0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan4 halaman

Kegagalan Merger Daimler-Chrysler 1998

Diunggah oleh

Rosita_yon
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan4 halaman

Kegagalan Merger Daimler-Chrysler 1998

Diunggah oleh

Rosita_yon
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RINGKASAN KASUS BINTER

Pada tahun 1998 Daimler-Benz dan Chrysler, dua produsen mobil terbesar di dunia melakukan merger. Co-chair (pemimpin bersama) perusahaan baru tersebut adalah CEO dari masing-masing perusahaan, yaitu Jurgen Schrempp (CEO Daimler) dan Robert Eaton (CEO Chrysler). Eksekutif kedua perusahaan ini menyebut merger itu sebagai perkawinan yang setara. Walupun disebut-sebut sebagai merger, tetapi pada kenyataannya Daimler-Benz mengakuisisi Chrysler dengan 58% saham. Perusahaan baru ini disebut DaimlerChrysler. Investor dan analis lain menerima transaksi ini sebagai perpaduan yang sempurna. DaimlerChrysler menggabungkan kemampuan yang dimiliki oleh kedua perusahaan. Para insinyur Daimler membagi pengetahuan tentang kualitas dan teknologi kepada Chrysler. Chrysler memberikan pelajaran tentang efisiensi untuk mengikuti pasar. Jaringan distribusi Daimler yang berkembang dengan baik dapat mendorong ekspansi Chrysler di Eropa dan Chrysler dapat membantu Mercedes-Benz dengan logistic dan dukungan lainnya di Amerika Serikat. Produk kedua perusahaan saling melengkapi dengan sempurna: Mercedes Benz memiliki cap sebagai mobil penumpang mahal, bermesin halus, dan berpenampilan mewah, sementara Chrysler menyediakan bauran yang menarik antara mobil dan minivan yang berharga lebih murah, serta nama merek Jeep yang sangat bernilai unuk mobil sport. DaimlerChrysler berencana untuk masuk ke pasar-pasar yang baru berkembang di Asia dan Amerika Selatan. Pada tahun 2000, para investor dan pengamat mulai meragukan penggabungan usaha ini karena tak satupun keuntungan yang direncanakan dapat tercapai. Pada tahun 2001 DaimlerChrysler mengumumkan perusahaan akan mengurangi pembayaran gaji pada 26.000 karyawan Chrysler sekitar 20% seluruh tenaga kerja karena pada kenyataannya nilai perusahaan baru lebih rendah daripada nilai Daimler ataupun Chrysler sebelum merger.

RINGKASAN KASUS (LANJUTAN) Beberapa factor yang dapat diidentifikasi sebagai penyebab kegagalan penggabungan usaha ini antara lain: Perbedaan antara prosedur yang dipakai Daimler dan Chrysler. Chrysler mampu bertindak cekatan dan responsive (keputusan dibuat dalam waktu singkat, hanya ada sedikit rapat panjang yang akan memperlambat pekerjaan dan laporan manajemen di minimumkan). Sedangkan, Daimler membuat keputusan penting melalui rapat-rapat marahon yang terkadang membutuhkan waktu berhari-hari. Kebanyakan operasi didukung laporan manajemen yang panjang dan detail. Chrysler tidak berada pada kondisi sebaik yang dipikirkan pengamat pada waktu merger. Hal ini dikarenakan beberapa lini produknya agak ketinggalan. Beberapa produknya yang paling popular seperti Jeep Grand Cherooke, memerlukan perancangan ulang dan beberapa produk lainnya seperti minivan juga mulai kehilangan pangsa pasar akibat competitor yang agresif seperti Toyota dan Honda. Walaupun beberapa model baru diperkenalkan seperti PT Cruiser, namun Chrysler relative tidak memiliki banyak produk baru. Chrysler menambah dana sebesar $ 2.000 untuk membiayai produk penjualan utamanya agar dilakukan perbaikan yang tidak diinginkan banyak konsumen dan tidak dapat dilihat langsung, misalnya bahan baku kedap suara dan sistem rem yang lebih kuat.

RINGKASAN KASUS (LANJUTAN) Perusahaan DaimlerChrysler ini memiliki masalah dalam pengekangan pengeluaran. Contohnya, tidak lama setelah merger diumumkan, Daimler ingin memulai menggunakan distributor Chrysler di A.S untuk mengirimkan suku cadang dan peralatan ke penyalur Mercedez. Akan tetapi, para penyalur tersebut tidak ingin kendaraan van milik Chrysler atau dodge ada di tempat mereka. Maka, dengan pengeluaran yang tinggi, semua kendaraan van Chrysler dicat ulang dan logo baru yang bijaksana dari DaimlerChrysler dilekatkan.

Perusahaan DaimlerChrysler mengalami perselisihan atas biaya perjalanan. Eksekutif Chrysler terbiasa dengan tiket kelas ekonomi dan menginap di Holidays Inn, sedangkan eksekutif Daimler terbiasa dengan penerbangan kelas satu dan tinggal di suite yang mahal. Diperkirakan pada tahun pertama merger, para eksekutif senior kedua perusahaan menghabiskan lebih dari $ 5 juta untuk biaya hotel dan akomodasi rapat di New York (yang sebenarnya tidak terlalu penting).

