0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
119 tayangan11 halaman

Penanganan Fimosis pada Anak

Fimosis adalah kondisi di mana preputium penis tidak dapat ditarik ke belakang, yang dapat menyebabkan masalah berkemih dan infeksi saluran kemih. Diagnosis dilakukan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik, dengan tatalaksana konservatif dan operatif seperti dorsosirkumsisi. Prognosis baik jika fimosis cepat didiagnosis dan ditangani.

Diunggah oleh

haniyathu thoyibah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
119 tayangan11 halaman

Penanganan Fimosis pada Anak

Fimosis adalah kondisi di mana preputium penis tidak dapat ditarik ke belakang, yang dapat menyebabkan masalah berkemih dan infeksi saluran kemih. Diagnosis dilakukan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik, dengan tatalaksana konservatif dan operatif seperti dorsosirkumsisi. Prognosis baik jika fimosis cepat didiagnosis dan ditangani.

Diunggah oleh

haniyathu thoyibah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

FIMOSIS

Dokter pembimbing : dr. Fajar Effendy, Sp. U


PEMBAHASAN
Fimosis adalah suatu kelainan dimana
preputium penis yang tidak dapat di
retraksi (ditarik) ke proksimal sampai
ke korona glandis.
Normalnya, kulit preputium selalu
melekat erat pada glans penis dan
tidak dapat ditarik ke belakang pada
saat lahir, namun seiring
bertambahnya usia dan pertumbuhan
terjadi proses keratinisasi lapisan
epitel dan deskuamasi antara glans
penis dan lapis bagian dalam
preputium sehingga akhirnya kulit
preputium terpisah dari glans penis
PEMBAHASAN
Bila Phimosis menghambat kelancaran berkemih seperti pada
ballooning maka sisa-sisa urin mudah terjebak pada bagian
dalam preputium dan lembah tersebut kandungan glukosa
pada urine menjadi lading subur bagi pertumbuhan bakteri,
maka berakibat terjadi infeksi saluran kemih (UTI).

Fimosis dibagi 2, yaitu Fimosis fisiologis dan fimosis patologis


PEMBAHASAN
1. Penis membesar dan menggelembung akibat tumpukan urin (“balloning” )
2. Kadang-kadang keluhan dapat berupa ujung kemaluan menggembung saat
mulai buang air kecil yang kemudian menghilang setelah berkemih. Hal tersebut
disebabkan oleh karena urin yang keluar terlebih dahulu tertahan dalam ruangan
yang dibatasi oleh kulit pada ujung penis sebelum keluar melalui muaranya yang
sempit.
3. Biasanya bayi menangis dan mengejan saat buang air kecil karena timbul
rasa sakit.
4. Kulit penis tak bisa ditarik kearah pangkal ketika akan dibersihkan
5. Air seni keluar tidak lancar. Kadang-kadang menetes dan kadang-kadang
memancar dengan arah yang tidakdapat diduga
6. Bisa juga disertai demam
7. Iritasi pada penis.
PEMBAHASAN
Untuk penegakan diagnosis fimosis dapat diketahui dari
anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Tatalaksana fimosis yaitu konservatif dan operatif


(dorsosirkumsisi)
pilihan terapi konservatif dapat diberikan salep kortikoid (0,05-0,1%) dua kali
sehari selama 20-30 hari. Terapi ini tidak dianjurkan untuk bayi dan anak-anak yang
masih memakai popok, tetapi dapat dipertimbangkan untuk usia sekitar tiga tahun.
DORSOSIRKUMSISI
Prosedur Teknik Dorsumsisi adalah teknik sirkumsisi dengan cara memotong
preputium pada bagian dorsal pada jam 12 sejajar sumbu panjang penis ke
arah proksimal, kemudian dilakukan pemotongan sirkuler kekiri dan
kekanan sejajar sulcus coronaries.
1. Disinfeksi penis dan sekitarnya dengan cairan disinfeksi
2. Persempit lapangan tindakan dengan doek lubang steril
3. Lakukan anestesi infiltrasi subkutan dimulai dari pangkal penis
melingkar. Bila perlu tambahkan juga pada daerah preputium yang akan
dipotong dan daerah ventral
4. Tunggu 3 – 5 menit dan yakinkan anestesi lokal sudah bekerja dengan
mencubitkan pinset
5. Bila didapati phimosis, lakukan dilatasi dengan klem pada lubang
preputium, lepaskan perlengketannya dengan glans memakai sonde
atau klem sampai seluruh glans bebas. Bila ada smegma, dibersihkan.
6. Jepit kulit preputium sebelah kanan dan kiri garis median bagian dorsal
dengan 2 klem lurus. Klem ketiga dipasang pada garis tengah ventral.
DORSOSIRKUMSISI
7. Gunting preputium dorsal tepat digaris
tengah (diantara dua klem) kira-kira ½ sampai 1
sentimeter dari sulkus koronarius (dorsumsisi),buat
tali kendali. kulit Preputium dijepit dengan klem
bengkok dan frenulum dijepit dengan kocher

8. Pindahkan klem (dari jam 1 dan 11 ) ke ujung distal sayatan (jam


12 dan 12’). Insisi meingkar kekiri dan kekanan dengan arah serong menuju
frenulum di distal penis (pada frenulum insisi dibuat agak meruncing (huruf
V), buat tali kendali )
9. Cari perdarahan dan klem, ikat dengan benang plain catgut yang
disiapkan.
10. Setelah diyakini tidak ada perdarahan (biasanya perdarahan yang
banyak ada di frenulum) siap untuk [Link] dimulai dari dorsal
(jam 12), dengan patokan klem yang terpasang dan jahitan kedua pada
bagian ventral (jam 6). Tergantung banyaknya jahitan yang diperlukan,
selanjutnya jahitan dibuat melingkar pada jam 3,6, 9,12 dan seterusnya
DORSOSIRKUMSISI
11. Luka ditutup dengan kasa atau penutup luka lain, dan
diplester. Lubang uretra harus bebas dan sedapat mungkin tidak
terkena urin.
KOMPLIKASI
DORSOSIRKUMSISI
• Ketidaknyamanan/nyeri saat berkemih
• Akumulasi sekret dan smegma di bawah preputium yang
kemudian terkena infeksi sekunder dan akhirnya terbentuk jaringan
parut.
• Pada kasus yang berat dapat menimbulkan retensi urin.
• Pembengkakan/radang pada ujung kemaluan yang disebut
ballonitis.
PROGNOSIS
Prognosis baik apabila cepat didiagnosis dan ditangani
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai