPK adalah lembar balik
Konseling di Puskesmas Mangkang yang dikembangkan WHO dan telah
Berdasarkan hasil wawancara dan diadaptasi untuk Indonesia oleh STARH untuk
penelitian di Puskesmas Mangkang, digunakan dalam konseling. 8
Persentase peserta KB di Puskesmas Bidan tersebut yang telah memiliki
Mangkang periode Juli – September tahun pengetahuan dan keterampilan tentang
2011 dari 162 peserta KB, jumlah sampel 30 kebidanan khususnya akan dapat berperan
orang, dari non kontab: Suntik (53,3%), Pil sebagai konselor, salah satunya konselor KB.
(20%), Kondom (13,3%) dan Kontab: IUD Dalam tugasnya sebagai konselor KB, bidan
(10%), Implan (3,3%). Hal ini menunjukkan memberikan penyuluhan pertama tentang
bahwa mayoritas peserta KB lebih memilih pemanfaatan kontrasepsi kemudian
menggunakan Alat Kontrasepsi nonkontap. menjelaskan macam-macam alat kontra-
Sesuai dengan standar pelayanannya, di sepsi serta keuntungan dan kerugian dari
Puskesmas Mangkang memberikan masing-masing.9
konseling bagi peserta KB. Dari hasil
penelitian menyatakan bahwa sebagian PEMBAHASAN
besar peserta KB menyatakan bahwa Hubungan antara Konseling dengan
konseling yang diberikan oleh konselor baik Pemilihan Alat Kontrasepsi
(73.3%). Peserta KB berpendapat bahwa Berdasarkan hasil uji statistik dengan
materi konseling telah diberikan oleh petugas tingkat signifikansi 5% diperoleh c2 sebesar
konselor KB baik, walaupun masih terdapat 0,007 dengan p value sebesar 0,935 (p >
30% yang berpendapat bahwa petugas 0,05), yang berarti tidak ada hubungan antara
konselor KB tidak menjelaskan tentang jenis- konseling dengan pemilihan alat kontrasepsi.
jenis alat kontrasepsi. Pada proses konseling Hal ini menunjukkan bahwa konseling yang
petugas konselor KB senantiasa diberikan mengenai alat kontrasepsi tidak
menanyakan alat kontrasepsi yang menjadi berhubungan dengan pemilihan alat
pilihan para ibu (86,7%), walaupun ada juga kontrasepsi pada wanita pasangan usia

