Definisi Manajemen Risiko
ISO 31000
Risk management refers to a coordinated KMK 577/KMK.01/2019
set of activities and methods that is used proses sistematis dan terstruktur yang didukung budaya sadar
01 to direct an organization and to control
the many risks that can affect its ability 02 risiko untuk mengelola risiko organisasi pada tingkat yang
dapat diterima guna memberikan keyakinan yang memadai
to achieve objectives. (Cantino et al.,
2016). dalam pencapaian sasaran organisasi, yang bertujuan untuk:
a) meningkatkan kemungkinan pencapaian visi, misi, sasaran
organisasi dan peningkatan kinerja; dan b) melindungi dan
meningkatkan nilai tambah organisasi.
ERM COSO
03 Enterprise risk management is a process, effected by an
entity’s board of directors, management and other AS/NZS 4360:2004
personnel, applied in strategy setting and across the 04 The culture, processes and structures
enterprise, designed to identify potential events that may
affect the entity, and manage risk to be within its risk that are directed towards realizing
appetite, to provide reasonable assurance regarding the potential opportunities whilst managing
achievement of entity objectives. adverse effects.
Standards and Guidance
“Pedoman Manajemen Risiko
Berbasis Governance” yang “The Orange Book:
diterbitkan oleh Komite Management of Risk-Principles
Nasional Kebijakan Governance and Concepts”
(KNKG) pada tahun 2009.
“SNI 8848-2019
tentang Manajemen
Risiko-Panduan
implementasi SNI ISO
31000:2018 di sektor
publik, yang ditebitkan Australian /New
oleh Badan Zealand Standard
Standarisasi Nasional
4360:2004 Risk
Perpres 39 Tahun (BSN).
2023 “Homeland Security: Applying
Management
tentang Manajemen Risk Management Principles to
AS/NZS
Risiko Pembangunan Guide Federal Investments,
Nasional GAO-07-386T”
Implementasi Kebijakan Manajemen Risiko
Ruang Lingkup Kebijakan
Manajemen Risiko
Infrastruktur Proses
Manajemen Risiko Manajemen Risiko
• Budaya Risiko; • Penetapan Konteks;
• Struktur Manajemen Risiko; • Identifikasi Risiko;
• Sistem Informasi Text • Analisis Risiko;
Manajemen Risiko; dan • Evaluasi Risiko;
• Anggaran Manajemen Risiko • Respons Risiko;
• Informasi dan Komunikasi; Dan
• Pemantauan
PerKada tentang Pedoman MR
di Lingkup Pemerintah Daerah
SK Kepala Dearah tentang Pembentukan Struktur
MR pada Pemerintah Daerah
Sebagai pedoman dalam implementasi Manajemen
Risiko di lingkungan Pemerintah Daerah
Struktur MR di IIA dan Indonesia
Struktur Pemilik dan Pengelola Risiko
Proses MR – Penetapan Konteks
Identifikasi identitas Pemilik Risiko
Identifikasi sasaran strategis dan/atau program
Penetapan
Konteks Identifikasi proses bisnis
Proses penetapan konteks adalah Identifikasi pemangku kepentingan
proses untuk mengenali
lingkungan internal dan eksternal
Penetapan selera risiko Pembangunan
Nasional/Daerah bersifat
lintas sektor, dan pasti
Penetapan kriteria risiko
melibatkan lebih dari satu
unit pemilik risiko
Penetapan matriks analisis risiko
OPD
1) Memfasilitasi dan mengadministrasikan proses
identifikasi dan analisis risiko dalam register
Pengelola Risiko risiko dan peta risiko;
2) Mengadministrasikan kegiatan pengendalian dan
Pemilik Risiko pemantauan risiko serta menuangkannya dalam
Rencana Tindak Pengendalian (RTP); dan
3) Menyelenggarakan catatan historis atas peristiwa
risiko yang terjadi dan menuangkannya ke dalam
1) Memastikan risiko telah diidentifikasi, dinilai, dikelola,
laporan peristiwa risiko; dan
dan dipantau;
4) Melaporkan pelaksanaan manajemen risiko
2) Menentukan tingkat selera risiko yang tepat;
kepada Pemilik Risiko.
