Pengaruh Sosiodemografi dan Kesehatan Malaria
Pengaruh Sosiodemografi dan Kesehatan Malaria
OLEH : F I R M A N
NPM : 1820011003
BAB I : PENDAHULUAN
Latar Belakang &
Masalah
World malaria report tahun
2020 Data 2019, kasus
malaria di dunia : 229 juta
kasus : 409 ribu orang
meninggal dunia karena
malaria
Kasus malaria tahun 2019 di
Indonesia sebanyak 250.644
kasus
Tahun 2019 Provinsi Lampung
1.521 kasus 5 besar
secara nasional (No 1
Regional Sumatera)
Eliminasi Malaria 2030 :
Sosiodemografi, Karakteristik
Fisik Wilayah dan Upaya
Pelayanan Kesehatan
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut di atas
maka perlu dilakukan kajian untuk
menentukan model prediksi kejadian
penyakit malaria melalui penelitian,
dengan variabel yang berhubungan
dengan:
Sosiodemografi,
Karakteristik fisik wilayah
Upaya pelayanan kesehatan
di Kabupaten Pesawaran Provinsi
Lampung
Tujuan Penelitian: Manfaat Penelitian
Menentukan
Pantai
BAB III : METODE PENELITIAN
+α5[D1_PDGG/WRST]+α6[D1_TPAKP] + α7[D2_SMP]+α8[D2_SMA]
+ α9[D2_PT] +α10[KRMH]+α11[MOAN]+α12[KTD]+α13[D3_JTPV5]
+ α26 [MBS] + Ξ
Keterangan
Ln : Logaritma berbasis bilangan Napier (Natural Number)=
2,71828...
α : Nomor sampel ke i =1,2, 3,..... 428.
p[Malaria=1] : Peluang responden menderita malaria
1- p[Malaria=1] : Peluang responden terhidar dari malaria
α0 sampai α26 : Parameter Model
Ξ : Error (galat) model
Uji Hipotesis dan Optimasi Parameter Model
Logistik Biner
dengan variabel bebas (X) yang berupa data
interval dan atau katagorik
Analisis Univariat
Sebaran Responden
Berdasarkan Umur
0.69%
1.83%
Sebaran Responden
Berdasarkan Jenis Ke-
lamin
97.48% 32.11%
1 - 14 Tahun 15 - 65 Tahun
> 66 Tahun 67.89%
Laki-Laki Perempuan
Analisis Univariat
Sebaran Responden Berdasarkan
35.00% Pekerjaan
30.28%
30.00%
27.30%
5.73% 30.00%
5.00%
25.00%
0.00% 20.00%
14.68%
15.00%
10.00%
5.00% 2.75%
0.00%
Sales
Analisis Univariat
Sebaran Responden
Berdasarkan Perilaku Keluar
Rumah Dimalam Hari
Sebaran Responden
Berdasarkan Penggunaan
49.54% 50.46% Obat Anti Nyamuk
52.06%
47.94%
Keluar Rumah Dimalam Hari
Tidak Keluar Rumah Dimalam Hari
Menggunakan OAN
Tidak Menggunakan OAN
Analisis Univariat
Sebaran Responden Berdasarkan
Ketinggian Dataran Tempat
Tinggal/Rumah
1.38%
6.19%
40.00%
92.43%
35.00%
30.00%
25.00%
0,00 - 25,00 mdpl 25,01 - 50,00 mdpl 50,01 - 100,00 mdpl 46.56%
20.00%
35.55%
15.00%
10.00%
5.00%
12.84%
5.05%
0.00%
Sales
Analisis Univariat
Sebaran Responden Berdasarkan
Jenis TPV dalam Jarak 0 – 3.000
meter dari Rumah/Tempat Tinggal Sebaran Responden
45.00%
41.51% Berdasarkan Intervensi
TPV
40.00%
35.00%
30.00%
25.00% 23.85%
20.00% 17.43%
14.23%
15.00% 12.39%
10.00%
17.43%
5.00% 2.29% 2.06%
0.46%
0.00%
Sales
68.34
%
Sebaran Responden
Berdasarkan Intervensi
Plasmodium
35.78% 53.21%
42.43%
KLASTE
R 2r
KLASTE
Teluk Pandan: 10 Desa Pd Cermin : 11 Desa
R3 Kecamatan dengan
Kecamatan dengan
KLASTE
endemis malaria Sedang
R4
endemis malaria tinggi
3 Desa : API > 5‰, 1
KLASTE
KLASTE
Desa API 1-5‰, 4 Desa
R6
Desa API 1-5‰, 3 Desa
API 1-5‰, 4 Desa
lainnya < 1 ‰
KLASTE lainnya < 1 ‰
R7
Luas wilayah 77,34 km2
Luas wilayah 127,43 km2
Rata-rata ketinggian
Rata-rata ketinggian
dataran tempat tinggal
Sukajaya klaster dataran tempat tinggal
responden adalah 10,95
