GEODESI
Outline
1. PENGANTAR GEODESI
2. SISTEM KOORDINAT
1. Sistem dan Kerangka Referensi Koordinat
2. Datum Geodetik
3. Bentuk-bentuk Koordinat
4. Datum Vertikal
3. TRANSFORMASI KOORDINAT
I. PENGANTAR GEODESI
1. DEFINISI GEODESI (a)
Ilmu tentang pengukuran
dan pemetaan permukaan
bumi (definisi klasik dari
HELMERT (1880)),
mencakup permukaan dasar
laut (TORGE, 1980)
1. DEFINISI GEODESI (b)
Disiplin ilmu yang mempelajari tentang :
pengukuran dan perepresentasian dari
Bumi dan benda-benda langit lainnya,
termasuk medan gayaberatnya
masing-masing, dalam ruang tiga
dimensi yang berubah dengan waktu.
(definisi modern, IAG(International
Association of Geodesy), Rinner 1979)
1. DEFINISI GEODESI (c)
Secara umum bidang kajian Ilmu
Geodesi meliputi :
Penentuan Posisi
(Horisontal/Vertikal)
Penentuan medan gayaberat
bumi
Variasi temporal dari posisi dan
medan gayaberat
Pemetaan (Darat/Laut/Udara) 4
Medan Gayaberat Bumi
PETA INDEKS DATA GAYABERAT AIRBORNE
Variasi Temporal Posisi
Pergerakan Lempeng
Tektonik
Susilo, 2015
PETA
PETA adalah Gambaran Permukaan Bumi
Yang diproyeksikan ke
bidang
datar dengan skala tertentu
Contoh Peta
INFORMASI KOORDINAT PADA PETA
Lintang : 0207’30” S
Bujur : 13752’30” T
1 : 10.000
X : 819831 m
Y : 9764824 m
2. BENTUK DAN UKURAN BUMI
[Link]
Bentuk Bumi tidak beraturan,
sehingga sulit untuk melakukan
perhitungan terkait dengan
geometri (Jarak, Arah, Sudut,
Luasan, Posisi (Koordinat).
2. BENTUK DAN UKURAN BUMI (a)
Untuk dapat melakukan perhitungan
geometrik, maka bumi didekati dengan
model matematik (Bola atau ellipsoid)
Pendekatan model matematik geometrik
bumi telah berevolusi dari abad-ke-abad,
Model Bumi Bola
hingga menjadi lebih baik (mendekati
bentuk fisik sebenarnya), mulai dari
model bumi sbg bidang datar , Bola
hingga ellips putar (ellipsoid),
Model Bumi Ellipsoid (Ellip putar
2. BENTUK DAN UKURAN BUMI (b)
2. BENTUK DAN UKURAN BUMI (c)
Hasanuddin, ZA
2. BENTUK DAN UKURAN BUMI (d)
Hasanuddin, ZA
3. Ellipsoid
Model matematis bumi, agar bisa
dilakukan perhitungan numerik
(Koordinat, Jarak, Sudut, arah, luasan
dll.
a = setengah sumbu panjang
b = setengah sumbu pendek
Penggepengan =
Eksentrisitas =
3. Ellipsoid Yang Pernah digunakan Di Indonesia
Tahun 1860: menggunakan ellipsoid Bessel 1841
Tahun 1974: menggunakan ellipsoid GRS-67
(disebut Speroid
Nasional Indoneisa (SNI))
Tahun 1995: menggunakan Ellipsoid referensi
(global) WGS84
Tahun 2013 sd sekarang: menggunakan Ellipsoid
referensi (global) WGS84
Bentuk Permukaan Bumi
4. GEOID
Geoid adalah bidang
equipotensial gayaberat
yang terletak pada muka
air laut rata-rata ideal
Geoid merupakan
representasi model fisik
bumi
Jarak geoid terhadap
ellipsoid disebut Undulasi
geoid (N).
GEOID WILAYAH INDONESIA
[Link]
5. ASTRONOMI GEODESI (a)
Astronomi Geodesi ialah metode
tertua dalam penentuan posisi
(Lintang dan Bujur) dengan
menggunakan bantuan benda-
benda langit (Bintang, Matahari)
yang telah diketahui
koordinatnya.
Penentuan Posisi di bumi
dilakukan dengan mengamati
posisi sebuah bintang atau
matahari terhadap bumi pada
satu saat tertentu.
5. ASTRONOMI GEODESI (b)
Sistem Astronomi Geodesi
berbasiskan pada
pengamatan bintang, yang
telah diketahui koordinatnya
yang digunakan sebagai basis
dalam pengukuran.
Metoda ini telah digunakan
sejak 1884 untuk penentuan
posisi (Lintang dan Bujur)
serta Azimut antar dua titik di
permukaan bumi.
5. ASTRONOMI GEODESI (c)
Dalam penentuan posisi dengan cara
astronomi :
Parameter yang diketahui :
Lintang , Bujur Bintang yang diamati
Deklinasi
Jari-jari bumi
Assensiorekta
Tinggi Pengamatan
Besaran yang diukur :
Sudut zenith dan bintang.
Sudut waktu.
Waktu.
Temperatur dan tekanan udara.
6. SISTEM WAKTU (a)
Hasanuddin, ZA
f. SISTEM WAKTU (b)
f. SISTEM WAKTU (c)
Hasanuddin, ZA 2001
II. SISTEM KOORDINAT
II. SISTEM KOORDINAT
Secara kuantitatif posisi suatu titik dinyatakan dengan
koordinat, baik dalam 1D, 2D, 3D, ataupun 4D.
Koordinat tidak hanya memberikan deskripsi kuantitatif
tentang posisi, tapi juga pergerakan (trayektori) suatu titik.
Sistem koordinat memudahkan pendeskripsian,
perhitungan, dan analisa, baik yang sifatnya geometrik
maupun dinamik.
Untuk menjamin adanya konsistensi dan standarisasi, perlu
ada suatu sistem dalam menyatakan koordinat ( Sistem
Koordinat)
Hasanuddin Z. Abidin, 1997
1. Parameter Sistem Referensi Koordinat
Lokasi titik nol dari sistem koordinat :
Titik Pusat Bumi (Geosentrik)
Permukaan Bumi (Toposentrik)
Orientasi dari sumbu-sumbu koordinat :
Terikat Langit (Space Fix)
Terikat Bumi (Earth Fix)
Besaran (kartesian, curvilinear) yang digunakan untuk
mendefiniskan posisi suatu titik dalam sistem koordinat
tersebut :
Jarak (Koordinat Kartesian X,Y,Z)
Jarak dan Sudut (Koordinat Geodetik L, B, h)
Hasanuddin, ZA 2001
Koordinat Geosentrik, Geodetik dan Toposentrik
Z A
Kutub Permukaan
hA Bumi
Greenwich Koordinat Kartesian :
ZA (XA,YA,ZA)
Pusat Y
Bumi
A Koordinat Geodetik :
A XA
YA (A,A,hA)
X
Elipsoid referensi
stem Koordinat GEOSENTRIK dan GEODETIK
Sistem Koordinat TOPOSENTRIK
Hasanuddin, ZA 2001
Hubungan Koordinat Geosentrik dengan Koordinat
Geodetik
Hasanuddin, ZA 2001
Koordinat Proyeksi Peta
Bumi Peta (Bid. Datar)
Beberapa
Proyeksi Jenis Proyeksi
Peta:
- Mercator
- Polieder
- UTM
- TM3
Posisi titik - titik diatas permukaan bumi (dalam hal ini diatas ellipsoid referensi ),
apabila akan digambar diatas peta maka harus di transformasikan ke sistem koordinat
proyeksi peta. Contoh koordinat dalam geografi, UTM dan TM3
Datum Geodetik GEOSENTRIK
DATUM GEODETIK
Adalah Pendefinisian
Ellipsoid Referensi dan
Hubungannya dengan
Bumi (koordinat
Convensional Terestrial
Sistem (XE, YE, ZE)
Hasanuddin, ZA 2001
8 Parameter Datum Geodetik GEOSENTRIK
Hasanuddin, ZA 2001
Datum Geodetik TOPOSENTRIK
Hasanuddin, ZA 2001
8 Parameter Datum Geodetik TOPOSENTRIK
Hasanuddin, ZA 2001
DATUM LOKAL dan DATUM GLOBAL
DATUM GLOBAL
(GEOSENTRIK DATUM)
contoh WGS84 dan ITRF
DATUM LOKAL
(TOPOSENTRIK DATUM)
Contoh : ID-74, Genuk
Dll
Hasanuddin, ZA 2001
Datum Lokal
Hasanuddin, ZA 2001
Perbedaan Datum
Hasanuddin, ZA 2001
2. Sistem dan Kerangka Referensi Koordinat
SISTEM REFERENSI adalah Sistem (termasuk teori, konsep, deskripsi
fisis dan geometris, serta standar dan parameter) yang digunakan
dalam pendefinisian koordinat.
KERANGKA REFERENSI dimaksudkan sebagai realisasi praktis dari
sistem referensi, sehingga sistem tersebut dapat digunakan untuk
pendeskripsian secara kuantitatif posisi dan pergerakan titik-titik,
baik di permukaan bumi (kerangka terestris) ataupun di luar bumi
(kerangka selestia atau ekstra-terestris).
Kerangka referensi biasanya direalisasikan dengan
melakukan pengamatan-pengamatan geodetik, dan
umumnya direpresentasikan dengan menggunakan
suatu set koordinat dari sekumpulan titik maupun
obyek (seperti bintang dan quasar). Hasanuddin, ZA 2001
SISTEM dan KERANGKA REFERENSI GLOBAL
International Terestrial Reference System
(ITRS) adalah sistem referensi global
International Terestrial Reference Frame
(ITRF) adalah Kerangka Referensi global
World Geodetic System 84 (WGS84)
adalah sistem dan kerangka referensi
global
INTERNASIONAL TERRESTRIAL REFERENCE FRAME
INTERNASIONAL TERRESTRIAL REFERENCE FRAME
World Geodetic System (WGS) - 1984
DATUM VERTIKAL
Datum Vertikal adalah Suatu bidang yang digunakan
sebagai Referensi dalam Penentuan Tinggi.
Beberapa bidang referensi yang dapat digunakan
sebagai Referensi Tinggi :
Geoid
Ellipsoid
MSL (Mean Sea Level)
HAT (Higest Astronomical Tide)
LAT (Lowest Astronomical Tide)
HUBUNGAN REFERENSI TINGGI
BM Pasut
Hb0 : Tinggi BM ke 0 palem
heBM HAT
MSL he_0Palem = heBM – Hb0
MSL_Geoid Kg = N – he0Palem
Geoid
LAT MSL_Geoid = MSL_0palem - K
KgMSL_0plem LAT_Geoid = LAT_0palem - K
HAT_Geoid = HAT_0palem - K
Undulasi (N)
0 Palem Kg = Koreksi Data
he_0Palem pasut/Datum
Ellipsoid Pasut ke
Geoid Joni Efendi
Sistem Referensi Geospasial Indonesia 2013 (SRGI2013) -
Horisontal
(Datum Horisontal)
[Link] Referensi Koordinat:
Titik Pusat Sistem Koordinat (Origin) adalah
Pusat massa bumi (geosentrik). Yang
didefinisikan oleh International
Terestrial Reference System (ITRS)
Arah Sumbu Sistem Koordinat (Orientation)
adalah equatorial dimana:
sumbu Z searah dengan sumbu rotasi
bumi;
sumbu X adalah perpotongan bidang
equator dengan bujur nol (greenwich
meridian), dan ECEF
sumbu Y berpotongan tegak lurus terhadap (Earth Centered Earth
Fixed)
sumbu X dan Z pada bidang equator.
Sistem Referensi Geospasial Indonesia 2013
(SRGI2013)
SRGI2013 adalah suatu Sistem Referensi Geospasial yang
digunakan secara nasional dan konsisten untuk seluruh
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia serta
kompatibel dengan sistem referensi geospasial global.
