0% found this document useful (0 votes)
6 views12 pages

Faktor Penggunaan IUD di Pusyan Gatra 2016

This document discusses factors related to the use of intrauterine devices (IUDs) at the Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (Pusyan Gatra) family planning center in 2016. It aims to identify and analyze variables associated with IUD use through a quantitative study using chi-square tests. The study found that age (p=0.002) and number of births (parity) (p=0.001) were significantly related to IUD use, but education level and employment status were not significantly associated. The document recommends improving contraceptive services with attention to age and parity.
Copyright
© All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
6 views12 pages

Faktor Penggunaan IUD di Pusyan Gatra 2016

This document discusses factors related to the use of intrauterine devices (IUDs) at the Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (Pusyan Gatra) family planning center in 2016. It aims to identify and analyze variables associated with IUD use through a quantitative study using chi-square tests. The study found that age (p=0.002) and number of births (parity) (p=0.001) were significantly related to IUD use, but education level and employment status were not significantly associated. The document recommends improving contraceptive services with attention to age and parity.
Copyright
© All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd

Faktor yang Berhubungan dengan Penggunaan Intra Uterine Device (IUD) di Pusat

Pelayanan Keluarga Sejahtera (Pusyan Gatra) Tahun 2016

Sarah Christiawan1, Windhu Purnomo2


Departemen Biostatistika dan Kependudukan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas
Airlangga1
Departemen Biostatistika dan Kependudukan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas
Airlangga 2
Alamat korespondensi:
Sarah Christiawan
E-mail: sarahchrstwn@[Link]

ABSTRACT
The rate of population growth is increasingly rapidly becoming the main problem that
is being faced for Indonesia and so does East Java Province with Population Growth Rate
(LPP) in 2010 increased by 0.76. One effort to control the rate of population growth through
family planning program by using contraception, especially IUD to regulate the distance of
pregnancy and to regulate birth spacing. Achievements of new Long Term Contraception
Method (MKJP) acceptors especially IUD tend to decrease from 2013 to 2015 in Surabaya.
The achievement of the proportion of new IUD acceptors in 2016 in Pusyan Gatra decreased
by 6% from 2015. This study aims to know and analyze the variables associated with the use
of Intra Uterine Device (IUD) in Pusyan Gatra in 2016 by using chi-square. This research is
an analytic quantitative research with cross-sectional design. This research data source is a
new acceptor secondary data of MKJP in 2016. Population in this research are 270 new
acceptors of MKJP from January to December 2016. The independent variables are age,
educational level, employment status, and parity. Chi-square test results that age (p = 0,002)
and parity (p = 0,001) are related to IUD use. Level of education and employment status of
acceptors have no significant relationship with the use of IUD in Pusyan Gatra. Based on the
results of research, it is suggested to improve the contraceptive service by paying attention in
age and parity.

Keywords: Intra Uterine Device, Age, Level of Education, Employment Status, and Parity

ABSTRAK
Laju pertumbuhan penduduk semakin pesat menjadi masalah utama yang sedang
dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini. Hal serupa juga terjadi di Prov. Jawa Timur dengan
Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) pada tahun 2010 meningkat sebesar 0,76. Salah satu
upaya untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk melalui program keluarga berencana
(KB) yakni usaha menjarangkan kehamilan dan mengatur jarak kelahiran dengan
menggunakan kontrasepsi, salah satunya IUD. Capaian akseptor baru MKJP khususnya IUD
cenderung mengalami penurunan mulai tahun 2013 hingga 2015 di Surabaya. Begitu pula
capaian proporsi akseptor baru IUD tahun 2016 di Pusyan Gatra mengalami penurunan
sebesar 6% dari proporsi IUD tahun 2015. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan
menganalisis variabel yang berhubungan dengan penggunaan Intra Uterine Device (IUD) di
Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (Pusyan Gatra) tahun 2016 dengan menggunakan uji
statistik chi – square. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif bersifat analitik dengan
desain cross – sectional. Sumber data yakni data sekunder akseptor baru Metode Kontrasepsi
Jangka Panjang (MKJP) Tahun 2016. Penelitian ini menggunakan besar sampel yakni seluruh
populasi akseptor baru Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) periode Januari hingga
1
Desember 2016 yakni sebesar 270 akseptor. Variabel bebas yang diteliti yakni usia, tingkat
pendidikan, status pekerjaan, dan paritas. Hasil uji chi – square didapatkan bahwa variabel
yang berhubungan dengan penggunaan IUD yakni usia (p = 0,002) dan paritas (p = 0,001).
Tingkat pendidikan dan status pekerjaan akseptor tidak memiliki hubungan yang bermakna
dengan penggunaan IUD di Pusyan Gatra. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk
meningkatkan kembali capaian pelayanan kontrasepsi kepada calon akseptor dengan
memperhatikan usia dan paritas.

