Tranformasi
Peran Guru
dalam
Kurikulum
Nasional
Melalui
Pendekatan
Oleh:
DeepMiftah
Laerning
Sirojudin BDK
Surabaya
Provinsi Jawa Timur
TAHAPAN IMPLEMENTASI DEEP LEARNING
LATAR BELAKANG
DEEP LEARNING??
Kata Kemendikbud:
Menurunnya kualitas pembelajaran
Literasi dan numerasi yang masih rendah
Guru kurang kreativ dalam mengembangkan keterampilan berpikir
kritis peserta didik
Kompetensi guru yang masih harus selalu ditingkatkan secara
masiv
Pendekatan PM mampu menghasilkan kualitas capaian
pembelajaran yang tinggi, sedangkan metode pembelajaran yang
kurang mendalam cenderung menghasilkan capaian pembelajaran
yang rendah (Smith & Colby, 2007).
Apa sebenarnya Tugas
Seorang Pendidik?
Guru ialah seorang pendidik profesional dengan
tugas utamanya mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi
peserta didik pada pendidikan sejak anak usia dini
melalui jalur formal pendidikan dasar dan
pendidikan menengah.
guru mendorong peserta didik
untuk mengkonstruksi
pengetahuan secara aktif dengan
memanfaatkan berbagai sumber
belajar.
guru bersikap aktif
memberikan respon
terhadap setiap proses
belajar peserta didik.
guru menciptakan lingkungan belajar yang
mendukung peserta
didik belajar, memberikan ruang kepada peserta
didik untuk menciptakan strategi belajarnya sendiri
sehingga peserta didik memiliki kemandirian,
KONSEP
DEEP
LEARNING
Esensi Deep Learning (Pembelajaran Mendalam/PM)
Menurut Mendikbud
Deep Learning adalah
pendekatan pembelajaran yang
menekankan pemahaman
mendalam terhadap konsep,
bukan sekadar hafalan fakta.
Fokus: Mengembangkan
kemampuan berpikir kritis, kreatif,
dan kolaboratif.
Relevansi: Diperlukan untuk
menghadapi tantangan abad ke-
21, seperti problem solving,,
inovasi, dan adaptasi teknologi.
MENGAPA HARUS
DEEP LEARNING??
Proses pembelajaran yang dilakukan guru
masih menggunakan pendekatan maupun
metode pembelajaran tradisional dan tidak
siapnya peserta didik untuk belajar
Pembelajaran masih didominasi ceramah
satu arah
Asesmen yang mengandalkan hanya
hafalan, dan, Proses-proses pembelajaran
lain yang tidak menumbuhkan kemampuan
kreativitas dan berpikir kritis bagi peserta
didik
Dibutuhkan penguatan dimensi profil
lulusan melalui membangun kesadaran
akan pentingnya ilmu yang dipelajari
(Mind-full), pembelajaran yang bermakna
untuk kehidupan sehari-hari (Meaning-
full), dan pembelajaran yang
menyenangkan (Joy-full)
Berbeda dengan pembelajaran
tradisional yang lebih berfokus pada
penguasaan materi secara superficial,
deep learning menekankan pada
pengembangan pemahaman yang
lebih luas, kritis, dan aplikatif
terhadap topik yang dipelajari.
Konsep ini bukan hanya berkaitan
dengan mengingat informasi,
melainkan dengan menghubungkan
dan mengaplikasikan pengetahuan
dalam konteks yang lebih kompleks
dan relevan dalam kehidupan sehari-
hari.
EMPAT KERANGKA KERJA
DEEP LEARNING/PEMBELAJARAN MENDALAM
(PM)
(1) (2) (3) (4)
Dimensi Profil Prinsip Pengalaman Kerangka
Lulusan/DPL Belajar Pembelajaran
Pembelajaran
EMPAT KERANGKA KERJA DEEP LEARNING/
PEMBELAJARAN MENDALAM (PM)
Delapan Dimensi Profil Lulusan dalam
Deep Learning/Pembelajaran Mendalam
(PM)
01 keimanan dan ketakwaan kepada Kewargaan;
02
Tuhan YME;
03 penalaran kritis; 04 Kreativitas;
05
kolaborasi 06 kemandirian
07
kesehatan 08
komunikasi
Dimensi Profil
Lulusan
Dimensi Profil
Lulusan
Dimensi Profil
Lulusan
Dimensi Profil
Lulusan
3-Prinsip
Pembelajaran
(1)
(2)
Lorem ipsum dolor(3)sit amet
consectetur adipiscing elit sed do
eiusmod tempor
Lorem ipsum dolor sit amet
consectetur adipiscing elit sed do
eiusmod tempor
Asmaul Husnah Al-Matiin
Pengalaman
Belajar pada
Deep
Learning
Kerangka Kerja PM ke-3
TIGA PENGALAMAN BELAJAR DEEP LEARNING
(1) (2) (3)
Proses Proses Proses
MEMAHAMI meng-APLIKASI- me-REFLEKSI-kan
kan
Catatan:
Ke tiga pengalaman belajar tersebut masuk dalam kegiatan inti pada RPP/Modul Ajar deep learning
Pengalaman belajar “MEMAHAMI”;
Mengetahui dalam pendekatan PM adalah fase awal
pembelajaran yang bertujuan membangun kesadaran
peserta didik terhadap tujuan pembelajaran, mendorong
peserta didik untuk aktif mengkonstruksi pengetahuan agar
peserta didik dapat memahami secara mendalam konsep
atau materi dari berbagai sumber dan konteks. Jenis
pengetahuan pada fase ini terdiri dari pengetahuan
esensial, pengetahuan aplikatif, dan pengetahuan nilai dan
karakter.
Guru memberikan pengetahuan yang esensial dan
diaplikasikan dalam berbagai konteks, dengan
mengintegrasikan dengan nilai dan karakter. Setelah
memperoleh pengetahuan, tahap ini mendorong peserta
didik untuk memahami informasi yang diperolehnya.
Dengan pendekatan aktif dan konstruktif, peserta didik
tidak hanya menerima pengetahuan secara pasif, sehingga
membentuk fondasi pemahaman yang menjadi dasar untuk
mengaplikasi pengetahuan dalam situasi kontekstual atau
tahapan selanjutnya.
Pengalaman belajar “MENGAPLIKASIKAN”;
Mengaplikasi merupakan pengalaman belajar yang menunjukkan aktivitas
peserta didik mengaplikasikan pengetahuan secara kontekstual. Pengetahuan
yang diperoleh peserta didik pada tahapan memahami diaplikasikan sebagai
proses perluasan pengetahuan.
Tahapan ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menerapkan
pengetahuan baik secara individu maupun kolaboratif. Pendalaman
pengetahuan ini dilakukan dalam bentuk pengalaman belajar pemecahan
masalah, pengambilan keputusan, dan lainlain. Pengaplikasian pengetahuan
ini mengimplementasikan kebiasaan pikiran dalam mengaplikasi pengetahuan
yang melibatkan penerapan pola pikir yang mendukung proses belajar,
pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan secara efektif. Peserta
didik melakukan praktik pemecahan masalah/isu yang kontekstual dan
memberikan pengalaman nyata peserta didik. Guru menghadirkan
isu/masalah dalam konteks lokal/ nasional/ global
atau di dalam dunia profesional. Pendekatan multidisiplin dan interdisiplin
antar materi pelajaran berperan penting pada tahapan ini. Pada tahap ini,
peserta didik membangun solusi kreatif dan inovatif dalam pemecahan
masalah konkret, yang hasilnya dapat berupa produk/kinerja peserta didik.
Keterlibatan peserta didik ini dapat memberikan manfaat tidak hanya
keterampilan akademik namun juga keterampilan hidup sehingga
menumbuhkan kepedulian atas perannya sebagai bagian dari lingkungan
sosial.
Pengalaman belajar “MEREFLEKSI”;
Merefleksi merupakan proses saat peserta didik mengevaluasi dan
memaknai proses serta hasil dari tindakan atau praktik nyata yang
telah mereka lakukan. Refleksi ini bertujuan untuk memahami sejauh
mana tujuan pembelajaran tercapai, serta mengeksplorasi kekuatan,
tantangan, dan area yang perlu diperbaiki.
Tahap refleksi melibatkan regulasi diri sebagai kemampuan individu
untuk mengelola proses belajarnya secara mandiri,
meliputiperencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi
terhadap cara belajar mereka. Regulasi diri memungkinkan siswa
untuk mengambil tanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri,
meningkatkan motivasi intrinsik, dan mencapai tujuan belajar secara
efektif. Dalam proses ini, peserta didik menerima umpan balik yang
spesifik dan relevan dari guru, teman sebaya, komunitas, atau pihak
terkait untuk membantu mereka meningkatkan kompetensi. Refleksi
dilakukan secara personal untuk pengembangan diri dan secara
kontekstual untuk memahami kontribusi dan peran mereka dalam
lingkungan sosial. Dengan refleksi yang efektif, peserta didik tidak
hanya menyadari keberhasilan dan kekurangannya, tetapi juga
mampu merumuskan langkah-langkah konkret untuk perbaikan di
masa depan, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan
berkelanjutan.
HEADLINE SLIDE
KERANGKA PEMBELAJARAN PADA DEEP
LEARNING
1 Praktik Pedagogis
2 Lingkungan Pembelajaran
3 Pemanfaatan Tehnologi Digital
4 Kemitraan Pembelajaran
PRAKTEK PEDAGOGIS
Praktik pedagogis merujuk pada strategi mengajar yang
dipilih guru untuk mencapai tujuan belajar dalam mencapai
dimensi profil lulusan. Untuk mewujudkan PM guru berfokus
pada pengalaman belajar peserta didik yang autentik,
mengutamakan praktik nyata, mendorong keterampilan
berpikir tingkat tinggi dan kolaborasi. Strategi yang dapat
digunakan seperti Pembelajaran Berbasis Inkuiri,
Pembelajaran Berbasis Proyek, Pembelajaran Berbasis
Masalah, Pembelajaran Kolaboratif, Pembelajaran berbasis
Pemikiran Desain (Design Thinking), STEAM (Science,
Technology, Engineering, Arts, Mathematic), SETS (Science,
Environment, Technology, and Society), dan sebagainya
LINGKUNGAN BELAJAR
Lingkungan pembelajaran menekankan integrasi antara
ruang fisik, ruang virtual, dan budaya belajar untuk
mendukung PM. Ruang fisik dan virtual dirancang fleksibel
sebagai tempat yang mendorong kolaborasi, refleksi,
eksplorasi, dan berbagi ide, sehingga dapat
mengakomodasi berbagai gaya belajar peserta didik
dengan optimal. Budaya belajar dalam PM melibatkan
pembentukan norma positif yang berpusat pada nilai-nilai
utama, seperti keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan
YME, penguatan sikap kewarganegaraan, keterampilan
komunikasi, penalaran kritis, kreativitas, pengembangan
sikap kolaborasi dan kemandirian, serta kesehatan jiwa
raga (well-being). Dengan integrasi ini, lingkungan
pembelajaran tidak hanya mendukung perkembangan
pengetahuan, tetapi juga membentuk keterampilan dan
karakter yang holistik sesuai dengan dimensi profil lulusan.
PEMANFAATAN TEHNOLOGI DIGITAL
Pemanfaatan teknologi digital juga memegang
peran penting sebagai katalisator untuk
menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif,
kolaboratif, dan kontekstual. Tersedianya beragam
sumber belajar menjadi peluang menciptakan
pengetahuan bermakna pada peserta didik. Peran
teknologi digital tidak terbatas hanya sebagai alat
presentasi dan penyedia informasi (misalnya
menampilkan materi, video, dan mencari
informasi), namun juga berperan sebagai alat
kolaborasi (misalnya melalui platform workspace
atau platform e-learning), serta merupakan media
yang mendukung eksplorasi dan inovasi peserta
didik sehingga mereka mampu memilih dan
menyaring informasi secara kritis.
KEMITRAAN PEMBELAJARAN
Kemitraan pembelajaran membentuk hubungan
yang dinamis antara guru, peserta didik, orang
tua, komunitas, dan mitra profesional. Pendekatan
ini memindahkan kontrol pembelajaran dari guru
saja menjadi kolaborasi bersama. Guru dapat
membangun peran peserta didik sebagai rekan
belajar yang aktif mendesain dan mengarahkan
strategi belajar mereka. Guru dapat melibatkan
keluarga, masyarakat, atau komunitas sebagai
mitra yang memberikan dukungan serta konteks
otentik dalam pembelajaran. Serta memfasilitasi
koneksi dengan ahli atau mitra profesional untuk
memberikan umpan balik dan meningkatkan
relevansi pembelajaran.
Poin
Karakteristik
Kurikulum dalam
Bahasa
Implementasi
Kedua
PM
n
(1) Dinamis, Fleksibel, dan Responsif
Kurikulum bersifat dinamis, fleksibel dan
responsif, sehingga memungkinkan adanya
pembaruan berdasarkan kebutuhan masyarakat
yang berkembang sesuai dengan kemajuan
teknologi. Kurikulum yang dinamis, fleksibel dan
responsif terhadap perkembangan teknologi dan
sosial budaya akan meningkatkan relevansi
pembelajaran dengan kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, sekolah dapat
mengimplementasikan kurikulum yang
disesuaikan dengan konteks sekolah.
(2) Berpusat pada Peserta Didik
Kurikulum yang responsif terhadap minat,
motivasi, renjana (passion), dan bakat peserta
didik memberikan kesempatan untuk personalisasi
dan memberi ruang bagi peserta didik untuk
menjadi agen dalam perjalanan pembelajaran
mereka. Kurikulum yang berpusat pada peserta
didik akan mendukung pengembangan potensi
setiap individu dan memungkinkan mereka belajar
sesuai dengan gaya serta ritme masing-masing.
(3) pembelajaran Terpadu
Kurikulum memberikan kesempatan kepada peserta didik
untuk mengikuti pembelajaran terpadu multidisiplin dan
antardisiplin. Pembelajaran terpadu menyiapkan peserta
didik agar dapat menghubungkan pengetahuan antar
bidang ilmu dan menerapkannya dalam kehidupan
masyarakat.
(4) Relevan dan Peduli terhadap Lingkungan Masyarakat
Kurikulum memuat substansi pelajaran terkait dengan isu-isu dan
tantangan kehidupan, mendorong peserta didik untuk mampu hidup,
memiliki penghidupan, dan berkontribusi pada kehidupan. Peserta didik
terlibat dalam proyek-proyek belajar yang berhubungan dengan antara
lain kehidupan sosial, kesehatan masyarakat, politik, perubahan iklim,
energi, dan inovasi teknologi. Pembelajaran yang relevan dengan
kehidupan masyarakat akan memberi kesempatan peserta didik
mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif yang
kontekstual.
(5) Pengembangan Ketrampilan Tingkat Tinggi
Kurikulum berorientasi pada pengembangan
keterampilan tingkat tinggi, seperti kreativitas,
pemecahan masalah, kolaborasi, dan berpikir kritis. Oleh
karena itu, desain kurikulum harus berfokus pada
pengembangan keterampilan-keterampilan itu melalui
pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis
penyelidikan, dan pembelajaran berbasis pengalaman.
(6) Pemanfaatan Tehnologi Digital
Karakteristik pedagogi PM memberi perhatian yang besar
terhadap interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan
guru, peserta didik dengan mitra belajar dan pemangku
kepentingan lainnya. Interaksi memberi umpan balik pada
proses pembelajaran yg mencirikan PM. Interaksi akan lebih
optimal terjadi jika pembelajaran memanfaatkan teknologi
digital. Pemanfaatan teknologi digital bahkan untuk wilayah
yang belum terjangkau fasilitas internet dapat dilakukan dengan
berbagai cara seperti sekarang, termasuk Semi Online, atau
Internet
Offline (Digital Library), WAN, LAN dan sebagainya.
Contoh
Poin
Penerap
Bahasa
Kedua
PM
an
n
Pembelajaran Mindful dalam Deep Learning;
Mindful learning adalah proses pembelajaran di
mana siswa belajar dengan kesadaran penuh,
fokus, dan terlibat secara aktif dalam apa yang
sedang mereka pelajari. Mindfulness dalam
pendidikan bukan hanya tentang meditasi, tetapi
juga tentang menciptakan kondisi di mana siswa
merasa nyaman, fokus, dan dapat mengamati
serta memahami materi secara lebih dalam
tanpa gangguan.
Pendekatan mindful juga membantu siswa untuk
lebih sadar akan proses belajar mereka.
Misalnya, guru dapat mengajarkan teknik
mindfulness seperti pernapasan dalam atau
refleksi pribadi sebelum atau sesudah belajar
untuk membantu siswa mengelola emosi dan
stres. Teknik ini membantu siswa untuk tetap
fokus, rileks, dan mampu menyerap materi
dengan lebih baik, sehingga mereka dapat
memahami materi secara mendalam.
Strategi Pembelajaran Mind-ful
1) Mulai dengan “Mengapa” (Purpose First)
Strategi: Jelaskan mengapa materi ini penting bagi
kehidupan siswa (sampaikan dengan memberi gambar, video,
atau cerita — kaitkan dengan manfaat dalam kehidupan sehari-
hari, masa depan mereka, atau isu- isu sosial yang relevan.
Contoh: “Kita belajar tentang perubahan iklim karena ini
memengaruhi masa depan bumi tempat kalian akan hidup dan
membangun keluarga.”
2) Gunakan Refleksi Awal
Strategi: Ajak siswa merenung atau menulis refleksi singkat
tentang apa yang sudah mereka ketahui, dan kenapa menurut
mereka topik itu penting atau tidak penting. Ini
mengaktifkan kesadaran awal dan keterlibatan.
Pertanyaan Pancingan:
“Apa yang kamu tahu tentang topik ini?”
“Apa tujuan dan dampaknya buat hidupmu atau masyarakat?”
Strategi Pembelajaran Mind-ful
3) Koneksi Emosional & Relevansi Personal
Strategi: Ceritakan kisah nyata, kutipan inspiratif, atau gunakan
video/berita yang menggugah perasaan dan relevan dengan materi.
Tujuan: Menumbuhkan rasa ingin tahu dan empati.
4) Inquiry-Based Learning (Pembelajaran Berbasis Pertanyaan)
Strategi: Mulai pelajaran dengan pertanyaan besar atau masalah
nyata yang mendorong keingintahuan. Lebih meyakinkan lagi
jika menampilkan video/gambar fakta terkait materi.
Contoh: “Mengapa ketidaksetaraan masih terjadi di
masyarakat modern?”
Mengapa kita harus belajar berhitung? Dan sebagainya.
5) Latihan Kesadaran Diri Sebelum Belajar
Strategi: Lakukan sesi singkat mindful breathing atau hening sejenak
untuk membantu siswa menenangkan pikiran dan hadir secara penuh
dalam pelajaran. Atau dengan ice breaking konsentrasi (teka-teki,
permainan, dsb), durasi 1-2 menit.
Strategi Pembelajaran Mind-ful
6) Tetapkan Tujuan Belajar Bersama
Strategi: Libatkan siswa dalam merumuskan tujuan belajar
dan kaitkan dengan tujuan pribadi atau cita-cita mereka.
Manfaat: Meningkatkan rasa memiliki terhadap proses
belajar.
7) Dialog Reflektif di Akhir Sesi
Strategi: Tutup pelajaran dengan refleksi, misalnya:
“Apa hal paling bermakna yang kamu pelajari hari ini?”
“Bagaimana pelajaran ini bisa mengubah cara
pandangmu?”
Bisa juga memberi PR tapi berupa tugas, misalnya
membuat kliping iklim-iklim negara ASEAN, dsb.
Pembelajaran Meaningful dalam Deep Learning;
Pembelajaran meaningful adalah proses
pembelajaran di mana siswa merasa bahwa apa
yang mereka pelajari memiliki makna dan
relevansi dalam kehidupan mereka. Pembelajaran
meaningful sangat penting dalam deep learning
karena memungkinkan siswa untuk merasa
bahwa ilmu yang mereka peroleh bukan hanya
sekadar angka atau fakta di atas kertas, tetapi
sesuatu yang berharga dan relevan.
