Panduan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Panduan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
KERJA (K3)
1
MATERI KULIAH
1. Pengantar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
2. Kecelakaan Akibat Kerja
3. Penyakit Akibat Kerja
4.
Analisis Risiko dan Pengendaliannya
5.
Pengendalian Kebakaran
Konsep Ergonomi Kerja
6.
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)
7.
8. Sistem Manajemen K3(SMK3)
9. Ujian Tengah Semester
10. Sanitasi Lingkungan
11. Personal Hygiene
12. Water Treatment
13. Good Manufacturing Practices (GMP)
14. Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP)
15. Hazard Analysis Critical Control Points (HACCP)
16. Observasi di Tempat Pengolahan Makanan
2
A. PENDAHULUAN
Setiap pekerjaan/aktifitas selalu ada risiko kegagalan
Salah satu risiko pekerjaan adalah kecelakaan kerja (work
accident), yang berakibat kerugian (loss).
Untuk itu perlu K3 yang harus terpadu semua orang yang
ada dalam lingkungan perusahaan/pekerjaan.
PT Jamsostek mencatat selama 2013 terjadi sebanyak
103.285 kasus kecelakaan.
Degradasi keselamatan terjadi akibat transisi dari masy
agraris (low risk society) menuju masy industri (high risk
society).
Kecelakaan berdampak pada daya saing tingkat global.
Sebagian masyarakat merasa tidak memerlukan K3,
bahkan dianggap sebagai barang mewah. 3
B. FILOSOFI K3
Filosofi dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
adalah melindungi keselamatan dan kesehatan para
pekerja dalam menjalankan pekerjaannya, melalui upaya-
upaya pengendalian semua bentuk potensi bahaya yang
ada di lingkungan tempat kerjanya.
Bila semua potensi bahaya telah dikendalikan dan
memenuhi batas standar aman, maka akan memberikan
kontribusi terciptanya kondisi lingkungan kerja yang
aman, sehat, dan proses produksi menjadi lancar, yang
pada akhirnya akan dapat menekan risiko kerugian dan
berdampak terhadap peningkatan produktivitas.
4
B. FILOSOFI K3
Menurut International Association of Safety Professional,
Filosofi K3 terbagi menjadi 8 filosofi yaitu:
1. Safety is an ethical responsibility.
2. Safety is a culture, not a program.
3. Management is responsible.
4. Employee must be trained to work safety.
5. Safety is a condition of employment.
6. All injuries are preventable.
7. Safety program must be site specific (tempat khusus).
8. Safety is good business.
5
C. SEJARAH K3
1. Era revolusi industri (abad XVIII)
Pada era ini hal-hal yang turut mempengaruhi perkembangan K3 adalah penggantian
tenaga hewan dengan mesin-mesin seperti mesin uap yang baru ditemukan sebagai
sumber energi
2. Era industrialisasi
Sejak era revolusi industri di atas sampai dengan pertengahan abad 20, penggunaan
teknologi semakin berkembang sehingga K3 juga mengikuti perkembangan ini.
Perkembangan K3 mengikuti penggunaan teknologi (APD, safety device, interlock,
dan alat-alat pengaman)
3. Era Manajemen
Keterpaduan semua unit-unit kerja seperti safety, health dan masalah lingkungan
dalam suatu sistem manajemen juga menuntut adanya kualitas yang terjamin baik
dari aspek input proses dan output. Hal ini ditunjukkan dengan munculnya standar-
standar internasional seperti ISO 9000, ISO 14000 dan ISO 18000.
[Link] Mendatang
Perkembangan K3 pada masa yang akan datang tidak hanya difokuskan
pada permasalahan K3 yang ada sebatas di lingkungan industri dan
6
pekerja. Perkembangan K3 mulai menyentuh aspek-aspek yang sifatnya
publik atau untuk masyarakat luas.
D.1. KONSEP K3
1. Konsep lama
a. Kecelakaan merupakan nasib sial dan merupakan risiko yang harus
diterima.
b. Tidak perlu berusaha mencegah
c. Masih banyak pengganti pekerja
d. Membutuhkan biaya yang cukup tinggi
e. Menjadi faktor penghambat produksi
2. Konsep masa kini
a. Memandang kecelakaan bukan sebuah nasib.
yang sehat.
E. PERATURAN TENTANG K3
1. Undang-Undang yang terkait K3
2. Peraturan Pemerintah yang terkait K3
3. Peraturan Menteri yang terkait K3
4. Keputusan Menteri yang terkait K3
5. Instruksi Menteri yang terkait K3
6. Surat Edaran dan Keputusan Dirjen Pembinaan
Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan
terkait K3
9
F. TUJUAN PENERAPAN K3
Tujuan utama dalam Penerapan K3 berdasarkan Undang-
Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja yaitu
antara lain :
[Link] menjamin keselamatan setiap tenaga
kerja dan orang lain di tempat kerja.
[Link]
setiap sumber produksi dapat digunakan secara
aman dan efisien.
3. Meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas nasional.
10
02.
KECELAKAAN AKIBAT KERJA
1
KECELAKAAN AKIBAT KERJA (KAK)
Definisi:
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 03/Men/98
adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak
diduga semula yang dapat menimbulkan korban manusia dan
atau harta benda.
Menurut Pemerintah c/q Departemen Tenaga Kerja RI, arti
kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tiba-tiba atau
yang tidak disangka-sangka dan tidak terjadi dengan
sendirinya akan tetapi ada penyebabnya.
Heinrich et al., 1980:
Kejadian yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan
atau yang berpontensi menyebabkan merusak lingkungan.
Selain itu, kecelakaan kerja atau kecelakaan akibat kerja
adalah suatu kejadian yang tidak terencana dan tidak
terkendali akibat dari suatu tindakan atau reaksi suatu
2
objek, bahan, orang, atau radiasi yang mengakibatkan cidera
atau kemungkinan akibat lainnya.
1. KLASIFIKASI KECELAKAAN KERJA
Ada banyak standar yang menjelaskan referensi tentang kode-kode
kecelakaan kerja, salah satunya adalah standar Australia AS 1885-
1 tahun 1990, sebagai berikut:
Jatuh dari atas ketinggian
Jatuh dari ketinggian yang sama
Menabrak objek dengan bagian tubuh
Terpajan oleh getaran mekanik
Tertabrak oleh objek yang bergerak
Terpajan oleh suara keras tiba-tiba
Terpajan suara yang lama
Terpajan tekanan yang bervariasi (lebih dari suara)
7
4. KLASIFIKASI CIDERA AKIBAT [Link].
Banyak standar referensi penerapan yang digunakan berbagai oleh
perusahaan, salah satunya adalah standar Australia AS 1885-1 (1990) .
Berikut adalah pengelompokan jenis cidera dan keparahannya:
a. Fatality
b. Loss Time Injury
c. Loss Time Day
d. Restricted duty
e. Medical Treatment Injury
f. First aid injury
g. Non Injury Incident
8
5. DEFINISI RATE
a. Incident rate.
Adalah jumlah kejadian/kecelakaan cidera atau sakit akibat kerja setiap
seratus orang karyawan yang dipekerjakan.
b. Frekwensi rate.
Adalah jumlah kejadian cidera atau sakit akibat kerja setiap satu juta jam
kerja.
c. Loss Time Injury Frekwensi Rate.
Jumlah cidera atau sakit akibat kecelakaan kerja dibagi satu juta jam kerja.
d. Severity Rate.
Waktu (hari) yang hilang dan waktu pada (hari) pekerjaan alternatif yang
hilang dibagi satu juta jam kerja.
e. Total Recordable Injury Frekwensi Rate.
Jumlah total cidera akibat kerja yang harus dicatat (MTI, LTI & Cidera 9
yang tidak mampu bekerja) dibagi satu juta jam kerja.
6. FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA K.K.
a. Faktor manusia yang dipengaruhi oleh pengetahuan, ketrampilan, dan
sikap.
b. Faktor material yang memiliki sifat dapat memunculkan kesehatan atau
keselamatan pekerja.
c. Faktor sumber bahaya yaitu:
Perbuatan berbahaya, hal ini terjadi misalnya karena metode kerja yang
salah, keletihan/kecapekan, sikap kerja yang tidak sesuai dan
sebagainya;
Kondisi/keadaan bahaya, yaitu keadaan yang tidak aman dari
keberadaan mesin atau peralatan, lingkungan, proses, sifat pekerjaan
d. Faktor yang dihadapi, misalnya kurangnya pemeliharaan/ perawatan
mesin/peralatan sehingga tidak bisa bekerja dengan sempurna
10
6. FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA K.K.
Selain itu, faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja menurut Bennet dan
Rumondang (1985) pada umumnya selalu diartikan sebagai “kejadian yang
tidak dapat diduga“. Sebenarnya, setiap kecelakaan kerja itu dapat
diramalkan atau diduga dari semula jika perbuatan dan kondisi tidak
memenuhi persyaratan. Oleh karena itu kewajiban berbuat secara selamat
dan mengatur peralatan serta perlengkapan produksi sesuai dengan standar
yang diwajibkan. Kecelakaan kerja yang disebabkan oleh perbuatan yang
tidak selamat memiliki porsi 80 % dan kondisi yang tidak selamat sebayak
20%. Perbuatan berbahaya biasanya disebabkan oleh:
a. Sikap dalam pengetahuan, ketrampilan dan sikap
b. Keletihan
c. Gangguan psikologis
11
7. TEORI PENYEBAB KEC. KERJA
[Link]
Domino:
Konsep dasar model tersebut adalah:
Kecelakaan adalah sebagai suatu hasil dari serangkaian kejadian yang berurutan.
