0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan21 halaman

Panduan Asesmen Kurikulum Merdeka

Dokumen ini membahas asesmen dalam Kurikulum Merdeka, yang mencakup asesmen formatif dan sumatif untuk mengukur perkembangan dan pencapaian peserta didik. Pendidik perlu merancang asesmen yang sesuai dengan kebutuhan belajar dan menggunakan berbagai pendekatan untuk menentukan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. Selain itu, dokumen juga menjelaskan komponen rapor yang harus memuat informasi penting tentang peserta didik dan hasil belajar mereka.

Diunggah oleh

Nurul astiti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan21 halaman

Panduan Asesmen Kurikulum Merdeka

Dokumen ini membahas asesmen dalam Kurikulum Merdeka, yang mencakup asesmen formatif dan sumatif untuk mengukur perkembangan dan pencapaian peserta didik. Pendidik perlu merancang asesmen yang sesuai dengan kebutuhan belajar dan menggunakan berbagai pendekatan untuk menentukan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. Selain itu, dokumen juga menjelaskan komponen rapor yang harus memuat informasi penting tentang peserta didik dan hasil belajar mereka.

Diunggah oleh

Nurul astiti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASESMEN KURIKULUM MERDEKA

KAMIS, 6 OKTOBER 2022


Asesmen adalah proses yang dilakukan pendidik dengan pengumpulan
dan pengolahan informasi untuk mengetahui kebutuhan belajar,
perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik, yang akan
digunakan dalam menentukan strategi pembelajaran selanjutnya
Pembelajaran dapat diawali dengan proses perencanaan asesmen dan
perencanaan pembelajaran.

Pendidik perlu merancang asesmen: awal pembelajaran, saat


pembelajaran, akhir pembelajaran

Perencanaan asesmen: asesmen awal pembelajaran perlu dilakukan untuk


mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik, dan hasilnya digunakan
untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan tahap capaian
peserta didik.
Asesmen pembelajaran diharapkan dapat mengukur aspek
yang seharusnya diukur dan bersifat holistik

Asesmen dapat berupa formatif dan sumatif


Asesmen formatif dapat berupa asesmen pada awal
pembelajaran dan asesmen pada saat pembelajaran. Asesmen
pada awal pembelajaran digunakan mendukung pembelajaran
terdiferensiasi sehingga peserta didik dapat memperoleh
pembelajaran sesuai dengan yang mereka butuhkan
Asesmen formatif saat pembelajaran dapat dijadikan
sebagai dasar dalam melakukan refleksi terhadap
keseluruhan proses belajar
Apabila peserta didik dirasa telah mencapai tujuan
pembelajaran, maka pendidik dapat meneruskan pada
tujuan pembelajaran berikutnya.
Apabila tujuan pembelajaran belum tercapai, pendidik perlu
melakukan penguatan terlebih dahulu.
Selanjutnya, pendidik perlu mengadakan asesmen sumatif
untuk memastikan ketercapaian dari keseluruhan tujuan
pembelajaran.
Asesmen formatif bertujuan untuk memberikan
informasi atau umpan balik bagi pendidik dan
peserta didik untuk memperbaiki proses belajar.
Asesmen di awal pembelajaran yang dilakukan untuk mengetahui
kesiapan peserta didik untuk mempelajari materi ajar dan
mencapai tujuan pembelajaran yang direncanakan. Asesmen ini
termasuk dalam kategori asesmen formatif karena ditujukan untuk
kebutuhan guru dalam merancang pembelajaran, tidak untuk
keperluan penilaian hasil belajar peserta didik yang dilaporkan
dalam rapor.
Asesmen di dalam proses pembelajaran yang dilakukan selama
proses pembelajaran untuk mengetahui perkembangan peserta
didik dan sekaligus pemberian umpan balik yang cepat. Biasanya
asesmen ini dilakukan sepanjang atau di tengah kegiatan/langkah
pembelajaran, dan dapat juga dilakukan di akhir langkah
pembelajaran.
Asesmen sumatif dilakukan untuk memastikan ketercapaian
keseluruhan tujuan pembelajaran. Asesmen ini dilakukan pada akhir
proses pembelajaran atau dapat juga dilakukan sekaligus untuk dua
atau lebih tujuan pembelajaran, sesuai dengan pertimbangan pendidik
dan kebijakan satuan pendidikan. Berbeda dengan asesmen formatif,
asesmen sumatif menjadi bagian dari perhitungan penilaian di akhir
semester, akhir tahun ajaran, dan/atau akhir jenjang.
Pendidik perlu memahami prinsip-prinsip asesmen yang
disampaikan dalam Bab II, di mana salah satu prinsipnya
mendorong penggunaan berbagai bentuk asesmen, bukan hanya
tes tertulis, agar pembelajaran bisa lebih terfokus pada kegiatan
yang bermakna serta informasi atau umpan balik dari asesmen
tentang kemampuan peserta didik juga menjadi lebih kaya dan
bermanfaat dalam proses perancangan pembelajaran berikutnya.
Asesmen sumatif dapat dilakukan setelah pembelajaran berakhir,
misalnya pada akhir satu lingkup materi (dapat terdiri atas satu atau
lebih tujuan pembelajaran), pada akhir semester dan pada akhir
fase; khusus asesmen pada akhir semester, asesmen ini bersifat
pilihan. Jika pendidik merasa masih memerlukan konfirmasi atau
informasi tambahan untuk mengukur pencapaian hasil belajar
peserta didik, maka dapat melakukan asesmen pada akhir
semester. Sebaliknya, jika pendidik merasa bahwa data hasil
asesmen yang diperoleh selama 1 semester telah mencukupi, maka
tidak perlu melakukan asesmen pada akhir semester.
Hal yang perlu ditekankan, untuk asesmen sumatif, pendidik dapat
menggunakan teknik dan instrumen yang beragam, tidak hanya
berupa tes, namun dapat menggunakan observasi dan performa
(praktik, menghasilkan produk, melakukan projek, dan membuat
portofolio).
Menentukan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP)
Pengganti KKM Pada Kurikulum Merdeka
Kriteria yang digunakan untuk menentukan apakah peserta didik
telah mencapai tujuan pembelajaran dapat dikembangkan
pendidik dengan menggunakan beberapa pendekatan, di
antaranya: (1) menggunakan deskripsi sehingga apabila peserta
didik tidak mencapai kriteria tersebut maka dianggap belum
mencapai tujuan pembelajaran, (2) menggunakan rubrik yang
dapat mengidentifikasi sejauh mana peserta didik mencapai
tujuan pembelajaran (3) menggunakan skala atau interval nilai,
atau pendekatan lainnya sesuai dengan kebutuhan dan
kesiapan pendidik dalam mengembangkannya.
Pendidik tidak disarankan untuk menggunakan angka mutlak
(misalnya, 75, 80, dan sebagainya) sebagai kriteria. Yang paling
disarankan adalah menggunakan deskripsi, namun jika dibutuhkan,
maka pendidik diperkenankan untuk menggunakan interval nilai
(misalnya 70 - 85, 85 - 100, dan sebagainya).
Pendekatan 1: Menggunakan deskripsi kriteria
Contohnya, dalam tugas menulis laporan, pendidik menetapkan kriteria ketuntasan: Laporan peserta
didik menunjukkan kemampuannya menulis teks eksplanasi, hasil pengamatan, dan pengalaman secara
jelas. Laporan menjelaskan hubungan kausalitas yang logis disertai dengan argumen yang logis
sehingga dapat meyakinkan pembaca.

