HUKUM ACARA
PIDANA Oleh:
Prof. Dr. Alvi Syahrin, S.H, M.S
+ + + = + (+)
+ + - = + (-)
- + + = + (-)
kualitas
- + - = - (+) keseimbangan
kuantitas
Deskripsi Mata Kuliah
Tujuan mata kuliah:
membekali mahasiswa pengetahuan tentang
- penanganan perkara pidana berdasar Hukum
Acara Pidana Indonesia dalam rangka
menumbuhkan
kesadaran dan
sikap
mematuhi peraturan perundang-
undangan yang berlaku
Kompetensi Mata Kuliah
Menganalisis Penanganan perkara pidana
sejak adanya sangkaan:
- melakukan perbuatan pidana hingga pemidanaan
yang dilalui dari tahap
penyidikan,
penuntutan,
pemeriksaan di sidang pengadilan, dan
pelaksanaan putusan hakim
berdasarkan ketentuan UU yang
berlaku
Kompetensi Dasar
Menganalisis:
pengertian hukum acara pidana dan upaya hukum dalam hukum acara
sejarah hukum acara pidana pidana.
Indonesia Bantuan Hukum
asas-asas hukum acara pidana penggabungan perkara ganti
tahap penyidikan kerugian pada perkara pidana
perkara koneksitas
tahap penuntutan
pelaksanaan putusan pengadilan
praperadilan dalam perkara pidana
ganti kerugian, rehabilitasi, grasi,
tahap pemeriksaan perkara pidana amnesti, abolisi dan remisi.
di sidang pengadilan
pembuktian dalam pemeriksaan
perkara pidana
Penilaian
No Jenis Tagihan Bobot (%)
.
1 Perilaku/Partisipasi 10
2 Tugas Individu/ 30
Kelompok/ Presentasi
Tugas
3 Ujian Tengah Semester 30
4 Ujian Semester 30
Jumlah 100
Pengertian Hukum Acara Pidana
menurut para ahli, al:
Prof Dr. R. Wirjono Projodikoro, Prof. Moeljatno,
SH SH Bambang Poernomo
Hukum acara pidana:
Hukum acara Pidana: Hukum acara Pidana:
- berhubungan erat dengan
adanya hukum pidana - bagian dari keseluruhan - Arti sempit:
hukum yang berlaku di mengatur ketentuan
maka dari itu merupakan
suatu Negara, yang tentang tata cara
suatu rangkaian suatu proses
peraturan-peraturan yang memberi dasar-dasar
dan aturan-aturan yang perkara, mengatur
memuat cara bagaimana hak dan kewajiban
badan-badan pemerintah menentukan dengan bagi mereka yang
yang berkuasa yaitu cara dan prosedur bersangkut paut
kepolisian, kejaksaan dan macam apa ancaman dalam proses
pengadilan harus pidana yang ada pada perkara serta
bertindak guna mencapai sesuatu perbuatan mengatur
tujuan Negara dengan pidana dapat pelaksanaan
dilaksanakan apabila peradilan menurut
mengadakan Hukum
ada sangkaan bahwa UU.
Pidana.
orang telah melakukan - Arti luas: mengatur
(1983: 1). delik tertentu. hukum acara pidana
dalam arti sempit
(1978: 1). dan susunan serta
Fungsi Hukum Acara Pidana
Sebagai :
a. sarana untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum
pidana (Prof. Moeljatno, SH).
b. sarana dalam rangka penegakan hukum dan keadilan dalam
mewujudkan kehidupan yang tertib dan tenteram dalam
masyarakat. (Bismar Siregar, SH).
c. fungsi represif dan preventif (Dr. H. Rusli Muhammad, S.H.,
M.H.)
Tujuan Hukum Acara Pidana
Untuk mencari:
“kebenaran material”
(Andi Hamzah, 2006: 7)
- kebenaran yang selengkap-lengkapnya, dari
suatu perkara pidana dengan menerapkan
ketentuan-ketentuan acara pidana secara jujur dan
tepat sesuai dengan tujuan untuk mencari :
siapakah pelaku yang dapat didakwakan
melakukan sesuatu pelanggaran hukum; dan
selanjutnya meminta pemeriksaan dan putusan dari
pengadilan guna menemukan :
apakah terbukti bahwa suatu tindak pidana
telah dilakukan dan apakah orang yang didakwa
itu dapat dipersalahkan
Sejarah singkat Hukum Acara Pidana Indonesia
Penjajahan Belanda Penjajahan Jepang Setelah Kemerdekaan Berlakunya
RI KUHAP
1. Reglement op de Stravordering Tidak mengalami Berlaku hukum acara Pada tanggal 31
(S 1847 No. 40) perubahan, aturan yang pidana Belanda. Desember berlaku
untuk Eropa dan yang berlaku yakni HIR. - UU No. 8
disamakan dengan mereka. Tahun 1951 Tahun 1981
- Ada 2 macam UU Dart No. 1 Tahun tentang
2. Reglement op de Recterlijke pengadilan sehari- 1951 tentang KUHAP.
Organisatie (S 1847 No. 23) hari untuk semua - Tindakan-tindakan - HIR dan
Ketentuan-ketentuan orang (Landgerecht Sementara untuk peraturan
organisasi dan susunan Reglement dan Rbg), Menyelenggaraka pelaksanaan
Peradilan di Hindia Belanda. kecuali orang Jepang: n Kesatuan dalam nya tidak
3. “Inlands Reglement” (IR) ( S. 1. Pengadilan Negeri susunan berlaku
1848 No. 16), kemudian (Tihoo Hooin) Kekuasaan dan (dicabut).
diperbaharui dengan S. 1941 No. kelanjutan dari Acara Pengadilan
44 ( HIR: Herziene Inlands Landraad; Sipil di Indonesia
Reglemen ). digunakan HIR:
2. Pengadilan
acara dimuka Landraad dll PN, PT dan MA.
Kepolisian (Kuzai
pengadilan untuk Jawa dan Hooin)
Madura bagi bangsa kelanjutan dari
Indonesia Asli dan Timur Landgerecht
Asing dan yang disamakan (Pengadilan
dengan mereka. Negeri)
4. “Rechtsreglemen Voor de
buitengewesten” (Rbg) (S. 1927
Peraturan-Perundangan yang tidak berlaku/dicabut setelah berlakunya KUHAP,
al:
1. Peraturan Susunan Pengadilan dan Kebijaksanaan Pengadilan Tahun 1848 dianggap tidak berlaku
seluruhnya
2. UU No. 19 Tahun 1948 : Tentang Susunan dan Kekuasaan Badan-badan Kehakiman dan Kejaksaan,
dianggap tidak berlaku seluruhnya.
3. PerPres RI No. 12 Tahun 1963 :
Tentang Tindakan sementara untuk Menyelenggarakan Kesatuan Susunan Kekuasaan, Acara dan
Tugas Pengadilan-pengadilan Sipil dan Kejaksaan di Propinsi Irian Barat,
dianggap tidak berlaku seluruhnya.
4. UU No. 13 Tahun 1961: Tentang Ketentuan Pokok Kepolisian Negara, sudah dicabut dan diganti UU
No. 28 Tahun 1997, dan
UU ini era reformasi dicabut dan diganti dengan UU no. 2 Tahun 2002 Tentang
Kepolisian NRI.
5. UU No. 15 tahun 1961: Tentang Ketentuan Pokok Kejaksaan RI,
dicabut dan diganti dengan UU no. 5 Tahun 1991, dan
terakhir dicabut dan diganti dengan UU No. 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan RI.
6. UU No. 13 tahun 1965 : Tentang Pengadilan dalam Lingkungan Peradilan Umum dan MA,
dicabut dan diganti UU No. 14 tahun 1985 tentang MA, kemudian
diubah dengan UU No. 5 tahun 2004 dan
diubah dengan UU No. 3 Tahun 2009 tentang Perubahan kedua Atas UU No. 14
tahun 1985 Tentang MA.
Kemudian UU No. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum
Sumber Hukum Acara Pidana
1. UUD 1945 Pasal 24 dan Pasal 25
2. UU No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP
- merupakan ketentuan umum yang berlaku dalam setiap
pemeriksaan perkara pidana,
- tetapi KUHAP bukan satu-satunya sumber hukum acara
pidana.
