0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan99 halaman

Panduan Persalinan Normal dan Abnormal

apn

Diunggah oleh

anggun pratissa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan99 halaman

Panduan Persalinan Normal dan Abnormal

apn

Diunggah oleh

anggun pratissa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN PERSALINAN

NORMAL
dr. Anggun Pratissa, [Link]
Persalinan/ partus
Suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari
dalam uterus melalui vagina atau abdomen ke dunia luar

Inpartu --> Sedang mengalami proses persalinan

Persalinan Normal
Bayi lahir kehamilan aterm, presentasi belakang kepala, tanpa
memakai alat atau pertolongan istimewa, tidak melukai ibu dan
bayi, berlangsung dalam waktu <24 jam

Persalinan Abnormal
Bayi lahir pervaginam dengan bantuan ekstraksi cunam, ekstraksi
vakum, versi & ekstraksi, dekapitasi, embriotomi atau dilahirkan
perabdominam (seksio sesarea)
SYARAT PERSALINAN NORMAL
• Umur kehamilan cukup bulan (aterm), yaitu 37 – 40 minggu
• Persalinan pervaginam, lahir spontan dengan tenaga ibu sendiri
• Letak janin memanjang, presentasi belakang
kepala – Ubun – ubun kecil di depan arah jam 12
• Berlangsung tidak lebih dari 18 jam sejak kala I
• Tidak terdapat komplikasi pada ibu atau janin
• Janin tunggal, hidup, tanpa kelainan
kongenital – Berat janin ≥ 2500 – < 4000 gram
JENIS PERSALINAN

• Persalinan premature • Persalinan post-term (serotinus)


– Umur kehamilan 20 – 28 minggu – Umur kehamilan > 40 minggu
– Berat janin 500 – 1000 gram • Abortus
• Persalinan preterm – Umur kehamilan < 20 minggu
– Umur kehamilan 28 – 37 minggu – Berat janin < 500 gram
– Berat janin 1000 – 2500 gram
• Persalinan aterm (normal)
– Umur kehamilan 37 – 40 minggu
– Berat janin 2500 – 4000 gram
STATUS OBSTETRIK
Gravida Sedang dalam keadaan hamil

Para Pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viabel)


Penghentian kehamilan sebelum janin viabel (usia 28
Abortus minggu atau berat janin < 500 gram)

Hidup Jumlah anak yang sekarang masih hidup

G1 P 0 A0 Sedang hamil pertama


G2 P 1 A0 Sedang hamil ke dua, pernah bersalin 1x
G4 P 2 A1 H0 Sedang hamil ke empat, pernah bersalin 2x, pernah
keguguran/KET 1x, saat ini anak hidup 0
G2 P 1 A0 H2 Sedang hamil kedua, pernah bersalin 1x gemelli, saat
ini anak hidup 2
P 1 A0 Pernah bersalin 1x
P 0 A1 Pernah keguguran/ KET 1x
Pencetus Proses Persalinan
Menurunnya fungsi plasenta
• Kadar Estrogen dan Progesteron berkurang
• Nutrisi plasenta berkurang

Tekanan pada ganglion


servikalis di pleksus
Frankenhauser

Iskemia otot uterus


Teori Penyebab Persalinan
Rangsangan oksitosin
Pada akhir kehamilan kadar oxytocin bertambah, timbul
kontraksi otot rahim
Pengaruh kortisol janin
Hipofisis & kelenjar suprarenal janin juga memegang peranan.
Pada janin anensefalus proses persalinan lebih lama
Pengeluaran prostaglandin
Penelitian menunjukkan Prostaglandin F2/E2 intravena, intra
dan ekstra-amnial menimbulkan kontraksi myometrium pada
setiap umur kehamilan.
Pada bumil sebelum melahirkan atau selama persalinan, kadar
prostaglandin tinggi pada air ketuban & darah perifer
Peregangan otot uterus