Contoh Dalam pelajaran bahasa Indonesia, guru
dapat mengajak siswa untuk menulis cerita atau
artikel tentang topik yang mereka minati, seperti
cerita tentang lingkungan atau peristiwa lokal.
Melalui tugas seperti ini, siswa akan merasa
bahwa keterampilan menulis dan bahasa yang
mereka pelajari memiliki makna yang lebih dalam
karena bisa disesuaikan dengan minat dan
pengalaman mereka.
Strategi Meaning-
1) fulMateri dengan Kehidupan Nyata
Hubungkan
Strategi: Kaitkan konsep pelajaran dengan situasi nyata yang siswa alami atau
saksikan di sekitarnya.
Contoh: Saat mengajar matematika statistik, gunakan data tentang kebiasaan
konsumsi air di rumah tangga siswa.
2) Gunakan Pertanyaan Bermakna (Essential Questions)
Strategi: Ajukan pertanyaan besar dan terbuka yang tidak memiliki satu jawaban pasti,
tapi mendorong eksplorasi dan refleksi.
Contoh: “Apa arti keadilan dalam kehidupan sehari-hari?”
3) Interdisipliner dan Proyek Nyata (Project-Based Learning)
Strategi: Ajak siswa mengerjakan proyek yang memadukan beberapa mata pelajaran
dan menghasilkan solusi nyata.
Contoh Proyek: Merancang kampanye kebersihan lingkungan sekolah berbasis data
dan komunikasi efektif.
Strategi Meaning-
ful
4) Diskusi Reflektif & Dialog Kritis
Strategi: Ajak siswa untuk berdiskusi, berbagi pendapat, dan mendengarkan
perspektif orang lain, menggali, mencari, melihat secara langsung (observasi).
Manfaat: Membantu mereka mengaitkan pelajaran dengan nilai, emosi, dan
pengalaman pribadi dalam kehidupan sehari-hari.
5) Ciptakan Koneksi Emosional
Strategi: Mulai pelajaran dengan cerita, puisi, atau lagu yang membangkitkan empati
dan rasa ingin tahu, atau video faktual sesuai materi sebagi bahan diskusi.
Contoh: Cerita anak yang putus sekolah karena konflik sosial saat belajar tentang
HAM.
6) Jadikan Guru sebagai Fasilitator, Bukan Sumber Segalanya
Strategi: Dorong siswa mencari, menganalisis, dan membangun pengetahuan
mereka sendiri baik melalui internet, wawancara dengan orang lain dengan
bimbingan guru,.
Pembelajaran Joyful dalam Deep Learning;
Joyful learning atau pembelajaran yang menyenangkan merupakan
elemen penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang
positif. Ketika siswa merasa bahagia dan tertarik selama proses
belajar, mereka lebih mudah untuk menyerap informasi dan
mempertahankan apa yang telah mereka pelajari. Pembelajaran
joyful tidak hanya tentang bermain atau beraktivitas tanpa beban,
tetapi menciptakan pengalaman belajar yang interaktif, menantang,
dan penuh rasa ingin tahu.
Selain itu, joyful learning juga bisa diterapkan melalui kegiatan seni.
Dalam pelajaran sains, siswa dapat diajak untuk membuat model
atau ilustrasi visual dari konsep yang dipelajari, seperti sistem tata
surya atau siklus air. Melalui aktivitas ini, siswa bisa
mengekspresikan kreativitas mereka sambil memahami konsep
ilmiah dengan cara yang lebih menarik dan menyenangkan.
Contoh pembelajaran joyful bisa dilihat dalam penggunaan
gamifikasi. Guru dapat mengubah proses pembelajaran menjadi
permainan dengan memberikan poin, tantangan, atau penghargaan
untuk setiap pencapaian siswa. Misalnya, dalam pelajaran geografi,
siswa dapat diajak bermain permainan kuis berbasis tim di mana
mereka harus menjawab pertanyaan seputar negara, iklim, atau
benua. Kegiatan ini bukan hanya membuat suasana kelas lebih
menyenangkan, tetapi juga mendorong siswa untuk berkolaborasi
dan memotivasi mereka untuk lebih bersemangat dalam belajar.