Kata kunci: Intra Uterine Device, Usia, Tingkat Pendidikan, Status Pekerjaan, dan Paritas

2
PENDAHULUAN meningkatkan kualitas penduduk. Program
Laju pertumbuhan penduduk yang ini memerlukan tenaga kesehatan yang
semakin berkembang pesat menjadi kompeten dan mampu bekerja secara
masalah utama yang sedang dihadapi oleh maksimal dalam proses menyukseskan
bangsa Indonesia saat ini (BKKBN, 2012). keluarga kecil bahagia sejahtera.
Salah satu upaya untuk mengendalikan laju Sasarannya adalah keluarga produktif
pertumbuhan penduduk melalui program dengan fokus utama adalah wanita
keluarga berencana (KB) yang mana pasangan usia subur (Sulistyawati, 2013).
paradigma baru program Keluarga Penggunaan alat kontrasepsi pada
Berencana Nasional telah diubah visinya wanita pasangan usia subur sangat penting
dari mewujudkan norma keluarga kecil karena dapat mengatur angka kelahiran dan
bahagia menjadi visi untuk mewujudkan jumlah anak dalam keluarga, membantu
“Keluarga Berkualitas tahun 2015” pemerintah mengurangi risiko ledakan
(Handayani, 2010). Keluarga yang penduduk, serta menjaga kesehatan wanita
berkualitas yakni keluarga yang sejahtera, usia subur (Syaifuddin, 2006).
sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah Berdasarkan laporan pencapaian
anak yang ideal, berwawasan luas, pelaksanaan program KB, peserta KB baru
bertanggung jawab, harmonis dan secara nasional tahun 2013 sebanyak
Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 5.547.543 peserta. Apabila dilihat per mix
(BKKBN, 2011). kontrasepsi maka persentasenya adalah
Perubahan visi tersebut sebagai berikut yakni 348.134 peserta IUD
dilatarbelakangi oleh negara berkembang (7,85%), 85.137 peserta tubektomi
di dunia yang saat ini sedang dihadapkan (1,53%), 475.463 peserta implan (8,57%),
pertumbuhan penduduk yang tinggi namun 2.748.777 peserta suntik (49,55%),
tidak diiringi dengan kualitas penduduk 1.458.464 peserta pil (26,29%), 9.375
yang baik atau meningkat sehingga peserta vasektomi (0,25%), dan 330.303
pertumbuhan penduduk yang tidak peserta kondom (5,95%) (BKKBN, 2013).
terkendali dan tidak diimbangi dengan Mayoritas peserta KB baru tahun 2013
kualitas penduduk yang baik maka akan didominasi oleh peserta KB yang bukan
menjadi beban ekonomi, pembangunan atau tidak menggunakan Metode
sebuah negara, dan kondisi sosial (Suandi, Kontrasepsi Jangka Panjang (Non MKJP)
2010). yaitu sebesar 81,79% dari seluruh peserta
Menurut undang – undang no. 10 KB baru. Sedangkan peserta KB baru yang
tahun 1992, keluarga berencana (KB) menggunakan metode jangka panjang
merupakan upaya peningkatan kepedulian seperti IUD, tubektomi, vasektomi dan
masyarakat dalam mewujudkan keluarga implant hanya sebesar 18,19% (BKKBN,
kecil yang bahagia sejahtera. Keluarga 2013).
Berencana (family planning atau planned Berdasarkan data sekunder capaian
parenthood) merupakan suatu usaha peserta KB baru dari Dinas Pengendalian
menjarangkan atau merencanakan jumlah Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, dan
dan jarak kehamilan dengan menggunakan Perlindungan Anak (DP5A) Kota
kontrasepsi (Sulistyawati, 2013). Surabaya tahun 2012 sampai 2016
Tujuan umum program KB ialah menunjukan capaian peserta KB baru
membentuk keluarga kecil sesuai dengan MKJP khususnya IUD cenderung
kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga, mengalami penurunan mulai tahun 2013
dengan cara pengaturan kelahiran anak hingga 2015. Pada tahun 2012 capaian
agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan peserta KB baru IUD mencapai 7,94%
sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan yang mana pada tahun 2012 tersebut
hidupnya. Program KB mempunyai target penggunaan IUD sebesar 9,80%
kontribusi penting dalam upaya sehingga pada tahun 2012 ini proporsi
3
penggunaan IUD masih belum mencapai tahun ini memprioritaskan peningkatan
target yang telah ditentukan. Pada tahun kesertaan KB jangka panjang, karena
2012 hingga 2013 capaian proporsi keefektifan yang tinggi mencegah
penggunaan IUD mengalami peningkatan kehamilan. Strategi pemerintah dalam
menjadi 10,10% yang mana capaian memprioritaskan MKJP merupakan salah
tersebut telah melebihi target proporsi satu terobosan yang cukup strategis dalam
penggunaan IUD pada tahun 2013 yakni penanggulangan masalah kependudukan,
sebesar 8,50%. Namun, selanjutnya pada terutama dalam hal pengendalian
tahun 2013 hingga 2014, capaian proporsi penduduk penduduk (BKKBN, 2011).
IUD mengalami penurunan menjadi Selain mengendalikan jumlah penduduk
8,46% yang mana capaian tersebut belum secara efektif dan berkepanjangan,
mencapai target proposi penggunaan IUD program KB melalui MKJP juga
yang telah ditentukan yakni sebesar bermanfaat untuk mewujudkan akses
13,35% pada tahun 2014. kesehatan reproduksi bagi semua pasangan
Pada tahun 2014 hingga 2015 juga usia subur (BKKBN, 2011).
mengalami penurunan kembali capaian Pemerintah telah menerapkan
proporsi penggunaan IUD yakni menjadi berbagai strategi untuk meningkatkan
8,2% yang mana capaian tersebut telah penggunaan kontrasepsi IUD pada wanita
melampaui target proporsi penggunaan usia subur melalui pemberian pelayanan
IUD yang telah ditentukan pada tahun kontrasepsi secara gratis pada akseptor
2015 yakni sebesar 7,17%. Pada tahun kontrasepsi IUD, memberikan insentif
2015 menuju tahun 2016 capaian peserta kepada petugas atau kader KB,
KB baru IUD mengalami peningkatan memberikan kemudahan akses untuk
sebesar 0,64% sehingga capaian proporsi mendapatkan pelayanan kontrasepsi
penggunaan IUD pada tahun 2016 terutama IUD, dan kemudahan persyaratan
menjadi sebesar 8,96% namun capaian prosedur pelaksanaan IUD. Namun, hal ini
tersebut belum mencapai target proporsi tidak menjadi jaminan adanya peningkatan
penggunaan IUD yang telah ditentukan capaian akseptor kontrasepsi IUD
yakni sebesar 11,20%. Berikut grafik meskipun banyak terdapat pusat pelayanan
target dan capaian proporsi penggunaan kesejahteraan keluarga seperti Pusyan
IUD di 31 kecamatan di Surabaya Gatra yang dibawahi oleh BKKBN Prov.
berdasarkan data sekunder dari DP5A Jawa Timur, namun pelaporan data melalui
Kota Surabaya yang dapat dilihat pada DP5A Kota Surabaya.
gambar 1. Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera
(Pusyan Gatra) merupakan salah satu
tempat pelayanan bagi masyarakat yang
dibawahi oleh Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
Prov. Jawa Timur yang berlokasi di Jalan
Airlangga Surabaya. Pusyan Gatra
memiliki salah satu tujuan agar
masyarakat dapat mengakses layanan
kesehatan melalui program keluarga
Gambar 1. Proporsi Target dan Capaian berencana (KB).
IUD di 31 Kecamatan Kota Berdasarkan data sekunder dari
Surabaya Tahun 2012 – Pusyan Gatra, data terkait penggunaan
2016. IUD di Pusyan Gatra menunjukkan bahwa
Sehubungan dengan hal tersebut, proporsi penggunaan IUD mengalami
Badan Kependudukan dan Keluarga peningkatan sebesar 50% dari angka
Berencana Nasional (BKKBN) beberapa proporsi 20% pada tahun 2014 menjadi
4
40% pada tahun 2015. Namun, proporsi yang dimiliki (paritas) dengan
penggunaan IUD tahun 2016 mengalami penggunaan IUD pada Akseptor Baru
penurunan sebesar 6% dari proporsi IUD Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
tahun 2015 sehingga menjadi 34%. Oleh (MKJP) Tahun 2016 di Pusat Pelayanan
sebab itu, perlu ditinjau kembali apa saja Keluarga.
faktor yang berhubungan dengan
penggunaan IUD. METODE PENELITIAN
Freedman dalam Bulatao (1983) Penelitian ini merupakan penelitian
mengemukakan teori Determinants of kuantitatif yang bersifat analitik dengan
Supply, Demand, and Fertility Regulation. desain cross sectional. Penelitian ini
Teori tersebut menjelaskan bahwa dilaksanakan di Pusat Pelayanan Keluarga
terdapat beberapa faktor yang dapat Sejahtera (Pusyan Gatra) Badan
memengaruhi seseorang untuk Kependudukan dan Keluarga Berencana
menggunakan pengaturan kelahiran (BKKBN) Prov. Jawa Timur Jalan
melalui penggunaan metode atau alat Airlangga Surabaya. Sumber data
kontrasepsi antara lain karakteristik penelitian ini berupa data sekunder peserta
individu, demand for children, supply for baru Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
children, cost of fertility regulation, dan (MKJP) Tahun 2016.
motivasi pengaturan kelahiran. Penelitian ini menggunakan besar
Karakteristik individu meliputi usia, sampel yakni seluruh jumlah populasi
pendidikan, status pernikahan, dan pengguna atau akseptor baru Metode
sebagainya. Demand for children Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)
merupakan jumlah anak yang diinginkan periode Januari hingga Desember 2016 di
sedangkan supply for children merupakan Pusyan Gatra BKKBN Prov. Jawa Timur
jumlah anak hidup yang dimiliki (paritas). yakni sebesar 270 akseptor.
Cost of fertility regulation meliputi biaya Variabel bebas (independent
sosial, biaya psikologis, dan biaya variable) dalam penelitian ini ialah usia,
pelayanan kontrasepsi. Motivasi tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan
pengaturan kelahiran meliputi dukungan paritas. Variabel terikat (dependent
pasangan, dukungan keluarga, dan variabel) dalam penelitian ini ialah
dukungan pemberi pelayanan kesehatan penggunaan MKJP yang terbagi menjadi
atau pelayanan kontrasepsi. IUD dan non – IUD meliputi tubektomi
Berdasarkan latar belakang masalah dan implan.
tersebut di atas, maka peneliti ingin Analisis data untuk melihat hubungan
melakukan penelitian tentang faktor yang variabel bebas (independent variable)
berhubungan dengan penggunaan Intra yakni usia, tingkat pendidikan, status
Uterine Device (IUD) di Pusat Pelayanan pekerjaan, dan paritas dengan variabel
Keluarga Sejahtera (Pusyan Gatra) Tahun terikat (dependent variabel) yakni
2016. penggunaan Intra Uterine Device (IUD)
Pada penelitian ini, peneliti memiliki dengan menggunakan uji Chi – Square dan
keterbatasan penelitian yang mana tingkat kepercayaan sebesar 95% (𝛼 =
motivasi pengaturan kelahiran, cost of 0,05).
fertility regulation meliputi biaya sosial,
biaya psikologis, dan biaya pelayanan HASIL PENELITIAN
kontrasepsi, serta demand for children Selama periode Januari hingga
yakni jumlah anak yang diinginkan tidak Desember 2016, berdasarkan distribusi
diteliti. Peneliti hanya meneliti hubungan frekuensi jumlah pengguna atau akseptor
antara karakteristik akseptor yang baru Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
meliputi usia, tingkat pendidikan, dan (MKJP) yang melakukan kegiatan
status pekerjaan serta jumlah anak hidup pelayanan keluarga berencana (KB) di
5
Pusyan Gatra sebesar 270 akseptor. Jumlah Pada tabel 2 menunjukkan bahwa
akseptor tersebut terdiri atas 65 akseptor tidak terdapat akseptor baru MKJP yang
IUD (24,1%) dan 205 akseptor non – IUD menggunakan IUD maupun non – IUD
(75,9%). pada usia ≤20 tahun atau sebesar 00,0%.
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Akseptor Pada kategori usia 21 – 35 tahun, terdapat
Baru Metode Kontrasepsi akseptor baru MKJP yang menggunakan
Jangka Panjang (MKJP) Tahun IUD sebesar 19 akseptor (15,1%) dan
2016 di Pusyan Gatra. akseptor baru MKJP yang tidak
Akseptor Baru Frekuensi menggunakan IUD (non – IUD) sebesar
MKJP 𝑁 % 107 akseptor (84,9%). Pada kategori usia
IUD 65 24,1 >35 tahun, terdapat akseptor baru MKJP
Non–IUD 205 75,9 yang menggunakan IUD sebesar 46
Jumlah 270 100,0 akseptor (31,8%) dan akseptor baru MKJP
yang tidak menggunakan IUD (non – IUD)
Penggunaan Intra Uterine Device (IUD) sebesar 98 akseptor (68,1%).
Pada Akseptor Baru Metode
Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) Hubungan antara Usia Akseptor dengan
Berdasarkan Usia Penggunaan Intra Uterine Device (IUD)
Penggunaan Intra Uterine Device Pada Akseptor Baru Metode
(IUD) pada akseptor baru Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)
Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) Pada tabel 2 dapat dilihat bahwa
berdasarkan usia. Kategori usia akseptor hasil uji statistik Chi – Square
baru MKJP didasarkan pada usia menunjukkan ada hubungan yang
reproduktif yang tidak memiliki resiko bermakna antara usia dengan penggunaan
tinggi saat hamil dan melahirkan yakni usia IUD pada akseptor baru MKJP tahun 2016
21 – 35 tahun dan usia non – produktif di Pusyan Gatra sebab besar p – value
yang memiliki resiko tinggi saat hamil dan (0,002) < α (0,05) dengan tingkat
melahirkan yakni usia ≤20 tahun dan >35 hubungan sebesar 0,197.
tahun.