Kecelakaan tidak terjadi dengan sendirinya.
Penyebabnya adalah faktor manusia dan faktor fisik.
Kecelakaan tergantung kepada lingkungan fisik dan sosial kerja. 12
Kecelakaan terjadi karena kesalahan manusia.
7. TEORI PENYEBAB KEC. KERJA
[Link]
Swiss Cheese:
Kecelakaan terjadi ketika terjadi kegagalan interaksi pada
setiap komponen yang terlibat dalam suatu sistem produksi.
Kegagalan suatu proses dapat dilukiskan sebagai “lubang”
dalam setiap lapisan sistem yang berbeda. Dengan demikian
menjelaskan apa dari tahapan suatu proses produksi tersebut
yang gagal. 14
7. TEORI PENYEBAB KEC. KERJA
Sebab-sebab suatu kecelakaan, dibagi menjadi:
a. Direct Cause.
Direct Cause sangat dekat hubungannya dengan kejadian
kecelakaan yang menimbulkan kerugian atau cidera pada saat
kecelakaan tersebut terjadi. Kebanyakan proses investigasi lebih
konsentrasi kepada penyebab langsung terjadinya suatu kecelakaan
dan bagaimana mencegah penyebab langsung tersebut.
b. Latent Cause.
Tetapi ada hal lain yang lebih penting yang perlu di identifikasi
yakni “Latent Cause”. Latent cause adalah suatu kondisi yang
sudah terlihat jelas sebelumnya dimana suatu kondisi menunggu
terjadinya suatu kecelakaan.
15
8. KATEGORI KECELAKAAN KERJA
[Link] industri (industrial accident)
yaitu kecelakaan yang terjadi di tempat kerja karena adanya
sumber bahaya atau bahaya kerja.
16
9. ANALISIS KECELAKAAN KERJA
Analisis kecelakaan kerja berguna untuk mengetahui:
1. penyebab kecelakaan kerja
2. akibat kecelakaan kerja
3. langkah‐langkah pencegahannya.
18
10. CONTOH HITUNGAN
PT. Kaniogandalam semester I tahun 1983 dengan jumlah jam kerja
260.000 jam, telah terjadi kecelakaan kerja yang mengakibatkan:
a) 1 orang kehilangan sebelah mata
b) 1 orang kehilangan sebelah ibu jari
c) 1 orang kehilangan kelingking
d) 12 orang sementara tidak mampu masuk kerja selama 150 hari
Analisis:
a) 1 orang kehilangan sebelah mata = 1.800 hari
b) 1 orang kehilangan sebelah ibu jari = 600 hari
c) 1 orang kehilangan kelingking =200 hari
d) 12 orang sementara tidak mampu
masuk kerjaselama 150 hari = 150 hari 19
Jumlah = 2.750 hari
10. CONTOH HITUNGAN
Perhitungan:
CATATAN ”ILO” :
1. Setiap kematian = 6.000 hari
2. Lumpuh sama sekali = 6.000 hari
3. Lumpuh sebagian, tangan hilang sebagian:
3.1. dari sambungan kuku sampai siku = 4.500 hari
3.2. dari siku sampai pergelangan = 3.600 hari
4. Tangan
4.1. dari pergelangan sampai sambungan jari
= 3.000 hari
5. Jempol (ibu jari)
5.1. dari permulaan sambungan sampai
sambungan tengah = 600 hari
5.2. sesudah sambungan tengah = 300 hari
21
6. Jari-jari tangan (kecuali ibu jari)
6.1. dari permulaan sambungan sampai sambungan tengah = 3.000 hari
6.2. bagian sebelum sambungan tengah = 150 hari
6.3. bagian jari sampai sambungan akhir kecuali tulang rusuk = 75 hari
6.4. ibu jari tangan = 600 hari
6.5. telunjuk = 400 hari
6.6. jari tengah = 300 hari
6.7. jari manis = 240 hari
6.8. kelingking = 200 hari
7. Paha
7.1. semua bagian tubuh di atas lutut = 4.500 hari
7.2. semua bagian di atas mata kaki sampai lutut = 3.000 hari
8. Kaki
8.1. mata kaki dan sebelum sambungan jari-jari kaki = 2.400 hari
8.2. jempol kaki sebelum sambungan termasuk
sambungan jari-jari kaki = 300 hari
8.3. jempol kaki pada atau sebelum sambungan tengah = 150 hari
8.4. dua jempol kaki = 600 hari
9. Kehilangan fungsi dari:
9.1. satu mata/buta = 1.800 hari
22
9.2. satu telinga/tuli = 600 hari
9.3. kedua telinga/tuli = 3.000 hari
3.
PENYAKIT AKIBAT KERJA (PAK)
1
1. PENGERTIAN PAK
Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh
pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja.
Dengan demikian, penyakit akibat kerja merupakan penyakit yang
artifisual atau man made disease. Sejalan dengan hal tersebut
terdapat pendapat lain yang menyatakan bahwa Penyakit Akibat
Kerja (PAK) ialah gangguan kesehatan baik jasmani maupun rohani
yang ditimbulkan ataupun diperparah karena aktivitas kerja atau
kondisi yang berhubungan dengan pekerjaan.( Hebbie Ilma Adzim,
2013)
2
2. PENYEBAB PAK
Tedapat beberapa penyebab PAK yang umum terjadi di tempat kerja,
berikut beberapa jenis yang digolongkan berdasarkan penyebab dari
penyakit yang ada di tempat kerja.
a. Golongan fisik:
bising, radiasi, suhu ekstrim, tekanan udara, vibrasi, penerangan
b. Golongan kimiawi:
semua bahan kimia dalam bentuk debu, uap, gas, larutan, kabut
c. Golongan biologik: bakteri, virus, jamur, dll
d. Golongan fisiologik/ergonomik: desain tempat kerja, beban kerja.
e. Golongan psikososial:
stres psikis, monotomi kerja, tuntutan pekerjan
3
2. PENYEBAB PAK
Efek pencahayaan pada mata, kekuatan pencahayaan beraneka ragam,
yaitu berkisar 2.000-100.000 lux di tempat terbuka sepanjang hari dan
pada malam hari dengan pencahayaan buatan 50-500 lux.
Kelelahan pada mata ditandai oleh:
a. Iritasi pada mata / conjunctiva
b. Penglihatan ganda
c. Sakit kepala
d. Daya akomodasi dan konvergensi turun
e. Ketajaman penglihatan
Upaya perbaikan penggunaan pencahayaan di tempat kerja. Grandjean
(1980) menyarankan sistem desain pencahayaan di tempat kerja sebagai
berikut:
a. Hindari sumber pencahayaan lokal langsung dalam penglihatan pekerja
b. Hindari penggunaan cat mengkilap terhadap mesin-mesin, meja, kursi, dan
tempat kerja
c. Hindari pemasangan lampu FL/TL yang tegak lurus dalam garis 4
penglihatan
3. MACAM-MACAM PAK
Pencemaran udara oleh partikel dapat disebabkan karena peristiwa
alamiah maupun ulah manusia, yaitu lewat kegiatan industri dan
teknologi. Partikel yang mencemari udara banyak macam dan
jenisnya, tergantung pada macam dan jenis kegiatan industri dan
teknologi yang ada. Partikel-partikel udara sangat merugikan
kesehatan manusia. Pada umumnya udara yang tercemar oleh
partikel dapat menimbulkan berbagai macam penyakit saluran
pernapasan atau pneumoconiosis.
Pneumoconiosis adalah penyakit saluran pernapasan yang
disebabkan oleh adanya partikel (debu) yang masuk atau mengendap
didalam paru-paru. Penyakit pneumoconiosis banyak jenisnya,
tergantung dari jenis partikel (debu) yang masuk atau terhisap
kedalam paru-paru. Beberapa jenis penyakit pneumoconiosis yang
banyak dijumpai di daerah yang memiliki banyak kegiatan industri
dan teknologi, yaitu silikosis, asbestosis, bisinosisi, antrakosis, dan 5
beriliosis.
3. MACAM-MACAM PAK
a. Penyakit Silikosis
b. Penyakit Asbestosis
c. Penyakit Bisnosis
d. Penyakit Antrakosis
e. Penyakit Beriliosis
f. Penyakit Saluran Pernafasan
g. Penyakit Kulit
h. Kerusakan Pendengaran
i. Gejala pada Punggung dan Sendi
j. Kanker
k. Coronary Artery
l. Penyakit Liver
m. Masalah Neuropsikiatrik
6
n. Penyakit yang Tidak Diketahui Sebabnya
3. A. PENYAKIT SIKLOSIS
Penyakit Silikosis
Penyakit silikosis disebabkan oleh pencemaran debu silika bebas,
berupa SiO2, yang terhisap masuk ke dalam paru-paru dan kemudian
mengendap. Debu silika bebas ini banyak terdapat di pabrik besi dan
baja, keramik, pengecoran beton, bengkel yang mengerjakan besi
(mengikir, menggerinda) dll. Selain dari itu, debu silika juga
banyak terdapat di tempat penampang besi, timah putih dan tambang
batu bara. Pemakaian batu bara sebagai bahan bakar juga banyak
menghasilkam debu silika bebas SiO2 . Pada saat dibakar, debu silika
akan keluar dan terdispersi ke udara bersama-sama dengan partikel
yang lainya, seperti debu alumunia, oksida besi dan karbon dalam
bentuk debu. Tempat kerja yang potensial untuk tercemari oleh debu
silika perlu mendapatkan pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja
dan lingkungan yamg ketat sebab penyakit silikosis belum ada obatnya 7
yang tepat.
3. B. PENYAKIT ASBESTOSIS
Penyakit Asbestosis
Penyakit asbestosis adalah penyakit akibat kerja yang disebabkan
oleh debu atau serat asbes yang mencemari udara. Asbes adalah
campuran dari berbagai macam silikat, namun yang paling utama
adalah magnesium silikat. Debu asbes banyak dijumpai pada pabrik
dan industri yang menggunakan asbes, pabrik pemintalan serat asbes,
pabrik beratap asbes dan lain sebagainya. Debu asbes yang terhirup ke
dalam paru-paru akan mengakibatkan gejala sesak nafas dan batuk-
batuk yang disertai dahak. Ujung-ujung jari penderitanya akan tampak
besar/melebar. Apabila dilakukan pemeriksaan pada dahak maka akan
tampak debu asbes dalam dahak tersebut. Pemakaian asbes untuk
berbagai macam keperluan kiranya perlu diikuti dengan kesadaran akan
keselamatan dan kesehatan lingkungan agar jangan mengakibatkan
asbestosis ini. 8
3. C. PENYAKIT BISNOSIS
Penyakit Bisnosis
Penyakit bisnosis adalah penyakit yang disebabkan oleh
pencemaran debu kapas atau serat kapas di udara yang kemudian
terhisap kedalam paru-paru. Pencemaran ini dapat dijumpai pada
pabrik pemintalan kapas, pabrik tekstil, perusahaan, atau pergudangan
kapas. Masa inkubasi penyakit bisnosis cukup lama, yaitu sekitar 5
tahun. Tanda-tanda awal penyakit bisnosis ini berupa sesak nafas,
terasa berat pada dada, terutama peda hari senin (yaitu hari awal kerja
pada setiap minggu). Pada bisnosis yang sudah lanjut atau berat,
penyakit tersebut biasanya juga diikuti dengan penyakit bronchitis
kronis dan mungkin juga disertai dengan emphysema.
9
3. D. PENYAKIT ANTRAKOSIS
Penyakit Antrakosis
Penyakit antrakosis adalah penyakit saluran pernapasan yang
disebabkan oleh debu batu bara. Penyakit ini biasanya dijumpai pada
pekerja-pekerja tambang batubara atau pada pekerja-pekerja yang
banyak melibatkan penggunaan batubara, seperti pengumpa batubara
pada tanur besi, lokomotif (stoker), dan juga pada kapal laut bertenaga
batubara, serta pekerja boiler pada pusat Listrik Tenaga Uap berbahan
bakar batubara. Penyakit antrakosis ada tiga macam, yaitu: penyakit
antrakosis murni, penyakit silikoantrakosis, dan penyakit
tuberkolosilkoantrakosis.
10
3. E. PENYAKIT BERILIOSIS
Penyakit Beriliosis
Udara yang tercemar oleh debu logam berilium, baik yang berupa
logam murni, oksida, sulfat, maupun dalam bentuk halogenida, dapat
menyebabkan penyakit saliran pernafasan yang disebut beriliosis. Debu
logam tersebut dapat menyebabkan nasoparingtis, bronchitis, dan
pneumonitis yang ditandai dengan gejala sedikit demam, batuk kering,
dan sesak nafas. Penyakit beriliosis dapat timbul pada pekerja-pekerja
industri yang menggunakan logam campuran berilium, tembaga,
pekerja pada pabrik fluoresen, pabrik pembuatan tabung radio, dan
juga pada pekerja pengolahan bahan penunjang industri nuklir.
11
3. F. PENYAKIT SALURAN PERNAFASAN
3. G. PENYAKIT KULIT
Penyakit Saluran Pernafasan
PAK pada saluran pernafasan dapat bersifat akut maupun kronis.
Akut misalnya asma akibat kerja. Sering didiagnosis sebagai
tracheobronchitis akut atau karena virus kronis, misal: asbestosis.
Seperti gejala Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) atau
edema paru akut. Penyakit ini disebabkan oleh bahan kimia seperti
nitrogen oksida.
Penyakit Kulit
Pada umumnya tidak spesifik, menyusahkan, tidak mengancam
kehidupan, dan kadang sembuh sendiri. Dermatitis kontak yang
dilaporkan, 90% merupakan penyakit kulit yang berhubungan dengan
pekerjaan. Penting riwayat pekerjaan dalam mengidentifikasi iritan
12
yang merupakan penyebab, membuat peka, atau karena faktor lain.
3. H. KERUSAKAN PENDENGARAN
3. I. GEJALA PADA PUNGGUNG DAN SENDI
Kerusakan Pendengaran
Banyak kasus gangguan pendengaran menunjukan akibat pajanan
kebisingan yang lama, ada beberapa kasus bukan karena pekerjaan.
Riwayat pekerjaan secara detail sebaiknya didapatkan dari setiap orang
dengan gangguan pendengaran. Dibuat rekomendasi tentang
pencegahan terjadinya hilang pendengaran.
Coronary Artery
Penyakit ini disebabkan oleh karena stres atau Carbon Monoksida
dan bahan kimia lain di tempat kerja.
Penyekit Liver
Sering didiagnosis sebagai penyakit liver oleh karena hepatitis
virus atau sirosis karena alkohol. Penting riwayat tentang pekerjaan, 14
serta bahan toksik yang ada.
3.M. MASALAH NEUROPSIKIATRIK
3.N. PENYAKIT YANG TIDAK DIKET SEBABNYA
Masalah Neuropsikiatrik
Masalah neuropsikiatrik yang berhubungan dengan tempat kerja
sering diabaikan. Neuropatiperifer, sering dikaitkan dengan diabet,
pemakaian alkohol, atau tidak diketahui penyebabnya. Depresi oleh karena
penyalahgunaan zat-zat atau masalah psikiatri. Kelakuan yang tidak baik
mungkin merupakan gejala awal dari stres yang berhubungan dengan
pekerjaan. Lebih dari 100 bahan kimia (a.I solven) dapat menyebabkan
depresi. Beberapa neurotoksin (termasuk arsen, timah, merkuri, methyl,
butyl ketone) dapat menyebabkan neuropati perifer. Selain itu, Carbon
disulfide dapat menyebabkan gejala seperti psikosis.
16
4.A. FAKTOR FISIK
Penyebab:
1) Suara tinggi atau bising dapat menyebabkan ketulian
2) Temperature atau suhu tinggi dapat menyebabkan Hyperpireksi,
Miliaria, Heat Cramp, Heat Exhaustion, dan Heat Stroke
3) Radiasi sinar elektromagnetik infra merah dapat menyebabkan
katarak
4) Ultraviolet dapat menyebabkan konjungtivitis
5) Radio aktif: alfa/beta/gama/X dapat menyebabkan gangguan
terhadap sel tubuh manusia
6) Tekanan udara tinggi menyebabkan Coison Disease
7) Getaran menyebabkan Reynaud’sDesiase, ganguan metabolisme,
Polineurutis
17
4.A. FAKTOR FISIK
Pencegahannya:
1) Pengendalian cahaya di ruang laboratorium.
2) Pengaturan ventilasi dan penyediaan air minum yang cukup
memadai.
3) Menurunkan getaran dengan bantalan anti vibrasi
4) Pengaturan jadwal kerja yang sesuai.
5) Pelindung mata untuk sinar laser
6) Filter untuk mikroskop
18
4.B. FAKTOR KIMIA
Penyebab:
Asal: bahan baku, bahan tambahan, hasil sementara, hasil samping(produk),
sisa produksi atau bahan buangan. Bentuk: zat padat, cair, gas, uap maupun partikel
Cara masuk tubuh dapat melalui saluran pernafasan, saluran pencerrnaan kulit dan
mukosa. Masuknya dapat secara akut dan sevara kronis. Efek terhadap tubuh:
iritasi, alergi, korosif, asphyxia, keracunan sistematik, kanker, kerusakan kelainan
janin.
Terjadi pada petugas/ pekerja yang sering kali kontak dengan bahan kimia dan
obat-obatan seperti antibiotika. Demikian pula dengan solvent yang banyak
digunakan dalam komponen antiseptik, desinfektan dikenal sebagai zat yang paling
karsinogen. Semua bahan cepat atau lambat ini dapat memberi dampak negatif
terhadap kesehatan. Gangguan kesehatan yang paling sering adalah dermatosis
kontak akibat kerja yang pada umumnya disebabkan oleh iritasi (amoniak, dioksan)
dan hanya sedikit saja oleh karena alergi (keton). Bahan toksik (trichloroethane,
tetrachloromethane) jika tertelan, terhirup atau terserap melalui kulit dapat
menyebabkan penyakit akut atau kronik, bahkan kematian. Bahan korosif (asam dan
19
basa) akan mengakibatkan kerusakan jaringan yang irreversible pada daerah yang
terpapar.
4.B. FAKTOR KIMIA
Pencegahannya:
1) Material safety data sheet (MSDS) dari seluruh bahan kimia yang
ada untuk diketahui oleh seluruh petugas laboratorium.
2) Menggunakan karet isap (rubber bulb) atau alat vakum untuk
mencegah tertelannya bahan kimia dan terhirupnya aerosol.
3) Menggunakan alat pelindung diri (pelindung mata, sarung tangan,
celemek, jas laboratorium) dengan benar.
4) Hindari penggunaan lensa kontak, karena dapat melekat antara mata
dan lensa.
5) Menggunakan alat pelindung pernafasan dengan benar.
