0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan21 halaman

Hukum dan Regulasi Kefarmasian Indonesia

Dokumen ini membahas tentang hukum dan peraturan terkait kesehatan dan kefarmasian di Indonesia, termasuk sanksi hukum bagi pelanggar. Terdapat berbagai undang-undang dan peraturan pemerintah yang mengatur industri farmasi, tenaga kesehatan, dan pelayanan kesehatan tradisional. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan definisi obat dan pentingnya kepatuhan terhadap norma dan standar dalam praktik kefarmasian.

Diunggah oleh

Anisaaa1
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan21 halaman

Hukum dan Regulasi Kefarmasian Indonesia

Dokumen ini membahas tentang hukum dan peraturan terkait kesehatan dan kefarmasian di Indonesia, termasuk sanksi hukum bagi pelanggar. Terdapat berbagai undang-undang dan peraturan pemerintah yang mengatur industri farmasi, tenaga kesehatan, dan pelayanan kesehatan tradisional. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan definisi obat dan pentingnya kepatuhan terhadap norma dan standar dalam praktik kefarmasian.

Diunggah oleh

Anisaaa1
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Apt. Annisah Mahanani, [Link], M.

Farm
 Norma (peraturan hidup) memberi petunjuk
kepada manusia bagaimana ia bertingkah
laku dan bertindak dalam masyarakat.

 Peraturan yang bersifat mengatur dan


memaksa ini untuk menjamin tata tertib
dalam masyarakat dan dibuat oleh
masyarakat atau penguasa, dinamakan
peraturan hukum atau kaidah hukum atau
HUKUM.
 Adanya perintah dan atau larangan
 Harus ditaati oleh setiap orang
 Kalau dilanggar dikenakan sanksi hukum

 Pidana pokok: Pidana mati, penjara


seumur hidup, pidana penjara 1-20 tahun,
pidana denda/kurungan = < 1 tahun.
 Pidana tambahan: Pencabutan hak,

penyitaan barang bukti


 Untuk menjamin keseimbangan hubungan
antara anggota masyarakat.

 Untuk menjamin adanya kepastian hukum


dalam masyarakat.
 UUD 1945
 Ketetapan MPR
 Undang-undang/PERPU
 Peraturan Pemerintah (PP)
 Perda Propinsi
 Perda Kabupaten
 Peraturan negara yang diadakan untuk
menyelenggarakan pemerintahan pada
umumnya yang dibentuk berdasarkan dan
untuk melaksanakan UUD.
 UU kesehatan/kefarmasian (Kesehatan, Tenaga kesehatan,
Narkotika, Rumah Sakit, Perlindungan konsumen).
 Peraturan pemerintah RI (PP No. 51 tahun 2009 tentang
Pekerjaan Kefarmasian, PP No. 72 tahun 1998 tentang
Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat kesehatan, PP 72 tahun
1998, PP 40 tahun 2010).
 Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes No.
889/Menkes/V/2011 tentang registrasi, izin praktek, Izin Kerja
Tenaga Kefarmasian), Permenkes No. 1799/XII/2010 tentang
industri farmasi.
 Surat keputusan Menteri Kesehatan (SK Menkes No.
1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotek, sediaan farmasi & Alkes, PBF, Industri
farmasi, klinik/apotek, toko obat).
 SK Kepala Badan POM (SK Ka BPOM No. [Link].12.11.10217
tentang Obat Wajib Uji Ekivalensi, kosmetik, PKRT).
 Kebijakan Obat (Obat generik, Obat Wajib Apotek, Obat
Esensial).
 SK Menkes No. 1332/Menkes/SK/X/2002, Tentang
perubahan izin apotek.
 Keputusan Kepala BPOM RI No.: HK.00.05.4.2411,
Tentang Ketentuan pokok pengelompokan &
penandaan Obat bahan alam Indonesia.
 Peraturan KA BPOM [Link].[Link].11.10217
THN 2011, Tentang Obat wajib Uji ekuivalensi.
 SK Pengurus Pusat IAI No.
PO.004/[Link]/1418/VII/2014, Tentang peraturan
organisasi pedoman disiplin apoteker Indonesia.
 Pedoman disiplin Apoteker Indonesia 2014,
Majelis Etik dan Apoteker Indonesia (MEDAI).
 Pasal 6, ayat 1: Industri farmasi dan Alkes harus mengutamakan
penggunaan bahan baku hasil produksi dalam negeri.
 Pasal 6, ayat 2: Penyediaan obat dan alat kesehatan oleh pemerintah
dan /swasta utk kebutuhan masyarakat hrs mengutamakan sediaan
farmasi dan Alkes yang menggunakan bahan baku hasil industri
farmasi dan Alkes dalam negeri.

