DENGUE
HAEMORAGIC FEVER
KELOMPOK 1
INDAH NURJANNAH
SYAIFUL ROCHIM
VERA TIARA SANY
AGUNG SETIA LESTARI
SALZABILLA HUTAMMY AILIN
MARKUS TONY NUGROHO
CLAUDIA DEVIANA HESTIWI
FITRISIA AGNI
TINJAUAN TEORI
Dengue haemoragic Klasifikasi
fever (DHF) adalah
- derajat I
penykit infeksi yan
disebabkan oleh virus - derajat II
dengue akiat infeksi - derajat III
arbovirus (artropd
- derajat IV
barn virus) yang akut
dan menular melalui
gigitan nyamuk aedes
aegepty
TANDA DAN GEJALA
Cara meningkatkan trombosit
1. Demam dengue
dalam tubuh
Demam akut selama 2-7 hari,
ditandai dengan dua atau lebih : - konsumsi kapsul ekstra daun pepaya
- nyeri kepala - konsumsi jus kurma
- nyeri retro-orbital - konsumsi jus jambu
- myalgia atau arthalgia - sendiri rperan menumbuhkan
- uam kulit kolagen
- ptekie
- pemeriksaan serologi positif
TATALAKSANA MEDIS DAN
KEPERAWATAN
DEMAM DENGUE DEMAM
TANPA SYOK HAEMORAGIC FEVER
• Dhf pada derajat 1 dan 2 - tindakan gawat darurat, berikan oksigen
menunjukan anak mengalami DHf 2-4 lpm secara nasal
tanpa syok. - berikan 20ml/kg cairan kristaloid
• tatalaksananya melliputi : - jika menunjukan perbaikan klinis, ulangi
• - erikan anak banyak minum arutan pemberian kristaloid 20ml/kgbbsecepatnya
(max 30menit)
oralit atau jus buah untuk
menggantikan cairan yang hilang - ika tidak adaperbaikan, tetapi
akibat kebocoran plasma hemaktokrit dan Hb menurunrtimbangakan
terjadinya perdarahan tersembunyi.
• - berikan paracetamol jika demam
Berikan tranfusi darah
- Berikan cairan infus sesuai dengan
- jika terdapat perbaikan klinis jumlah
intruksi dokter cairan dikurnagi hingga 10kgbb dal
ASUHAN KEPERAWATAN
ANAK DENGAN DHF
1. Pengkajian
Meliputi identitas pasien,
riwayat kesehatan masa lalu
, masalah kesehatan
sekarang, riwayat tumbuh
kembang, pemeriksaan fisik
head to toe, pemeriksaan
penunjang dan diagnostik
ANALISA DATA
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa berdasarkan SDKI (2018) adalah :
• Hipertermi (D.0130) Berhubungan dengan : Proses infeksi (mis. infeksi), peningkatan laju
metabolisme.
• Hipovolemia (D.0023) Berhubungan dengan : Peningkatan permeabilitas kapiler,
kekurangan intake cairan, evaporasi (mis. demam) dan kehilangan cairan aktif (mis:
perdarahan, muntah).
• Nyeri akut (D.0023) Berhubungan dengan : Efek sekunder infeksi virus dengue, efek
sekunder hepatomegali/ splenomegali, nyeri tekan abdomen.
• Pola napas tidak efektif (D.0005) Berhubungan dengan : Penekanan rongga paru karena
efusi pleura.
• Ansietas (D. 0080) Berhubungan dengan : Kekhawatiran mengalami kegagalan, kurang
terpapar informasi.
• Resiko syok (D. 0039) Dibuktikan dengan kekurangan cairan
• Resiko Defisit Nutrisi (D.0032) Dibuktikan dengan kurangnya asupan makanan,
peningkatan kebutuhan metabolisme.
INTERVENSI
IMPLEMENTASI
• Implementasi adalah pengolahan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang
telah disusun pada tahap perencanaan. Ada beberapa tahap dalam tindakan
keperawatan, yaitu tindakan mandiri, saling ketergantungan/kolaborasi, tindakan
rujukan/ ketergantungan. Dokumentasi pelaksanaan tindakan keperawatan harus
di ikuti oleh pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam
proses keperawatan.
