Refinery Development Master Plan
Refinery Unit V Balikpapan, East Kalimantan, Indonesia
HAZARD IDENTIFICATION/
IDENTIFIKASI BAHAYA
Job Safety Analysis & Risk Assessme
Content
• Tujuan
• Pengertian
• Jenis Jenis Bahaya
• Teknik Indentifikasi Bahaya
• Belajar dari kecelakaan
• Definisi Risk Assessment Job Hazard Analysis
• Manfaat membuat JSA
• Tanggung Jawab
• Kapan harus membuat JSA
• Langkah – Langkah membuat JSA
• Komunikasi dan review JSA
Tujuan Pelatihan
• Pekerja memahami dalam mengembangkan kesadaran pada potensi bahaya dan
resiko yang terkait di tempat kerja.
• Mengerti dalam penentuan langkah-langkah untuk menghilangkan atau
meminimalkan potensi bahaya yang telah teridentifikasi.
• Mampu membuat JSA dengan benar
• Untuk mengurangi risiko pada pekerja dan kerusakan pada peralatan (aset) atau
lingkungan dari bahaya di tempat kerja.
Pengertian Identifikasi
Bahaya
• Identifikasi Bahaya adalah suatu proses kajian kualitatif untuk mengetahui
adanya potensi bahaya dari suatu peralatan, proses, lingkungan kerja,
material, atau kegiatan kerja.
• Identifikasi Bahaya merupakan landasan dari langkah pencegahan
kecelakaan yang disebabkan adanya tindakan tidak aman (unsaf act) dan
kondisi tidak aman (unsafe condition).
• Merupakan bagian dari Risk Assessment atau Risk Management Process.
Dasar Pemikiran JSA
Setiap tugas dapat diuraikan ke dalam suatu urutan
tahapan sederhana
Setiap tahap pekerjaan dapat dikenali bahayanya
Setiap bahaya pada tahapan pekerjaan tersebut dapat
diatasi
Setiap kecelakaan selalu ada penyebabnya
Siapa yang
melaksanakan JSA
PENGAWAS !!!
Kenapa perlu
melakukan JSA
Mengidentifikasi potensi bahaya terjadinya kecelakaan
Membuat prosedur tugas yang spesifik
Menetapkan persyaratan teknis dan administrative bagi
pelaksana pekerjaan
Menyiapkan observasi untuk membantu pelaksanaan
pekerjaan tersebut
Kenapa PENGAWAS
melaksanakan JSA
Karena pengawas menguasai dan mempunyai kepentingan
langsung dengan tiap jenis pekerjaan yang menjadi tugas
anak buahnya
Mempunyai kepentingan langsung untuk menyelamtkan anak
buahnya
Mempunyai catatan kecelakaan paling lengkap
Jenis Bahaya
•Bahaya Mekanik (Biomechaical hazards) ...
•Bahaya Fisika (Physical hazards) ...
•Bahaya Kimia (Chemical hazards) ...
•Bahaya Biologi (Biological hazards) ...
•Bahaya Psikologi (Psychology hazards) ...
•Bahaya Ergonomi (Ergonomic Hazards)
Bahaya Mekanis
• Bahaya Mekanik yaitu potensi bahaya yang berasal dari
pergerakan peralatan atau mesin seperti gerakan berputar,
berayun, gesekan, menumbuk dan lain-lain.
• Bahaya mekanik dapat diakibatkan penggunaan mesin dan
peralatan mekanik yang menggunakan berbagai jenis tenaga
penggerak seperti penggerak uap, angin (pneumatik), listrik
atau air.
• Diakibatkan energi kinetik yang terdapat dalam suatu sistem
atau alat misalnya tabung bertekanan yang dapat
mengakibatkan terjadinya overpressure dan peledakan.
Bahaya
Fisika
• Temperatur
• Suara/Bising
• Tekanan Udara
• Getaran
• Radiasi
Bahaya Kimia
• Bahaya Kimia adalah jenis bahaya yang bersumber dari senyawa atau unsur kimia.
Di alam terdapat ribuan jenis bahan kimia, baik berupa unsur murni maupun dalam
bentuk ikatan dengan bahan lainnya.
• Menurut standar NFPA setiap bahan kimia diklasifikasikan atas 3 aspek yaitu
• Bahaya terhadap Kesehatan (Health Hazards),
• sifat mudah menyala (flamability)
• sifat reaktifnya (reactivity)
Bahaya Biologi
• Bahaya Biologi merupakan sumber
bahaya yang berasal dari unsur biologi
yang terdapat di lingkungan kerja dan
dapat mengakibatkan cedera pada
manusia.