Terdiri dari :
1. SRGI2013 – Horisontal;
2. SRGI2013 – Vertikal ;
3. Layanan dan Sistem Akses SRGI2013;
Perka BIG, 17 Oktober 2013
Sistem Referensi Geospasial Indonesia 2013 (SRGI2013) -
Horisontal
(Datum Horisontal)
SRGI 2013 Horisontal (Datum Horisontal) adalah
sistem referensi koordinat yang digunakan dalam
penentuan posisi horizontal, terdiri dari 4
komponen berikut :
a. System Referensi Koordinat;
b. Datum Geodesi;
c. Kerangka Referensi Koordinat;
d. Perubahan nilai koordinat sebagai fungsi waktu sebagai
akibat dari pergerakan lempeng tektonik dan deformassi
kerak bumi;
Sistem Referensi Geospasial Indonesia 2013 (SRGI2013) - Horisontal
(Datum Horisontal)
[Link] Referensi Koordinat:
Titik Pusat Sistem Koordinat (Origin) adalah
Pusat massa bumi (geosentrik). Yang
didefinisikan oleh International
Terestrial Reference System (ITRS)
Arah Sumbu Sistem Koordinat (Orientation)
adalah equatorial dimana:
sumbu Z searah dengan sumbu rotasi
bumi;
sumbu X adalah perpotongan bidang
equator dengan bujur nol (greenwich
meridian), dan ECEF
sumbu Y berpotongan tegak lurus terhadap (Earth Centered Earth
Fixed)
sumbu X dan Z pada bidang equator.
Sistem Referensi Geospasial Indonesia 2013 (SRGI2013)
SRGI2013 – Horisontal (Datum Horisontal)
b. Datum Geodetik (Elipsoida topography
Referensi) :
Elipsoida Referensi menggunakan
World Geodetic System 1984
(WGS84), dimana titik pusat
elipsoida referensi berimpit dengan
titik pusat massa bumi sebagaimana
didefinisikan oleh ITRS. ellipsoid
Sistem Referensi Geospasial Indonesia 2013 (SRGI2013)
SRGI2013 – Horisontal (Datum Horisontal)
c. Kerangka Referensi Koordinat:
Pilar (BM)
Merupakan realisasi dari sistem referensi
koordinat berupa Jaring Kontrol Geodesi
Nasional yang terikat pada kerangka referensi
global ITRF2008.
Nilai koordinat awal didefinisikan pada epoch
2012.0 tanggal 1 Januari 2012.
Sta. CORS)
Jaring Kontrol Geodesi Nasional, terdiri atas
sebaran titik-titik kontrol geodesi berupa:
stasiun pengamatan geodetik tetap/kontinu
(Sta. CORS, Sta. Pasut Permanen, Sta.
Gayaberat Permanen);
Sta. Pasut
stasiun pengamatan geodetik periodik (JKHN,
JKVN, JKGN).
Sistem Referensi Geospasial Indonesia 2013 (SRGI2013)
SRGI2013 – Horisontal (Datum Horisontal)
Keterangan :
· Status 2017 = 1450 Pilar
JKHN
Distribusi Pilar/BM JKHN
Jaring kontrol geodesi (stasiun cors), Status 2017
134 sta.
Jaring control geodesi (stasiun pasut), Status 2017
134 sta.
Sistem Referensi Geospasial Indonesia 2013 (SRGI2013)
SRGI2013 – Horisontal (Datum Horisontal)
d. Perubahan Nilai
Koordinat Terhadap
Fungsi Waktu:
Merupakan besaran dan Susilo
arah perubahan nilai
koordinat terhadap fungsi
waktu dari suatu titik kontrol
geodesi yang diakibatkan
karena pengaruh
pergerakan lempeng
tektonik dan deformasi Susilo
kerak bumi. (Model
Model deformasi
November 23, 2025
Sistem Referensi Geospasial Indonesia 2013 (SRGI2013)
SRGI2013 – Vertikal (Datum Vertikal)
Datum Vertikal menggunakan
Geoid Indonesia.
Geoid Indonesia diturunkan
berdasarkan pengukuran
gayaberat (airborne gravity
survey) yang terikat pada Jaring
Kontrol Gayaberat Nasional.
