0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan38 halaman

Dasar-Dasar Termodinamika dan Temperatur

Dokumen ini membahas konsep dasar termodinamika, termasuk tinjauan makroskopik dan mikroskopik, kesetimbangan termal, serta pengukuran temperatur menggunakan berbagai jenis termometer. Dikenalkan juga skala temperatur internasional dan hubungan antara berbagai skala temperatur seperti Celsius, Kelvin, Rankine, dan Fahrenheit. Selain itu, dijelaskan tentang termometer platinum, radiasi, dan termokopel sebagai alat ukur temperatur yang berbeda.

Diunggah oleh

Mirza
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan38 halaman

Dasar-Dasar Termodinamika dan Temperatur

Dokumen ini membahas konsep dasar termodinamika, termasuk tinjauan makroskopik dan mikroskopik, kesetimbangan termal, serta pengukuran temperatur menggunakan berbagai jenis termometer. Dikenalkan juga skala temperatur internasional dan hubungan antara berbagai skala temperatur seperti Celsius, Kelvin, Rankine, dan Fahrenheit. Selain itu, dijelaskan tentang termometer platinum, radiasi, dan termokopel sebagai alat ukur temperatur yang berbeda.

Diunggah oleh

Mirza
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Termodinamika

-Temperatur dan HK-0 Termodinamika-


(Untuk Magister Fisika)
(Disarikan dari buku: Heat and Thermodynamics, 7th ed.
Pengarang: Mark W. Zemansky, Richard H. Dittman)

[Link]. Elin Yusibani


Universitas Syah Kuala
(Last update: February 2016)
Tinjauan Makroskopik dan Mikroskopik
Tinjauan Makroskopik adalah sebuah tinjauan terhadap sebuah sistem/
lingkungan secara luas/besar yakni dalam skala pandangan mata manusia

Tinjauan Mikroskopik adalah sebuah tinjauan pada sebuah sistem/lingkungan


secara detail/molekuler atau kecil

Sistem pada sebuah mesin silinder mobil apabila


ditinjau secara makroskopik maka kita dapatkan:
1. Terdapat reaksi kimia yang melibatkan massa dan
komposisinya
2. Terdapat volume yang menjadi geometri dari sistem
tersebut
3. Terdapat tekanan dan temperatur yang bekerja pada
Gb. Volvo dengan mesin 4 silinder sistem tersebut

Secara mikroskopik maka sangat tergantung pada kemajuan ilmu tentang


molekuler, atomik dan fisika inti. Sistem didalam sebuah silinder mesin mobil
bisa ditinjau sebagai sebuah N partikel yang sangat banyak, yang tiap
partikelnya memiliki energi berupa ε1, ε2, ε3,... dst. Partikel partikel ini bisa
saling berinteraksi dan membentuk sebuah medan, sehingga probabilitas
matematika harus digunakan, biasanya melibatkan ilmu mekanika statistik. 2
Kesetimbangan Termal
Jangkauan sistem Termodinamika diantara nya berupa: Gas, uap,
campuran uap dan gas, campuran uap dan cair. Merupakan bagian dari
mekanika yang berhubungan dengan energi.
Dalam kehidupan sehari hari kondisi kesetimbangan sangat dipengaruhi
oleh kondisi dinding/syarat batas (boundary/wall) dari sistem tersebut.
Terdapat dua dinding yang dikenal dalam termodinamika
[Link] adiabatik (Adiabatic wall)
[Link] diatermik (Diathermic wall)
Dinding adiabatik adalah sebuah dinding tertutup yang mana
kesetimbangannya berupa absolut dan tidak dipengaruhi oleh sistem yang
lain (lingkungannya), dinding tersebut dapat bertahan pada tekanan yang
tinggi, contoh dinding adiabatik adalah kayu yang tebal, beton, asbes, kain
beludru, karet busa, dll.

