Pembelajaran Berbasis Budaya
Pembelajaran Berwawasan Demokrasi dan HAM
Bambang Irawan, [Link]
modul 4 dan 5
Pembelajaran berbasis budaya
Sekolah merupakan tempat kebudayaan karena proses belajar
merupakan proses pembudayaan yakni untuk pencapaian
akademik siswa, untuk membudayakan sikap, pengetahuan,
keterampilan dan tradisi yang ada dalam suatu komunitas
budaya.
Budaya adalah pola untuk perilaku manusia dan produk yang
dihasilkannya membawa pola pikir, pola lisan, pola aksi, dan
artifak dan sangat tergantung pada kemampuan seseorang
untuk belajar dan menyampaikan pengetahuannya kepada
generasi berikutnya.
Pembelajaran berbasis budaya merupakan strategi
penciptaan lingkungan belajar dan perancangan
pengalaman belajar yang mengintegrasikan budaya
sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Pembelajaran berbasis budaya dibedakan 3 macam
yaitu :
1. Belajar tentang budaya
2. Belajar dengan budaya
3. Belajar melalui budaya
KB 2:
Model dan aplikasi pembelajaran berbasis budaya
ada 4 hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran bebasis
budaya yaitu :
1. Substansi (materi) dan kompetensi bidang ilmu
2. Kebermaknaan dan proses pembelajaran
3. Penilaian hasil belajar
4. Peran budaya
5. Aplikasi pembelajaran berbasis budaya
Modul 5: PEMBELAJARAN BERWAWASAN DEMOKRASI DAN HAM
KB 1: Paradigma pendidikan demokrasi dan HAM
Secara konstitusional dan kurikuler sesungguhnya pendidikan
demokrasi dan HAM sudah ada sejak tahun 1945 yang
ditujukan untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”
sebagaimana tersurat dalm pembukaan UUD 1945 yang
diwujudkan dalam tatanan pendidikan nasional.
Secara keilmuan pendidikan demokrasi dan HAM merupakan
bagian integral dari pendidikan kewarganegaraan, yang pada
dasarnya bertujuan untuk mengembangkan individu menjadi
warga negara yang cerdas dan baik.
Guna mencapai pendidikan demokrasi dan HAM seyogianya
mengorganisasikan pengalaman belajar yang beragam untuk
berbagai jalur, jenis, jenjang dan situasi pendidikan dan dengan
cara melibatkan siswa dalam proses pengambilan keputusan
dalam masyarakat.
Dalam pendidikan demokrasi dan HAM dikembangkan
berbgai strategi belajar yang berorientasi pada pengembangan
kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah sosial yang
bertujuan memfasilitasi siswa untuk menjadi warga negara
yang dewasa.
KB 2: Pendidikan Demokrasi dan HAM melalui proses
pembelajaran yang demokratis
Mendidik siswa agar mampu untuk menganalisis berbagai
dimensi kebijakan publik, kemudian dengan kapasitasnya
sebagai young citizen atau warga negara yang cerdas, kreatif,
partisispatif, prospektif dan bertanggung jawab agar mampu
memberi masukan terhadap kebijakan publik di
lingkungannya.
Model pembelajaran demokrasi dan HAM yang dikembangkan
di sekolah – sekolah rintisan Ditjen Dikdasmen dan Center for
Civic Education Indonesia (CCEI) di Indonesia adalah model “
Praktik – Belajar Kewarganegaraan … Kami Bangsa
Indonesia” (PKKBI).
Karakteristik model PKKBI
Model pembelajaran PKKBI memiliki karakteristik substantif
dan psikopedagogis :
1. Bergerak dalam konteks substantif dan sosial kultural
2. Menerapkan model portofolio-based learning
3. Kerangka operasional pedagogis dasar yang digunakan
adalah modifikasi langkah strategi pemecahan masalah
Fokus perhatian model PKKBI yaitu :
1. Civic knowledge (pengetahuan kewarganegaraan)
2. Civic disposition (kebajikan kewarganegaraan)
3. Civic skill (keterampilan kewarganegaraan)
4. Civic confidence (kepercayaan diri kewarganegaraan)
5. Civic commitment (komitmen kewarganegaraan)
6. Civic competence (kompetensi kewarganegaraan)
Terima kasih