Dalam hal geoid belum tersedia
secara memadai, maka dapat
digunakan permukaan laut
rata-rata yang ditentukan
berdasarkan pengamatan
pasang surut laut selama
Layanan SRGI 2013
• [Link]/srgi2
• [Link]
• [Link]
III. TRANSFORMASI KOORDINAT
TRANSFORMASI KOORDINAT
Ada 2 Macam Transformasi Koordinat :
Transformasi DATUM :
Dua Dimensi (Model Helmert, Affin)
Tiga Dimensi (Model Helmert, Bursa wolf, Molodensky
Badekas, dll)
Transformasi dari bentuk koordinat yang satu ke bentuk
lainnya dalam DATUM yang SAMA :
Transformasi Koordinat Kartesian 3D ke Geodetik atau
sebaliknya
Tarnsformasi Koordinat dari Geodetik ke Bidang Proyeksi
peta (Mercator, UTM, TM3, Polider dll) atau sealiknya
Transformasi DATUM
Transformasi DATUM adalah proses
penentuan bentuk hubungan diantara
dua sistem koordinat, sehingga jika kita
mempunyai suatu titik koordinat dalam
salah satu sistem maka dapat ditentukan
koordinat pada sistem lainnya
Model Transformasi DATUM (2D atau 3D)
Contoh Kasus Transformasi DATUM
Posisi atau Koordinat titi-titik yang terdefinisi pada :
DATUM LOKAL DATUM NASIONAL (SRGI2013)
• Ellipsoid referensi BESSEL 1841 • Ellipsoid referensi WGS84
• Sistem Proyeksi Peta : UTM • Sistem Proyeksi Peta : UTM
Contoh Model Trans. Datum 2D metoda Helmert
Q
Y
(P1,Q1)
Titik Sekutu
(X1,Y1)
Tx
Ty
X
P
Sistem Koordinat ITx, Ty, ,sf : Parameter
Sistem Koordinat ke II
Transformasi Datum
Model Transformasi Datum
1. Transformasi Konform Dua-Dimensi
X 2 a b X 1 TX
Y b a Y T
2 1 Y
Sebelum transformasi diperlukan semua parameter :
Rotasi : a & b Translasi : (TX,TY)
Semua parameter dapat ditentukan berdasarkan titik sekutu
2. Transformasi Konform 3D
Sebagai contoh : model Bursa-Wolf
X2 1 X1 TX
Y S 1 Y1 TY
2
Z 2 DGN 95 1 Z1 LOKAL TZ
Sebelum transformasi diperlukan semua parameter :
Rotasi : , , Translasi : (TX,TY,TZ) Faktor Skala : S
Semua parameter dapat ditentukan berdasarkan titik sekutu
Tahapan Transformasi Datum
Data : TITIK SEKUTU
Menentukan Model Transformasi yang
akan digunakan
Menghitung Parameter Transformasi
Mentransformasi Koordinat sistem lama
ke sistem baru atau sebaliknya
Evaluasi
TERIMAKASIH
Bentuk-bentuk Koordinat
3 Bentuk Koordinat yang digunakan
untuk menyatakan posisi
Kartesian 3D Geosentris (X, Y, Z)
Geodetik (, , h)
Kartesian 2D (X, Y) pada Proyeksi Peta
( Polieder, Mercator, UTM, TM3, LCO, dll)
2a. Koordinat Geodetik dan Kartesian 3D Geosentrik
Z A
Kutub Permukaan
hA Bumi
Meridian Greenwich
Greenwich Koordinat Kartesian :
uator
ZA (XA,YA,ZA)
Pusat Y
Bumi
A Koordinat Geodetik :
A XA
YA (A,A,hA)
X
Garis lintang Garis Bujur Elipsoid referensi
2.B Koordinat Proyeksi Peta UTM
Sistem proyeksi UTM adalah
salah satu macam proyeksi
peta, dimana bidang
proyeksinya silinder,
kedudukan bidang proyeksi
transversal (garis
karakteristik membentuk
sudut 90 dengan sumbu
putar bumi) dan sifat
distorsinya konform.