Tabel 2. Penggunaan IUD Pada Akseptor Baru Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)
Berdasarkan Usia Tahun 2016 di Pusyan Gatra.
IUD Non – IUD Jumlah
Variabel p – value
N % N % N %
≤20 tahun 0 00,0 0 00,0 0 00,0
Usia 21 – 35 tahun 19 15,1 107 84,9 126 100,0 0,002
> 35 tahun 46 31,9 98 68,1 144 100,0
Jumlah 65 24,1 205 75,9 270 100,0

Penggunaan Intra Uterine Device (IUD) oleh akseptor yakni tingkat pendidikan
Pada Akseptor Baru Metode rendah dan tingkat pendidikan tinggi.
Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) Tingkat pendidikan rendah terdiri atas
Berdasarkan Tingkat Pendidikan tamat SD atau sederajat dan tamat SMP
Penggunaan Intra Uterine Device atau sederajat, sedangkan tingkat
(IUD) pada akseptor baru Metode pendidikan tinggi terdiri atas tamat SMA
Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) atau sederajat dan tamat diploma atau
berdasarkan tingkat pendidikan yang mana sarjana atau sederajat.
karakteristik tingkat pendidikan akseptor Pada tabel 3 menunjukkan bahwa
baru MKJP dibagi berdasarkan tingkat pada kategori tingkat pendidikan rendah,
pendidikan formal yang telah ditamatkan terdapat akseptor baru MKJP yang
6
7

menggunakan IUD sebesar 31 akseptor Device (IUD) Pada Akseptor Baru


(25,2%) dan akseptor baru MKJP yang Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
tidak menggunakan IUD (non – IUD) (MKJP)
sebesar 92 akseptor (74,8%). Pada kategori Pada tabel 3 dapat dilihat bahwa
tingkat pendidikan tinggi, terdapat akseptor hasil uji statistik Chi – Square
baru MKJP yang menggunakan IUD menunjukkan tidak ada hubungan yang
sebesar 34 akseptor (23,1%) dan akseptor bermakna antara tingkat pendidikan
baru MKJP yang tidak menggunakan IUD akseptor dengan penggunaan IUD pada
(non – IUD) sebesar 113 akseptor (76,9%). akseptor baru MKJP tahun 2016 di Pusyan
Gatra sebab besar p – value (0,799) > α
Hubungan antara Tingkat Pendidikan (0,05).
dengan Penggunaan Intra Uterine