• Bahaya ini dapat berasal dari flora atau
fauna di lingkungan kerja seperti
mikrobiologik, tumbuhan beracun atau
berduri dan binatang berbisa atau
buas.
• Listrik merupakan sumber energi yang sangat diperlukan
bagi kegiatan manusia pada saat ini, namun dilain pihak Bahaya Listrik
listrik juga merupakan sumber potensi bahaya yang dapat
menimbulkan kecelakaan.
• Bahaya yang dapat ditimbulkan oleh energi listrik antara
lain:
• Bahaya sengatan/kejutan listrik (electric shock)
• Bahaya hubungan singkat (Short circuit)
• Bahaya petir
• Listrik Statis
• Hubungan singkat (short circuit)
• Kebakaran (fire & explosion)
• Sengatan Listrik (Electric Shock)
• Electric Static
• Petir (lightning)
Bahaya
Ergonomis
Bahaya Ergonomi (Ergonomic Hazards)
Merupakan bahaya yang berasal dari adanya ketidak
sesuaian desain kerja (job, task, environtment) dengan
kapasitas tubuh pekerja sehingga menimbulkan rasa tidak
nyaman di tubuh, pegal-pegal, sakit pada otot, tulang dan
sendi, dll. Contohnya, gerakan repetitif (berulang-ulang)
seperti membungkuk-berdiri-membungkuk, durasi dan
frekuensi bekerja melebihi batas, bekerja dengan postur
tubuh yang janggal seperti berputar di area pinggang,
menunduk, pekerjaan yang mebutuhkan menjangkau
terlalu tinggi, mengangkat beban berat, statis duduk di
depan komputer dalam waktu lama, dll
Sumber Bahaya
• Pelaksana pekerjaan (Manusia)
• Peralatan yang digunakan
• Prosedur pekerjaan
• Lingkungan Tempat Kerja
• Energi yang terlibat
Sumber Bahaya
• Pelaksana pekerjaan (Manusia)
• Tidak trampil
• Pengetahuan tidak cukup
• Kondisi fisik tidak mencukupi
• Sikap dalam bekerja
• Sembrono
• Tidak serius
• Tidak disiplin
• Bercanda
• Suka mengambil resiko
• Tidak perhatian
Sumber Bahaya
• Peralatan
• Tidak cocok
• Kapasitas
• Ukuran
• Kondisi tidak
memadai/rusak
• Tidak lengkap
• Tidak memenuhi
persyaratan teknis
Sumber Bahaya
• Prosedur
• Tidak standar (tidak di review
berkala)
• Langkah kerja tidak lengkap
• Tidak akurat
• Tidak mencakup semua aspek
• Safety
• Integrity dll
• Tidak sesuai dengan kondisi operasi
yang berubah
• Tidak ada prosedur baku
Sumber Bahaya
• Lingkungan
• Fisik
• Licin, gelap, bising,
semrawut
• Non Fisik
• Suasana kerja tidak
menyenangkan
• Organisasi tidak baik
• Manajemen kurang
berfungsi
• Sosial budaya
• Kurangnya kesadaran
keselamatan
Sumber Bahaya
• Energi
• Potensial
• Kinetik
• Listrik
• Kimia
• Panas
• Radiasi
Teknik Identifikasi Bahaya
• Tradisional – Tunggu sampai kecelakaan terjadi
• Belajar dari pengalaman orang lain
• Prediksi Bahaya sebelum ada kejadian
Teknik Tradisionil
• Menunggu sampai ada kecelakaan baru melakukan
penyelidikan mencari faktor penyebab.
• Bersifat pasif
• Kerugian telah terjadi baru ada tindakan
• Tidak efektif
Belajar dari Kecelakaan
• Belajar dari pengalaman yang menimpa orang lain baru
mengambil tindakan pencegahan.
• Tidak efektif, karena tidak semua kejadian dan kondisi ada
referensinya.
• Terlambat karena kecelakaan telah terjadi walaupun menimpa
orang lain.