20
4.C. FAKTOR BIOLOGI
Penyebab:
Vi r a l Desiases: rabies, hepatitis
Fungal Desiases: Anthrax, Leptospirosis, Brucellosis, TBC, Tetanus
Parasitic Desiases: Ancylostomiasis, Schistosomiasis
Lingkungan kerja pada Pelayanan Kesehatan favorable bagi
berkembang biaknya strain kuman yang resisten, terutama kuman-kuman
pyogenic, colli, bacilli dan staphylococci, yang bersumber dari pasien,
benda-benda yang terkontaminasi, dan udara. Virus yang menyebar melalui
kontak dengan darah dan sekreta (misalnya HIV dan Hepatitis B) dapat
menginfeksi pekerja sebagai akibat kecelakaan kecil dipekerjaan, misalnya
karena tergores atau tertusuk jarum yang terkontaminasi virus.
Angka kejadian infeksi nosokomial di unit Pelayanan Kesehatan
cukup tinggi. Secara teoritis kemungkinan kontaminasi pekerja LAK
sangat besar, sebagai contoh dokter di Rumah Sakit mempunyai risiko
terkena infeksi 2 sampai 3 kali lebih besar dari pada dokter yang praktek
pribadi atau swasta, dan bagi petugas Kebersihan menangani limbah yang 21
infeksius senantiasa kontak dengan bahan yang tercemar kuman patogen
maupun debu beracun mempunyai peluang terkena infeksi.
4.C. FAKTOR BIOLOGI
Pencegahannya:
1) Seluruh pekerja harus mendapat pelatihan dasar tentang kebersihan,
epidemilogi, dan desinfeksi.
2) Sebelum bekerja dilakukan pemeriksaan kesehatan pekerja untuk
memastikan dalam keadaan sehat badan, punya cukup kekebalan alami
untuk bekrja dengan bahan infeksius, dan dilakukan imunisasi.
3) Melakukan pekerjaan laboratorium dengan praktek yang benar (Good
Laboratory Practice).
4) Menggunakan desinfektan yang sesuai dan cara penggunaan yang
benar.
5) Sterilisasi dan desinfeksi terhadap tempat, peralatan, sisa bahan
infeksius, dan spesimen secara benar.
6) Pengelolaan limbah infeksius dengan benar.
7) Menggunakan kabinet keamanan biologis yang sesuai.
8) Kebersihan diri dari petugas. 22
4.D. FAKTOR ERGONOMI/FISIOLOGI
Faktor ini sebagai akibat dari cara kerja , posisi kerja, alat kerja, lingkungan
kerja yang salah, dan kontruksi yang salah. Efek terhadap tubuh: kelelahan
fisik, nyeri otot, deformirtas tulang, perubahan bentuk, dislokasi, dan
kecelakaan.
Ergonomi sebagai ilmu, teknologi, dan seni berupaya menyerasikan alat, cara,
proses, dan lingkungan kerja terhadap kemampuan, kebolehan, dan batasan
manusia untuk terwujudnya kondisi dan lingkungan kerja yang sehat, aman,
nyaman, dan tercapai efisiensi yang setinggi-tingginya. Pendekatan ergonomi
bersifat konseptual dan kuratif, secara populer kedua pendekatan tersebut
dikenal sebagai To fit the Job to the Man and to fit the Man to the Job
Sebagian besar pekerja di perkantoran atau Pelayanan Kesehatan pemerintah,
bekerja dalam posisi yang kurang ergonomis, misalnya tenaga operator
peralatan, hal ini disebabkan peralatan yang digunakan pada umumnya barang
impor yang disainnya tidak sesuai dengan ukuran pekerja Indonesia. Posisi
kerja yang salah dan dipaksakan dapat menyebabkan mudah lelah sehingga
kerja menjadi kurang efisien dan dalam jangka panjang dapat menyebakan 23
gangguan fisik dan psikologis (stress) dengan keluhan yang paling sering
adalah nyeri pinggang kerja (low back pain)
4.E. FAKTOR PSIKOLOGI
Faktor ini sebagai akibat organisasi kerja (tipe kepemimpinan,
hubungan kerja komunikasi, keamanan), tipe kerja (monoton, berulang-
ulang, kerja berlebihan, kerja kurang, kerja shift, dan terpencil).
Manifestasinya berupa stress. Beberapa contoh faktor psikososial yang
dapat menyebabkan stress antara lain:
1) Pelayanan kesehatan sering kali bersifat emergency dan
menyangkut hidup mati seseorang. Untuk itu pekerja di
laboratorium kesehatan di tuntut untuk memberikan pelayanan yang
tepat dan cepat disertai dengan kewibawaan dan keramahan-
tamahan
2) Pekerjaan pada unit-unit tertentu yang sangat monoton.
3) Hubungan kerja yang kurang serasi antara pimpinan dan bawahan
atau sesama teman kerja.
4)
Beban mental karena menjadi panutan bagi mitra kerja di sektor
formal ataupun informal. 24
5. DIAGNOSIS PAK
Untuk dapat mendiagnosis Penyakit Akibat Kerja pada individu
perlu dilakukan suatu pendekatan sistematis untuk mendapatkan
informasi yang diperlukan dan menginterpretasinya secara tepat.
Pendekatan tersebut dapat disusun menjadi 7 langkah yang dapat
digunakan sebagai pedoman:
1) Menentukan diagnosis klinis
2) Menentukan pajanan yang dialami oleh tenaga kerja selama ini
3) Menentukan apakah pajanan memang dapat menyebabkan
penyakit tersebut
4)
Menentukan apakah jumlah pajanan yang dialami cukup besar
5)
untuk dapat mengakibatkan penyakit tersebut.
Menentukan apakah ada faktor-faktor lain yang mungkin dapat
6) mempengaruhi.
Mencari adanya kemungkinan lain yang dapat merupakan
penyebab penyakit.
7) Membuat keputusan apakah penyakit tersebut disebabkan oleh 25
pekerjaannya.
6. PENCEGAHAN PAK
Berikut ini beberapa tips dalam mencegah penyakit kerja, diantaranya:
1) Memakai alat pelindung diri secara benar dan teratur
2) Mengenali resiko pekerjaan dan cegah supaya tidak terjadi lebih
lanjut
3) Segara akses tempat kesehatan terdekat apabila terjadi luka yang
berkelanjutan
Selain itu terdapat pula beberapa pencegahan lain yang dapat ditempuh
seperti berikut ini:
1) Pencegahan Pimer – Healt Promotion
2) Pencegahan Skunder – Specifict Protection
3) Pencegahan Tersier
26
6. PENCEGAHAN PAK
a. Pencegahan Pimer – Healt Promotion
Perilaku kesehatan
Faktor bahaya di tempat kerja
Perilaku kerja yang baik
Olahraga
Gizi
b. Pencegahan Skunder – Specifict Protection
Pengendalian melalui perundang-undangan
Pengendalian administratif/organisasi: rotasi/pembatas jam kerja
Pengendalian teknis: subtitusi, isolasi, alat pelindung diri (APD)
Pengendalian jalur kesehatan imunisasi
c. Pencegahan Te r s i e r
Pemeriksaan kesehatan pra-kerja
Pemeriksaan kesehatan berkala
Pemeriksaan lingkungan secara berkala
Surveilans
Pengobatan segera bila ditemukan gangguan pada pekerja 27
Pengendalian segera ditempat kerja
6. PENCEGAHAN PAK
Ada dua faktor yang membuat penyakit mudah dicegah:
a. Bahan penyebab penyakit mudah diidentifikasi, diukur, dan dikontrol.
b. Populasi yang berisiko biasanya mudah didatangi dan dapat diawasi
secara teratur serta dilakukan pengobatan.
2
A. ANALISIS RISIKO
Pengelompokan potensi bahaya berdasar kategori umum:
1. Hazardous Substances – potensi bahaya dari bahan berbahaya
2. Pressure Hazards – potensi bahaya udara bertekanan
3. Thermal Hazards – potensi bahaya udara panas
4. Electrical Hazards – potensi bahaya kelistrikan
5. Mechanical Hazards – potensi bahaya mekanik
6. Gravitational and Acceleration Hazards – potensi bahaya gravitasi
dan akselerasi
7. Radiation Hazards – potensi bahaya radiasi
8. Microbiological Hazards – potensi bahaya mikrobiologi
9. Vibration and Noise Hazards – potensi bhy kebisingan & vibrasi
10. Hazards relating to human Factors – potensi bahaya ergonomi
11. Enviromental Hazards – potensi bahaya lingkungan kerja
12. Potensi bahaya yang berhubungan dengan kualitas produk dan
3
jasa, proses produksi, properti, image publik, dll.
A. ANALISIS RISIKO
Menurut Ramli (2009), bahaya adalah segala sesuatu termasuk situasi
atas tindakan yang berpotensi menimbulkan kecelakaan atau cidera
pada manusia, kerusakan atau gangguan lainnya.
1. Jenis bahaya:
a. Bahaya mekanis
b. Bahaya listrik
c. Bahaya kimiawi
d. Bahaya fisis
e. Bahaya biologis
2. Sumber bahaya:
a. Bahan eksplosif
b. Bahan yang mengoksidasi
c. Bahan yang mudah terbakar
d. Bahan beracun
4
e. Bahan korosif
f. Bahan radioaktif
A. ANALISIS RISIKO
3. Teknik identifikasi bahaya
a. Teknik pasif
b. Teknik semi proaktif
c. Teknik proaktif
4. Identifikasi sumber bahaya, dilakukan dengan mempertimbangkan
a. Kondisi dan kejadian yg dpt menimbulkan potensi bahaya
b. Jenis kecelakaan dan PAK yg mungkin dpt terjadi
5. Kegiatan identifikasi bahaya
a. Konsultasi dengan orang yg berpengalaman
b. Pemeriksaan fisik lingkungan kerja
c. Mencatat cidera dan sakit pada insiden waktu yang lalu
d. Informasi identifikasi bahaya, penelitian, dan nasihat dari para ahli
e. Analisis tugas untuk identifikasi bahaya
f. Sistem formal analisa bahaya, misal Hazard 5
A. ANALISIS RISIKO
6. Kegunaan identifikasi bahaya
a. Untuk mengetahui bahaya-bahaya yang ada.
b. Untuk mengetahui potensi bahaya tersebut, baik akibat maupun frekuensi
terjadinya.
c. Untuk mengetahui lokasi bahaya.
d. Untuk menunjukkan bahwa bahaya-bahaya tersebut telah dapat
memberikan perlindungan.
e. Untuk menunjukkan bahwa bahaya tertentu tidak akan menimbulkan
akibat kecelakaan sehingga tidak diberikan perlindungan.
f. Untuk analisa lebih lanjut
6
A. ANALISIS RISIKO
Contoh teknik mengidentifikasi bahaya:
a. Berjalanlah berkeliling dan perhatikan hal-hal yang dapat menjadi
sumber kecelakaan.
b. Jangan hiraukan hal-hal yang sepele, pusatkan perhatian pada
sesuatu yang dapat menyebabkan insiden serius.
c.