Tabel 3. Penggunaan IUD Pada Akseptor Baru Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)
Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2016 di Pusyan Gatra.
IUD Non – IUD Jumlah
Variabel p – value
N % N % N %
Tingkat Rendah 31 25,2 92 74,8 123 100,0
0,799
Pendidikan Tinggi 34 23,1 113 76,9 147 100,0
Jumlah 65 24,1 205 75,9 270 100,0

Penggunaan Intra Uterine Device (IUD) menggunakan IUD (non – IUD) sebesar 94
Pada Akseptor Baru Metode akseptor (70,7%). Pada kategori bekerja,
Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) terdapat akseptor baru MKJP yang
Berdasarkan Status Pekerjaan menggunakan IUD sebesar 26 akseptor
Penggunaan Intra Uterine Device (19,0%) dan akseptor baru MKJP yang
(IUD) pada akseptor baru Metode tidak menggunakan IUD (non – IUD)
Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) sebesar 111 akseptor (81,0%).
berdasarkan status pekerjaan digolongkan
menjadi kategori tidak bekerja dan bekerja. Hubungan antara Status Pekerjaan
Kategori tidak bekerja apabila akseptor dengan Penggunaan Intra Uterine
tersebut tergolong ibu rumah tangga (IRT) Device (IUD) Pada Akseptor Baru
dan kader, sedangkan kategori bekerja Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
apabila akseptor tersebut bekerja sebagai (MKJP)
karyawan swasta, pegawai negeri sipil Pada tabel 4 dapat dilihat bahwa
(PNS), tenaga kesehatan seperti dokter dan hasil uji statistik Chi – Square
bidan, tenaga pendidik seperti guru dan menunjukkan tidak ada hubungan yang
dosen, serta cleaning service, dan buruh.
bermakna antara status pekerjaan akseptor
Pada tabel 4 menunjukkan bahwa
pada kategori tidak bekerja, terdapat dengan penggunaan IUD pada akseptor
akseptor baru MKJP yang menggunakan baru MKJP tahun 2016 di Pusyan Gatra
IUD sebesar 39 akseptor (29,3%) dan sebab besar p – value (0,065) > α (0,05).
akseptor baru MKJP yang tidak
8

Tabel 4. Penggunaan IUD Pada Akseptor Baru Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)
Berdasarkan Status Pekerjaan Tahun 2016 di Pusyan Gatra.
IUD Non – IUD Jumlah
Variabel p – value
N % N % N %
Status Tidak Bekerja 39 29,3 94 70,7 133 100,0
0,065
Pekerjaan Bekerja 26 19,0 111 81,0 137 100,0
Jumlah 65 24,1 205 75,9 270 100,0

Penggunaan Intra Uterine Device (IUD) paritas >2 anak, terdapat akseptor baru
Pada Akseptor Baru Metode MKJP yang menggunakan IUD sebesar 38
Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) akseptor (35,5%) dan akseptor baru MKJP
Berdasarkan Paritas yang tidak menggunakan IUD (non – IUD)
Penggunaan Intra Uterine Device sebesar 69 akseptor (64,5%).
(IUD) pada akseptor baru Metode
Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) Hubungan antara Paritas dengan
berdasarkan paritas atau jumlah anak hidup Penggunaan Intra Uterine Device (IUD)
yang dimiliki akseptor baru MKJP Pada Akseptor Baru Metode
didasarkan pada batasan jumlah anak yang Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)
dianjurkan oleh BKKBN yakni 2 (dua) Pada tabel 5 dapat dilihat bahwa
anak. hasil uji statistik Chi – Square
Pada tabel 5 menunjukkan bahwa menunjukkan ada hubungan yang
pada kategori paritas ≤2 anak, terdapat
bermakna antara paritas dengan
akseptor baru MKJP yang menggunakan
IUD sebesar 27 akseptor (16,6%) dan penggunaan IUD pada akseptor baru
akseptor baru MKJP yang tidak MKJP tahun 2016 di Pusyan Gatra sebab
menggunakan IUD (non – IUD) sebesar besar p – value (0,001) < α (0,05) dengan
136 akseptor (83,4%). Pada kategori tingkat hubungan sebesar 0,217.

Tabel 5. Penggunaan IUD Pada Akseptor Baru Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)
Berdasarkan Status Pekerjaan Tahun 2016 di Pusyan Gatra.
IUD Non – IUD Jumlah
Variabel p – value
N % N % N %
≤2 anak 27 16,6 136 83,4 163 100,0
Paritas 0,001
>2 anak 38 35,5 69 64,5 107 100,0
Jumlah 65 24,1 205 75,9 270 100,0