 Lampiran: Obat  accessible (diperoleh dng mudah), affordable


(terjangkau), available (tersedia dimanapun dibutuhkan), sustainable
(berkesinambungan).
Kementerian kesehatan  Memfasilitasi pengembangan
industri farmasi ke arah Biopharmaceutical, vaksin, natural dan active
pharmaceutical ingredients (API) kimia.
Menyerderhanakan sistem
dan proses perizinan dalam pengembangan industri farmasi.
 Undang-Undang No. 36 tahun 2009, Tentang Kesehatan.
 Undang-Undang No. 36 tahun 2014, Tentang Tenaga
Kesehatan.
 Undang-Undang No. 35 tahun 2009, Tentang Narkotika.
 Undang-Undang No. 5 tahun 1997, Tentang Psikotropika.
 Undang-undang No. 44 tahun 2009, Tentang Rumah Sakit.
 Ordonansi (Undang-Undang), Starkwerkende
Geneesmiddelen Ordonnantie, Obat keras (Stbl. 1949 No.
419).
 Peraturan Pemerintah No. 44 tahun 2010,
Tentang prekursor.
 Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 1998,

Tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan


Alat Kesehatan.
 Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009,

Tentang Pekerjaan Kefarmasian.


 Permenkes No. 3 THN 2015, Tentang Peredaran,
penyimpanan, pemusnahan dan pelaporan
narkotika, psikotropika dan prekursor farmasi.
 Permenkes No. 006 THN 2012, Tentang industri
dan Usaha obat tradisional.
 Permenkes No. 007 THN 2012, Tentang Registrasi
Obat Tradisional.
 Permenkes No. 1175 THN 2010, Tentang Izin
produksi kosmetika.
 Permenkes No. 1176 THN 2010, Tentang
notivikasi kosmetika.
 Permenkes No. 46 THN 2013, Tentang registrasi
tenaga kesehatan.
 Permenkes No. 889 THN 2011, Tentang registrasi,
Izin praktek dan Izin kerja tenaga kefarmasian.
 Permenkes No. 35 THN 2014, Tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Apotek.
 Permenkes No. 028 THN 2011, Tentang Klinik.
 Permenkes No. 58 THN 2014, Tentang Standar
Pelayanan kefarmasian di Rumah sakit.
 Permenkes No. 71 THN 2013, Tentang
Pelayanan kesehatan pada JKS.
 Adalah kesalahan yang tidak disengaja
karena kurang hati-hati dalam
pembuatan/peracikan/penyerahan obat
kepada pasien.

 Yang terkena sanksi pidana adalah orang


yang melakukan dan orang yang menyuruh
lakukan (bertanggung jawab).
 Melaksanakan kode etik profesi.
 Menerapkan standar Profesi/kompetensi
 Menghormati hak pasien (pengguna pelayanan
Kefarmasian).
 Membuat dan menerapkan Standard Prosedur Operasional.
 Melaksanakan Standar Pelaksanaan yang baik (Cara
pembuatan/Distribusi/Pelayanan).
 Menyimpan rahasia kedokteran dan rahasia kefarmasian.
 Mengikuti paradigma pelayanan kefarmasian (drug
oriented)..
 Melaksanakan Program Kendali Mutu dan Kendali Biaya
melalui audit kefarmasian.
 Melakukan pencatatan.
 Tenaga kesehatan, adalah setiap orang yang
mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki
pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di
bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan
kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
 Pasal 9, harus memiliki kualifikasi minimum Diploma Tiga,
kecuali tenaga medis.
 Pasal 11: Tenaga medis, Tenaga psikologi klinis,
Tenaga keperawatan, Tenaga kebidanan, Tenaga
kefarmasian, Tenaga kesehatan masyarakat, Tenaga
kesehatan lingkungan, Tenaga gizi, Tenaga
keterapian fisik, Tenaga keteknisian medis, Tenaga
teknik biomedika, Tenaga kesehatan tradisional,
Tenaga kesehatan lain.
 Pasal 11: Tenaga medis, adalah dokter, dokter
gigi, dokter spesialis dan dokter gigi spesialis.
 Pasal 11: Tenaga kefarmasian adalah
Apoteker dan Tenaga teknis kefarmasian.
 Pasal 21: Mahasiswa bidang kesehatan pada
akhir masa pendidikan vokasi dan profesi harus
mengikuti Uji kompetensi secara nasional.
 Pasal 21 : Uji kompetensi diselenggarakan
Perguruan tinggi bekerja sama dengan organisasi
profesi, lembaga pelatihan atau lembaga
sertifikasi yang terakreditasi.
 Asisten Tenaga Kesehatan, adalah
setiap orang yng mengabdikan diri dlm
bdng kesehatan serta memiliki
pengetahuan dan atau keterampilan melalui
pendidikan bidang kesehatan dibawah
jenjang Diploma Tiga.
 OBAT adalah bahan atau paduan bahan, termasuk
produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau
menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam
rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan,
pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi untuk
manusia.
 OBAT TRADISIONAL adalah bahan atau ramuan
bahan yang berupa bahan tumbuhan, hewan, bahan
mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan
tersebut yang secara turun menurun telah digunakan untuk
pengobatan dan dapat diterapkan sesuai dengan norma
yng berlaku di masyarakat.
 PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL
adalah pengobatan dan atau perawatan
dengan cara dan obat yang mengacu pada
pengalaman dan keterampilan turun
temurun secara empiris yang dapat
dipertanggung jawabkan dan diterapkan
sesuai dengan norma yang berlaku di
masyarakat.

Anda mungkin juga menyukai