Tanyakan kepada pekerja mengenai pendapat mereka tentang bahaya
d. dari pekerjaan yang dilakukan.
e. Cermati instruksi kerja yang dibuat oleh pabrik.
Pelajari catatan insiden dan catatan kesehatan pekerja di tempat
f.
g.
tersebut.
h. Pelajari
Cermatihasil
semua temuan inspeksi terdahulu.
jenis pekerjaan yang ada di lokasi tersebut.
i. Lakukan pengamatan,
Pertimbangkan terutama
keberadaan pada
orang lainsumber-sumber energi.
yang tidak selalu berada di
j.
lokasi tersebut. orang yang dimungkinkan bisa terluka akibat dari
Perkirakan
kegiatan semua tersebut.
di lokasi
k. Dari setiap bahaya yang teridentifikasi, perhatikan jumlah orang dan
lamanya terkena paparan bahaya tersebut 7
A. ANALISIS RISIKO
Pokok-pokok yang harus dicermati dari catatan insiden:
a. Benda yang menjadi sumber kecelakaan (palu, sling, plat besi,
dump truck,danlain-lain).
b. Jenis kecelakaan yang terjadi (terjepit, jatuh, tabrakan, dll.).
c. Kondisi tidak standar yang menimbulkan insiden (licin, tajam,
sempit, berdebu, dan lain-lain).
d. Tindakan tidak aman yang menimbulkan insiden (tidak pakai
APD, tidak melaksanakan prosedur, dan lain-lain).
e. Bagian tubuh yang cedera (kepala, tubuh, kaki, tangan, dll.).
f. Seksi-seksi mana yang sering ditemukan penyimpangan / deviasi
pada catatan inspeksi terdahulu,
g. Jenis-jenis deviasi / penyimpangan yang ditemukan dari hasil
inspeksi terdahulu,
h. Daerah-daerah kritis mana yang sering terlepas dari pengawasan
8
supervisor.
B. PENGENDALIAN RISIKO
Prinsip analisa keselamatan dan kesehatan kerja adalah mencari
penyebab dari seluruh tingkat lapisan, dari lapisan umum sampai
dengan pokok penyebabnya dicari secara tuntas, hingga dapat
diketahui penyebab utamanya dan melakukan perbaikan.
Bahaya yang sudah diidentifikasi dan dinilai, maka selanjutnya
harus dilakukan perencanaan pengendalian resiko untuk
mengurangi resiko sampai batas maksimal.
Pengendalian resiko dapat mengikuti Pendekatan Hirarki
Pengendalian (Hirarchy of Control). Hirarki pengedalian resiko
adalah suatu urutan-urutan dalam pencegahan dan pengendalian
resiko yang mungkin timbul yang terdiri dari beberapa tingkatan
secara berurutan.
9
B. PENGENDALIAN RISIKO
Hirarki pengendalian resiko terdapat 2 (dua) pendekatan, yaitu:
a. Long Term Gain
Pendekatan ”Long Term Gain” yaitu pengendalian berorientasi jangka
panjang dan bersifat permanen dimulai dari pengendalian substitusi,
eliminasi, rekayasa teknik, isolasi atau pembatasan, administrasi dan
terakhir jatuh pada pilihan penggunaan alat pelindung diri.
b. Short Term Gain
Pendekatan ”Short Term Gain”, yaitu pengendalian berorientasi
jangka pendek dan bersifat temporari atau sementara. Pendekatan
pengendalian ini diimplementasikan selama pengendalian yag bersifat
lebih permanen belum dapat diterapkan. Pilihan pengendalian resiko ini
dimulai dari penggunaan alat pelindung diri menuju ke atas sampai
dengan substitusi (Tarwaka, 2008).
10
B. PENGENDALIAN RISIKO
Rencana pengendalian risiko:
a. Eliminasi (Elimination)
Eliminasi merupakan suatu pengendalian resiko yang bersifat
permanen dan harus dicoba untuk diterapkan sebagai pilihan prioritas
utama. Eliminasi dapat dicapai dengan memindahkan obyek kerja atau
sistem kerja yang berhubungan dengan tempat kerja yang tidak dapat
diterima oleh ketentuan, peraturan atau standar baku K3 atau kadarnya
melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) yang diperkenankan. Cara
pengendalian yang baik dilakukan adalah dengan eliminasi karena
potensi bahaya dapat ditiadakan.
b. Substitusi (Substitution)
Cara pengendalian substitusi adalah dengan menggantikan bahan-
bahan dan peralatan yang lebih berbahaya dengan bahan-bahan dan
peralatan yang kurang berbahaya atau yang lebih aman.
11
B. PENGENDALIAN RISIKO
c. Rekayasa Teknik (Engineering Control)
Pengendalian rekayasa teknik termasuk merubah struktur obyek kerja
untuk mencegah seseorang terpapar potensi bahaya. Cara pengendalian
yang dilakukan adalah dengan pemberian pengaman mesin, penutup ban
berjalan, pembuatan struktur pondasi mesin dengan cor beton,
pemberian alat bantu mekanik, pemberian absorber suara pada dinding
ruang mesin yang menghasilkan kebisingan tinggi, dan lain-lain.
d. Isolasi (Isolation)
Cara pengendalian yang dilakukan dengan memisahkan seseorang
dari obyek kerja, seperti menjalankan mesin-mesin produksi dari tempat
tertutup (control room) menggunakan remote cont rol.
12
B. PENGENDALIAN RISIKO
e. Pengendalian Administrasi (Admistration Control)
Pengendalian yang dilakukan adalah dengan menyediakan suatu
sistem kerja yang dapat mengurangi kemungkinan seseorang terpapar
potensi bahaya yang tergantung dari perilaku pekerjanya dan memerlukan
pengawasan yang teratur untuk dipatuhinya pengendalian administrasi ini.
Metode ini meliputi penerimaan tenaga kerja baru sesuai jenis pekerjaan
yang akan ditangani, pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat, rotasi
kerja untuk mengurangi kebosanan dan kejenuhan, penerapan prosedur
kerja, pengaturan kembali jadwal kerja, training keahlian dan training
K3.
f. Alat Pelindung Diri (Administration Control)
Alat pelindung diri yang digunakan untuk membatasi antara
terpaparnya tubuh dengan potensi bahaya yang diterima oleh tubuh.
13
B. PENGENDALIAN RISIKO
Dalam menentukan pengendalian resiko atas bahaya yang kita
identifikasi, harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut: Apakah telah
ada control/ pengendalian resiko yang telah lalu? Jika telah ada, apakah
kontrol tersebut telah memadai atau belum? Jika belum memadai,
tentukan tindakan pengendalian baru untuk menghilangkan atau
menekan resiko sampai pada tingkat serendah mungkin.
Pengendalian teknik: mengganti prosedur kerja, menutup
mengisolasi bahan berbahaya, menggunakan otomatisasi pekerjaan,
menggunakan cara kerja basah dan ventilasi pergantian udara.
Pengendalian administrasi: mengurangi waktu pajanan, menyusun
peraturan keselamatan dan kesehatan, memakai alat pelindung,
memasang tanda-tanda peringatan, membuat daftar data bahan-
bahan yang aman, melakukan pelatihan sistem penangganan darurat.
Pemantauan kesehatan : melakukan pemeriksaan kesehatan. 14
B. PENGENDALIAN RISIKO
Tujuan pokok keselamatan dan kesehatan kerja adalah untuk mencegah dan
mengurangi bahkan menghilangkan kecelakaan kerja. Dengan demikian
keselamatan dan kesehatan kerja tersebut menjadi sangat penting mengingat
akhibat yang ditimbulkan dari adanya kecelakaan kerja. Dalam tindakan
pencegahan kecelakaan kerja harus diletakkan pengertian bahwa kecelakaan
merupakan resiko yang melekat pada setiap proses/kegiatan yang berhubungan
dengan pekerjaan. Pada setiap proses/aktifitas pekerjaan selalu ada resiko
kegagalan (risk of failures). Saat kecelakaan kerja (work accident) terjadi,
seberapapun kecilnya, akan mengakibatkan efek kerugian (loss), oleh karena itu
maka sebisa mungkin dan sedini mungkin, kecelakaan/ potensi kecelakaan kerja
harus dicegah/ dihilangkan, atau setidak-tidaknya dikurangi dampaknya.