malaria di Dsn 3 Laut (1) responden adalah 5,71
mdpl
dan Dsn 7 Mutun (2) mdpl
Desa Hurun klaster
Kasus Malaria di
malaria di Dusun Magan
Kecamatan Pd Cermin
(3)
relatif menyebar di 3
Hanura klaster malaria Desa yaitu:
di Dusun B (4)
Desa Sanggi
Sidodadi klaster
Desa Durian
malaria di Dusun 1 (5)
Desa Gayau
Gebang klaster malaria
di Dusun Tanjung Jaya (6)
Desa Batu Menyan
klaster malaria di Dusun
Ketapang (7)
Punduh Pedada : 11
R9
KLASTE
Kabupaten Pesawaran
Desa
R 10
KLASTER
11
KLASTE
Kecamatan dengan
R 12
Kasus malaria 94,04%
endemis malaria sedang
KLASTE
R 13 terjadi disepanjang
4 Desa : API > 5‰, 2 dataran tepi pantai dan
Desa API 1-5‰, 5 Desa Pulau-pulau kecil
lainnya < 1 ‰
Terdapat klaster malaria
Luas wilayah 113,19 km2 di 13 Dusun di 8 Desa
Rata-rata ketinggian Luas wilayah Kecamatan
dataran tempat tinggal terdapat kasus malaria
Sukarame adalah
responden klaster6,32 541,91 km2
malaria di Dsn Sukarame
mdpl
Induk (9), Dsn Umbul Rata-rata ketinggian
Salak (10), Dsn Pancur dataran tempat tinggal
(11) dan Dsn Suwak Malu responden kasus malaria
(12) adalah 5,71
Kantong2 mdpl
kasus penyakit
malaria di Kabupaten
Desa Kota Jawa klaster Pesawaran memiliki
malaria di Dusun Tempat Perindukan
Sukaraja (13) Vektor (TPV) berupa
lagun, kobakan pasir dan
rawa
Analisis Reglog
Wilayah dan Upaya Pelayanan Kesehatan terhadap Penyakit Malaria
Biner
Predictor Simbol Coef. SE Coef Z P Odds 95% CI
Ratio Lower Upper
α6 -1.14061
Pendidikan
(0=SD)
SMP [D2_SMP] α7 0.627210 1.10794 0.57 0.571 1.87 0.21 16.42
SMA [D2_SMA] 1.19726 1.35 0.177 5.04 0.48 52.68
Perguruan Tinggi [D2_PT] α8 1.61759 1.26 0.209 11.71 0.25 543.29
α9 2.46045 1.95779
Keluar Rumah Malam Hari [KRMH] 4.72 0.000 70.36 12.01 412.16
(0=Tidak) α10
Variabel:Umur
Uji Hipotesis dan Optimasi Parameter Model
Hal tersebut sejalan dengan penelitian penelitian Manumpa (2016) di wilayah kerja
Puskesmas Moru Kecamatan Alor Barat Daya Kabupaten Alor Provinsi Nusa Tenggara
Timur, hasil uji statistik chi square pada penelitian tersebut menunjukkan bahwa tidak
ada pengaruh antara pekerjaan dengan kejadian malaria dengan nilai P=1,64.
Pekerjaan yang beresiko terkena malaria mereka yang bekerja dimalam hari sebagai
penjaga keamanan/penjaga malam atau nelayan/petambak. Dalam penelitian ini
responden yang bekerja sebagai nelayan/petambak merupakan jenis pekerjaan terbesar
kedua yakni berjumlah 119 orang atau sebesar 27,30%. Dari jumlah tersebut diketahui
59 responden yang bekerja sebagai nelayan/petambak terkena malaria dan 60
responden yang bekerja sebagai petambak tidak terkena malaria. Secara keseluruhan
penelitian ini menunjukkan bahwa semua jenis pekerjaan didaerah penelitian tidak
Variabel
Uji Hipotesis dan Optimasi Parameter Model :
Pendidikan
Variabel pendidikan berturut-turut parameter α7, α8 dan α9 yaitu SMP, SMA
dan Perguruan Tinggi semuanya bertanda positif. Sehingga dapat diartikan
bahwa jika variabel lain tetap responden dengan pendidikan SMP, SMA dan
Perguruan tinggi menjadi lebih rentan terhadap infeksi malaria dibandingkan dengan
reponden yang memiliki tingkat pendidikan SD dengan OR (nilai P) berturut-turut
1,87 (0,571), 5,04 (0,177) dan 11,71 (0,209). Namun demikian peningkatan
kerentanan tersebut tidak berbeda nyata sebagaimana ditunjukkan oleh nilai P-nya
masing-masing.
