BASIC RADAR
POKOK BAHASAN :
1. FILOSOFI RADAR
2. PSR
3. SSR
4. MSSR
5. ADS-B
FILOSOPI RADAR
Prinsip Pantulan Signal Radar hampir sama dengan prinsip pantulan Gel suara
Bila diketahui kec Gel Suara, maka akan diketahui pula estimas jarak antara obyek Pantul
dengan Sumber Gel Suara
Pulsa-Pulsa yang dipancarkan oleh Radar mengandung RF Energy Gel Electromagnetic,
sehingga signal pantul yang disebut ECHO dapat dikonversi dalam bentuk JARAK (Distance)
dan ARAH (Direction)
JARAK (RANGE)
KETERARAHAN (DIRECTION)
• Sudut Angular dari sebuah Target ditentukan berdasarkan Directivity ukuran (size)
dari Antena Radar
• Directivity (Directivity Gain) adalah kemampuan sebuah Antena untuk dapat
mengkonsentrasikan energi yang terpancar pada suatu arah tertentu
• Ant Directivity adalah ant yang mempunyai tingkat Directivity yang tinggi
• Bila arah Ant Radar pada saat menerima ECHO diketahui, maka Sudut Azimuth dan
Sudut Elevasi dari sebuah Target dapat diestimasi
CONT’
• TRUE BEARING (Refference pada Arah True North) adalah Sudut yang dibentuk antara Arah
True North terhadap Arah Target, yang mana sudut ini diukur secara Horizontal Plane dengan
arah putar Clock Wise (CW).
• True Bearing dari Target dapat juga diukur bedasarkan Sudut yang dibentuk antara Center Line
dari Ship or A/C terhadap Relative Bearing
• Antena pada Sistem Radar didesign untuk dapat meradiasikan energi pada semua arah BEAM
(LOBE) setiap saat, sehingga dibuatlah antenna Radar berputar.
• Pada gambar-2 terlihat ada 3 buah Target yang berada pada sebuah LOBE, dimana 3 buah
Target tersebut menghasilkan Signal Strength yang ber-bedax2. Target yang mempunyai Signal
Strength dengan Amplitude yang besar (Max Echo) berada tepat di tengah BEAM, sedangan 2
buah Target lainnya mempunyai Signal Strength dengan Amplitude yang lebih kecil.
• Keakuratan dari informasi Sudut / Bearing yang dihasilkan oleh Sistem Radar akan
bergantung kepada hasil Penyetingan North Signal pada Arah TRUE NORTH.
• Pada sistem Radar lama masih menggunakan COMPAS sebagai alat bantu, sedangkan untuk
sistem Radar modern sudah menggunakan GPS untuk menentukan ARAH TRUE NORTH.
TRANSFER OF INFORMATION BEARING
Kecepatan dan Keakuratan transmisi INFORMASI BEARING dari Turntable
(Encoder / Selsin) yang berada di Antena menuju Monitor (Scope) akan
dipengaruhi oleh :
a. Servo Sistem
Digunakan pada sistem Radar lama dengan memanfaatkan Synchro
Torque Transmitter dan Synchro Torque Receiver
b. ACP (Azimuth Change Pulse)
Digunakan pada sistem Radar modern, dimana untuk setiap kali antenna
berputar maka sebuah ENCODER akan mengirimakan beberapa Pulse
(MSSR Mode-S menghasikan 16.384 ACP)
MAX UNAMBIGUOUS RANGE
Gbr-1 Sebelum Menggunakan Staggering
Gbr-2 Setelah menggunakan Staggering
MINIMUM MEASURING RANGE
Receiving Time Receiving Time
1 2 3
Transmitting
Time Transmitting Transmitting
Time Time
SUDUT ELEVASI
• Sudut Elevasi adalah Sebuah sudut yang dibentuk oleh Vertical Plane yang
berhubungan dengan Horizontal Plane secara LOS.
• Elevasi dilambangkan dengan ε (Epsilon)
KETINGGIAN (HEIGHT)
Rumusan Trigonometri tidak cukup akurat untuk menentukan
ketinggian sebuah target yang sedang terbang, karena
ternyata Target tersebut akan dipengaruhi oleh :
a. Adanya Refraction (hamburan) pada Gel Electromagnetic
pada saat sampai Layer perbatasan udara karena
mempunyai kepadatan yang berbeda
b. Bentuk Lingkar (circumference) Permukaan bumi
CONT’
CONT’
RUMUS PERSAMAAN RADAR
CONT’
• Tentu pada kenyataannya bahwa antenna Radar bukan berupa
Isotropic Radiator, melainkan berupa PARABOLIC DISH ANTENA (PSR)
dan PHASE ARRAY ANTENA (SSR/MSSR), yang mana mempunyai
penguatan (Gain) 30 – 40 dB.
