0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan23 halaman

Konseling HIV: Tujuan dan Prinsip VCT

Dokumen ini membahas tujuan dan prinsip konseling bagi pasien HIV/AIDS, termasuk pentingnya perubahan perilaku, peningkatan kualitas hidup, dan dukungan psikologis. Konseling HIV harus dilakukan dengan memperhatikan kerahasiaan, informed consent, dan melibatkan proses dialog yang efektif antara konselor dan klien. Selain itu, dokumen ini menjelaskan tahapan konseling dan tes HIV, serta sasaran dan model layanan VCT yang bertujuan untuk pencegahan penularan HIV dan dukungan bagi ODHA.

Diunggah oleh

Qurratul Aiyuna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan23 halaman

Konseling HIV: Tujuan dan Prinsip VCT

Dokumen ini membahas tujuan dan prinsip konseling bagi pasien HIV/AIDS, termasuk pentingnya perubahan perilaku, peningkatan kualitas hidup, dan dukungan psikologis. Konseling HIV harus dilakukan dengan memperhatikan kerahasiaan, informed consent, dan melibatkan proses dialog yang efektif antara konselor dan klien. Selain itu, dokumen ini menjelaskan tahapan konseling dan tes HIV, serta sasaran dan model layanan VCT yang bertujuan untuk pencegahan penularan HIV dan dukungan bagi ODHA.

Diunggah oleh

Qurratul Aiyuna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

VCT DAN DASAR-DASAR KONSELING

BAGI PASIEN HIV/AIDS


TUJUAN KONSELING
• Menyediakan fasilitas untuk perubahan perilaku.
• Meningkatkan keterampilan untuk menghadapi sesuatu..
• Meningkatkan kemampuan dalam menentukan keputusan..
• Meningkatkan kemampuan dalam hubungan antarperorangan.
• Menyediakan fasilitas untuk pengembangan kemampuan klien.