Hal ini sejalan dengan penelitiany Sukiswo SS, dkk (2014) di Kecamatan Arongan
Lambalek Kabupaten Aceh Barat Nangroe Aceh Darussalam yang menyatakan bahwa
tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan kejadian malaria
dengan nilai P=0,611.
Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Nababan, dkk (2018) di Kabupaten
Purworejo Provinsi Jawa Tengah yang menyimpulkan bahwa kebiasaan
keluar rumah dimalam hari memiliki hubungan dengan kejadian malaria
dengan nilai P=0,01 dan Odd Ratio (OR)=3,6.
Keluar rumah dimalam hari tanpa menggunakan alat pelindung diri seperti
sarung, celana panjang dan baju panjang memudahkan kontak antara
manusia dan nyamuk Anopheles. Nyamuk Anopheles biasa menggigit
manusia (anthropofilik) dan menggigit diluar rumah (eksofilik) menjelang
malam hari pukul 18.00 sampai dengan menjelang pagi pukul 06.00
(Widoyono, 2011).
Variabel Penggunaan
Uji Hipotesis dan Optimasi Parameter Model
Obat Anti: Nyamuk
Biner
Wilayah dan Upaya Pelayanan Kesehatan terhadap Penyakit Malaria
Karakteristik Fisik
Wilayah
Ketinggian Dataran [KTD] α12 0.0408866 0.64 0.524 1.03 0.95 1.11
(mdpl) 0.0260722
Jarak TPV
(0=> 3.000 m)
0 – 1.000 m [D3_JTV5] 1.35840 3.37 0.001 96.95 6.77 1389.37
1.001 – 2.000 m [D3_JTV10] α13 4.57420 1.34654 0.66 0.512 2.42 0.17 33.87
2.001 – 3.000 m [D3_JTV10] α14 0.883319 2.23562 0.95 0.344 8.29 0.10 662.96
α15 2.11497
Jenis TPV
(0=Tidak Ada TPV)
Lagun/Kobakan [D4_LGN] 1.44024 1.99 0.046 17.67 1.05 297.27
Rawa [D4_RWA] α16 2.87183 1.31722 -1.59 0.112 0.12 0.01 1.63
Tambak Terlantar [D4_TMBT] α17 -2.09404 1.16592 0.13 0.895 1.17 0.12 11.47
Sawah Berteras [D4_SBTR] α18 -0.154395 2.35406 -0.47 0.636 0.33 0.00 33.09
Saluran Irigasi [D4_SLIG] 3.62022 0.85 0.398 21.33 0.02 253736.88
Kolam Galian [D4_KLGL] α19 -1.11470 3.51707 -0.37 0.714 0.28 0.00 271.94
α20 3.06017
α21 -1.28773
Variabel Ketinggian
Uji Hipotesis dan Optimasi Parameter Model :
Dataran
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Saputro KP (2015) di
Kecamatan Banjar Mangu Kabupaten Banjar Negara Provinsi Jawa Tengah, yang
menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan yang bermakna antara
ketinggian dataran tempat tinggal dengan kejadian malaria dengan
OR=4,250 dan nilai P=0,012.
Ketinggian dataran tempat tinggal responden pada penelitian ini rata-rata adalah
11,73 meter diatas permukaan laut (mdpl), ketinggian terendah adalah 0,00 meter
diatas permukaan laut (mdpl) dan ketinggian dataran tertinggi tempat tinggal
respnden adalah 84,52 meter diatas permukaan laut (mdpl). Ketinggian tempat
tinggal responden tersebut seluruhnya masih berada di dataran rendah atau
dibawah 400 meter diatas permukaan laut (mdpl). Ketinggian dataran tempat tinggal
akan memiliki potensi berpengaruh dengan kejadian penyakit malaria pada
perbedaan ketinggian lebih dari 100 meter diatas permukaan laut (mdpl) hal
tersebut terjadi karena setiap perbedaan ketinggian dataran lebih dari 100 meter
diatas permukaan laut (mdpl) akan menurunkan suhu sebesar 0,5 derajat Celcius.