PEMBAHASAN Demand, and Fertility Regulation yang


Hubungan antara Usia Akseptor dengan dikemukakan oleh Freedman dalam
Penggunaan Intra Uterine Device (IUD) Bulatao (1983) dinyatakan bahwa usia
Pada Akseptor Baru Metode dapat memengaruhi seseorang terutama
Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) wanita untuk mengatur kelahiran melalui
Berdasarkan hasil penelitian penggunaan alat kontrasepsi salah satunya
menunjukkan ada hubungan yang IUD.
bermakna antara usia dengan penggunaan Penelitian ini sejalan dengan
IUD pada akseptor baru MKJP tahun 2016 penelitian yang dilakukan oleh Bernadus
di Pusyan Gatra sebab besar p – value dan kawan – kawan (2013) di Puskesmas
(0,002) < α (0,05) pada uji Chi – Square Jailolo yang menyatakan bahwa terdapat
dengan kuat hubungan sebesar 0,197. hubungan yang bermakna antara usia
Pada teori Determinants of Supply, responden dengan pemilihan AKDR sebab
9

hasil uji statistik chi – square, besar p – bermakna antara usia wanita usia subur
value (0,000) < α (0,05). (WUS) dengan penggunaan IUD sebab
Bernadus (2013) menambahkan hasil uji statistik chi – square diperoleh p
bahwa dalam pemilihan kontrasepsi IUD, – value (0,208) > α (0,05).
responden yang berusia >20 tahun
memiliki peluang sebesar 1,878 kali dalam Hubungan antara Tingkat Pendidikan
pemilihan AKDR jika dibandingkan Akseptor dengan Penggunaan Intra
dengan usia ≤20 tahun sebab responden Uterine Device (IUD) Pada Akseptor
yang berusia >20 tahun memiliki fisik Baru Metode Kontrasepsi Jangka
kesehatan reproduksi yang sudah matang. Panjang (MKJP)
Akseptor yang berusia >20 tahun Berdasarkan hasil penelitian
merupakan masa – masa untuk menunjukkan tidak ada hubungan yang
menjarangkan dan mencegah kehamilan bermakna antara tingkat pendidikan
sehingga pilihan kontrasepsi lebih dengan penggunaan IUD pada akseptor
diutamakan memilih metode kontrasepsi baru MKJP tahun 2016 di Pusyan Gatra
jangka panjang, salah satunya AKDR sebab besar p – value (0,799) > α (0,05)
tersebut. pada uji Chi – Square.
Penelitian ini juga sejalan dengan Penelitian ini juga sejalan dengan
penelitian yang telah dilakukan di penelitian yang telah dilakukan di
Puskesmas Tuminting, Manado oleh Puskesmas Tuminting, Manado oleh
Marikar dan kawan – kawan (2015) yang Marikar dan kawan – kawan (2015) yang
menyatakan bahwa terdapat hubungan menyatakan bahwa tidak terdapat
antara usia dengan penggunaan AKDR hubungan antara tingkat pendidikan
sebab hasil uji statistik chi – square, besar responden dengan penggunaan AKDR
p – value (0,034) < α (0,05). Marikar, dkk sebab hasil uji statistik chi – square, besar
(2015) menambahkan bahwa responden p – value (0,294) > α (0,05).
yang berusia ≥30 tahun lebih banyak Hasil penelitian ini tidak sejalan
menggunakan AKDR jika dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh
dengan responden yang berusia kurang Bernadus dan kawan – kawan (2013) di
dari 30 tahun. Puskesmas Jailolo yang menyatakan
Usia memiliki hubungan dan dapat bahwa terdapat hubungan yang bermakna
mempengaruhi wanita usia subur (WUS) antara tingkat pendidikan akseptor dengan
dalam memilih alat kontrasepsi sebab pemilihan AKDR sebab hasil uji statistik
semakin bertambahnya usia, maka chi – square, besar p – value (0,002) < α
semakin lebih memilih tingkat efektifitas (0,05). Bernadus (2013) menambahkan
metode kontrasepsi yang tingkat bahwa dalam pemilihan kontrasepsi IUD,
efektifitasnya tinggi untuk mengatur jarak responden yang berpendidikan tinggi
kehamilan dan menjarangkan kehamilan. memiliki peluang sebesar 0,102 kali dalam
Metode kontrasepsi harus pemilihan AKDR daripada responden
mempertimbangkan usia akseptor sebab yang berpendidikan rendah. Tingkat
ketika akseptor berusia lebih dari 35 tahun pendidikan ini tidak hanya memengaruhi
maka lebih efektif menggunakan metode kerelaan responden untuk mengatur jarak
kontrasepsi jangka panjang (MKJP) yang kehamilan dan jarak kelahiran, tetapi juga
salah satunya ialah AKDR (Marikar, dapat memengaruhi responden untuk
2015). memilih suatu metode pengaturan
Hasil penelitian ini tidak sejalan kelahiran yang paling efektif dan efisien.
dengan penelitian yang dilakukan oleh Penelitian ini juga kurang sejalan
Elviani (2015) di Puskesmas Siderejo dengan teori Determinants of Supply,
Kota Lubuklinggau yang menyatakan Demand, and Fertility Regulation yang
bahwa tidak terdapat hubungan yang dikemukakan oleh Freedman dalam
10