Dinding diatermik adalah sebuah dinding yang masih bisa saling


mempengaruhi antara sistem dan lingkungannya akan tetapi dalam waktu
tertentu akan dapat mencapai kesetimbangannya. Sehingga kita
menyebutnya sebuah kesetimbangan termal (thermal equilibrium). Salah
3
satu contoh dinding diatermik adalah pelat metal tipis.
[Link] [Link]

Sistem A Dinding adiabatik disimbolkan


Sistem A dengan sebuah pelat tebal,
dan dinding diatermik dengan
Dinding adiabatik sebuah pelat tipis. Dinding
Dinding Diathermik
Sistem B adiabatik akan berusaha
Sistem B untuk mencegah terjadinya
sebuah kesetimbangan termal4
Gambar disamping
menunjukkan bahwa sistem A
Sistem C
dan sistem B keduanya akan
mengalami kesetimbangan
termal dengan sistem C

Sistem A Sistem B Gambar disamping


menunjukkan bahwa meskipun
dinding sistem A dan sistem B
diganti oleh dinding diatermal
maka kesetimbangan termal
telah dipenuhi
Sistem C
Postulat tentang
kesetimbangan termal
dinamakan dengan Hk. Ke-0
Termodinamika (Zeroth law
Sistem A Sistem B of Thermodynamics)
(diusulkan oleh Ralph Fowler,
1931) 5
Konsep Temperatur
Konsep temperatur timbul sebagai inteprestasi dari tingkat level derajat
panas berdasarkan dari sifat dasar makroskopik yang dapat dirasakan oleh
manusia.

Di dalam pandangan mikroskopik, temperatur berhubungan dengan


pergolakan, getaran ataupun gerakan dari sebuah inti partikel

Isotermal (Isoterm) adalah sebuah kondisi dimana dalam kesetimbangan


termal sebuah sistem berubah dari satu keadaan ke keadaan lain

Dalam sebuah sistem yang ada, maka temperatur dapat pula didefinisikan
sebagai sifat dasar yang dapat diukur saat sistem tersebut berbeda derajat
panas dibandingkan dengan keadaan kesetimbangan termal dengan sistem
yang lain.

Konsep temperatur dari sebuah sistem adalah sebuah “property” dimana sistem
tersebut mengalami atau tidak sebuah kesetimbangan termal antara satu
dengan yang lainnya.

6
Termometer dan Pengukuran Temperatur
Termometer adalah alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur
temperatur dari sebuah sistem. Ada berbagai jenis termometer beserta sifat
termometriknya

Tabel 1 Termometer dan Sifat Termometriknya

Terdapat persamaan yang dapat digunakan untuk menentukan temperatur (θ)


meskipun memiliki perbedaan dalam sifat termometriknya (x), yakni

 ( x) ax Dimana, a adalah sebuah skala standar


yang harus ditetapkan
7
Skala standar tersebut harus baku, dan tidak pernah berubah, juga dapat
diukur secara ulang.

Sebelum tahun 1954, skala temperature berdasarkan dua titik skala Celcius,
yakni dari 0 C (suhu es) sampai 100 C (uap air), tetapi dalam perjalanannya
banyak hal yang tidak dapat terukur menggunakan skala celsius karena
ketidakakuratannya.

Pada tahun 1954, sebuah skala internasional baru diperkenalkan oleh Kelvin
dengan menggunakan sistem skala single, yakni titik tripel air (triple point of
water) yakni sebuah keadaan dimana es, zat cair dan uap air berada dalam
satu kesetimbangan termal.

Titik tripel air dapat diukur dan pengukurannya dapat diulang dan sangat
akurat yakni sebesar 273.16 K (0.01 C), sehingga a dalam persamaan diatas
ditentukan sebagai berikut:

273.16 K Dimana XTP adalah nilai


a termometrik pada titik tripel air
xTP
8
Cara mendapatkan titik tripel air:
Kita suling air dengan kemurnian yang
tinggi (komposisinya hampir mirip
dengan air laut) lalu kita masukkan ke
dalam bejana berbentuk huruf U dimana
kita pastikan tidak ada udara di dalam
nya (vacuum). di dalam lekukan kita
masukan sebuah larutan pembeku
sehingga lapisan es muncul di bagian
lekukannya. Lalu campuran pembeku itu
kita gantikan dengan bola termometer,
maka pada keadaan tersebut lapisan
luar dalam lapisan es tersebut akan
melebur/menguap menjadi air, sehingga
dalam kesetimbangan terdapat tiga fase
(air, uap dan es) yang kita sebut titik
tripel air

Gb. bejana titik tripel air 9


Perbandingan Pengukuran Termometer
Ambil contoh pada Tabel 1 diatas, kita memiliki beberapa alat termometer
berdasarkan sifat termometriknya. Untuk mendapatkan nilai temperature
berdasarkan termometer sersebut maka kita gunakan rumus sebagai berikut

Untuk Termometer gas pada volume tetap

P
 ( P) 273.16 K
PTP
Untuk termometer resistor pada tekanan tetap

R'
 ( R' ) 273.16 K
R 'TP
Untuk termokopel pada tekanan tetap


 ( ) 273.16 K
TP
10
Tabel 2 Perbandingan Termometer

NBP=Normal Boiling Point (titik didih normal), NSP=Normal Sublimation Point (titik
sublimasi normal), TP=Tripel Point (titik tripel), NMP= Normal Melting Point (Titik lebur
normal)

Berdasarkan tabel diatas kita dapatkan secara eksak nilai temperatur yang
didapatkan tidaklah sama, dan berada pada jangkauan variasi sebesar ±50.

