0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan29 halaman

Stabilitas dan Teori Emulsi Farmasi

Dokumen ini membahas tentang dispersi kasar dalam farmasi, dengan fokus pada suspensi dan emulsi, termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas, pembuatan, dan evaluasi emulsi. Terdapat penjelasan mengenai teori emulsifikasi, jenis-jenis emulsifier, serta proses-proses ketidakstabilan seperti flokulasi dan koalesensi. Selain itu, dokumen ini juga mencakup aplikasi emulsi dalam sediaan farmasi dan pentingnya kestabilan fisik emulsi.

Diunggah oleh

roissovyan03
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan29 halaman

Stabilitas dan Teori Emulsi Farmasi

Dokumen ini membahas tentang dispersi kasar dalam farmasi, dengan fokus pada suspensi dan emulsi, termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas, pembuatan, dan evaluasi emulsi. Terdapat penjelasan mengenai teori emulsifikasi, jenis-jenis emulsifier, serta proses-proses ketidakstabilan seperti flokulasi dan koalesensi. Selain itu, dokumen ini juga mencakup aplikasi emulsi dalam sediaan farmasi dan pentingnya kestabilan fisik emulsi.

Diunggah oleh

roissovyan03
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DISPERSI KASAR

TIM DOSEN

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI ALKAMAL


JAKARTA
Suspensi Farmasetik Emulsi Farmasetik
1. Suspensi yang baik 1. Pengemulsi
2. Faktor yang 2. Identifikasi tipe
mempengaruhi emulsi
stabilitas suspensi
3. Ketidakstabilan
3. Sedimentasi
emulsi
 Teori dan kecepatan
sedimentasi 4. Dispersi kasar
 Parameter sedimentasi :
volume sedimentasi dan
derajat flokulasi
4. Pembuatan suspensi
stabil secara fisik

DISPERSI KASAR
EMULSI
Kegunaan dalam Farmasi
1.
2. Teori emulsifikasi
1. Bahan
a.
b.
Adsorpsi monomolekuler,
Adsorpsi multimolekuler-
Pengemulsi
Identifikasi tipe
pembentukan film,
c. Adsorpsi partikel padat 2.
3. Kestabilan Fisik emulsi:
a. Flokulasi dan creaming
emulsi
b. coalescence dan breaking
c. Perubahan fisika dan kimia, 3. Ketidakstabilan
d. inversi fase
4. Creaming dan hukum emulsi
Stokes,
5. Coalescence dan breaking,
6. Evaluasi stabilitas
7. Inversi fase
8. Pengawetan Emulsi
9. Sifat Rheologi Emulsi
10. Mikroemulsi
EMULSI

- sistem tidak stabil secara thermodinamika; terdiri dari


sedikitnya dua fase cair yang tidak bercampur dan
terdispersi antara dua fase
- mencapai keadaan stabil; penambahan pengemulsi
- rentang viskositas rendah (lotio) hingga bentuk
semisolid (salep, krem)
- diameter partikel berkisar 0,1-10µm

EMULSI, SISTEM YANG TIDAK STABIL SECARA TERMODINAMIKA


DAN CENDRUNG MEMISAH MENJADI DUA FASE MELALUI
FUSION DAN COALESCENCE TETESAN JIKA TIDAK
DITAMBAHKAN THE THIRD COMPONENT(EMULSIFIER).

4
 Tipe emulsi
• Sifat polar/non polar salah satu fase
• Pemakaian sediaan; oral, permukaan kulit, parenteral
(injeksi)
• Tipe minyak/air, air/minyak, multi emulsi (m/a/m,
a/m/a)

 Tipe emulsi ditentukan o/ ratio fase jk nilainya besar ex.


5% air dan 95 % minyak (19:1) maka akan terbentuk
emulsi w/o.