Teknik Proaktif
• Mencari penyebab kecelakaan sebelum terjadi
• Bersifat proaktif dan lebih murah
• Bersifat terencana dan terarah menuju perbaikan
berkesinambungan
Teknik Pro-aktif
• Checklist
• Preliminary Hazards Analysis
• What If
• Fault tree Analysis
• Event Tree Analysis
• Hazob
• Failure Mode and Effect Analysis
• Layer of Protection Analysis (LOPA)
Job Safety Analysis &
Job Hazard Analysis
JSA - Definisi
• Job Safety Analysis (JSA) adalah suatu prosedur
mengidentifikasi bahaya pada setiap langkah kerja
Mengembangkan solusi bagi setiap bahaya
(menghilangkan bahaya tersebut maupun
mengendalikannya)
• Suatu metode yang digunakan untuk mempelajari suatu
pekerjaan guna mengidentifikasi bahaya atau hubungan
potensi kecelakaan dengan setiap langkah pekerjaan dan
mencari solusi perbaikan (tindakan pengendaliannya)
Keuntungan Dibuat JSA
• Menemukan sumber-sumber bahaya
• Mengurangi / mengendalikan bahaya
• Mewujudkan lingkungan kerja yang aman
• Membuat Metode yang sistematis untuk mengetahui potensi kecelakaan
• Menjamin keamanan kerja kepada karyawan
• Menyiapkan rencana pengawasan keselamatan
• Memberikan petunjuk pada pekerjaan yang tidak tetap
• Meninjau prosedur kerja yang ada setelah kecelakaan terjadi
• Mempelajari kemungkinan perbaikan metode kerja.
Tanggung Jawab
Project Manager Superintendent
Mengembangkan program JSA Memastikan pelaksanaan
program JSA ditempat kerja
Supervisor Pekerja
MENYUSUN dan mematuhi JSA Berkontribusi dalam pembuatan JSA
Menggunakan JSA yang telah
disusun
Site Safety Department
Mengadakan audit acak & memelihara standar yang
diterapkan disemua departemen
Harus menjadi seorang penasehat yang AHLI
menyusun JSA
Kapan Harus Membuat JSA?
Pekerjaan yang memiliki Frekuensi Insiden yang tinggi dan memiliki
riwayat kecelakaan yang tinggi
Pekerjaan yang memiliki Tingkat Keparahan/Kerusakan yang tinggi
Pekerjaan baru atau pekerjaan pengganti yang dinilai beresiko sedang
sampai sangat tinggi
Pekerjaan yang diidentifikasi sebagai jenis pekerjaan yang perlu JSA (hasil
Risk Assessment)
Pekerjaan rutin atau non rutin dengan potensi risiko sangat tinggi
(konsekuensi dan kemungkinannya)
Pekerjaan non rutin yang belum pernah dilakukan dan memiliki potensi
risiko kecelakaan yang tinggi
Inventaris dan
Identifikasi Tugas
Kritis
Langkah pertama dalam JSA adalah menyusun atau melakukan inventarisasi
tugas yang kritis yaitu membuat suatu daftar yang sistematis dari semua jabatan.
Langkah kedua adalah membagi setiap jabatan ke
dalam tugas sehingga setiap tugas dapat diteliti
dengan seksama untuk menentukan tugas mana yang
Inventaris dan
Identifikasi Tugas
Kritis
Dalam menentukan apakah suatu tugas kritis atau tidak ada 4
(empat) faktor yang harus dipertimbangkan, yaitu :
1. Faktor Keparahan
2. Faktor Kekerapan
3. Faktor Peluang
4. Faktor Tugas Baru
Inventaris dan
Identifikasi Tugas
Kritis
1. Faktor Keparahan
Keparahan diambil dari biaya kerugian ataupun
tingkat cidera yang diterima oleh perusahaan yang
timbul akibat melakukan kesalahan dalam
menjalankan tugas.
Didalam perusahaan kita, derajat keparahan dapat
dilihat dari matriks konsekuensi
Inventaris dan
Identifikasi Tugas
Kritis
2. Faktor Kekerapan
Kekerapan atau kerugian ditentukan oleh bagaimana
seringnya pekerjaan itu dilakukan dan jumlah pekerja
yang melakukan pekerjaan tersebut.
Inventaris dan
Identifikasi Tugas
3. Faktor Peluang
Kritis
Peluang terjadinya kerugian setiap waktu pada suatu bagian kerja
dilakukan, dipengaruhi oleh factor dibawah ini :
a. Bagaimana bahaya dan risiko yang terkandung dalam tugas tersebut
b. Kesulitan yaitu bagaimana tugas tersebut cenderung untuk
mempengaruhi kualitas, produksi dan masalah lain
c. Kerumitan dari tugas
d. Kemungkinan kerugian apabila tugas tersebut tidak dilakukan dengan
cara yang benar
Inventaris dan
Identifikasi Tugas
Kritis
4. Faktor Tugas Baru
Apapun jenisnya, suatu tugas yang baru harus dianggap sebagai
tugas yang kritis dan akan menjadi target dari analisa dengan
atau tanpa sejarah dari kerugian apapun, oleh karena itu tugas
yang baru harus diperlakukan sebagai tugas yang kritis sampai
dia terjamin aman dengan suatu cara tertentu.