Strategi Joyful Learning
Strategi Cara dan Contoh
Suasana Kelas Positif Mulai dengan “morning greeting ritual” — saling sapa, tepuk semangat,
atau lagu singkat. Hias sudut kelas dengan karya siswa & warna ceria.
Gamifikasi Ringan Ubah tugas jadi permainan: kuis Kahoot, escape room kertas, “tantangan
misi” berlevel dengan poin & badge sederhana buatan guru
Pilihan & Suara Siswa Beri 2-3 opsi produk akhir: poster, podcast, vlog, atau komik digital. Rasa
otonomi meningkatkan kegembiraan
Integrasi Seni & Gerak Gunakan drama, rap, puisi berantai, atau tari sederhana untuk
menjelaskan konsep (mis. gerak parabola jadi koreografi melengkung).
Break Singkat “Brain Setiap 20–25 mnt, lakukan 1-2 mnt peregangan, tepuk irama, atau mindful
Gym breathing agar energi terjaga
Lingkungan Aman Terapkan aturan “boleh salah, asal belajar”— guru memberi teladan
Emosional menerima kesalahan sebagai bagian proses.
Refleksi Gembira Tutup sesi dengan “Emoji Exit Ticket”: siswa pilih emoji + satu hal paling
seru yang mereka pelajari hari itu.
Asesmen Deep Learning (PM)
o Asesmen pembelajaran yang mengimplementasi PM difokuskan tidak hanya pada asesmen
hasil belajar, tetapi juga asesmen proses yang mengarahkan peserta didik untuk terus
belajar dan berkembang, serta merasakan kegembiraan dalam proses belajar. Asesmen
menjadi sarana refleksi peserta didik dan guru untuk mengembangkan pembelajaran yang
memotivasi, berkesadaran, bermakna, bergembira, dan memberikan pengalaman holistik.
Asesmen dalam penerapan PM memiliki prinsip antara lain keadilan, keterbukaan, objektivitas,
keberlanjutan, holistik, keanekaragaman, integritas, akuntabilitas, responsivitas, dan
keterhubungan dengan tujuan pendidikan. Prinsip-prinsip asesmen ini harus berorientasi pada
peningkatan kualitas pembelajaran, pengembangan kompetensi peserta didik, dan memberikan
gambaran yang akurat tentang pencapaian hasil belajar.
o Pembelajaran Mendalam membutuhkan asesmen formatif yang memberikan umpan balik
berkala yang membantu peserta didik memahami kemajuan belajar mereka, kekuatan, dan
area yang perlu diperbaiki agar peserta didik mampu memperdalam pemahaman mereka dan
melakukan perbaikan proses belajar secara berkelanjutan.
o Pada akhir pembelajaran, asesmen sumatif pada tingkat sekolah memberikan gambaran yang
jelas tentang sejauh mana peserta didik telah memahami dan menguasai materi yang
diajarkan, dan Hasil asesmen ini menjadi indikator pencapaian kompetensi peserta didik secara
keseluruhan.
Strategi Deep
Learning
Pemberian Proyek Otentik: Berikan tugas yang
relevan dengan kehidupan nyata siswa.
Pemanfaatan Teknologi: Gunakan alat digital
untuk memperluas akses belajar
Kontekstualisasi Materi: Kaitkan materi
pembelajaran dengan budaya dan lingkungan
siswa.
Evaluasi Formatif: Fokus pada umpan balik
berkelanjutan untuk memperbaiki proses belajar.
Penguatan Hubungan Guru-Siswa: Guru perlu
membangun hubungan yang mendukung
pembelajaran yang mendalam.
Penerapan Kontekstualisasi Mindful, Meaningful,
dan Joyful Learning dalam Satu Kegiatan Terpadu
Misalnya, dalam program kunjungan
ke hutan mangrove, siswa belajar Proses ini juga Selain itu, Joyful learning
tentang ekosistem hutan mangrove, mindful karena pengalaman ini tercipta melalui
pentingnya menjaga kelestarian alam, siswa harus fokus meaningful karena kegiatan interaktif
dan dampaknya terhadap kehidupan dan mengamati siswa memahami seperti menjelajahi
manusia. Kegiatan ini melibatkan lingkungan sekitar bahwa hutan hutan, berdiskusi
kontekstualisasi, karena siswa dengan seksama. mangrove bukan dengan pemandu
hanya konsep
belajar di lokasi yang nyata dan dapat lokal, dan berinteraksi
abstrak dalam buku,
melihat langsung apa yang mereka langsung dengan
tetapi ekosistem
pelajari. alam.
4 Kunci Deep Learning
(1) Pendidikan Berbasis (2) Kompetensi (3) Transformasi (4) Teknologi dan
Nilai: Pembelajaran yang Holistik: Mencakup Guru: Guru sebagai Konteks Lokal:
mendalam harus kompetensi fasilitator yang Menggunakan
melibatkan aspek moral akademik, mendorong siswa teknologi untuk
dan karakter keterampilan hidup, untuk memperkuat
dan kesadaran mengeksplorasi pembelajaran, tetapi
sosial. dan memahami tetap relevan dengan
secara kritis. kebutuhan masyarakat
setempat
5
Berorientasi pada Proses,
Berbasis Masalah (Problem- Ciri Deep Learning Bukan Hanya Hasil: Fokus
pada perjalanan belajar,
Based Learning): Siswa
bukan sekadar nilai akhir
belajar melalui pemecahan
masalah nyata
Mengintegrasikan Pengetahuan
Memanfaatkan Teknologi Secara Multidisiplin: Menghubungkan
Kolaboratif dan Reflektif: Optimal: Teknologi digunakan sebagai berbagai bidang ilmu untuk
Menekankan diskusi kelompok alat bantu, bukan tujuan utama pemahaman menyeluruh.
dan refleksi pribadi untuk
memperkuat pemahaman
Contoh Pemberian
Proyek Otentik: Berikan
tugas yang relevan
dengan kehidupan nyata
siswa.
Dalam pelajaran biologi tentang ekosistem,
guru dapat membawa siswa ke lingkungan
sekitar untuk mengamati ekosistem lokal.
Melalui observasi langsung, siswa dapat
melihat bagaimana organisme berinteraksi,
memahami rantai makanan, serta dampak
manusia terhadap ekosistem tersebut.
Dalam pelajaran sejarah, siswa bisa diajak untuk menggali
sejarah lokal atau keluarga mereka. Proses ini tidak hanya
membuat siswa lebih dekat dengan pelajaran, tetapi juga
meningkatkan minat mereka dalam memahami asal-usul
dan identitas sosial-budaya mereka sendiri.
Poin
Perencanaan
Bahasa
Pembelajara
Kedua
n
n
Contoh
Poin
Bahasa
Perencanaan
Pembelajaran
Kedua
n
Kesimpulan
Penerapan Kontekstualisasi, Mindful, Meaningful, dan Joyful
Learning dalam Satu Kegiatan Terpadu
3
1 Pembelajaran deep learning Melalui mindful
yang mengintegrasikan
learning, mereka
kontekstualisasi, mindful,
meaningful, dan joyful belajar dengan fokus
learning memberikan dan penuh kesadaran.
pendekatan yang menyeluruh
dalam mendidik siswa
4 Pendekatan meaningful
learning membantu siswa
menemukan makna dari
apa yang mereka pelajari,
2 Dengan kontekstualisasi,
siswa memahami relevansi
materi dalam kehidupan 5 Sementara joyful learning
nyata. menciptakan suasana
belajar yang menyenangkan
dan penuh antusiasme.
Pendekatan pembelajaran ini Pembelajaran deep learning yang Akhirnya.... Selamat
tidak hanya membekali siswa kontekstual, mindful, meaningful, ber ful-ful ria dalam
dengan pengetahuan akademik, dan joyful mendorong siswa untuk
pembelajaran ...
tetapi juga mengembangkan menjadi pembelajar yang
berpengetahuan, bermakna, Berikan yang terbaik
karakter dan keterampilan buat generasi kita.
penuh rasa ingin tahu, dan
hidup yang akan sangat bahagia dalam belajar.
berharga bagi mereka di masa
depan
Terima Kasih Bapak Ibu Guruku..
Teruslah menebarkan ilmu,
Jadikan anak-anak bercahaya
Sesuai bakat, minat
dan kemampuannya