EBM RCT
(RANDOMIZED
CONTROLLED TRIAL)
Apt. NUR ASTUTI
WULANDARI., [Link]
• Randomized Controlled Trial (RCT)adalah prosedur yang
umumnya digunakan pada uji coba obat atau prosedur
medis.
• RCT melibatkan proses pemberian perlakuan kepada subjek
secara acak.
• RCT terutama digunakan pada penelitian klinis, tetapi juga
digunakan untuk sektor lainnya seperti pengadilan,
pendidikan, dan penelitian sosial.
• Pada penelitian RCT tersedia pengelompokan subyek
penelitian yang dilakukan secara random, dan selalu
mengunakan kelompok kontrol sebagai pembanding.
• Dalam penelitian RCT subjek dibagi dalam dua kelompok
secara random.
• Kelompok kontrol adalah kelompok yang tidak menerima
intervensi (kelompok yang menerima placebo).
• Kelompok perlakuan (eksperimen)) adalah kelompok
penelitian yang mendapatkan intervensi.
• Kedua kelompok harus diikuti sejak awal pengobatan
untuk mengetahui apakah efek yang terjadi berbeda.
• Sbjek penelitian secara acak dimasukkan ke kelompok
eksperimen atau kontrol untuk mengurangi bias dan
memastikan bahwa kelompok-kelompok tersebut setara
pada awal studi.
• RCT merupakan studi prospektif, artinya penelitian
dilakukan dengan mengikuti partisipan dari awal hingga
akhir penelitian.
• Hasil penelitian diperoleh dengan mengamati dampak
intervensi pada partisipan selama periode waktu tertentu.
Kelompok Perlakuan Dan Kelompok Kontrol
• Lazimnya dalam sebuah penelitian RCT kelompok
perlakuan adalah kelompok dimana subjek mendapat
obat baru, atau cara pengobatan baru, atau variasi
dosis baru.
• Kelompok kontrol adalah kelompok dimana subjek
mendapatkan obat standar, cara pengobatan standar
atau dosis standar yang sudah lazim diberikan, placebo
hingga vitamin.
• Apabila penelitiannya menggunakan dua buah obat
baru yang perlu dibandingkan maka dalam
menetapkan mana kelompok kontrol dan mana
perlakuan adalah terserah dari si peneliti.
• Tidak semua penelitian RCT mengunakan plasebo sebagai
kontrol.
• Sebagai contoh pada penelitian obat kontrasepsi misalnya,
pemakaian plasebo sebagai kontrol adalah tidak etis karena
semua pasien yang masuk penelitian adalah mereka yang
menghendaki adanya usaha pencegahan kehamilan.
• Demikian juga penelitian tentang efektivitas sebuah antibiotika,
dimana harus dibandingkan dengan antibiotika standar karena
sangat tidak etis kalau seseorang dengan diagnosis infeksi
tertentu hanya diberikan placebo, karena penyakitnya bisa
bertambah parah.
• Hal serupa juga terjadi kalau kita melakukan uji coba obat
antihipertensi.
ALASAN RCT DIANGGAP SEBAGAI STANDAR
EMAS DALAM PENELITIAN
• Pengacakan membantu mengurangi bias dan memastikan
bahwa perbedaan hasil antara kelompok eksperimen dan
kontrol disebabkan oleh intervensi yang diuji, bukan oleh
faktor-faktor lain.
• RCT memberikan tingkat bukti yang kuat untuk
menentukan kausalitas (hubungan sebab-akibat) antara
intervensi dan hasil.
• Desain RCT yang ketat membantu memastikan bahwa
hasil penelitian dapat dipercaya dan diterapkan secara
luas.
HASIL YANG DIHARAPKAN PADA PENELITIAN
YANG MENGGUNAKAN DUA ATAU LEBIH
KELOMPOK PENELITIAN
• Berapa persen penderita yang secara subyektif dan
obyektif mengalami perbaikan pada tiap kelompok.
• Apakah perbedaan tersebut secara klinis dan statistika
bermakna antar kelompok penelitian.
• Hasil dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
dibandingkan untuk menentukan apakah intervensi
memiliki efek yang signifikan
• Berapa persen penderita yang mengalami keluhan efek
samping (misal rasa mual, nyeri lambung dll) pada
masing-masing kelompok.
PROTOKOL PENELITIAN
• Penelitian biasanya timbul dari sebuah problem yang
merupakan kesenjangan antara apa yang ada dan apa yang
seharusnya ada.
• Masalah ini kemudian dituangkan kedalam sebuah
hipotesis spesifik yang selanjutnya diterjemahkan ke dalam
langkah-langkah penelitian mulai dari tujuan sampai cara
analisis datanya. Semua langkah-langkah diatas harus
tertulis dalam sebuah dokumen yang lazim disebut protokol
penelitian.
• Protokol penelitian adalah perjanjian tertulis (informed
konsen) antara peneliti dan subjek.
PROTOKOL PENELITIAN BERISI
• Judul penelitian
• Latar belakang dan rumusan masalah (pertanyaan
penelitian).
• Tujuan Penelitian
• Manfaat penelitian
• Hipotesis
• Rancangan penelitian
• Populasi dan Subyek Penelitian
a. Populasi penelitian
b. Subyek penelitian (Kriteria inklusi dan eksklusi, Besar
sampel, Cara pengambilan sampel).
c. Cara randomisasi.
d. Cara penyamaran (blinding, bila diperlukan).
PROTOKOL PENELITIAN BERISI
• Tempat dan waktu (lama dan jadwal penelitian).
• Bahan, obat dan alat.
• Cara pengumpulan data.
• Cara penilaian hasil.
• Rencana analisis (jenis statistika).
• Lampiran:
a. Borang penelitian.
b. Tim peneliti.
c. Kelayakan etika dan informed consent.
d. Ijin penelitian
e. Sponshorship dan rencana anggaran (bila
diperlukan), dll.
SUBJEK PENELITIAN
• Subyek dalam penelitian harus mencerminkan atau
mewakili subyek dalam masyarakat pada umumnya.
• Ciri subyek dalam masyarakat adalah sangat heterogen,
sehingga tidak mungkin subyek dalam penelitian diambil
begitu saja dari subyek dalam masyarakat.
• Hanya subyek yang memenuhi kriteria inklusi yang dapat
masuk sebagai subyek atau populasi penelitian.
• Secara umum tujuan pemilihan subyek adalah untuk
memperoleh jawaban yang benar, baik apabila terbukti
ada perbedaan antara dua macam perlakuan yang
diberikan atau bila terbukti tidak ada perbedaan.
SUBJEK PENELITIAN
• Tujuan lain adalah untuk menghindari adanya pasien yang
berisiko tinggi terhadap perlakuan dalam arti penelitian
tidak boleh mengakibatkan efek samping yang sangat
serius bahkan fatal.
• Pemilihan pasien juga harus memenuhi kepentingan etika
artinya peneliti harus menerangkan (informed consent)
manfaat dan mudarat keikutsertaan pasien dalam
penelitian.
• Pasien harus orang yang betul betul memahami bahwa
dirinya masuk dalam penelitian dengan segala risiko yang
mungkin akan terjadi.
• Penelitian pada orang yang kurang atau tidak kompeten
harus melibatkan mereka yang bertanggung jawab (misal
bayi dan anak, harus melibatkan orang tua atau walinya).
KRITERIA SUBJEK PENELITIAN
• Pada dasarnya kriteria kelayakan terdiri atas dua unsur
yaitu kriteria inklusi (subyek yang bisa masuk) dan kriteria
eksklusi (subyek yang tidak bisa masuk).
• Jika menyangkut sebuah penyakit maka untuk
memperoleh keseragaman, perlu pula adanya kriteria
diagnosis yang jelas.
• Kriteria inklusi adalah satu batasan yang menyebutkan
syarat tertentu yang membolehkan pasien masuk dalam
penelitian yang meliputi:
1. Ciri biologis dan demografis seperti umur, jenis kelamin,
berat badan, tinggi badan, pendidikan, pekerjaan,
tampat tinggal, dll.
2. Ciri penyakit, tanda dan lama gejala diderita, hasil
laboratorium, stadium penyakit, dll.
KRITERIA SUBJEK PENELITIAN
• Kriteria eksklusi adalah batasan tertentu yang melarang
pasien masuk ke dalam penelitian yang meliputi:
1. Tidak memenuhi kriteria inklusi.
2. Terdapat kontraindikasi dengan obat yang akan diuji.
3. Menderita penyakit lain yang dapat mengganggu hasil
atau sedang dalam pengobatan untuk penyakit yang
lain.
4. Kehamilan (umumnya selalu), kecuali memang uji obat
untuk perempuan hamil.
5. Subyek yang sangat mungkin tidak dapat mengikuti
jadwal follow-up dengan baik, misalnya rumah jauh,
bukan penduduk tetap, dll.
RANDOMISASI
• Penelitian yang benar selalu menuntut adanya kelompok control
yang berfungsi sebagai pembanding terhadap perlakuan baru
yang akan diujicobakan.
• Randomisasi adalah cara terpilih untuk menempatkan subyek ke
dalam kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Subyek yang
dialokasikan secara random mempunyai kesempatan yang sama
untuk masuk ke dalam kelompok perlakuan ataupun kelompok
kontrol bila jumlah sampelnya seimbang.