TUJUAN KONSELING HIV


• Mencegah penularan HIV.
• Meningkatkan kualitas hidup ODHA (orang dengan HIV/AIDS)
dalam segala aspek baik medis, psikologis, sosial, dan ekonomi.
• Konseling dalam VCT adalah kegiatan konseling yang
menyediakan dukungan psikologis, informasi dan
pengetahuan HIV/AIDS, mencegah penularan HIV,
mempromosikan perubahan perilaku yang
bertanggung jawab, pengobatan ARV dan memastikan
pemahaman berbagai masalah terkait dengan
HIV/AIDS (Depkes, 2008).
Keunikan Konseling HIV
• Membutuhkan pengetahuan yang luas tentang infeksi menular
seksual (IMS) dan HIV/AIDS;
• Membutuhkan pembahasan mengenai praktik seks yang sifatnya
pribadi
• Membutuhkan pembahasan tentang kematian atau proses
kematian
• Membutuhkan kepekaan konselor dalam menghadapi perbedaan
pendapat dan nilai yang mungkin sangat bertentangan dengan
nilai konselor itu sendiri
• Membutuhkan keterampilan pada saat memberikan hasil HIV
yang positif;
• Membutuhkan keterampilan dalam menghadapi kebutuhan
pasangan maupun anggota keluarga klien.
Beberapa faktor penting dalam konseling
• Bahwa konseling berhubungan dengan tujuan
membantu orang lain menentukan pilihan dan
tindakannya.
• Dalam proses konseling terjadi proses belajar.
• Bahwa terjadi perubahan dan perkembangan
kepribadian.
BEBERAPA CIRI KONSELING
• Konseling berkaitan dengan memengaruhi secara sengaja
perubahan perilaku pada sebagian kepribadian klien.
• Tujuan dari konseling adalah untuk membuat kondisi yang
memudahkan terjadinya perubahan yang disengaja pada
sebagian diri klien.
• Kondisi yang mempermudah terjadinya perubahan perilaku
diperoleh melalui wawancara.
• Mendengarkan harus ada pada konseling—tetapi tidak semua
konseling adalah mendengarkan.
• Konselor harus memahami kliennya.
• Konseling dilakukan dengan tertutup (privacy) dan diskusi
bersifat rahasia (confidential).
Ciri konseling HIV
• Konseling sebagai proses membantu klien dalam:
• memperoleh akses informasi yang benar;
• memahami dirinya lebih balk;
• agar mampu menghadapi masalahnya;
• agar mampu berkomunikasi lebih lancar;
• mengantisipasi harapan-harapan, kerelaan, dan
mengubah perilakunya.
PRINSIP KONSELING HIV
• Informed Consent, adalah persetujuan akan suatu
tindakan pemeriksaan laboratorium HIV yang
diberikan oleh pasien/ klien atau wali/pengampu
setelah mendapatkan dan memahami penjelasan yang
diberikan secara lengkap oleh petugas kesehatan
tentang tindakan medis yang akan dilakukan terhadap
pasien/ klien tersebut.
• Confidentiality, adalah semua isi informasi atau
konseling antara klien dan petugas pemeriksa atau
konselor dan hasil tes laboratoriumnya tidak akan
diungkapkan kepada pihak lain tanpa persetujuan
pasien/klien. Konfidensialitas dapat dibagikan kepada
pemberi layanan kesehatan yang akan menangani
pasien untuk kepentingan layanan kesehatan sesuai
indikasi penyakit pasien.
• Counselling, yaitu proses dialog antara konselor
dengan klien bertujuan untuk memberikan informasi
yang jelas dan dapat dimengerti klien atau pasien.
Layanan konseling HIV harus dilengkapi dengan
informasi HIV dan AIDS, konseling pra-konseling dan
tes pasca-tes yang berkualitas baik.
Materi yang diberikan dalam konseling
• Keuntungan klinis dan pencegahan setelah menjalani tes HIV.
• Informasi akurat dan lengkap mengenai HIV/AIDS, perilaku
berisiko, testing HIV, dan pertimbangan yang terkait dengan
hasil negatif atau positif.
• Alasan kunjungan dan klarifikasi tentang fakta dan mitos HIV/
AIDS.
• Jenis layanan yang tersedia bila basil testing adalah positif atau
negatif, termasuk sistem rujukan untuk mendapatkan Iayanan
ART, pengobatan infeksi oportunistik, dan layanan dukungan.
• Informasi bahwa pasien dapat menolak tes jika pasien tidak
menghendakinya.
• Jaminan kerahasiaan semua informasi yang diberikan kepada
tenaga kesehatan yang melakukan konseling
Penyelenggaraan Konseling dan Tes HIV (KTHIV)
Layanan KTHIV untuk menegakkan diagnosis HIV,
dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu:
• konseling dan tes HIV atas inisiatif pemberi layanan
kesehatan dan konseling yang disingkat dengan KTIP;
dan
• konseling dan tes HIV secara sukarela yang disingkat
dengan KTS (Menteri Kesehatan RI, 2013).
Konseling HIV dianjurkan untuk keadaan berikut
• Orang yang sudah diketahui menderita AIDS atau