Bulatao (1983) dinyatakan bahwa Hasil penelitian ini kurang sejalan


karakteristik individu, salah satunya dengan teori Determinants of Supply,
tingkat pendidikan dapat memengaruhi Demand, and Fertility Regulation yang
seseorang terutama wanita untuk mengatur dikemukakan oleh Freedman dalam
kelahiran melalui penggunaan alat Bulatao (1983) dinyatakan bahwa
kontrasepsi salah satunya IUD. karakteristik responden salah satunya
Pendidikan juga dapat memengaruhi pekerjaan dapat mempengaruhi seseorang
calon akseptor untuk memilih metode terutama wanita untuk mengatur kelahiran
kontrasepsi yang akan digunakan melalui penggunaan alat kontrasepsi, salah
(Bernadus, 2013). Semakin tinggi satunya IUD. Apabila seseorang tersebut
pendidikan yang telah ditempuh, maka memiliki pekerjaan maka hal tersebut
semakin tinggi pula pengetahuan yang dapat menunjang biaya yang nantinya
dimiliki sehingga calon akseptor dapat akan dikeluarkan seseorang untuk
mengambil keputusan yang terbaik dalam mendapatkan pelayanan kontrasepsi (cost
hal menunda kehamilan, mengatur jarak of fertility regulation) sehingga nantinya
kelahiran, dan menjarangkan kelahiran seseorang akan dapat menggunakan alat
(Bernadus, 2013). kontrasepsi untuk mengatur jarak
kelahiran dan menjarangkan kelahiran.
Hubungan antara Status Pekerjaan
Akseptor dengan Penggunaan Intra Hubungan antara Paritas Akseptor
Uterine Device (IUD) Pada Akseptor dengan Penggunaan Intra Uterine
Baru Metode Kontrasepsi Jangka Device (IUD) Pada Akseptor Baru
Panjang (MKJP) Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
Berdasarkan hasil penelitian (MKJP)
menunjukkan tidak ada hubungan yang Berdasarkan hasil penelitian
bermakna antara status pekerjaan dengan menunjukkan terdapat hubungan yang
penggunaan IUD pada akseptor baru bermakna antara paritas atau jumlah anak
MKJP tahun 2016 di Pusyan Gatra sebab hidup yang dimiliki dengan penggunaan
besar p – value (0,065) < α (0,05) pada uji IUD pada akseptor baru MKJP tahun 2016
Chi – Square. di Pusyan Gatra sebab besar p – value
Hasil penelitian ini sejalan dengan (0,001) < α (0,05) pada uji Chi – Square
penelitian yang dilakukan oleh Bernadus dengan kuat hubungan sebesar 0,217.
dan kawan – kawan (2013) di Puskesmas Hasil ini sejalan dengan hasil
Jailolo yang menyatakan bahwa tidak penelitian yang telah dilakukan oleh
terdapat hubungan yang bermakna antara Manurung (2012) yang menyebutkan
pekerjaan dengan pemilihan AKDR sebab bahwa paritas berpengaruh dalam
hasil uji statistik chi – square, besar p – pemilihan KB IUD terutama pada
value (0,091) > α (0,05). Bernadus (2013) akseptor yang telah memiliki anak lebih
menambahkan bahwa pekerjaan sehari – dari 2 anak.
hari yang dilakukan oleh responden baik Pada teori Determinants of Supply,
tergolong bekerja maupun tidak bekerja Demand, and Fertility Regulation yang
tidak memengaruhi akseptor dalam dikemukakan oleh Freedman dalam
memilih metode kontrasepsi, salah Bulatao (1983) dinyatakan bahwa paritas
satunya IUD sebab metode kontrasepsi ini atau jumlah anak hidup yang dimiliki
tidak mengganggu aktivitas sehari – hari termasuk dalam supply of children. Supply
akseptor. Di dalam hasil penelitian of Children ini dapat memengaruhi
tersebut, sebagian responden tidak seseorang terutama wanita untuk mengatur
bekerja, terbanyak ibu rumah tangga kelahiran melalui penggunaan alat
dengan aktivitas sehari – hari dilakukan di kontrasepsi salah satunya IUD. Semakin
rumah, kebun, dan berdagang di pasar. banyak jumlah anak hidup yang dimiliki,
11