Pada termometer hidrogen kita dapatkan variasi kurang dari ±5 pada tekanan
rendah, sehingga termometer gas dipilih sebagai termometer baku untuk
mendefinisikan skala temperatur secara empiris dimana temperatur yang
diukur tidak terlalu jauh dari suhu ruangan
11
Gambar disamping merupakan
termometer gas sederhana
dengan volume tetap. Gas
dimasukkan ke dalam tabung B
yang dihubungkan dengan pipa
kapiler pada tabung air raksa
(merkuri). Perbedaan tinggi h
diukur ketika tabung B dikelilingi
oleh sistem yang temperaturnya
ingin diukur dan ketika dikelilingi
oleh titik tripel air. Tekanan pada
tabung B adalah tekanan
atmosfer ditambah dengan h

Gb. Termometer gas sederhana volume tetap


12
Skala Temperatur Gas Ideal
Temperatur gas ideal didefinisikan sebagai berikut:

P
 273.16 K lim
PTP  0 P
TP

Artinya semua jenis gas akan menunjukkan nilai temperatur yang sama yakni
ketika PTP menuju NOL, sehingga skala temperatur gas ideal tidak bergantung
pada jenis gas tertentu, namun skala itu masih tergantung pada sifat gas
umumnya.

Gambar disamping adalah


bukti pengukuran temperatur
untuk titik didih uap air dari
berbagai jenis termometer gas.
Pada PTP yang mendekati
NOL, harga termometer gas
menunjukkan hampir sama
(temperatur ideal gas)

Gb. Pengukuran temperatur titik didih uap air 13


Skala Temperatur Celcius
Nama Celcius diberikan berdasarkan penemunya seorang astronomi Anders
Celcius. Skala temperatur celcius memakai derajat titik nol bergeser dibanding
Kelvin dari es (273.15 K) ke titik tripel air yakni sebesar 0.01 C (273.16 K).

Maka hubungan antara skala Kelvin dan Celcius adalah:

T (C )  ( K )  273.15

Ambil contoh pada gambar diatas untuk pengukuran titik didik air berdasarkan
skala temperatur gas ideal sebesar  = 373.125 K, maka didapat

T (C ) 373.125  273.15 99.975


Maka kita dapatkan dalam skala celcius titik didih air tidak tepat 100 C, nilai yang
tepat sebagai standar hanya pada titik tripel air saja

14
Termometer Platinum
Termometer platinum adalah sebuah alat pengukur temperatur menggunakan
hubungan hambatan dari sebuah kawat sangat tipis berbahan platinum. Sensor
temperatur (kawat platinum) yang digunakan biasanya panjang dan berukuran
mikrometer juga sangat halus dan sangat dijaga kemurniannya.

Dalam pengukuran hambatan platinum digunakan 2 metode


1. Metode arus searah/DC ( menggunakan potensiometrik)
2. Metode arus bolak balik/AC (menggunakan rangkaian jembatan hambatan)

Termometer ini cukup praktis dan mudah digunakan, memiliki jangkauan


pengukuran antara 13,8033 – 1234,93 K (-259,3467 – 961,78 C).

Untuk mendapatkan nilai temperature dari termometer ini dapat digunakan


rumus empirik sebagai berikut:

RPt' (T ) RTP
'
(1  AT  BT 2 )
Dimana RPt adalah hambatan kawat platinum pada temperatur yang diukur, RTP
adalah hambatan platinum pada titik tripel air. A dan B adalah sebuah konstanta,
dan T adalah temperatur yang diukur.
15
Termometer Radiasi
Termometer radiasi biasanya disebut sebagai pirometer (pyrometry).
Termometer ini merupakan noncontact termometer yang digunakan untuk
mengukur objek temperatur yang sangat tinggi (lebih besar dari 1100 C) yang
biasanya disebabkan oleh sebuah radiasi gelombang elektromagnetik.

