ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI RESIKO
TINGGI ( RDS )
&
ASPIKSIA
KELO MPO K : 7
RESPIRATORY DISTRESS SYNDROM ( RDS )
• Latar belakang
Respiratory Distress Syndrome (RDS) ialah keadaan dimana terdapat gangguan
sistem respiratori pada neonatus yang disebabkan oleh kurangnya surfaktan
terlebih pada bayi yang kurang bulan. Surfaktan merupakan zat yang mampu
menurunkan tegangan pada dinding alveoli [Link] dengan Respiratory
Distress Syndromemasih menjadi masalah kesehatan dalam masyarakat yang
signifikan secara menyeluruh karena efek yang ditimbulkan, baik efek dalam jangka
yang pendek maupun dalam jangka panjang (Pp, Skp, & Suminto, 2017).
Berdasarkan pada hal tersebut perawat harus memahami jumlah kebutuhan
oksigen yang diperlukan, indikasi pemberian oksigen, metode pemberian oksigen,
dan bahaya-bahaya pemberian oksigen (UCSF,2014). Oleh karena itu peran
perawat dalam masalah Respiratory Distress Syndrome yaitu dengan memonitor
pola nafas (frekuensi napas, kedalaman, usaha nafas), memonitor bunyi tambahan,
mempertahankan kepatenan jalan nafas dengan menggunakan cara head-tilt dan
chin-lift, memposisikan semi fowler atau fowler, memberikan terapi oksigen yang
memiliki tujuan untuk mencukupi kebutuhan oksigen bayi dan observasi tanda-
tanda vital (SIKI, 2018).
DEFINISI RDS
• Respiratory Distress Syndrome (RDS) atau sindroma gagal
nafasmerupakan istilah yang digunakan untuk disfungsi
pernafasan pada [Link] gangguan pernafasan ini
merupakan penyakit yang berhubungan denganketerlambatan
perkembangan maturitas paru sehingga jumlah surfaktan di
dalamparu tidak adekuat (Rahardjo & Marmi, 2012).Respiratory
Distress Syndrome (RDS) dapat juga disebut dengan
namaHyaline Membrane Disease (HMD) atau penyakit membran
hialin. Gejala dari daripenyakit RDS terdiri dari dispnea dan
takipnea dengan frekuensi pernafasan lebih dari 60x/menit,
adanya sianosis, suara rintihan pada saat melakukan eskpirasi
dan otot pernafasan yang lemah. Penyakit ini menyerang pada
bayi preterm yang dimana sistem pernafasannya tidak mampu
melakukan pertukaran gas secara normal tanpa adanya
bantuan(Surasmi, 2013).
ETIOLOGI
• Menurut (Rahardjo & Marmi, 2012) yang menjadi penyebab kegagalan
pernafasan pada neonatus yaitu terdiri dari faktor ibu, faktor janin, dan faktor
persalinan.
1. Faktor Ibu
Faktor ibu meliputi hipoksia pada ibu, usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih
dari 35 tahun, sosial ekonomi rendah, maupun penyakit pembuluh darah ibu yang
mengganggu pertukaran gas janin seperti hipertensi, penyakit jantunng, diabetes
mellitus, dan lain-lain.
2. Faktor Plasenta
Faktor plasenta meliputi solusio plasenta, perdarahan plasenta, plasenta kecil,
plasenta tipis, plasenta tidak menempel pada tempatnya.
3. Faktor janin atau neonatus
Faktor janin atau neonatus meliputi tali pusat menumbung, tali pusat melilit
leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir, prematur, kelainan
kongenital pada neonatus
4. Faktor Persalinan
Faktor persalinan yang meliputi partus lama, partus dengan tindakan dan lain-
lain.
KLASIFIKASI RDS
• Menurut (Haryani dkk, 2021), klasifikasi RDS antara
lain :
1. Sindrom gawat nafas klasik atau Classic Respiratory
Distress Syndrome, disebabkan karena kekurangan
aerasi (underaration).
2. Sindrom gawat nafas sedang-berat atau Moderately
Severe Respiratory Distress Syndrome,
polaretikulogranuler terlihat lebih menonkol dan
terdistribusi lebih merata.
3. Sindrom gawat nafas berat atau Severe Respiratory
Distress Syndrom, terdapat retikulogranuler yang
berbentuk opaque pada kedua paru-paru pada
PATOFISIOLOGI RDS
• Faktor terjadinya kegawatan nafas atau RDS pada bayi
prematur disebabkan oleh alveoli yang masih kecil
sehingga sulit untuk mengembang. Pengembangan yang
kurang sempurna terjadi karena dinding dada yang lemah
dan kurangnya produksi [Link] diketahui bahwa
defisiensi surfaktan merupakan factor terpenting dalam
terjadinya RDS. Surfaktan dihasilkan oleh pneumosit tipe
2 yang terdiri dari 90% lipid dan 10% protein pada usia
gestasi 24 – 28 minggu dan mulai berfungsi aktif pada
usia gestasi 34 – 35 minggu. Fungsi dari surfaktan yaitu
untuk mengurangi tegangan permukaan cairan yang
melapisi alveolar dan mempertahankan integritas
struktural alveoli(Suminto, 2017).
PATHWAY
MANIFESTASI KLINIS
• Manifestasi klinis dari RDS menurut (Hidajat &
Firdaus, 2012) , antara lain :
1. Peningkatan frekuensi nafas : > 60x/menit
2. Pernafasan dangkal
3. Retraksi antar iga atau dada setiap kali bernafas
4. Nafas cuping hidung setiap kali bernafas
5. Apnea atau henti nafas
6. Suara merintih pada saat ekspirasi
KOMPLIKASI RDS
• Komplikasi RDS menurut (Haryani dkk, 2021), antara lain :
1. Komplikasi Jangka Pendek
a. Ruptur Alveoli
Bila dicurigai terjadi kebocoran udara (pneumothoraks,
pneumomediastinum, pneumopericardium, emfisema
interstitial) pada bayi dengan RDS yang tiba-tiba kondisinya
memburuh dengan gejala apnea atau bradikardia.
b. Infeksi
Terjadi karena keadaan yang memburuk dan adanya
perubahan jumlah leukosit dan trombositopenia
c. Perdarahan Intra Kranial leukomalasia periventrikular
Perdarahan intraventrikular terjadi pada 20 – 40% bayi
premature dengan frekuensi terbanyak pada bayi RDS.
KOMPLIKASI
• Komplikasi Jangka Panjang
a. Broncho Pulmonary Dysplasia (BPD)
Merupakan penyakit paru kronik yang disebabkan
karenapemakaian oksigen pada bayi dengan masa
gestasi 36 minggu
b. Retinopaty Premature
Kegagalan fungsi neurologik terjadi sekitar 10 –
70% pada bayi yang berhubungan dengan masa
gestasi karena adanya hipoksia, komplikasi
intrakranial, dan adanya infeksi.
PEMERIKSAAN PENUNJANG RDS
• 1. Nilai darah lengkap pada bayi RDS, terdiri dari :
a. Hb (normal 15 – 19 g/dL) , biasanya Hb pada bayi dengan RDS cenderung turun
karena O2 dalam darah sedikit.
b. Leukosit lebih dari 10.0 (normal 4.0 – 10.0 10^3/µL) karena pada bayi preterm,
imunitas masih rendah sehingga beresiko tinggi terhadap infeksi.
c. Trombosit (normal 100 – 300 10^3/µL)
d. Distrofiks pada bayi preterm dengan RDS cenderung turun karena sering
terjadi hipoglikemia.
• 2. Pemeriksaan Analisa Gas Darah karena didapatkan adanya hipoksemia
kemudian hiperkapnea dengan asidosis respiratorik.
a. pH (normal 7,36 – 7, 46)
b. PCO2 (normal 35 – 45 mmHg)
c. PO2 (normal 80 – 100 mmHg)
d. SaO2 (normal 95% - 97%), < 90% dapat mengidentifikasikan hipoksemia.
e. HCO3 (normal 24 – 28 mEq/L)
f. SpO2 (normal 80 – 100%)
PENATALAKSANAAN RDS
• Berikut ini adalah penatalaksanaan pada bayi dengan RDS (Haryani
dkk, 2021) :
1. Antibiotika untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.
2. Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan
menurunkan cairan paru.