 Vol fase/rasio vol-fase merupakan rasio vol fase internal


terhadap total vol emulsi

 Emulsi diklasifikasi menjadi minyak dlm air (m/a) & air


dlm minyak (a/m), tergantung fase kontinyu air atau
minyak
5

Sediaan dalam Farmasi
Emulsi Dermatologi
Emulsi Oral
Emulsi Parenteral

 Penerapan farmasetika
• Kemampuan absorbsi dr beberapa seny
tertentu, co : vitamin
• Alternatif pemberian sediaan
• Penyebaran sediaan scr merata & tdk lengket
(u pemakaian luar), mudah tercuci u keadaan
tertentu
Teori Emulsifikasi
 Emulsi : Sediaan cair yang terdiri dari dua
cairan yg tidak bercampur diaduk sehingga
salah satu cairan terdispersi dalam bentuk
tetesan kecil dalam cairan yang lain, dan
distabilkan dengan bahan pengemulsi.
 Secara termodinamika, emulsi tidak stabil dan
cenderung memisah kembali.
 Tipe emulgator ; kestabilan produk & tipe
emulsi
 Tujuan emulsifikasi adalah memperoleh emulsi
yang stabil
 U mencegah penggabungan globul minyak
perlu d+kan zat pengemulsi
Teori Emulsifikasi
• Proses pencampuran; energi bebas permukaan,
tegangan antarmuka pd batas antar cairan
(kohesi > adesi)
• Zat aktif permukaan yg teradsorpsi membentuk
lap monomolekuler; pengurangan energi
permukaan, gaya kohesif dan adhesif, gaya van
der waals,
• Tipe emulsi dipengaruhi nilai HLB, co: TEA,span
80,tween 80
• Adsoprsi molekuler, co: polimer, tdk
menurunkan teg antarmuka & membentuk lap
multimolekuler pd antarmuka, kenaikan
viskositas, cenderung membentuk tipe m/a
• Adsoprsi partikel padat, co: bentonit, veegum,
• Kegagalan untuk tetap terdispersi
disebabkan gaya kohesi lebih besar dari
gaya adhesi
 Sifat alir emulsi
volume fase, distribusi ukuran partikel,
viskositas fase dalam
• Pengeluaran dari wadah
• Distribusi/penyebaran
• Sistem Non-Newtonian

Emulsi o/w tanpa penembahan emulsifier


memperlihatkan flokulasi dan koalescen yang
cepat, shg dpt dibuat lbh stabil dgn
penambahan paling kurang satu emulsifier
yang akan berperan dalam :
1. Memperlambat flokulasi & koalescensi
tetesan dg cara mencegah pergerakan
tetesan mel peningkatan viskositas fase
kontinyu.
2. Melindungi tetesan melalui halangan energi
Emulsifying Agent
 Untuk menghindari koalesense, digunakan
emulsifying agent yang akan membentuk film
di sekitar globul
 Jenis emulsifying agent:
◦ Surfaktan yg teradsorpsi pada antarmuka
minyak-air membentuk film monomolekuler dan
mengurangi tegangan antarmuka
◦ Koloid Hidrofilik yang membentuk
multimolekuler film di sekeliling globul minyak yg
terdispersi dalam emulsi o/w
◦ Partikel padat yang sangat halus yang
teradsorpsi pada antarmuka antara dua cairan yg
tdk tercampur yang membentuk film partikel di
sekitar globul yg terdispersi
Emulsifying Agent
Adsorpsi Multi Molekuler dan
Pembentukan Film
 Penggunaan hydrated lyophilic colloids sebagai
emulsifying agent menurun karena adanya
surfaktan sintetik.
 hydrated lyophilic colloids berbeda dengan
surfaktan sintetik:
a. tidak menimbulkan penurunan tegangan
antarmuka
b. membentuk multilayer, bukan monolayer, film
pada antarmuka
c. aksi emulsifying agent nya terletak pada
multilayernya: lapisan multilayer yg kuat dan
menahan koalesense
 Kebanyakan lapisan multilayer membentuk
emulsi o/w karena hidrofilik
Adsorpsi Partikulat
Partikel sangat halus yang
dibasahi dapat bertindak sebagai
emulsifying agent, karena
terkonsentrasi pada antar muka,
yang akan membentuk lapisan
disekeliling droplet terdispersi
untuk mencegah koalesens
Powder wetted by water: o/w
emulsion
Powder wetted by oil: w/o
Kestabilan Fisik Emulsi
 Emulsi stabil:
₋ Tidak ada koalesense pada fase internal
₋ Tidak ada creaming
₋ Dapat mempertahankan penampilan yang elegan : bau, warna dan
sifat fisik lain.
 Emulsi tidak stabil
₋ Aglomerasi fase terdispersi
₋ Pemisahan produk
 Creaming sebagai hasil dari flokulasi dan konsentrasi globul
pada fase internal – kadang2 bukan tanda ketidakstabilan.
 Emulsi merupakan sistem yang dinamis sehingga Flokulasi
dan creaming adalah tahap awal koalesense fase internal.
 Creaming: ketidakseragaman distribusi obat/dosis – kocok
dahulu
 Inversi fase penting dalam preparasi dan stabilisasi emulsi
Kestabilan Emulsi
[Link] dan creaming
[Link] dan
breaking
c. Perubahan fisika dan
kimia lain
[Link] fase
Untuk menurunkan kecepatan
creaming dapat dilakukan dengan
meningkatkan viskositas fase
eksternal dengan penambahan
viscosity improver atai thickening
agent, tanpa melebihi batas
Coalescence and Breaking
Creaming berbeda dengan breaking:
creaming – reversible, breaking –
irreversible
Creaming bisa dikocok kembali karena
film yg menyelimutinya masih ada, pada
breaking selimutnya sudah rusak dan
minyak cenderung untuk coalescence
Meningkatkan stabilitas :
◦ ukuran partikel kecil dan homogen
◦ Pengaruh viskositas cukup kecil dalam emulsi
yang stabil
◦ Elektrostatik repulsion
STABILITAS EMULSI
Emulsi tidak stabil secara fisik
jika :
a. Terjadi agregasi fase terdispersi
membentuk agregat atau globul,
b. Globul atau agregat yang besar
bergerak ke atas atau turun ke
bawah membentuk lapisan fase
terdispersi (Creaming)
c. Terjadi pemisahan fasa
Aggregation and
Coalescence
 Creaming : Agregat atau
globul dari fase internal
cenderung naik ke atas
emulsi atau jatuh ke bawah
 Tidak ada coalesence
 proses reversibel.
 dapat didistribusikan lebih
homogen setelah
pengocokan
 Secara estetika creaming
kurang menarik bagi
konsumen.
 Berpotensi terjadi coalesense
Persamaan Stokes
 laju pemisahan fasa terdispersi emulsi terkait faktor-
faktor :
◦ ukuran partikel
◦ perbedaan densitas antara fase terdispersi dan fase pendispersi
◦ viskositas fase eksternal
 Tingkat pemisahan meningkat dengan
◦ peningkatan ukuran partikel dari fase internal,
◦ Perbedaan densitas yang lebih besar antara dua fase,
◦ penurunan viskositas dari fase eksternal.
 Oleh karena itu, untuk meningkatkan stabilitas emulsi,
◦ globul atau partikel Ukuran harus dikurangi sehalus mungkin,
◦ perbedaan kepadatan antara fase internal dan eksternal harus
minimal,
◦ viskositas fase eksternal harus cukup tinggi.
 Pengental seperti tragakan dan mikrokristalin selulosa
sering ditambahkan ke emulsi untuk meningkatkan
viskositas fase eksternal.
Instability processes in an
emulsion

