Transfer Pricing
Pengertian TP Doc atau Transfer
Pricing Document
Transfer Pricing Document atau TP Doc adalah dokumen penentuan harga transfer
yang wajib dibuat oleh WP yang melakukan transaksi dengan para pihak yang
memiliki hubungan istimewa.
Hubungan istimewa dalam transfer pricing artinya hubungan antara dua atau lebih
wajib pajak yang dapat menyebabkan Pajak Penghasilan (PPh) terutang antar
masing-masing WP jadi lebih kecil dari yang seharusnya.
Transaksi dengan pihak yang memiliki hubungan istimewa ini disebut transaksi
afiliasi.
Siapa yang Wajib Membuat
TP Doc?
Secara umum, Kriteria wajib pajak yang harus membuat transfer pricing document
berdasarkan pada peredaran bruto yakni:
Jumlah bruto dari penghasilan yang diterima/diperoleh sehubungan dengan
pekerjaan, usaha/kegiatan utama WP sebelum dikurangi diskon dan rabat serta
pengurangan lainnya;
Dihitung dengan cara disetahunkan dalam hal Tahun Pajak diperolehnya peredaran
dan/atau dilakukannya transaksi/afiliasi kurang dari 12 bulan.
Kriteria Wajib Pajak yang Membuat
TP Doc
Berikut kriteria wajib pajak yang membuat TP Doc sesuai dengan jenis dokumen
penetapan harga dalam PMK 213/2016:
1. WP Pembuat TP Doc Master File (MF) & Local File (FL)
Memiliki peredaran bruto lebih dari Rp50 miliar untuk tahun pajak sebelumnya
Telah melakukan transaksi dengan pihak terkait, dalam bentuk barang berwujud, lebih
dari Rp20 miliar pada tahun sebelumnya
Telah melakukan transaksi dengan pihak terkait untuk layanan, atau transaksi dengan
pihak terkait lainnya, melebihi Rp5 miliar pada tahun pajak sebelumnya
Melakukan transaksi dengan pihak terkait di negara-negara dengan tarif PPh yang
lebih rendah dari Indonesia
Kriteria Wajib Pajak yang Membuat
TP Doc
2. WP Pembuat TP Doc Country by Country Report (CbCR)
WP yang dianggap sebagai entitas induk dari suatu grup usaha dengan peredaran
bruto konsolidasi Rp11 triliun
Entitas non-induk yang memenuhi ketentuan berikut:
Tidak memiliki perjanjian pertukaran informasi dengan Indonesia
Tidak menyediakan CbCR pada otoritas pajak
Tidak berkewajiban menyampaikan CbCR
Persyaratan untuk Master
File & Local File:
Harus disiapkan dalam waktu 4 bulan setelah akhir tahun pajak, tapi
harus menyampaikan berkas ketika DJP memintanya.
Harus disiapkan sesuai dengan data dan informasi yang tersedia pada
saat transaksi dengan pihak terkait dilakukan.
Harus memberikan ringkasan informasi yang disertakan dalam berkas
induk dan lokal menggunakan Bahasa Indonesia, atau jika disetujui
oleh Menteri Keuangan, menggunakan bahasa asing.
Lampirkan ringkasan surat pernyataan ketersediaan dokumen bersama
dengan SPT Tahunan PPh Badan.
Persyaratan untuk CbCR:
• Harus diserahkan paling lambat 12 bulan
setelah akhir tahun fiskal.
• Harus disiapkan sesuai dengan informasi yang
tersedia pada akhir tahun pajak.
• Tanda terima penyampaian CbCR harus
diserahkan bersama dengan SPT Tahunan
Badan.
Jenis-Jenis TP Doc
Berkas Induk (Master File/MF)
• Berkas induk terdiri dari informasi terkait kelompok usaha. Berkas ini harus disimpan
dalam waktu empat bulan setelah akhir tahun fiskal.
• Master File (MF) terdiri dari:
• Struktur kepemilikan perusahaan kelompok
• Aset tidak berwujud yang dimiliki
• Aktivitas usaha
• Aktivitas keuangan
• Laporan keuangan konsolidasi
Contohnya: Dokumentasi transaksi penjualan barang, jasa, atau lisensi antar cabang
dalam satu negara.
Jenis-Jenis TP Doc
Berkas Lokal (Local File/LF)
Local File (LF) harus disiapkan dalam waktu 4 bulan setelah akhir tahun pajak dan terdiri dari
informasi yang relevan dengan transaksi wajib pajak lokal.
Berkas Lokal atau Local File (LF) terdiri dari:
Identitas dan aktivitas bisnis wajib pajak
Informasi transaksi pihak terkait dan tidak terkait
Informasi keuangan wajib pajak
Penerapan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha
Struktur organisasi entitas lokal
Peristiwa atau fakta non finansial yang memengaruhi penentuan harga tingkat keuntungan
Contohnya: Kebijakan alokasi keuntungan dari aset tidak berwujud seperti merek dagang atau
teknologi.
Laporan per Negara (Country by
Country Report/CbCR)
Country by Country Report (CbCR) meliputi alokasi pajak, pendapatan, dan aktivitas bisnis setiap
negara dari grup usaha dan harus tersedia dalam waktu 12 bulan setelah akhir tahun pajak.