• Pendeteksian sebuah Target tidak hanya ditentukan oleh besarnya
Power Density pada posisi Target, akan tetapi juga ditentukan oleh
besarnya Reflected Power pada arah Radar (Reflected Power yang
diterima oleh Radar).
• Berkaitan dengan Reflected Power disini, maka sangatlah penting
untuk mengetahui apa yang disebut Radar Cross Section (σ), dimana
besaran ini akan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dapat disimpulkan
sementara bahwa Area yang besar akan menghasilkan Reflected Power
yang lebih besar bila dibandingkan dengan area yang kecil (lebih kecil).
CONT’
Miss :
Sebuah Pesawat Jumbo Jet akan menghasilkan Reflected Power yang lebih besar
bila dibandingkan dengan sebuah pesawat ATR-42 dalam satu Flight Situation.
Disamping itu Reflected Power juga akan tergantung kepada :
a. Design dari Reflecting Area
b. Komposisi Permukaan Reflecting Area
c. Material Reflecting Area
Dari contoh diatas maka dapat dikatakan bahwa Pr (Reflected Power) akan
dipengaruhi oleh : Power Density (Su), antenna Gain (G), dan Variable Radar Cross
Section (σ), sehingga dirumuskan sbb :
RECEIVER POWER DENSITY
RADAR REFLECTION DARI FLAT GROUND
Radar yang menggunakan freq lebih rendah (miss : VHF) akan
memanfaatkan Reflection dari permukaan bumi dan LOBE untuk
memaksimalkan coverage pada area low level, sedangkan untuk
Radar yang menggunakan band freq lebih tinggi keberadaan
Reflection malah menjadi pengganggu. Pada gambar – 13
ditunjukan Struktur Lobe yang dipengaruhi oleh Ground Reflection
PRIMARY SURVEILLANCE RADAR
Sifat – sifat PSR :
a. Non Koorperatif Radar
b. Tidak membutuhkan Transponder di A/C
(Signal echo dari pantulan Body a/c)
c. Melakukan Measuring dan kalkulasi untuk
menghasilkan informasi :
Range (Rho)
Azimuth / Bearing (Theta)
SECONDARY SURVEILLANCE RADAR
Sifat – sifat SSR :
a. Koorperatif Radar
b. Membutuhkan Transponder di A/C (Signal Repply dari Transponder di
A/C)
c. Melakukan Measuring dan kalkulasi untuk menghasilkan informasi :
- Range
- Azimuth
d. Melakukan decoding terhadap encoded Data dari Target yang
dikirimkan dalam bentuk format Mode-A/C (Conventional), seperti :
- Identification / Call Sign (Mode-A)
- Flight Level / Mode-C (diturunkan dari Barometric Pressure /
Alticode di a/c)
MONOPULSE SSR
Sifat – sifat MSSR :
a. Koorperatif Radar
b. Membutuhkan Transponder di A/C (Signal Repply dari Transponder
di A/C)
c. Melakukan Measuring dan kalkulasi untuk menghasilkan informasi :
- Range
- Azimuth
d. Melakukan decoding terhadap encoded Data dari
e. Transponder yang dikirimkan dalam bentuk Mode-S, seperti :
- Identification / Call Sign (Mode-A)
- Flight Level (Mode-C)
- SIC/SAC
- Ground Speed
EVOLUSI MSSR TO MODE-S
PROBLEM – PROBLEM TERJADINYA EVOLUSI DARI SSR/MSSR
CONVENTIONAL MENUJU MSSR MODE-S ADALAH :
1. KEPADATAN LALU LINTAS PENERBANGAN YANG SEMAKIN
BERTAMBAH
2. ADANYA KETERBATASAN PADA MODE-A (JUMLAH CODE
4096)
3. ADANYA FRUIT (FALSE REPPLY UNSYNCHRONOUS
INTEROGATOR TRANSMISSION)
4. ADANYA GARBLE
PROBLEM PADA MSSR
FRUIT
GARBLE
KEUNTUNGAN MENGGUNAKAN MODE-S
KEUNGGULAN MODE-S
INTERROGATION
REPPLY
KESIMPULAN
BLOK DIAGRAM GENERIK MONOPULSE SSR MODE-S
1. POSISI (RHO, THETA)
2. RANGE
1. POSISI (RHO, THETA)
2. RANGE
3. SPEED
FREQ TRANSMITTER DAN INTEROGATION MODE
INTEROGATION PULSE DAN STAGGERING
ISLS (INTEROGATION SIDE LOBE SUPPRESSION)
IISLS (IMPROVES ISLS)
FREQ RECEIVER DAN GTC/STC
RSLS (RECEIVER SLS)
FUNGSI MONOPULSE
REPPLY DETECTOR
TARGET DETECTION
TRACK GENERATOR
PLOT GENERATOR
AUTOMATIC DEPENDENT SURVEILANCE-BROADCAST