Pirometer yang umum dikenal adalah: optikal pirometer (Optical pyrometry),


radiasi pirometer (Radiation Pyrometry), Infrared pirometer dan spectral/total-
radiasi pirometer. Khusus untuk total-radiasi pirometer, bisa digunakan untuk
mengukur temperatur yang rendah yakni titik tripel air.

Termometer Tekanan uap


Termometer tekanan uap (vapor-pressure termometry) pada titik jenuhnya
(saturated) merupakan sebuah sensor temperatur yang dapat mengukur pada
jangkauan temperatur rendah, yakni dari 0.3 – 5.2 K.

Jenis substansi yang digunakan adalah uap dalam kesetimbangannya dan


sifat termometriknya biasanya dari isotop 3He atau 4He

16
Termokopel
Gambar disamping adalah
skematik diagram sebuah
termokopel. Temperatur
sebuah sistem diukur
pada bagian sambungan
kawat A dan B (test
junction). Kawat
termokopel ini lalu
dihubungkan dengan
kawat tembaga yang
terhubung dengan sebuah
referensi es pada 0 C
Gb. Skematik diagram termokopel

Hasil pengukuran biasanya dapat direpresentasikan berdasarkan persamaan


berikut ini
ε adalah termal emf, a,b dan
 a  bT  cT  dT
2 3
c adalah konstanta

Jangkauan pengukuran termokopel ditentukan dari material yang digunakan.


Tipe K terbuat dari cromel dan alumel dengan range -270 -1372 C 17
International Temperature Scale of 1990 (ITS90)
International Committee of Weights and Measures (ICWM) bergerak dalam
memonitor pengukuran diantaranya temperatur. Dalam skala pengukuran
temperature terdapat dua macam yakni secara teoretis dan secara praktis.
Termometer gas biasanya digunakan sebagai standar dalam pengukuran
temperatur akan tetapi dalam penggunaannya tidaklah praktis.

Skala temperatur internasional (ITS90) dibuat sebagai sarana standarisasi secara


praktis. Dalam perjalanannya telah mengalami perbaikan perbaikan dari tahun
1948, 1960, 1968, 1976 dan terakhir 1990.

ITS90 ini menentukan temperature berdasarkan pengukuran dari termometer gas


dan termometer lain, lalu dilakukan interpolasi diantara keduanya. Nilai jangkauan
temperatur terendah adalah 0.65 K.

0.65 – 3.2 K Tekanan-uap temperatur dari 3He


1.25 – 2.1768 K Titik panjang gelombang
2.1768 – 5 K Tekanan-uap temperatur dari 4He
3.0 – 24.5562 K Gas termometer 3He/4He (volume tetap)
13.8033 – 1234.93 K Temperatur hambatan platinum
Diatas 1234.93 Temperatur radiasi
18
Tabel 3 Titik Tetap Temperatur untuk ITS90 Sebagai Referensi Standar

VP=Vapor pressure (tekanan uap), CVGT=Constant Volume Gas Termometer, TP=Tripel


Point (titik tripel), NMP=Normal Melting Point (titik lebur normal), NFP=Normal Freezing
Point (titik beku normal)
19
Skala Temperatur Rankine dan Fahrenheit
Skala temperature Rankine (ditemukan oleh seorang insinyur inggris) dibuat juga
berdasarkan dari titik tripel air. Hubungan skala temperature Rankine dan Kelvin
sebagai berikut
T ( R )  95 T ( K )
Skala temperatur Fahrenheit (ditemukan oleh seorang seorang teknisi dari
Jerman) memiliki hubungan dengan skala temperatur Rankine sebagai berikut

T ( F ) T ( R )  459.67
Hubungan Fahrenheit dengan Celcius sebagai berikut

T ( F )  95 T (C )  32
Sehingga berdasarkan rumus diatas, bila temperatur es adalah 273.15 K, maka
itu sama dengan (9/5)273.15=491.67R, yakni 491.67-459.67=32.00F

20
Kesetimbangan Termodinamika (thermodynamic equilibrium).

Ketika sebuah percobaan telah dilakukan pada sebuah sistem termodinamika,


dan terjadi perubahan yang diakibatkan oleh lingkungan atau penyebab lain,
maka dapat dikatakan bahwa sistem termodinamika akan mengalami perubahan
keadaan (change of state). Akan tetapi apabila sistem termodinamika tersebut
sama sekali tidak terpengaruh oleh perubahan perubahan tersebut, maka kita
sebut sistem termodinamika tersebut dalam keadaan terisolasi (isolated)

Bila gaya gaya dan torka nya dalam keadaan seimbang di dalam sistem ataupun
antara sistem dan lingkungan maka kita bisa sebut bahwa sistem dalam keadaan
kesetimbangan mekanis (mechanical equilibrium). Apabila terdapat ketidak
setimbangan antara gaya dan torka, maka sistem akan mengalami perubahan
sampai tercapainya kesetimbangan mekanis.