3) Mengintegrasikan manajemen risiko ke dalam
pencapaian kinerja dengan menetapkan dan
mendelegasikan pelaksanaan rencana tindak
pengendalian; dan Koordinator Pengelola Risiko
4) Menyampaikan laporan pengelolaan risiko yang
disusun Pengelola Risiko kepada Unit Manajemen Memfasilitasi dan mengadministrasikan laporan
Risiko. pelaksanaan manajemen risiko yang disusun
Pengelola Risiko dan dikirimkan kepada Pemilik
Risiko
Kategori Risiko
Kriteria risiko perlu
ditetapkan untuk
mengevaluasi
signifikasi risiko dan
untuk mendukung
proses pengambilan
keputusan
Kriteria Kemungkinan
Kriteria Kemungkinan
Level Kemungkinan Persentase Jumlah frekuensi Kejadian Toleransi
dalam 1 tahun dalam 1 tahun Rendah
sangat jarang: 1 kejadian dalam
Hampir tidak terjadi (1) 0% < x ≤ 5%
< 2 kali 5 tahun terakhir
jarang: 1 kejadian dalam
Jarang terjadi (2) 5% < x ≤ 10%
2 kali s.d. 5 kali 4 tahun terakhir
cukup sering: 1 kejadian dalam
Kadang terjadi (3) 10% < x ≤ 20%
6 s.d. 9 kali 3 tahun terakhir
sering: 1 kejadian dalam
Sering terjadi (4) 20% < x ≤ 50%
10 kali s.d. 12 kali 2 tahun terakhir
sangat sering: 1 kejadian dalam
Hampir pasti terjadi (5) 50% < x < 100%
> 12 kali 1 tahun terakhir
Kriteria
Dampak
Peta
Risiko
Identifikasi Risiko
kegiatan menginventarisir
peristiwa, penyebab dan
dampak dari peristiwa risiko
yang dapat menghalangi,
menurunkan atau menunda
pencapaian tujuan organisasi.
Dapat dilakukan dengan
brainstorming, root cause
analysis, fault tree analysis,
dlsb.
Identifikasi risiko sektor publik,
tidak cukup hanya untuk risiko
entitas/organisasi. Tapi juga
perlu diidentifikasikan risiko-
risiko dalam perspektif
program/lintas sektor, yang
menjadi risiko pembangunan
nasional/daerah. Identifikasi
risiko pembangunan di suatu
entitas, harus dalam bingkai
identifikasi risiko program
pembangunan
Analisis Risiko
Analisis risiko dilakukan dengan menilai ulang risiko residual baik dampak maupun kemungkinannya
setelah memperhitungkan pengendalian yang sudah ada pada setiap risiko organisasi.
Root Cause Analysis
Penyusunan Risiko
Prioritas
Risiko prioritas meupakan
daftar risiko residual yang
telah melebihi ambang batas
toleransi risiko. Disusun
berdasarkan nilai risiko
residual yang paling banyak.
Jumlah risiko prioritas
disesuaikan dengan toleransi
risiko yang dikehendaki.
RTP
Evaluasi Risiko
Dilakukan untuk mengetahui apakah suatu risiko perlu dilakukan penanganan, atau
diterima. Jika dilakukan penanganan maka risiko mana yang diprioritaskan.
Tahap evaluasi risiko
a. Membandingkan nilai risiko dengan tingkat risiko yang dapat diterima
(risk appettite), dengan mempertimbangkan ancaman dan peluang
yang dihadapi.
b. Memutuskan tindak lanjut terhadap risiko, bila nilai risiko masih pada
tingkat risk appettite maka risiko dapat diterima,
c. Menentukan prioritas risiko
Alternatif Keputusan yang dapat dipilih:
1) Tidak melakukan apa pun.
2) Mempertimbangkan opsi perlakuan risiko.
3) Melakukan analisis lebih lanjut untuk memahami risiko lebih baik.
4) Memelihara pengendalian yang ada.