Mengurai Tugas
menjadi langkah atau
aktifitas
Setiap tugas dapat diurai menjadi urutan langkah – langkah yang
harus dilakukan. Biasanya suatu perintah yang khusus dari langkah
adalah cara yang terbaik untuk melakukan tugas dengan efektif dan
urutan langkah yang secara khusus pada akhirnya akan menjadi
prosedur kerja. Setiap langkah harus diuji untuk menentukan apa saja
kerugian yang mungkin timbul yang mencakup aspek keselamatan
Mengurai Tugas
menjadi langkah atau
aktifitas
Pengawas dapat mendefinisikan “langkah tugas” sebagai suatu segmen
dari keseluruhan tugas dimana sesuatu bisa terjadi untuk kelanjutan
keterlibatan pekerjaan. Pengawas tidak harus mendetailkan tugas yang
sekecil – kecilnya
Seleksi langkah yang tepat dalam melakukan suatu analisa akan sangat
menentukan hasil akhir. Ketika pertama kali suatu tugas diobservasi,
tuliskan setiap apa yang dilakukan pekerja tersebut
Mengurai Tugas
menjadi langkah atau
aktifitas
Setelah seluruh kerugian yang terpapar diidentifikasi, pengawas dapat
kembali dapat melakukan observasi untuk mengkombinasikan dengan
hal – hal lain atau mengeliminasi detail – detail yang tidak perlu
Uraian tugas tidak perlu detail dan juga sulit untuk dibayangkan
bagaimana panjangnya langkah yang akan dibuat dalam JSA
Mengurai Tugas
menjadi langkah atau
aktifitas
Keterbatasan pekerja untuk mengingat hal yang detail juga
menjadikan penguraian yang terlalu detail akan menjadi tidak efektif,
namun dilain pihak membuat uraian tugas yang terlalu umum juga
tidaklah baik
Cara yang paling efisien untuk melakukan penguraian tugas harus
memasukkan semua langkah utama yang kritis untuk melakukan
tugas dengan benar
Mengurai Tugas
menjadi langkah atau
aktifitas
Setiap langkah harus dievaluasi dengan langkah itu sendiri,
kuncinya adalah untuk mencegah kerugian dari cidera,
kualitas dan produksi adalah merupakan pertimbangan
pengawas dalam menyeleksi tugas yang dianggap kritis
Analisa Potensi
Kerugian
Untuk dapat menunjukkan dengan tepat potensi kerugian dari
suatu langkah, maka dengan cara memasukkan 4 (empat)
factor yang berhubungan dengan suatu tugas, yaitu :
1. Manusia
2. Peralatan
3. Material / Bahan
4. Lingkungan
Analisa Potensi
Kerugian
Dalam melakukan analisa potensi kerugian, ada
beberapa pendekatan yang harus dilakukan, yaitu :
1. Observasi dan Diskusi
2. Diskusi Saja
3. Tujuan Manajemen dan Faktor Tugas
Analisa Potensi
Kerugian
Membuat pemeriksaan yang efisien adalah suatu hal
menanyakan dengan pertanyaan yang benar untuk
mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Pertanyaan siapa, dimana, kapan, apa, mengapa dan
bagaimana dapat menjadi permulaan yang baik
Analisa Potensi
Kerugian
Untuk itu dapat diajukan pertanyaan seperti berikut, tentang tiap langkah yang kritis :
• Siapa yang paling pantas untuk melakukannya
• Dimana tempat terbaik untuk melakukan itu
• Kapan itu harus dikerjakan
• Apa tujuan dari langkah ini
• Mengapa langkah ini diperlukan
• Bagaimana cara terbaik melakukannya
Pengendalian,
Prosedur dan Instruksi
Kerja
• Pengendalian adalah tindakan dan pencegahan yang akan
mencegah terjadinya potensi kerugian dan akan memastikan
bahwa pekerjaan dilakukan dengan efisien dan maksimal.