Uji Hipotesis dan Optimasi Parameter Model
Variabel :
Jarak TPV
Variabel jarak tempat perindukan vektor α13, α14 dan α15 (positif) dengan nilai
Odd Ratio berturut-turut 96,95, 2,42 dan 8,29 dengan nilai P=0,001, 0,512 dan
0,344. Hal ini menunjukkan bahwa jika variabel lain tetap maka setiap penambahan rentang
jarak tempat tinggal responden dengan tempat perindukan vektor maka peluang terkena
malaria menjadi berturut turut 96,95, 2,42 dan 8,29 kali semula. Namun demikian peluang
tersebut sangat nyata bila tempat tinggal responden berada dalam jarak < 1000 meter
dengan tempat perindukan vektor dengan nilai P=0,001. Hal tersebut tidak terjadi untuk
tempat tinggal responden yang berada dalam jarak 1001 - 2000 meter dan 2001 – 3000 meter
dengan tempat perindukan vektor karena masing-masing nilai P nya adalah 0,512 dan 0,344.
Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Kazwani M dan Martini S (2006) di Kabupaten
Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat yang menyatakan bahwa jarak hunian dengan
tempat perindukan vektor berhubungan dengan kejadian malaria dengan OR =1,78 dan
P=0,028.
Jarak yang dekat dengan tempat perindukan vektor tersebut mengakibatkan mereka berada
dalam wilayah malariogenic potentia atau wilayah potensial terjadinya penyakit malaria, yang
dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu receptivity dan vulnerability. Receptivity adalah adanya vektor
malaria dalam jumlah besar dan terdapatnya faktor-faktor ekologis yang memudahkan
penularan malaria sedangkan vulnerability adalah terdapatnya penderita malaria atau vektor
yang telah terinfeksi malaria dalam suatu wilayah tertentu (Harijanto, 2014). Receptivity juga
disebabkan radius jarak tempat perindukan vektor yang < 1.000 meter dari rumah/tempat
tinggal masih dalam jangkauan kemampuan terbang normal nyamuk Anopheles. Nyamuk
Anopheles memiliki kemampuan jangkauan terbang sejauh 1 sampai dengan 1,5 Km
(Kemenkes, 2014).
Uji Hipotesis dan Optimasi Parameter Variabel
Model : TPV
Jenis
Variabel Jenis TPV α16, α17, α18, α19, α20 dan α21 nilai OR
berturut-turut 17,67, 0,12, 1,17, 0,33, 21,33 dan 0,28 dengan nilai
P=0,046, 0,112, 0,895, 0,636, 0,398 dan 0,714. Hal tersebut
mengindikasikan bahwa dari enam jenis tempat perindukan vektor yang
ada di Kabupaten Pesawaran berupa lagun dan kobakan, rawa, tambak
terlantar, sawah berteras, saluran irigasi serta kolam galian yang memiliki
hubungan kausalitas bermakna jika variabel lainnya tetap adalah lagun
dengan OR 17,67 dan nilai P=0,046.
Hal ini sejalan dengan penelitian Sukiswo SS, dkk (2014) di Kecamatan
Arongan Lambalek Kabupaten Aceh Barat yang menyatakan bahwa
lingkungan yang terdapat genangan air dan semak-semak berhubungan
dengan kejadian malaria dengan Odd Ratio=6,827 dan P=0,000.
Biner
Predictor Simbol Coef. SE Coef Z P Odds 95% CI
Ratio Lower Upper
Pelayanan
Kesehatan
Intervensi TPV
(0=Tidak Ada) [D5_LVCD] α22 -1.83076 1.20223 -1.52 0.128 0.16 0.02 1.69
Larvaciding [D5_PLMT] α23 -2.12563 1.10126 -1.93 0.054 0.12 0.01 1.03
Pengangkatan
Lumut
Intervensi Vektor [D4_LLINs] α24 -2.70970 0.801491 -3.38 0.001 0.07 0.01 0.32
(0=Tidak Ada) [D1_IRS] α25 -2.67014 0.948238 -2.82 0.005 0.07 0.01 0.44
LLINs
IRS
Intervensi [MBS] α26 -3.22031 0.796065 -4.05 0.000 0.04 0.01 0.19
Plasmodium
(0=Tidak Dilakukan)
MBS
Variabel Intervensi
Uji Hipotesis dan Optimasi Parameter ModelTPV :
Variabel larvaciding dan pengangkatan lumut α22 dan α23 (negatif) hal
tersebut dapat diartikan bahwa intervensi upaya pelayanan kesehatan berupa
larvaciding dan pengangkatan lumut dari tempat perindukan vektor
menurunkan kerentanan untuk terinfeksi malaria sebesar 0,16 dan 0,12 kali
dibandingkan dengan tidak dilakukan intervensi apapun terhadap tempat
perindukan vektor. Namun demikian penurunan tersebut tidak bersifat nyata
karena masing-masing nilai P dari kedua variabel tersebut sebesar 0,128 dan
0,054.