flocculati
Emulsion on
Ostwal
ripening

coalesenc
e

creaming
Phase
invertion
Stabilitas Fisik Emulsi
Creaming, Flocculation,
Coalescence
Bentuk emulsi khusus
 Emulsi ganda
- a/m/a atau m/a/m
- Co : emulsi a/m didispersikan dlm lar air dr zat
pengemulsi m/a (exp:Tween 80) dlm
homogenizer/penggiling koloidmembntuk
emulsi a/m/a
- untuk memperpanjang kerja obat (sustained
release/extended release)
Mikroemulsi
- fenomena solubilisasi (solubilized solution),
larutan transapran/jernih,
- Kestabilan berada diantara larutan solubilisasi
(stabil secara termodinamika) dan emulsi (relatif24
◦ Microemulsi : penampilan fisik transparan,
terbentuk secara spontan karena TAM rendah &
stabil secara termodinamika,
◦ t’masuk swollen micellar syst berada diantara
misel dgn makroemulsi (emulsi kasar)
◦ Berupa tetesan m/a atau a/m dengan diameter ±
10-200 nm dan fraksi volume terdispersi 0,2-0,8
◦ Mikroemulsi tdd:minyak (10 – 70%), air (10 –
70%), surfaktan & co-surfaktan (5 – 40%)
◦ Surfaktan ionik tunggal atau non-ionik tunggal
tdk dpt TAM sampai 0membutuhkan co-
surfaktanmembentuk lap yg teradsoprsi pd
partikel & mencegah penggumpalan
◦ Mikroemulsi m/a membutuhkan co-surfaktan lbh
sedikit dibandingkan tipe a/m
◦ Diameter misel 50 Ao ; harga ini 1% dr panjang
gel cahaya, shg misel tdk dpt dideteksi scr visual
& lar transparan.
◦ Fenomena Asosiasi surfaktan :
surfaktan ionik na dodesilsulfat larut dlm air pd
konsentrasi rendah bersifat sbg garam ion na & ion
dodesilsulfat, jk konsentrasi ad CMC, hampir
semua surfaktan berasosiasi membentuk misel,
dimana gugus polar pd bag dalam, sementara
gugus nonpolar pd permukaan.
◦ Senyawa hidrokarbon, alkohol rantai panjang,
ester, asam karboksilat & senyawa organik sukar
larut air akan terlarut pd inti miselfenomena
solubilisasi.
◦ Solubilisasi yg lbh besar dpt dicapai jk dirubah
larutan micellar menjadi mikroemulsi, yaitu dgn
penambahan co-surfaktan spt alkohol rantai
 Nanopartikel
- ukuran molekul ~ bulatan pada mikroemulsi
- merupakan gabungan misel yang dibentuk dgn
proses polimerisasi
- mengandung molekul obat yang terlarut
berupa globulin/toksoid dan membentuk larutan
koloid dalam air
- ukuran diameter kecil dari 50 nm (mikroskop
elektron)

 Gel
• Sediaan semi solid; terdiri dari dua
konstituen berupa massa yang rapat dan
diselusupi oleh cairan
• Berupa matriks yang melekat dan kaya dgn
cairan (disebut jelly), jika cairan hilang dan27
• Membentuk sistem satu fase (co:polimer
dlm air) atau dua fase (co:magma
bentonit)
• Dibagi dua golongan : anorganik(biasany
sist 2 fase) dan organik (biasany sist 1
fase, terbagi menjadi hidrogel &
organogel)
• Kestabilan fisik : sineresis (gel
mengalami pengerutan &cairanny
terperas k luar) dan penggembungan
(swelling=penyerapan cairan dgn vol, jk
penyerapan cairan tanpa terjadi vol
disebut imbibisi) 28

Anda mungkin juga menyukai