3. Vitamin E untuk menurunkan radikal bebas oksigen
4. Pertahankan PO2 dalam batas normal
5. Ventilasi dan oksigenasi (3 – 5 liter dengan menggunakan masker)
6. Metilksantin (teofilin dan kafein) untuk mengobati apnea dan
untuk pemberhentian dari pemakaian ventilasi mekanik.
7. Salah satu pengobatan terbaru dan telah diterima penggunaannya
dalam pengobatan RDS adalah pemberian terapi surfaktan eksogen.
Surfaktan eksogen merupakan derivat dari sumber alami misalnya
manusia
KONSEP TEORI ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Data Biografi (Penanggung jawab)
Nama, alamat, umur, status perkawinan, tanggal MRS, diagnose medis, catatan
kedatangan, keluarga yang dapat dihubungi.
Riwayat Kesehatan
a. Riwayat maternal
Menderita penyakit seperti diabetes mellitus, kondisi seperti perdarahan plasenta,
tipe dan lamanya persalinan, stress fetal atau intrapartus.
b. Status infant saat lahir
Prematur, umur kehamilan, apgar score (apakah terjadi asfiksia), bayi lahir melalui
operasi caesar.
2. Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola aktivitas istirahat dan tidur
Gejala : keletihan, kelemahan, malaise umum. toleransi terhadap latihan rendah.
Tanda : takikardia / takipnea, dispnea pada beraktivitas / istirahat. kelemahan otot
dan penurunan kekuatan.
b. Pola nutrisi dan metabolisme
Pola nutrisi bayi perlu dikaji untuk menentukan
terjadinya gangguan nutrisi atau tidak pada bayi.
Berat badan rata-rata 2500-4000 gram. Penurunan
berat badan di awal 5%-10%
Mulut: saliva banyak,mutiara Epstein(kista
epithelial)dan lepuh cekung adalah hal yang normal,
palatum keras/margin gusi,gigi prekosius mungkin
ada.
[Link] eliminasi
Abdomen lunak tanpa distensi,bising usus aktif pada
beberapa jam setelah kelahiran. Urin tidak berwarna
atau kuning pucat,dengan 6-10 popok basah per 24
[Link] feses mekonium dalam 24 sampai 48
jam kelahiran.
3. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik ditemukan takhipneu (> 60 x/i ),
pernafasan mendengkur, retraksi subkostal/interkostal,
pernafasan cuping hidung, sianosis dan pucat, hipotonus,
apneu, gerakan tubuh berirama, sulit bernafas dan sentakan
dagu. Pada awalnya suara nafas mungkin normal kemudian
dengan menurunnya pertukaran udara, nafas menjadi parau
dan pernafasan dalam.
Pengkajian fisik pada bayi dan anak dengan kegawatan nafas
dapat dilihat dari penilaian fungsi respirasi dan penilaian
fungsi kardiovaskuler.
1. Kepala
Bentuk kepala mesosepal, tidak terdapat benjolan, tidak
terdapat luka, rambut tampak bersih, rambut berwarna
hitam.
2. Mata
Pupil : Reaksi cahaya (+), Isokor Kiri-kanan
Konjungtiva : anemis Sklera : tidak ikterik
3. Telinga
Telinga simetris kiri kanan, tidak ada lesi, tidak ada cairan yang keluar dari
telinga, telinga bersih, tidak ada oedema.
4. Hidung
Pernapasan tidak menggunakan cupping hidung, mimisan, tidak ada
gangguan penciuman, tidak ada oedema.
5. Mulut
Mukosa bibir lembab, terdapat luka sariawan, tidak ada
gangguan menelan, keadaan mulut bersih, gusi berdarah.
6. Leher
Tidak ada benjolan, tidak ada peningkatan JVP, tidak ada nyeri menelan.
7. Kulit
Warna kulit sawo matang, terlihat bintik-bintik merah pada kulit.
8. Dada
Pergerakan dada simetris kiri kanan, tidak ada luka dada, tidak ada nyeri
dada, tidak ada penggunaan otot-otot pernapasan tambahan.
9. Paru-paru
Inspeksi : Simetris kiri kanan. Palpasi : Premitus kiri kanan
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Vesikuler di kedua paru.
10. Jantung
Inspeksi : ictus cordis normalnya terlihat.
Palpasi : ictus cordis teraba hanya dengan satu jari.
Perkusi : Perkusi batas jantung.(kiri, kanan, atas, bawah).
Auskultasi : Pekak.
11. Abdomen
Inspeksi : Abdomen tidak membuncit, tidak ada bekas luka, warna kulit merata.
Auskultasi : Bising usus normal (Tymphani) 5-35x/i.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembengkakan lien.
Perkusi : Perkusi semua bagian kuadran abdomen normal.
12. Genitalia
Genitalia Bersih
13. Anus dan rectum
Bersih, tidak terdapat hemoroid.
14. Muskuloskeletal
Akral hangat, nadi teraba, tidak ada nyeri, tidak terdapat pitting oedema.
15. Aktivitas / istirahat.
Gejala : keletihan, kelemahan, malaise umum. toleransi terhadap
16. latihan rendah.
Tanda : takikardia / takipnea, dispnea pada beraktivitas / istirahat. kelemahan
otot dan penurunan kekuatan. Sirkulasi.
Gejala : riwayat kehilangan darah kronis, misalnya perdarahan GI kronis. palpitasi
(takikardia kompensasi).
Tanda : TD: peningkatan sistolik dengan diastolic stabil.
[Link] / cairan.
Gejala : penurunan masukan diet. muntah.
Tanda : turgor kulit buruk, tampak kusut, hilang elastisitas.
18. Neurosensori.
Gejala : Kelemahan, Lesu
19. Nyeri / kenyamanan.
Gejala : nyeri dada. Tanda : takipnea.
20. Pernafasan.
Gejala : nafas pendek pada istirahat dan aktivitas. Tanda : takipnea
• Diagnosa Keperawatan
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan
imaturitas neurologis (defisiensi surfaktan dan ketidakstabilan
alveolar)
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan
perubahan membran kapiler-alveolar
3. Resiko hipotermia berhubungan dengan berada di
lingkungan yang dingin
4. Defisit nutrisi berhubungan dengan intabe yang tidak
adekuat
5. Resiko hipovolemi berhubungan dengan gangguan
mekanisme regulas
• Intervensi
Intervensi keperawatan adalah segala tindakan yang
dikerjakan oleh perawat berdasarkan pada pengetahuan dan
penilaian klinis untuk mencapai luaran (outcome) yang
diharapkan (PPNI, SIKI 2020)
IMPLEMENTASI
• Pada langkah ini rencana asuhan keperawatan
menyeluruh seperti yang telah diuraikan di dalam langkah
kelima, dapat dilaksanakan secara efisien dan aman. Jika
perawat tidak melakukannya sendiri, maka akan tetap
bertanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaanya
(memastikan langkah tersebut benar terlaksana). Dalam
situasi di mana perawat berkolaborasi dengan dokter dan
keterlibatannya dalam manajemen asuhan bagi klien yang
mengalami komplikasi, perawat juga bertanggung jawab
terhadap terlaksananya rencana asuhan keperawatan
yang menyeluruh tersebut. Manajemen yang efisien akan
menyingkat waktu dan meningkatkan mutu asuhan Asri
dan Clervo, 2012:31)
EVALUASI
• Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses
manajemen keperawatan di mana pada tahap ini
ditemukan kemajuan atas keberhasilan dalam
mengatasi masalah yang dihadapi klien. Pada
tahap ini dilakukan evaluasi pola nafas tidak
efektif dari asuhan yang sudah diberikan meliputi
pola napas, pemantauan respirasi dan SPO2
apakah sudah terpenuhi sesuai dengan
kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di
dalam masalah dan diagnosa. Rencana tersebut
dapat dianggap efektif jika memang benar efektif
dalam pelaksanaannya.