Penurunan kadar progesteron


Progesteron menimbulkan relaksasi otot-otot uterus, sebaliknya
estrogen meninggikan kerenggangan otot rahim.
Selama kehamilan terdapat keseimbangan antara kadar
progesteron dan estrogen di dalam darah, tetapi pada akhir
kehamilan kadar progesteron menurun sehingga timbul his
Faktor yang berperanan
Power Passage Passenger
Kekuatan his Jalan lahir keras Ukuran janin
Kekuatan mengejan Jalan lahir lunak Posisi janin

Gejala persalinan Tanda persalinan


Proses

Lightening His
Polakisuri (sering kencing) Nyeri melingkar
Serviks matang Teratur
Makin lama makin sering
His palsu Dibawa berjalan semakin kuat
3-4 mgg sebelum persalinan Serviks mendatar
Nyeri di perut bawah danmembuka
Tidak teratur Bloody show
Pendek Ketuban pecah
Tidak berpengaruh pada
serviks
His
Kontraksi uterus yang RITMIS dan
TERATUR selama proses persalinan
Ada fase Kontraksi, dan
Relaksasi
Frekuensi makin sering Simetris kanan-
Durasi makin lama kiri
Amplitudo makin kuat Merata
Dominansi fundus

Normal
KONTRAKSI ASLI DAN PALSU
Kontraksi Asli Kontraksi Palsu
Ritme Teratur Tidak teratur
Interval Semakin lama semakin sering Tetap sama
Intensitas Semakin lama semakin kuat Tetap sama
Lokasi nyeri Punggung dan perut Perut bagian bawah
Efek analgesik Nyeri tidak hilang Nyeri dapat hilang
Perubahan posisi Kontraksi tidak hilang Kontraksi dapat hilang
Perubahan serviks Pembukaan dan effacement Tidak berubah
SEGMEN ATAS DAN BAWAH
RAHIM
Segmen Atas Rahim (SAR) Segmen Bawah Rahim (SBR)
Asal Corpus uteri Isthmus uteri
Sifat kontraksi Aktif Pasif
Konsistensi Kencang atau keras Lemah atau lunak
Ketebalan Semakin lama semakin tebal Semakin lama semakin tipis

• SAR berkontraksi  Retraksi  Mendorong janin keluar


• Sebagai respons terhadap kontraksi SAR, SBR semakin lunak dan
melebar  Membentuk saluran muscular yang tipis  Janin
dapat menonjol keluar
• Retraksi myometrium
– Myometrium pada SAR tidak berelaksasi kembali ke panjang
awal setelah kontraksi tetapi menjadi lebih pendek pada
kontraksi selanjutnya
• Batas antara SAR dengan SBR ditandai oleh lingkaran di
permukaan uterus yang disebut cincin retraksi fisiologis
– Jika SBR terlalu tipis misalnya pada partus lama, maka cincin
retraksi menjadi sangat menonjol yang disebut cincin retraksi
patologis (Bandl ring)
PENDATARAN & DILATASI SERVIKS

• Pendataran serviks / effacement / obliterasi


– Pemendekan canalis serviks dari panjang sekitar 2 cm menjadi
– muara melingkar dengan tepi hampir setipis kertas
– Ostium internum ditarik ke atas menuju SBR sedangkan ostium externum
tidak berubah
– Menyebabkan ekspulsi mucoid plug
• Pembukaan / dilatasi serviks
– Disebabkan oleh kontraksi uterus yang meningkatkan tekanan
• hidrostatik pada selaput ketuban
– Jika selaput ketuban sudah pecah, maka bagian terbawah janin
meneruskan tekanan terhadap serviks dan SBR
• Primigravida
– Serviks masih panjang dan belum lebar
– Effacement terjadi lebih awal daripada pembukaan  Serviks
baru membuka setelah effacement lengkap
• Multigravida
– Serviks masih panjang tetapi sudah lebar
– Effacement terjadi bersama dengan pembukaan
Penipisan dan pembukaan serviks
Primipara Multipara

Penipisan dilanjutkan Penipisan bersamaan


pembukaan dengan pembukaan
Kala dalam persalinan
Kala I Kala pembukaan
Serviks membuka sampai diameter 10 cm

