Dasar Radiografi
Kepanitraan Klinik Bagian Radiologi Undata
Pembimbing Klinik: dr. Robert Mangiri, Sp. Rad, [Link].
Definisi
Radiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang proses pembuatan gambar (pencitraan) dari
organ tubuh manusia dengan menggunakan radiasi sinar-X sebagai sumber pencatat gambar.
Radiologi merupakan sarana pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis penyakit dan
pemberian terapi yang cepat dan tepat bagi pasien yang menjadikan pelayanan radiologi telah
diselenggarakan di berbagai sarana pelayanan kesehatan seperti puskesmas, klinik swasta dan
rumah sakit di seluruh Indonesia.
Definisi
Sinar-X ditemukan pertama kali oleh fisikawan berkebangsaan Jerman Wilhelm C. Roentgen pada
tanggal 8 November 1895.
Sinar-X adalah pancaran gelombang elektromagnetik yang sejenis dengan gelombang radio,
gelombang panas, gelombang cahaya, dan gelombang ultraviolet, tetapi dengan panjang
gelombang yang sangat pendek. Sinar-X dapat menghasilkan gambaran struktur tubuh untuk
memeriksa penyakit atau masalah lain.
Sinar-X yang digunakan dalam radiografi berkisar dalam panjang gelombang dari sekitar 0,1
hingga 1,0 Å
Sifat-sifat Sinar-X
1. Daya tembus
Sinar-X dapat menembus bahan, dengan daya tembus yang sangat besar yang digunakan dalam
radiografi. Semakin tinggi tegangan tabung (besarnya kV) yang digunakan, maka makin besar daya
tembusnya.
2. Radiasi hambur
Apabila berkas sinar-X melalui suatu bahan atau suatu zat, maka berkas tersebut akan bertebaran ke
segala jurusan, yang akan menimbulkan radiasi sekunder (radiasi hambur) pada bahan atau zat yang akan
dilaluinya. Hal ini akan mengakibatkan pada gambaran radiograf serta film akan terjadi pengaburan
kelabu secara menyeluruh.
3. Penyerapan
Sinar-X dalam radiografi akan diserap oleh bahan atau suatu zat sesuai dengan berat atom atau kepadatan
bahan atau zat tersebut.
4. Efek fotografik
Sinar-X dapat menghitamkan emulsi film (emulsi perak bromida) setelah diproses secara proses kimiawi
(dibangkitkan) di dalam kamar gelap.
5. Pendar flour (flourosensi)
Sinar-X akan menyebabkan bahan-bahan tertentu seperti kalsium-tungstat atau zink-sulfid memedarkan
cahaya (luminisensi), bila bahan tersebut dikenai radiasi sinar-X. Luminisensi dibagi menjadi 2 jenis,
Sifat-sifat Sinar-X
a. Flurosensi
memendarkan cahaya sewaktu ada radiasi sinar-X saja
b. Fosforisensi
Pemendararan cahaya akan berlangsung beberapa saat walaupun radiasi sinar-X sudah dimatikan
(after-glow)
6. Ionisasi
Efek primer sinar-X yang apabila mengenai bahan atau zat akan menimbulkan ionisasi partikel-
partikel bahan atau zat tersebut.
7. Efek biologik
Sinar-X akan menimbulkan perubahan-perubahan biologik pada jaringan. Efek tersebut digunakan
dalam pengobatan radioterapi
Proses pembuatan Sinar-X
Proses terjadinya sinar-X itu terjadi di dalam tabung sinar-X yang hampa udara.
Di dalam tabung sinar-X itu terdapat filamen pada katoda dan taget pada anoda.
Terbentuknya sinar-X terjadi bermula ketika filament pada katoda dipanaskan oleh trafo filament
sehingga terbentuknya awan-awan elektron, kemudian awan-awan elektron bergerak menuju target
di anoda ketika di berikan beda potensial yang tinggi.
Pada saat awan elektron menumbuk target terbentuklah energi panas sebesar 99% dan 1% sinar-X
yang kemudian sinar-X tersebut akan keluar melalui window.
Peralatan yang digunakan
Film rontgen adalah tempat pencatatan bayangan dari suatu objek yang telah melalui interaksi
sinar-x dengan objek. Berikut adalah struktur film sinar-x.
Supercoat adalah lapisan dasar yang melindungi film pada umumnya yang biasa disebut anti
gores.
Emulsi film adalah lapisan yang paling rentan dengan cahaya. Lapisan ini tersusun atas
butiran perak halide, contoh AgBr dan AgCl. Butiran perak halide terikat dalam gelatin. Tebal
emulsi adalah 0,001 inch (0,0025 cm).
Substracum adalah lapisan perekat antara emulsi film dengan dasar film.
Alas film (film base) adalah lapisan paling dasar film.
