ISSN:2089 – 0133 Indonesian Journal of Applied Physics (2014) Vol.4 No.
2 halaman 192
Oktober 2014
Identifikasi Jalur Sesar Opak Berdasarkan Analisis
Data Anomali Medan Magnet dan Geologi Regional
Yogyakarta
Ira Maya Fathonah1, Nugroho Budi Wibowo2, dan Yosaphat Sumardi1
1
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta
2
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Yogyakarta
Email: [Link]@[Link]
Received 21-08-2014, Revised 22-09-2014, Accepted 20-10-2014, Published 31-10-2014
ABSTRACT
This research was aimed to know the magnetic field anomaly pattern upon Opak’s fault, to
identify the direction of Opak’s fault and the structure of Opak’s fault based on Geomagnetic
data. It was conducted in the vicinity of Opak’s fault in Pundong sub-district, Yogyakarta. It
used magnetic method which is based on rocks magnetic susceptibility. The data were taken by
G-856AX Proton Precision Magnetometer (PPM) using looping method. Data analysis was
done using diurnal variation and IGRF correction, reduction to pole, upward continuation and
under surface structure modelling. From magnetic field anomaly analysis, it was discovered
that magnetic field anomaly on Opak’s fault has -50 nT negative closure in the East, and 100
nT positive closure in the West. According to the result interpretation of 2.5D model on two
slices using Mag2DC software, it can be obtained that the under surface structure of Opak’s
fault consist of Young Alluvial formation, Nglanggran formation, Semilir formation, Kebo
Butak formation, and Wungkal Gamping with various thickness. The location of this Opak’s
fault is almost the same with the location of Opak’s fault in Yogyakarta geology map. Opak’s
fault around Pundong sub-district is a normal fault directed to N 35º E. The eastern part of the
fault has a relatively constant movement, while the western part is relatively moving down.
Keywords: magnetic field anomaly, magnetic method, Opak’s fault, under surface structure,
Yogyakarta
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola anomali medan magnet jalur Sesar Opak,
mengidentifikasi arah jalur sesar Opak dan struktur bawah permukaan jalur Sesar Opak
berdasarkan data Geomagnetik. Lokasi Penelitian berada pada jalur sesar Opak di sekitar
Kecamatan Pundong, Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah metode magnetik yang
didasarkan pada sifat suseptibilitas (kerentanan) magnetik batuan. Pengambilan data
menggunakan alat Proton Precision Magnetometer (PPM) tipe G-856AX dengan metode
looping. Analisis metode magnetik dilakukan dengan koreksi variasi harian dan koreksi IGRF,
reduksi anomali ke kutub, anomali kontinuasi ke atas dan pemodelan struktur bawah
permukaan. Setelah dilakukan analisis anomali medan magnet diketahui bahwa anomali medan
magnet pada jalur sesar Opak mempunyai sepasang klosur, yaitu klosur negatif dengan nilai -
50nT pada bagian timur, dan klosur positif dengan nilai 1100 nT di bagian barat. Berdasarkan
hasil interpretasi dari pemodelan 2,5D pada dua sayatan menggunakan software Mag2DC for
windows didapatkan bahwa struktur bawah permukaan jalur sesar Opak hasil penelitian terdiri
dari formasi Alluvial Muda, Formasi Nglanggran, Formasi Semilir, Formasi Kebo Butak, dan
formasi Wungkal Gamping dengan ketebalan bervariasi. Letak jalur Sesar Opak pada daerah
penelitian hampir sama dengan letak Sesar Opak pada peta geologi Yogyakarta. Sesar Opak di
sekitar Kecamatan Pundong merupakan sesar normal berarah N 35º E dengan bagian barat
relatif bergerak turun sedangkan bagian timur relatif tetap.