Tabel 3.6. Contoh Deskripsi Kriteria untuk Ketuntasan Tujuan Pembelajaran


Kriteria Tidak memadai Memadai

Laporan menunjukkan kemampuan penulisan teks 


eksplanasi dengan runtut.
Laporan menunjukkan hasil pengamatan yang jelas. 

Laporan menceritakan pengalaman secara jelas. 

Laporan menjelaskan hubungan kausalitas yang logis 


disertai dengan argumen yang logis sehingga dapat
meyakinkan pembaca.

Kesimpulan: Peserta didik dianggap mencapai tujuan pembelajaran jika minimal 3 kriteria memadai. Jika ada dua
kriteria masuk kategori tidak tuntas, maka perlu dilakukan intervensi agar pencapaian peserta didik ini bisa
diperbaiki
Pendekatan 2: menggunakan rubrik
Contohnya, dalam tugas menulis laporan, pendidik menetapkan kriteria ketuntasan yang terdiri atas dua
bagian: Isi laporan dan penulisan.
Tabel 3.7. Contoh Rubrik untuk Kriteria Ketuntasan Tujuan Pembelajaran

Baru berkembang Layak Cakap Mahir


Isi laporan Belum mampu Mampu menulis teks Mampu menulis teks Mampu menulis teks
menulis teks eksplanasi, hasil eksplanasi, hasil eksplanasi, hasil
eksplanasi, hasil pengamatan, pengamatan, pengamatan,
pengamatan, dan dan pengalaman dan pengalaman dan pengalaman
pengalaman belum secara jelas. secara jelas. secara jelas.
jelas tertuang dalam Laporan Laporan menjelaskan Laporan menjelaskan
tulisan. Ide menunjukkan hubungan kausalitas hubungan kausalitas
dan informasi dalam hubungan yang jelas yang logis disertai yang logis disertai
laporan tercampur di sebagian paragraf. dengan argumen yang dengan argumen yang
dan hubungan antara logis sehingga dapat logis sehingga dapat
paragraf tidak meyakinkan meyakinkan pembaca
berhubungan. pembaca. serta ada fakta-fakta
pendukung yang
Pendekatan 3: menggunakan interval nilai
Untuk menggunakan interval, pendidik dan/ atau satuan pendidikan dapat menggunakan rubrik
maupun nilai dari tes. Pendidik menentukan terlebih dahulu intervalnya dan tindak lanjut yang akan
dilakukan untuk para peserta didik.

Contoh a. Untuk nilai yang berasal dari nilai tes tertulis atau ujian, pendidik menentukan interval nilai.
Setelah mendapatkan hasil tes, pendidik dapat langsung menilai hasil kerja peserta didik dan
menentukan tindak lanjut sesuai dengan intervalnya.
0 - 40%
belum mencapai, remedial di seluruh bagian

41 - 65 %
belum mencapai ketuntasan, remedial di bagian yang diperlukan
66 - 85 %
sudah mencapai ketuntasan, tidak perlu remedial
86 - 100%
sudah mencapai ketuntasan, perlu pengayaan atau tantangan lebih
Komponen rapor peserta didik SD/MI, SMP/ MTs, SMA/MA, dan
SMK/MAK atau sederajat minimal memuat informasi mengenai:
Identitas peserta didik,
Nama satuan pendidikan,
Kelas,
Semester,
Mata pelajaran,
Nilai,
Deskripsi,
Catatan guru,
Presensi, dan
Kegiatan ekstrakurikuler.
Contoh Rapor SD

Gambar 5.1. Contoh format rapor SD

Format rapor di atas dapat disesuaikan berdasarkan struktur kurikulum masing-masing jenjang.
Deskripsi capaian kompetensi peserta didik berisi informasi tentang kompetensi yang sudah
dicapai dan kompetensi yang perlu ditingkatkan. Deskripsi ditulis menggunakan kalimat positif dan
memotivasi.

Anda mungkin juga menyukai