Secara garis besar disebutkan dalam Pasal 284 KUHAP:
“terhadap semua perkara diperlakukan ketentuan dalam
KUHAP, kecuali diberlakukan secara khusus dalam peraturan
perundang-undangan tersendiri”
(lex specialis derogate legi generalis)
Sumber Hukum Acara Pidana yang relevan dengan Hukum
Acara Pidana:
1. UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman RI.
2. UU No. 14 Tahun 1985 jo UU No. 5 Tahun 2004 tentang Perubahan UU No.
14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung yang diubah dengan UU No. 3 Tahun
2009.
3. UU No. 49 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua UU No. 2 Tahun 1986 tentang
Peradilan Umum.
4. UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian RI.
5. UU No. 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan RI.
6. PP No. 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan KUHAP.
7. UU No. 46 Tahun 2009 Pengadilan Tipikor.
8. UU No. 23 tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak jo UU No. 11 Tahun 2012
Tentang Sistem Peradilan Pidana anak.
9. UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM
Asas-asas Hukum Acara Pidana
1. Persamaan di muka hukum 7. Asas inquisitoir dan accusatoir
(Penjelasan Umum (PU) angka 3a
8. Wajib diberi tahu dakwaan dan dasar
KUHAP, Pasal 4 (1) UU 48/2009). hukum dakwaan
2. Perintah tertulis yang berwenang (PU angka 3g, 155 (2) b KUHAP)
(Penjelasan Umum angka 3b, Pasal 15-
9. Pengadilan memeriksa perkara pidana
19 KUHAP dan Pasal 7 UU 48/2009) dengan hadirnya terdakwa
3. Praduga tidak bersalah (Presumtion of (PU angka 3h, 154, 155 KUHAP dan
innocent) 12 UU 48 Tahun 2009)
(Penjelasan Umum angka 3c KUHAP
10. Prinsip peradilan terbuka untuk
dan Pasal 8 (1) UU 48/2009) umum
4. Pemberian ganti rugi (PU angka 3 huruf i, 153 (3) (4)
(Penjelasan Umum angka 3d KUHAP KUHAP dan Pasal 13 UU 48 Tahun
dan Pasal 9 UU 48/2009) 2009)
5. Peradilan sederhana, cepat dan biaya 11. Berat atau ringannya pidana, hakim
mempertimbangkan dan perlu
ringan
memperhatikan sifat baik dan jahat
(Penjelasan Umum angka 3e KUHAP terdakwa
dan Pasal 2 (4) UU 48/2009). (8 (2) UU 48 tahun 2009)
6. Memperoleh bantuan hukum seluas-
luasnya
TAHAP-TAHAP HUKUM ACARA
PIDANA
1. Tahap Penyidikan
a. Penyelidikan, dan
b. Penyidikan
2. Penuntutan.
3. Pemeriksaan Sidang Pengadilan.
4. Pelaksanaan Putusan Hakim
Apakah Penyelidikan itu ?
Penyelidikan :
serangkaian tindakan penyelidik,
untuk mencari dan menemukan sesuatu keadaan
atau
peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana
guna
menemukan dapat atau tidaknya dilakukan
penyidikan.
(KUHAP Pasal 1 butir 5).
diatur: Pasal 5, 9, 75, 192-105, 111 KUHAP
Siapa Penyelidik itu?
Setiap anggota Polisi Penyelidik
(paling rendah Ajun Inspektur Polisi Dua
(Aipda)).
Juga dapat dilakukan oleh :
Pejabat tertentu untuk melakukan penyelidikan perkara tertentu,
misal:
1. PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan)
dilakukan adanya dugaan transaksi keuangan yang
mencurigakan (TP Pencucian Uang).
2. Anggota Komnas HAM dalam pelaporan adanya orang
hilang.
3. KPK kasus TPK (Tindak Pidana Khusus)
Apa saja obyek penyelidikan itu?
1. Orang
2. Benda/Barang
3. Tempat (termasuk Rumah dan tempat-tempat
tertutup lainnya)
Caranya:
a. Terbuka:
sepanjang hal itu dapat menghasilkan
keterangan- keterangan diperlukan
b. Tertutup:
apabila kesulitan untuk mendapatkannya
Syarat Penyelidikan cara tertutup:
1. Petugas yang melakukannya dalam upaya dan usahanya harus
menghindarkan
tindakan-tindakan yang bertentangan dengan
- ketentuan-ketentuan hukum
dan
- peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Petugas yang melakukannya
harus mampu menguasai teknik-teknik yang diperlukan
berupa, al:
- interview,
- observasi,
- surveillance,
- undercover
Tata Cara Penyelidikan
1. Menunjukkan tanda pengenal.
2. Mengetahui, menerima laporan atau pengaduan
terjadinya peristiwa yang patut diduga sebagai TP
segera
melakukan tindakan penyelidikan yang diperlukan.
3. Terhadap tindakan tersebut
penyidik wajib :
- membuat berita acara
dan
- melaporkan kepada penyidik sedaerah hukum
(KUHAP Pasal 102 ayat (1), (2), (3)).
4. Dikoordinasi, diawasi dan diberi petunjuk oleh penyidik
Bentuk Pengajuan Laporan atau
Pengaduan
1. Tertulis harus ditandatangani pelapor atau pengadu.
2. Lisan dicatat oleh penyidik dan ditandatangani
pelapor,
pengadu atau penyidik.
Jika pelapor tidak bisa menulis:
harus disebutkan sebagai catatan
dalam laporan atau pengaduan tersebut
(KUHAP pasal 103 ayat (1), (2), (3))
Sejak kapan
status penyelidikan berubah menjadi penyidikan?
Apabila hasil penyelidikan yang
dilakukan polisi ditemukan:
bukti/petunjuk yang kuat
telah terjadi perbuatan
pidana/ tindak pidana
Apakah yang dimaksud
Penyidikan?
Penyidikan :
Serangkaian tindakan penyidik dalam
hal dan menurut cara yang diatur dalam
UU untuk mencari serta mengumpulkan
bukti yang dengan bukti itu membuat
terang tentang Tindak Pidana yang
terjadi guna menemukan tersangkanya.
(KUHAP Pasal 1 butir 2)
Bagaimana Tata cara Penyidikan?
diatur :
KUHAP Pasal 106-136.
1. Dilakukan segera setelah laporan
atau pengaduan adanya tindak
pidana. (Pasal 106).
2. Penyidikan oleh PPNS diberi
petunjuk oleh Penyidik Polri
Tindakan apa saja yang
dilakukan penyidik dalam
penyidikan?
Penangkapan.
Penahanan.
Yakni
Penggeledahan.
Penyitaan
Pemeriksaan surat.
Penangkapan
(KUHAP Buku V Bagian Kesatu Ps. 16-19)
Untuk penangkapan biasa harus dengan surat perintah penangkapan.
Yang berwenang mengeluarkan surat perintah Penangkapan,
berisi:
- identitas T,
- alasan penangkapan,
- uraian singkat TP yang di prasangkakan, dan
- tempat T diperiksa.
Komandan atau pejabat yang ditunjuk selaku penyidik atau penyidik
pembantu.
Dasar pertimbangan dilakukannya
penangkapan dan pembuatan surat perintah penangkapan:
1. Laporan polisi.
2. Pengembangan dari pemeriksaan yang dituangkan dalam Berita
Acara.
3. Laporan hasil penyelidikan yang dibuat oleh petugas atas perintah
Beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam penangkapan, al:
1. Setelah penangkapan dilakukan, segera diadakan
pemeriksaan untuk menentukan apakah perlu diadakan
penahan atau tidak, mengingat jangka waktu
penangkapan yang diberikan KUHAP hanya satu hari (1 X
24 jam).
2. Terhadap pelanggaran tidak dapat dilakukan
penangkapan, kecuali bila telah dipanggil secara sah dua
kali berturut-turut tidak memenuhi panggilan itu tanpa
alasan yang sah (Ps. 19)
3. Segera setelah dilakukan penangkapan supaya diberikan
1 lembar tembusan surat perintah penangkapan kepada
tersangka dan 1 lembar kepada keluarga (Ps. 18 (3))
Bagaimana dalam hal tertangkap
tangan?
Siapa saja berhak menangkap:
tanpa surat perintah dan harus segera menyerahkan
Tertangkap tangan beserta barang bukti
kepada: penyidik atau penyidik pembantu.
Wajib menangkap tersangka
setiap orang yang mempunyai wewenang dalam
tugas ketertiban, ketenteraman, dan keamanan
umum untuk diserahkan beserta atau tanpa barang
bukti kepada penyidik atau penyidik pembantu.
Apakah yang dimaksud Tertangkap Tangan
itu ?