Peralatan yang digunakan
Kaset adalah suatu alat untuk menempatkan film yang akan di ekspose ataupun sesudah di
ekspose. Kaset menjadi sangat penting karena menjadi media untuk menjaga agar film terkena
cahaya pada saat ekspose. Adapun fungsi kaset yaitu :
1. Untuk melindungi film dari pengaruh cahaya.
2. Untuk menjaga agar kontak antara tabir penguat dengan film tetap rata.
3. Untuk melindungi tabir penguat / Intensifying Screen dari pengaruh tekanan mekanik.
Grid adalah alat untuk mengurangi atau mengeliminasi radiasi hambur agar tidak sampai ke film rontgen.
Peralatan yang digunakan
Alat fiksasi radiologi adalah suatu alat bantu terbuat dari plat besi yang dirancang khusus, alat
bantu ini diharapkan dapat difungsikan untuk menempatkan kaset berbagai ukuran dan digunakan
petugas radiologi untuk membantu dalam menangani pasien.
Alat-alat protektif adalah perlengkapan proteksi radiasi yang disediakan untuk setiap pekerja dan
peralatan protektif radiasi meliputi apron, shielding yang dilapisi Pb, kaca yang dilengkapi Pb,
kaca mata Pb, sarung tangan Pb, thyroid shield Pb, dan gonad shield
Kamar gelap
Tempat processing x-ray film adalah kamar gelap. Persyaratan kamar gelap sebagai berikut:
Lokasi kamar gelap : letaknya harus berdekatan dengan ruang pemeriksaan agar mudah dicapai
radiographer.
Kontruksi kamar gelap
luas kamar gelap harus memadai dan proporsional dengan kapasitas dan beban kerja yang
diperkiran.
kamar gelap harus telindung dari cahaya matahari dan cahaya-cahaya dari ruangan sebelah
serta terlindung dari radiasi sinar-x.
Lantai kamar gelap terbuat dari bahan yang cukup kedap air dan tidak licin bila terkena cairan
kimia dan tahan kropos.
Ventilasi ruangan yang cukup.
Persediaan air yang cukup dan system pembuangan air yang efisien.
Penerangan : penerangan umum (lampu ruangan biasa) yang mampu menerangi seluruh ruangan di
kamar gelap.
Susunan kamar gelap harus ada perbedaan yang jelas antara bagian kerja kering dankerja basah.
Langkah-Langkah Pembuatan Film
Pembangkitan (Developer)
Perubahan butiran-butiran perak halida pada lapisan emulsi film setelah diradiasi dengan sinar-X
menjadi logam perak. Perubahan butiran-butiran perak halida tersebut tampak sebagai warna hitam
pada film, atau dikatakan terjadi perubahan gambar/bayangan laten menjadi bayangan tampak. Tingkat
kehitaman film sesuai dengan intensitas sinar-X yang diterimanya, sedangkan yang tidak memperoleh
penyinaran tetap bening.
Pembilasan (Rinsing)
Cairan pembilas membersihkan film dari larutan pembangkit supaya tidak terbawa ke proses
selanjutnya.
Penetapan (Fixing)
Menetapkan dan membuat bayangan menjadi permanen dengan menghilangkan perak halida yang
tidak terkena sinar-X. Tujuannya adalah untuk menghentikan aksi lanjutan yang dilakukan oleh cairan
pembangkit yang terserap oleh emulsi film.
Pencucian (Washing)
Setelah proses penetapan akan terbentuk perak komplek dan garam. Bahan-bahan tersebut dihilangkan
dengan cara mencuci menggunakan air mengalir.
Pengeringan (Drying)
Tahap terakhir adalah pengeringan film untuk menghilangkan air yang ada.
TERIMA KASIH
Daftar Pustaka
Afani, Z. A., & Rupiasih, N. N. (2017). Pengolahan Film Radiografi Secara Otomatis
Menggunakan Automatic X-Ray Film Processor Model Jp-33. Buletin Fisika, 18(2), 53.
Rahmawati, H., & Hartono, B. (2021). Kepaniteraan di Instalasi Radiologi Rumah
Sakit. Muhammadiyah Public Health Journal, 1(2), 139-154.
Sari, K., Surahmi, N., & Della, C. A. (2022). Analisis Tingkat Kepatuhan Radiografer
terhadap Pemakaian Apron Kepada Pasien di Rumah Sakit Pertamedika Ummi Rosnati
Banda Aceh. Perisai: Jurnal Pendidikan dan Riset Ilmu Sains, 1(1), 56-65.
Syarifuddin, S., Nurmala, N., Yunardi, Y., & Hanindiya, B. (2020). Teknik Radiografi Os
Humerus Dengan Kasus Fraktur 1/3 Distal Humerus Di Instalasi Radiologi Rumah Sakit
Efarina Etaham Berastagi Kabupaten Karo Tahun 2020. In Seminar Nasional Bidang
Kesehatan, Ekonomi, Pendidikan dan Kemasyarakatan (SINAS TAMPAN). 2 (1),323-334.