5) Mempertimbangkan kembali sasaran. (MR Sektor Publik ISO
31000_2018.Pdf, n.d.)
Penanganan Risiko
Tindakan yang dilakukan agar tingkat risiko sampai setidaknya pada tingkat risk appetite yang telah
ditentukan.
Pilihan Penanganan Risiko:
Pertimbangan pemilihan penanganan:
Menghindari risiko, dengan
1. Sasaran organisasi,
01 memutuskan untuk tidak memulai
Mengubah kemungkinan
atau melanjutkan aktivitas yang 2. Kriteria risiko,
04 dan/atau konsekuensi
menimbulkan risiko. 3. Sumber daya yang ada.
Mengambil atau meningkatkan Membagi risiko, misalnya 4. Pertimbangan cost benefit
02 risiko untuk mengejar peluang 05 dengan melibatkan pihak 5. Pandangan dan komitmen stakeholders-
ketiga dengan kontrak. nya.
Menghilangkan sumber 6. Risiko lanjutan dari penanganan risiko
03 risiko.1 Mempertahankan risiko
06 dengan keputusan
terinformasi
Pemantauan
memastikan dan meningkatkan mutu dan efektifitas disain, implementasi dan hasil proses manajemen
risiko
Monitoring dan reviu ada di semua tahapan proses manajemen risiko, dengan memperhatikan:
1. Efektivitas indikator risiko yang digunakan untuk memantau gejala keterjadian risiko.
2. Mekanisme untuk memperoleh data indikator risiko, dan pihak yang menjadi sumber data telah terinformasikan
dan siap mendukung data sesuai kebutuhan.
3. Batasan kemungkinan keterkejadian risiko, batas atas dan batas bawah telah ditetapkan melalui pertimbangan
yang matang.
4. Jadwal pemantauan ditetapkan dengan mempertimbangkan kondisi beban kerja pemantau dan kebutuhan akurasi
pemantauan Permasalahan risk event?
5. Pemantauan berkelanjutan berbasis TI 1. Apakah risiko sudah teridentifikasi di register risiko?
2. Jika sudah, apakah pengendalian sudah dilaksanakan?
3. Jika pengendalian sudah dilaksanakan, berarti belum efektif,
pengendalian tambahan/penguatan pengendalian apa yang
diperlukan?
4. Jika risiko atas permasalahan tersebut belum ada di register
risiko, berarti perlu penambahan risiko di register risiko,
beserta rangkaian proses manajemen risiko nya?
Pemantauan
Pemantauan dilakukan dalam bentuk evaluasi atas
proses manajemen risiko, sedikitnya untuk fokus
berikut:
1. Kepatuhan terhadap ketentuan dan rencana atas
proses manajemen risiko.
2. Efektifitas hasil yang diharapkan dengan yang
dicapai.
3. Perubahan lingkungan yang mempengaruhi
proses manajemen risiko
Pemantauan
ATAS PENGENDALIAN DAN
PENANGANAN
apakah pengendalian yang
ada dan penanganan berjalan
efekttif.
ATAS KETERJADIAN RISIKO
apakah risiko masih terjadi.
ATAS PERINGKAT RISIKO
Apakah terdapat
perubahan peringkat risiko.
Pemantauan
Pemantauan
Pemantauan
Infokom Tingkat OPD dan UMR
• Laporan penyelenggaraan
Pemilik Risiko • Laporan penyelenggaraan
manajemen risiko manajemen risiko
• Laporan efektivitas • Laporan penyelenggaraan • Laporan efektivitas
penyelenggaraan manajemen risiko penyelenggaraan
Manajemen Risiko • Laporan efektivitas Manajemen Risiko
penyelenggaraan
Manajemen Risiko
Pengelola
Kepala Daerah
Risiko OPD
Laporan kegiatan
pemantauan manajemen Kepala
risiko
Unit Daerah
Manajemen
Risiko
Membangun Budaya Risiko
“risk culture as the norms of behavior for groups and individuals within an organization that determine
the collective ability to identify, openly discuss, understand, and act on the organizations current and
future risk.”(HUSSAINI et al., 2018).