Tertangkap Tangan
Yakni:
Tertangkapnya seseorang pada waktu sedang melakukan TP
atau
dengan segera sesudah beberapa saat TP itu dilakukan
atau
sesaat kemudian setelah diserahkan oleh khalayak ramai
bahwa ia yang melakukannya
atau
apabila sesaat kemudian padanya ditemukan benda itu yang
diduga keras telah dipergunakan untuk melakukan TP itu
yang menunjukkan bahwa ia adalah pelakunya atau
membantu melakukan TP itu
(Ps. 1 butir 19)
Penahanan
(KUHAP Bab V Bagian Kedua Ps. 20-
31)
Penahanan Penempatan Tersangka atau Terdakwa di
tempat tertentu oleh Penyidik, atau Penuntut,
atau hakim dengan Penetapannya, dalam hal
serta menurut cara yang diatur dalam KUHAP.
(Ps. 1 butir 21)
Ada 3 jenis penahanan:
1. Penahan Rumah tahanan negara.
2. Penahanan Rumah.
3. Penahanan Kota
Syarat-syarat penahanan
terhadap tersangka atau terdakwa (Ps. 21)
1. Adanya dugaan keras terhadap tersangka atau terdakwa akan
melarikan diri, menghilangkan barang bukti dan atau
mengulangi TP.
2. Harus dengan surat perintah penahanan bagi tersangka atau
penetapan hakim bagi terdakwa, mencantumkan:
- identitas tersangka atau terdakwa,
- alasan penahanan,
- uraian singkat tentang TP yang dipersangkakan atau
didakwakan, dan
- tempat penahanan.
3. Hanya dapat dikenakan terhadap tersangka atau terdakwa yang
melakukan TP, percobaan, pemberian bantuan dalam TP tersebut
dalam hal:
- *diancam pidana penjara 5 tahun atau lebih
- *Ps.283 (3), 296,335 (1), 353 (1), 372, 378,379a dst.
Lamanya Penahanan Maksimal
1. Penyidik 20 hari
diperpanjang Penuntut Umum 40 hari
2. Penuntut Umum 20 hari
diperpanjang Ketua PN 30 hari
3. Hakim PN 30 hari
diperpanjang Ketua PN 60 hari
4. Hakim PT 30 hari
diperpanjang Ketua PT 60 hari
5. Hakim MA 50 hari
diperpanjang Ketua MA 60 hari
Apakah masa penangkapan atau penahanan
dikurangkan seluruhnya dari pidana yang
dijatuhkan?
- Untuk penahanan rumah
1/3 dari lamanya waktu
penahanan.
- Untuk penahanan kota
pengurangannya 1/5 dari
jumlah lamanya waktu
penahanan
Apa saja Hak-hak tahanan
dalam rumah tahanan negara itu?
1. Dapat mengikuti kegiatan rohani sembahyang, ceramah dll)
yang diselenggarakan oleh petugas Rutan atau petugas lain
yang ditunjuk oleh Depag RI.
2. Diperbolehkan memakai pakaian sendiri dengan
memperhatikan kepatutan, kesopanan dan tidak mengganggu
Hak yang keamanan.
didapat 3. Memperoleh perawatan kesehatan yang layak dan juga perlu
dilakukan perawatan dan pengobatan di RS di luar Rutan
setelah mendapat ijin dari instansi yang menahan atas
nasihat dokter Rutan.
4. Dapat menerima kunjungan keluarga, penasehat hukum dan
orang lain atau lembaga sosial setelah mendapat ijin dari
instansi yang menahan.
5. Diperbolehkan berolahraga.
6. Tidak diperkenankan wajib kerja.
Syarat-syarat permintaan perpanjangan penahanan
dari masing-masing instansi
1. Permintaan tersebut sebelum lewat masa penahanan yang
diperkenankan.
2. Melampirkan resume.
3. Disertai alasan-alasan yang kuat.
Kapan tahanan dapat dikeluarkan dari tahanan?
Sebelum maksimal penahanan tahanan dapat dikeluarkan
dari tahanan
jika kepentingan pemeriksaan sudah terpenuhi.
Jika lewat maksimal penahanan
tahanan harus dikeluarkan demi hukum
Penggeledahan
(KUHAP Bab IV, Bag. Ketiga
Ps 32-37)
Penggeledahan hanya diberikan kepada Penyidik.
Objek Penggeledahan:
rumah,
pakaian,
badan.
Syarat-syarat penggeledahan:
1. Ada surat ijin dari Ketua PN.
2. Disaksikan 2 (dua) saksi dari lingkungan yang bersangkutan.
3. Harus disaksikan oleh Kades atau ketua lingkungan jika
tersangka atau penghuni rumah menolak
Pengecualian terhadap syarat-syarat
Penggeledahan:
dalam keadaan yang sangat perlu dan mendesak:
harus segera bertindak dikawatirkan barang bukti akan
dipindah-tangankan atau dimusnahkan atau tersangka
kemungkinan akan melarikan diri,
maka penyelidik dapat melakukan penggeledahan:
1. Pada halaman rumah tersangka bertempat
tinggal, berdiam atau yang ada di atasnya;
2. Pada setiap tempat tersangka bertempat
tinggal, berdiam, atau ada;
3. Di tempat tindak pidana dilakukan atau
terdapat bekasnya;
4. Ditempat penginapan atau tempat umum
lainnya.
Dalam keadaan yang sangat perlu dan mendesak
tersebut, Penyidik tidak diperkenankan:
memeriksa atau menyita : - surat,
- buku,
- tulisan lain
yang tidak merupakan :
- benda berhubungan dengan tindak pidana yang bersangkutan
atau
- yang diduga telah dipergunakan untuk melakukan tindak pidana
tersebut, dan
- Wajib melaporkan kepada Ketua PN setempat guna memperoleh
persetujuan.
2 hari setelah melakukan penggeledahan rumah atau memasuki, petugas
tersebut harus membuat:
- berita acara
dan
Kecuali dalam hal tertangkap tangan,
penyidik tidak diperkenankan memasuki:
1. Ruang di mana sedang berlangsung
sidang MPR, DPR atau DPRD.
2. Tempat di mana sedang berlangsung
ibadah atau upacara keagamaan.
3. Ruang di mana sedang berlangsung
sidang pengadilan.
Penyitaan
(KUHAP, Bab IV, bag keempat, Ps
38-46)
Apakah yang dimaksud penyitaan itu?
- Serangkaian tindakan penyidik untuk mengambil alih dan atau
penyimpanan di bawah penguasaannya benda bergerak atau tidak
bergerak, berwujud atau tidak berwujud untuk kepentingan pembuktian
dalam penyidikan, penuntutan dan Peradilan.
( Ps. 1 angka 16).
- Hanya dapat dilakukan penyidik dengan surat ijin Ketua PN setempat
kecuali dalam keadaan yang sangat perlu dan mendesak bilamana penyidik
harus segera bertindak dan tidak mungkin untuk mendapatkan surat ijin
terlebih dahulu, maka penyidik hanya dapat melakukan penyitaan atas
benda bergerak dan segera melapor kepada Ketua PN setempat guna
memperoleh persetujuannya.
(Ps 38)
Apakah objek dari penyitaan itu?
1. Benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang
seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindak
pidana atau hasil dari tindak pidana.
2. Benda yang telah dipergunakan secara langsung
Objek dari
untuk melakukan tindakan pidana atau untuk
Penyitaan
mempersiapkannya.
terdiri atas
3. Benda yang khusus dipergunakan untuk
menghalang-halangi penyidikan tindak pidana.
4. Benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan
melakukan tindak pidana.
5. Benda lain yang mempunyai hubungan langsung
atau tidak langsung dengan tindak pidana yang
dilakukan.
Dimana benda sitaan itu akan
disimpan?
Di simpan :
Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara
(RUPBASAN)
Belum ada disimpan di :
- Kantor Kepolisian,
- Kejaksaan dan PN,
- Gedung Bank Pemerintah, dan
- dalam keadaan memaksa di tempat lain
atau di tempat semula benda sitaan itu
disita
(Ps 44 ayat (1) dan Penjelasannya).
Tindakan apa yang dilakukan penyidik terhadap
benda yang mudah rusak ?
Atas persetujuan tersangka/kuasanya :
- dapat diambil tindakan bahwa benda tersebut:
1. Dijual lelang atau dapat diamankan oleh
penuntut umum, dengan disaksikan oleh
tersangka atau kuasanya, apabila perkara
masih ada di tangan penyidik atau penuntut.