Ganti kabel yang telah usang atau cacat pd instalasi atau peralatan listrik lain
Jika terjadi pemutusan aliran listrik, maka lift akan berhenti di lantai
terdekat dan pintu lift segera terbuka sesaat setelah berhenti. Segera keluar
dari lift dengan hati-hati
d. Penanggulangan Kecelakaan terhadap Zat Berbahaya
Zat berbahaya adalah bahan-bahan yang selama pembuatannya,
pengolahannya, pengangkutannya, penyim-panannya dan penggunaannya
menimbulkan iritasi, kebakaran, ledakan, korosi, mati lemas, keracunan dan
bahaya-bahaya lainnya terhadap gangguan kesehatan orang yang
bersangkutan dengannya atau menyebabkan kerusakan benda atau harta 24
kekayaan.
B. PENGENDALIAN RISIKO
Mencegah & menanggulangi kecelakaan yg lain:
3. Pendekatan keselamatan lain
a. Perencanaan
Keselamatan kerja hendaknya sudah diperhitungkan sejak tahap
perencanaan berdirinya organisasi (sekolah, kantor, industri, perusahaan).
Hal-hal yang perlu diperhitungkan antara lain: lokasi, fasilitas penyimpanan,
tempat pengolahan, pembuangan limbah, penerangan dan sebagainya
b. Ketatarumahtanggaan yang baik dan teratur:
Menempatkan barang-barang di tempat yang semestinya, tidak
menempatkan barang di tempat yang digunakan untuk lalu lintas orang
dan jalur-jalur yang digunakan untuk penyelamatan darurat
Menjaga kebersihan lingkungan dari bahan berbahaya, misalnya hindari
tumpahan oli pada lantai atau jalur lalu lintas pejalan kaki
c. Pakaian kerja
Hindari pakaian yang terlalu longgar, banyak tali, baju berdasi, baju
2
A. DEFINISI
Hubungan ketiga unsur kebakaran.
4
1. BAHAN BAKAR
b. Bahan Bakar Cair
7
3. TITIK NYALA
Titik nyala sering dikatakan sebgai peletup
Penyebab:
a. Gesekan
b. Loncatan listrik
c. Percikan api
d. Panas
e. Tekanan
f. Dll.
9
B. KLASIFIKASI KEBAKARAN
10
D. CARA PENANGANAN KEBAKARAN
Kebakaran harus ditangani dengan baik. Penanganan yang dilakukan
tidak hanya sekedar melakukan pemadaman saja tetapi ada tiga
langkah yang harus dilakukan, yaitu:
1) Pencegaha kebakaran
2) Pemadaman kebakaran
3) Prosedur evakuasi yang harus dilakukan
12
1. PENCEGAHAN KEBAKARAN
Surat Keputusan Menaker No 187/Men/1990 yang mengatur tentang
Material Safety Data Sheet (MSDS).
MSDS adalah dokumen tentang satu bahan kimia yang harus ada
pada industri yang membuat, menyimpan, atau menggunakannya,
yang memberikan informasi tentang bahan kimia tersebut.
Informasi ini meliputi:
14
a) MEMADAMKAN API TAHAP DINI
Setiap kebakaran dimulai api yang kecil, jika tidak segera
diketahui dan dicegah, api akan membesar.
Pemadaman api tahap dini merupakan langkah yang sangat penting
dalam mencegah terjadinya kebakaran yang lebih besar.
Alat yang dibutuhkan pada tahap ini adalah Alat Pemadam Api
Ringan (APAR), Hydrant yang menyediakan air bertekanan tinggi,
fixed system yang biasa terpasang di gedung-gedung, serta peralatan
lain di sekitar kita yang bisa digunakan untuk proses pemadaman api
seperti karung goni, selimut, serta barang sejenis yang bisa
menyerap air dan menutup api hingga terpisah dari udara.
APAR merupakan alat pemadam api yang sangat populer di
kalangan masyarakat, namun demikian sebagian besar mereka tidak
mengetahui jenis dan cara penggunaannya. Jenis APAR cukup
banyak, tergantung dari kemampuan memadamkan kebakaran pada
jenis bahan bakar tertentu. 15
a) MEMADAMKAN API TAHAP DINI
16
a) MEMADAMKAN API TAHAP DINI
Cara penggunaan APAR:
1. Buka kunci pengaman
2. Pegang tabung APAR dalam
posisi tegak
3. Tekan handel pembuka
4. Arahkan ke bahan yg terbakar
jangan arahkan ke apinya
5. Semprotkan APAR secara
periodik, satu periode 3 detik,
jika diperasikan kontinyu
APAR hanya dapat
dioperasikan 8 detik 17
a) MEMADAMKAN API TAHAP DINI
Pengoperasian APAR
18
b) MENCEGAH API TUMBUH
Jika api tdk segera dikuasai dan semakin membesar, maka
diperlukan langkah untuk:
a) Melokalisir api
b) Melakukan pendinginan
c) Menguraikan bahan yang terbakar
19
c) MENGONTROL ASAP
Sebagian besar bahan yang terbakar menghasilkan asap. Asap yang
berupa gas yang mengandung berbagai unsur, sangat membahayakan
kesehatan.
Bahkan banyak korban jiwa dalam kejadian kebakaran yang
disebabkan karena menghirup asap yang berlebihan, oleh sebab itu
timbulnya asap harus dapat ditangani dengan baik.
Cara penanganan asap:
1) Penerapan tata udara sesuai standar pada suatu bangunan
2) Pemasangan alat deteksi asap
3) Pemasangan instalasi smoke vent.
20
3. PROSEDUR EVAKUASI
Keselamatan manusia merupakan hal yang terpenting dalam
kebakaran. Ketika kebakaran sudah membesar dan tidak bisa diatasi
dengan APAR, maka yang harus dilakukan adalah melakukan
evakuasi manusia maupun barang.
Pelaksanaan evakuasi dilakukan sesuai sistem evakuasi yang ada
pada gedung/bangunan yang terbakar. Gedung yang baik memiliki
sistem evakuasi yang standar, misalnya lebar pintu harus dapat
dilalui 40 orang per menit, ada petunjuk rute yang harus dilalui
ketika terjadi kondisi darurat, ada akses jalan yang dapat dilalui oleh
mobil pemadam kebakaran, dan lain-lain.
Mengingat pentingnya langkah-langkah evakuasi jika terjadi
kebakaran, maka perlu adanya manajemen yang baik, SOP, latihan
secara berkala dalam menghadapi kejadian kebakaran, dan
penyebaran informasi tentang cara-cara penanggulangan kebakaran. 21
6.
ERGONOMI
1
A. PENGERTIAN ERGONOMI
Ergos (kerja) + nomos (hukum)
Definisi ergonomi menurut Woodside dan Kocurek (1997) adalah
kajian yang intergral antara pekerja, pekerjaan, alat, tempat dan
lingkungan kerja, yaitu lingkungan dimana pekerja dapat melakukan
pekerjaannya dengan aman dan nyaman.
Menurut Charpanis (1985) yang dikutip oleh Sanders mengatakan
Ergonomi ialah suatu cabang ilmu yang sistematis untuk
memanfaatkan informasi mengenai sifat, kemampuan, keterbatasan,
dan karakteristik manusia lainnya untuk merancang alat, mesin,
pekerjaan, sistem kerja, dan lingkungan sehingga orang dapat hidup
dan bekerja pada sistem itu produktif, efektif, aman dan
menyenangkan.
2
A. PENGERTIAN ERGONOMI
Sanders dan Mc. Cormick (1987) mendefinisikan ergonomi (Human
Factors) dengan pendekatan 3 unsur, yaitu:
1. Fokus ergonomi
adalah interaksi manusia dengan produk, peralatan, fasilitas, prosedur, dan
lingkungan kerja maupun tempat tinggal. Dalam perancangan dengan
produk, peralatan, fasilitas, prosedur, dan lingkungan masalah
kapabilitas, keterbatasan, dan kebutuhan manusia menjadi pertimbangan
2. utama.
Tujuan utama ergonomi
ada dua. (a). meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam bekerja,
termasuk disini bagaimana penggunaan alat yang nyaman, menggurangi
kesalahan, dan meningkatkan produktivitas. (b). adalah mengembangkan
keselamatan, mengurangi kelelahan dan stress, penggunaan yang
3. menyenangkan, meningkatkan kepuasan kerja dan meningkatkan kualitas
hidup.
Pendekatan ergonomi 3
ialah secara sistematis mengaplikasikan informasi yang relevan tentang
kapasitas manusia, keterbatasan, karakteristik, tingka laku, motivasi untuk
mendisain prosedur dan lingkungan yang mereka gunakan.
B. KENYAMANAN
Pada saat bekerja terjadi interaksi antara pekerja dengan mesin dan lingkungan
dalam menyelesaikan pekerjaannya. Acmadi (1990) menyatakan bahwa
pekerjaan maupun lingkungan merupakan paparan yang menjadi beban bagi
pekerja, setiap beban akan menimbulkan ketegangan (stresses) dan regangan
(strain), sehingga menimbulkan reaksi bagi pekerja berupa rasa nyaman atau
tidak nyaman.
Paparan:
a. Fisik: suhu, tekanan, suara, pencahayaan, radiasi, getaran
b. Kimia: debu, uap, larutan
c. Psikososial: hubungan kerja, sistem manajemen
d. Ergonomis: desain alat, lay out, metoda kerja (Trisnaningsih:1990).
Nyaman dapat berarti segar, sehat, dan badan terasa enak (KBBI)
Pengukuran kenyamanan dapat dilakukan dari perasaan tidak nyaman
(Suma`mur:1992) terhadap paparan yang diterima pekerja, yaitu berupa keluhan
rasa tidak nyaman atau rasa tidak enak pada bagian tubuh akibat paparan yang
diterima. Keluhan rasa tidak nyaman dapat berupa rasa lelah, pegal, nyeri,
4
memar, lecet, dan sebagainya, pada bagian tubuh pekerja saat bekerja
menggunakan alat.