EVALUASI
Evaluasi adalah penilaian hasil dan proses. Penilaian hasil menentukan seberapa jauh
keberhasilan yang dicapai sebagai keluaran dari tindakan. Penilaian proses menentukan
apakah ada kekeliruan dari setiap tahapan proses mulai dari pengkajian, diagnosa,
perencanaan, tindakan dan evaluasi. Evaluasi merupakan tahap akhir yang bertujuan
untuk menilai apakah tindakan keperawatan yang telah dilakukan tercapai atau tidak
untuk mengatasi suatu masalah. Untuk memudahkan perawat mengevaluasi atau memantau
perkembangan klien, digunakan komponen SOAP/SOAPIE/SOAPIER. Dan penggunaannya
tergantung dari kebijakan setempat.
JURNAL TERKAIT
Penatalaksanaan Kompres Air 1. fektivitas Kompres Air Hangat:
Setelah pemberian kompres air hangat, suhu tubuh
Hangat terhadap Penurunan anak menurun signifikan dari 38,7°C menjadi 36,6°C.
Suhu Tubuh pada Asuhan Intervensi ini bekerja dengan meningkatkan aliran
Keperawatan Anak dengan darah melalui vasodilatasi lokal, sehingga membantu
tubuh melepaskan panas berlebih.
Demam Berdarah Dengue (DBD) 2. Prosedur Intervensi:
Kompres hangat diaplikasikan selama 15-20 menit
pada daerah dahi, leher, ketiak, dan lipatan paha.
Penulis: Sari, D. P., & Mahmud, R. Pemantauan dilakukan setiap 30 menit untuk
mengevaluasi perubahan suhu tubuh.
Jurnal: Jurnal Medika Nusantara,
3. Keunggulan Kompres Hangat:
Volume 2, Nomor 3, Agustus Metode ini aman, non-invasif, dan dapat dilakukan di
2024 rumah oleh keluarga pasien dengan bimbingan tenaga
kesehatan.
Temuan: Pemberian kompres air -Membantu meningkatkan kenyamanan pasien dan
hangat pada anak dengan DBD menurunkan risiko komplikasi akibat hipertermi.
efektif menurunkan suhu tubuh. [Link] ini menunjukkan bahwa kompres air
hangat adalah intervensi yang efektif untuk
Setelah intervensi, suhu tubuh menurunkan suhu tubuh pada anak dengan DBD.
pasien menurun dari 38,7°C Intervensi ini dapat menjadi bagian integral dari
asuhan keperawatan dalam manajemen hipertermi.
menjadi 36,6°C.
Analisis Asuhan Keperawatan melalui Intervensi Manajemen Hipovolemia
pada Anak dengan Dengue Hemorrhagic Fever
Penulis: Nurul Hidayah, [Link]., Ns., [Link].
Jurnal: Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat, Volume 6,
Nomor 4, April 2023.
Temuan: Intervensi manajemen hipovolemia yang dilakukan selama 3x24
jam efektif mengatasi masalah hipovolemia pada anak dengan DBD. Setelah
intervensi, tanda dan gejala hipovolemia, seperti lemas, nadi lemah, dan
turgor kulit menurun, berangsur membaik.
1. Setelah intervensi, gejala hipovolemia seperti lemas, nadi lemah,
dan turgor kulit yang menurun menunjukkan perbaikan yang
signifikan.
2. Intervensi meliputi:
- Pemantauan tanda vital secara rutin (tekanan darah, nadi, suhu,
dan pernapasan).
- Pengelolaan cairan intravena sesuai kebutuhan anak untuk
menjaga keseimbangan elektrolit.
- Edukasi keluarga mengenai tanda-tanda hipovolemia untuk
membantu pemantauan di rumah.
3. Penulis menekankan pentingnya deteksi dini dan pemberian cairan yang
adekuat untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
4. Penelitian ini menegaskan pentingnya intervensi terstruktur dan
berkesinambungan dalam manajemen hipovolemia pada anak DBD untuk
menurunkan angka kesakitan dan meningkatkan pemulihan pasien.
TERIMA KASIH……