40
Konseling Pemilihan Alat Kontrasepsi ... - Febriyani U, Sri Andarini I

subur (peserta KB). Dalam Rahim (AKDR) . Hal ini berarti


Konseling merupakan salah satu cara keinginan untuk memiliki anak lagi
dalam memperkenalkan alat kontrasepsi mempengaruhi responden dalam memilih
kepada masyarakat. Walaupun tidak mudah alat kontrasepsi.
untuk dapat segera diterima, karena
menyangkut pengambilan keputusan oleh SIMPULAN
masyarakat untuk menerima cara-cara 1. Berdasarkan karakteristik, sebagian
kontrasepsi tersebut. Informasi yang diberikan besar peserta KB berumur antara 21–30
tersebut bisa diterima maupun ditolak. 10 tahun (70%), mempunyai pekerjaan
Informasi akan ditolak jika informasi sebagai buruh (36,7%), pendidikan rata-
tersebut dipaksakan oleh pihak lain, informasi rata SMA (50%), memiliki pendapatan
tersebut tidak dipahami, atau informasi diatas UMR (Rp.880.000) Semarang
tersebut dianggap sebagai ancaman (70%) dan baru memiliki 1 anak (50%).
terhadap nilai-nilai penduduk.11 2. Dari hasil pengukuran terhadap konseling,
Pemilihan alat kontrasepsi dipengaruhi sebagian besar peserta KB menyatakan
oleh beberapa faktor yaitu: faktor pasangan, bahwa konseling yang dilakukan oleh
faktor kesehatan dan faktor metode petugas konseling KB baik (73,3%),
kontrasepsi. Faktor pasangan meliputi: Umur, namun masih terdapat 30% peserta KB
gaya hidup, frekuensi senggama, jumlah yang mengatakan bahwa petugas
keluarga yang diinginkan, pengalaman dengan konseling petugas konseling KB tidak
kontrasepsi lalu, sikap kewanitaan, sikap menjelaskan tentang jenis-jenis alat
kepriaan. Faktor kesehatan meliputi: status kontrasepsi dan tidak mendengarkan
kesehatan, riwayat haid, riwayat keluarga keluhan peserta KB seputar masalah KB.
pemeriksaan fisik, pemeriksaan panggul. 3. Sebagian besar responden memilih alat
Faktor metode kontrasepsi meliputi: kontrasepsi non kontap (86,7%), dimana
efektifitas, efek samping minor, kerugian, yang terbanyak adalah suntik (53,3%).
komplikasi yang potensial dan biaya. 4. Tidak ada hubungan antara konseling
Berdasarkan hasil penelitian, faktor yang pal- dengan pemilihan alat kontrasepsi (p
ing dominan adalah faktor pasangan yaitu value 0,935 > á 0,05).
Umur dan Jumlah keluarga yang diinginkan.
Bila dilihat dari hasil penelitian, ternyata SARAN
sebagian besar masih berumur 21-30 1. Peningkatkan kualitas konseling petugas
(53,3%) dan baru memiliki 1 anak (50%). Ini KB dalam memberikan konseling,
menjelaskan bahwa mereka adalah sehingga calon peserta KB dapat
pasangan baru menikah dan lebih memilih melakukan pilihan yang tepat dalam
menggunakan alat kontrasepsi suntik (53,3%) berkontrasepsi.
dibanding alat kontrasepsi mantap (kontap). 2. Sosialisasi terhadap hal-hal yang
Hal ini hampir sama dengan penelitian menentukan dalam pemilihan alat
yang dilakukan oleh Yuli Zhulaikha yang kontrasepsi kepada calon para peserta
berjudul “Faktor-faktor yang mempengaruhi KB, yang menjelaskan bahwa pemilihan
rendahnya penggunaan AKDR”, hasil alat kontrasepsi harus memperhatikan
penelitian tersebut mengatakan bahwa faktor pasangan, faktor kesehatan dan
responden yang berusia subur dibawah 30 metode alat kontrasepsi. Kegiatan ini
tahun dan memiliki anak kurang dari 2 anak, dapat disampaikan oleh petugas KB saat
enggan untuk menggunakan Alat Kontrasepsi kegiatan Posyandu

41
JURNAL VISIKES - Vol. 12 / No. 1 / April 2013

DAFTAR PUSTAKA 7. Kusumaningrum, [Link]-faktor


1. Mujiran, Paulus [Link], Msi. Mewaspadai yang mempengaruhi pemilihan
Ledakan Penduduk. http:// kontrasepsi yang digunakan pada
[Link]/harian/0611/ Pasangan Usia Subur. UNDIP. Semarang.
23/[Link].11 2009
2. Bps. Jumlah penduduk hasil sensus 8. Pengurus Pusat IBI. Standar Pelayanan
penduduk. Kebidanan. Ikatan Bidan Indonesia.
[Link] Jakarta. 2006
3. Arjoso,S. Rencana strategi. BKKBN. 9. PKMI. Panduan Pendidikan dan Pelatihan
Maret. 1992 Konselor Kontap. Jakarta. 1991
4. BKKBN. Buku panduan konseling KB. 10. Prawirohardjo,Sarwono. Buku acuan
Balai litbang. Bandung. 1999 Konseling Nasional Pelayanan Kesehatan
5. Notoadmodjo, Soekidjo. Pendidikan dan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina
Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. Pustaka. Jakarta. 2000. 39-45
Jakarta. 2003 11. BKKBN. Dasar-dasar Pemberian
6. Notoadmodjo, Soekidjo. Ilmu Kesehatan Konseling. http:/[Link]/
Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar. kb/[Link]/gemapria/[Link].
Rineka Cipta. Jakarta. 2003 Desember.2011

42

You might also like