Kata kunci : anomali medan magnet, metode magnetik, sesar Opak, struktur bawah permukaan,
Yogyakarta
Identifikasi Jalur Sesar... halaman 193
PENDAHULUAN
Pada tanggal 27 Mei 2006 daerah Yogyakarta dan sekitarnya diguncang gempa sebesar 5,9
skala Richter yang menelan banyak korban jiwa. Berdasarkan hasil kajian deformasi
koseismik yang dilakukan oleh tim peneliti dari Teknik Geodesi ITB dari hasil survei GPS
menyimpulkan bahwa sesar penyebab gempa bumi 27 Mei 2006 adalah sesar jenis sinistral
dengan panjang 18 km lebar 10 km strike 48° dan dip 89° dan berada di sebelah timur 3-4
km dari lokasi Sesar Opak di kawasan Gunung Kidul yang biasa digambarkan sepanjang
Sungai Opak [1]. Hasil survei GPS juga memperlihatkan bahwa komponen horizontal
deformasi pascaseismik gempa Yogyakarta berkisar antara 0,3 cm dan 9,1 cm dalam
periode Juni 2006 sampai Juni 2008.
Apabila pada deformasi koseismik mempunyai pergerakan sinistral, maka deformasi
pascaseismik menunjukkan pergerakan dekstral dari daerah sebelah timur Sesar Opak
(kawasan Gunung Kidul) terhadap kawasan sebelah baratnya yang relatif lebih stabil [2].
Sedangkan dari pemetaan Sesar Opak dengan metode gravitasi yang dilakukan oleh tim
peneliti UNDIP menyimpulkan bahwa di daerah Parangtritis dan sekitarnya terdapat dua
buah sesar, salah satunya adalah Sesar Opak dengan arah N30° E/60° dan merupakan jenis
sesar normal atau sesar turun di mana blok barat relatif bergerak turun sedangkan blok
timur relatif tetap [3].
Hasil interpretasi kualitatif dan kuantitatif dari pemodelan zona Sesar Opak di daerah
Pleret, Bantul, Yogyakarta dengan metode gravitasi didapatkan adanya dugaan sesar
normal dengan struktur lapisan terdiri dari tiga lapisan yaitu batuan gamping, batuan
breksi dan batuan penutup permukaan yang meliputi endapan alluvial dan endapan sungai
Opak [4] dan berdasarkan hasil interpretasi kualititatif pada peta kontur anomali Bouguer
menunjukkan adanya kelurusan yang berarah timur laut-barat daya. Indikasi Sesar Opak
adalah sesar turun, dengan blok timur tetap dan blok barat relatif turun. Interpretasi
kuantitatif struktur bawah permukaan diperoleh densitas batuan formasi Sesar Opak
sebesar 2,6 g/cm3 hingga 2,7 g/cm3 yang merupakan batuan breksi lapili dan batuan breksi
andesit tua. Alluvium sebagai formasi penutup dengan densitas 1,85 g/cm3. Kedalaman
rata-rata Sesar Opak berkisar antara 55 hingga 82 m, sedangkan pergeserannya berkisar
antara 5 hingga 10 m[5]. Karena akibat dari kegempaan di daerah Sesar Opak tergolong
cukup besar, makaperludiketahui jalur dan karakteristik Sesar Opak untuk meminimalisir
dampak dari sesar tersebut.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode magnetik, yaitu metode yang
digunakan untuk mengetahui kondisi bawah permukaan bumi berdasarkan sifat
suseptibilitas (kerentanan) magnetik batuan. Metode ini dipilih karena masih sedikit
penelitian tentang Sesar Opak yang menggunakan metode magnetik, sehingga diharapkan
dapat memperjelas karakteristik dan jalur Sesar Opak.
METODE
Pengambilan data dilaksanakan selama 3 hari yaitu Rabu, 27 November 2013, Kamis, 28
November 2013, dan Selasa, 3 Desember 2013. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan
Pundong, Kabupaten Bantul, Yogyakarta pada koordinat 7°57'24.8" LS sampai 7°59'36,5"
LS dan 110°19'01,3" BT sampai 110°21'03,0" BT. Penelitian dilakukan di daerah ini
karena diduga merupakan daerah yang menjadi jalur Sesar Opak sesuai dengan peta
geologi Yogyakarta (Gambar 1).
Identifikasi Jalur Sesar... halaman 194
Gambar 1. (color online) Letak Daerah Penelitian dalam Peta Geologi Yogyakarta[6]
Pada penelitian ini, pengukuran titik data berjarak 100-200m sehingga diperoleh 91 titik
data. Alatyang dipergunakan meliputi: satu buah Proton Precession magnetometer
(PPM)model G-856 Geometrics untuk merekamwaktu dan medan magnet total (dalam
satuan nT), satu buah Global Positioning System(GPS) untuk menentukan posisi penelitian
dan sebuah kompas geologi untuk menentukan arah geografi lokasi [Link]
Precession magnetometer (PPM) yang digunakan hanya satu maka pengambilan data
dilakukan dengan cara Looping, artinya pengukuran dimulai dari base dan diakhiri di base
lagi, di mana satu alat PPM menjadi base sekaligus rover.
Data hasil pengukuran di lapangan yang berupa data mentah merupakan data medan
magnet total yang masih dipengaruhi oleh medan utama magnet bumi (IGRF) dan medan
magnet luar. Anomali medan magnet didapatkan dengan menghilangkan pengaruh-
pengaruh tersebut terlebih dahulu, yaitu dengan melakukan koreksi harian dan koreksi
nilai intensitas medan magnet utama bumi atau International Geomagnetic Reference
Field (IGRF). Medan anomali magnet total dihitung dengan persamaan:
(1)
Dengan adalah nilai medan magnet terukur, adalah variasi harian medan magnet
terukur, dan adalah medan magnet utama bumi (IGRF) yang dihitung menggunakan
software Geomag.70. Setelah melakukan perhitungan selanjutnya dibuat kontur medan
magnet total menggunakan software Surfer 11.
Identifikasi Jalur Sesar... halaman 195
Reduksi ke Kutub
Reduksi ke kutub dilakukan dengan mengubah arah medan magnet yang awalnya dipole
menjadi monopole, untuk memperjelas anomali medan magnet. Hal tersebut dilakukan
dengan cara membuat sudut inklinasi benda menjadi 90º dan deklinasinya 0º. Dengan
demikian anomali monopol yang dihasilkan berasal dari sumber yang sama. Reduksi ke
kutub ini dilakukan dengan menggunakan software Magpick.
Kontinuasi ke Atas
Kontinuasi ke atas dilakukan dengan mengolah data medan magnet total menggunakan
software Magpick. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan pengaruh lokal yang berasal
dari sumber-sumber di permukaan, dan memperjelas pengaruh anomali regional. Semakin
tinggi kontinuasi data, informasi lokal semakin hilang, dan informasi regional semakin
jelas. Kontinuasi ke atas dilakukan setelah data anomali medan magnetik total diketahui
dan telah dikontur menggunakan software Surfer.
Interpretasi
Interpretasi digunakan untuk menentukan posisi struktur geologi bawah permukaan yang
ada pada daerah penelitian. Interpretasi dilakukan setelah data medan magnetik total
dikoreksi dengan efek regional dan kontur medan magnetik total telah direduksi ke kutub.
Interpretasi kualitatif bertujuan untuk mengetahui posisi benda penyebab anomali
berdasarkan hasil analisis pada anomali magnetik yang terdapat pada peta anomali
regional dan peta anomali lokal. Interpretasi kuantitatif dilakukan dengan pembuatan
model dari peta anomali regional yang telah dibuat menggunakan software Surfer.
Peta anomali tersebut dibuat sayatan yang melewati anomali yang diduga sebagai lokasi
jalur sesar Opak. Pemilihan posisi sayatan berdasarkan hasil interpretasi kualitatif. Sayatan
kemudian dimodelkan dengan menggunakan softwareMag2DC for windows. Pemodelan
dilakukan dengan mempertimbangkan faktor geologi sebagai indikator kecocokan antara
hasil observasi lapangan dengan data.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambar 2 menunjukkan adanya klosur positif dan klosur negatif terlihat cukup banyak.
Pasangan klosur positif dan klosur negatif ini menunjukkan bahwa anomali magnetik
berupa dipole (dwi kutub).
Nilai klosur positif dan klosur negatif di daerah penelitian adalah 1100 nT dan -50 nT.
Sudut inklinasi medan magnetik pada daerah penelitian adalah -33,567ᵒ dan sudut
deklinasi sebesar 1,117ᵒ. Sumber anomali yang dalam akan menghasilkan kontur dengan
frekuensi lebih rendah yang akan terlihat sebagai klosur besar, sedangkan sumber anomali
yang terletak lebih dangkal akan menghasilkan klosur yang relatif kecil. Dari peta anomali
medan magnet tersebut telah terlihat anomali-anomali yang menunjukkan perbedaan
dengan lingkungan sekitarnya. Skala warna yang berada di sebelah kanan peta anomali
medan magnet menunjukkan tingkat besarnya anomali medan magnet, warna semakin
merah pada peta anomali medan magnet menunjukkan nilai intensitas magnetik yang
semakin tinggi dan warna yang semakin biru menunjukkan nilai intensitas magnetik yang
semakin rendah.
Identifikasi Jalur Sesar... halaman 196
Gambar 2. (color online) Kontur Medan Magnet Total
Hasil Reduksi ke Kutub
Data anomali medan magnetik hasil koreksi variasi harian dan IGRF kemudian direduksi
ke kutub dengan tujuan agar dapat melokalisasi daerah-daerah dengan anomali maksimal
yang tepat berada di atas tubuh benda penyebab anomali. Reduksi ke kutub dilakukan
dengan cara membuat sudut inklinasi benda menjadi 90º dan deklinasinya 0º.
Gambar 3. (color online) Kontur Anomali Medan Magnet Total Hasil Reduksi Ke Kutub
Identifikasi Jalur Sesar... halaman 197
Hal tersebut dilakukan untuk membuat anomali medan magnet total yang sebelumnya
dipole menjadi monopole. Interpretasi kualitatif dapat langsung dilakukan pada kontur
anomali medan magnetik hasil reduksi ke kutub [Link] anomali medan magnetik yang
telah direduksi ke kutub dapat dilihat dalam Gambar 3.
Hasil Kontinuasi ke Atas
Kontinuasi ke atas bertujuan untuk proses low pass filtering, yaitu untuk memperoleh peta
anomali regional. Proses kontinuasi ke atas adalah proses transformasi anomali dari suatu
level ke level yang lebih tinggi. Pada penelitian ini dilakukan kontinuasi ke atas secara
sistematis dari ketinggian 100 m, 500 m, 1000 m, 1500 m, 2000 m, dan 2500 m, tujuannya
adalah untuk mendefinisikan anomali regional daerah penelitian yang dapat dilihat dari
pola anomali pada ketinggian tertentu yang tidak mengalami perubahan lagi ketika
dinaikkan ke level yang lebih atas lagi. Pengangkatan ke atas pada ketinggian 2500 m
ditunjukkan pada Gambar 4.
Gambar 4. (color online) Kontur Anomali Kontinuasi Ke Atas 2500 m
Interpretasi
Dalam penelitian ini diambil dua sayatan yaitu sayatan A-A’ dan sayatan B-B’ yang
ditunjukkan pada Gambar 5. Dari hasil sayatan A-A’ dan sayatan B-B’ dibuat pemodelan
struktur bawah permukaan dengan kedalaman 2500m yang di harapkan dapat memperoleh
kenampakan sesar Opak.
Identifikasi Jalur Sesar... halaman 198
Gambar 5. (color online) Letak sayatan pada kontur anomali medan magnet ketinggian 2500m
Dari hasil pemodelan menggunakan software Mag2DC yang ditunjukkan pada Gambar 6-
7terlihat adanya patahan struktur lapisan batuan, sehingga ketika dibuat model sayatan
struktur bawah permukaan seperti pada Gambar 8 dapat disimpulkan bahwa terdapat
sebuah sesar yang terletak dibagian barat sungai Opak. Hal tersebut sesuai dengan peta
jalur sesar Opak yang terdapat dalam peta geologi Yogyakarta.
Berdasarkan Gambar 8, struktur bawah permukaan pada sayatan A-A’ dan sayatan B-B’
menunjukkan formasi batuan penyusun yang didominasi oleh batuan sedimen, yaitu
batuan serpih dengan nilai suseptibilitas sekitar 0,6 (dalam SI), batupasir dengan nilai
suseptibilitas sekitar 0,4 (dalam SI), batu kapur dengan nilai suseptibilitas sekitar 0.3
(dalam SI), dan dolomit dengan nilai suseptibilitas sekitar 0,1 (dalam SI).