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK PADA PASIEN RDS (RESPIRATORY DISTRESS
SYNDROME)
1. Pengkajian
A. Identitas klien
Nama : By. Ny.S
Tempat tanggal lahir : Bandung, 5 Mei 2025
Usia : 1 hari
Jenis Kelamin: Laki - laki
Agama : Islam
Pendidikan :-
Alamat : Jl. Sukajadi
Tanggal Pengkajian : 6 Mei 2025 / Jam 14.00 WIB
Diagnosa Medis : RDS (Respiratory Distress Syndrome)
No RM : 144-xxx-xx
B. Identitas Orang Tua
Nama : Ny. S
Usia : 27 Tahun
Pendidikan : S1
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT
Alamat : Jl. Sukajadi
C. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama
Ny. S mengatakan bahwa bayinya terlihat sesak
Riwayat Penyakit Sekarang
Pada tanggal 5 Mei 2025 bayi lahir di usia kandungan 34 minggu, jenis kelamin laki laki melalui persalinan SC,
berat badan lahir 1650 gr, panjang badan 40 cm dan lingkar kepala 30 cm. Bayi menangis kuat, warna kulit
merah muda. SpO2 98%, frekuensi napas 70x/mnt. Bayi mendapat susu formula melalui sonde, tidur 16
jam/hari, diseka 2x/hari pagi dan sore, BAB berwarna pucat.
2. Riwayat Penyakit Lalu
Ibu memiliki riwayat penyakit PEB (preeklamsi berat)
3. Riwayat Penyakit Keluarga
Ny. S mengatakan di dalam keluarganya tidak memiliki riwayat penyakit keturunan
4. Riwayat Kehamilan
Di hamil pertama ini Ny. S mengalami nyeri punggung dan sering mual
5. Riwayat Perasalinan
Pada tanggal 5 Mei 2025 bayi lahir di usia kandungan 34 minggu, jenis kelamin laki laki melalui persalinan
SC, berat badan lahir 1650 gr, panjang badan 40 cm dan lingkar kepala 30 cm.
GENOGRAM
D. Pola Aktivitas Sehari hari (11 pola gordon)
a. Pola Persepsi Kesehatan dan Pemeliharaan Kesehatan
Bayi berumur 1 hari, bayi dapat bergerak, menangis, kulit kemerahan, Suhu 36,1°C,
nadi 146x/mnt, frekuensi napas 60x/mnt, BB 1650 gr, TB 40 cm, lingkar abdomen 24
cm, saat pengkajian bayi tampak sesak.
b. Pola Nutrisi dan Metabolisme
Bayi mendapat susu formula melalui sonde, tidur 16 jam/hari, diseka 2x/hari pagi dan
sore.
c. Pola Eliminasi
Bayi BAB berwarna hitam, bising usus aktif, urine tidak berwarna atau berwarna kuning
pucat, popok diganti 6-8x/24 jam, diganti jika popok basah
d. Pola Aktivitas-Latihan
Bayi dapat bergerak, menangis, dan tertidur 16 jam/hari
e. Pola Istirahat-Tidur
Bayi tidur 16 jam perhari
f. Pola Kognitif-Persepsi (Sensori)
Reflek moro (+), Babinski (+), Swallowing (+), Breathing (+), Eyelink (+), Pupillary (+),
Tinik Neck (-)
g. Pola Konsep Diri
Tidak terkaji
h. Pola Hubungan Peran
Klien masih di rawat bersama keluarganya
i. Pola Seksual-Reproduksi
Tidak terkaji
j. Pola Penanganan Masalah Stress
Tidak terkaji
k. Pola Keyakinan & Nilai
Tidak terkaji
E. Pemeriksaan Fisik
a. Kesan umum/ Keadaan umum
By. Ny. S menangis kuat, warna kulit merah muda
b. Tanda Tanda Vital
• S: 36.1°C
• N: 146x/mnt
• R: 60x/mnt
• TD: -
c. Pemeriksaan Antropometri
• BB: 1650 gr
• TB: 40 cm
• LK: 30 cm
• L Abdomen: 24 cm
• LILA: -
F. PEMERIKSAAN HEAD TO TOE
1. Kepala dan Rambut
Kepala lonjong, terdapat cradle cap, tidak ada benjolan, rambut tipis berwarna hitam.