Kala II Kala pengeluaran


Mulai pembukaan lengkap sampai Bayi dilahirkan

Kala III Kala uri


Plasenta terlepas dan dilahirkan

Kala IV Mulai dari plasenta lahir sampai 2 jam


sesudahnya
His
Awal Kala I Akhir Kala I
Frekuensi 3-4x/ 10 mnt Frekuensi 3-4x/ 10 mnt
Lama 20-30 detik Lama 60-90 detik
Amplitudo 40 mmHg Amplitudo 60 mmHg

Kala II
Frekuensi 3-4x/ 10 mnt
Amplitudo 60 mmHg
Tenaga meneran:
kontraksi diafragma &
otot dinding abdomen

Kala III
Frekuensi berkurang
Amplitudo 60-80 mmHg
Aktifitas uterus menurun
Kala I/ Kala Pembukaan

Fase laten
Pembukaan mencapai 3 cm, berlangsung sekitar 8
jam
Fase aktif
Fase akselerasi: Pembukaan mencapai 3-4 cm,
dalam 2 jam
Fase dilatasi maksimal: Pembukaan mencapai 4-9
cm, dalam 2 jam
Fase deselerasi: Pembukaan mencapai 9 cm -
lengkap, dalam 2 jam
Kala I
Mengeluarkan lendir + darah (Bloody Show)
Ostium uteri internum terbuka, sehingga serviks
menipis dan mendatar.
Ketuban pecah sendiri
Waktu kala I : Primigravida ± 13 jam,
Multipara ± 7 jam.
PENURUNAN KEPALA JANIN
• Nulipara
– Kepala janin sudah masuk ke PAP sebelum persalinan
– Penurunan kepala lebih lanjut tidak akan terjadi sampai awal
persalinan  Dimulai sejak fase dilatasi maksimal
• Multipara
– Kepala janin belum masuk PAP sebelum persalinan
– Penurunan kepala lebih lanjut terjadi pada kala I
MOLASE / MOULDING

• Merupakan penyusupan tulang kepala janin


– Menunjukkan kemampuan kepala untuk menyesuaikan dengan
bagian keras panggul
– Jika saling overlap, maka kemungkinan kepala tidak dapat
berakomodasi atau terdapat disproporsi kepala-panggul
• Interpretasi
– 0 : Tidak terdapat molase, sutura mudah dipalpasi
– 1 : Tulang hanya saling bersentuhan
– 2 : Tulang saling overlap tetapi dapat dipisahkan
– 3 : Tulang saling overlap dan tidak dapat dipisahkan
MONITORING DAN INTERVENSI

Fase Laten Fase Aktif


Tekanan darah Setiap 4 jam Setiap 4 jam
Suhu Setiap 4 jam Setiap 2 jam
Denyut nadi Setiap 30 – 60 menit Setiap 30 – 60 menit
Denyut jantung janin Setiap 1 jam Setiap 30 menit
• Setiap 1 jam • Setiap 30 menit
His • Minimal 1 – 2 kali/jam • Minimal 3 – 4 kali/10’
selama 20 detik selama 30 – 40 detik
Pembukaan serviks Setiap 4 jam Setiap 4 jam
Penurunan kepala Setiap 4 jam Setiap 4 jam
Warna cairan ketuban Setiap 4 jam Setiap 4 jam
Catat di partograf
Kemajuan Tanda dan Gejala Keterangan
• His tidak progresif teratur
• Kecepatan pembukaan
serviks < 1 cm/jam Lakukan tata laksana persalinan
Persalinan lama / memanjang
• Serviks tidak dipenuhi
oleh
bagian bawah janin
• Mungkin dehidrasi atau nyeri
• Denyut nadi meningkat
• Nilai pendarahan
Kondisi ibu • Tekanan darah menurun
• Curiga asupan nutrisi kurang
• Terdapat aseton pada urine
• Beri infus dekstrosa jika perlu
• DJJ < 120 atau > 160 • Curiga gawat janin
Kondisi janin • Posisi selain occiput anterior • Lakukan tata laksana
dengan fleksi sempurna malposisi / malpresentasi
KALA II (KALA PENGELUARAN JANIN)
• Dimulai dengan pembukaan serviks dengan lengkap
dan berakhir dengan saat bayi telah lahir lengkap.
• His terjadi 4 – 5 kali dalam 10 menit selama 40 – 50 detik
• Dorongan untuk meneran, tekanan pada anus (Doran Teknus)
• Vulva dan anus membuka, perineum menonjol (Vulka Perjol)
• Pemeriksaan dalam
– Pembukaan lengkap (10 cm)
– Kepala berada di bidang Hodge III
– Ubun – ubun kecil di kiri atau kanan atas
– Selaput ketuban masih lengkap atau sudah pecah
• Terjadi 1 jam pada primipara dan 30 menit pada multipara
MEKANISME PERSALINAN NORMAL
• Selama proses 1. Engagemen
persalinan, janin
2. Desensus
melakukan
serangkaian gerakan 3. Fleksi
untuk melewati 4. Putar paksi dalam
panggul --> (rotasi interna)
“seven cardinal
5. Ekstensi
movements of labor”
yang terdiri dari : 6. Putar paksi luar
(rotasi ekstena)
7. Ekspulsi
1. ENGAGEMENT
• Suatu keadaan dimana diameter biparietal sudah
melewati pintu atas panggul.
• Pada 70% kasus, kepala masuk pintu atas panggul ibu
dengan oksiput melintang (tranversal)
– Primigravida : Terjadi pada minggu terakhir kehamilan
– Multigravida : Terjadi pada awal persalinan
• Proses engagemen kedalam pintu atas panggul dapat
melalui proses normal sinklitismus , asinklitismus
anterior atau asinklitismus posterior
Sinklitismus
Sumbu kepala janin tegak lurus terhadap pintu atas
panggul