• Randomisasi menghasilkan kelompok penelitian yang sebanding
dan menjamin bahwa uji statistikanya akan menghasilkan tingkat
kepercayaan yang sahih dan terpercaya.
• Tanpa randomisasi maka peneliti cenderung memilih atau
menolak obat atau pengobatan tertentu dan akan berusaha baik
secara sadar maupun tidak, untuk memasukkan atau
memindahkan subyek ke dalam kelompok tertentu.
RANDOMISASI
• Dengan demikian randomsasi menghindari adannya bias
pengganggu (confounding bias), yakni variabel luar yang
berpotensi mempengaruhi hasil.
• Beberapa cara randomisasi yaitu:
1. Cara bergantian, misal A. B, A, B dst.
2. Menggunakan nomer ganjil dan nomer genap.
3. Mengunakan tanggal lahir (tanggal genap A, ganjil B dst).
4. Cara mengocok kartu.
5. Melempar koin, atau mata uang.
Randomisasi tersembunyi, peneliti tidak mengetahui perlakuan
apa yang akan diberikan pada subyek berikutnya. Untuk maksud
ini biasanya digunakan tabel bilangan random (random number
table) atau bilangan random yang dibuat dengan komputer
(computer generated random number).
BLINDING
• Blinding dimaksud di sini yaitu dimana si peneliti tidak
mengetahui si subjek masuk kedalam kelompok yang mana.
• Blinding harus dilakukan sejak alokasi random, pemberian
perlakuan, penilaian, klasifikasi, analisis dan interpretasi hasil.
• Pada umumnya dikenal tiga blinding yakni single blinding,
double blinding dan triple blinding.
• Single blinding adalah keadaan di mana hanya subyek atau
peneliti yang tidak mengetahui ke dalam kelompok mana subyek
berada,
• Double blinding terjadi bila keduanya (subyek dan peneliti) tidak
mengetahuinya.
• Triple blinding diperoleh bila evaluator adalah bukan peneliti
dan baik subyek, peneliti dan evaluator tidak mengetahui ke
dalam kelompok mana subyek berada, atau perlakuan apa yang
diterima oleh masing-masing subyek.
BLINDING
• Blinding peneliti terhadap perlakuan adalah penting karena bila si
peneliti mengetahui bahwa obat yang diterima pasien diduga
kurang efektif, ia akan berusaha memberi obat tambahan atau akan
melakukan pengontrolan lebih sering dari yang seharusnya seperti
yang ada dalam protokol.
• Blinding subyek terhadap perlakuan juga amat penting sebab bila
subyek mengetahui jenis obat yang ia terima dan ia menduga obat
tersebut tidak efektif atau obat tersebut tidak popular maka ia akan
merasa sulit mendapatkan kesembuhan.
• Hal ini akan menjadi sangat berpengaruh bila outcome yang
diharapkan merupakan keluhan yang bersifat subyektif, seperti
penelitian obat analgetika
RANGKUM
• Langkah awal penelitian RCT yaitu seluruh subyek yang
telah memenuhi kriteria kelayakan dialokasikan secara
random ke dalam dua kelompok yakni kelompok
perlakuan dan kelompok kontrol.
• Sebelum penelitian dilakukan, terlebih dahulu ditentukan
kriteria inklusi & kritaria eksklusi dari subjek penelitian.
• Penempatan subyek secara random (random allocation,
atau random assignment) ke dalam salah satu kelompok
dimaksudkan agar setiap individu mempunyai kesempatan
yang sama untuk mendapatkan baik obat kelompok
kontrol atau kelompok perlakuan.
RANGKUM
• Dengan demikian distribusi cirri-ciri variabel yang relevan
pada masing-masing kelompok bisa sama sehingga
homogenitas subyek di antara keduanya dapat dicapai.
• Cara ini menjamin komparabilitas antara dua kelompok
tersebut dan mengurangi bias yang mungkin terjadi akibat
perbedaan ciri-ciri subyek (variabel luar) yang berpotensi
mengganggu.
• Selanjutnya hasil atau pengaruh masing-masing perlakuan
dibandingkan antara kedua kelompok.
KEKURANGAN PENELITIAN MODEL RCT:
• Biaya dan waktu yang besar
Penelitian RCT seringkali membutuhkan biaya dan
waktu yang besar untuk perencanaan, pelaksanaan, dan
analisis data.
• Keterbatasan generalisasi
Hasil penelitian RCT mungkin tidak dapat
digeneralisasi ke populasi yang lebih luas jika peserta
dalam penelitian tidak mewakili populasi yang lebih luas.
• Keterbatasan etika
Dalam beberapa kasus, penggunaan kelompok
kontrol mungkin tidak etis, misalnya dalam penelitian yang
melibatkan intervensi yang sangat penting.