Coverage analysis &
optimizations
Why?
1. Kesalahan network planning : kebenaran wireless planning network ditentukan oleh pemilihan model propagasi, kalibrasi
model, e-maps, simulator engineering parameter, software simulation. Dengan banyaknya category network planning jika
terjadi kesalahan sedikit saja maka secara actual implementation network nilainya akan berbeda dengan nilai planning.
2. Perbedaan posisi actual EnB/site dari rencana : berbedaan posisi sering terjadi karena isu konflik daerah(commcase) dan
juga ketidak akuratan survey(TSSR).
3. Actual parameter & planning parameter berbeda : karena kualitas instalasi yang buruk seperti perbedaaan tinggi antenna,
azimuth, tilting, tipe antenna, tipe port, menyebabkan planning parameter tidak bisa diaplikasikan.
4. Kondisi coverage area berubah : perubahan kondisi area coverage seperti Pembangunan Gedung baru membuat obstacle
dan mengubah model propagasi.
5. Penambahan newsite : coverage network akan berubah jika terdapat implementasi newsite di sekitar area.
6. Perubahan pola user & services : pada actualnya sering terjadi pola user experience berbeda dengan simulasi planning
sehingga unbalance traffic tidak terhindarkan
Coverage network KPI & workflow
KPI 2G 4G
Signal strength RX-lev RSRP
Signal Quality RX-Qual SINR, CQI
Accesibility CSSR RRC Conn SR
Mobility HOSR HOSR
Integrity Throughput DL UL Throughput DL
UL
1. Coverage optimizations baru bisa dimulai jika sudah
established dan sudah dilakukan verifikasi matching
planning data, jika cluster base minimal 80%
sudah established.
2. setidaknya ada 4 phase yg dilalui dalam melakukan
coverage optim :
1. Preparation
2. Data collection
3. Problem analysis
4. Adjustment parameter
3. Target coverage optim harus mengikuti kontrak yang
sudah ditentukan, bahkan bukan hanya mengenai
angka KPI saja namun juga tentang tools data
collection, cluster definitions, DT route definitions,
Preparation phase
1. Coverage determination target
KPI 2G Target value KPI 4G Target value
Signal strength RX-lev 80% area, >-105 Signal strength RSRP 80% area, >-105
dBm dBm
Signal Quality RX-Qual 80% area, > 0 dB Signal Quality SINR, CQI 80% area, > 0 dB
Accesibility CSSR 95% Accesibility RRC Conn SR 95%
Mobility HOSR 90% Mobility HOSR 90%
Integrity Throughput DL UL 80% area, > 100 Integrity Throughput DL UL 80% area, > 5
kbps mbps
1. Point penting dalam melakukan coverage optimizations adalah solving problem weak coverage, no dominant cell &
Handover flow.
2. Di actual project, requirement operator & Attention to KPI sering berbeda. Karena itu coverage optimizations target harus
sesuai dengan kontrak atau sesuai dengan planning report (trial site reff).
3. Seperti contoh table diatas merupakan target value dari coverage optimizations baik di 2G atau 4G.
4. Table diatas hanya sample, setiap operator memiliki value target masing-masing tergantung dengan contract
Preparation phase
2. Cluster partition
Untuk beberapa site yang di grouping atau di klusterisasi, coverage optimizations harus di implementasikan dalam 1 waktu.
Dengan metode clusterizations maka co-channel interference from co-channel neighbor dapat diatasi selama optimisasi.
Cluster partition biasanya didiskusikan dengan customer dengan beberapa factor dibawah ini :
1. Jumlah EnB
2. Clusterizations according existing site or not
3. Terrain factor atau kondisi actual coverage seperti obstacle gunung atau bukit, Lembah, danau, laut yang mengakibatkan
effect propagasi sinyal
4. cluster dalam struktur honey comb lebih banyak digunakan daripada strip cluster
5. Workload drivetesting, setiap cluster harus dipastikan Ketika pengambilan data memiliki rentang waktu selesai yang
Preparation phase
3. Site information collection
1. EnodeB name
2. Frequency uses
3. Bandwidth allocation
4. Cell ID
5. PCIs
6. TACs
7. Antenna direction
8. Antenna height
9. Tilt electrical
10. Tilt mechanical
11. Antenna type
setelah planning network selesai dan sebelum coverage optim dimulai kita harus memperoleh informasi rinci tentang ENB
dalam jaringan yang akan dioptimalkan. kita dapat melakukan pengujian optimalisasi jaringan secara efektif hanya setelah
mendapatkan lembar informasi ENB. Informasi ENB meliputi:
1. EnodeB planning information : ENB name, number of site, type of ENB
2. Wireless parameter planning information : Cell ID, PCI, EnB ID, TAC
3. Onsite engineering survey information : long lat, ant height, Azimuth, tilting antenna, antenna type
4. Other information : feeder antenna, shelter type, timing advance etc
Preparation phase
3. Electronic map collection
sebelum melakukan coverage optim, Anda harus mendapatkan peta elektronik yang terlibat dalam optimalisasi jaringan. peta
elektronik mengacu pada peta tampak dalam format TAB, KML/KMZ yang menyimpan informasi geomorfologi dan kota
Preparation phase
4. Planning of DT route
DT adalah metode yang paling umum untuk mendapatkan data selama cov-optim. oleh karena itu, pemilihan rute pengujian secara langsung mempengaruhi KPI
dan target optimasi DT. sebelum DT, sebaiknya tentukan rute penerimaan DT dengan pelanggan terlebih dahulu. Anda harus menjelaskan situasinya kepada
customer jika Anda memiliki faktor obyektif.
1. Rute DT harus melewati semua ENB yang sesuai SoW di wilayah yang direncanakan.
2. Rute DT harus melewati main roads, important place, VIP area.
3. Kebiasaan pengendara area juga menjadi salah satu pertimbangan.
4. Jika memungkinkan juga dilakukan two way testing
5. Concern customer juga menjadi point penting dalam penentuan DT route
1. must HO to neighbor site
2. end of DT route is until drop signal
3. at least 80% ring buffer of TA
Data collection phase
1. Drive test tools configuration
DONGLE
UE-1
UE-2
Ext RF
ant
GPS
Scanner Freq
Konfigurasi penggunaan tools berdasarkan pada data yang akan diambil. Pada umumnya tipe pengambilan dibagi menjadi
dua:
1. Static test : pengambilan data pada satu titik yang didasarkan pada PoI (point of interest), biasanya dilakukan untuk
mengetahui spot penting seperti area VIP(customer area, government area, event area).
2. Moving test : pengambilan data berdasarkan pada DT route yang sudah dibahas di slide sebelumnya.
Penentuan spesifikasi tools juga didasarkan pada metode drivetest yang sudah disepakati.
Data collection phase
1. Coverage KPI
RSRP : reference signal receive power RS power allocation
Parameter yang mengindikasikan kuat signal pada jaringan LTE Merupakan daya yang dipancarkan pada antenna
RSRP = DL RSSI – 10 Log (N * 12) BTS/EnodeB di setiap Resource Element(RE)
Dimana : RS power = Psingle port – 10 Log (12* Nrb) + 10 Log
N = number of RB (1+Pb)
DL RSSI =rata-rata total daya yang diterima pada reference OFDM Dimana Psingle port = PRRU – 10 log ( Nport)
symbol Pb = RS gain (default 0)
Contoh :
Artinya semakin besar RSRP yang didapat dipengaruhi oleh jumlah RRU X memiliki initial sbb :
resource block yang disediakan pada bandwidth tertentu - power max 80W
- Antenna MIMO 4x4 (4 port)
- Bandwidth 20MHz
Maka RS power yang dihasilkan adalah
RS power = (10 Log 8*104 – 10 log 4) – (10 log
(12*100)) + (10 log (1+0))
RS power = (49 - 6) – 30.79 + 0
RS Power = 12.21 dBm
RS power in watt = 10(12.21/10) mW
RS power in watt = 16.6 mW = 0.166 Watt per RE
Data collection phase
1. Coverage KPI
RSRQ : reference signal receive quality RSSI : reference signal strength indicator
Parameter yang mengindikasikan kualitas signal pada jaringan LTE Merupakan coverage rata-rata dari total power yang
RSRQ = N*(RSRP/RSSI) diterima oleh UE berdasarkan OFDM symbol yang
Dimana : dikirimkan oleh antenna port 0, termasuk co-channel
N = number of RB interference, noise, serta no serving cell.
DL RSSI =rata-rata total daya yang diterima pada reference OFDM RSSI = noise + serving power + interference power
symbol
Kualitas signal/RSRQ sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya RSSI
Data collection phase
1. Coverage KPI
SINR : signal to interference noise ratio RSSI : reference signal strength indicator
Parameter yang mengindikasikan kualitas signal pada jaringan LTE Merupakan coverage rata-rata dari total power yang
SINR = S/(I+N) diterima oleh UE berdasarkan OFDM symbol yang
Dimana : dikirimkan oleh antenna port 0, termasuk co-channel
S = avg received signal power interference, noise, serta no serving cell.
I = avg received interference RSSI = Stot + Itot + Ntot
N = avg received noise Stot = 12 * Nprb * RSRP
SINR VS RSRQ
pada grafik diatas menunjukkan bahwa linearitas
SINR dan RSRQ sangat bergantung pada x factor
atau cell load resource.
Data collection phase
1. Coverage KPI
CQI : channel quality indicator CQI merupakan cikal bakal dalam penentuan UE
Sesuai dengan namanya ini merupakan indicator mengenai informasi mendapatkan modulasi. Seperti ditampilkan pada
seberapa baik kualitas dari channel network. CQI dapat diukur melalui 3 table dibawah ini
parameter dibawah :
SNR
SINR
SNDR
Main value criteria dalam mengukur CQI adalah SNR, belum ada rumus
khusus yang didapatkan dalam menghitung CQI. Namun grafik dibawah
dapat merepresentasikan linearitas CQI dan SNR
Teknik optimasi
1. Power boosting
Penggunaan power boosting(Pb) memungkinkan untuk memberikan power tambahan pada reference signal power (RS power)
Dengan kondisi yang sama pada slide RSRP ( Power RRU = 80 Watt, MIMO 4x4, BW = 20 MHz) maka jika power boosting di naikkan
maka RS power juga naik akan menjadi :
Pb = 1, RS power 12.2 + 3 = 15.2 dBm
Pb = 2, RS power 12.2 + 4.77 = 16.9 dBm
Pb = 3, RS power 12.2 + 6 = 18.2 dBm
Namun hal ini mengakibatkan RE power yang diduduki oleh PDSCH akan berkurang sehingga mengakibatkan penurunan
throughput.
Teknik optimasi
2. Antenna tilt & orientation
Antenna tilt dibagi menjadi dua tipe yaitu Etilt dan
Mtilt. Keduanya memiliki karakteristik yang sangat
berbeda terhadap hasil pola radiasi akibat
implementasi tilting.
H = antenna height
L = mainlobe distance
b = vertical beamwidth
antenna
e_y = electrical tilt existing
Teknik optimasi
3. Handover & power control
Basic procedure handover: handover merupakan
proses user pada connected mode yang berpindah
dari satu cell ke cell yang lain, dengan service
continuity
Executio
Trigger Measure Decision
n
- Event A1/A2 - RSRP - EnodeB - EnodeB sends
- Not required - RSRQ decides on handover
for intra HO target cell decision for
base on UE execution
measurement if criteria
report fulfilled
1. Trigger : measurement pada inter HO atau IRAT HO neighbor cell di picu berdasarkan parameter yang terkait, termasuk kualitas source cell, cell load dan
lain lain
2. Measure : UE melakukan measurement pada serving dan neighbor cell mengikuti instruksi dari measurement control
3. Decision : EnodeB menentukan target cell berdasarkan measurement result yang dikirim oleh UE
4. Execution : EnodeB mengirimkan HO command untuk dieksekusi oleh UE. UE mengeksekusi connection release procedure dengan source cell sambil
menerima HO command, dan menginisiasi access procedure dengan target cell
Teknik optimasi
3. Handover & power control
Teknik optimasi
3. Handover & power control
Teknik optimasi
3. Handover & power control
Coverage problem catogory