Ketika sistem dalam kesetimbangan mekanisnya tidak mengalami perubahan,


begitu juga tidak ada perubahan dalam struktur kimianya, tidak adanya
perpindahan materi, difusi pelarutan meskipun sangat lambat, maka sistem
dinamakan dalam keadaan kesetimbangan kimiawi (chemical equilibrium).
Apabila terjadi perubahan maka akan terjadi perubahan keadaan sampai
kesetimbangan kimiawi tercapai. 21
Kesetimbangan termal (thermal equilibrium) akan tercapai apabila sistem
termodinamika tersebut telah dalam keadaan kesetimbangan mekanik dan
kimiawi meskipun sistem tersebut dipisahkan dengan lingkungannya dengan
dinding diatermik. Artinya dalam keadaan ini sudah tidak ada lagi pertukaran
antara sitem dan lingkungan. Di dalam kesetimbangan semua keadaan
berada dalam temperatur yang sama, apabila kondisi ini belum tercapai
maka perubahan akan terus terjadi sampai kondisi kesetimbangan termal
tercapai

Apabila kesetimbangan mekanik, kimiawi dan termal sudah tercapai, maka


kita bisa katakan bahwa sistem dalam keadaan kesetimbangan
termodinamika (thermodynamic equilibrium). Apabila ketiga kesetimbangan
ini tidak tercapai, maka kita bisa katakan bahwa sistem dalam keadaan
tidak setimbang (noneequilibrium state)

Contoh kesetimbangan belum tercapai apabila terdapat perubahan pada


kecepatannya, percepatannya, tekanan, temperatur perubahan rumusan
kimia diakibatkan terjadinya reaksi kimia. Maka kita layak menyebut bahwa
sistem tersebut dalam keadaan tidak setimbang

22
Persamaan Keadaan (Equation of State)

PVT system

Dalam sebuah sistem termodinamika, apabila kita mengetahui volume dan


temperatur suatu sistem, maka sudah dipastikan sistem tersebut memiliki
tekanan tertentu. Begitu pula apabila temperatur dan tekanan diketahui maka
volume dari sistem tersebut sudah pasti, Kedua parameter ini apabila telah
ditentukan maka parameter ketiganya sudah ditentukan oleh alam. Hal ini
menunjukan bahwa terdapat sebuah persamaan keadaan yang berhubungan
dengan sebah sistem termodinamika. Hubungan P, V dan T kita sebut
sebagai sebuah persamaan keadaan (equation of state/EoS). Setiap
kesetimbangan termodinamika sebuah sistem memiliki EoS masing masing.

Equation of state (EoS) dapat ditentukan baik dengan cara esperimen


ataupun teori molekular. Persamaan umum yang dihasilkan dari persamaan
hukum alam secara umum tidak dapat digunakan untuk merumuskan EOS
ini. Eos yang didapat berdasarkan hasil eksperimen maka hanya berlaku
pada jangkauan eksperimen yang telah dilakukan, sehingga tidak berlaku
untuk jangkauan diluar yang telah dieksperimenkan. Sehingga pada
jangkauan lain, diperlukan eos lain yang mungkin akan berlaku.

23
Pada sebuah sistem yang terdiri dari gas pada tekanan rendah memiliki
sebuah persamaan keadaan sederhana dari sebuah gas ideal, yakni
n adalah jumlah mole dari sistem, R adalah
PV nRT konstanta Rydberg gas tersebut, P, V dan T
adalah tekanan, volume dan temperatur

Pada tekanan tinggi, persamaan keadaan akan lebih rumit. Persamaan van
der Waals dapat merepresentasikannya dimana dalam persamaan tersebut
memperhitungkan interaksi antar partikel dan ukurannya

P  v  b RT
a
v2
v=V/n, a dan b adalah konstanta yang
khusus untuk gas tertentu

Setiap sistem termodinamika yang telah mencapai kesetimbangan


termodinamik biasanya memiliki parameter yang saling mempengaruhi.
Misalkan sistem tersebut bernama X, Y dan Z, maka kita bisa menyatakan
bahwa sistem tersebut memiliki persamaan keadaan XYZ.