KETENTUAN SISTEM PROYEKSI UTM :
1. Seluruh wilayah permukaan bidang datum
(ellipsoid) dibagi dalam 60 wilayah. Wilayah
tersebut disebut zone UTM. Masing-masing zone
UTM dibatasi oleh 2 meridian dengan lebar 6
derajat bujur. Zone UTM ini diberi nomor dari 1
hingga 60. Zone nomor 1 dimulai dari bujur 180 BB
sampai 174 BB, terus ke timur hingga zone nomor
60, yang dibatasi oleh 174 BT sampai 180 BT.
2. Masing-masing zone UTM mempunyai sistem
koordinat sendiri-sendiri, sebagai sumbu X diambil
proyeksi ekuator sedangkan sumbu Y diambil
proyeksi meridian sentral. Titik potong antara
sumbu X dan sumbu Y disebut titik nol sejati.
Zone
Zone UTM
UTM untuk
untuk Wilayah
Wilayah Indonesia
Indonesia No. Zone
46 47 48 49 50 51 52 53 54
80 96 0
102 0
108 0
114 0
120 0
126 0
132 0
138 0
80
40 40
00 00
-80
Skala 1:1.000.000
960 1020 1080 1140 1200 1260 1320 1380
3. Perbesaran (faktor skala) dimeridian sentral
adalah ko = 0.9996
4. Untuk menghindari harga koordinat yang
bertanda negatif,
Untuk daerah di Utara Ekuator, koordinat
titik origin diberi harga fiktif (500.000, 0)
m.
Untuk daerah di Selatan Ekuator, koordinat
titik origin diberi harga fiktif (500.000,
10.000.000) m
Y' Y
500.000
X
(N ol sem u I) 0' 0 (N ol sejati)
10.000.000
0 (N ol sem u II)
102 Y 108
Contoh :
105
Zone 48
(X,Y)
Ekuator X
(0,0)
Meridian
Sentral
6
132o Y(N) 138o Y(N) 144o
(X,Y) Zone 54
ekuator X(E)
135o 141o
Meridian Tengah Zone
(X,Y) Zone 53
Zone 53 Zone 54
2.c Koordinat Proyeksi Peta TM 3
Proyeksi adalah Transverse Merkator.
Lebar zona 3º.
Titik awal setiap zona adalah perpotongan meredian
tengah dan ekuator.
Faktor skala pada meredian tengah ko = 0.9999.
Timur (T) didefinisikan dengan penambahan 200.000
meter kepada nilai X yang dihitung dari meredian
tengah.
Utara (U) didefinisikan dengan penambahan 1.500.000
meter kepada nilai Y yang dihitung dari ekuator.
Zona mempunyai nomor yang berelasi kepada
nomor zona UTM. Setiap zona UTM dibagi dalam 2
bagian 3º. Penomoran zona TMN terdiri dari bagian
pertama adalah penomoran UTM dan bagian kedua,
dipisahkan oleh titik, adalah nomor zona TMN.
Satuan dalam meter .
Batas Lintang 6º Utara dan Lintang 11º Selatan.
Notasi koordinat , Timur (T) diletakan di depan
Utara (U).
Penomoran Zona TM 3
No Zona Meredian
Batas Zona
TMN Tengah
46.2 093 – 096º 094º 30 ‘
47.1 096 – 099º 097º 30 ’
47.2 099 – 102º 100º 30 ‘
48.1 102 – 105º 103º 30 ‘
48.2 105 – 108º 106º 30 ‘
49.1 108 – 111º 109º 30 ‘
49.2 111 – 114º 112º 30 ‘
50.1 114 – 117º 115º 30 ‘
50.2 117 – 120º 118º 30 ‘
51.1 120 – 123º 121º 30 ‘
51.2 123 – 126º 124º 30 ‘
52.1 126 – 129º 127º 30 ‘
52.2 129 – 132º 130º 30 ‘
53.1 132 – 135º 133º 30 ‘
53.2 135 – 138º 136º 30 ‘
54.1 138 – 141º 139º 30 ‘
Contoh perbedaan koordinan UTM dan TM3
Lintang Bujur X utm Yutm Xtm3- Ytm3-BPN
BPN
6 18’ 29.948” 107 05’ 46.930” 731921.17 9302246.6 26598.80 802465.990
S E 2 39 0