Basic Life Support(BLS)/
Bantuan Hidup
Dasar(BHD)
dan
Resusitasi Jantung Paru
Oleh : Hamdan
Jika dalam penilaian dini
penolong menemukan
Gangguan pada salah satu
dari komponen :
Tersumbatnya jalan
nafas,Tidak ditemukan
adanya nafas dan nadi maka
Penolong harus melakukan
tindakan yang dikenal
dengan Bantuan Hidup Dasar
( BHD )
Penilaian dan perawatan yang
dilakukan pada bantuan hidup dasar
sangat penting guna melanjutkan
ketahapan selanjutnya.
Bila tindakan tersebut
dilakukan sebagai kesatuan
yang lengkap maka tindakan
ini dikenal dengan istilah
RESUSITASI JANTUNG
TINDAKAN BANTUAN HIDUP
DASAR
1. Airway Control
2. Breathing Suport
3. Circulatory Suport
Hal diatas sering di sebut
dengan A – B – C
1. Airway Control
HEAD TILL CHIN LIFT JAW THRUST MANEUVER
2. Breathing Support
Frekuensi pernafasan :
Dewasa : 10 –12 X / menit
Anak ( 1-8 th ) : 20 X / menit
Bayi : lebih dari 20 X
/menit
Bayi baru lahir : 40 X/ menit
3. Circulatory Support
Dewasa Anak - anak Bayi
MEMBERSIHKAN JALAN
NAFAS
1. Re Covery Posesion
INGAT!!!: Re covery
hanya dilakukan jika
korban dapat
bernafas dengan
baik dan tidak
dicurigai mengalami
cedera spinal
2. Sapuan Jari
Teknik ini hanya dilakukan pada penderita
tidak sadar. Pada tindakan ini penolong
menggunakan jarinya untuk membuang
benda padat yang mengganggu jalan nafas.
Jangan memasukan jari terlalu dalam,
khusus bayi dilakukan bila benda yang
menyumbat terlihat.
RESUSITASI JANTUNG PARU
RJP harus dimulai sesegera mungkin.
Tindakan ini merupakan gabungan
dari ketiga
Komponen ABC.
PERSIAPAN RJP
Jangan melakukan RJP sebelum
melakukan penilaian penderita.
Sebelum melakukan RJP anda harus
menentukan bahwa tidak ada
respon, tidak ada nafas, dan
denyut nadi tidak teraba.
Persiapan untuk RJP :
[Link] Kesadaran Penderita (
ASNT / AVPU )
[Link] ABC
MATI
Dalam istilah kedokteran dikenal dua
istilah Mati ;
Mati Klinis dan Mati Biologis.
Mati Klinis :
Tidak ditemukannya adanya pernapasan dan denyut
nadi. Penderita mempunyai kesempatanWaktu selama
4 – 6 menit untuk dilakukan RJP . (Tidak Menetap)
Mati Biologis:
Kematian sel dimulai terutama sel otak, biasa terjadi
dalam waktu 8 – 10 menit dari henti jantung.
(menetap)
Kapan RJP tidak dilakukan
Lebam Mayat
Kaku mayat
Pembusukan
Luka yang mematikan
Penyakit Kronis
Bayi yang mati dalam kandungan
terabanya Nadi dan korban bernafas
Efek Samping dari RJP
Fraktur sternum dan tulang dada
Robekan atau memar paru
Robekan pada hati
MASALAH DALAM MELAKUKAN RJP
MASALAH AKIBAT
• Penderita tidak tidur dialas• RJP Kurang efektif
keras • Bila kepala lebih tinggi
• Penderita tidur tidak aliran darah ke otak
Horizontal
kurang
• Airway tidak terbuka
• HTCL tidak dilakukan
•
• Ventilasi tidak efektif
Penutupan tidak rapat
• Mulut tidak terbuka dg baik
• Ventilasi tidak efektif
• Letak tangan tdk baik atau • Patah sternum,iga, robek
kompresi tidak tepat pd jantung
• Letak tangan tidak • Darah yang terpompa
sempurna kurang
• Kompresi terlalu dalam & • Oksigenisasi darah kurang
cepat
• Perbandingan Kompresi &
ventilasi tidak benar
intro
• American Heart Association (AHA) telah
mengeluarkan panduan Resusitasi
Jantung paru (RJP) secara periodik sejak
tahun 1966 hingga sekarang.