2. Mata
Mara simetris, pupil isokor, tidak ada edema, sklera pucat, tidak ada sekret
3. Hidung
Hidung terpasang NGT, tidak ada pernapasan cuping hidung
4. Telinga
Telinga simetris sejajar dengan mata, tidak ada lesi, daun telinga berbentuk sempurna.
5. Mulut dan Faring
Bibir simetris, warna bibir kemerahan, tidak ada gigi, ukuran lidah normal,
6. Leher
Pada leher tidak ada ape (arus puncak ekspirasi), tidak ada perbesaran kelenjar tyroid dan
vena jugularis
PEMERIKSAAN INTEGUMEN (KULIT)
1. Turgor kulit baik, warna kulit merah muda, tetapi kulit dibagian perut hingga kaki berwarna kuning
jika di tekan drajat kremer 3, lemak subcutan tipis, tekstur halus, tidak ada sianosis.
2. Pemeriksaan Payudara dan Ketiak
Tidak ada fraktur klavikula, puting susu sudah terbentuk dengan baik dan tampak simetris, tidak ada
benjolan
3. Pemeriksaan Dada/Thorax
• Thoraks: simetris, tidak ada jejas
• Paru: suara napas ronkhi
• Jantung: bunyi jantung 1 dan bunyi jantung 2 tunggal
4. Pemeriksaan Abdomen
• Lingkar abdomen 24 cm, BU 8x/ mnt, cubitan kulit perut kembali dalam 2 detik
• Pemeriksaan Kelamin
• Testis sudah turun di skrotum
• Pemeriksaan Muskuloskeletal
• Kekuatan otot bayi baik
•
• 5 5
•
• 5 5
PEMERIKSAAN NEOROLOGI
1. Reflek moro (+)
2. Babinski (+)
3. Swallowing (+)
4. Breathing (+)
5. Eyelink (+)
6. Pupillary (+)
7. Tinik Neck (-)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai satuan Nilai Rujukan
HEMATOLOGI
Hemogloblin 16,6 g/dl 12.0-16.0 g/dl
Lekosit 11.800 uL 4000-10.000 uL
Hematokrit 48,1 % 40-54 %
Billirubin total 13,26 Mg/dL <7,0 Mg/dL
PENATALAKSANAAN TERAPI
1. Terpasang O2 nasal kanul 1L/mnt
2. D10 160 cc/24 jam
3. Inj viccilin 2x150 mg
4. Inj latamin 6x2
ANALISA DATA
DIAGNOSA KEPERAWATAN
• D.0003 Gangguan Pertukaran Gas b.d
ketidakseimbangan Ventilasi-Perfusi
• D.0024 Ikterik Neonatus b.d usia kurang dari 7
hari
INTERVENSI KEPERAWATAN
LATAR BELAKANG
• Asfiksia
neonatorum adalah suatu kondisi yang terjadi ketika bayi tidak
mendapatkan cukup oksigen selama proses kelahiran. Penyakit ini
juga didefinisikan sebagai kegagalan untuk memulai respirasi biasa
dalam satu menit kelahiran. Asfiksia neonatorum adalah keadaan
darurat neonatal karena dapat menyebabkan hipoksia (penurunan
suplai oksigen ke otak dan jaringan) dan kerusakan otak atau
mungkin kematian jika tidak dikelola dengan benar (Mendri&Prayogi,
2018). United Nations Children’s Fund (UNICEF), 2018 mengatakan
bahwa 80 % kematian disebabkan oleh asfiksia, komplikasi saat
lahir, atau infeksi seperti pneumonia dan sepsis. Setiap tahun 2,6
juta bayi di seluruh dunia, tidak mampu bertahan hidup selama lebih
dari satu bulan. Satu juta diantaranya meninggal saat lahir.
Perempuan yang melahirkan kesulitan mendapat pertolongan.