terinfeksi HIV, dan keluarganya.
• Mereka yang sedang dites untuk HIV (sebelum dan
sesudah testing).
• Mereka yang mencari pertolongan diakibatkan
perilaku risiko yang lalu dan sekarang merencanakan
masa depannya.
• Mereka yang tidak mencari pertolongan tetapi yang
melakukan perilaku risiko tinggi.
Sasaran konseling
• ODHA atau pasien penyakit lain yang berhubungan
dengan infeksi HIV.
• Orang yang mempunyai masalah akibat infeksi HIV
(pekerjaan, perumahan, keuangan, keluarga, dll),
sebagai akibat infeksi HIV.
• Orang yang sedang dites untuk HIV.
• Orang yang telah dites untuk HIV (terinfeksi atau
tidak)
• Keluarga dan teman dari orang yang terinfeksi HIV.
• Orang yang khawatir bahwa mereka terinfeksi HIV.
• Petugas kesehatan dan tenaga ahli lain yang
berhubungan teratur dengan orang yang terinfeksi
HIV.
• Orang yang memilih untuk tidak dites tetapi
berperilaku risiko tinggi.
• Orang yang tidak sadar akan risiko infeksi HIV yang
terlibat dalam perilaku khusus yang mereka peroleh.
Voluntary Counseling Testing (VCT)
• Suatu pembinaan dua arah atau dialog yang
berlangsung tak-terputus antara konselor dan kliennya
dengan tujuan mencegah penularan HIV, maupun
memberikan dukungan moral, informasi serta
dukungan lainnya kepada ODHA, keluarga dan
lingkunganya.
• Tes VCT adalah pintu masuk yang vital mencakup
keseluruhan untuk pengembangan penciptaan
lingkungan di mana pencegahan dukungan sosial dan
perawatan dapat berkembang (UNAIDS).
Tujuan VCT
• Upaya pencegahan HIV/AIDS.
• Mengurangi kegelisahan, meningkatkan
persepsi/pengetahuan mereka tentang faktor-faktor
risiko terkena infeksi HIV, mengembangkan perubahan
perilaku, secara dini mengarahkan mereka menuju ke
program pelayanan dan dukungan termasuk akses
terapi anti-retroviral, serta membantu mengurangi
stigma dalam masyarakat.
Prinsip Pelaksanaan VCT
• Sukarela dalam melaksanakan testing HIV.
• Saling memercayai dan terjaminnya konfidensialitas.
• Mempertahankan hubungan relasi konselor-klien yang
efektif.
• Testing merupakan salah satu komponen dari VCT.
WHO dan Kementerian Kesehatan RI telah
memberikan pedoman yang dapat digunakan untuk
melakukan testing HIV.
Penerimaan hasil testing senantiasa diikuti oleh
konseling pasta-testing oleh konselor yang sama atau
konselor lainnya yang disetujui oleh klien.
Model Layanan VCT
• Mobile VCT (Penjangkauan dan Keating). Layanan
konseling dan testing HIV/AIDS sukarela model
penjangkauan dan keliling (mobile VCT
• Statis VCT (Klinik VCT Tetap). Pusat konseling dan
testing HIV/AIDS sukarela terintegrasi dalam sarana
kesehatan dan sarana kesehatan lainnya
Tahap-Tahap VCT
1. Sebelum deteksi HIV (pre-konseling)
• Klien dapat memahami benar kegunaan tes HIV/AIDS.
• Klien dapat menilai risiko dan mengerti persoalan
dirinya.
• Klien mampu menurunkan tingkat ansietasnya.
• Klien dapat membuat rencana penyesuaian diri dalam
kehidupannya.
• Klien mampu memilih dan memahami apakah ia akan
melakukan tes darah HIV/AIDS atau tidak.
2. Deteksi HIV (sesuai keinginan klien dan setelah kien
memberikan lembar persetujuan/informed consent)
• Tes HIV harus bersifat sukarela dan rahasia.
• Sukarela berarti bahwa seseorang yang akan melakukan tes
HIV haruslah berdasarkan atas kesadarannya sendiri, bukan
atas paksaan/ tekanan orang lain ini. Selain itu juga berarti
bahwa dirinya setuju untuk di-tes setelah mengetahui hal-
hal apa saja yang tercakup dalam tes itu, apa keuntungan
dan kerugian dari testing, serta apa saja implikasi dari hasil
positif ataupun hasil negatif.
• Rahasia berarti bahwa apapun basil tes ini (balk positif
maupun negatif) hasilnya hanya boleh diberitahu langsung
kepada orang yang bersangkutan. Tidak boleh diwakilkan
kepada siapapun, balk orang tua/pasangan, atasan atau
siapapun.
3. Setelah deteksi HIV (konseling pasca-tes)
• Mereka yang hasilnya HIV (+) agar dapat mengetahui cara
menghindari penularan pada orang lain, serta untuk bisa
mengatasi dan menjalani hidup secara positif.
• Klien memahami dan menerima hasil tes secara tepat
• Klien dapat menurunkan masalah psikologis dan emosi karena
hasil tes

• Bagi mereka yang hasilnya HIV (-), konseling pasca-tes


bermanfaat untuk membantu meningkatkan pemahaman
mengenai cara mencegah infeksi HIV di masa mendatang.
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai