0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan26 halaman

Panduan Lengkap Pajak Pertambahan Nilai

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas setiap pertambahan nilai barang atau jasa dari produsen ke konsumen. Pengusaha Kena Pajak (PKP) wajib memungut dan menyetor PPN, dengan tarif tunggal sebesar 10%, dan terdapat mekanisme pengkreditan untuk menghindari pajak berganda. Beberapa barang dan jasa, seperti kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan, tidak dikenakan PPN.

Diunggah oleh

hulniwati914
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan26 halaman

Panduan Lengkap Pajak Pertambahan Nilai

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas setiap pertambahan nilai barang atau jasa dari produsen ke konsumen. Pengusaha Kena Pajak (PKP) wajib memungut dan menyetor PPN, dengan tarif tunggal sebesar 10%, dan terdapat mekanisme pengkreditan untuk menghindari pajak berganda. Beberapa barang dan jasa, seperti kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan, tidak dikenakan PPN.

Diunggah oleh

hulniwati914
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

(PPN)

Megister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas


Mataram
PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

PENGERTIA
N

SUBJECT
PP OBJECT
N
KARAKTERISTI
K
Pengertian Pajak Pertambahan
Nilai (PPN)

adalah pajak yang dikenakan atas setiap


pertambahan nilai dari barang atau jasa
dalam peredarannya dari produsen ke
konsumen atau secara cuma-cuma/
hadiah.
SUBJECT PPN

Bukan Subject PPN

Penguasaha kecil
yang batasannya
diatur oleh
PENGUSAH Peraturan Menteri
A KENA Keuangan Nomor :
522/KMK.04/2000,
PAJAK tidak termasuk
subject pajak
Pengusaha Kena Pajak

adalah pengusaha yang melakukan


penyerahan Barang Kena Pajak
dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak
yang dikenai pajak berdasarkan
Undang-Undang ini.
Batasan Pengusaha Kecil utk memilih
menjadi PKP.

a. Pengusaha yang dalam satu tahun buku melakukan penyerahan Barang


Kena Pajak tidak lebih dari Rp. 360 Juta ; atau
b. Pengusaha yang dalam satu tahun buku melakukan penyerahan Jasa
Kena Pajak tidak lebih dari Rp. 180 Juta ; atau
c. Pengusaha yang dalam satu tahun buku melakukan penyerahan Barang
Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak tidak lebih dari Rp. 360 Juta, dalam hal
penyerahan Barang Kena Pajak yang dilakukannya lebih besar daripada
penyerahan Jasa Kena Pajak ; atau.
d. Pengusaha yang dalam satu tahun buku melakukan penyerahan Barang
Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak tidak lebih dari Rp. 180 Juta, dalam hal
penyerahan Jasa Kena Pajak yang dilakukannya lebih besar atau sama
dengan penyerahan Barang Kena Pajak.
Wajib Pajak pada PPN adl PKP yang
melakukan :

1. Penyerahan barang kena pajak di dalam daerah


pabean;
2. Impor barang kena pajak;
3. Penyerahan jasa kena pajak di dalam daerah pabean;
4. Pemanfaatan barang kena pajak tidak berwujud dari
luar daerah pabean di dalam daerah pabean;
5. Pemanfaatan jasa kena pajak tidak berwujud dari luar
daerah pabean di dalam daerah pabean; atau
6. Ekspor barang kena pajak.
OBJECT PPN • Bukan Object Pajak

BARANG DAN JASA • Pasal 4 ayat (2)


(Pasal 4 ayat (1) • Pasal 4 ayat (3)
OBYEK PPN

a. penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang


dilakukan oleh pengusaha;
b. impor Barang Kena Pajak;
c. penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang
dilakukan oleh pengusaha;
d. pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar
Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean;
e. pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam
Daerah Pabean;
f. ekspor Barang Kena Pajak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak;
g. ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud oleh Pengusaha Kena
Pajak; dan
h. ekspor Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak.
Jenis barang yang tidak dikenai PPN

a. barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil


langsung dari sumbernya;
b. barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat
banyak;
c. makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah
makan, warung, dan sejenisnya, meliputi makanan dan
minuman baik yang dikonsumsi di tempat maupun tidak,
termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha
jasa boga atau katering; dan
d. uang, emas batangan, dan surat berharga.
Jenis jasa yang tidak dikenai PPN, al :

1. Jasa pelayanan kesehatan


2. Pengiriman via perangko pt pos
3. Pelayanan social
4. Bidang keagamaan
5. Pendidikan
Jenis Pemungutan

 PPN termasuk jenis pajak tidak


langsung, karena pajak tersebut
disetor oleh pihak lain sebagai
pemungut, yang bukan penanggung
pajak.
Cara Pemungutan

 Mekanisme pemungutan,
penyetoran, dan pelaporan PPN
ada pada pihak pedagang atau
produsen sehingga muncul istilah
Pengusaha Kena Pajak (PKP)
Istilah dalam pemungutan

 Dalam perhitungan PPN yang harus disetor


oleh PKP, dikenal istilah pajak keluaran dan
pajak masukan.
 Pajak keluaran adalah PPN yang dipungut
ketika PKP menjual produknya, sedangkan
pajak masukan adalah PPN yang dibayar
ketika PKP membeli, memperoleh, atau
membuat produknya.
Tarif PPN

Indonesia menganut sistem tarif


tunggal untuk PPN, yaitu sebesar
10 persen, dengan fleksibilitas
untuk dinaikkan hingga 15% atau
diturunkan hingga 5%.
Dasar Hukumnya