RINGKASAN KASUS (LANJUTAN) Semangat kerja yang bermasalah. Kebanyakan eksekutif senior Chrysler secara sistematis digantikan oleh eksekutif Jerman dari induk perusahaan, prosedur, dan kebijakan Chrysler secara rutin digantikan dengan prosedur yang berlaku di Daimler, sehingga perputaran orang-orang pada posisi kunci sangat tinggi. Pemegang saham menuntut perusahaan, karena merasa disesatkan tentang merger awal. Para pemimpin pekerja UAW di A.S dan Kanada mengancam akan mengadakan mogok, jika perusahaan berusaha menurunkan gaji atau mengurangi tunjangan (sesuatu yang telah diisyaratkan perusahaan). Para eksekutif DaimlerChrysler dikritik karena tidak memberi banyak waktu pada merger untuk mempertimbangkan keputusan dengan teliti sebelum menjalakan perusahaan ventura baru (seperti melakukan investasi dalam jumlah besar pada Mitsubishi dan Hyundai, yang pada akhirnya gagal karena kedua perusahaan tersebut mengalami kerugian). Jurgen Scrhempp dan para eksekutif Daimler tetap yakin bahwa segalanya pada akhirnya akan berjalan dengan baik, karena : Ia memperkirakan bahwa ketika produk-produk Chrysler sudah mengalami perancangan ulang dan manufaktur yang sudah dilengkapi kembali telah selesai, Chrysler akan bangkit kembali. Ia yakin bahwa integrasi kedua perusahaan ini ke dalam satu organisasi akan mengatasi masalah awal dan DaimlerChrysler berada di jalan untuk tumbuh dan memperoleh laba. Ia juga mengakui bahwa investasi di Asia akan segera mulai memberikan hasil. Akan tetapi, para investor dan kritikus menjadi semakin resah dan beberapa orang ingin tahu berapa banyak lagi dewan direksi memberi kesabaran kepada Scrhempp dan apa yang akan dia lakukan untuk mengakhiri segala tindakannya.

Common questions

Didukung oleh AI

Several factors contributed to DaimlerChrysler's financial underperformance. Crucially, Chrysler was not in as strong a position as assumed, with outdated product lines losing market share to competitors. The merger also resulted in cultural clashes and inefficiencies, including high costs associated with brand rebranding. Additionally, strategic errors were made, such as substantial investments in struggling companies like Mitsubishi and Hyundai, which never bore fruit. These issues prevented the realization of anticipated synergies and financial benefits .

Strategic misjudgments played a critical role in the merger's failure. For instance, the assumption that Chrysler's existing product lines required minimal updates was incorrect, as many models were outdated and losing market share. The merger strategy also included expanding market presence in Asia and South America, yet premature and poorly planned investments in companies like Mitsubishi and Hyundai drained resources without returns. These misjudgments reflected a lack of comprehensive strategic assessment and understanding of market dynamics, undermining the merger's potential .

There was not a sufficiently robust plan to address Chrysler's product line deficiencies post-merger. Many Chrysler products were outdated and losing market share to competitors, such as Toyota and Honda. A failure to timely update these product lines meant missing out on competitive advantages and resulted in reduced market relevance. This oversight in product management weakened the merger's success as improved sales and market position were not achieved .

The clash in expenditure habits highlighted deeper cultural and operational misalignments. Daimler executives' preference for luxury, contrasted with Chrysler's cost-conscious approach, led to inefficiencies and cost overruns, such as incurring over $5 million on executive travel and accommodation expenses in unnecessary meetings. This disparity not only affected financial performance but also eroded trust and cooperation between the management teams, undermining the merger's success .

Operational challenges included the failed attempt to integrate Chrysler's U.S. distribution network with Daimler's logistics system. The resistance from dealers to host Chrysler vehicles at Mercedes outlets illustrated the logistical disconnect. Furthermore, operational inefficiencies arose from the necessity to repaint and rebrand Chrysler vans, leading to increased costs without yielding intended synergies in distribution logistics .

Cultural differences were evident in various aspects, including decision-making processes and corporate expenditures. Daimler executives preferred detailed and extensive management reporting and decision-making through lengthy meetings, in contrast to Chrysler's more agile and minimal reporting approach. Furthermore, expenditure habits differed significantly, with Daimler executives used to first-class travel and luxurious accommodations, whereas Chrysler executives were accustomed to more frugal travel arrangements. These discrepancies led to inefficiencies and distrust, contributing to over $5 million in unnecessary expenses within the first year and ultimately undermining the effectiveness of the merger .

The operational issue stemmed from Daimler's attempt to utilize Chrysler's U.S. distribution network to distribute Mercedes parts. The problem was that the Chrysler network resisted this integration, as their dealers were opposed to displaying Chrysler vehicles at their Mercedes dealerships. This led to the costly procedure of repainting and rebranding Chrysler vans, illustrating a lack of foresight in operational planning and failing to capitalize on the merger's synergetic potential .

DaimlerChrysler made a strategic error by attempting to integrate brand logistics without considering existing brand identities. Specifically, after the merger, Daimler intended to use Chrysler's distribution network in the U.S. for Mercedes parts. However, this plan was flawed as dealers did not want Chrysler or Dodge branded vans at their locations. To remedy this, Chrysler vehicles had to be repainted and rebranded at significant expense, illustrating poor initial strategic alignment and leading to high operational costs .

The merger aimed to leverage Daimler's high-quality engineering and extensive distribution network with Chrysler's expertise in efficiency and market presence in the U.S. Additionally, complementing product lines were seen as a strength, with Mercedes-Benz's luxury cars and Chrysler's more affordable brands like Jeep appealing to different market segments. However, these strengths were not realized due to persistent cultural and operational misalignments, unrevised strategies, and financial difficulties, which led to the erosion of trust and failure to integrate operations effectively .

The integration was adversely affected by Daimler's preference for making decisions through extensive discussions and deliberations, contrasting sharply with Chrysler's faster, more agile decision-making style. This discrepancy led to delays in implementing changes and hindered efficient operational integration, resulting in missed opportunities to achieve the anticipated merger efficiencies .

Anda mungkin juga menyukai