Natalia Rorrong Pamilangan
• Basic Life Support (BLS)
• Resusitasi Jantung Paru (RJP)
• Semua tindakan segera untuk menghentikan
proses kematian
Kedaruratan Sehari-hari
Tenggelam
Stroke Keracunan
Obstruksi/benda Trauma
asing Infark Miokard
Inhalasi asap Sambaran petrir
Koma
Reaksi anapilaksis
Sengantan listrik
Overdosis obat
FAKTA
75% korban sampai rumah
Korban KRITIS/TRAUMA sakit 1 jam setelah kerjadian
LIFE SUPPORT
Stabilisasi Terapi Definitif
resusitasi
FAKTA
• Bantuan Hidup Dasar
• Benar dan Efektif
Menghasilkan OUTPUT JANTUNG 25%-33%
OUTPUT JANTUNG Normal
FAKTA
Sirkulasi darah terhenti 4-6 menit, menyebabkan
KERUSAKAN OTAK PERMANEN
(<3 s.d < 5 menit)
Penderita harus segera MENDAPATKAN bantuan
hidup dasar
PRINSIP
• Kerja Sistematik
• A : Airway Control
• B: Breathing Support
• C: Circulation
BREATHING
• USAHAKAN 2 NAFAS @400-500 ML YANG
BERHASIL DADA TERANGKAT
• BERI SELA EKSHALASI
• BERI O2 100% LEBIH DINI
CIRCULATION & HEMORHAGE CONTROL
PENANGANAN BANTUAN HIDUP DASAR
(BHD)
• Circulation , Airway , Breathing (CAB)
• Sebelum melakukan CAB, pastikan :
a. Korban dalam posisi terlentang
b. Baringkan korban di tempat yang datar dan
keras
c. Menilai apakah terdapat cedera di bagian
leher atau tidak
• Langkah selanjutnya dengan melakukan pemeriksaan :
• a. CIRCULASI (Denyut nadi)
• Cara melakukan pemeriksaan Denyut Nadi Korban
• 1) Temukan denyut nadi karotis (pegang jakun lalu
geser + 2 jari ke kanan/kiri)
• 2) Tekan dan raba nadi karotis selama 10 detik
• 3) Perhatikan tanda-tanda sirkulasi / denyutan
• 4) Jika denyut nadi korban tidak teraba mulailah
kompresi dada
• Bila keadaan korban tidak sadar dan denyut nadi
di leher tidak teraba, maka segera lakukan :
Resusitasi Jantung / Kompresi dada
• Resusitasi Jantung adalah tindakan untuk
mengembalikan
• fungsi jantung yang terganggu guna
kelangsungan hidup penderita.
• Prinsip resusitasi jantung yaitu tekan keras dan
cepat (push hard, push fast).
Resusitasi Jantung diberikan kepada :
1. Penderita dewasa.
a. Pangkal telapak tangan kiri ditindihkan pangkal telapak tangan
kanan dan letakkan 3 jari diatas ujung tulang dada penderita.
b. Posisi penolong berdiri tegak pada lutut dan serong ke depan,
sehingga kedua lengan berada kira-kira tegak lurus di atas dada
penderita.
c. Ditekan kurang lebih 5 - 6 cm ke arah tulang belakang dengan
kecepatan 100-120 kali per menit.
d. Apabila nadi kemudian teraba, periksa napas. Jika nadi teraba
tetapi terjadi henti napas dilakukan pernapasan dari mulut ke
mulut sampai terjadi napas spontan.
e. Apabila nadi tidak teraba dan napas spontan tidak terjadi, lakukan
teknik kombinasi Resusitasi Jantung dan Paru.
2. Penderita anak-anak.
a. Teknik sama, hanya penekanan kurang lebih kedalaman 2
- 3 cm dengan kecepatan 100-120 kali per menit.
b. Untuk bayi, penekanan kurang lebih 1 - 2 cm dengan
menggunakan 2 jari.
3. Perbandingan Resusitasi Jantung dan pemberian napas Dari
Mulut ke mulut.
c. Pada dewasa, anak maupun bayi perbandingannya adalah
30 kali kompresi dan 2 kali nafas, dilakukan terus menerus
sampai 5 siklus selama 2 menit
4. Memeriksa nadi dan napas.
a. Pada RJP pemeriksaan dilakukan setiap 5
siklus atau 2 menit
• b. AIRWAY (Jalan Nafas)
• Cara memeriksa jalan nafas yaitu :
• 1) Pada korban yang sadar dan dapat berbicara kalimat
• panjang, dapat dinilai bahwa jalan nafas baik.
• 2) Bila korban sadar, namun terlihat memegang bagian leher
• dan wajah gtampak kebiruan, diduga adanya sumbatan
• di pangkal tenggorokan. Lakukan penekanan pada ulu
• hati dari punggung korban (Hemlich manuver) untuk
• melepaskan sumbatan.
• 3) Bila korban tidak sadar, lakukan pemeriksaan pernafasan
• dengan mendekatkan pipi ke arah mulut korban, lakukan
• secara bersamaan, melihat gerakan dinding dada ,
• mendengarkan suara nafas, dan merasakan hembusan
• nafas (look, listen and feel)
• 4) Bila tidak ada pernafasan dorong dagu korban ke bawah
• dan lihat adanya sumbatan di saluran pernafasan seperti
• muntahan, makanan, darah, dan lidah yang jatuh ke
• belakang. Bersihkan saluran nafas dari sumbatan.
• 5) Untuk mempertahankan saluran nafas tetap terbuka,
• dorong rahang bawah / dagu ke arah bawah (chin lift)
• atau dorong kening ke arah belakang (head tilt), namun
• tidak disarankan untuk dilakukan pada korban cedera
• leher.
c. BREATHING (Pernafasan)
Apabila korban tidak sadar atau nafas tidak ada, maka segera kita lakukan
pernafasan buatan dari mulut ke mulut. Caranya :
1) Buka jalan nafas.
2) Bersihkan semua kotoran yang dapat menyumbat jalan nafas.
3) Tutup rapat lubang hidung penderita dengan jari telunjuk dan ibu jari
tangan kiri.
4) Alasi mulut penderita dengan kain bersih, ambil nafas dan tempelkan
serta ketatkan bibir penolong di sekeliling mulut penderita.
5) Tiupkan udara kuat-kuat ke dalam paru-paru dan perhatikan dada
penderita.
6) Lepaskan bibir penolong dan penutupan pada hidung supaya terjadi
pengeluaran udara secara pasif dari paruparu.
7) Lakukan 10 kali per menit atau 1 kali setiap 6 detik.
8) Lakukan Look, Listen, and Feel. Apabila tidak tampak pernafasan maka
pernafasan buatan dilanjutkan secara teratur.
9) Dihentikan apabila penderita dapat bernafas kembali dengan spontan.
Setelah selesai melakukan RJP 5 siklus, periksa
kembali adanya denyut nadi dan pernafasan
korban
Beberapa alasan penghentian Resusitasi Jantung Paru :
a. Sudah dilaksanakan selama 30 menit, dan
penolong kelelahan sehingga tidak dapat
melanjutkan resusitasi
b. Timbul kembali sirkulasi dan ventilasi spontan dan
efektif
c. Bantuan telah datang dan upaya resusitasi telah di
ambil alih oleh orang lain yang bertanggung jawab
Sudah terjadi lebam mayat/ tanda kematian
TERIMA KASIH