2. Didiamkan atau dijual lelang oleh penuntut
umum atas ijin hakim yang menyidangkan
perkaranya dan disaksikan oleh terdakwa atau
kuasanya, apabila perkara sudah ada di tangan
pengadilan
(Ps. 45 ayat (1))
Bagaimana terhadap benda sitaan yang bersifat
terlarang?
1. dilarang untuk diedarkan;
2. dirampas untuk dipergunakan bagi
kepentingan negara;
3. dimusnahkan
(Ps 45 ayat (4))
Pemeriksaan
1. Surat (Bab IV, Bag Kelima, Pasal 47-49 KUHAP)
2. Saksi (Psl. 1. butir 26, 27; Psl. 112 (1), (2) KUHAP
3. Tersangka,
pemeriksaan permulaan dengan sistem inqiusitoir
yang lunak oleh penyidik, sedang
pemeriksaan di persidangan dengan sistem
acusatoir oleh hakim.
4. Ahli (Psl 1 butir 28 Psl. 120 (1) KUHAP
5. Labkrim.
6. Identifikasi
Rekonstruksi
visualisasi kejadian perkara
yang diperagakan kembali
berdasarkan
segala data dan fakta yang diperoleh sebagai hasil
penyidikan,
guna
meyakinkan kebenaran hasil penyidikan,
yaitu
memberikan kesempatan kepada tersangka
memperagakan kembali tindakan pidana yang
telah dilakukan di tempat kejadian perkara
Tahap Penuntutan
(KUHAP Psl. 137 –
144)
Penuntutan:
tindakan penuntut
untuk
melimpahkan perkara pidana ke pengadilan negeri
yang berwenang
dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam
KUHAP
dengan permintaan
supaya diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang
pengadilan
(Ps 1 angka 7)
Bagaimana Acara Penuntutan itu?
PU setelah menerima hasil penyidikan dari penyidik segera:
- mempelajari dan menelitinya dalam waktu 7 hari wajib memberitahukan
kepada penyidik apakah hasil penyidikan itu sudah lengkap atau belum.
- (Ps. 138 ayat (1)).
1. Pra Penuntutan:
- jika hasil penyidikan belum lengkap (P-
18)
Untuk melengkapi berkas perkara,
berkas perkara dikembalikan kepada
penyidik disertai petunjuk tentang pemeriksaan tambahan dilakukan dengan
hal yang harus dilakukan untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
melengkapi (P-19) 1. Tidak dilakukan terhadap tersangka
- Penyidik wajib segera melakukan 2. Hanya terhadap perkara-perkara yang
sulit pembuktiannya, dan/atau dapat
penyidikan tambahan sesuai petunjuk PU meresahkan masyarakat, dan/atau
14 hari sejak penerimaan berkas, yang dapat membahayakan
keselamatan negara.
penyidik harus sudah menyampaikan
berkas perkaranya kepada PU. 3. Harus dapat diselesaikan dalam waktu
14 hari setelah dilaksanakan ketentuan
- PU segera menentukan apakah perkara Psl.110 dan 138 (2) KUHAP.
itu sudah memenuhi persyaratan untuk 4. Prinsip koordinasi dan kerja sama dng
dapat atau tidaknya dilimpahkan ke penyidik
pengadilan. Jika sudah lengkap
P-21: Pemberitahuan hasil
2. Penuntutan
jika hasil penyidikan dapat dilakukan Penuntutan,
PU dalam waktu secepatnya membuat:
surat dakwaan (P-29)
jika perkara tidak cukup bukti atau peristiwa ternyata
bukan tindak pidana atau perkara ditutup demi hukum :
PU menghentikan penuntutan
dengan surat ketetapan (P-26) dan turunannya
disampaikan kepada: tersangka atau
keluarganya atau penasehat hukumnya ,
pejabat rumah tahanan negara, penyidik dan
hakim,
jika kemudian ada alasan baru :
PU dapat melakukan penuntutan terhadap
tersangka.
Kapan PU dapat menghentikan
penuntutan?
1. Jika perkara tidak cukup bukti atau
peristiwa tersebut bukan merupakan
peristiwa pidana
Perkara dihentikan penuntutannya (P-26)
2. Jika perkara yang sudah daluwarsa dan
nebis in idem
Perkara ditutup demi hukum
Daluwarsa Penuntutan Pidana
(Pasal 78 KUHP)
Kewenangan menuntut pidana hapus karena daluwarsa:
1. Mengenai semua pelanggaran dan kejahatan yang
dilakukan dengan percetakan, sesudah 1 tahun.
2. Kejahatan yang diancam dengan denda , kurungan atau
pidana penjara paling lama 3 tahun, sesudah 6 tahun.
3. Kejahatan yang diancam dengan pidana penjara lebih dari 3
tahun, sesudah 12 tahun.
4. Kejahatan yang diancam dengan pidana mati atau pidana
penjara seumur hidup, sesudah 18 tahun.
Untuk orang yang melakukan perbuatan umurnya belum 18
tahun, masing-masing tenggang daluwarsa di atas dikurangi
menjadi 1/3.
Apakah yang dimaksud asas oportunitas
itu?
Oportunitas
Wewenang Jaksa Agung untuk
menyampingkan perkara demi
kepentingan umum atau sering
disebut tidak melakukan
penuntutan atau tindakan
mendeponir perkara (deponierin)
Kapan PU
dapat menggabungkan beberapa perkara pidana
dalam satu berkas penuntutan (dalam satu surat
dakwaan)?
Apabila PU
dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan
menerima berkas perkara dalam hal:
1. Beberapa tindak pidana dilakukan oleh satu
orang.
2. Beberapa tindak pidana mempunyai sangkut
paut satu dengan yang lain
3. Beberapa tindak pidana yang tidak ada
sangkut pautnya satu dengan yang lain, tetapi
ada hubungannya
Apakah yang dimaksud
“tindakan pidana yang dianggap mempunyai sangkut
paut satu dengan yang lain”?
Apabila tindakan pidana dilakukan oleh:
1. Lebih seorang yang bekerja sama dan dilakukan pada saat yang
bersamaan.
2. Lebih dari seorang pada saat dan tempat yang berbeda, akan tetapi
merupakan pelaksanaan dari permufakatan jahat dibuat oleh
mereka sebelumnya.
3. Seorang atau lebih dengan maksud mendapatkan alat yang akan
dipergunakan untuk melakukan tindak pidana lain atau
menghindarkan diri dari pemidanaan karena TP lain.
(Penjelasan Psl 141 huruf b KUHAP)
Selanjutnya PU
melimpahkan perkara ke pengadilan negeri dengan
permintaan agar segera mengadili perkara tersebut
disertai surat dakwaan
Dakwaan tunggal
Jenis- Dakwaan komulatif.
Jenis
Surat Dakwaan alternatif.
Dakwaan Dakwaan subsidair
atau berlapis
1. Dakwaan secara tunggal 2. Dakwaan secara komulatif
- Satu macam perbuatan dengan satu - Dalam hal ada concursus dan juga seperti yang
macam dakwaan. diatur dalam Ps 141 KUHAP.
- Disusun dalam rumusan tunggal dan - Beberapa TP dimintakan untuk diadili sekaligus
hanya berisi satu dakwaan. agar masing-masing mendapat keputusan
sendiri dengan pemeriksaan sekaligus dalam
- Perumusannya, dijumpai dalam TP yang satu rangkaian sidang pengadilan.
tidak mengandung faktor-faktor : Misal: pencurian dan penganiayaan yang
penyertaan, concursus, alternatif maupun diperiksa sekaligus dan dibuktikan masing-
subsidair. masing tersendiri
- Misal: mencuri dengan satu dakwaan Surat
Dakwaan
3. Dakwaan secara alternatif 4. Dakwaan secara subsidair
- Didakwakan satu TP di antara beberapa jenis TP yang - Untuk membuat perkara pidana lebih dari satu dakwaan di
harus dipilih, karena ada keraguan mengenai jenis antara jenis TP yang berat dan TP yang ringan agar
kejahatan yang paling tepat untuk didakwakan dan dalam memperoleh satu putusan yang tepat. Ada urutan paling
penuntutan diserahkan kepada pengadilan untuk memilih atas dan paling bawah.
yang paling tepat berdasarkan hasil pembuktian di - Diajukan PU terhadap TP yang terjadi karena menimbulkan
persidangan agar mendapat putusan satu jenis TP saja. suatu akibat dan akibat itu menyangkut beberapa
- Keragu-raguan PU di sini terkait dengan hasil pemeriksaan ketentuan Ps KUHP yang hampir saling berdekatan cara
penyidikan terhadap TP yang terjadi masuk dalam dua melakukan TP itu.
rumusan Ps KUHP yang saling “mengecualikan”. - Misal: Pembunuhan (Ps 338) yang mungkin dilakukan
- Agar Terdakwa tidak terlepas dari pertanggungjawaban secara berencana (Ps 340) atau hanya menganiaya (Ps 353
hukum, maka PU membuat dakwaan alternatif. atau Ps 355).