maka semakin besar pula peluang untuk square, didapatkan hasil p – value
seseorang mengatur jarak antar kelahiran. (0,001) < α (0,05) artinya terdapat
Hasil penelitian ini tidak sejalan hubungan yang bermakna antara
dengan hasil penelitian yang dilakukan paritas atau jumlah anak hidup yang
oleh Elviani (2015) di Puskesmas Siderejo dimiliki akseptor dengan dengan
Kota Lubuklinggau yang menyatakan penggunaan Intra Uterine Device
bahwa tidak terdapat hubungan yang (IUD) di Pusat Pelayanan Keluarga
bermakna antara status paritas wanita usia Sejahtera (Pusyan Gatra) Tahun 2016.
subur (WUS) dengan penggunaan IUD
sebab hasil uji statistik chi – square Berdasarkan kesimpulan tersebut di
diperoleh p – value (1,000) > α (0,05). atas, diharapkan bagi petugas lapangan
Elviani (2015) menambahkan bahwa keluarga berencana (PLKB) Pusyan Gatra,
akseptor yang memiliki jumlah anak hidup kader keluarga berencana (KB), tenaga
yang dimiliki (paritas) lebih dari 2, maka kesehatan, pemberi pelayanan kesehatan
akan lebih cenderung mengalami resiko terutama pemasangan alat kontrasepsi,
tinggi saat hamil dan melahirkan. maupun para pemangku kebijakan terkait
dengan program keluarga berencana (KB)
SIMPULAN DAN SARAN agar lebih meningkatkan capaian
penggunaan Intra Uterine Device (IUD)
Simpulan melalui pemilihan usia dan paritas calon
Berdasarkan hasil penelitian dan akseptor. Ketika wanita usia subur (WUS)
pembahasan yang telah dilakukan, maka telah berusia lebih dari 35 tahun dan telah
dapat disimpulkan sebagai berikut: memiliki jumlah anak hidup (paritas) lebih
1. Berdasarkan hasil uji statistik chi – dari 2 serta belum menggunakan alat
square, didapatkan hasil p – value kontrasepsi jangka panjang (MKJP), maka
(0,002) < α (0,05) artinya terdapat lebih diberikan motivasi dan arahan untuk
hubungan yang bermakna antara usia mengikuti program keluarga berencana
akseptor dengan dengan penggunaan (KB) yang salah satunya penggunaan IUD
Intra Uterine Device (IUD) di Pusat untuk mengatur jarak kehamilan serta
Pelayanan Keluarga Sejahtera menjarangkan kehamilan dan kelahiran.
(Pusyan Gatra) Tahun 2016.
2. Berdasarkan hasil uji statistik chi – DAFTAR PUSTAKA (Reference)
square, didapatkan hasil p – value
(0,799) > α (0,05) artinya tidak 1. Badan Kependudukan dan Keluarga
terdapat hubungan yang bermakna Berencana Nasional. 2011. Kajian
antara tingkat pendidikan akseptor Implementasi Kebijakan Penggunaan
dengan dengan penggunaan Intra Kontrasepsi IUD. Jakarta: BKKBN.
Uterine Device (IUD) di Pusat 2. Badan Kependudukan dan Keluarga
Pelayanan Keluarga Sejahtera Berencana Nasional. 2012. Kebijakan
(Pusyan Gatra) Tahun 2016. Nasional Kependudukan & Keluarga
3. Berdasarkan hasil uji statistik chi – Berencana. Jakarta: BKKBN.
square, didapatkan hasil p – value 3. Badan Kependudukan dan Keluarga
(0,065) > α (0,05) artinya tidak Berencana Nasional. 2013. Hasil
terdapat hubungan yang bermakna Pelaksanaan Sub Sistem Pencatatan
antara status pekerjaan akseptor dan Pelaporan Pelayanan
dengan dengan penggunaan Intra Kontrasepsi. Jakarta: BKKBN.
Uterine Device (IUD) di Pusat 4. Badan Pusat Statistik. 2010. Laju
Pelayanan Keluarga Sejahtera Pertumbuhan Penduduk. (Online)
(Pusyan Gatra) Tahun 2016. [Link] (Diakses
4. Berdasarkan hasil uji statistik chi – tanggal 25 Mei 2017).
12

5. Bernadus, J. D, Madianung, A. & 10. Marikar, A. P. K., Kundre R., &


Masi, G., 2013. Faktor – Faktor yang Bataha Y., 2015. Faktor – Faktor yang
Berhubungan dengan Pemilihan Alat Berhubungan dengan Minat Ibu
Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) Terhadap Penggunaan Alat
bagi Akseptor KB di Puskesmas Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) di
Jailolo. Jurnal e-NERS, 1(1): 1- 10. Puskesmas Tuminting Kota Manado.
6. Bulatao, R. A. & Ronald D. L., 1983. e–Journal Keperawatan, 3(2): 1 – 6.
Determinants of Fertility in 11. Sugiyono, 2011. Metode Penelitian
Developing Countries volume 2. New Kuantitatif Kualitatif dan R&D.
York: Harcourt Brace Jovanovich Bandung: Alfabeta.
Publisher. 12. Sulistyawati. 2013. Pelayanan
7. Elviani, Y., 2015. Hubungan Usia dan Keluarga Berencana. Jakarta:
Partus Terhadap Penggunaan Salemba Medika.
Kontrasepsi Intra Uteri Device (IUD) 13. Syaifuddin, A. B., 2006. Pelayanan
di Wilayah Kerja Puskesmas Sidorejo Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Kota Lubuklinggau Tahun 2011. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
(Online) 14. Suandi. 2010. Analisis Pengaruh
[Link] Sosial Ekonomi Demografi Rumah
wp-content/uploads/2015/11/[Link] Tangga Terhadap Kesehatan
(Diakses tanggal 25 Mei 2017). Reproduksi di Prov. Jambi (Analysis
8. Handayani, S. 2010. Buku Ajar Data SDKI Tahun 2007). Jurnal
Pelayanan Keluarga Berencana. Penelitian Universitas Jambi Seri
Yogyakarta: Pustaka Rihama. Humaniora, 12(2): 63 – 70.
9. Manurung, P. M., Fitria, M. & 15. Undang – Undang Republik Indonesia
Santosa, H., 2012. Analisis Faktor No.10 Tahun 1992 Tentang
yang Memengaruhi Akseptor KB Perkembangan Kependudukan dan
dalam Memilih Alat Kontrasepsi IUD Pembangunan Keluarga Sejahtera.
di Desa Wonosari Kecamatan Tanjung (Online)
Morawa Kabupaten Deli Serdang [Link]
Tahun 2012. Skripsi Tidak ta/detail/4584/node/667/undangundan
Diterbitkan. Sumatera Utara: Fakultas g-nomor-10-tahun-1992 (Diakses
Kesehatan Masyarakat Universitas tanggal 30 Mei 2017).
Sumatera Utara.

You might also like