Pressure, Temperature dan Volume, kerap kali menjadi parameter yang


sering ada dalam sebuah kesetimbangan termodinamika, sehingga kita kerap
kali menyebutnya persamaan keadaan PVT system.
24
Sistem Hidrostatik (Hydrostatic system)

Setiap sistem yang memiliki massa yang tetap dan komposisi yang juga tetap
dan memiliki tekanan hidrostatistik yang sama, tanpa ada pengaruh dari
gravitasi, listrik dan efek medan, kita menyebutnya sistem hidrostatistik
(hydrostatic system)

Sistem hidrostatik dibagi ke dalam kategori:


[Link] murni yakni zat yang hanya terdiri dari satu bahan kimia baik dalam
bentuk padat, cair gas atau campuran dari dua atau tiga zat tersebut
2. Campuran satu fasa zat yang berbeda bahan misalnya campuran gas inert,
campuran gas aktif, campuran cairan atau larutan
3. Campuran yang berbeda beda fasa, misalnya campuran bahan gas dan
cair dalam satu sistem

Sistem hidrostatistik juga dapat direpresentasikan dengan sistem PVT, artinya


ketiga parameter, tekanan, temperatur dan volume harus dipenuhi dalam
keadaan setimbang.

25
Apabila kita memiliki sebuah sistem volume yang dipengaruhi oleh tekanan
dan temperatur, biasanya kita menuliskannya sebagai berikut:

V V ( P, T ) Artinya volume fungsi dari tekanan dan temperatur

Apabila terdapat perubahan kecil terhadap tekanan dan temperatur, maka


kita menuliskannya dengan dP dan dT, sehingga dapat dituliskan sebagai
berikut:
Dibaca perubahan volume
   
dV  T P dT  P T dP
V V diakibatkan oleh temperatur pada
tekanan yang sama

Apabila perubahan hanya terjadi pada temperature saja dalam skala kecil
dimana tekanan akan selalu sama maka, didefinisikan sebuah parameter
baru yang diberi nama ekspansi volume (volume expansivity) sebagai
berikut
 V1 VT P
Sebaliknya apabila perubahan kecil terdapat pada tekanan, maka didapat
sebuah parameter baru bernama pemampatan isotermal (isothermal
compressibility)
  1
V
VP T Bila tekanan naik akan
memberikan harga – pada volume
26
Apabila kita memiliki persamaan keadaan untuk tekanan, P fungsi dari
volume dan temperatur yang berubah secara perlahan didapat

P P(V , T )
dP VP T dV  TP V dT

Apabila kita memiliki persamaan keadaan untuk temperatur,T fungsi dari


tekanan dan volume yang berubah secara perlahan didapat

T T (V , P )
dT VT P dV  TP V dP
Rumusan diatas berlaku untuk setiap kondisi persamaan keadaan yang
telah diketahui memiliki hubungan antara ketiganya, dan kita sebut sebagai
differensial eksak. Sehingga dapat kita tuliskan rumus umum untuk
persamaan keadaan z yang berubah pada x dan y secara perlahan sebagai
berikut
z  z ( x, y )
dz xz y dx    dy
z
y x
27
Teorema matematika

Ada sebuah teorema yang sering digunakan di dalam diferensial parsial yang
sangat sering digunakan didalam tema ini.

Apabila terdapat sebuah sistem f yang dipengaruhi oleh x, y dan z sebagai


berikut
f ( x, y, z ) 0
Dimana x sebagai fungsi dari y dan z, dan y adalah fungsi dari x dan z

dx    dy    dz
x
y z
x
z y ; dy    dx    dz
y
x z
y
z x

Apabila kita subtitusi persamaan ke dua ke satu didapat

dx     dx    dz     dz
x
y z
y
x z
y
z x
x
z y

    dx      dz    dz
x y
y z x z
x y
y z z x
x
z y

Apabila terdapat dua parameter independen, misal x dan z, maka jika dz=0
maka dx  0
28
Maka:     1
x y
y z x z

   y /1x 
x
y z
z

jika dx=0 maka dz  0        0


x y
y z z x
x
z y

      
x y
y z z x
x
z y

       1
x y z
y z z x x y

Pada kasus PVT didapat

VP T VT P  TP V


TP V   ,        maka
V1 dV
dT P
1
V
dV
dP T

dP TP V dT  VP T dV   dT  1V dV


29
Pada volume yang tetap didapat dv=0

dP  dT  1
V dV   dT

  dT
dP 
Pf  Pi   (T f  Ti )

Contoh: Sejumlah air raksa pada tekanan atmosfer dan temperatur 15 C


berada pada volume tetap. Jika temperatur dinaikkan sebesar 25C,
berapa tekanan yang didapat?