- Misal: satu TP pencurian masuk pencurian (Ps 262) atau - kata “atau” dalam pilihan yang berat atau yang ringan dan
bukan dalam arti ada keragu-raguan seperti dalam
penadahan (Ps. 480KUHP) dakwaan secara alternatif4.
Praperadilan, Ganti Kerugian dan Rehabilitasi
Praperadilan (KUHAP Pasal 77-83)
- Wewenang hakim untuk melakukan pengawasan terhadap
tahap pemeriksaan pendahuluan atau sebelum
pemeriksaan sidang di Pengadilan.
Fungsi hakim praperadilan sebagai pengawas terhadap pemeriksaan pada tahap
pendahuluan atau sebelum pemeriksaan sidang
pengadilan.
Tujuan untuk melakukan “pengawasan horizontal” atas tindakan upaya paksa
yang dikenakan terhadap Tersangka selama berada dalam pemeriksaan
penyidikan atau penuntutan, agar benar-benar tindakan itu tidak
bertentangan dengan ketentuan hukum dan UU
(M. Yahya Harahap,2008: 4)
Badan mana yang wenang memeriksa
Praperadilan?
Pengadilan Negeri berwenang untuk:
memeriksa, dan
memutus
sesuai dengan ketentuan UU tentang:
1. Sah tidaknya:
- penangkapan,
- penahanan,
- penghentian penyidikan atau
- penghentian penuntutan.
2. Ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi
seorang yang perkara pidananya dihentikan
pada tingkat penyidikan atau penuntutan.
Apa yang dimaksud Praperadilan itu?
Wewenang PN untuk memeriksa dan memutus
1. Sah tidaknya penangkapan dan atau penahanan atas
permintaan Tersangka atau keluarganya atau pihak
lain atas kuasa tersangka.
2. Sah tidaknya penghentian penyidikan atau
penghentian penuntutan atas permintaan tersangka
atau terdakwa atau keinginannya demi tegaknya
hukum dan pengadilan.
3. Permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh
tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas
kuasanya yang perkaranya tidak diajukan ke
pengadilan.
(Pasal 1 butir 10 KUHAP)
Kapan batas waktu pemeriksaan praperadilan itu?
Sampai pada perkara tersebut
diajukan ke depan sidang pengadilan
Pasal. 28 ayat (1) sub d:
- dalam hal suatu perkara sudah mulai
diperiksa oleh pengadilan negeri,
sedangkan
pemeriksaan mengenai permintaan
kepada praperadilan belum selesai,
maka
permintaan tersebut gugur
2. Melakukan
pengujian
wewenang hakim terhadap sah atau
tidaknya suatu
praperadilan, penahanan;
meliputi
1. Melakukan 3. Melakukan
pengujian sah pengujian terhadap
atau tidaknya sah atau tidaknya
suatu
penangkapan; Wewenang suatu penghentian
penyidikan;
Hakim
Praperadila
n
5. Menetapkan ganti
kerugian dan atau 4. Melakukan
rehabilitasi terhadap pengujian terhadap
mereka yang perkaranya sah atau tidaknya
dihentikan pada tingkat penghentian
penyidikan atau
penuntutan penuntutan;
Bagaimana Prosedur Praperadilan itu?
Prosedur
(Pasal 79 – Pasal 83 KUHAP)
Praperadilan
1. Harus diajukan oleh Pemohon
kepada Ketua PN, disertai
alasannya.
2. Diajukan
dan dicatat dalam
register Perkara
Praperadilan. 3. Diperiksa oleh hakim
tunggal.
4. Jangka waktu 3 hari setelah
permintaan pemeriksaan 5. Pemeriksaan secara cepat,
praperadilan diterima oleh dalam waktu 7 hari hakim
hakim, maka hakim segera harus sudah menjatuhkan
menetapkan sidang. putusan.
6. Putusan Praperadilan tidak dapat
dimintakan banding, kecuali putusan
praperadilan tentang penetapan tidak
sahnya penghentian penyidikan atau
penghentian penuntutan.
PT dalam daerah hukum yang
bersangkutan dan putusan PT
merupakan putusan terakhir
Ganti Kerugian
Hak seseorang untuk mendapat pemenuhan tuntutannya berupa
- imbalan sejumlah uang,
- karena ditangkap,
- ditahan,
- dituntut atau diadili atau tindakan lain tanpa alasan (Ps 1 angka 22)
Ganti Rugi dalam proses pidana dibedakan:
1. Ganti kerugian karena seseorang:
ditangkap, ditahan, dituntut, atau diadili tanpa alasan yang
berdasarkan UU atau kekeliruan mengenai orangnya atau salah
menerapkan hukum;
2. Ganti kerugian kepada bekas terpidana sesudah putusan herziening;
3. Ganti kerugian pihak ketiga atau korban pelanggaran hukum bukan
penguasa.
Diatur: KUHAP Bab XII tentang Ganti Kerugian dan Rehabilitasi,
Ps. 95 –Ps 97. (untuk jenis Ganti Kerugian no. 1 dan 2)
Alasan tersangka/terdakwa/terpidana
menuntut ganti kerugian
an :
kel iru
ya ke
n
ada
[Link];
[Link];
[Link];
[Link]
[Link] lain;
[Link] maupun hukum yang
diterapkan
Instansi mana yang berwenang
memeriksa ganti kerugian dalam proses
pidana ?
1. Untuk ganti kerugian yang perkaranya:
- tidak diajukan ke pengadilan
(karena tidak terdapat cukup bukti atau peristiwanya
tidak merupakan tindak pidana sedang tersangka telah
ditangkap, ditahan dan tindakan-
tindakan lain secara melawan
hukum)
diperiksa dan diputus oleh hakim
praperadilan.
2. Untuk ganti kerugian yang perkaranya:
- diajukan ke pengadilan
diperiksa dan diputus hakim yang telah mengadili
perkara tersebut.
Rehabilitasi
Definisi
: Hak seseorang untuk mendapat pemulihan
haknya dalam kemampuan, kedudukan, dan
harkat serta martabatnya yang diberikan
pada tingkat penyidikan, penuntutan atau
peradilan karena ditangkap, ditahan,
dituntut atau diadili tanpa alasan yang
berdasarkan UU karena kekeliruan mengenai
orangnya atau hukum yang diterapkan
menurut cara yang diatur dalam UU
(Pasal 1 butir 23 KUHAP)
Rehabilitasi menurut Ps 97
1. Seorang berhak memperoleh rehabilitasi
apabila oleh pengadilan diputus lepas dari segala tuntutan hukum
- yang putusannya telah mempunyai
kekuatan hukum tetap.
2. Rehabilitasi
diberikan dan dirumuskan sekaligus dalam putusan pengadilan
3. Permintaan rehabilitasi oleh tersangka atas
- penangkapan, dan
- penahanan
o tanpa alasan yang berdasarkan UU atau
o kekeliruan mengenai orang atau hukum
yang diterapkan sebagaimana dalam Ps 95 ayat (1)
yang perkaranya tidak diajukan ke PN diputus oleh
hakim praperadilan yang dimaksud Ps 77.
Instansi mana yang berwenang memberikan
rehabilitasi?
Apabila perkara diajukan ke pengadilan dan diputus bebas atau
lepas dari segala tuntutan hukum
diberikan oleh pengadilan yang mengadili
perkara tersebut.
Apabila perkaranya dihentikan
o sedangkan tersangka/terdakwa sebelumnya dikenai
penangkapan/penahan tanpa alasan yang sah, atau
o keliru orangnya atau hukum yang diterapkan
diberikan oleh hakim yang memeriksa praperadilan
penetapan
Kepada siapakah ganti kerugian dan rehabilitasi harus
diajukan?
1. Ketua Pengadilan
Negeri
jika perkara yang
diperiksa itu sudah
sampai pada tingkat
pengadilan.
2. Lembaga
Praperadilan
jika yang diperiksa itu
baru sampai pada
tingkat penyidikan
atau penuntutan.
Rehabilitasi dan Kompensasi dalam
TPK
Seseorang yang dirugikan akibat :
- Penyelidikan,
- Penyidikan, dan
- Penuntutan yang tidak sesuai dengan
Peraturan Perundangan/hukum yang
berlaku, berhak:
(a)Mengajukan gugatan rehabilitasi
dan/atau kompensasi ke Pengadilan
TIPIKOR (Pasal 63 UU No. 31/1999 yang
telah diubah dengan UU No. 20/2001, dan
(b)Mengajukan gugatan praperadilan sesuai
ketentuan KUHAP
Berapa besar imbalan ganti
kerugian ?
Besar Imbalan
Ganti Kerugian
yakni:
- Min Rp 5000,- (lima ribu rupiah),
- Max Rp 1.000.000,- (satu juta
rupiah).
- Akibat dari penangkapan,
penahanan atau tindakan lainnya
sakit atau cacat atau mati Max 3
juta
Siapakah yang harus membayar ganti
kerugian?
Teoritis
Yang dapat dituntut ganti kerugian adalah
- pejabat yang langsung melakukan
penangkapan atau penahanan.
Hakim karena jabatannya tidak dapat
dituntut ganti kerugian
Tahap Pemeriksaan di Sidang
Pengadilan
a. Asas-asas atau Prinsip-prinsip Pemeriksaan di Sidang Pengadilan
1) Sidang terbuka untuk umum Diatur:
a) UU No. 48 Tahun 2009 Kekuasaan Kehakiman Pasal 13 ayat (1)
dan (2);
b) UU No. 8 tahun 1981 KUHAP Pasal 153 ayat (3) dan (4).
2) Pemeriksaan secara langsung Diatur:
c) UU No. 48 tahun 2009 Pasal 12 ayat (1)
d) UU No. 8 tahun 1981 Pasal 154 ayat (4);
3) Pemeriksaan secara lisan (oral debat);
4) Tidak boleh mengajukan pertanyaan menjerat
Diatur: KUHAP Pasal 166;
5) Pemeriksaan bersifat accusatoir
Pelbagai ketentuan dalam pemeriksaan sidang Pengadilan:
1) Peradilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan orang
(UU No. 48 Tahun 2009 Pasal 4 ayat (1));
2) Segala campur tangan dalam urusan peradilan oleh pihak lain di luar kekuasaan kehakiman
dilarang,
kecuali dalam hal-hal sebagaimana disebut dalam UUD Negara RI Tahun 1945;
3) Pengadilan tidak boleh menolak memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang
diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas
(UU No. 48 tahun 2009 Pasal 10 ayat (1))
4) Semua perkara pidana harus disidangkan dengan melalui majelis hakim yaitu tiga orang hakim,
kecuali perkara dengan sidang pemeriksaan kilat atau perkara yang diizinkan MA untuk sidang
dengan hakim tunggal
(UU No. 4 tahun 2004 Pasal 11 ayat (1));
5) Sidang peradilan untuk anak-anak dilakukan secara tertutup di mana hakim, penuntut umum,
penasehat hukum bersidang tanpa memakai toga, sementara anak-anak itu sendiri harus
didampingi oleh orang tua atau wali atau orang tua asuh
(Pasal 9 sampai dengan Pasal 12 PerMen Kehakiman No. 06. UM. 01. 06 Tahun 1983)
6) Pengadilan dilakukan dengan sederhana, cepat dan biaya ringan, serta bebas jujur dan tidak
memihak harus diterapkan secara konsekuen dalam seluruh tingkat peradilan
(UU No. 48 tahun 2009 Pasal 2 ayat (4) dan KUHAP pada Penjelasan Umum angka 3.
e);
7) Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, dan/atau dihadapkan di depan
pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang menyatakan
kesalahannya dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap
(UU No. 48 tahun 2009 Pasal 8 ayat (1)dan KUHAP Penjelasan Umum angka 3. c)
b. Wewenang Pengadilan Untuk Mengadili
Untuk sahnya persidangan setiap sidang pidana harus
dihadiri oleh
- Penuntut umum, dan
- terdakwa,
jika tidak maka putusan dinyatakan batal demi hukum.
Berdasar KUHAP Pasal 154 ayat (5)
perkara yang terdakwanya lebih dari satu orang,
maka syarat ini sudah dipenuhi
jika salah seorang terdakwa sudah hadir
Siapakah yang menentukan hari sidang di
Pengadilan?
Hakim yang ditunjuk Ketua Pengadilan untuk
menyidangkan perkara.
Kemudian hakim tersebut yang menetapkan:
hari sidang, dan
memerintahkan kepada penuntut umum
untuk supaya memanggil terdakwa dan saksi
untuk datang di sidang pengadilan
(Pasal 152 ayat (1) dan (2).
Pemanggilan untuk datang ke sidang pengadilan:
dilakukan secara sah
1. Surat panggilan kepada terdakwa disampaikan di alamat
tempat tinggalnya, atau apabila tempat tinggalnya tidak
diketahui, disampaikan di tempat kediaman terakhir;
2. Apabila terdakwa tidak ada di tempat tinggalnya atau
tempat kediaman terakhir, surat panggilan disampaikan
Syarat-
melalui kades yang berdaerah hukum tempat tinggal
syarat terdakwa atau tempat kediaman terakhir
sahnya
3. Apabila terdakwa ada dalam tahanan surat panggilan
suatu disampaikan kepadanya melalui pejabat Rumah Tahan
pemanggila Negara;
n kepada
4. Penerimaan surat panggilan oleh terdakwa sendiri
terdakwa: ataupun oleh orang lain atau melalui orang lain, dilakukan
dengan tanda penerimaan;
5. Apabila tempat tinggal maupun tempat kediaman terakhir
tidak dikenal, surat panggilan ditempatkan pada tempat
pengumuman di gedung pengadilan
(KUHAP Pasal
145)
Siapa yang menyampaikan surat
panggilan?
- Penuntut umum :
menyampaikan surat panggilan tersebut memuat tanggal, hari, serta jam sidang dan
untuk perkara apa ia (terdakwa/saksi) dipanggil
harus diterima oleh ybs selambat-lambatnya 3 hari sebelum sidang dimulai.
Lihat: (KUHAP Pasal 146 ayat (1) dan (2)).
- Setelah PN menerima:
surat pelimpahan perkara dari PU,
Ketua PN mempelajari apakah perkara tersebut menjadi wewenang pengadilan yang
dipimpinnya.
Lihat: (KUHAP Pasal 147)
- Apabila Ketua PN berpendapat :
bahwa perkara pidana tidak termasuk wewenangnya
Ketua PN menyerahkan surat pelimpahan perkara tersebut ke PN lain yang dianggap
berwenang dengan surat penetapan yang memuat alasannya.
Kemudian surat pelimpahan perkara tersebut diserahkan kembali kepada PU
selanjutnya menyampaikan kepada Kejaksaan Negeri di tempat PN yang berwenang
sesuai yang tercantum dalam surat penetapan.
Turunan surat penetapan disampaikan kepada terdakwa atau penasehat hukumnya
dan Penyidik
Lihat: (KUHAP Pasal 148)
Bagaimana jika PU berkeberatan
terhadap surat penetapan dari Pengadilan Negeri
tersebut?
Berdasar KUHAP Pasal 149 ayat (1)
apabila PU berkeberatan terhadap surat penetapan PN
tersebut, maka:
a. PU mengajukan perlawanan kepada PN yang
bersangkutan dalam waktu 7 hari setelah
penetapan tersebut diterima;
b. Tidak dipenuhinya tentang tenggang waktu
tersebut mengakibatkan batalnya perlawanan;
c. Perlawanan tersebut disampaikan kepada Ketua
PN yang bersangkutan untuk dicatat dalam buku
daftar panitera; d. Dalam waktu 7 (tujuh) hari PN
wajib meneruskan perlawanan tersebut kepada PT
yang bersangkutan.
Tindakan apa yang dilakukan oleh PT
terhadap perlawanan PU yang disampaikan oleh
PN kepada PT tersebut?
1. PT dalam waktu paling lama
14 hari setelah menerima perlawanan tersebut dapat menguatkan
atau menolak perlawanan itu dengan surat penetapan
(Pasal 149 ayat (2))
2. Apabila PT menguatkan perlawanan PU,
maka dengan surat penetapan diperintahkan kepada PN yang
bersangkutan untuk menyidangkan perkara tersebut
(Pasal 149 ayat (4);
3. Tembusan surat penetapan PT disampaikan kepada
PU
(Pasal 149 (5)).
Kapan terjadinya sengketa kewenangan
mengadili?
Terjadinya, apabila:
1. Dua pengadilan atau lebih
- menyatakan dirinya berwenang mengadili atas
perkara yang sama;
2. Dua pengadilan atau lebih
- menyatakan dirinya tidak berwenang mengadili
perkara yang sama.
(Pasal 150).
Bagaimana penyelesaiannya
terhadap sengketa kewenangan mengadili?
Terhadap sengketa kewenangan mengadili tersebut wewenang untuk
memutuskannya :
a. PT, jika sengketa itu terjadi antara dua PN atau lebih yang
berkedudukan dalam daerah hukumnya
(Pasal 151 ayat (1);
b. MA, jika sengketa terjadi:
1) Antara pengadilan dari satu lingkungan peradilan dengan
pengadilan dari lingkungan peradilan lain;
2) Antara dua PN yang berkedudukan dalam daerah hukum
PT yang berlainan;
3) Antara dua PT atau lebih.
(Pasal 151 ayat (2)).
Pengadilan mana
yang berwenang memeriksa perkara pidana?
a. PN, berwenang mengadili segala perkara mengenai
tindak pidana yang dilakukan dalam daerah
hukumnya
(KUHAP Pasal 84
ayat (1);
b. PN Jakarta Pusat, jika tindak pidana dilakukan di luar
negeri yang dapat diadili menurut hukum RI (KUHAP
Pasal 86).
Jadi wewenang memeriksa perkara pidana pada
TK I ada pada PN di mana tindak pidana itu
dilakukan (locus delicti).
c. Acara Pemeriksaan Sidang Pengadilan
1) Acara Pemeriksaan Biasa (Pasal 152-182).
2) Acara Pemeriksaan Singkat (Pasal 203-204).
3) Acara Pemeriksaan Cepat (APC) (Pasal 205- 210)
a) APC Pemeriksaan tindak pidana ringan.
b) APC Pemeriksaan perkara Pelanggaran Lalin
jalan
Acara Pemeriksaan Biasa
(KUHAP Pasal 152 –
182)
1. Tata cara Pemeriksaan Terdakwa
- Pemeriksaan dilakukan oleh hakim yang ditunjuk oleh Ketua
Pengadilan.
- Pemeriksaan dilakukan secara lisan dalam bahasa Indonesia,
secara bebas dan terbuka untuk umum, kecuali UU
menentukan lain.
- Anak di bawah 17 tahun dapat dilarang menghadiri sidang.
- Pemeriksaan dilakukan dengan hadirnya terdakwa, dapat
dipanggil secara paksa.
- Pemeriksaan dimulai oleh hakim dengan menanyakan
Identitas terdakwa.
- Pembacaan surat dakwaan oleh PU
2. Keberatan (Eksepsi) Terdakwa atau Penasehat hukum.
Macam atau jenis eksepsi :
a. Eksepsi tidak berwenang mengadili, secara:
1) Relatif
2) Absolut.
b. Eksepsi dakwaan tidak dapat diterima.
Alasan keberatan dakwaan:
1) Apa yang didakwakan kepada T bukan TP kejahatan atau pelanggaran.
2) Nebis in idem.
3) Apa yang didakwakan kepada T telah daluwarsa.
4) Apa yang didakwakan kepada T tidak sesuai dengan TP yang dilakukan.
5) Apa yang didakwakan kepada T bukan merupakan TP
6) Apa yang didakwakan kepada T adalah TP aduan, sedang orang yang berhak mengadu tidak
pernah mempergunakannya.
c. Keberatan surat dakwaan batal demi hukum (Ps. 143, 144 ayat (2) (3)).
Kemudian setelah itu, putusan dapat dijatuhkan berupa:
1) Menyatakan keberatan diterima;
2) Keberatan tidak diterima;
3) Eksepsi diputus bersamaan dengan pokok perkara.
3. Perlawanan terhadap putusan Eksepsi.
Pemeriksaaan selanjutnya
dilakukan terhadap saksi:
- Yang telah tercantum dalam berita acara atau yang
diminta oleh terdakwa atau penasehat hukumnya atau
Penuntut Umum selama sidang atau sebelum sidang.
- Hakim Ketua sidang selanjutnya meneliti apakah
semua saksi yang dipanggil telah hadir dan memberi
perintah untuk mencegah jangan sampai saksi
berhubungan satu dengan yang lain sebelum
memberikan keterangan di sidang.
(Pasal 159 91) KUHAP)
Pembuktian/Pemeriksaan Alat-alat
Bukti
Sistem Pembuktian :
1) Semata-mata berdasar keyakinan hakim (convictim
in time).
2) Berdasar keyakinan hakim atas alasan logis (la
conviction raisonee/Convictim-raisonee).
3) Undang-Undang secara positif (Positief Wettelijk).
4) Undang-Undang secara negatif (Negatief Wettelijk).
(Ps.
294; 183 KUHAP, 6 (2) UU No. 48/2009)
Alat-Alat Bukti
Alat Bukti yang Sah
(Ps 184 KUHAP)
1. Keterangan Saksi.
2. Keterangan Ahli.
3. Surat.
4. Petunjuk.
5. Keterangan Terdakwa
Keterangan Saksi
a. Pengertian:
Keterangan saksi salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa
keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia
dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri dengan
menyebut alasan dari pengetahuannya itu.
(Ps 1 butir 27 KUHAP).
Saksi orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan,
penuntutan dan peradilan tentang sesuatu perkara yang ia dengar sendiri, ia
lihat sendiri, dan ia alami sendiri
(Ps 1 butir 26 KUHAP).
b. Kewajiban memberi kesaksian
Menjadi saksi salah satu kewajiban setiap orang.
Orang yang menjadi saksi setelah dipanggil ke suatu sidang
pengadilan untuk memberikan keterangan, tp menolak kewajiban
itu ia dapat dikenakan pidana berdasarkan ketentuan UU yang
berlaku. Demikian halnya dengan saksi ahli (Ps 159 ayat (2)
KUHAP).
c. Tata cara pemeriksaan saksi
1) Saksi dipanggil seorang demi seorang (Pasal 160 ayat (1) a))
2) Memeriksa identitas. (Pasal 160 (1) b).
3) Saksi wajib mengucapkan sumpah, sebelum memberikan keterangan.(Pasal 160 ayat (3).
4) Sumpah dapat diucapkan di luar sidang. (Pasal 233 (1).
5) Penolakan sumpah dapat dikenakan sandera. (Pasal 161)
6) Keterangan saksi di sidang berbeda dengan berita acara. (Pasal 163).
7) Terdakwa dapat membantah atau membenarkan keterangan saksi. (Pasal 164 (1))
Setiap kali seorang saksi selesai memberikan keterangan, hakim ketua sidang
menanyakan kepada Terdakwa bagaimana pendapatnya tentang keterangan tersebut.
8) Kesempatan mengajukan pertanyaan kepada saksi dan Terdakwa
- Ps 164 KUHAP:
(1) penuntut umum dan penasehat hukum dengan perantaraan hakim ketua sidang diberi kesempatan untuk mengajukan
pertanyaan kepada saksi dan T;
(2) hakim ketua sidang dapat menolak pertanyaan yang diajukan oleh PU atau penasehat hukum kepada saksi atau
terdakwa dengan memberikan alasannya.
- Ps 165:
(1) ketua sidang dan hakim anggota dapat minta kepada saksi segala keterangan yang dipandang perlu untuk
mendapatkan kebenaran;
(2) PU, terdakwa atau penasehat hukum dengan perantaraan hakim atau ketua sidang diberi kesempatan untuk
mengajukan pertanyaan kepada saksi;
(3) hakim ketua sidang dapat menolak pertanyaan yang diajukan oleh PU, terdakwa atau penasehat hukum kepada saksi
dengan memberikan alasannya;
(4) hakim dan PU atau terdakwa atau penasehat hukum dengan perantaraan hakim ketua sidang dapat saling
menghadapkan saksi untuk menguji kebenaran keterangan mereka masing-masing
9) Larangan mengajukan pertanyaan yang bersifat menjerat Pertanyaan yang bersifat
menjerat tidak boleh diajukan baik kepada terdakwa maupun kepada saksi (Ps 166
KUHAP).
10) Saksi telah memberi keterangan tetap hadir di sidang.
- Ps 167:
(1) setelah saksi memberi keterangan ia tetap hadir di sidang, kecuali hakim ketua
sidang memberikan ijin untuk meninggalkannya;
(2) Izin itu tidak diberikan jika PU atau terdakwa atau penasehat hukum mengajukan
permintaan supaya saksi tetap menghadiri sidang;
(3) Para saksi selama sidang dilarang bercakap-cakap
11) Yang tidak dapat didengar sebagai saksi Ps 168 a KUHAP: kecuali ditentukan lain dalam UU
ini, maka tidak dapat didengar keterangannya dan dapat mengundurkan diri sebagai saksi.