PENGERTIAN
• Asfiksia
adalah kegagalan nafas secara spontan dan teratur pada
saat lahir atau beberapa saat setelah saat lahir yang di
tandai dengan hipoksemia, hiperkarbia dan asidosis
(Maryunani, 2013). Sedangkan menurut Masruroh,2016
mengatakan bahwa asfiksia neonatorum adalah suatu
keadaan bayi baru lahir yang tidak segera bernafas secara
spontan dan teratur setelah [Link]
Mendri&Prayogi, 2018 mengatakan bahwa asfiksia
neonatorum adalah suatu kondisi yang terjadi ketika bayi
tidak mendapatkan cukup oksigen selama proses
kelahiran. Penyakit ini juga didefinisikan sebagai kegagalan
untuk memulai respirasi biasa dalam satu menit kelahiran.
KLASIFIKASI
1. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3
2. Asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6
3. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9
Factor
1. Factor ibu
faktor ibu yang dapat menyebabkan asfiksia neonatorum, antara lain
preeklampsia dan eklampsia, perdarahan abnormal
2) Faktor tali pusat
Keadaan tali pusat yang mengakibatkan penurunan aliran darah dan oksigen ke
bayi adalah lilitan tali pusat, tali pusat pendek, simpul tali pusat dan prolapsus
tali pusat.
3) Faktor bayi
Keadaan bayi mungkin mengalami asfiksia walaupun tanda didahului tanda
gawat janin, misalnya persalinan sulit (letak sungsang, bayi kembar,dll),
PATHWAY
MANIFESTASI KLINIS
a. Pernafasan cuping hidung
b. Pernafasan cepat
c. Nadi cepat
d. Sianosis
e. Nilai APGAR kurang dari 6
Sedangkan menurut Mendri & Prayogi, 2018 tanda dan gejala
asfiksia yaitu :
a. Kulit yang tampak pucat atau biru
b. Kesulitan bernafas, yang dapat menyebabkan gejala seperti
bunyi sengau atau pernafasan perut
c. Detak jantung yang lambat
d. Otot yang lemah
PATOFISIOLOGI
Menurut Masruroh, 2016 patofisiologi asfiksia
neonatum yaitu sebagai berikut :
Oksigen sangat penting bagi kehidupan sebelum dan
setelah persalinan. Selama di dalam rahim, janin
mendapatkan oksigen dan nutrisi dari ibu melalui
mekanisme difusi melalui plasenta yang berasal dari
ibu diberikan kepada darah janin. Sebelum lahir,
alveoli paru bayi menguncup dan berisi Pada akhir
masa transisi normal, bayi menghirup udara dan
menggunakan paru-parunya untuk mendapatkan
oksigen. Tangisan pertama dan tarikan nafas yang
dalam akan mendorong cairan dari jalan nafasnya.
PENATALAKSANAAN
A. Penatalaksanaan Resusitasi
Persiapan resusitasi bayi baru lahir
1) Persiapan keluarga
Memberikan penjelasan kepada ibu dan keluarga tentang
kemungkinan diperlukan tindakan resusitasi.
2) Persiapan ruangan dan tempat resusitasi
a) Ruangan harus hangat untuk mencegah terjadinya
hipotermi dan terang.
b) Tempat resusitasi datar, rata, cukup keras, bersih, kering
dan hangat untuk memudahkan pengaturan posisi kepala
bayi, misalnya : meja, dipan atau di atas lantai beralas tikar
Persiapan alat resusitasi
ASUHAN KEPERAWATAN PADA BY.I DENGAN GANGGUAN
ASFIKSIA DI RUANG PERINA RSUD BANDUNG
A. Identitas
• Klien
Nama : By. Ny.I
Tempat tanggal lahir : RSUD Bandung
Umur : 2 Hari
Alamat : Citerem Rt01 Rw02 Bandung barat
Golongan darah :-
Diagnosa Medis : Asfiksia
Nomor RM : 11223344
Tanggal Masuk : 30 Januari 2025
Tanggal Pengkajian : ! Februari 2025
• Orangtua
Nama : Ny.I / Tn.A
Umur : 22 Tahun / 25 Tahun
Golongan Darah :-
Pekerjaan : IRT / Swasta
Pendidikan : SMA
Alamat : Citerem Rt01 Rw02 Bandung barat
• ALASAN DIRAWAT
Bayi masuk ruang perina dengan diagnosa asfiksia, ditandai dengan bayi lahir tidak menangis
• RIWAYAT PRENATAL
ANC : Tiap ±
Penyakit ibu saat hamil : Sesak dan pusing
Cara persalinan : Normal
• RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
Klien sering menangis dan merintih
Ayah klien mengatakan bahwa tidak ada yang mempunyai penyakit turunan seperti DM dan
hipertensi.