Asinklitismus
Sumbu kepala janin miring terhadap pintu atas
panggul
Asinklitismus anterior
Asinklitismus posterior
• Asinklitismus anterior : Sumbu kepala membentuk sudut
lancip ke depan dengan PAP
• Asinklitismus posterior : Sumbu kepala membentuk sudut
tumpul ke depan dengan PAP
• Sinklitismus normal : Sumbu kepala tegak lurus dengan
PAP
Arah sumbu
Arah sumbu kepala janin
kepala janin
membuat sudut lancip ke
tegak lurus dgn
depan dgn pintu atas
bidang pinta
panggul
atas panggul
Parietalis anterior
Sutura sagitalis
sebagai bagian terendah
berada
diantara
promontorium
dan simfisis
2. DESENSUS
• NULIPARA : engagement terjadi sebelum
inpartu dan berlanjut sampai awal kala II;
• MULTIPARA : desensus dan engagement
berlangsung bersamaan dengan dilatasi
servik.
• Penyebab terjadinya desensus :
1. Tekanan cairan amnion
2. Tekanan langsung oleh fundus uteri pada bokong
3. Usaha meneran ibu
4. Gerakan ekstensi tubuh janin (tubuh janin
menjadi lurus)
3. FLEKSI
• Gerakan fleksi terjadi akibat adanya tahanan servik,
dinding panggul dan otot dasar panggul.
• Keuntungan fleksi : ukuran kepala lebih kecil melalui
jalan lahir
• Diameter sub oksipito bregmatika (9,5 cm)
menggantikan diameter sub oksipito frontalis (11cm)
• Bila terdapat kesempitan panggul, dapat terjadi ekstensi
kepala sehingga terjadi letak defleksi (presentasi dahi,
presentasi muka).
4. Putaran paksi dalam
(rotasi interna)
Mekanisme putaran paksi dalam:
Ubun-ubun kecil berputar ke depan ke bawah simfisis
setinggi spina ischiadica
Mekanisme penyesuaian posisi kepala dengan bentuk
jalan lahir (bidang tengah & pintu bawah panggul)
Selalu bersamaan dengan majunya kepala
Terjadi setelah melewati station 0 (H III)
5. EKSTENSI
• Terjadi setelah putaran paksi dalam selesai
• Karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul
mengarah ke depan atas, maka agar kepala dapat
melewati pintu bawah panggul harus terjadi gerakan
ekstensi kepala janin lebih dulu.
• Akibatnya terjadi regangan perineum dan diikuti dengan
“crowning”
• Suboksiput yang menjadi pusat pemutaran disebut
hipomoklion
6. Putaran paksi luar (eksterna)
• Kepala anak memutar kembali kearah punggung
anak untuk menghilangkan torsi pada leher yang
terjadi karena putaran paksi dalam.
• Putaran dilanjutkan hingga belakang kepala
berhadapan dengan tuber iskiadikum (sepihak)
• Gerakan ini mengikuti masuknya bahu kedalam
panggul.
• A. Fleksi dan desensus ;
• B dan C Desensus berlanjut dan akan masuk kedalam putar paksi
dalam ;
• D putar paksi dalam sudah sempurna dan kepala akan lahir
dengan gerakan ekstensi
7. Ekspulsi
• Bahu melintasi rongga panggul akan
menyesuaikan diri, sehingga di dasar panggul
bahu akan berada dalam posisi depan belakang.
• Dilahirkan bahu depan terlebih dahulu baru
kemudian bahu belakang.
• Kemudian bayi lahir keseluruhan
• Setelah kepala lahir, muka janin dibersihkan dan
jalan nafas dibebaskan dari darah dan cairan
amnion.
• Mulut dibersihkan terlebih dahulu sebelum
melakukan pembersihan hidung.
• Setelah jalan nafas bersih, dilakukan
pemeriksaan adanya lilitan talipusat sekitar leher
dengan jari telunjuk
PERSIAPAN