(a) Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai
derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa.
(b) Saudara dari terdakwa atau bersama-sama sebagai terdakwa, saudara ibu atau
saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan dan
anak-anak saudara terdakwa sampai derajat ketiga.
(c) Suami atau istri meskipun sudah bercerai atau yang bersama-sama sebagai
terdakwa.
Namun
jika mereka yg tidak dapat menjadi saksi dan dapat mengundurkan diri sebagaimana
disebutkan di atas menghendakinya dan PU serta terdakwa secara tegas menyetujuinya
dapat memberikan keterangan di bawah sumpah.
12) Mereka yang dapat minta dibebaskan menjadi saksi Mereka yang karena
pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan
rahasia ditentukan oleh peraturan perundang-undangan.
13) Keterangan saksi seorang bukanlah saksi (unus testis nullus testis)
dapat jika disertai dengan suatu alat bukti yang sah lainnya. (pasal 185
(4) KUHAP).
Penilaian terhadap kebenaran saksi, hakim harus memperhatikan:
a. Persesuaian antara keterangan saksi atau dengan yang lain;
b. Persesuaian antara keterangan saksi dengan alat bukti lain;
c. Alasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk memberi
keterangan yang tetap;
d. Cara hidup dan kesusilaan saksi serta segala sesuatu yang pada
umumnya dapat mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu
dipercaya.
14) Saksi dalam memberikan keterangan wajib mengucapkan sumpah atau
janji menurut agamanya masing-masing.
15) Kedudukan saksi:
a. Yang meringankan dakwaan (a dechrge).
b. Yang memberatkan dakwaan (a charge)
Keterangan Ahli
Apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan (Ps. 186 KUHAP)
- Keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian
khusus tentang hal yang diperlukan
- untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan
pemeriksaan Lihat : (Ps 1 butir 28 KUHAP)
- Keterangan ahli di berikan di bawah sumpah/janji di hadapan
hakim.
- Dapat diberikan pada waktu pemeriksaan oleh Penyidik dan PU
yang dituangkan dalam suatu laporan dan dibuat mengingat
sumpah di waktu ia menerima jabatan atau pekerjaan
(Penjelasan Ps. 186 KUHAP)
Surat
(PS. 187 KUHAP)
Surat sebagai alat bukti dibuat atas sumpah jabatan atau dibuatkan
dengan sumpah
Surat- surat tersebut:
1. Berita Acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat
umum yang berwenang atau dibuat di hadapannya yang memuat
keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau
dialaminya sendiri disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang
keterangan itu.
2. Surat yang dibuat menurut ketentuan pert per-UUan atau surat yang
dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana
yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi
pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan. Serat yang dibuat oleh
pejabat di sini termasuk surat yang dikeluarkan oleh suatu majelis yang
berwenang untuk itu
3. Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan
keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta
secara resmi dari padanya.
4. Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi
Petunjuk
Perbuatan, kejadian, atau keadaan yang karena
persesuaiannya baik antara yang satu dengan
yang lain maupun dengan TP itu sendiri
menandakan bahwa telah terjadi suatu TP dan
siapa pelakunya
Lihat (Ps. 188 (1) KUHAP).
Petunjuk dapat diperoleh dari:
1. Keterangan saksi.
2. Surat.
3. Keterangan terdakwa
Keterangan Terdakwa
Yakni:
- Apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yg
ia lakukan atau ia ketahui sendiri atau alami sendiri
Lihat (Ps. 189 (1) KUHAP)
Keterangan terdakwa saja
tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah
melakukan perbuatan yg didakwakan kepadanya,
melaharus disertai dengan alat bukti yg laininkan.
(Ps 189 (4)).
Keterangan terdakwa di luar
sidang
- Keterangan berupa :
yang diberikan dalam pemeriksaan
penyidikan
dicatat dalam BA Penyidikan
BAP tersebut ditandatangani
oleh pejabat penyidik dan
terdakwa
Penuntutan oleh PU (Rekuisitoir)
Setelah pemeriksaan alat-alat bukti dinyatakan selesai,
PU mengajukan tuntutan pidana:
- yang berisi:
1. Identitas Terdakwa
2. Dakwaan primer, subsidair, dst
3. Pemeriksaan pengadilan
saksi-saksi,
Terdakwa
surat,
pemeriksaan di tempat kejadian
4. Fakta-fakta hukum
5. Hal-hal yang memberatkan
6. Hal-hal yang meringankan
Pembelaan (pleidoi) Terdakwa/Penasehat
Hukum
Pembacaan pledidoi bisa dilakukan oleh Terdakwa atau Penasehat Hukumnya.
Yang akan dijawab oleh PU
dengan ketentuan T atau Penasehat hukum selalu mendapat giliran
terakhir
Lihat : (Pasal 182 ayat (1) b KUHAP)
Apabila tahap proses :
- penuntutan,
- pembelaan dan
- jawaban telah berakhir,
tibalah saatnya hakim ketua menyatakan :
“pemeriksaan dinyatakan ditutup”.
Pernyataan inilah yang mengantar persidangan ke tahap
musyawarah hakim guna menyiapkan putusan yang akan
dijatuhkan pengadilan.
Putusan apa yang akan dijatuhkan pengadilan, tergantung
Acara Pemeriksaan Singkat
BAB XVI, Bag. Ke5, Pasal 203-204
1. Syarat pemeriksaan singkat Pasal 203 (1) KUHAP.
Patokan yang digunakan :
perkara yang ancaman hukumannya di atas 3 bulan penjara atau kurungan serta
dendanya lebih dari Rp 7500,-.
Ancaman max tidak ditentukan KUHAP, praktek berkisar paling tinggi 3 tahun.
Ex: TP perkelahian satu lawan satu (Ps 182
KUHP).
2. Tata cara pemeriksaan
a. PU menghadapkan Terdakwa, saksi, ahli, juru bahasa dan barang bukti yang diperlukan di
muka sidang (203 (2);
b. Waktu, tempat, keadaan melakukan tapi diberitahukan lisan, dicatat dalam berita acara
sebagai pengganti surat dakwaan (203 (3)
a;
c. Dapat diadakan pemeriksaan tambahan oleh PU paling lama 14 hari (203 (3)
b);
d. Terdakwa atau penasehat hukum dapat minta tunda sidang paling lama 7 hari (203 (3) d, e,f)
Jika,
dari pemeriksaan sidang sesuatu perkara yang
diperiksa
dengan
acara singkat
ternyata sifatnya jelas dan ringan,
yang
seharusnya diperiksa dengan acara cepat,
maka
hakim dengan persetujuan terdakwa
dapat
melanjutkan pemeriksaan tersebut
(Pasal 204).
Acara Pemeriksaan Cepat
BAB XVI, Bag Ke 6, Ps 205-210.
1. Acara Pemeriksaan TP Ringan
a. Syarat perkara yang diancam dengan pidana penjara atau kurungan paling
lama 3 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp7500,- dan penghinaan
ringan (205 (1)).
b. Tata cara pemeriksaan TP Ringan
1) yang menghadapkan Terdakwa dalam sidang adalah polisi, bukan jaksa
PU
(205 (2));
2) Mengadili dengan hakim tunggal, TK I dan terakhir, kecuali divonis
penjara dapat banding
(205 (3)).
3) Pemeriksaan pada hari tertentu dalam 7 hari
(206 dan 207 (1) a, b; (2) a, b).
4) Saksi tidak mengucapkan sumpah atau janji kecuali jika perlu (208);
5) Berita acara sidang tidak dibuat
(209 (2);
6) Putusan dalam acara TP ringan, tidak dibuat secara khusus, cukup
2. Acara Pemeriksaan Perkara Pelanggaran Lalulintas Jalan
(Pasal 211-216 KUHAP jo Pasal 267-372 UU No. 22 Tahun 2009)
a. Syarat perkara pelanggaran tertentu terhadap
peraturan perundang-undangan lalulintas jalan
lihat : (211
KUHAP jo Pasal 273-316 UU No. 22 Tahun 2009).
b. Tata cara pemeriksaan pelanggaran lalulintas jalan
1) Tidak diperlukan Berita Acara Pemeriksaan
(212 KUHAP);
2) Dapat menunjuk seorang wakil
(213 KUHAP).
3) Proses selanjutnya diatur dalam Pasal 214 KUHAP