• Publikasi panduan AHA tahun 2010 ini
mengangkat banyak perhatian karena
mengeluarkan sebuah perubahan
standarisasi algoritma baru terutama
untuk BLS yang cukup berbeda dari
publikasi tahun 2005 yang telah dipakai
secara universal dalam berbagai
elemen.
Rantai survival
(sekarang)
1. Pengenalan Segera dan pengaktifan
SPGDT,
2. CPR dini,
3. defibrilasi segera,
4. bantuan hidup lanjut yg efektif,
5. perawatan pasca yang terpadu.
Perubahan
ABC CAB
Latar Belakang Perubahan
(1)
• Henti jantung terjadi sebagian besar
pada dewasa. Angka keberhasilan
kelangsungan hidup tertinggi dari
pasien segala umur yang dilaporkan
adalah henti jantung. Pada pasien
tersebut elemen RJP yang paling
penting adalah kompresi dada (chest
compression) dan defibrilasi otomatis
segera (early defibrillation).
Latar Belakang Perubahan
(2)
• Pada langkah A-B-C yang terdahulu
kompresi dada seringkali tertunda
karena proses pembukaan jalan
nafas (airway) untuk memberikan
ventilasi mulut ke mulut atau
mengambil alat pemisah atau alat
pernafasan lainnya.
Latar Belakang Perubahan
(3)
• Kurang dari 50% orang yang
mengalami henti jantung
mendapatkan RJP dari orang
sekitarnya. Ada banyak kemungkinan
penyebab hal ini namun salah satu
yang menjadi alasan adalah dalam
algoritma A-B-C, pembebasan jalan
nafas dan ventilasi mulut ke mulut
dalam Airway adalah prosedur yang
kebanyakan orang umum temukan
AHA 2010 dalam panduannya
memberikan 2 jenis algoritma
BLS bagi korban dewasa yaitu:
sederhana untuk penolong
non petugas kesehatan, dan
khusus untuk petugas
kesehatan.
R
CP
E
PL
M
SI
Algoritma sederhana ini
diperuntukan untuk semua
penolong untuk
mempelajari, mengingat,
dan mempraktekkan.
• Untuk penolong non petugas kesehatan
yang tidak terlatih
“Hands only CPR” (hanya kompresi
dada)
• Untuk penolong non petugas kesehatan
yang terlatih,
kompresi dada dan dilanjutkan
dengan ventilasi dengan perbandingan
30 : 2, hingga petugas kesehatan
hadir atau alat defibrilasi otomatis
tersedia.
• Untuk petugas kesehatan
lakukan kompresi dada minimal
100x/mnt.
dilanjutkan dengan ventilasi
dengan perbandingan 30 : 2 hingga
advanced airway tersedia
Tipe strategi RJP
ih (RJP multi penolong
lat
lon an
terkoordinir)
r
te
no hir
at
g
(RJP 30:2)
pe ema
g
an
(napas bantuan)
S
tk
Tk
ih
lat
(RJP hanya kompresi
ter
(kompresi dada) dada)
ak
Tid
Beberapa Catatan:
• Untuk petugas kesehatan, prinsip
dasar langkah-langkah algoritma
tetap sama dengan yang sederhana.
• ada dua hal yang tidak dianjurkan
setelah memeriksa korban tidak
responsif yaitu :
Memeriksa ada tidaknya nafas pada
korban dengan “look, feel, listen/LDR”.
Memeriksa denyut nadi pasien.
(kecuali petugas kesehatan, sebaiknya
tidak lebih dari 10 detik. Jika lebih
dari waktu tersebut tidak didapatkan