• Melakukan teknik aseptic dan sterilisasi


– Memakai apron, mencuci tangan, memakai handscoen
• Membersihkan vulva dan perineum
• Memastikan pembukaan lengkap
• Memastikan kondisi janin dengan memeriksa DJJ
• Posisi ibu setengah duduk
– Lipatan sendi lutut berhubungan dengan lipatan siku
Bila ketuban belum pecah, dipecahkan
Dipimpin meneran
 Dalam posisi terlentang, dengan tangan
merangkul lipat paha.
 Dalam posisi miring
Episiotomi pada primigravida atau multipara
dengan perineum kaku
Setelah bayi lahir, tali pusat dijepit & dipotong
Kandung kemih dikosongkan
PROSEDUR PIMPINAN PERSALINAN

Vulva terbuka
Mengejan saat Istirahat saat his dengan diameter
puncak his hilang 5 – 6 cm

Handuk di atas Tampak kepala


perut dan di Terus mengejan dengan diameter
bawah bokong 5 – 6 cm (crown)

Subocciput di Putaran paksi luar


Perasat Ritgen
bawah simfisis secara spontan
PERASAT RITGEN

• Tangan atas
– Letakkan pada kepala bayi
– Tekan kepala ke bawah
– Mencegah defleksi yang
terlalu cepat
• Tangan bawah
– Letakkan pada perineum
menggunakan kain
– Tekan perineum ke atas
– Melindungi perineum
Putaran paksi luar Memeriksa lilitan
secara spontan tali pusar Kepala ekstensi
lengkap

Bersihkan muka
bayi, paha, dan Pegang kepala Gerakkan kepala
perineum secara biparietal ke bawah-luar

Bahu depan / Gerakkan kepala Bahu belakang /


bahu atas lahir ke atas-luar bahu bawah lahir
PERSALINAN TUBUH ANAK
• Setelah kelahiran janin, terjadi pengaliran
darah plasenta pada neonatus bila tubuh
anak diletakkan dibawah introitus vagina.
• Sebaiknya neonatus diletakkan diatas
perut ibu dan pemasangan dua buah klem
talipusat dilakukan dalam waktu sekitar 15
– 20 detik setelah bayi lahir dan kemudian
baru dilakukan pemotongan talipusat
diantara kedua klem.
LILITAN TALI PUSAT

• Jika lilitan di leher masih longgar, maka


selipkan tali pusat melewati bagian atas
kepala bayi
• Jika lilitan terlalu ketat, maka klem tali
pusat pada 2 titik kemudian gunting di
antara keduanya
Pindahkan tangan Pindahkan tangan
Kedua bahu lahir yang di atas ke yang di bawah ke
bahu bawah bahu atas

Tangan yang di Tangan yang di Letakkan jari


bawh menyangga atas menelusuri telunjuk di antara
bahu bawah punggung-kaki kedua kaki