B. KENYAMANAN
Bagian tubuh yang
mengalami ketidaknyamanan
Bagian tubuh yang
mengalami ketidaknyamanan
digambarkan dalam Body
Area Discomfort (BAD),
bagian tubuh tersebut antara
lain leher/tengkuk (neck),
bahu/pundak (shoulder), siku
(elbow), lengan (forearm),
tangan/pergelangan
(hand/wrist), jari (fingers),
punggung atas (upper back),
punggung bawah (low back),
paha (thigh), lutut (knee), kaki
bawah (low leg) dan
persendian kaki/ kaki (ankle/
foot). 5
C. SISTEM MANUSIA –M ESIN
Walaupun perkembangan teknologi produksi berkembang cepat namun
faktor manusia tetap signifikan dalam menentukan produktivitas. Pada
industri manufaktur maupun industri pelayanan peran manusia masih
diandalkan sebagai komponen dalam proses produksi (Wignjosoebroto:
2000).
Manusia merupakan komponen dalam sistem manusia-mesin, kedua
elemen produksi tersebut saling berinteraksi untuk menghasilkan
keluaran-keluaran berdasarkan masukan. Proses interaksi manusia-
mesin diilustrasikan oleh Sander dan [Link] (1987) pada gambar
sebagai berikut. Manusia memperoleh masukan (input) dengan melihat
atau mendengar (sensing) dari display mesin, informasi tersebut
diproses di otak, kemudian otak memutuskan untuk melakukan reaksi
melakukan kontrol mesin, kontrol tersebut membuat mesin dapat
beroperasi, mesin dipasang display untuk menginformasikan bahwa
mesin sedang operasi, proses sudah selesai atau mati. Beroperasinya
mesin akan memproses masukan menjadi keluaran, proses tersebut 6
terjadi pada lingkungan kerja.
C. SISTEM MANUSIA –M ESIN
Gambar: Sistem manusia–mesin (Sander & [Link], 1987: 14)
7
C. SISTEM MANUSIA –M ESIN
Hubungan mesin-manusia dikelompokkan menjadi:
1. Sistem manual:
Pada sistem ini input akan langsung menjadi output. Alat tangan
berfungsi untuk menambah kemampuan atau kapabilitas dalam
menyelesaikan pekerjaan yang dibebankan padanya. Manusia
berfungsi sebagai sumber tenaga dan kendali operasi.
2. Sistem mekanik:
Sistem ini sering disebut semi otomatis. Pada sistem ini tenaga dan
beberapa fungsi lain diganti mesin. Manusia memberi respon
melalui sistem kontrol untuk mengoperasikan mesin. Mesin
beroperasi dengan kendali manusia.
3. Sistem otomatis:
Pada sistem otomatis mesin mampu melaksanakan semua fungsi
mulai sensor, pengambilan keputusan maupun aksi. Manusia
bertugas memonitor agar mesin dapat bekerja dengan baik, 8
memasukkan data atau mengganti program baru bila diperlukan.
C. SISTEM MANUSIA –M ESIN
Gambar: Beberapa alat kontrol manual (mekanik)
9
D. ANTHROPOMETRI
Dalam proses produksi terjadi interaksi manusia dengan mesin.
Interaksi tersebut akan harmonis dan serasi bila mesin tersebut
didesain sesuai dengan karakteristik manusia yang menggunakan
mesin, untuk itu seorang desainer perlu informasi tentang dimensi
tubuh manusia. Ilmu tentang pengukuran dimensi tubuh manusia
disebut anthropometri.
Antropometri berasal dari kata “ anthro” yang berarti manusia dan “
metry” yang berarti ukuran. Secara definitif anthropometri dapat
dinyatakan sebagai studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi
tubuh manusia Wignjosoebroto (2000). Hughes (2002)
mendefinisikan antropometri sebagai ilmu mengukur dan
mengoleksi data karakteristik fisik dan aplikasinya untuk desain dan
evaluasi sistem, peralatan, produk manufaktur, fasilitas dan
10
lingkungan manusia.
D. ANTHROPOMETRI
Faktor yang mempengaruhi ukuran tubuh manusia (Winjosoebroto)
1. Usia:
ukuran tubuh akan berkembang seiring dengan pertambahan
usianya. Usia 0 sampai 20 tahun merupakan usia berkembang, 20
sampai 40 relatif tetap dan usia 40 tahun ke atas cenderung
menyusut.
2. Jenis kelamin:
dimensi tubuh laki-laki pada umumnya lebih besar dari pada wanita
kecuali bagian tubuh tertentu seperti pinggul.
3. Suku bangsa:
Setiap suku bangsa ataupun kelompok ethnik akan memiliki
karakteristis tubuh yang berbeda satu dengan yang lain.
11
D. ANTHROPOMETRI
Prinsip dasar penerapan antropometri dalam desain yang ergonomis:
1. Desain untuk individual yang ekstrim (maksimal dan minimal)
Contoh: tinggi pintu gunakan ukuran tinggi maksimal manusia
Untuk perencanaan gaya operasional alat kontrol gunakan ekstrim minimal
2. Desain untuk rata-rata manusia
Pendekatan rata-rata ini mudah dan murah, namun mempunyai kelemahan
yang sangat besar karena hanya “setengah populasi” yang mampu
mengoperasikan.
3. Desain yang dapat disetel
Desain ini sangat baik, karena 95% populasi mampu mengoperasikan alat
tersebut, tetapi kelemahannya membutuhkan biaya yang mahal.
4. Desain untuk individu
Desain ini dibuat untuk seorang individu yang datanya digunakan untuk
mendesain. Desain ini paling ideal untuk individu tersebut tetapi tidak
12
nyaman digunakan orang lain.
D. ANTHROPOMETRI
Anthropometri dikelompokkan menjadi dua (Pulat :1992, Sanders dan
Mc. Cormick: 1987, Woodside dan Kucurek 1997, Hughes 2002) :
1. Anthropometri statis atau struktural
merupakan ukuran bodi pada kondisi tidak bergerak, posisi standar
baik posisi berdiri maupun duduk.
2. Antropometri dinamis atau fungsional
merupakan ukuran bodi/tubuh saat melakukan aktivitas kerja di
suatu lingkungan kerja.
13
D. ANTHROPOMETRI
Berdasarkan data dari antropometri kita dapat melakukan desain stasiun
kerja. Contoh tinggi meja kerja untuk pekerjaan yang membutuhan tenaga
otot tangan di bawah pusar, tinggi meja kerja yang membutuhkan tenaga
otot sedang setara pusar, sedangkan yang membutuhkan ketelitian tinggi
meja kerja di atas pusar.
Gambar
Tinggi meja
kerja sesuai
dengan jenis
pekerjaan 14
(ILO, 2010)
D. ANTHROPOMETRI, JANGKAUAN
Gambar:
Jangkauan
tangan saat
bekerja
15
(ILO, 2010)
E. MEMILIH & MENDESAIN ALAT TANGAN
YANG ERGONOMI
16
E. MEMILIH & MENDESAIN ALAT TANGAN
YANG ERGONOMI
17
E. MEMILIH & MENDESAIN ALAT TANGAN
YANG ERGONOMI
18
E. MEMILIH & MENDESAIN ALAT TANGAN
YANG ERGONOMI
4. Buat gagang yang nyaman dipegang, tidak
mudah slip, mempunyai pembatas,
mempunyai tahanan panas dan listrik yang
tinggi. Gagang dapat dibuat dari kayu, plastik
atau karet. Bahan tersebut mempunyai
koefisien gesek tinggi sehingga tidak mudah
slip, isolator panas maupun listrik yang baik
sehingga dapat melindungi pekerja dari
kemungkinan kecelakaan saat alat terkena
panas atau tersengat listrik. Karet merupakan
bahan yang baik untuk pelapis gagang karena
elastis sehingga lebih nyaman saat
menggenggam, selain itu karet juga
mempunyai koefisien gesek dan isolator
listrik yang baik. Pembatas pada gagang Gambar:
diperlukan untuk melindungi tangan dari Gagang pisau dengan
19
kemungkinan slip dan menimbulkan luka. pembatas (ILO, 1996)
E. MEMILIH & MENDESAIN ALAT TANGAN
YANG ERGONOMI
5. Buat alat pada posisi kerja alami, hindari terjadi deviasi unar maupun
radial pada tangan. Deviasi unar maupun radial saat menggunakan
alat potensial terjadi teknosinovitis akibat syaraf median (median nerve)
luka pada kanal karpi. Terdapat dua model gagang untuk menghindari
hal itu yaitu bentuk segaris (inline) dan bentuk pistol. Contoh gagang
dibengkokkan agar posisi tangan alami.
Gambar:
Beberapa desian
gagang alat tangan
yang dibengkokkan
20
E. MEMILIH & MENDESAIN ALAT TANGAN
YANG ERGONOMI
Gambar:
Pemilihan model
gagang terkait
posisi kerja
21
(Marshall, 2003)
E. MEMILIH & MENDESAIN ALAT TANGAN
YANG ERGONOMI
23
E. MEMILIH & MENDESAIN ALAT TANGAN
YANG ERGONOMI
Gambar:
Penekanan pada
daerah sensitif
24
(Marshall, 2003)
E. MEMILIH & MENDESAIN ALAT TANGAN
YANG ERGONOMI
25
F. MEMAHAMI EKONOMI GERAK ERGONOMI
Gerakan yang dilakukan pekerja ada kalanya sudah tepat namun ada
pula gerak yang tidak perlu (Sutalaksana, dkk: 1980). Gerak tidak
perlu pemborosan tenaga dan energi, untuk itu perlu kita hilangkan
agar tidak memperlambat waktu produksi.