Gambar 6. (color online) Pemodelan struktur bawah permukaan pada sayatan A-A’dengan Mag2DC for windows
Identifikasi Jalur Sesar... halaman 199
Gambar 7. (color online) Pemodelan struktur bawah permukaan pada sayatan B-B’dengan Mag2DC for windows
Gambar 8. (color online) Gambar Interpretasi Bawah Permukaan Daerah Penelitian pada sayatan A-A’ dan B-B’
Formasi dan ketebalan struktur bawah permukaan hasil interpretasi pada sayatan A-A’ dan
B-B’ dapat dilihat pada Tabel 1.
Identifikasi Jalur Sesar... halaman 200
Tabel 1. Formasi dan ketebalan struktur bawah permukaan hasil interpretasi pada sayatan A-A’ dan B-B’
Formasi Ketebalan Batuan Penyusun
Sayatan A-A' Sayatan B-B'
Alluvial Muda 20m – 500m 20m – 625m batupasir dan dolomit
Nglanggran 50m – 480m 20m – 550m andesit dan breksi
Semilir 250m – 625m 250m – 625m serpih, tuf dan batupasir
Kebo Butak 500m – 1200m 625m – 1250m batu pasir, batu lempung, dan
andesit
Wungkal Gamping 580m – 1225m 400m – 1000m batugamping dan batupasir
Dari hasil interpretasi bawah permukaan juga dapat disimpulkan bahwa sesar Opak
merupakan jenis sesar normal atau sesar turun di mana bagian barat mengalami penurunan
sedangkan bagian timur cenderung tetap. Hasil tersebut sesuai dengan hasil penelitian dari
Irham,dkk (2010). Dari pergeseran letak sesar Opak antara pemodelan A-A’ dengan
pemodelan B-B’ menunjukkan bahwa sesar berarah N 35ᵒ E.
KESIMPULAN
1. Pola anomali medan magnet jalur sesar Opak di sekitar Kecamatan Pundong memiliki
pasangan klosur negatif dengan nilai -50nT di bagian timur dan klosur positif dengan
nilai 1100nT di bagian barat, berbedaan nilai anomali ini menunjukan bahwa daerah
tersebut terdapat sesar.
2. Penyusun batuan struktur bawah permukaan di sekitar Kecamatan Pundong terdiri
dari formasi Alluvial Muda, formasi Nglanggran, formasi Semilir, formasi Kebo
Butak, dan formasi Wungkal Gamping. Sesar Opak merupakan sesar normal atau
sesar turun dengan bagian barat mengalami penurunan sedangkan bagian timur
cenderung tetap dengan arah N 35º E dan berada di sebelah barat sungai Opak.
DAFTAR PUSTAKA
1 Abidin Z.H, Andreas H, Meliano, I, Gamal M, Usuma MA, Imata F, dan Ando, M.
2007. Deformasi Seismik Gempa Yogyakarta dari Survei GPS. Jurnal Geofisika
Indonesia. Edisi 2007,No 1.
2 Abidin Z.H, Andreas .H, Meliano I, Gamal I, Gumelar I, dan Abdullah. 2009.
Deformasi Koseismik dan Pascaseismik Gempa Yogyakarta 2006 dari Hasil Survei
[Link] Geologi Indonesia, Vol.4 No 4.
3 Nurwidyanto, M. Irham., Brotopuspito,.S., Waluyo., dan Sismanto. 2011. Study
Pendahuluan Sesar Opak dengan Metode Gravitasi (Study Kasus Daerah Sekitar
Kecamatan Pleret Bantul).Berkala Fisika Vol 14, No 1.
4 Nurwidyanto, M. Irham., Indriana, R.D., dan Darwis, Z.T,. 2007. Pemodelan Zona
Sesar Opak di Daerah Pleret Bantul Yogyakarta dengan Metode Gravitasi. Berkala
Fisika Vol 10. No.1.
5 Egie Wijaksono. 2008. Pemodelan Tiga Dimensi (3D) Zona Sesar Opak Bantul
Yogyakarta Berdasarkan Data Anomali Bouguer Lengkap. Skripsi. Yogyakarta:UGM
6 Wartono Rahardjo, Sukandarrumidi, dan H.M.D. Rosidi. 1977. Peta Geologi Lembar
Yogyakarta. Bandung: Direktorat Geologi.