Letakkan bayi di Penilaian selintas Manajemen bayi


atas perut ibu tanda asfiksia baru lahir
EPISIOTOMI
• Insisi pada vagina dan perineum untuk mencegah rupture
• Prinsip
– Mencegah kerusakan karena daya regang yang melebihi
kapasitas adaptasi atau elastisitas jaringan
• Indikasi
– Gawat janin dan bayi akan segera dilahirkan dengan
tindakan
– Perineum yang kaku, misalnya pada primipara atau terdapat
jaringan parut pada vagina dan perineum
– Penyulit persalinan pervaginam : Malpresentasi, ekstraksi
vakum, forceps, macrosomia, distosia bahu
Teknik episiotomi…

Medial Mediolateral
Ujung bawah introitus Introitus vagina menuju
Teknik insisi vagina sampai tepi atas ke belakang dan samping
m. sphincter ani sekitar 4 cm

Surgical repair Mudah Lebih sulit


Nyeri setelah tindakan Minimal Sering
Hasil anatomi Sangat baik Kadang kurang baik
Kehilangan darah Sedikit Banyak
Dispareunia Jarang Sering
Rupture perineum Sering Jarang
Masukkan Selipkan 2 jari Tusuk jarum
lidokain 1% 5 ml antara kepala dan tepat di bawah
ke dalam spuit perineum kulit fourchetter

Arahkan jarum Selipkan 2 jari


450 ke kanan atau Anestesi infiltrasi antara kepala dan
kiri perineum perineum

His muncul dan Gunting


perineum Selipkan gunting perineum mulai
menipis di antara 2 jari dari fourchette
KALA III (KALA PENGELUARAN URI)
• Biasanya berlangsung 5 – 30 menit setelah bayi lahir
• Akibat kontraksi uterus, ukuran plasenta dan
“plasental site” mengecil sampai tersisa 25% 
hematoma retroplasenta  terjadi separasi plasenta.
• Segera setelah bayi lahir, tinggi fundus uteri dan
konsistensi dipastikan sampai terdapat tanda-tanda
pelepasan plasenta
• Periode kritis untuk mencegah pendarahan post partum
– Placenta terlepas tetapi tidak segera keluar  Pendarahan
di belakang placenta  Uterus tidak berkontaksi
• Manajemen aktif kala III
– Injeksi oksitosin 10 IU dalam 1 menit pertama setelah lahir
– Peregangan tali pusat terkendali
– Massage fundus uteri setelah placenta lahir

• Tujuan manajemen aktif kala III : Memperkuat kontraksi


uterus
– Mempercepat kala III
– Mencegah pendarahan post partum
– Mengurangi jumlah darah yang hilang
INJEKSI OKSITOSIN
• Dilakukan dalam waktu 1 menit pertama setelah bayi lahir
• Injeksi oksitosin 10 U (1 ampul) IM pada sepertiga bagian atas
paha luar (m. rectus lateralis)
• Jika oksitosin tidak tersedia, maka lakukan
– Stimulasi putting susu atau minta ibu untuk menyusui segera
– Ergometrin 0,2 mg IM, tetapi tidak boleh diberikan pada pasien
preeklampsia, eclampsia, dan hipertensi
KLEM TALI PUSAT

Klem tali pusat


2 menit setelah sekitar 3 cm dari Dorong isi tali
bayi lahir umbilicus bayi pusat ke arah ibu

Klem tali pusat


sekitar 2 cm dari Angkat tali pusat Gunting tali pusat
klem pertama yang diklem di antara 2 klem

Ikat tali pusat Lingkarkan


dengan benang benang ke sisi Ikat dengan
pada satu sisi yang berlawanan simpul kunci
PEREGANGAN TALI PUSAT

Pindahkan klem Satu tangan pada Tegangkan tali


sekitar 5 – 10 cm klem, satu tangan pusat ke bawah
dari vulva di atas perut saat his muncul

Lakukan terus – Tali pusat


Dorong uterus ke menerus sampai bertambah
dorso-cranial plasenta lepas panjang

Lakukan
Pindahkan klem peregangan
ke atas kembali
Placenta sudah Mengejan untuk Plasenta terlihat
terpisah mendorong di introitus vagina
placenta