Effective
Incentive; benefit dan
TONE FROM THE TOP ACCOUNTABILITY communication and
reward
challenge .
Membangun budaya risiko membutuhkan proses yang panjang, berkelanjutan dan membutuhkan peran dari
seluruh pihak yang ada di organisasi, dan dimulai dari Pimpinan yang memberikan teladan/ tone of the top.
Budaya Risiko
• Pola nilai, keyakinan, sikap, dan perilaku yang terintegrasi dalam proses
pengambilan keputusan, perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan
evaluasi pembangunan nasional, yang bertujuan untuk mengenali,
mengelola, dan memitigasi risiko demi mencapai tujuan pembangunan
berkelanjutan.
• Budaya risiko mencakup komitmen seluruh pemangku kepentingan untuk
memahami risiko strategis, operasional, dan eksternal yang memengaruhi
pencapaian sasaran pembangunan, serta kemampuan adaptif untuk
merespons perubahan lingkungan secara proaktif, akuntabel, dan
berkesinambungan.
Pemimpin nasional dan daerah menunjukkan Mengembangkan kerangka kerja manajemen
risiko pembangunan yang mencakup prinsip,
komitmen nyata terhadap pengelolaan risiko 01
dengan menetapkan visi, kebijakan, dan kebijakan, proses, dan standar yang terintegrasi
strategi yang mendukung budaya risiko dengan perencanaan pembangunan Kerangka
Keteladanan integrasi manajemen risiko Pembentukan 02 kerja panduan pengelolaan risiko
Komitmen
08 Pimpinan. Kerangka
Melakukan evaluasi rutin terhadap
Kerja Risiko Melakukan pelatihan dan pendidikan
implementasi budaya risiko untuk
mengidentifikasi kelemahan dan peluang kepada pejabat pemerintah, pemangku
Evaluasi dan Penguatan kepentingan, dan masyarakat tentang
perbaikan Budaya risiko yang terus
berkembang dan bertahan Perbaikan Kapasitas pentingnya manajemen risiko.
Berkelanjutan. dan Meningkatkan kesadaran publik tentang
Kesadaran dampak risiko terhadap pembangunan
Memberikan penghargaan kepada pihak- Budaya Risiko 03 Peningkatan pemahaman dan ketrampilan
pemangku kepentingan mengelola risiko
pihak yang berhasil mengelola risiko
secara efektif. Memberlakukan sanksi 07 Risiko Integrasi
bagi pelanggaran prinsip dan kebijakan Risiko ke Mengintegrasikan analisis risiko dalam siklus
manajemen risiko Insentif
Pengharagaan
dalam Proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
implementasi budaya risiko secara dan Sanksi pembangunan nasional. Menggunakan data
konsisten Pembangunan
dan teknologi untuk memetakan risiko
Pembangunan strategis dan operasional Pengelolaan
Kolaborasi
Sistem 04 pembangunan berbasis risiko yang adaptif
Meningkatkan koordinasi antar lembaga antar dan responsif terhadap perubahan
Pemangku Pemantauan
pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan
masyarakat dalam pengelolaan risiko. Membentuk 06 Kepentingan
dan Evaluasi Membangun sistem pemantauan risiko yang berfungsi
forum atau platform berbagi informasi risiko Risiko untuk mendeteksi risiko baru dan mengevaluasi efektivitas
secara nasional Kolaborasi lintas sektor pengelolaan risiko. Melibatkan pengawasan eksternal untuk
05 menjamin akuntabilitas Sistem yang memastikan risiko
dikelola secara dinamis dan tepat waktu
Wrap Up
• Risk management is about goal achievement
• Every organization has goals, therefore risk
management is a necessity
• Public sector risk management is always related to
national/regional development which is
cross-sector/involves more than one government entity
• Risk management is more than documentation of risk
management, embedding risk management into
business process and building risk culture are the
heart of risk management implementation
THANK YOU
FOR YOUR
ATTENTION
Contact Us
[Link]
me.aaipi2023@[Link]