 Dan  untuk merkuri pada suhu 15 dan 25 akan bernilai sama yakni
1.81 x 10-4 K-1 dan 4.01 x 10-11 Pa-1 (berdasarkan tabel) maka tekanan
akhir yang didapat pada volume yang konstant adalah

Pf Pi  

 (T f  Ti ) 
0.01107  1.8110  4
4.0110  11

10 4.52 107 Pa 452 atm
30
Sistem Kawat Teregang

Kawat dapat dikategorikan sebagai sistem satu dimensi, karena kawat memiliki
panjang yang takterhingga dibandingkan lebar kawat tersebut. Pada sistim
kawat yang teregang biasanya percobaan dilakukan pada kondisi tekanan yang
konstant (atmosfer) dan perubahan pada volume dapat diabaikan. Sehingga
kadang kala dalam percobaan kedua parameter (tekanan dan volume) tidak
terlalu mendapat perhatian.

Terdapat tiga variabel parameter dalam percobaan sistem kawat teregang


1. Gaya regangan kawat, F (N)
2. Panjang dari kawat, L (m)
3. Temperatur, T (K)
Persamaan yang menghubungkan ketiganya untuk temperatur yang
konstant,kita tulis sebagai berikut:
k adalah konstanta Hook, Lo adalah
F  k ( L  Lo ) panjang kawat saat tidak ada regangan
Kita kenal sebagai HK. Hook. Saat kawat mengalami perubahan secara
perlahan lahan (infinitesimal) menuju kesetimbangan nya, maka panjang
kawat menjadi parameter diferensial eksak nya didapat persamaan
31
dL TL F dT  FL T dF
Apabila gaya regangan adalah konstan, dF=0, artinya tidak ada perubahan
juga pada panjang dan temperatur, dan bila ada hanyalah sebuah perubahan
yang sangat perlahan lahan (infinitesimal), sehingga terdapat parameter baru
diberinama linier ekpansiviti, , didefinisikan sebagai

  L1 TL F
Untuk kasus metal, ketika suhu dinaikkan maka panjang nya akan bertambah,
sehingga linier ekpansiviti akan berharga positive, tetapi akan negative untuk
kasus karet, karena volumenya akan berkurang saat dipanaskan.

Apabila temperatur konstan, dan kita memiliki sebuah perubahan regangan


yang sangat kecil (infinitesimal) maka kita dapatkan parameter baru yang
diberi nama isotermal modulus Young, Y, didefinisikan sebagai

Y  LA FL T A adalah cross-section area (luas


alas penampang) (F=YA)

32
Untuk kasus perubahan gaya regangan terhadap temperatur dikarenakan
temperetur yang berubah secara perlahan lahan didapat

TL F L FL T  AYL


FL T  FL T TL F  AY
Artinya: ketika temperatur naik, perubahan gaya regangan akan berlawanan
tanda dengan linear ekpansivitinya

Sistem Permukaan
Di dalam sistem permukaan maka kita berbicara tentang dua dimensi dan
merupakan cabang dari ilmu fisika-kimia. Terdapat contoh dalam sistem
permukaan:
1. Sistem antarmuka antara cairan dalam kesetimbangannya dengan uapnya
2. Gelembung air sabun yang terdiri dari dua permukaan dimana terdapat
sejumlah cairan
3. Lapisan minyak di permukaan air
4. Lapisan gas pada permukaan katalis padat 33
Untuk menjabarkan fungsi keadaan sistem sederhana diatas biasanya juga
terdiri dari tiga parameter termodinamika
1. Tegangan permukaan,  (N/m)
2. Luas permukaan dari lapisan/film, A(m2)
3. Temperature, T(K)

Dalam sistem sederhana lapisan tipis pada sebuah permukaan (permukaan


cairan murni dalam kesetimbangannya dengan uapnya), biasanya tidak
dipengaruhi oleh tekanan, sehingga perubahan volumenya juga diabaikan.
Parameter yang paling bepengaruh adalah temperatur.

Persamaan keadaan dari sistem sederhana ini dirumuskan oleh van der
Waals dan disempurnakan oleh Guggenheim

 o 1   T n
TC
 o tegangan permukaan pada temperatur standar
(20C), Tc adalah temperatur kritis(tidak ada tekanan yg
akan mengkondensasi uap menjadi cairan), n adalah
konstanta antara 1 dan 2

Berdasarkan persamaan diatas jelaslah bahwa: tegangan permukaan akan


turun ketika temperatur menaik, dan akan bernilai NOL saat T=Tc
34
Contoh lain persamaan keadaan lapisan film tipis minyak diatas air, untuk
kasus penampang luas alas yang dibatasi oleh A didapat

  w A aT w tegangan permukaan untuk air bersih, 


tegangan permukaan air yang dilapisi minyak, a
adalah konstanta
Disebut juga tekanan permukaan

Sistem Sel Elektrokimia (Electrochemical cell)

Sel elektrokimia terdiri dari dua


elektoda yang berbeda material dan
keduanya terbenam kedalam larutan
elektrolit. Terdapat reaksi kimia yang
terjadi dimana adanya polarisasi ion
sehingga menghasilkan arus searah
yang sering disebut elektromotif
force (emf)
Zn + CuSO4  Cu + ZnSO4
Reverse=rechargeable

Gb. Sel Daniell 35


Aplikasi yang banyak digunakan adalah sel elektrokimia timbal dan timbal
oksida dengan larutan elektrolit sulfur acid yang terdapat di dalam batre
mobil. Biasanya terdapat 6 sel yang menghasilkan Vemf=12-13 V

Untuk menganalisa sel elektrokimia yang beroperasi pada tekanan konstan


(abaikan tekanan dan volume) maka terdapat tiga parameter yang
berinteraksi
1. Elektromotif force (emf), ε (V)
[Link], Z(C)
3. Temperatur, T(K)

Persamaan keadaan sel elektrokimia digambarkan sebagai berikut

  20 C   (T  20o C )   (T  20o C ) 2  (T  20o C ) 2


o

,  dan γ adalah konstanta yang tipikal untuk material tertentu

36
Sistem Lempeng Dielektrik (Dielektrik Slab)

Dielektrik adalah suatu bahan yang memiliki daya hantar arus yang sangat kecil
atau bahkan hampir tidak ada. Bahan dielektrik dapat berwujud padat, cair dan
[Link] seperti konduktor, pada bahan dielektrik tidak terdapat elektron-
elektron konduksi yang bebas bergerak di seluruh bahan oleh pengaruh medan
listrik. Bahan dielektrik merupakan isolator yang baik.

Dalam kapasitor terdapat dua lempeng konduktor diletakkan sejajar lalu


diantara keduanya diisi dengan padatan isotropik atau cairan material dielektrik.
Ketika tegangan akan muncul, maka medan listrik yang uniform juga akan ada
diantara bahan dielektrik tersebut.

Parameter persamaan keadaan yang teramati ada tiga yakni:


1. Medan listriik, E (V/m)
2. Polarisasi total, P (Cm)
3. Temperatur, T (K)

Persamaan keadaan yang umum digunakan diatas 10 K diberikan oleh

P  b
 a   E a dan b adalah sebuah konstanta
V  T
37
Sistem Batang Paramagnetik (Paramagnetik Rod)

Paramagnetisme adalah suatu bentuk magnetisme yang hanya terjadi karena


adanya medan magnet disekitarnya. Material paramagnetik tertarik oleh medan
magnet, dan memiliki permeabilitas magnetis relatif lebih besar dari satu.
Paramagnet tidak mempertahankan magnetismenya sewaktu medan magnet
eksternal tak lagi diterapkan. Percobaan yang melibatkan batang paramagnetik
biasanya memiliki bentuk yang khusus: silinder, elips atau bola. Geometri yang
terbatas sangat penting supaya dapat diselesaikan dengan hukum Ampere

Parameter persamaan keadaan yang teramati ada tiga yakni:


1. Medan magnet, H (A/m)
2. Magnetisasi total, M (Am2)
3. Temperature, T (K)

Persamaan keadaan yang umum digunakan diberikan oleh

CC H Cc dikenal sebagai konstanta Curie


M
T
38

Anda mungkin juga menyukai