TEORI
SERVICE-
DOMINANT
LOGIC (SDL)
KELOMPOK 1
Service-Dominant Logic
◦ Service-Dominant Logic (SDL) diperkenalkan oleh
Stephen Vargo dan Robert Lusch pada tahun 2004. SDL
merupakan paradigma baru dalam ilmu pemasaran
yang menggantikan logika lama yang berpusat pada
produk (Goods-Dominant Logic). Dalam SDL, layanan
(service) bukan hanya bagian dari penawaran, tetapi
menjadi dasar utama dari pertukaran nilai antara
produsen dan konsumen.
Definisi
◦ SDL adalah pendekatan pemasaran yang menekankan
bahwa layanan, bukan barang, adalah dasar dari
pertukaran ekonomi. Dalam SDL, pelanggan bukan
hanya penerima nilai, tetapi juga pencipta nilai (co-
creator). Perusahaan berperan sebagai fasilitator nilai
melalui penawaran dan sumber daya.
Karakteristik Service-
Dominant Logic
1. Layanan adalah dasar pertukaran.
2. Nilai tidak melekat pada produk tetapi dikreasikan
saat penggunaan (value-in-use).
3. Pelanggan terlibat secara aktif sebagai co-creator.
4. Barang dianggap sebagai pembawa layanan, bukan
fokus utama.
5. Relasi jangka panjang antara pelanggan dan penyedia
layanan lebih diutamakan dibanding transaksi jangka
pendek.
Premis Fundamental
Service-Dominant Logic
◦ SDL memiliki 11 premis fundamental, antara lain:
- FP1: Layanan adalah dasar pertukaran.
- FP6: Pelanggan selalu co-creator dari nilai.
- FP9: Semua aktor ekonomi dan sosial adalah
integrator sumber daya.
Premis-premis ini membentuk kerangka kerja untuk
memahami interaksi dan penciptaan nilai dalam
konteks layanan.
Perbedaan GDL dan SDL
◦ Goods-Dominant Logic (GDL) menekankan pada
produksi dan distribusi barang sebagai inti dari bisnis.
Sedangkan SDL menekankan bahwa layanan dan
hubungan dengan pelanggan merupakan nilai utama.
◦ Dalam GDL, nilai dipandang melekat pada produk dan
dikirim ke pelanggan. Dalam SDL, nilai muncul dari
penggunaan dan interaksi bersama.
Konsep Nilai dalam Service-
Dominant Logic
◦ Nilai tidak melekat pada suatu produk atau layanan,
melainkan tercipta ketika pelanggan menggunakan dan
mengintegrasikan layanan tersebut dalam konteks
mereka sendiri. Konsep ini disebut sebagai 'value-in-
use'. Ini berbeda dari 'value-in-exchange' yang
digunakan dalam GDL.
Co-Creation dan Resource
Integration
◦ Dalam Service-Dominant Logic, pelanggan dianggap
sebagai co-creator nilai. Mereka tidak pasif menerima
produk, tetapi aktif dalam menciptakan manfaat.
Selain itu, semua aktor dianggap sebagai integrator
sumber daya (resource integrators), yang berarti setiap
pihak membawa sumber daya yang dapat digabungkan
untuk menciptakan nilai.
Contoh Penerapan Service-
Dominant Logic
◦ Spotify: Menyediakan layanan mendengarkan musik
tanpa menjual produk fisik.
◦ Grab: Menawarkan layanan transportasi, bukan
kendaraan.
◦ Airbnb: Menyediakan platform untuk berbagi tempat
tinggal, bukan hotel konvensional.
Semua contoh ini menunjukkan layanan sebagai inti
pertukaran, bukan produk.
Implikasi Bisnis dari
Service-Dominant Logic
◦ Service-Dominant Logic mendorong bisnis untuk
berfokus pada relasi jangka panjang, pemahaman
mendalam terhadap kebutuhan pelanggan, dan
pengembangan inovasi layanan. Bisnis harus mampu
menjadi fasilitator nilai, bukan hanya produsen. Ini
berdampak pada desain strategi, model bisnis, dan
pengalaman pelanggan.
Kelebihan dan Kelemahan
Service-Dominant Logic
◦ Kelebihan:
- Relevan di era digital dan ekonomi berbasis layanan.
- Mendorong inovasi dan orientasi pelanggan.
◦ Kelemahan:
- Implementasi kompleks di organisasi tradisional.
- Konsep co-creation seringkali sulit dipahami dan
dijalankan secara nyata.
Kesimpulan
◦ Service-Dominant Logic menawarkan cara pandang
baru terhadap pemasaran dan penciptaan nilai. Dengan
SDL, perusahaan dituntut untuk melihat pelanggan
sebagai mitra dan berfokus pada pemberian layanan
yang menciptakan pengalaman bermakna. Paradigma
ini sangat relevan untuk model bisnis modern yang
berbasis platform, teknologi, dan hubungan jangka
panjang.
CONTOH KERANGKA
CONTOH KERANGKA