Dalam mendesain alat, lay out maupun metode kerja perlu
pertimbangan ekonomi gerak, agar tercipta alat lay out maupun
metode kerja yang mampu mengeleminir gerakan yang tidak perlu,
mengkombinasikan gerak menjadi lebih efektif dan
menyederhanakan kegiatan sehingga kebutuhan energi minimal.
26
F. MEMAHAMI EKONOMI GERAK ERGONOMI
Prinsip ekonomi gerak dari Mandel (1994):
1. Eliminasi kegiatan:
a. Eliminasi semua kegiatan/ aktivitas atau gerakan yang tidak perlu
b. Eliminasi kondisi yang tidak beraturan dalam setiap kegiatan, dengan
meletakkan fasilitas dan matrial pada tempat yang tetap.
c. Eliminasi penggunaan tenaga otor pada kegiatan statis
d.
Eliminasi waktu kosong atau menunggu
2. Kombinasi gerak atau aktifitas kerja:
a. Ganti gerakan pendek, terputus, berubah arah menjadi kontinyu, tdk. Patah
b. Kombinasikan bbrp gerakan yg mampu ditangai dgn desain peralatan kerja
c. Distribusikan kegiatan dengan membuat keseimbangan kerja kedua tangan
3. Penyederhanaan kegiatan:
a. Laksanakan setiap kegiatan/aktivitas kerja dengan prinsip kebutuhan
energi otot yang digunakan minimal.
b. Kurangi kegiatan mencari obyek kerja (peralatan, material) dengan
meletakkan pada tempat yang tidak berubah-ubah.
c.
Letakkan fasilitas kerja pada jangkauan tangan yang normal. 27
d. Sesuaikan letak komponen sesuai dimensi tubuh manusia
F. MEMAHAMI EKONOMI GERAK ERGONOMI
Prinsip ekonomi gerak dihubungkan dengan tubuh manusia dan gerakan-
gerakannya (Sutalaksana, dkk :1980), antara lain:
1. Kedua tangan sebaiknya memulai dan mengakiri gerakan pada saat
yang sama
2. Kedua tangan sebaliknya tidak mengganggur pada saat yang sama.
3. Gerakan tangan akan lebih mudah bila satu terhadap yang lain simetris
dan berlawanan.
4. Gerakan tangan dan badan sebaiknya dihemat
5. Sebaiknya pekerja dapat memanfaatkan momentum untuk membantu
pekerjaannya.
6. Gerak patah-patah dan berubah arah akan memperlambat gerak
7. Pekerjaan sebaiknya dirancang semuda-mudahnya
8. Sebaiknya irama kerja mengikuti irama yang alami bagi sipekerjanya 28
9. Usahakan sedikit mungkin gerakan mata
7.
ANALISIS MENGENAI
DAMPAK LINGKUNGAN
( AMDAL )
1
A. PENDAHULUAN
Lingkungan hidup Indonesia sebagai suatu sistem yang terdiri dari
lingkungan sosial (sociosystem), lingkungan buatan (technosystem) dan
lingkungan alam (ecosystem) dimana ke tiga sub sistem ini saling
berinteraksi (saling mempengaruhi). Ketahanan masing-masing
subsistem ini akan meningkatkan kondisi seimbang dan ketahanan
lingkungan hidup, dimana kondisi ini akan memberikan jaminan suatu
yang berkelanjutan yang tentunya akan memberikan peningkatan
kualitas hidup setiap makhluk hidup di dalamnya.
2
B. AMDAL
Analisis Mengenani Dampak Lingkungan (AMDAL) diperkenalkan
pertama kali tahun 1969 oleh National Environmental Policy Act di
Amerika Serikat. Menurut UU No. 23/1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup dan PP No. 27/1999 tentang Analisis mengenai
dampak lingkungan hidup (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak
besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan
pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan
keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
Tujuan secara umum AMDAL adalah menjaga dan meningkatkan
kualitas lingkungan serta menekan pencemaran sehingga dampak
negatifnya menjadi serendah mungkin.
Dokumen AMDAL terdiri dari::
1) Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup
(KA-ANDAL)
2) Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)
3) Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)
3
4) Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)
C. PENANGANAN LIMBAH CAIR
1. Pengertian Limbah Cair
Menurut Kepmen Lingkungan Hidup Nomor: KEP-
51/MENLH/10/1 995 yang dimaksud limbah cair adalah keadaan
limbah dalam wujud cair yang dihasilkan oleh kegiatan industri
yang dibuang ke lingkungan dan diduga dapat menurunkan
kualitas lingkungan. Limbah cair berupa air yang telah tercemari
oleh bahan pencemar. Pencemar air adalah masuk atau
dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen
lain ke dalam air dan atau berubahnya tatanan air oleh kegiatan
manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas air turun sampai
ke tingkat tertentu yang menyebabkan air menjadi kurang atau
tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya. Mutu
limbah cair ditetapkan dengan pengertian: mutu limbah cair yang
dibuang ke dalam air pada sumber air tidak melampaui baku mutu
4
limbah cair yang telah ditetapkan dan tidak mengakibatkan
turunnya kualitas penerima limbah.
C. PENANGANAN LIMBAH CAIR
1. Pengertian Limbah Cair
Secara sederhana limbah cair dapat berasal dari sumber domestik
dan sumber industri.
a. Air buangan
b. Air buangan domestik
c. Air buangan industri pangan
5
C. PENANGANAN LIMBAH CAIR
2. Penanganan Air Limbah
Cara pengolahan limbah cair umumnya dilakukan melalui dua cara
yaitu pengolahan primer dan pengolahan sekunder. Pengolahan
primer ditujukan untuk memisahkan padatan dari cairannya, baik
padatan berukuran besar, kecil, maupun koloid. Pengolahan
sekunder digunakan sebagai pengolahan limbah cair lanjutan.
a. Pengendapan Biasa (sedimentasi)
b. Penggumpalan Kimiawi (chemical coagulation)
c. Penyaringan (filter)
1) Pasir penyaring lambat ( slow sand filters)
2) Pasir penyaring cepat ( rapid sand gravity filters)
3) Pasir penyaring dengan tekanan ( presure sand filters)
4) Penyaringan Cochrane
6
D. PENGGUMPALAN BIOLOGIS
Pengolahan sekunder antara lain trickling filter (saringan biologis),
activated sludge, pond, dan lagoon. Trickling filter berfungsi agar
pencampuran antara air limbah dan mikrobia yang mampu mencerna
air limbah tersebut berlangsung dengan baik. Alat ini memanfaatkan
pecahan batu karang atau cadas sebagai media pertumbuhan
mikrobia secara aerob (mikrobia bersama-sama air limbah) atau
dapat juga dengan cara menginokulasi mikrobia yang sesuai.
Oksidasi polutan organik terjadi pada saringan tersebut, sehingga
secara bertahap mampu mengurangi BOD dari air limbah hingga
sekitar 50%-90%. Bagan skematisnya seperti berikut ini.
7
D. PENGGUMPALAN BIOLOGIS
Bagan skematis Trickling filter
8
E. PENGUJIAN FISIKA AIR
Warna air (apparent colour)
Warna air artinya warna dari air yang telah dihilangkan penyebab
kekeruhannya. Sedangkan warna air sebenarnya (apparent colour) termasuk
pula warna yang disebabkan oleh bahan-bahan dalam larutan dan bahan-bahan
tersuspensi. Jadi apparent colour adalah warna air sebelum dilakukan filtrasi
atau sentrifugasi. Warna air dapat ditentukan dengan membandingkan visual
dari sampel dengan larutan warna standar (yang sudah diketahui
konsentrasinya) dengan menggunakan komparator (platinum cobalt atau
Bau dan rasa
pengukuran (tidak berbau, tidak berasa)
tintometer).
Bau dan rasa untuk air murni tidak ada artinya air murni tidak berbau dan tidak
berasa. Air yang telah dimasak dapat berbau tanah liat, amis, jamuran, klorin
atau bau-bau lainnya yang menyerupai bau sayur-sayuran. Jadi air yang bersih
tidak dijumpai bau-bau tersebut, adanya bau dan rasa pada air menandakan
adanya polutan. Untuk mengukur bau dan rasa dilakukan pengujian sensoris.
Kekeruhan (bervariasi sangat keruh sampai sedikit keruh)
Kekeruhan yang terjadi dalam air sangat bervariasi dari sangat keruh sampai
sedikit keruh. Untuk mengukur kekeruhan digunakan fuller’s earth, satu unit
kekeruhan sama dengan 1 mg/liter dari fuller's earth pada kondisi yang telah 9
ditetapkan.
F. PENGUJIAN KIMIA AIR
Pengujian kimia air meliputi:
Total padatan
Bahan organik
Kesadahan
Alkalinitas
Asiditas
Nitrogen
Klorida
Sulfat
Oksigen :
9
D. KEBIJAKAN MANAJEMEN
Undang Undang No.13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan pasal
87, yang menyatakan bahwa setiap perusahaan wajib hukumnya
menerapkan sistem manajemen K3 yang diintegrasikan dalam
manajemen perusahaan secara umum.
Peraturan SMK3:
1) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI, Nomor: PER.05/MEN/1996
tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(disingkat SMK3);
2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 tahun 2012
tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja.
Dengan penerapan SMK3 di perusahaan, maka diharapkan angka
kecelakaan kerja di Indonesia akan dapat direduksi, sehingga
perusahaan akan semakin efisien dan produktif di kemudian hari. 10
D. KEBIJAKAN MANAJEMEN
Kebijakan Manajemen sebagai akar kecelakaan kerja