ُك َل اَل
لَّس ُم َع ْي ْم َوَر ْح َمُةَا
َك
اللِه َوَبَر ُتُه
ا
BAHASA INDONESIA
Nama Kelompok:
1. MOHAMMAD DEDIK ZAKARIYA
2. DENI PRASETYO
3. MOHAMMAD ASHRULLOH
4. EKO WAHYU NUGROHO
5. MOCHAMMAD RIYO MASFURI
Gejala bahasa adalah bahasa Indonesia
yang cara bacanya berbeda dengan ejaan
huruf kata – kata tersebut seperti
ditambahkan huruf atau dihilangkan.
Gejala bahasa dalam bahasa Indonesia
diistilahkan dengan kerancuan. Rancu
artinya kacau jadi kerancuan artinya
[Link] dirancukan ialah
susunan, perserangkaian, penggabungan.
Gejala bahasa atau peristiwa bahasa itu
di antaranya ialah :
1. Adaptasi, penyesuaian bentuk berdasarkan kaidah
fonologis, kaidah ortografis, atau kaidah morfologi.
2. Analogi, pembentukan kata berdasarkan contoh yang
telah ada.
3. Anaptiksis (Suara Bakti), penyisipan vokal e pepet
untuk melancarkan ucapan disebut juga suara bakti.
4. Asimilasi, proses perubahan bentuk kata karena dua
fonem berbeda disamakan atau dijadikan hampir sama.
5. Disimilasi, kebalikan dari asimilasi, yaitu perubahan
bentuk katam yang terjadi karena dua fonem yang sama
dijadikan berbeda.
6. Diftongisasi, perubahan bentuk kata yang terjadi
karena monoftong diubah menjadi [Link] kebalikan
monoftongisasi.
7. Monoftongisasi, perubahan benluk kata yang terjadi
karena perubahan diftong (vokal rangkap) menjadi
monoftong (vokal tunggal)
8. Sandi (Persandian), perubahan bentuk kata yang
terjadi karena peleburan dua buah vokal yang
berdampingan, dengan akibat jutmlah suku kata
berkurang satu.
9. Hiperkorek,pembetulan bentuk kata yang sebenarnya
sudah betul, sehingga hasilnya justru salah.
[Link], disebut juga kerancuan, yaitu kekacauan
dimana dua pengertian yang berbeda, atau perpaduan
dua buah struktur yang seharusnya tidak dipadukan.
[Link], pergeseran kedudukan fonem, atau
perubahan bentuk kata karena dua fonem atau lebih
dalam suatu kata bergeser tempatnya.
[Link],perubahan fonem di depan bentuk kata asal.
[Link], perubahan bentuk kata yang terjadi karena
penyisipan fonem ke dalam kata asal
[Link], perubahan bentuk kata karena penambahan
fonem di bagian akhir kata asal.
[Link], penghilangan fonem di awal bentuk asal.
[Link], penghilangan fonem di tengah atau di dalam kata
asal.
[Link], penghilangan fonem di akhir bentuk kata asal.
[Link], gejala pemendekan atau penyingkatan suatu
frase menjadi kata baru.
[Link], atau penyengauan, proses penambahan bunyi
sengau atau fonem nasal, yaim /m/, /n/, /ng/, dan /ny/.
[Link], penambahan fonem palatal /y/ pada suatu
kata ketika kata ini dilafalkan.
[Link], penambahan fonem labial /w/ di antara
vokal /u/ dan /a/ yang berdampingan pads sebuah kata.
[Link], proses pembentukan kata berdasarkan tiruan
bunyi-bunyi.
[Link], proses perubahan bentuk kata yang berupa
penghilangan satu suku kata di tengah-tengah kata.
SINONIM
Secara etimologi kata sinonimi atau
disingkat sinonim berasal dari bahasa
Yunani kuno, yaitu onoma yang berarti
‘nama’, dan syn yang berarti ‘dengan’.
Maka secara harfiah kata sinonimi berarti
‘nama lain untuk benda atau hal yang sama’
(Chaer, 1994 :82). Sementara menurut H.G
Tarigan (1993:78) kata sinonim terdiri dari
sin (“sama” atau “serupa”) dan akar kata
onim ”nama” yang bermakna “sebuah kata
yang dikelompokkan dengan kata-kata lain
di dalam klasifikasi yang sama berdasarkan
Ketidakmungkinan kita menukar sebuah kata
dengan kata lain yang bersinonim disebabkan
oleh beberapa hal:
1. Faktor waktu. Misalnya kata hulubalang
bersinonim dengan kata komandan.
2. Faktor tempat atau daerah. Misalnya kata
saya dan beta.
3. Faktor sosial. Misalnya kata aku dan saya.
4. Faktor bidang kegiatan. Misalnya kata
tasawuf, kebatinan, dan mistik adalah tiga
buah kata yang bersinonim.
5. Faktor nuansa makna. Misalnya kata-kata
melihat, melirik, melotot, meninjau, dan
ANTONIM
Kata antonim terdiri dari “anti” atau “ant” yang
berarti lawan ditambah akar kata “onim” atau
“onuma” yang berarti nama; yaitu kata yang
mengandung makna yang berkebalikan atau
berlawanan dengan kata yang lain.
Contoh:
Kuat >< Lemah
Jauh >< Dekat
Pintar >< Bodoh
Muka >< Belakang
Kaya >< Miskin
HOMONIM
Homonim adalah kata yang mempunyai tulisan, dan
bunyi yang sama, tetapi maknanya berbeda.
Contoh :
Amplop
Untuk mengirim surat untuk bapak presiden kita
harus menggunakan amplop (amplop = amplop surat
biasa)
Agar bisa diterima menjadi pns ia memberi amplop
kepada para pejabat (amplop = sogokan atau uang
pelicin)
Bisa
Bu kadir bisa memainkan gitar dengan kakinya (bisa
= mampu)
Bisa ular itu ditampung ke dalam bejana untuk
diteliti (bisa = racun)
ُك َل
َو الَّس َالُم َع ْي ْم َوَر ْح َمُة
َك
اللِه َوَبَر ُتُه
ا