Pegang plasenta
Angkat tali pusat dengan kedua
Plasenta keluar
ke atas tangan

Putar plasenta
sampai selaput Tarik lembut Letakkan plasenta
ketuban terpilin selaput ketuban pada wadah
PERASAT LEPASNYA
• Perasat Kustner
– Tangan kanan meregangkan tali pusat dan tangan kiri menekan
di atas simfisis
– Belum lepas : Tali pusat masuk kembali ke dalam vagina
– Sudah lepas : Tali pusat tidak masuk kembali ke vagina
• Perasat Strassman
– Tangan kanan meregangkan tali pusat dan tangan kiri mengetok
fundus uteri
– Belum lepas : Terasa getaran
– Sudah lepas : Tidak terasa getaran
• Perasat Klein
– Pasien diminta mengejan beberapa saat kemudian berhenti
– Belum lepas : Tali pusat tidak bertambah panjang
– Sudah lepas : Tali pusat bertambah panjang dan tidak masuk
kembali saat berhenti mengejan
• Jika placenta tidak lepas setelah 15 menit menegangkan tali pusat
– Injeksi ulang oksitosin 10 unit IM
– Pasang kateter apabila vesical urinaria penuh
– Minta keluarga untuk mempersiapkan rujukan
– Ulangi peregangan tali pusat 15 menit berikutnya
• Jika placenta tidak lahir dalam waktu 30 menit, maka segera rujuk
• Jika terjadi pendarahan sebelum plasenta lahir, maka segera
lakukan manual placenta
• Jika setelah manual placenta masih terjadi pendarahan,
maka
lakukan kompresi bimanual atau kompresi aorta
– Injeksi oksitosin 10 unit IM atau misoprostol per oral
– Hentikan kompresi setelah muncul his berikutnya dan
pendarahan berhenti
PEMERIKSAAN PLASENTA
• Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan
masase uterus dengan gerakan melingkar sampai muncul his
• Periksa plasenta pars maternalis untuk memastikan tidak
terdapat
bagian yang tertinggal
• Periksa plasenta pars fetalis untuk memastikan tidak terdapat
lobus tambahan (plasenta succenturiata)
• Evaluasi selaput ketuban
– Jika selaput ketuban robek, maka lakukan eksplorasi plasenta
untuk mengeluarkan bagian yang tertinggal
RUPTURE PERINEUM
• Grade I : Kulit perineum dan mucosa vagina
• Grade II : Otot perineum tanpa m. sphincter ani
• Grade III : M. sphincter ani
– Grade IIIA : < 50% m. sphincter ani externum
– Grade IIIB : > 50% m. sphincter ani externum
– Grade IIIC : M. sphincter ani internum
• Grade IV : Mucosa anorectal
REPAIR PERINEUM
• Persiapan
– Injeksi lidokain di bawah mucosa vagina, di bawah kulit
perineum dann otot perineum
– Benang absorbale dengan catgut nomor 2/0
• Rupture grade I : Tidak perlu dijahit
• Rupture grade III dan IV : Rujuk
• Rupture grade II
– Jahit mukosa : Jahit jelujur 1 cm di atas puncak luka vagina
sampai batas vagina
– Jahit otot : Lanjutkan jahit jelujur pada otot perineum sampai
ujung luka pada perineum
– Jahit kulit : Jahit subkutikular kembali ke batas vagina
– Jika pendarahan masih terjadi, maka berikan misoprostol
1000
mcg per rektal atau asam traneksamat 1000 mg IV bolus
Kala IV
• Hal-hal yang perlu dipantau selama 2 jam
setelah post partum :
– Tekanan darah, nadi, TFU, perdarahan setiap 15
menit pada 1 jam pertama dan 30 menit pada 1 jam
kedua.
– Masase uterus setiap 15 menit pada 1 jam pertama
dan 30 menit pada 1 jam kedua.
Kala IV
• Hal-hal yang perlu dipantau selama 2 jam
setelah post partum :
– Tekanan darah, nadi, TFU, perdarahan setiap 15
menit pada 1 jam pertama dan 30 menit pada 1 jam
kedua.
– Masase uterus setiap 15 menit pada 1 jam pertama
dan 30 menit pada 1 jam kedua.
Kala IV
• Hal-hal lain yang harus diperhatikan :
– Kontraksi uterus baik
– Tidak ada perdarahan dari vagina dan alat genital
lainnya
– Plasenta lahir lengkap
– Luka perineum terawat baik dan tidak ada hematoma
– Ibu dalam keadaan baik
– Bayi dalam keadaan baik
Inisiasi Menyusu Dini
Perawatan bayi (Pemberian Vit. K, salep mata,
timbang, ukur, pemberian identitas dan penilaian
cacat)
Pemberian imunisasi hepatitis B
Evaluasi keadaan umum
Pembersihan alat
Melengkapi partograf
PENATALAKSANAAN PASCA
PERSALINAN
• Sebelum dirawat di ruang perawatan nifas,
pasien pasca persalinan harus
– Keadaan umum baik .
– Kontraksi uterus baik dan tidak terdapat
perdarahan pervaginam.
– Cedera perineum sudah diperbaiki.
NIFAS/ PUERPERIUM

Masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk


pulihnya kembali alat kandungan, lamanya 6
minggu
Perubahan yang terjadi
1. Involusi rahim
2. Involusi tempat insersi plasenta
3. Perubahan pembuluh darah rahim
4. Perubahan serviks
5. Perubahan saluran kencing
6. Perubahan dinding perut
1. Involusi rahim
Bertahap dalam 42 hari
Berat uterus 1.000 gram menjadi 50 gram
Terjadi proses otolisis, nekrosis, epitelisasi.
Hasilnya berupa Lokia

2. Involusi tempat insersi plasenta


Ukuran dari sebesar telapak tangan menjadi 3–4
cm kemudian menjadi 1–2 cm
Tidak meninggalkan jaringan parut
3. Perubahan pembuluh darah
rahim
Pembuluh darah besar mengecil, diganti
pembuluh darah yang lebih kecil

4. Perubahan serviks dan vagina


Ostium uteri menyempit
Robekan serviks menyembuh
Rugae pada vagina terbentuk kembali
5. Perubahan saluran kemih
Edema & hiperemi dinding kandung kencing
Edema trigonum dapat menimbulkan retensio urin
Sensitivitas berkurang, menimbulkan residual urin
berpotensi terjadinya infeksi

6. Perubahan dinding perut


Dinding perut yang longgar, akan pulih dalam 6
minggu
Perlu diperhatikan pada masa nifas
1. Suhu tubuh
2. Lokia
3. Produksi urin
4. Laboratorium darah
5. Penurunan berat badan
1. Demam (>38 0C)
Fisiologis: terjadi dalam 24 jam pertama
Patologis: terjadi 2-10 hari postpartum

2. Lokia
Sekret vagina, berisi: eritrosit, potongan desidua, epitel & bakteri

3. Urine
Hari ke 2-5, terjadi poliuria
Minggu I, bila reduksi (+) (laktosa ASI)
Bila terjadi Partus lama, akan terjadi asetonuria (kelaparan)
4. Darah
Leukositosis (s.d 30.000/mm3) selama & sesudah
persalinan
Trombositosis
Akhir minggu pertama kembali normal

5. Berat badan
6 minggu postpartum → mencapai BB sebelum hamil
Penurunan BB 2,5 kg (diuresis)
Perawatan masa nifas
1. Ambulasi dini
2. Diet Tinggi Kalori Tinggi Protein
3. Suhu
4. Miksi
Setelah 8 jam diuresis tidak ada, hati-hati retensio
urin
5. Defekasi
Sulit BAB karena ibu takut mengedan
6. Puting susu
Sebelum/sesudah menyusui dibersihkan
7. Higiene vulva
Lama perawatan masa nifas
Bila tidak ada komplikasi 2 hari boleh pulang
Seksio sesarea tanpa komplikasi 3-4 hari boleh
pulang
Memberi penjelasan agar kembali bila demam,
perdarahan, edema kaki
Terima kasih
Name

Anda mungkin juga menyukai