• PENGKAJIAN STATUS KESEHATAN
Nutrisi dan Cairan : Minum Asi 80cc/24jam
Istirahat/Tidur : Setiap waktu
Eliminasi : BAB dan BAK 4kg dalam 24jam
Personal Hygine : Mandi dan mengganti pakaian 2x sehari pagi dan sore
Aktivitas : Berjemur, minum, tidur
PEMERIKSAAN FISIK
• Kepala
Rambut tipis, bersih, tidak ada benjolan atau lesi, wajah simetris, tidak ada benjolan pada kelenjar
tiroid
• Mata
Mata tidak strambismus (juling), tidak ada secret, alis mata simetris, tidak ada edema
• Hidung
Hidung simetris, terpasang O2, CPAP
• Mulut dan Faring
Mukosa bibir kering, gigi belum tumbuh
• Toraks dan paru
Bentuk dada simetris, sesak nafas, irama nafas tidak teratur, frekuensi nafas 62x/menit, irama
nafas takipnea
• Jantung
Tidak ada nyeri dada, irama jantung teratur
• Abdomen
Tidak ada luka, tidak terdapat pembesaran hepar
• Ekstremitas
Tidak ada kelainan ekstermitas, tidak ada kelainan tulang belakang, tugor kulit sedang, warna
DATA PROBLEM
DS: -
DO:
ANALISA DATA Ketidakefektifan Pola Nafas
1. Keadaan umum melemah
2. Pola nafas takipnea
3. Klien memakai O2 CPAP modif 8lpm
4. SPO2 98%
5. RR : 62x/menit
6. Nadi : 110x/menit
7. Suhu : 36,8
DS: - Ikterik Neonatus
DO:
1. Tampak kekuningan pada
sklera,wajah,badan dan tungkai
2. Pemeriksaan bilirubin
3. Klien sedang menjalani fototerapi 3x24jam
skala 495 dapat 5jam
4. Suhu: 36,8
5. Nyeri: 3
DS: - Hipovolemia
DO:
1. Suhu: 36,8
2. BBL 2500gram
3. Ht: 43,3%
PRIORITAS MASALAH
• Pola nafas tidak efektif b.d hambatan upaya nafas
(D.0005)
• Ikterik neonatus b.d usia kurang dari 7hari
(D.0024)
• Risiko hipovolemia b.d evaporasi
(D.0034)
INTERVENSI KEPERAWATAN
IMPLEMENTASI
Pada langkah ini rencana asuhan keperawatan
menyeluruh seperti yang telah diuraikan di dalam langkah
kelima, dapat dilaksanakan secara efisien dan aman. Jika
perawat tidak melakukannya sendiri, maka akan tetap
bertanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaanya
(memastikan langkah tersebut benar terlaksana). Dalam
situasi di mana perawat berkolaborasi dengan dokter dan
keterlibatannya dalam manajemen asuhan bagi klien yang
mengalami komplikasi, perawat juga bertanggung jawab
terhadap terlaksananya rencana asuhan keperawatan
yang menyeluruh tersebut. Manajemen yang efisien akan
menyingkat waktu dan meningkatkan mutu asuhan
Asri dan Clervo, 2012:31)
EVALUASI
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses
manajemen keperawatan di mana pada tahap ini
ditemukan kemajuan atas keberhasilan dalam
mengatasi masalah yang dihadapi klien. Pada tahap
ini dilakukan evaluasi pola nafas tidak efektif dari
asuhan yang sudah diberikan meliputi pola napas,
pemantauan respirasi dan SPO2 apakah sudah
terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana
telah diidentifikasi di dalam masalah dan diagnosa.
Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika
memang benar efektif dalam pelaksanaannya.