Informasi yang pada Laporan per Negara atau Country by Country Report (CbCR) terdiri dari:
Laba atau rugi sebelum pajak
Pajak penghasilan yang dipotong, dipungut, atau dibayar sendiri
Modal terdaftar
Jumlah karyawan
Laba ditahan yang terakumulasi
Nilai aset berwujud selain kas
Ketentuan untuk berkas induk dan lokal
Contohnya: Laporan pendapatan dan pajak yang dibayarkan oleh cabang perusahaan multinasional
di Indonesia dibandingkan dengan cabang di negara lain.
Isi TP Doc
Berikut isi dokumen transfer pricing berdasarkan jenis berkasnya sebagaimana
diatur dalam PMK 213/2016 yang diperbarui dengan PMK 172/2023:
A. Isi Master File TP Doc atau Dokumen Induk
Struktur dan bagan kepemilikan dan negara anggota grup usaha
Kegiatan usaha
Harta tidak berwujud yang dimiliki grup usaha
Aktivitas keuangan dan pembiayaan
Laporan keuangan konsolidasi dan informasi transaksi afiliasi
Isi TP Doc
B. Isi Local File TP Doc atau Dokumen Lokal
Identitas dan kegiatan usaha
Informasi transaksi afiliasi dan transaksi independen
Informasi keuangan
Peristiwa/kejadian non keuangan yang mempengaruhi pembentukan harga atau tingkat laba
C. Isi CbCR TP Doc atau Laporan per Negara
Kertas kerja CbCR
Form CbC-1
Form CbC-2
Form CbC-3
Cara Membuat Transfer Pricing
Document
Berikut proses pembuatan TP Doc harus dilakukan sesuai ketentuan dalam peraturan
perundang-undangan perpajakan yang berlaku, yakni:
1. Memerhatikan jenis TP Doc yang harus dibuat sesuai kriteria wajib pajak.
2. Memilih metode transfer pricing atau penentuan harga transfer.
3. Melaporkan TP Doc sesuai dengan jenis yang digunakan.
4. Membuat TP Doc dalam Bahasa Indonesia. Bagi yang memperoleh izin menggunakan
bahasa asing, wajib melampirkan dokumen terjemahan dalam Bahasa Indonesia.
5. Pembuatan dokumen transfer pricing menggunakan mata uang rupiah. Jika
menggunakan mata uang asing, harus dikonversikan dengan kurs pajak yang ditetapkan
Menteri Keuangan.
6. Melampirkan peredaran bruto sebelum dikurangi diskon dan pengurangan lainnya.
7. Membuat TP Doc dokumen lokal (LF) secara segmentasi sesuai karakter usaha jika wajib
pajak memiliki lebih dari satu kegiatan usaha dengan karakter usaha yang berbeda.
Cara Membuat Transfer Pricing
Document
8. Pembuatan TP Doc untuk dokumen induk (MF) dan dokumen lokal (LF) harus
diselenggarakan berdasarkan data serta informasi pada saat dilakukan transaksi.
9. Melampirkan surat pernyataan saat tersedianya TP Doc ditandatangani oleh pihak penyedia
dokumen penentuan harga transfer saat membuat TP Doc MF dan LF.
10. TP Doc MF dan LF dibuat ikhtisar untuk dilampirkan pada SPT Tahunan PPh Badan.
11. Jika membuat TP Doc CbCR, buat laporan per negara berdasarkan data dan informasi yang
tersedia hingga akhir tahun pajak.
12. Sediakan TP Doc CbCR minimal 12 bulan setelah akhir tahun pajak.
13. Lakukan konsultasi dengan konsultan pajak untuk menghindari kesalahan pembuatan TP
Doc dan meningkatkan efektivitas.
14. Gunakan aplikasi pajak online yang terhubung dengan akuntansi online untuk
mempermudah mengelola laporan keuangan dan perpajakannya.
Sanksi Tidak Membuat TP Doc
Dalam Pasal 13 PMK 2013/2026, wajib pajak yang tidak membuat TP Doc dikenakan
sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Karena dokumen penetapan harga berkaitan dengan pelaporan SPT Tahunan Badan,
apabila tidak memenuhi ketentuan terkait TP Doc, maka pelaporan SPT termasuk
kategori tidak lengkap.
Apabila SPT yang dilaporkan tidak lengkap, maka dianggap tidak melaporkan SPT
sehingga dikenakan sanksi sesuai ketentuan dalam UU KUP. Berikut sanksi tidak
membuat dokumen transfer pricing:
Karena dianggap tidak melaporkan SPT, maka dikenakan sanksi berupa denda sebesar
Rp1 juta.
Penyampaian TP Doc melebihi jangka waktu saat diminta DJP, maka TP Doc dianggap
hanya sebagai data, sehingga dilakukan pengujian ALP (arm’s length principle) secara
jabatan atau tidak pertimbangkan TP Doc, yang dapat menyebabkan diterbitkannya
SKPKB dengan sanksi bunga sesuai ketentuan yang berlaku.
Sanksi Tidak Membuat TP Doc
Jika tidak menyampaikan TP Doc saat diminta DJP, maka wajib pajak dianggap tidak
menyelenggarakan pembukuan, sehingga dapat diterbitkan SKPKB dengan sanksi
berupa kenaikan sebesar 50%. Sanksi tersebut dikenakan pada wajib pajak yang
gagal memenuhi ketentuan berikut:
-Tidak menyimpan berkas induk dan lokal
-Tidak menyimpan informasi terkait CbCR
-Tidak menyerahkan ringkasan informasi dalam berkas induk dan lokal pada lampiran
SPT PPh Badan
-Tidak menyerahkan tanda terima penyerahan CbCR sebagai
lampiran SPT PPh Badan
Referensi
[Link]