Dasar hukum utama yang digunakan


untuk penerapan PPN di Indonesia
adalah Undang-Undang No. 8/1983
berikut revisinya, yaitu Undang-
Undang No. 11/1994 dan Undang-
Undang No. 18/2000, terakhir UU No.
42 /2009.
Mekanisme Pengenaan PPN, sbb:

 Pada saat membeli/memperoleh BKP/JKP, akan dipungut PPN oleh PKP


penjual. Bagi pembeli, PPN yang dipungut oleh PKP penjual merupakan
pembayaran pajak di muka atau disebut Pajak Masukan. Pembeli
berhak menerima bukti pemungutan berupa faktur pajak. Pada saat
menjual/menyerahkan BKP/JKP kepada pihak lain, wajib memungut PPN.
 Bagi penjual, PPN tersebut merupakan Pajak Keluaran. Sebagai bukti
telah memungut PPN, PKP penjual wajib membuat faktur. Apabila dalam
suatu masa pajak (jangka waktu yang lamanya sama dengan satu bulan
takwin) jumlah Pajak Keluaran lebih besar dari pada jumlah Pajak
Masukan, selisihnya harus disetorkan ke kas negara. Apabila dalam
suatu masa pajak jumlah Pajak Keluaran lebih kecil daripada Pajak
Masukan, selisihnya dapat direstitusi (diminta kembali) atau
dikompensasi ke masa pajak berikutnya.
Pelaporan penghitungan PPN

Pelaporan penghitungan PPN dilakukan setiap masa pajak dengan menggunakan


Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN)
Contoh :
Sepanjang bulan Maret 2012, PT ABC mempunyai transaksi sbb :
Membeli BB seharga Rp. 100.000.000 (dipungut PPN sebesar Rp. 10.000.000)
Membeli BB Penolong seharga Rp.40.000.000 (dipungut PPN sebesar Rp.
4.000.000) Menjual produknya seharga Rp. 200.000.000 (memungut PPN
sebesar Rp. 20.000.000)
Perhitungan PPn :
Jumlah pajak keluaran 20.000.000
Jumlah pajak masukan 14.000.000
PPn kurang bayar 6.000.000
Jumlah PPn kurang bayar sebesar Rp. 6.000.000 ini harus disetor kan ke kas
negara.
CARA MENGHITUNG PPN

CONTOH :
Pengusaha Kena Pajak “A” menjual tunai BKP kepada
pengusaha kena pajak “B” dengan Harga jual Rp.
25.000.000,
PPN terutang :10% X 25.000.000 =Rp. 2.500.000
PPN sebesar Rp 2.500.000 itu merupakan Pajak Keluaran
yang dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak “A”.
Sedangkan bagi Pengusaha Kena Pajak “B”, PPN
tersebut merupakan Pajak Masukan.
Karakteristik Pajak
Pertambahan Nilai
(PPN)
a. Pajak Objektif.

Yang dimaksud dengan pajak objektif


adalah suatu jenis pajak yang timbulnya
kewajiban pajaknya sangat ditentukan
oleh objek pajak. Keadaan subjek pajak
tidak menjadi penentu kecuali untuk
kasus tertentu.
b. Dikenakan pada setiap rantai distribusi (Multi
Stage Tax).

Sepanjang suatu transaksi memenuhi


syarat sebagaimana diatur dalam
peraturan perundang-undangan, maka
pihak PKP Penjual berkewajiban
memungut PPN atas transaksi yang
terjadi dan kemudian menyetorkan ke
Kas Negara dan melaporkannya.
c. Menggunakan mekanisme pengkreditan.

Sesuai dengan namanya maka pada hakekatnya PPN


hanya dikenakan atas nilai tambah yang terjadi atas
BKP karena adanya proses pabrikasi maupun
distribusi. Oleh karena itu PPN yang terutang dalam
suatu Masa Pajak diperhitungkan terlebih dahulu
dengan PPN yang telah dibayarkan oleh PKP pada
saat pembelian bahan baku dan factor produksi
lainnya, sehingga meskipun PPN dikenakan beberapa
kali namun tidak menimbulkan efek pajak berganda.
d. Merupakan pajak atas konsumsi
dalam negeri.

 Oleh karena itu salah satu syarat


dikenakannya PPN atas suatu transaksi
adalah bahwa BKP/JKP dikonsumsi di dalam
Daerah Pabean.
 Hal inilah yang mendasari pengenaan PPN
dengan tarif 0% atas kegiatan ekspor
sedangkan untuk kegiatan impor tetap
dikenakan PPN 10%.
e. Merupakan beban konsumen
akhir.
PPN merupakan pajak tidak langsung
sehingga beban pajaknya bisa dialihkan
oleh PKP. Pengenaan PPN yang
dilakukan beberapa kali tidak menjadi
beban PKP karena beban PPN tersebut
pada akhirnya akan dialihkan kepada
konsumen yang menikmati BKP pada
rantai terakhir.
f. Netral terhadap persaingan.

PPN bukan merupakan beban yang


menambah harga pokok penjualan
karena PPN menganut system
pengkreditan yang memungkinkan PPN
yang dibayarkan pada saat pembelian
diperhitungkan dengan PPN yang harus
dipungut saat penjualan.
g. Menganut destination principle.

Untuk menentukan suatu transaksi


dikenakan PPN atau tidak, terlebih
dahulu harus dilihat di Negara mana
pihak konsumen berada. Apabila
konsumen berada di luar negeri maka
transaksi tersebut tidak dikenakan PPN
karena PPN adalah pajak atas konsumsi
dalam negeri.

Anda mungkin juga menyukai