• Pengendalian harus diperintahkan kepada orang yang
melakukan tugas dengan cara memberitahukan mereka apa
yang harus mereka lakukan untuk menghindari atau
mengurangi paparan kerugian
Pengendalian,
Prosedur dan Instruksi
Kerja
Dalam membuat rekomendasi pengendalian harus diupayakan
sedapat mungkin merupakan kalimat penjelasan positif yang
memberitahu apa yang harus dilakukan pekerja untuk
menghindari atau mengurangi keterpaparan terhadap
kerugian dan bagaimana untuk mengerjakan pekerjaan
dengan cara yang paling efisien
Pengendalian,
Prosedur dan Instruksi
Kerja
Prosedur kerja adalah alat untuk belajar dan mengajar, maka harus jelas,
ringkas, benar dan lengkap. Selain itu harus :
1. Dimulai dengan suatu pernyataan guna dan perlunya tugas ini
2. Menghadirkan langkah demi langkah uraian dari bagaimana prosesnya berlangsung
3. Mengungkapkan langkah yang positif “cara apa yang harus dilakukan” daripada
“daftar yang tidak boleh dikerjakan
4. Dibuat dalam format dan fungsi yang sederhana
Penggunaan JSA
Penggunaan JSA antara lain :
1. Orientasi Pekerja Baru / Penugasan Baru
2. Pelatihan Pengawas Baru
3. Instruksi Kerja yang Benar
4. Observasi Tugas yang Terencana
5. Pertemuan Kelompok
6. Penyelidikan Kecelakaan
7. Pelatihan Keterampilan
Langkah Pembuatan
JSA
1. Memilih Pekerjaan
2. Menguraikan
3. Identifikasi Bahaya / Potensi Risiko
4. Mengendalikan
Langkah-langkah Membuat JSA
STEP 1
Uraikan
Langkah
Pekerjaannya
STEP 3 STEP 2
Tentukan Tentukan
Kontrol bahaya pd tiap
Bahayanya langkah
1. URAIKAN LANGKAH PEKERJAAN
• Suatu pekerjaan harus diuraikan menjadi
beberapa langkah pekerjaan berurutan yang
setiap langkahnya menggambarkan apa yang
dilakukan (uraikan langkah-langkah pokok
pekerjaannya saja).
2. IDENTIFIKASI
BAHAYA
Catat potensi bahaya dari setiap langkah kerja yang dapat menimbulkan kerugian.
PERTIMBANGKAN :
• Bahaya nyata yang dapat berkembang menjadi insiden
• Hal-hal yang bisa salah (Apa, Bagaimana & Mengapa)
• Hal-hal yang sudah diketahui salah ditempat lain (laporan
insiden serupa)
• Prosedur, standar dan peraturan perundangan yang dapat
diterapkan
• Checklist tentang bahaya
• Hal lain yang terkait dengan pekerjaan tersebut: Apakah ada lingkungan kerja berbahaya bagi
keselamatan atau kesehatan? Seperti; gas beracun, asap, kabut, debu, panas, siang atau
malam?
3. TENTUKAN KONTROL BAHAYA
Tentukan tindakan atau langkah-langkah yang diperlukan untuk menghindari
cedera pada setiap langkah kerja (gunakan prinsip hirarki pengendalian bahaya).
Menghilangkan
Penggantian
Kontrol Engineering
Kontrol Administratif
APD
Form JSA Green Field
Tahapan Tindakan
Resiko
Pekerjaan Pencegahan
Bahaya Akibat
Form JSA Brown Field
Akibat
Resiko
Tahapan Tindakan
Pekerjaan Pencegahan
Bahaya
Form JSA Brown Field
Form JSA Brown Field
KOMUNIKASI dan REVIEW
JSA
JSA yang telah dibuat, harus dikomunikasikan untuk memastikan orang
yang terlibat sudah mengetahui, memahami dan melaksanakan JSA
tersebut.
JSA harus di review secara berkala terutama setelah terjadi: perubahan pada
situasi kerja; setelah terjadi insiden; perubahan peraturan perundangan; dan
lain-lain.
Bila suatu pekerjaan yang telah dibuatkan JSA nya, tetapi masih terjadi
Insiden, maka JSA tersebut harus ditinjau kembali kesesuaiannya dan
kebenarannya.
Kesimpulan
1. Pengawas memiliki peranan penting dalam pembuatan JSA
2. Setiap pengawas harus memiliki kemampuan untuk membuat JSA
3. JSA yang dibuat harus memasukkan semua langkah utama yang kritis,
tetapi tidak menguraikan langkah secara detail
4. JSA sebagai prosedur dan instruksi kerja yang mudah dan detail
Form JHA
Buatlah Analisa
Bahaya
dari pekerjaan
perbaikan atap
Shelter tabung Gas.
Perhatikan :
1. Urutan pekerjaan
2. Potensi bahaya
3. Tindakan
pencegahannya
TERIMA KASIH