Variabel penggunaan kelambu berinsektisida atau Long Lasting Insectide Nets (LLINs) dan
penyemprotan dinding bagian dalam rumah dengan insektisida atau Indoor Recidual
Spraying (IRS), α24 dan α25 (negatif) dengan nilai OR berturut-turut 0,07 dan 0,07 dengan
nilai P=0,001dan 0,005. Hal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa intervensi upaya pelayanan
kesehatan terhadap vektor malaria dengan penggunaan kelambu berinsektisida atau Long Lasting
Insectide Nets (LLINs) dan penyemprotan dinding bagian dalam rumah dengan insektisida atau Indoor
Recidual Spraying (IRS) jika variabel lain tetap maka dapat menurunkan kerentanan untuk terkena
malaria sebesar 0,07 dan 0,07 kali dibandingkan jika tidak dilakukan intervensi terhadap vektor
malaria. Penurunan tersebut bersifat nyata ditunjukkan dengan nilai P secara berturut-turut 0,001 dan
0,005.
Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Sir O, dkk (2015) di Kecamatan Abola Kabupaten Alor Nusa
Tenggara Timur yang menyatakan bahwa penggunaan kelambu berinsektisida berpengaruh
dengan kejadian malaria dengan nilai P=0,021.
Penggunaan kelambu berinsektisida atau Long Lasting Insectide Nets (LLINs) dan penyemprotan
dinding bagian dalam rumah dengan insektisida atau Indoor Recidual Spraying (IRS) memiliki cara
kerja yang hampir serupa dalam upaya mengendalikan vektor malaria yaitu nyamuk Anopheles.
Kelambu berinsektisida atau Long Lasting Insectide Nets (LLINs) bertujuan sebagai penghalang atau
barrier agar orang yang memakainya terhindar dari gigitan nyamuk Anopheles. Selain menghalangi
gigitan nyamuk Anopheles kelambu berinsektisida atau Long Lasting Insectide Nets (LLINs) juga dapat
membunuh nyamuk karena pada kelambu telah di aplikasikan insektisida tertentu namun tidak
membahayakan orang yang memakainya. Indoor Recidual Spraying (IRS) juga mengaplikasikan
insektisida sebagai residu hasil penyemprotan yang diharapkan juga dapat membunuh nyamuk
Anopheles yang hinggap dan berisitirahat pada dinding bagian dalam rumah. Kedua upaya pelayanan
Variabel Intervensi
Uji Hipotesis dan Optimasi Parameter Model :
Plasmodium
[D1_PDGG/WRST] – 1.14061 [D1_TPAKP] + 0.627210 [D2_SMP] + 1.61759 [D2_SMA] + 2.46045 [D2_PT] + 4.25364
[KRMH] - 4.97580 [MOAN] + 0.0260722 [KTD] + 4.57420 [D3_JTV5] + 0.883319 [D3JTV10] + 2.11497 [D3_JTV20 +
2.87183 [D4_LGN] – 2.09404 [D4_RWA] + 0.154395 [D4_TMBT] – 1.114470 [D4_SBTR] + 3.06017 [D4_SLIG] –
Simpulan
…BAB V : SIMPULAN & SARAN
F. Survei darah jari massal atau Mass Blood Survey (MBS) berkala dan pelatihan
kader malaria desa untuk pembuatan sediaan darah tebal/tipis, agar kasus
malaria di masyarakat ditemukan sedini mungkin sehingga penularan malaria
dapat dicegah dengan pengobatan standar. Sumber anggaran yang
memungkinkan untuk kegiatan tersebut adalah APBN/APBD/DD.
……BAB V : SIMPULAN & SARAN
Saran